Tampilkan postingan dengan label Koleksi Fiksi Kompasiana. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Koleksi Fiksi Kompasiana. Tampilkan semua postingan

Senin, 06 Februari 2012

Pohon Kecil yang Kesepian



1328339524570769597
Ilustrasi/Admin (shutterstock)

Seekor burung gereja menemukan pohon yang sarat dengan buah-buahan mungil  berwarna merah hati. Beberapa buah yang matang jatuh dan pecah di bebatuan dekat akar pohon itu. Tampaklah daging buah yang berair dan berbau harum. Burung itu mematuk buah yang sudah ranum. Ia  teringat telur-telurnya yang baru menetas tadi malam. Tentulah anak-anaknya sangat kelaparan. Burung itu  membawa beberapa buah yang matang sebagai makan siang bagi anak-anaknya.

Tidak mudah bagi seekor burung untuk terbang dan membawa buah-buahan di mulutnya. Maka jatuhlah sebutir buah dari mulutnya dan jatuh di permukaan tanah yang lembab di tepi jalan. Buah itu pecah dan bijji-bijinya yang berwarna kuning keemasan sehalus pasir berserakkan di atas tanah.  Tanah hitam yang subur  dengan senang hati menerima biji-biji itu. Biji-biji itu mendapatkan air dan makanan dari dalam tanah. Namun, hanya sebutir biji yang berhasil tumbuh menjadi tanaman kecil. Mula-mula ia tampak seperti tumbuhan liar yang lemah. Lama kelamaan ia tumbuh tegak, batangnya berkayu dan daun-daunnya yang kasar tumbuh satu per satu.

Pohon kecil itu tak punya kawan. Siang dan malam, ia tumbuh sendirian. Ia hanya bisa melihat anak-anak bermain layang-layang di lapangan. Ia ingin punya teman seperti pepohonan lainnya.  Dari jauh dilihatnya sekumpulan bamboo yang berkumpul, tumbuh bersama-sama, berbisik dan bercerita seiring angin yang berhembus. Kawanan pohon pisang dengan tunas-tunas kecilnya tampak gembira, bercanda tawa. Ia ingin seperti mereka.

Siang itu seekor burung hinggap di batangnya yang rapuh. “Burung yang cantik, maukah kau menjadi kawanku? Kau bisa membuat sarangmu di dahanku sehingga kita dapat bercakap-cakap setiap hari?” sapanya lembut. “Tidak, dahanmu terlalu kecil dan rapuh. Kau tak akan kuat menopang sarangku,’ katanya sambil beranjak pergi. Pohon itu sedih sekali mendengarnya.

Pada suatu malam yang dingin, ia melihat sebuah bayangan berkelebat di sekitar tubuhnya. Ia agak gemetar entah karena takut atau kedinginan. Ternyata bayangan itu adalah seekor kelelawar. Ia memberanikan diri menyapanya, “Tuan kelelawar yang baik, maukah kau menjadi temanku? Kau bisa tidur di dahanku di siang hari dan memakan daun-daunku di malam hari.” “Tidak,” jawab kelelawar. “Dedaunan bukanlah makananku. Aku makan buah-buahan yang manis dan berair,”katanya dengan tegas.

Ketika embun sejuk mulai menguap terkena sinar matahari, seekor kucing mengeong lembut di dekat akar pohon kecil itu. Pohon kecil ingin sekali berteman dengan kucing berbulu halus itu. “Kucing kecil yang lucu, maukah kau berteman denganku? Kau bisa tidur di bawah naunganku waktu matahari tepat berada di atas kepalamu,” ajaknya.”Maaf, pohon kecil, daun-daunmu tidak akan mampu memberi keteduhan. Mereka tidak cukup rapat untuk memayungiku,” jawabnya dengan sopan. Pohon kecil itu tertunduk lesu.

Pohon kecil itu tidak putus asa. Ia malah berusaha  untuk tumbuh lebih kuat, besar dan berbuah banyak. Dihirupnya udara sebanyak-banyaknya, dihisapnya air dengan akar-akarnya dan dibiarkannya matahari menyinari dedaunanya. Akhirnya ia tumbuh besar dan tinggi. Di suatu pagi yang cerah muncullah bunga-bunga cantik berkelopak halus berwarna putih di sela-sela daun-daunnya. Pohon kecil girang bukan kepalang. Datanglah kumbang dan kupu-kupu menyapanya. Kaki-kaki kumbang dan kupu-kupu yang mungil membawa serbuk sari berwarna kekuningan ke kepala putik. Ketika angin bertiup kencang, serbuk sari melayang-layang di udara membawa bau harum mengundang makin banyak serangga datang.

Serbuk sari membuahi kepala putik. Dalam beberapa hari, bunga-bunga putih berubah menjadi buah muda berwarna hijau. Semakin lama buah hijau membesar dan berubah warna dari hijau menjadi kekuningan, merah muda dan akhirnya menjadi merah hati. Pohon yang dulu kecil telah berubah menjadi besar dengan cabang-cabang yang kuat dan lebar. Daun-daunnya berjajar rapat, memberi keteduhan bagi siapa saja yang bernaung di bawahnya.

Ketika ia sedang tertidur lelap, ia merasakan ada cakar-cakar kecil mencengkeram rantingnya . ternyata Tuan kelelawar sedang memakan buah-buah merah hatinya. “Ehm, selamat malam, Tuan Kelelawar,”katanya pelan-pelan. “Uh, oh, selamat malam, eh, nyam..nyamm!” jawab Tuan Kelelawar dengan mulut penuh.  ”Bolehkah aku menumpang tidur di cabangmu malam ini? Buah-buahmu sangat lezat. Aku tidak bisa berhenti memakannya,” lanjutnya. “Oh, tentu saja Tuan Kelelawar. Aku bahkan berterimakasih kau mau menemaniku sepanjang malam.” Tuan Kelelawar terus mengunjunginya sepanjang tahun karena pohon itu tidak pernah berhenti berbuah.

Burung-burung mulai datang membawa ranting-ranting, jerami kering dan membangun sarang yang nyaman di dahannya. Dahan pohon itu berkembang menjadi dahan yang kokoh untuk menopang sarang-sarang burung. “Pohon yang kuat, bolehkah aku membangun sarang di dahanmu? Sebentar lagi waktunya bertelur. Aku harus menyiapkan tempat yang hangat untuk telur-telurku,” kata seekor burung gereja . “Tentu, saja kau boleh tinggal di sini, bahkan kau pun boleh memakan buah-buahku kalau kau mau,” jawab pohon itu.

Di siang hari yang terik, datanglah binatang-binatang lainnya. Seekor kucing, seekor kadal berekor panjang dan barisan semut-semut kecil berwarna hitam beristirahat di bawah keteduhan daun-daunnya yang rimbun. Bahkan anak-anak kecil yang sudah lelah bermain mulai berteduh dan berusaha meraih buah-buahnya yang manis menyegarkan. Tidak ada yang lebih membuat pohon itu bahagia selain mendapatkan banyak teman dan menolong  mereka. Malam ini ia tidur dengan nyenyak dan bahagia.
sumber: http://fiksi.kompasiana.com/dongeng/2012/02/04/pohon-kecil-yang-kesepian/
»»  READMORE...

Inspirasi!

Kutak ingin menunggumu lagi di sini
Kuputuskan menjemputmu
Membawakanmu setangkai bunga
Yang kupetik di ladang diri
Begitu seharusnya kulakukan sejak dulu
Karena sejatinya
Kau bagian dari hidupku
Maaf, aku sudah menelantarkanmu
Kendati kau selalu ada
Datang dan pergi
Berulang kali
Maaf, aku tetap tak peduli, dulu
Kini
Kusambut kau bagai sang putri
Kudekap kau erat
Kucumbu kau hangat
Kutemukan alasan
Hanya denganmu
Kunikmati hidup nan berarti
Hanya bersamamu kubisa berbagi
Hanya bersamamu kubisa mengabdi
Untuk kemuliaan negeri
Berharap bisa berarti
Kau setia bersamaku
Juga saat ini
Terima kasih
Kau berikan aku kalimat-kalimat pendek ini.
( I Ketut Suweca , 3 Februari 2012).

»»  READMORE...

Jemputlah Aku, Tuhan

Kuayun langkah
Kuraih apa saja yang kuingin
Kuperjuangkan apa saja yang kuharap
Hampir seluruhnya berhasil kugamit
Dunia penuh pesona
Kekayaan, kedudukan, kepandaian
Ketampanan atau kecantikan
Memberi kebanggaan
Acap membangunkan kecongkakan
Aku terus dan terus mencari
Tapi, ketika tiba di sebuah perhentian
Ternyata semua itu gula-gula
Tak kutemukan makna hakiki
Dari kesujatian hidup
Akan kemanakah kupergi kini
Karena ternyata tak ada yang dapat diandalkan
Walau dengan jerih payah diperjuangkan
Akhirnya tak banyak berarti
Hanya kebajikan, sekali lagi, kebajikan
Itulah yang membawaku dalam tarikan makna ilahiah
Memuliakan hidup dan menjadi berarti
Di atas altar kesadaran
Di situlah tempatku, seharusnya
Itulah kan jadi catatan
Ketika kupulang kelak
Tak ingin kusia-siakan lagi
Hidup yang bagai kilat
Melulu untuk assesori
Jemputlah aku, Tuhan
Kapan pun, dimana pun Engkau mau
Tapi, setelah kusempat berbakti
Membakar kealpaan, menghanyutkan kesalahan
Agar airku mengalir kian jernih
Teriring nyanyian suci
Menuju rumah keabadian.
( I Ketut Suweca , 3 Februari 2012).

»»  READMORE...

Surat untuk Bunda Pertiwi

Bunda pertiwi
Kucoba tulis surat ini untukmu
Tak tahu apa yang hendak kukata
Kumerasa kehilangan kata
Karena sesak sesal di dada
Bunda pertiwi
Kusudah membuat mukamu kumuh
Kusudah membuat wajahmu bopeng
Kusudah membabat rambut hijaumu
Memastikan tubuhmu jadi gurun
Bunda pertiwi
Telah kuterima sebagian hukuman
Di sini di neraka kehidupan
Tapi, yang paling kusesali
Kelak hanya bisa kuwariskan kehancuran
Untuk cucu-buyutmu
Karena karakusanku
Lantaran ketamakanku
Yang tak terkendali
Dan lupa diri
Hanya untuk menumpuk materi
Yang hanya pikirkan masa kini
Lupa menimbang akibatnya nanti
(Salam hormat dan salutku kepada semua sahabat yang bergerak melestarikan alam dan lingkungan hidup di negeri ini).
(I Ketut Suweca , 3 Februari 2012).

»»  READMORE...

Itulah, Nak, Cinta Sejati!

Nak, katamu cinta itu berarti mendapatkan

Katamu cinta itu perlu balasan

Katamu cinta itu kebersamaan

Katamu cinta itu memiliki

Benarkan begitu, Nak?

Jika benar begitu

Maka, kau akan diperdaya oleh cinta

Kau kan merasa dikhianati oleh cinta

Kau kan merasa dipecundangi oleh cinta

Kau kan merasa dirugikan oleh cinta

Kau kan merasa sakit hati karena cinta

Itu salah, Nak, salah!

Cinta itu mengasihi

Setulus hati tanpa harap balasan

Membantu dia dalam proses menjadi

Membuat ia tumbuh mandiri

Membantu dia menjadi dirinya sendiri

Membuat dia tak bergantung padamu

Membuat dia bebas memilih kehidupan

Membantu dia bahagia di jalan Tuhan

Itulah, Nak, cinta sejati

Tak hanya dalam ucap

Juga dalam tindak

Setulus-tulusnya hati

Maka, tiada rumus

Cinta jadi benci

Cinta jadi musuh

Cinta jadi dendam

Tak ada itu, Nak, tak ada!

Kalau seperti itu

Tak cinta namanya

Tapi, egoisme diri

( I Ketut Suweca , 3 Februari 2012)
»»  READMORE...

Jumat, 30 Desember 2011

Mentari untuk Pagi

Hujan turun dengan derasnya saat Renata terbangun dari mimpinya yang aneh. Renata mengingat mimpinya lagi, mimpi yang selalu hadir belakangan ini, dia terjatuh kedalam sebuah lubang gelap besar yang semuanya hitam, hitam sampai ia tak mampu melihat apapun disana, tapi ia tetap melangkah dalam kegelapan sampai ia melihat sebuah sinar yang menyilaukan matanya dan ia tiba-tiba berada dalam sebuah taman aneh tanpa warna, seperti sebuah taman yang berada dalam bingkai foto hitam putih, di timur ia melihat mentari masih malu-malu menampakkan sinarnya, di ufuk timur itu dia melihat seorang gadis berambut sebahu mengenakan gaun berwarna merah marun ditengah taman hitam putih itu, dan saat gadis itu menengok ke arah Renata, mentari pagi keluar dari peraduannya, dan ia hilang disana sebelum Renata sempat melihat wajah gadis itu.

Renata masih duduk termenung di tempat tidurnya, ia bingung sendiri memikirkan mimpinya itu, yang entah berarti apa. Hujan turun dengan deras saat ia terbangun tadi, dan diluar masih gelap belum ada tanda-tanda kemunculan mentari pagi diluar sana. Ia melihat jam beker disampingnya, pukul 04.00 WIB, masih terlalu pagi untuk bangun dan bersiap ke sekolah. Tapi ia beranjak juga dari kasurnya yang cukup hangat, namun ia tak tergoda untuk berlabuh ke pulau mimipi lagi, ia terlalu pusing jika harus bermimpi itu lagi.
***
Renata baru tiba di gerbang SMA MENTARI, 5 menit setelah bel berbunyi. Dia tadi ketiduran di meja makan usai menengguk secangkir kopi, aneh-aneh aja ini anak masa abis minum kopi kok malah ketiduran. Untung gerbang belum ditutup seluruhnya, masih ada sedikit celah saat pak Satrio satpam sekolah akan menutup gerbang itu, Renata langsung berlari menerobosnya dengan senyum usil yang ditujukan pada pak Satrio.

Jam pertama Pelajaran fisika, Renata melangkah tenang, males juga ngikut pelajaran hari ini, akhirnya ia memutuskan untuk nggak ikut pelajaran, Ia melangkahkan kakinya ke tangga bangunan utara tempat kelas sepuluh berada yang otomatis berlawanan sama ruang kelas 12 yang berada di bangunan selatan, ia menaiki tangga sampai lantai tiga, disana ada sebuah taman, bukan taman yang kaya’ taman pada umumnya. Inget taman di film high school musical, taman ini persis kaya’ taman itu. Dan Ini taman juga buat kepentingan sekolah, yaitu buat pelajaran juga. Ini bisa juga dibilang tempat cabut paling aman buat Renata. Saat itu ternyata ada anak yang lagi praktikum, melihat itu Renata langsung ngumpet dibalik pot gede takut ketauan bu Rika guru bio kelas 10, Cuma ada 15 anak disana mungkin ini Cuma persiapan buat lomba bio minggu depan, pandangan renata tertuju pada seorang cewek yang serba merah, rambutnya sebahu yang dikuncir nyamping, manis banget, dan dia pake jam tangan, gelang, kacamata, iket rambut, dan kaos kaki berwarna merah ngebuat dia paling mencolok diantara temen”nya. Dan cewek itu mengingatkannya pada cewek bergaun merah marun di mimpinya.


”Re,, dari mana aja lo.” Tanya Dika saat Renata baru memasuki ruang kelas pada saat istirahat pertama.
”Biasa…” jawab Renata datar, seraya duduk disamping Dika.
”Tadi lo dicariin bu Ling tu, kaya’ nya lo bakal dapat tugas fisika buanyaaak banget deh gara-gara lo cabut mulu pas pelajaran Fisika……..,,,.” Kata Dika panjang lebar yang sama sekali nggak di dengerin ama Renata yang lagi asyik sama pikirannya sendiri.
”Eh, Dik, lo tau anak kelas sepuluh yang sering pake assesoris merah nggak?” Dika yang lagi serius nyeritain pelajaran Fisika tadi pagi langsung melongo tanda bingung yang sebingung-bingungnya.
”Hehhhh…. Maksud lo Re? Jadi dari tadi lo sama sekali nggak dengerin gue… wah sarap lo Re.” ucap Dika yang kesel gara-gara Re sama sekali nggak dengerin dia ngomong.
”Hehe.. sorry broo… abis dari tadi lo bacot tentang bu Ling mulu, itu kan topik yang nggak menarik banget buat gue.” Jawab Renata sambil cengengesan.
”Eh tapi tadi lo nanya apa cewek???? Tumben lo nanya cewek, selama hampir tiga taun gue bareng ama lo, ini baru kedua kalinya lo ngomongin cewek, yang pertama juga Cuma gara-gara satu cewek yang ngikutin lo kemana-mana, dan itu juga buat kasih tu cewek pelajaran.”
“Udah, diem lo, ini gue serius tu cewek kelas sepuluh ngingetin gue sama cewek yang ada di mimpi gue.” Jawab Renata serius.
”Hahh… sumpe lo Re, cewek yang ada di mimpi yang sering lo ceritain itu.”
”Iya, gue jadi penasaran ama itu cewek, lo harus bantuin gue nyelidikin tu cewek merah.”
”okee boss, Dika siaap.”


Tari berdiri didepan gerbang, nungguin Riska temen sebangkunya buat pulang bareng. Sedangkan di warung depan sekolah dua orang cowok dari tadi ngawasin Tari. Dua cowok itu tak lain dan tak bukan adalah Dika dan Renata.
”Manis juga Re tu cewek kelas sepuluh.” Ucap Dika sambil cengengesan ngegodain Renata yang serius mandangin tu Cewek.
”Apa lo, mau dikemanain tu cewek lo si Liana, ini jatah Gue tau.” Sambil noyor kepala Dika.
”Yeee sewot, iye iye gue tau.”
”Ssssssttt, Dia udah mau pulang tu, cepetan ambil motor lo, kita ikutin Dia.” Kata Renata.
Riska udah sampai di depan Tari bersama sepeda polygon ungunya. Tari yang melihat itu langsung tersenyum.
”Yuk Tar, cap cus..” ucap Riska setelah sampai di depan Tari.
”Yuhuuu… kita pulang sistaaa.” Jawab Tari seraya duduk di boncengan belakang sepeda Riska.

Sepeda Riska berjalan pelan di siang yang cukup panas ini, tapi wajah mereka berdua sama sekali nggak menunjukkan kalo mereka keberatan atas sinar matahari yang tercurahkan begitu banyaknya, mereka malah adem ayem aja, ketawa ketiwi sepanjang perjalanan.
Mereka sama sekali nggak sadar kalo ada dua orang cowok sedang mengikuti mereka yang memang agak jauh dari Tari dan Riska. Tari dan Riska sudah sampai di Gang cempaka, gang dimana rumah Tari berada.

”Sorry ya Tar, gue nggak bisa nganter lo sampai depan rumah, nyokap gue nyuruh gue pulang cepet-cepet, sorry banget banget ya Tar.” Kata Riska dengan tampang nyesel.
”Iyaa a… biasa aja kali Ris, rumah Gue kan juga udah deket.” Jawab Tari sambil tersenyum.
”Yaudah Tar.. bye.” Ucap Riska kemudian sambil melambaikan tangan dan berlalu pergi meninggalkan tari.

Agak jauh ke sebelah utara gang rumah Tari ada dua orang cowok berpakaian putih abu abu, berdiri di bawah sebuah pohon lindung kota. Tari sempat memandang kesana sebentar tanpa kecurigaan apapun, dan segera melangkah menuju rumahnya karena perutnya udah bener-bener lapar.

“Dik, lo tunggu sini bentar yaa, gue mau ngikutin tu cewek sampe depan rumahnya, dan ada tugas buat lo, lo harus nyariin gue nomor hapenya tu cewek.” Kata Renata.
”Iyeee gue tau.. udah sana keburu ngilang tu cewek inceran lo.”

Renata mulai mengikuti Tari, dia berada sekitar 10 meter dari cewek manis serba merah itu. Saat Tari nengok dia cepet cepet ngumpet di balik pohon. Dan akhirnya Tari berhenti pada sebuah rumah sederhana yang begitu indah. Tari masuk ke dalam, setelah Renata menunggu 10 menit, dia menghampiri rumah Tari. Gerbangnya merah, di balik gerbang ada sebuah jalan setapak lurus menuju pintu utama, rumah itu berwarna putih bersih, yang mempunyai taman yang begitu indah. Di Kiri kanan jalan setapak itu ada sebuah pagar tanaman hijau. Sungguh rumah yang begitu indah. Setelah merasa cukup Renata meninggalkan rumah Tari tanpa tahu bahwa sepasang mata gadis manis itu menatapnya dari jendela kamarnya di lantai dua dengan tatapan bingung.


Renata sibuk menimang-nimang i-phone keluaran terbarunya, dia bingung mau nelpon Tari sekarang atau nggak. Dia nggak yakin apa Tari bakalan ngangkat telepon darinya……………………..

Renata sibuk menimang-nimang i-phone keluaran terbarunya, dia bingung mau nelpon Tari sekarang atau nggak. Dia nggak yakin apa Tari bakalan ngangkat telepon darinya. Di saat Renata bingung, Tari lagi asyik telpon-telponan ama Riska.
“…………eh Ris, lo tau kak Re, kakak kelas kita nggak.” Tanya Tari tiba-tiba.
“Haahh… Re siapa??? “ Tanya Riska bingung.
“Itu lo Kak Renata, yang biasanya ama kak Dika pacarnya si Liana.”
“Oooo… Renata yang kelas 12 itu toh yang anak basket juga.. iya tau, emang kenapa lo naksir ya, gampang ntar gue kasih tau Liana deh biar lo disalamin ke kak Re…haha.”
“Ngaco lo, nggak lah, tadi tu pas pulang sekolah gue liat Dia di depan rumah gue, kaya’ lagi ngawasin apa gitu, apa tadi dia ngikutin gue sampe rumah ya.??” Kata Tari akhirnya membuat sebuah hipotesis.
“Apa lo bilang???? Gue nggak salah denger kan.” Kata Riska.
“Apa sih lo lebay banget.”
“Eh tapi Tar, tadi gue juga ngrasa ada motor yang ngikutin kita.”
“Nahh, maka dari itu, tadi pas gue jalan ke rumah, gue juga ngrasa gitu.” Kata Tari lagi.
“Tapi, ngapain ya kak Renata ngikutin lo, emangnya dia suka gitu ama lo?”
“Mana gue tau, dodol lu yee.”
“Hehe…. Iyaa juga ya, eh Tar, mama gue uda teriak2 gak jelas tu, udah yaa, bye..”
“Ukede sista jelek, daaa, hehe.” Ucap Tari mengakhiri obrolan mereka.
Tari meneruskan PR matematikanya walaupun pikirannya lagi ngabur gara-gara Renata. Belum selesai ngerjain satu soal logaritma yang ribetnya naudzubilah, HPnya bunyi, ada sms masuk.

From : +628563321662
Hai….

Siapa ni, gumam Tari di dalam hati, dan Dia langsung mengklik tombol reply.

To : +628563320000
Ni sapa ya???

Lama nggak ada balesan dari pengirim sms itu, dan akhirnya HPnya bunyi ada telepon masuk, keliatannya dari nomor yang tadi sms Tari.
“Hallo….” Ucap Tari setelah menekan tombol hijau di HPnya.
“…………” diem tak ada jawaban dari sang penelepon.
“Halloooo,,,, ada orang gak sih di sana.” Tari ngomel kesel juga orang nelpon tapi malah nggak ada yang ngomong, dan akhirnya klik, telepon dimatiin.

Di kamarnya Re bingung, dia hanya menatap diam pada i-phonenya, tadi dia bener-bener nggak tau mau ngomong apa. Dia lagi mikir lagi, Tari, kenapa dia ngerasa bahwa cewek itu adalah gadis merah marun di mimpinya, dan demi apapun si Renata ini belum pernah sekalipun peduli sama seorang cewek, walaupun selama ini banyak banget cewek yang suka ama dia yang kata cewek-cewek di sekolah adalah tipe cowok cool.
Renata masih terus memikirkan gadis itu sampai dia tertidur dengan i-phone yang masih ditangannya. Dan dalam tidurnya Renata kembali memimpikan gadis itu. Gadis yang ada di taman hitam putih itu.

Hari ini, hari pertama Tari mengikuti ekskul basket, dia baru aja pindah ekskul gara-gara ngikutin Riska. Dan ternyata Renata masih menjadi kapten basket di sekolahnya. Berhubung pak Didin pelatih basket mereka lagi berhalangan hadir, akhirnya Re dan Dika yang diberi tugas untuk melatih adik-adik kelas mereka. Renata menyuruh mereka shooting bola dari daerah three point, dan Renata tak menyadari bahwa Tari ada di barisan juniornya itu. Saat itu Tari Cuma pake iket rambut merah, jadi Re tidak mengenalinya sebagai cewek merahnya.
“Hei, kamu…” kata Renata pada Tari yang dari tadi nggak pernah berhasil masukin bola ke ring basket.
“Eeeemmm,,, sa..yaa kak.” Jawab Tari takut.
“ Iyaa, kamu.. dari tadi konsentrasi nggak sih, masa bola kamu nggak ada yang masuk.” Dan saat Renata sampai di depan gadis itu, dia baru sadar kalo cewek itu adalah Tari, namun tadi dia udah terlanjur ngebentak tu cewek, nggak mungkin kan kalo Dia berubah manis setelah tau itu Tari, nggak enak dong ama adek kelas yang lain.
“Maaf kak, saya baru ikut latian.” Kata Tari sambil menunduk.
“Maaf maaf , alasan kamu bukan alasan yang bagus ayo latian lagi, sampe kamu bisa masukin minimal 3 bola baru kamu boleh pulang.”
“Iiiyaa kak.” Jawab Tari, sumpah dalem hati dia kesel banget tau gini dia nggak bakalan mau deh ngikutin Riska pindah ke ekskul ini, mana dari smp dia nggak pernah megang bola basket lagi.
Jam 17.15 WIB, Tari baru berhasil masukin dua bola ke dalam ring, anak -anak lain udah pada pulang termasuk si Riska, sebenernya Riska masih pengen nemenin Tari tapi tadi dia dibentak Re disuruh buat pulang. Dan disana tinggal Renata, Dika, dan juga Tari dan akhirnya pada pukul 17.30 WIB Tari baru bisa masukin bolanya untuk ketiga kali setelah mencoba berpuluh puluh kali.
“Plok, plok, plok, plok…” suara tepuk tangan Renata dan Dika semakin terdengar mendekat ke arah Tari yang sedang duduk kelelahan.
“ Ni minum dulu.” Ucap Dika sambil memberikan sebotol minuman.
“ Thanks kak.” Sambil mengambil botol itu dari tangan Dika.
“ Udah, lo sekarang boleh pulang.” Ucap Renata yang berdiri disamping Tari.
Tanpa berkata apapun Tari langsung mengambil tasnya dan berlalu dari sana, dia bener bener benci sama Renata , masa dia disiksa sampe sebegitunya Cuma gara gara nggak bisa masukan bola ke ring di latihan pertamanya, dan sekarang akibatnya dia harus pulang jalan kaki gara-gara ditinggal ama Riska. Dasar cowok rese, gila, saraaap, teriak Tari dalam hati. Dan tanpa sepengetahuan Tari, Renata mengikuti Tari di belakangnya, Dia khawatir banget ama tu cewek soalnya tadi wajahnya pucet banget apalagi sekarang udah mau magrib.
Tari udah sampe di depan gang rumahnya, tapi kepalanya yang tadi pusing sekarang rasanya tambah parah, rasanya semuanya muter muter kaya abis naiik komedi puter. Dan akhirnya semuanya gelap, tapi dia ngrasa belum jatuh, dia ngrasa ada seseorang yang nangkep dia sebelum dia bener-bener terjatuh, tapi dia sama sekali nggak tau siapa yang udah nyelametin Dia.

Lima menit sebelum bel bunyi Renata mengarah ke kelas Tari X-6, dia sebenernya mau mastiin kalo Tari baik-baik aja, tapi disana dia melihat bangku disebelah Riska masih kosong. Setelah Dia bertanya pada Riska ternyata si Tari nggak masuk, kata Riska dia masih sakit. Riska yang ditanyain sama Renata juga bingung, kenapa tiba-tiba tu cowok nanyain Tari padahal kemarin dia udah nyiksa Tari kaya’ gitu.
To : Sist. TarTar^
Eh, tar… tdi bru aj kak.Re nanyain lo.. dia bru aja kluar dr kls kta..
Reply to : ^Riska jelex,
Bodooo… gw msh sbel am dia, DASAR RENATA GILAAAA!!!!!!!!
Setelah mengetahui kalo Tari nggak masuk, Renata langsung cabut. Dia emang terkenal murid paling bandel di sekolah sampe guru-guru udah jengah ama dia, kalo mau ngeluarin tu anak dari sekolah mesti pikir pikir ulang dulu, masalahnya dia udah kelas 12.
Renata menuju rumah Tari, dia udah mengganti seragamnya dengan kaos oblong yang selalu ada dalam tasnya, setelah memencet bel berkali kali akhirnya pintu rumah Tari terbuka dan disana wajah mama Tari yang muncul dari balik pintu.
“Eh, mas yang kemarin kan, ayo mas masuk, duduk dulu.” Kata Mama Tari ramah.
“Tante ambilin minum dulu ya, mau minum apa?”
“Terserah tante aja.” Jawab Renata sambil tersenyum.
“oooo… iya mas, kemarin saya lupa belum ngucapin terima kasih udah nolongin Tari, nama mas siapa ya?” Tanya Mama Tari saat kembali dari dapur dan membawa sebuah gelas berisi sirup untuk Renata.
“Agi Tante lengkapnya Surya pagi.” Nama Renata sebenernya emang Surya pagi, tapi dia nggak pernah mau dipanggil Agi lagi sejak SMA, soalnya dia benci banget ama nama itu karena itu adalah nama pemberian ayahnya yang udah ninggalin dia sama mamanya dan sampe sekarang nggak ada kabar.
“Beneran nama kamu itu, nggak ada tambah-tambahannya sama sekali?” Tanya mama Tari kaget.
“Iya tante, emang kenapa Tante?”
“Kamu tau nama panjang Tari?” Renata menggelengkan kepalanya, “ Rediana Mentari Pagi.” Kata Mama Tari selanjutnya.
“Oooo begitu tante, kok bisa sama ya?” ucap Renata sambil menyembunyikan keterkejutannya. “Emm, Tante saya pulang dulu ya.” Kata Re akhirnya.
“Loh, kok cepet-cepet, nggak nemuin Tari dulu?”
“Nggak tante, lagian Tari kan harus istirahat, permisi Tante.”
“Iya, makasih ya mas Agi, sekali lagi makasih.” Ucap mama Tari yang hanya dibalas senyuman dari Renata.
Renata mengendarai motornya menuju ke tempat dimana dia sering menyendiri, itu adalah sebuah tempat tak jauh dari rumahnya, sebuah taman yang dia ciptakan sendiri, saat dia bener-bener sakit hati ama Papanya. HPnya berbunyi di layarnya tertera nama Dika.
“Ya, dik, ada apa?”
“Lagi dimana Re..?” Tanya Dika.
“Lagi cabut di tempat biasa yang deket rumah gue, ada apa lo tiba-tiba telepon?”
“Ada kabar penting ni Re, soal Tari.”
“Ada apa sama Tari?”
“Lo udah tau belum kalo nama lengkap dia……” belum selesai Dika ngomong Renata memotong omongannya.
“Tau… Rediana Mentari Pagi kan, gue tadi abis dari rumahnya Tari.”
“Dan satu lagi Re, tanggal lahir dia sama persis kaya’ lo Cuma beda taun doang.”
“Apa??? Lo nggak lagi bercanda kan Dik? Lagian lo tau darimana sih Dik?”
“Dari data anak kelas sepuluh yang ikut basket, kemarin kan lo nyuruh ngumpulin data pribadi anak kelas sepuluh.”
“Iya juga sih, yaudah tutup telepon lo, gue pengen sendiri.”

Tari hari ini udah masuk sekolah, dan dia masih sebel plus benci banget sama yang namanya R E N A T A. Dan seharian ini dia bingung juga sama yang namanya Renata, masa seharian ini dia dapet lebih dari 50 bunga mawar merah, yang dikasih setiap orang yang dia temuin di sekolah, dan semuanya bilang itu dari Renata. Riska udah heboh dari tadi, tu anak ngoceh mulu dengan hipotesis hipotesis gejenya.
Bel pulang udah berbunyi 10 menit yang lalu, dan Tari udah nunggu Riska di depan gerbang, tapi tu anak nggak muncul-muncul. 20 menit berlalu Tari masih tetap setia nungguin Riska yang nggak muncul-muncul batang hidungnya. Malah tiba-tiba, Renata muncul dengan motor Satria merahnya.
“Ayo naik..” ucap Renata.
“Nggak, gue nungguin Riska.” Jawab Tari jutek.
“Cepetan naik ya tuan putri Mentari Pagi, Riska udah pulang, jadi kali ini lo musti ikut gue.” Kata Renata di manis-manisin.
“Nggak, mending gue pulang jalan kaki deh.” Jawabnya sambil ngeloyor pergi, Re turun dari motornya dan mengejar Tari, akhirnya dia tarik tangan Tari dan maksa dia buat duduk di jok motornya, Tari sempet berontak, tapi akhirnya dia nurut juga buat naik motornya Renata.
“Lo udah di kasih tau nyokap lo belum.”
“Soal apa?” Tanya Tari cuek.
“Kalo nama gue Surya Pagi.”
“Haahh, Apaan??”
“Nama gue S U R YA P A G I …udah denger belum lo.” Teriak Renata.

Tari diem aja, dia bingung, Surya Pagi, dia udah bayangin kalo Surya Pagi adalah cowok yang selalu ada dalam mimpinya, yang kemarin kata mamanya udah nolongin dia waktu pingsan. Dia bingung setengah hidup dan setengah mati kalo ternyata Renata adalah Surya Pagi.

“Udah, lo turun sekarang.” Ucap Renata saat tiba di depan sebuah tempat yang ia tuju.
“Kita mau ngapain kak Re, mau nangkep ular yaa.. kok lo ngajak gue ke tempat yang rumputnya liar kaya’ gini, ato jangan-jangan kakak mau bunuh gue ya..” kata Tari mengeluarkan hipotesis hipotesis anehnya, mentang- mentang anak olimpiade bio, selalu deh ya ngeluarin hipotesis.

“Udah jangan ngaco, gue masih waras gak mungkin mau bunuh lo, lo kira gue mau masuk penjara, udah sekarang lo ikut aja.” Kata Re sambil menarik tangan Tari, membawanya ke taman buatannya itu. Dia mengajak Tari melewati jalan setapak kecil berbatu, kanan kirinya terhampar bunga mawar merah yang indah. Jalan tersebut mengarah ke gazebo kecil. Gazebo itu mempunyai dua tangga berlawanan arah. Yang satu adalah ujung dari jalan setapak yang mereka lewati, sedangkan yang satu lagi mengarah ke jalan setapak lainnya.

“Ini taman yang gue buat sendiri, dibantu tukang kebun gue, dan belum pernah ada satupun cewek yang pernah gue ajak kesini, dan Cuma orang yang bener bener berarti dalam kehidupan gue yang gue bawa kesini.” Kata Renata, dan Tari hanya diam karena dia masih nggak nyangka dan kaget sekaget kagetnya dengan apa yang baru dia ketahui.
“Hari ini tanggal 20 Oktober 2010, termasuk tanggal yang langka dan unik kan.” Kata Renata.
“Iya, kak.” Jawab Tari.
“Sekarang tutup mata kamu, aku mau nunjukin sesuatu.” Kata Renata lagi, sambil menggandeng tangan Tari menuntunnya melewati jalan setapak yang berada berlawanan dengan yang mereka lewati tadi.
“Buka mata kamu.” Ucap Renata sanbil tersenyum, senyum yang benar benar jarang terlihat menghiasi wajahnya.
Tari seneng, kaget, terharu, gembira, salut, dan berbagai macam perasaan bercampur di hatinya, di depan matanya ia melihat sebuah tulisan besar yang terbuat dari tanaman hijau yang dibentuk sedemikian rupa sehingga membentuk tulisan MENTARI UNTUK PAGI yang di pinggir pinggirnya berhiaskan mawar merah, tetapi ada satu mawar putih yang terselip di huruf U dalam kata untuk, terlepas dari itu, itu adalah sesuatu yang begitu indah.
“Tari…” Renata menggenggam tangan Tari.
“Mulai sekarang kamu panggil aku Agi yaa, dan di hari yang indah ini maukah kamu menjadi mentari untuk pagi, karena pagi takkan pernah sempurna tanpa mentari, dan pagi takkan indah tanpa cahaya mentari, karena pagi dan mentari adalah satu, kalo kamu mau, ambillah mawar putih di tulisan itu dan ganti dengan mawar merah ini.” Renata memberikan sekuntum mawar merah pada Tari.
“Tapi jika kamu keberatan menjadi mentari untuk pagi, tambahkan mawar putih ini di samping mawar putih yang sudah ada disana.” Renata memberikan mawar putih untuk Tari.

Tari membawa dua mawar di tangannya dan mulai melangkahkan kakinya menuju tulisan itu, Dan Renata berjalan di belakang Tari. Tari meletakkan mawar putihnya di sisi mawar putih yang lain pada huruf U. Tari berdiri dan tersenyum, Renata menghampiri Tari dia nggak nyangka Tari bakalan memasang mawar putih disana. Baru saja Renata akan mengucapkan sesuatu Tari mendahuluinya.

“Kak Agi kan tau aku sukanya merah, ntar kalo yang merah aku pasang disana aku dapetnya mawar putih dong, jadi aku pasang yang putih deh biar aku dapat mawar merah, dan satu hal yang perlu kak Agi tau, kalo Mentari akan selalu ada untuk pagi.” Tari mengakhiri ucapannya dengan senyuman manisnya.
“OOOoow dasar mentari nakal.” Sambil mengusap usap rambut Tari, dan kemudian mendekapnya dalam pelukannya.

Tanggal 24 Oktober 2010 hari ulang tahun Mentari dan Pagi. Pukul 01.00 dini hari Renata menelpon Dika.
“Apaan sih Re, jam segini nelponin gue, gue baru tidur tadi jam 12 malem gara-gara patah hati ama si Liana, masa tadi malem dia nelpon minta putus.”
“Yee. Kok lo jadi curcol sih Dik.”
“Abis lo nelpon dini hari gini, ada pa sih?”
“Gak care banget sih lo jadi temen, hari ini kan gue ulang taun.”
“OOoh iya deng, yaudah HBD ya Re, udah kan gitu doang, gue mau tidur lagi.”
“Ehh bentar Dik, ntar pagi jam 3 gue jemput lo di rumah, kita bakalan ngrayain ulang taun gue ama Tari di rumahnya Tari, ntar lo jemput Riska dulu tapi.”
“Iyadeh iya, udah kan itu doang.”
“Iyaa, udah lo jangan sedih mulu, kaya cewek aja lo, baru diputusin gitu aja gak bisa tidur, si Riska kan cakep juga tu, bisa jadi gantinya Liana juga kan…hehe.”
“Boleh juga tu, Re..hehe, udah ahh gue mau tidur lagi.”
“Udah sono, jangan lupa telpon Riska dulu biar dia siap-siap ntar pagi.”
“Iyeeeeee..”
“Bye Dika… emmmuuuach.”
“Najisss deh Re.”
Pukul 04.00 Renata, Dika, dan Riska udah ada di rumah Tari. Mereka membawa kue tart yang bertuliskan Happy Birthday Mentari dan Pagi, dengan lilin 24, yang menunjukkan tanggal lahir mereka. Mama tari udah tau kalo mereka bakalan kesana.
“Tari ada di Taman belakang, kalian langsung kesana aja.” Kata mama Tari.

Taman belakang Tari menghadap ke timur, di rumput Taman disana Tari menggelar Tikar kaya mau piknik. Dan Tari, Renata, Dika dan Riska duduk disana menghadap ke timur menunggu matahari terbit. Pukul 05.00, di ufuk timur langit melukiskan semburat semburat merah yang indah, sebentar lagi matahari terbit. Dan saat itu Mentari dan Pagi meniup lilin kue ulang tahun mereka diiringi nyanyian Happy birthday dari Riska dan Dika. Pagi yang indah karena ada cinta yang bersatu disana antara mentari dan juga Pagi.

Hari ini adalah hari yang indah karena kini Renata kembali menjadi Agi, yang kini mempunyai cahaya dalam hidupnya. Di umur yang ke-17 ini dia mendapatkan mentarinya. Hari sudah malam, waktunya untuk tidur dan Renata memejamkan matanya.

Dia bermimpi lagi, tapi kali ini lain. Setelah ia terjatuh dalam lubang hitam, ia keluar dari sana dan menemukan taman yang indah, bukan taman hitam putih seperti biasanya. Dia duduk di hamparan rumput yang hijau bersama Tari yang memakai gaun merah marun, dan menghadap ke arah terbitnya matahari, mereka berdua memandang matahari terbit yang indah bersama. Dan ini adalah bukti bagi Renata bahwa ia telah menemukan Cahayanya, Cintanya, dan kebahagiaan hidupnya. Dan ia kini yakin bahwa pagi takkan lagi kehilangan mentarinya, karena mentari akan selalu ada untuk pagi.(sumber)
THE END
»»  READMORE...

Surat Cinta Buat Bidadari Kecilku di Syurga

Sayangku …..
Ayah tak tahu harus memulai bercerita apa di surat ini. Ketika engkau memutuskan untuk pergi meninggalkan ayah, Di pikiran ayah,  “Engkau mengkhianatiku, nak !”. Ayah membencimu. Engkau sempat membuat ayah tersenyum bahagia, setelah itu yang tersisa hanya sedih dan air mata. Begitu indah keceriaan yang engkau berikan, setelah itu yang tersisa hanya perih kebisuan.
Tak terasa tiga tahun sudah berlalu. Masih lekat di ingatan ayah senyummu yang manis, sinar matamu yang indah. Subhanallah. Engkau memang indah dan pantas dikagumi, nak !. Kuanggap penantianku berakhir dengan kehadiran mungilmu.
Engkau tahu nak, begitu ayah sangat merindukanmu. Kepergianmu adalah salah satu episode paling menyedihkan dalam hidup ayah. Kepergianmu menyisakan kebencian ayah pada rumah sakit, menyisakan geram pada suster yang bodoh, dan menyisakan kenangan pada dokter yang sadis. Ayah mau memperkarakannya dan sudah menelepon sahabat pengacara ayah, namun ibumu sungguh wanita mulia, memperkarakan mereka tidak membuatmu kembali, disaat yang sama ibumu lebih membutuhkan pertolongan agar kondisinya cepat kembali normal. Sayang, engkau tak sempat mengenal ibumu, wanita setia yang tiada duanya. Ayah sempat memprotes cintanya karena sayangnya kepada ayah seakan melebihi sayangnya kepada Tuhan.
Kepergianmu menyisakan kepedihan yang mendalam bagi kakakmu, namanya Adil. Sayang, engkau tak sempat mengenalnya.  Kakakmu adalah kakak yang hebat. Dia meninggalkan pembaringan ayah dan ibumu dan berjalan sendiri dalam gelap subuh menuju masjid. Dia ikut shalat bersama jamaah subuh yang hanya empat orang itu disaat dia sendiri tidak tahu harus berdo’a apa. Saya kira kakakmu juga ingin protes kepada Tuhan, kenapa Tuhan merenggut kebahagiaannya. Kenapa Tuhan begitu cepat memanggil adik yang dirindukannya !.

Sayangku …..
Perih hati ayah. Melihatmu terakhir terbaring dalam incubator di ruang kematian yang menyesakkan itu, Engkau tak pantas berada disana, nak !. Ayah sendiri merinding berada disana. Setiap detik, menit dan jam, ayah menyaksikan begitu hebat permainan kematian di ruang ICU itu, ruangan yang dikelilingi malaikatul maut, sangat menakutkan. Ayah menyaksikan satu persatu pasien di ruangan itu pergi. Terbang bersama takdir kematiannya.
Ayah bercucuran keringat dingin. Menggigil di siang hari. Ayah menatapmu lekat – lekat, takut engkau menyusul mereka, terbang entah kemana. Engkau hanya memberikan senyum yang tertahan. Umurmu baru lima hari ketika itu. Senyummu itu seakan menabahkan ayah ditengah keletihan berlari pontang panting dari apotek ke apotek. Resep obat paska operasi yang diberikan dokter spesialis itu sungguh sukar dicari, namun ayah tak pernah berputus asa karena membayangkan suatu saat kita bisa bermain dan bercanda bersama, dan  engkau  bisa menjadi penyejuk hati dan pelipur lara ayah, ibu dan kakakmu.
Hari keenam, Salah seorang dokter spesialis yang pernah mengoperasimu membolehkanmu keluar dari ruang ICU. Bukan main gembiranya ayah. Segera kutelepon ibumu di rumah yang lebih dulu pulang dari rumah sakit agar menyiapkan diri menyambutmu. Ayah juga telepon pamanmu agar segera mencari kambing untuk persiapan aqiqahmu, dan dalam perjalanan dari Makassar ke Pangkep itu terasa sangat singkat. Ayah tak pernah melepaskan pandangan ke wajahmu yang begitu menggemaskan sembari terus memikirkan nama yang terbaik untukmu.
Dan engkau tahu nak, saat kita tiba depan rumah di sore hari itu, engkau disambut bak pengantin yang telah lama dinantikan sekampung. Mereka tak sabar ingin menyaksikan cantik parasmu. Orang – orang se kampung itu seperti mengidolakanmu, tak henti – hentinya mereka bertanya, kenapa dan bagaimana. Dan ibumu begitu semangat memangkumu, sama semangatnya saat dia menceritakan proses kelahiranmu. Mulai saat ayah melarikan ibumu yang sudah pecah ketubannya di tengah malam gelap gulita, diatas motor yang hampir habis bensinnya.
Hampir dua jam di rumah sang bidan, dia bersama menantunya yang juga bidan itu menyerah. Katanya, proses kelahiranmu harus dengan operasi. Ayah kabari semua keluarga dekat tentang kondisi ibumu. Dan engkau tahu nak, ibumu lebih tegar dibanding ayah. Saat tiba di rumah sakit, ibumu lebih memilih untuk tidak menunggu dokter ahli kandungan yang entah dimana keberadaannya di subuh hari itu. Satu per satu perawat yang ada di ruang persalinan itu berusaha menyabarkan ibumu yang terus berkuat, berkuat dan berkuat. Sampai akhirnya jerit tangismu memecah kesunyian di ruang persalinan itu seiring gema takbir subuh mengumandang di masjid. Allahu Akbar.
Sayangku …..
Setelah lahir, engkau langsung dimasukkan ke dalam incubator yang terpisah dengan ruangan ibumu dirawat. Selama dalam perawatan suster, ibumu tak henti – hentinya menanyakan keadaanmu. Sang suster selalu menjawab bahwa segalanya baik – baik saja. Entah kenapa ayah juga sedikit khawatir dengan  keadaanmu, sehingga sedikit – sedikit mengintip dari balik jendela kaca. Ayah khawatir kamu diperlakukan tidak baik ataukah kamu bakal jadi korban bayi yang ditukar seperti banyak diceritakan dalam sinetron – sinetron tivi itu. Dari balik jendela kaca itu, ayah seperti berteriak kesetanan saat begitu banyak semut merah memasuki ruang kehidupanmu. Mendengar teriakan ayah, baru kemudian suster itu membersihkan inkubatormu.
Memasuki hari ketiga, ibumu dipindahkan dari ruang persalinan ke ruang perawatan, dan kamupun sudah dikeluarkan dari ruang incubator ke ruang yang sama, bersama ibumu, dalam dekapan hangatnya. Sekali lagi, ibumu tak henti – hentinya menanyakan kondisimu. Ia merasa belum puas sebelum suster yang merawatmu itu menjelaskan apa saja yang telah dilakukannya terhadapmu. Entah kenapa ayah punya  firasat buruk dan ibumu seakan tidak percaya dengan penjelasan sang suster. Ibumu menatapmu dengan penuh  cinta kasih, seakan ia bertanya kenapa wajahmu seperti itu nak, seperti menahan sakit yang dalam. Beberapa kali ibumu mengusap perutmu dengan sangat lembut tapi tetap saja kamu seperti menahan sakit yang perih.
Ibumu meminta ayah agar memanggil kembali sang suster itu. Dan kembali ibumu menanyakan apakah bayi mungilnya sudah keluar tai pellonya. Sang suster menjawab sekenanya, “sudah bu, bahkan saya sudah mandi dan bedakki”. Tanpa beban, suster itu berlalu.
Sayangku …..
Seiring jawaban suster itu, perutmu semakin kembung, nak. Ibumu berinisiatif melepaskan seluruh pakaian bayimu. Satu persatu dirabanya anggota tubuhmu dengan teliti dari ujung kepala sampai ujung kaki. Dan ketika ibumu meraba bagian pantatmu, seketika itu ibumu meneteskan air mata.  “Ya Allah, ada apa, kenapa ?”, tanya ayah. “Suster itu bohong”, jawabnya sambil sesenggukan. “Ya Allah, Anatta kenapa ?” tanya ayah lagi. “Anatta ….. anatta …. Anatta cacat …. “. Belum habis kata – katanya ayah melompat kesamping pembaringan ibumu. Seakan tidak percaya, ayah melihat sendiri. “Ya Allah, engkau tidak punya anus, sayang. Lubang duburmu tidak ada,  anakku”.
Ayah tidak perduli lagi suster bodoh itu. Ayah berjanji suatu saat akan mencarinya, yang paling penting adalah keselamatanmu. Cacatmu itulah yang membawa ayah ke rumah sakit terkenal di Makassar dan operasimu berjalan dengan sukses, itu yang ayah tahu. Paling tidak sampai saat kamu tiba di rumah dan kembali ke pangkuan ibumu.
Saking semangatnya ibumu cerita, ayah lupa bahwa engkau baru saja keluar dari ruang incubator dan baru lepas tiga hari paska operasi, masih perlu isolasi dan ruang segar bagi kehidupanmu sementara orang – orang sekampong itu juga tak dapat ayah tahan untuk tidak melihat, memegang tangan mungilmu atau sekedar mengelus lembut pipi montokmu.
Sayangku ….
Tujuh jam engkau berada di rumah nak, ibumu selalu berada disampingmu. Ibumu tampak begitu menikmati keindahan dan arti hadirmu.  Ibumu tampak bahagia sekali. Saking senangnya dia sendiri lupa bahwa kondisinya masih sangat lemah. “Namanya siapa, Etta ?” tanyanya kepada ayah. Maafkan ayah nak, sampai hari keenam itu memang ayah tidak menemukan nama yang pas buatmu. Entah kenapa ? Begitu banyak nama yang bertebaran diatas kepala ayah, namun  tak satupun kuanggap tepat untukmu. Tanpa menunggu jawaban namamu, ayah melihatmu memberikan senyum yang indah sekali kepada ibumu. Semenit kemudian, ibumu tiba – tiba menjerit dan menangis mendekapmu sejadi - jadinya. Darah begitu banyak keluar dari mulut dan hidungmu, nak. Wajahmu membiru. Sekujur tubuh mungilmu kaku. Seisi rumah langsung panik.
Jam dua belas malam, Ayah kembali melarikanmu ke Makassar, setelah sebelumnya rumah sakit terdekat tidak dapat berbuat apa – apa. Ibumu kularang ikut karena kondisinya masih sangat lemah. Sekujur tubuhmu sudah membiru, ayah tak henti – hentinya mencium dan mendekapmu. Ayah tak dapat menahan derai air mata saat subuh hari di rumah sakit makassar itu, para dokter saling menyalahkan atas tindakan mengeluarkanmu dari ruang ICU sehari sebelumnya. Sementara bibi dan puang nenekmu tak berani menemani ayah cerita. Dia tahu ayah marah karena menentangnya menghadirkan sanro dalam pengobatanmu.
Sayangku ….
Ayah bertahan menunggumu, dan engkau memang menemani ayah sampai maghrib hari ketujuh kelahiranmu. Engkau dikembalikan ke ruang ICU itu. Ayah histeris, memohon kepada dokter, “Jangan kembalikan kami kesana”. Ayah diabaikan. Ayah mencium bau kematian begitu dekat denganmu, nak. Ketika tim dokter tiba dan menghampirimu, engkau nampak begitu tenang, meski dokter di depan ayah begitu sadis menyedot darah dalam tubuhmu. Darah begitu cepat mengalir melalui selang kecil dari hidung dan mulutmu, nak. Selang itu begitu panjang memasuki ruang paru – paru dan jantungmu. Ayah tak tahu mereka melakukan apa. Ayah terduduk menangis sejadi – jadinya disamping inkubatormu. Ayah sempoyongan, tak tahu berada dimana.
***
“Om bangun om”. Kakak sepupumu membangunkan ayah. “Adekku sudah pergi om”, ujarnya disertai isak tangis yang dalam. Engkau mengkhianatiku, nak !
Ternyata kepulanganmu ke rumah, hanya untuk pamitan kepada ibumu. Maafkan ayah nak. Ayah merangkak, tertatih – tatih berjalan, berusaha mengungkapkan kembali kenangan itu. Ayah sadar terlambat mengungkapkan cinta, ekspresi yang nyaris terhambat oleh sandera waktu. Maafkan ayah nak, semoga kita bisa dipertemukan nanti, duhai bidadari kecilku. (**)
Keterangan :
ICU = ruang gawat darurat
tai pello = tai pertama, buang air besar pertama seorang bayi, warna tai-nya kehitaman.
anatta = anak kita
etta = panggilan kepada orang tua atau suami.
sanro = dukun
»»  READMORE...

Selasa, 20 Desember 2011

Cinta Itu Damai

by: Muhammad Fathir Al Anfal
.

Bila genderang cinta telah didendangkan,
Bila panji-panji asmara telah dikibarkan,
Dan panah kasih sayang telah dilepaskan.

Lantunan puisi indah akan selalu mengusik,
Pun dengan kidung-kidung bernuansa merah jambu.

Aku melihat dengan teropong dari sini,
Ke segala penjuru.

Hewan-hewan saling berpasangan,
Menari-nari ria di rimba raya.
Gunung es di kutub yang meleleh,
Membawa bongkahan es sampai ke hati kita.
Angin puting yang berubah jadi angin sepoi,
Yang mengajak kita terbang hingga ke awan putih.

Mereka sudah merasakan,
Mereka ingin memberitahu,
Bahwa cinta itu damai.

M. Fathir Al Anfal (November 2011)

»»  READMORE...

Bahasa Rindu


by: Auda Zaschkya
Auda Zaschkya & Nihayatus Ziin




Aku tak mengerti , apa yang kutulis ini

Hanya mengikuti kata hati, Kemana ia ingin pergi

***

Aku ingin membuat puisi cinta

Tapi aku tak tahu ingin bercerita apa

Hanya sejenis rindu membara

Aliran nya begitu deras kurasa

***

Berawal dari coretan pena atas kertas lusuh

Aku menulis bait demi bait puisi

Ungkapan rindu yang tertumpah

Padamu kekasih hati yang senantiasa kunanti

***

Aku pun semakin tak mengerti akan puisi ini

Mungkin dis orientasi tingkat tinggi sedang mengitari

Ingin rasanya ku bidik hatimu

Dan melesatkan anak panahnya tepat di relung hatimu

Agar semua terurai jelas, adakah aku

Dan kita didalam hatimu sedang menikmati cinta itu

***

Terkadang saat ku bercermin

Jelma wajahmu tepat disisi

Namun aku tak tahu di belahan dunia mana

Potret dirimu berdiam

***

Terpurukku menanti disini

Hanya seladang bahasa rindu

Yang setia menemani

Menanti kabar baik darimu
»»  READMORE...

Jejak Kaki di Pasir

by: Patricia Lestari
.
Suatu malam saya bermimpi berjalan bersama Tuhan di tepi pantai.
Begitu banyak adegan dari kehidupan saya melintas di mata saya.

Dalam setiap adegan kehidupan saya, terlihat bekas jejak-jejak kakiku di pasir.

Terkadang ada dua pasang jejak kaki tetapi di saat lain hanya ada satu pasang jejak kaki.

Hal ini meresahkan saya, karena saya melihat justru di saat-saat terberat dalam kehidupan saya, ketika saya mengalami kesedihan yang dalam, terluka atau kalah, saya hanya melihat satu pasang jejak kaki.

Jadi saya bertanya pada Tuhan:

“Tuhan, Engkau pernah berjanji, bahwa Kau tak akan meninggalkan saya sendiri. Tetapi mengapa justru di saat-saat terberat dalam hidup saya, saya melihat hanya ada satu pasang jejak kaki. Mengapa disaat saya sangat membutuhkan Engkau, Engkau justru meninggalkan saya..?”

Dan Tuhan menjawab,” AnakKu, satu pasang jejak kaki yang kau lihat di pasir, itu adalah saat-saat ketika AKU menggendongmu.”

Judul Asli: Footprints in the Sand by Mary Stevenson (1936)
Diterjemahkan secara bebas: oleh Patricia NSL

»»  READMORE...

Tepian Asmara

by: Kit Rose
.
The Road To Hell kembali mengalun merdu,

dan aku mendapati tubuhku menggeliat di pembaringan,

menatap senyum hangat di wajahmu,

menelusuri alunan cinta tak berbatas pada sepanjang malam,

di tepian senja hingga pagi menjemput,

dan kau masih di sana menjaga sepiku.

Hangat jemarimu telusuri tiap inci nadi cintaku,

menggetarkan gelora yang telah lama membeku,

menguak pintu hati dengan tangan cintamu,

dan aku tak kuasa menepis,

ingin kulihat cahaya berbinar di matamu,

kabarkan hati bahagiamu dalam pelukanku,

dan getar itu tiada terhenti,

saat kau lumat bibir kelu hingga menghangat.

Tepian asmara hempaskan segala tanya dan nada,

entah sampai kapan kita berenang di sana,

aku hanya ingin berenang dalam hangat bibirmu,

biarkan sejenak mimpi menggelepar,

bersama peluh mengalir tiada henti,

dan kita menyatu di dalamnya.

by Kit Rose

——————————————————————————————————

Saat mata ini kembali terbuka pada dini hari, wajahmu menghiasi hari yang sepi,

bersama jejak peluh kehangatanmu, semoga ini membuatmu bahagia.

——————————————————————————————————
»»  READMORE...

Senin, 19 Desember 2011

Bukan Waktuku

by: Sang Dokterandes
.
Jangan tanya apa aku punya waktu
Aku selalu ingin berjumpa
Aku selalu ingin bercinta

Jangan tanya apa aku punya waktu
Aku tak pernah memelihara uang atau pun pedang
Keduanya sama berbahaya

Jangan tanya apa aku punya waktu
Dalam terjagaku selama mimpi, kuabadikan rindu
Dalam mimpiku sepanjang jaga, kerinduanku abadi

Jangan tanya apa aku punya waktu
Aku tak rela Einstein terpingkal-pingkal di neraka
Biarkan aku tersesat di taman surga

Jangan tanya apa aku punya waktu
Aku tak pernah tahu mana kau punya

(Sang Dokterandes - Mei 2007)
»»  READMORE...

Menggigil di Satu Titik Pilu

by: Wahyu Munajat
.
hatiku menggigil disisi perapian
aku tak berdaya, saat hati ini meronta
meminta selimut pelindung malamku

satu garis cahaya api menembus sudut mata
sadarkan dari lamunan pekat & tatapan kosong
tapi hati ini tetap saja menggigil

sampai bara api menjadi abu
tetap saja ia tertegun tak berucap
menggigil disatu titik pilu
»»  READMORE...

Telaga Impian

by: Reca Ence Ar
.
Kembali ku lirik hari

Kubaca setiap jam bercerita, dan kuteliti detik-detik yang mengusik

Kucari makna dari setiap gerak dan kata

Apa yang harus kususun dan kutata

Kucoba berdiri didepan cermin hati, biar ku tahu biru putihnya diri

Ku usap telapak kaki, agar bisa memperkirakan mampunya langkah

Kutakar cawan perasaan, jangan sampai meluap menerima sikap

Kupagar rumah khayalan, biar keinginan tidak mengajak jalan-jalan ke negeri harapan

Kujernihkan larutan pikiran, agar tidak kuyup mengartikan tingkah

Walau sudah kupersiapkan….

Dari penyadaran sampai keharusan

Dari setiap kemungkinan hingga kemampuan

Sepertinya khayalku terlanjur hanyut

Karam di telaga impian

Begitu kuatkah siraman prilakumu

Hingga merembes tembus ke kekosongan makna

Pengaruh dirimukah yang begitu kuat hingga merubah haluan ilusi

Atau diriku sendiri yang lemah, hingga tak kuasa berkata tidak

Atau pula tuntutan jiwa yang menghendakinya

Mungkin ……..

Aku harus belajar kepada burung-burung, agar bisa terbang dan dapat melihat luas indahnya aneka warna alam

Aku harus belajar kepada ikan, biar bisa menyelami hingga ke dasar bumi dan kupelajari rahasia-rahasia yang tersembunyi

Aku harus belajar sama binatang malam, biar bisa berjalan di kegelapan

Aku harus belajar bernyanyi kepada burung pagi, agar bisa menghibur diri tatkala sepi

Dan

Aku mau belajar kepada siapa saja yang mau mengajariku tentang dunia, tentang hidup, tentang apa saja yang dapat membuat damai dalam kedamaian

Maukah ….?

Yaa Rabb ……

Aku berlindung kepada Mu dari hati yang karam

……

.

EAR Ciputat Jan’10
»»  READMORE...

Song for Him

by: Shä.lluvia (meisha)
.
i’m not really sure of the words to say

if only you knew that i feel this way

i wanna give my heart to you,

show me the way that you want me too…

i know for sure there’s a place for us

i’m counting the days till i feel your touch

you come to me when i dream at night

when i’m with you, it will be so right…

if you could see the love in my eyes,

you should know that i’m on your side

i’d be yours, you’d be mine….
»»  READMORE...

Doa dalam Sebuah Catatan Kecil

by: Shä.lluvia (meisha)
.
pertama kali bertemu kembali, aku tak ingat siapa dia

di tahun pertama setelah itu aku tahu siapa dia

di tahun kedua, aku ingat siapa namanya

di tahun ketiga, berteman dengannya di sebuah jejaring sosial dan bisa berkomunikasi dengannya meski melalui chatting

di tahun ke empat, aku berharap kami bisa saling mengenal lebih jauh

di tahun ke lima, aku berharap kami telah menjadi sepasang kekasih

dan di tahun ke enam, aku berharap dia telah menjadi pendamping hidupku

amiiinnn…..

*Jogja, 12.12.09
»»  READMORE...

Retak…

by: Ahmad Amrullah Sudiarto
.
Terima kasih

Telah memberiku kesempatan melihat keagungan-Mu

Semua bertasbih sujud pada-Mu

berjalan menuju keseimbangan

Menghempaskan keraguan yang ada

Meretakkan ego yang berdiri angkuh


karena…

Esok pagi matahari akan terbit

dengan kicauan burung-burung

dan sejuknya embun-embun…
»»  READMORE...

Siluet di Stasiun Jogya

by: George Soedarsono Esthu
.
angin masih terus bertiup menyapu jalanan
ranting-ranting kering bergemeretakan
hujan masih belum juga reda terus merintik

seperti tahun-tahun lalu
desember selalu saja basah

aku menunggu dalam kantuk dan sadar
di bangku peron aku semakin gelisah
udara terlalu pengap
sementara suara kereta yang mondar-mandir membuatku semakin sadar
telah beribu waktu aku menunggu

perjalanan masih akan panjang
melintasi berbagai rintangan
mungkin akan kutempuh sendirian
meski hanya berbekal kenangan
perjalanan terasa semakin sarat beban
mungkinkah aku masih bisa bertah
»»  READMORE...

Minggu, 18 Desember 2011

Wahai Hujan… Siapakah yang Akan Memeluk Hatiku, Ketika Ia Terjatuh

Sebuah cerpen

Pagi ini hujan turun, pukul 6 pagi, mendung mengayuti langit kota Jakarta. Hanya gumpalan awan abu – abu yang ku lihat. Di teras rumah aku menatap hujan yang turun secara perpelan, seperti salju ketika rintik hujan itu terkena lampu – lampu jalan. Mana Matahari ku? Apakah hari ini ia mengalah kepada hujan, apakah ia sembunyi di antara awan? Apakah ia yang menangis pagi ini? Atau langit yang bersedih? Entah mengapa hujan hari ini membuatku terdiam dan terhanyut merasakan begitu dinginnya angin dan air yang menerpa rambut dan keningku.

Aku suka dengan hujan, ia membuat semuanya berhenti. Tentang apa yang ada di pikiranku, hatiku, perasaanku, mimpi - mimpi dan harapanku, semuanya berhenti ketika hujan telah turun. Dan itu membuatku jiwa dan tubuhku ringan untuk beberapa saat dan melepaskan semua beban - beban yang ada, dan aku melepaskannya seperti awan yang melepaskan rintik – rintik hujan.

Terkadang hujan membuatku menangis, bukan karena aku bersedih, bukan juga karena kemalangan hidup, atau kesepian, atau … apalah. Aku pun tidak mengerti, ketika hujan turun aku seperti merasakan perasaan yang terdalam, seperti kerinduan … ya, seperti kerinduan dan aku begitu takut untuk mengakuinya tentang rindu itu.

Ketika hujan turun pernah beberapa kali aku berjalan tanpa pelindung di tubuhku, membiarkan air hujan membasahi sekujur tubuhku, aku seperti terhanyut dan terbawa “senandung” terdalam yang di bawakan hujan yang membasahi jiwaku, dan aku seperti orang “gila” yang berjalan terus walau hujan semakin deras, dan … aku menikmatinya.

Sudah beberapa hari ini hujan menahan langkahku, ia seolah datang ketika aku terlupa oleh apa yang ada di hati, jiwaku dan tujuan dalam hidupku. Ia datang dan mengatakan lagi kepadaku … apakah kau masih ingat denganku … sahabatmu … yang menemani dan mendengar setiap keluh kesah hatimu … aku hujan, sahabatmu.

Ya dia hujan, sahabatku, tempatku menulis di atas “hujan” yang mengalir deras, takut ketika ada yang membaca semua curahan hatiku … takut kalau ada yang mengetahui hatiku … takut kalau ia menjadi kelemahanku … takut kalau ada yang menyakitiku … takut kalau hujan …

Apakah selama ini ia (sahabatku hujan) nyata bagiku … apakah hujan itu adalah pikiran dan hatiku sebenarnya, atau hanya hayalan tingkat tinggiku … atau hujan adalah hujan yang membasahi tubuhku … hujan? … apakah kau nyata sahabatku? yang akan menjagaku? dan mendengarkan semua keluh kesahku? ku tatap langit pagi ini yang begitu kelabu, suara mengelegar terdengar mengejutkan hatiku. Sinarnya terang menyinari langit, aku terdiam melihat cahaya itu menari – nari di mataku.
Sebuah jas hujan ku kenakan, motor telah kunyalakan, kali ini aku paham apa kata hujan padaku. Menyusuri jalan pagi yang basah oleh hujan membuat hatiku begitu “dingin”, terngiang lagi kata – kata hujan padaku.

Ternyata ia tidak meninggalkanku dan terus menjagaku, kesibukan melalaikanku dan membuat aku yang “jauh” darinya. Tanpa ku sadari pipiku basah oleh air yang turun dari kelopak mataku, cepat – cepat ku usap dengan tanganku, takut hujan melihat kecengenganku, kelemahanku, kesedihanku dan kebimbangan dalam hidupku. Wahai (sahabat) hujan … siapakah yang akan memegang hatiku, ketika ia terjatuh.

Rintik – rintik hujan mulai berhenti, sinar matahari yang hangat dan terang terlihat jelas dari spion motorku dan mulai menghangati punggungku, harapan akan datang bersama sang fajar, dan Matahariku akan membawa sejuta harapan. Sekarang matahariku yang akan mengantikanmu, menjaga semangatku, selalu mengingatkanku, agar optimis menghadapi dunia di depanku.

Di kejauhan aku mendengar hujan berbisik pada mentari, wahai sahabat mentari, jaga ia selalu … terkadang ia begitu percaya diri, tapi juga begitu mudah patah hati. Mentari hanya tersenyum dan menatap ku.

…

Wahai (sahabat) hujan … siapakah yang akan memegang hatiku, ketika ia terjatuh …

Penulis: Arif "godate" Rahman Nasution
»»  READMORE...

Nasehat Ibu

Siang ini bapakku tak bisa menemani kami makan siang. Hanya kami berdua. Aku dan ibuku. Duduk di sehelai tikar dekat dapur di bagian belakang rumah. Sebuah ruangan yang aku rindukan. Yang hanya tujuh kali bisa aku lihat kembali sejak kepergianku sembilas belas tahun yang lalu. Dua orang temanku duduk di ruang sebelah. Teman yang menemaniku dalam perjalanan pulang kampung.

Anakku, ibu merasa sudah tak ada lagi yang harus aku nasihatkan kepadamu. Kau telah dewasa dan mapan menurut ibu. Kali ini ibu hanya titip pesan untukmu. Agar kau jaga kedua adikmu setelah ibu dan ayahmu berangkat menghadap yang maha kuasa.

Anakku, janganlah engkau tiru saudara-saudaramu yang lain. Baik dari pihak ibu maupun pihak bapakmu. Tentang harta yang mau tidak mau akan kami tinggalkan. Janganlah berebut atau saling iri hati. Bapakmu telah menimbang dengan ukurannya sendiri. Kau dan kedua adikmu ibu harap memahami. Kepada siapa kami memberi, kalian tak boleh membantahnya. Dengan begitu ibu dan bapak kalian akan merasa bahagia. Ya, hanya rasa itulah yang sebenarnya kami inginkan.

Anakku, engkau telah merasakan kerasnya kehidupan. Ibu tak pantas lagi beri nasihat seperti saat engkau masih di pangkuan. Saat engkau masih suka lari di pematang sawah dan jatuh ke lumpur. Masa itu sudah terlewat. Untuk dirimu, ibumu hanya bisa membayangkan dari sini bagaimana keadaanmu di sana. Tempat tinggalmu saat ini. Bersama istrimu dan kedua cucuku. Ibu tak bisa mendampingimu tiap saat. Tiap kali engkau meniti hidup hari demi hari. Hingga ibu tak tahu apa yang harus ibu nasihatkan kepadamu.

Anakku, rumah dan tanah ini janganlah dijual. Harta ini adalah perjuangan kami selama hidup. Akan kami jadikan simpanan kelak. Agar kami berdua bisa mendapatkan manfaatnya. Berikanlah kepada badan wakaf atau pesantren di desa seberang. Untuk itu kami berdua akan menikmati hasil selamanya.

Anakku, ibu takkan merasa lelah berdoa untukmu. Walau raga telah payah. Namun jiwa ibu akan selalu hidup untukmu. Untuk kedua adikmu. Untuk para cucu-cucuku. Do’a ibumu sepanjang hayat inilah yang bisa ibu lakukan. Ibu tak harapkan balasan. Karena rahmat selalu ibu dapatkan tiap saat. Bahkan bertambah saat kalian bertiga aku lahirkan dengan ikhlas.

Anakku, jagalah pesan dari bapakmu tiap saat engkau melangkahkan kaki. Ingatkan pula kedua adikmu. Pesan yang akan bermanfaat bagimu sendiri. Kemudian untuk keluargamu. Ingatlah, yang wajib engkau jaga hanyalah dirimu sendiri. Bukan orang lain. Bahkan keluargamu, darah dagingmu sendiri.


Anakku, setelah selesai engkau makan kali ini, temui bapakmu sebelum pamitan. Ada yang ingin bapakmu sampaikan. Simaklah baik-baik. Jangan membantah sekalipun. Bahkan mendesah jangan engkau lakukan.

Aku segera selesaikan makan dengan cepat. Seirama keinginanku segera menemui bapak. Di kamar. Di pembaringan. Ya, bapakku sudah tak kuasa gerakkan raga. Tak lagi bisa menjewerku lagi dengan tangannya yang keriput. Dalam batin aku ingin bisa tegar. Setegar gunung menjaga bumi.


Penulis:Hs Harjanto
Gunungkidul, enam mei duaribu sebelas.
»»  READMORE...