Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. "Ilmu merupakan makanan pokok bagi jiwa oleh karenanya jiwa akan menjadi hidup dan jasad akan memiliki adab."
Senin, 06 Februari 2012
Pohon Kecil yang Kesepian
Inspirasi!
Jemputlah Aku, Tuhan
Surat untuk Bunda Pertiwi
Itulah, Nak, Cinta Sejati!
Jumat, 30 Desember 2011
Mentari untuk Pagi
Surat Cinta Buat Bidadari Kecilku di Syurga
ICU = ruang gawat darurat
tai pello = tai pertama, buang air besar pertama seorang bayi, warna tai-nya kehitaman.
anatta = anak kita
etta = panggilan kepada orang tua atau suami.
sanro = dukun
Selasa, 20 Desember 2011
Cinta Itu Damai
.
Bila genderang cinta telah didendangkan,
Bila panji-panji asmara telah dikibarkan,
Dan panah kasih sayang telah dilepaskan.
Lantunan puisi indah akan selalu mengusik,
Pun dengan kidung-kidung bernuansa merah jambu.
Aku melihat dengan teropong dari sini,
Ke segala penjuru.
Hewan-hewan saling berpasangan,
Menari-nari ria di rimba raya.
Gunung es di kutub yang meleleh,
Membawa bongkahan es sampai ke hati kita.
Angin puting yang berubah jadi angin sepoi,
Yang mengajak kita terbang hingga ke awan putih.
Mereka sudah merasakan,
Mereka ingin memberitahu,
Bahwa cinta itu damai.
M. Fathir Al Anfal (November 2011)
Bahasa Rindu

Auda Zaschkya & Nihayatus Ziin
Hanya mengikuti kata hati, Kemana ia ingin pergi
***
Aku ingin membuat puisi cinta
Tapi aku tak tahu ingin bercerita apa
Hanya sejenis rindu membara
Aliran nya begitu deras kurasa
***
Berawal dari coretan pena atas kertas lusuh
Aku menulis bait demi bait puisi
Ungkapan rindu yang tertumpah
Padamu kekasih hati yang senantiasa kunanti
***
Aku pun semakin tak mengerti akan puisi ini
Mungkin dis orientasi tingkat tinggi sedang mengitari
Ingin rasanya ku bidik hatimu
Dan melesatkan anak panahnya tepat di relung hatimu
Agar semua terurai jelas, adakah aku
Dan kita didalam hatimu sedang menikmati cinta itu
***
Terkadang saat ku bercermin
Jelma wajahmu tepat disisi
Namun aku tak tahu di belahan dunia mana
Potret dirimu berdiam
***
Terpurukku menanti disini
Hanya seladang bahasa rindu
Yang setia menemani
Menanti kabar baik darimu
Jejak Kaki di Pasir
Dalam setiap adegan kehidupan saya, terlihat bekas jejak-jejak kakiku di pasir.
Hal ini meresahkan saya, karena saya melihat justru di saat-saat terberat dalam kehidupan saya, ketika saya mengalami kesedihan yang dalam, terluka atau kalah, saya hanya melihat satu pasang jejak kaki.
“Tuhan, Engkau pernah berjanji, bahwa Kau tak akan meninggalkan saya sendiri. Tetapi mengapa justru di saat-saat terberat dalam hidup saya, saya melihat hanya ada satu pasang jejak kaki. Mengapa disaat saya sangat membutuhkan Engkau, Engkau justru meninggalkan saya..?”
Dan Tuhan menjawab,” AnakKu, satu pasang jejak kaki yang kau lihat di pasir, itu adalah saat-saat ketika AKU menggendongmu.”
Judul Asli: Footprints in the Sand by Mary Stevenson (1936)
Diterjemahkan secara bebas: oleh Patricia NSL
Tepian Asmara
.
The Road To Hell kembali mengalun merdu,
dan aku mendapati tubuhku menggeliat di pembaringan,
menatap senyum hangat di wajahmu,
menelusuri alunan cinta tak berbatas pada sepanjang malam,
di tepian senja hingga pagi menjemput,
dan kau masih di sana menjaga sepiku.
Hangat jemarimu telusuri tiap inci nadi cintaku,
menggetarkan gelora yang telah lama membeku,
menguak pintu hati dengan tangan cintamu,
dan aku tak kuasa menepis,
ingin kulihat cahaya berbinar di matamu,
kabarkan hati bahagiamu dalam pelukanku,
dan getar itu tiada terhenti,
saat kau lumat bibir kelu hingga menghangat.
Tepian asmara hempaskan segala tanya dan nada,
entah sampai kapan kita berenang di sana,
aku hanya ingin berenang dalam hangat bibirmu,
biarkan sejenak mimpi menggelepar,
bersama peluh mengalir tiada henti,
dan kita menyatu di dalamnya.
by Kit Rose
——————————————————————————————————
Saat mata ini kembali terbuka pada dini hari, wajahmu menghiasi hari yang sepi,
bersama jejak peluh kehangatanmu, semoga ini membuatmu bahagia.
——————————————————————————————————
Senin, 19 Desember 2011
Bukan Waktuku
.
Jangan tanya apa aku punya waktu
Aku selalu ingin berjumpa
Aku selalu ingin bercinta
Jangan tanya apa aku punya waktu
Aku tak pernah memelihara uang atau pun pedang
Keduanya sama berbahaya
Jangan tanya apa aku punya waktu
Dalam terjagaku selama mimpi, kuabadikan rindu
Dalam mimpiku sepanjang jaga, kerinduanku abadi
Jangan tanya apa aku punya waktu
Aku tak rela Einstein terpingkal-pingkal di neraka
Biarkan aku tersesat di taman surga
Jangan tanya apa aku punya waktu
Aku tak pernah tahu mana kau punya
(Sang Dokterandes - Mei 2007)
Menggigil di Satu Titik Pilu
.
hatiku menggigil disisi perapian
aku tak berdaya, saat hati ini meronta
meminta selimut pelindung malamku
satu garis cahaya api menembus sudut mata
sadarkan dari lamunan pekat & tatapan kosong
tapi hati ini tetap saja menggigil
sampai bara api menjadi abu
tetap saja ia tertegun tak berucap
menggigil disatu titik pilu
Telaga Impian
.
Kembali ku lirik hari
Kubaca setiap jam bercerita, dan kuteliti detik-detik yang mengusik
Kucari makna dari setiap gerak dan kata
Apa yang harus kususun dan kutata
Kucoba berdiri didepan cermin hati, biar ku tahu biru putihnya diri
Ku usap telapak kaki, agar bisa memperkirakan mampunya langkah
Kutakar cawan perasaan, jangan sampai meluap menerima sikap
Kupagar rumah khayalan, biar keinginan tidak mengajak jalan-jalan ke negeri harapan
Kujernihkan larutan pikiran, agar tidak kuyup mengartikan tingkah
Walau sudah kupersiapkan….
Dari penyadaran sampai keharusan
Dari setiap kemungkinan hingga kemampuan
Sepertinya khayalku terlanjur hanyut
Karam di telaga impian
Begitu kuatkah siraman prilakumu
Hingga merembes tembus ke kekosongan makna
Pengaruh dirimukah yang begitu kuat hingga merubah haluan ilusi
Atau diriku sendiri yang lemah, hingga tak kuasa berkata tidak
Atau pula tuntutan jiwa yang menghendakinya
Mungkin ……..
Aku harus belajar kepada burung-burung, agar bisa terbang dan dapat melihat luas indahnya aneka warna alam
Aku harus belajar kepada ikan, biar bisa menyelami hingga ke dasar bumi dan kupelajari rahasia-rahasia yang tersembunyi
Aku harus belajar sama binatang malam, biar bisa berjalan di kegelapan
Aku harus belajar bernyanyi kepada burung pagi, agar bisa menghibur diri tatkala sepi
Dan
Aku mau belajar kepada siapa saja yang mau mengajariku tentang dunia, tentang hidup, tentang apa saja yang dapat membuat damai dalam kedamaian
Maukah ….?
Yaa Rabb ……
Aku berlindung kepada Mu dari hati yang karam
……
.
EAR Ciputat Jan’10
Song for Him
.
i’m not really sure of the words to say
if only you knew that i feel this way
i wanna give my heart to you,
show me the way that you want me too…
i know for sure there’s a place for us
i’m counting the days till i feel your touch
you come to me when i dream at night
when i’m with you, it will be so right…
if you could see the love in my eyes,
you should know that i’m on your side
i’d be yours, you’d be mine….
Doa dalam Sebuah Catatan Kecil
.
pertama kali bertemu kembali, aku tak ingat siapa dia
di tahun pertama setelah itu aku tahu siapa dia
di tahun kedua, aku ingat siapa namanya
di tahun ketiga, berteman dengannya di sebuah jejaring sosial dan bisa berkomunikasi dengannya meski melalui chatting
di tahun ke empat, aku berharap kami bisa saling mengenal lebih jauh
di tahun ke lima, aku berharap kami telah menjadi sepasang kekasih
dan di tahun ke enam, aku berharap dia telah menjadi pendamping hidupku
amiiinnn…..
*Jogja, 12.12.09
Retak…
.
Terima kasih
Telah memberiku kesempatan melihat keagungan-Mu
Semua bertasbih sujud pada-Mu
berjalan menuju keseimbangan
Menghempaskan keraguan yang ada
Meretakkan ego yang berdiri angkuh
karena…
Esok pagi matahari akan terbit
dengan kicauan burung-burung
dan sejuknya embun-embun…
Siluet di Stasiun Jogya
.
angin masih terus bertiup menyapu jalanan
ranting-ranting kering bergemeretakan
hujan masih belum juga reda terus merintik
seperti tahun-tahun lalu
desember selalu saja basah
aku menunggu dalam kantuk dan sadar
di bangku peron aku semakin gelisah
udara terlalu pengap
sementara suara kereta yang mondar-mandir membuatku semakin sadar
telah beribu waktu aku menunggu
perjalanan masih akan panjang
melintasi berbagai rintangan
mungkin akan kutempuh sendirian
meski hanya berbekal kenangan
perjalanan terasa semakin sarat beban
mungkinkah aku masih bisa bertah
Minggu, 18 Desember 2011
Wahai Hujan… Siapakah yang Akan Memeluk Hatiku, Ketika Ia Terjatuh
Aku suka dengan hujan, ia membuat semuanya berhenti. Tentang apa yang ada di pikiranku, hatiku, perasaanku, mimpi - mimpi dan harapanku, semuanya berhenti ketika hujan telah turun. Dan itu membuatku jiwa dan tubuhku ringan untuk beberapa saat dan melepaskan semua beban - beban yang ada, dan aku melepaskannya seperti awan yang melepaskan rintik – rintik hujan.
Terkadang hujan membuatku menangis, bukan karena aku bersedih, bukan juga karena kemalangan hidup, atau kesepian, atau … apalah. Aku pun tidak mengerti, ketika hujan turun aku seperti merasakan perasaan yang terdalam, seperti kerinduan … ya, seperti kerinduan dan aku begitu takut untuk mengakuinya tentang rindu itu.
Ketika hujan turun pernah beberapa kali aku berjalan tanpa pelindung di tubuhku, membiarkan air hujan membasahi sekujur tubuhku, aku seperti terhanyut dan terbawa “senandung” terdalam yang di bawakan hujan yang membasahi jiwaku, dan aku seperti orang “gila” yang berjalan terus walau hujan semakin deras, dan … aku menikmatinya.
Sudah beberapa hari ini hujan menahan langkahku, ia seolah datang ketika aku terlupa oleh apa yang ada di hati, jiwaku dan tujuan dalam hidupku. Ia datang dan mengatakan lagi kepadaku … apakah kau masih ingat denganku … sahabatmu … yang menemani dan mendengar setiap keluh kesah hatimu … aku hujan, sahabatmu.
Ya dia hujan, sahabatku, tempatku menulis di atas “hujan” yang mengalir deras, takut ketika ada yang membaca semua curahan hatiku … takut kalau ada yang mengetahui hatiku … takut kalau ia menjadi kelemahanku … takut kalau ada yang menyakitiku … takut kalau hujan …
Apakah selama ini ia (sahabatku hujan) nyata bagiku … apakah hujan itu adalah pikiran dan hatiku sebenarnya, atau hanya hayalan tingkat tinggiku … atau hujan adalah hujan yang membasahi tubuhku … hujan? … apakah kau nyata sahabatku? yang akan menjagaku? dan mendengarkan semua keluh kesahku? ku tatap langit pagi ini yang begitu kelabu, suara mengelegar terdengar mengejutkan hatiku. Sinarnya terang menyinari langit, aku terdiam melihat cahaya itu menari – nari di mataku.
Sebuah jas hujan ku kenakan, motor telah kunyalakan, kali ini aku paham apa kata hujan padaku. Menyusuri jalan pagi yang basah oleh hujan membuat hatiku begitu “dingin”, terngiang lagi kata – kata hujan padaku.
Ternyata ia tidak meninggalkanku dan terus menjagaku, kesibukan melalaikanku dan membuat aku yang “jauh” darinya. Tanpa ku sadari pipiku basah oleh air yang turun dari kelopak mataku, cepat – cepat ku usap dengan tanganku, takut hujan melihat kecengenganku, kelemahanku, kesedihanku dan kebimbangan dalam hidupku. Wahai (sahabat) hujan … siapakah yang akan memegang hatiku, ketika ia terjatuh.
Rintik – rintik hujan mulai berhenti, sinar matahari yang hangat dan terang terlihat jelas dari spion motorku dan mulai menghangati punggungku, harapan akan datang bersama sang fajar, dan Matahariku akan membawa sejuta harapan. Sekarang matahariku yang akan mengantikanmu, menjaga semangatku, selalu mengingatkanku, agar optimis menghadapi dunia di depanku.
Di kejauhan aku mendengar hujan berbisik pada mentari, wahai sahabat mentari, jaga ia selalu … terkadang ia begitu percaya diri, tapi juga begitu mudah patah hati. Mentari hanya tersenyum dan menatap ku.
…
Wahai (sahabat) hujan … siapakah yang akan memegang hatiku, ketika ia terjatuh …
Penulis: Arif "godate" Rahman Nasution
Nasehat Ibu
Anakku, janganlah engkau tiru saudara-saudaramu yang lain. Baik dari pihak ibu maupun pihak bapakmu. Tentang harta yang mau tidak mau akan kami tinggalkan. Janganlah berebut atau saling iri hati. Bapakmu telah menimbang dengan ukurannya sendiri. Kau dan kedua adikmu ibu harap memahami. Kepada siapa kami memberi, kalian tak boleh membantahnya. Dengan begitu ibu dan bapak kalian akan merasa bahagia. Ya, hanya rasa itulah yang sebenarnya kami inginkan.
Anakku, rumah dan tanah ini janganlah dijual. Harta ini adalah perjuangan kami selama hidup. Akan kami jadikan simpanan kelak. Agar kami berdua bisa mendapatkan manfaatnya. Berikanlah kepada badan wakaf atau pesantren di desa seberang. Untuk itu kami berdua akan menikmati hasil selamanya.
Gunungkidul, enam mei duaribu sebelas.