Tampilkan postingan dengan label Hikayat Bani Israil. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hikayat Bani Israil. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 11 Februari 2012

Bumi dengan Langit

Adapun terjadinya peristiwa Israk dan Mikraj adalah kerana bumi merasa bangga dengan langit.
Berkata dia kepada langit, “Hai langit, aku lebih baik dari kamu kerana Allah S.W.T. telah menghiaskan aku dengan berbagai-bagai negara, beberapa laut, sungai-sungai, tanam-tanaman, beberapa gunung dan lain-lain.”
Berkata langit, “Hai bumi, aku juga lebih elok dari kamu kerana matahari, bulan, bintang-bintang, beberapa falah, buruj, ‘arasy, kursi dan syurga ada padaku.”
What-a-Deal_
Berkata bumi, “Hai langit, ditempatku ada rumah yang dikunjungi dan untuk bertawaf para nabi, para utusan dan arwah para wali dan solihin (orang-orang yang baik).”
Bumi berkata lagi, “Hai langit, sesungguhnya pemimpin para nabi dan utusan bahkan sebagai penutup para nabi dan kekasih Allah seru sekalian alam, seutama-utamanya segala yang wujud serta kepadanya penghormatan yang paling sempurna itu tinggal di tempatku. Dan dia menjalankan syari’atnya juga di tempatku.”

Langit tidak dapat berkata apa-apa, apabila bumi berkata demikian. Langit mendiamkan diri dan dia mengadap Allah S.W.T dengan berkata, “Ya Allah, Engkau telah mengabulkan permintaan orang yang tertimpa bahaya, apabila mereka berdoa kepada Engkau. Aku tidak dapat menjawab soalan bumi, oleh itu aku minta kepada-Mu ya Allah supaya Muhammad Engkau dinaikkan kepadaku (langit) sehingga aku menjadi mulia dengan kebagusannya dan berbangga.”
Lalu Allah S.W.T mengabulkan permintaan langit, kemudian Allah S.W.T memberi wahyu kepada Jibrail A.S pada malam tanggal 27 Rejab, “Janganlah engkau (Jibrail) bertasbih pada malam ini dan engkau ‘Izrail jangan engkau mencabut nyawa pada malam ini.”
Jibrail A.S. bertanya, ” Ya Allah, apakah kiamat telah sampai?” Allah S.W.T berfirman, maksudnya, “Tidak, wahai Jibrail. Tetapi pergilah engkau ke Syurga dan ambillah buraq dan terus pergi kepada Muhammad dengan buraq itu.”
bintang
Kemudian Jibrail A.S. pun pergi dan dia melihat 40,000 buraq sedang bersenang-lenang di taman Syurga dan di wajah masing-masing terdapat nama Muhammad. Di antara 40,000 buraq itu, Jibrail A.S. terpandang pada seekor buraq yang sedang menangis bercucuran air matanya. Jibrail A.S. menghampiri buraq itu lalu bertanya, “Mengapa engkau menangis, ya buraq?” Berkata buraq, “Ya Jibrail, sesungguhnya aku telah mendengar nama Muhammad sejak 40 tahun, maka pemilik nama itu telah tertanam dalam hatiku dan aku sesudah itu menjadi rindu kepadanya dan aku tidak mahu makan dan minum lagi. Aku laksana dibakar oleh api kerinduan.”
Berkata Jibrail A.S., “Aku akan menyampaikan engkau kepada orang yang engkau rindukan itu.”
Kemudian Jibrail A.S. memakaikan pelana dan kekang kepada buraq itu dan membawanya kepada Nabi Muhammad S.A.W. Wallahu’alam. Buraq yang diceritakan inilah yang membawa Rasulullah S.A.W dalam perjalanan Israk dan Mikraj.

Sumber:http://jaipk.perak.gov.my& lillyarts.com
»»  READMORE...

Sabtu, 04 Februari 2012

Komunitas Muslim, dari Bani Israil

Kita sering salah kaprah, menganggap keturunan Nabi Yakub (Israil), hanyalah bangsa yang tinggal di daerah sekitar Palestina semata. Padahal melalui kajian sejarah dan genetika, diperoleh informasi bahwa Bani Israil, telah menyebar ke segala pelosok dunia. Dan sebagian dari mereka adalah pengikut ajaran Nabi Muhammad.

Sejarah Suku Israel sebelum kedatangan Nabi Isa
Bani Israil, adalah sebutan bagi keturunan Nabi Yakub bin Nabi Ishaq bin Nabi Ibrahim. Nabi Yakub memiliki 12 orang putera, yang kemudian menurunkan suku-suku Israil, yakni :
Ruben, Simeon, Lewi, Isakhar, Zebulon, Dan, Yusuf, Naftali, Gad, Asyer…
Dikenal sebagai 10 suku dari Kerajaan Israil Utara, dengan raja pertamanya Jerobeam (922 SM – 901 SM), dan raja terakhirnya Hosea (732 SM – 724 SM).
Yehuda, Benjamin…
Dikenal sebagai 2 suku dari Kerajaan Israil Selatan (Yerusalem), dengan raja pertamanya Rehobeam (922 SM – 915 SM), dan raja terakhirnya Zedekia (597 SM – 587 SM).
Pada tahun 722 SM, Kerajaan Asyria yg saat itu dipimpin oleh Raja Shalmanesar V menyerbu dan menaklukan kerajaan Israil Utara yg saat itu di pimpin oleh Raja Hosea (Raja terakhir Israil Utara). Oleh Raja Assyiria, ke-10 suku Israil (merupakan keturunan Nabi Yakub bin Nabi Ishaq), di tawan dan di bawa keluar tanah air mereka menuju Assyiria. Diceritakan dalam Kitab Nabi Edras bahwa 10 suku Israil ini melarikan diri dari syiria namun tidak menuju ke tanah air mereka namun bermigrasi ke timur jauh ke suatu negeri yg bernama Asareth (Nazara atau Azara).

Pada tahun 603 SM dominasi kekuatan Assyiria direbut oleh kerajaan Babylonia. Dan pada tahun 587 SM Yerusalem dihancurkan oleh raja Nebukadnezar. Dan seperti Raja Assyiria, Raja Nebukadnezar pun menawan dan membawa keluar 2 suku Israil yang ada di Yerusalem ke Babylonia, Media (Persia), dan Ghaur (kawasan pegunungan Afghanistan).

Dan pada periode 538 SM – 332 SM Kekuatan Babylonia direbut oleh Kerajaan Persia oleh Raja Cyrus dan pada era tersebut ke 2 suku Israil kembali menuju tanah air mereka di Yerusalem.

Dari fakta sejarah ini dapatlah kita ketahui bahwa hanya ada dua “domba” yang tinggal di kandang, sementara 10 “domba” Israil yg lain tersebar di negeri-negeri Timur sepanjang Syam (Syiria), Persia, Afghanistan, kasymir (Hindustan Utara), bahkan hingga Tibet (sumber : The Passion of Jesus as)


 
Beberapa bangsa di timur berpenduduk Muslim, yang terdapat jejak Bani Israil, antara lain :
1. Jejak Bani Israil di Asia Tengah
“The beginning of a Jewish settlement in the area around Bukhara may go back as far as the 7th century BCE when the Jews were exiled by the Assyrians(II Kings 17:6). It is to this date that the Bukharan Jews themselves trace their heritage…”
“Bukharan Jews have traditionally maintained that Bukhara is the Hador mentioned in the Bible (Second Kings 17:6) to which Assyria exiled the ten lost tribes of Israel during the seventh century B.C.E.”
“When Cyrus the Great, king of Persia, conquered the Babylonians in 538 B.C.E., he issued an edict allowing Jews in exile to go home to Jerusalem. Some did, but many elected to remain in Persia, a land which must have seemed more hospitable than the rocky, arid wasteland of Judaea.”
“The Book of Esdras (Apocypha) recount that a large number of Persian Jews migrated east around this time to a place called Asareth. Biblical scholars may not concur on the exact location of Asareth, but they do agree that the book of Edras was written between 150 and 50 B.C.E., about the same time as the book of Daniel.”
Jelas bahwa 10 suku Bani Israil setelah pengusiran dari tanah air mereka telah mengembara hingga Asia Tengah (Samarkand & Bukhara). Dan juga meneruskan perjalanan ke Timur menuju Persia, Afghanistan, bahkan sampai ke India dan Tibet. Meski kini mayoritas penduduk Samarkand dan Bukhara memeluk Islam, namun masih ada sekelompok minoritas penduduknya yang tetap memeluk agama Yahudi.
2. Jejak Bani Israil di Afghan
Beberapa fakta dari Kitab-kitab sejarah, arkeologi, dan anthropologi telah membuktikan dengan terang benderang bahwa bangsa-bangsa yg menempati kawasan negeri Afghanistan adalah berasal dari bani Israil, bahkan orang Afghan sendiri mengakui bahwa mereka ada Bene (Bani) Israil.
Dalam Kitab Tabqat e Nasri yg mencantumkan penaklukan Afghanistan oleh Jengis Khan, di dalamnya tertulis bahwa pada zaman Dinasti Syabnisi, di sana tinggal suatu kaum yg disebut Bani Israil, sebagian dari mereka adalah Saudagar. Orang-orang ini pada tahun 622 M (pada zaman Rasulullah saw) menetap di kawasan Herat. Sahabat Khalid ibn Walid r.a. datang menemui mereka dan menyeru mereka kepada Islam. Lima atau enam kepala suku mereka ikut serta dengan Khalid menemui Rasulullah saw, diantar kepala suku tersebut adalah Qes (Kish/Kisy). Orang-orang ini akhirnya menerima Islam dan ikut bertempur bersama Rasulullah saw. Rasulullah memberi nama baru kepada Qes yaitu Abdul Rasyid dan memberikan nama julukan dengan nama dari Ibrani yaitu Pathan.
 Dalam Kitab Majma’ul Ansab, Mullah Khuda Dad menulis, Bahwa Putra sulung Yakub adalah Yehuda, putra Yehuda adalah Usrak, putra Usrak adalah Aknur, Puta Aknur adalah Ma’alib, putra Ma’alib adalah Farlai, putra Farlai adalah Qes, putra Qes adalah Thalut, putra Thalut adalah Armea, dan putra Armea adalah Afghan dan anak keturunannya adalah bangsa Afghan. Afghan hidup sezaman dengan Nebukadnezar. Generasi ketururunan ke 34 dari Afghan barulah lahir Qes yg hidup sezaman dengan Rasulullah saw yg kemudian memeluk Islam. (Termuat dalam buku A Nature of a Visit to Ghazni, Kabul, and Afghanistan, by G.T. Vigne – 1840).

Dalam buku Histrory of Afganistan oleh L.P. Ferrier yg diterjemahkan oleh Capt. W.M. Jasse, terbitan London 1858. Tertulis sebuah riwayat bahwa tatkala Nadir Syah tiba di Peshawar untuk menaklukan Hindustan, maka para tokoh suku Yusuf Zai mempersembahkan kepadanya sebuah Bibel yg bertuliskan bahasa Ibrani dan juga beberapa barang perabotan dari suku mereka yg dipergunakan untuk menjalankan ritual agama kuno mereka. Ikut dalam perkemahan Nadir Syah beberapa orang Yahudi, manakala Nadir Syah memperlihatkan barang-barang tersebut kepada orang Yahudi maka seketika itu pula mereka mengenali barang-barang tersebut sebagai barang-barang orang Yahudi.
Suku – suku Bani Israil di Afghanistan saat ini telah memeluk agama Islam, namun mereka menganggap diri mereka sebagai bani Israil (keturunan Israil) dari anak keturunan Kish, keturunan Raja Saul.
Beberapa Tradisi Bangsa Pathan yg sama dengan tradisi Israil seperti menyunat anak usia 8 hari, berpakaian model Tizzit, menyalakan lilin pada jum’at malam, bangsa pria pasthun bertradisi menikahi janda kakak ipar yg belum memiliki anak (sama seperti Israil – ulangan 25: 5-6)
.
3. Jejak Bani Israil di Kasymir (India Utara)
Kashmir terletak di India Utara dan Barat Nepal. Meski demikian penampilan fisik mereka berbeda dengan orang India pada umumnya. Orang Kashmir pun mengnggap diri mereka sebagai Bene Israil (keturunan Israil). Daerah-daerah di Kashmir pun dinamakan sama dan mirip dengan daerah-daerah di tanah air mereka di Israil.
Dr. Bernier dalam bukunya Travel in The Moghul Empire menulis : “Yakni, tidak diragukan lagi bahwa orang-orang Kashmir adalah Bani Israil. Dan pakaian mereka, wajah mereka, serta beberapa tradisi mereka secara telak menyatakan bahwa mereka berasal dari rumpun keluarga Bani Israil.
Dalam buku Dictionary of Geography oleh A.K. Johnston, pada halaman 250, tentang kata Kashimiri tertulis : “Penduduknya berpostur tinggi, kekar, gagah. Dan kaum wanitanya manis, cantik, berhidung bengkok, rupa dan penampilan mereka betul-betul menyerupai orang-orang Yahudi (Tidak menyerupai bahwa Hindustan pada umumnya).
Orang Kashmir gemar sekali kepada nama-nama yg ada hubungannya dengan Palestina. Misalnya Musachail (Partai Musa), Tachte Sulaiman (Kerajaan Sulaiman), Yusuf Zei (kerabat Yusuf) dan lainnya. (sumber)

»»  READMORE...

Pengembaraan Yesus (Nabi Isa), dalam berbagai Versi

Nabi Isa adalah Nabi Pengembara, sebagaimana diceritakan di dalam beberapa hadits, antara lain:
Dalam Kitab Hadits Kanzul Ummal diriwayatkan oleh Abu Hurairah:
“Allah telah mewahyukan kepada Nabi Isa a.s. : “Wahai Isa, berpindah-pindahlah engkau dari satu tempat ke tempat lain, supaya jangan ada yg mengenali engkau lalu menyiksamu”.
Diriwayatkan oleh Jabar : Nabi Isa a.s. senantiasa mengembara dari satu negeri ke negeri lain. Dan disuatu tempat bila malam tiba, beliau memakan beberapa tumbuhan hutan, serta meminum air bersih”.
Diriwayatkan oleh Abdullah ibn Umar r.a.: “Yang paling dicintai oleh Allah adalah orang-orang yg gharib (miskin)”. Ditanyakan kepada beliau (saw) apakah gharib itu? Apakah orang-orang seperti Nabi Isa a.s. yang melarikan diri dari negerinya dengan membawa Iman?
Gelar Al Masih sendiri artinya adalah : Dia yg melakukan pengembaraan di negeri-negeri dan bagian-bagian dunia (Murthada Az Zabidi, Tajul ‘Uruus Jilid II). Dia yg banyak melakukan perjalanan di muka bumi dalam rangka penghambaan kepada Allah dan tidak berdomisili di satu tempat saja (Muhammad bin Ahmad al Qurthubi).
Mengenai negeri mana saja yang beliau kunjungi, dan kapan terjadinya peristiwa pengembaraan itu, ada beberapa pendapat di antaranya:

(1). Beliau selain berdakwah di Palestina, beliau juga mengembara di sekitar daerah Syam, Mesir, menyelusuri pantai dan lain-lain.
(2). Beliau akan mengembara di permukaan bumi, di saat beliau datang ke dunia ini, untuk yang kedua kalinya. Pendapat ini, didukung oleh mereka yang percaya bahwa Nabi Isa, sesungguhnya masih hidup, beliau saat ini dalam kondisi tertidur di suatu tempat.
(3). Beliau mengembara sampai ke tanah India, kemudian ke tibet, bahkan sampai ke Persia. Hal ini terjadi ketika beliau, berusia sekitar 13 tahun – 29 tahun, yang dalam istilah ahli sejarah, sebagai masa ”The lost years of Jesus Christus”.
Dalam bukunya “The Unknown Life Of Jesus Christ” yang terbit tahun 1894, wartawan Rusia Nicolas Notovich menjelaskan bahwa selama masa hilang itu Jesus (Nabi Isa) tinggal di India dan kemudian di Tibet. Fakta ini diketahui dari naskah-naskah kuno yang dia temukan tahun 1882 di biara Himis, 25 mil dari Leh, ibu kota Ladakh di Tibet. Dikatakan bahwa naskah-naskah kuno itu berasal dari India dalam bahasa Sanskerta, lalu diterjemah kan kedalam bahasa Pali dan selanjutnya ke bahasa Tibet.
Dalam bukunya “In Kashmir And Tibet”, Svami Abhedananda membenarkan temuan Notovich ketika dia mengunjungi Tibet tahun 1922. Dia datang langsung ke Leh di Tibet dan mendapat penjelasan dari para Lama  yang memperlihatkan naskah-naskah kuno dalam bahasa Tibet tentang keberadaan Jesus (Nabi Isa) di India dan Tibet dimasa lalu.
(4). Beliau mengembara ke Taxila (Pakistan), kemudian ke Kashmir (India). Kisah pengembaraan ini dimulai, ketika beliau selamat, dari upaya pembunuhan (penyaliban).
Pendapat ini, diyakini oleh sebagian orang yang percaya, bahwa Nabi Isa sesungguhnya telah wafat dan tidak mungkin lagi kembali ke dunia ini (Mengenai adanya pendapat, berkenaan dengan telah wafatnya Nabi Isa, bisa dibaca di dalam artikel Wafatnya Nabi Isa, menurut Buya HAMKA).
Mengenai bagaimana Nabi Isa wafat, ada berbagai versi. Salah satunya adalah, sebelum wafat Nabi Isa bersama ibunya mengungsi keluar dari Palestina, beliau tidak naik ke langit melainkan pergi keluar negerinya sendiri karena diselamatkan Allah. Belaiu dan ibunya ke satu tempat yang tinggi (QS. Al-Mukminum (23) : 50).
Pernyataan Al Quran bahwa Nabi Isa diungsikan ke tempat yang tinggi, ada pendapat yang menyatakan daerah tersebut adalah Kashmir di India. Sebab dikatakan lebih lanjut bahwa “tempat tinggi” itu aman, indah dan memiliki banyak mata air. Ini cocok sekali dengan suasana alam Kashmir yang bergunung-gunung dengan pemandangan damai nan indah dan mata air melimpah.
Dalam buku “Acts Of Thomas” diceritakan tentang perjalanan Jesus beserta Thomas di Pakistan (yang pada waktu itu bernama Taxila) dan berkunjung ke istana Raja Gandapura (=Gundafor).
Kira-kira 40 km selatan Srinagar terdapat dataran rendah nan luas yang disebut Yuz-marg, konon disini beberapa suku Israel bermukim. Mereka hidup sebagai gembala/peternak yang sampai saat ini menjadi mata pencaharian penduduk di daerah itu (Mengenai keberadaan Bani Israil di negeri timur, bisa dilihat pada : Komunitas Muslim, dari Bani Israil).
Kira-kira 170 km barat kota Srinagar ada kota kecil bernama Mari. Di kota kecil ini terdapat makam tua yang disebut “Mai Mari Da Asthan”, yang dipercaya sebagai tempat peristirahatan terakhir bunda Maria (Maryam binti Imran).
Di bagian wilayah tua pusat kota Srinagar yaitu Distrik Khanyar terdapat prasasti yang menceritakan kedatangan Nabi Isa (Jesus) di Kashmir. Menurut Prof. Fida Hassnain, pakar arkeologi dan sejarah Kashmir, peristiwa itu terjadi pada sekitar tahun 3154 Era Laukika atau tahun 78M (Sumber : Sepuluh Suku Israil yang Hilang). sumber

»»  READMORE...

Misteri Silsilah Yesus (Nabi Isa)

Banyak yang salah memahami, silsilah Yesus (Nabi Isa) di dalam Bible…
Silsilah yang terdapat di dalam Matius 1:1-16 dan Lukas 3:23-38, lebih tepat disebut silsilahnya Yusuf bin Yakub (Matius 1:16) atau Yusuf bin Eli (Lukas 3:23)…
Dan Yusuf sendiri, bukanlah bapak biologis dari Yesus (Nabi Isa), ia hanyalah bapak menurut anggapan orang (Lukas 3:23). 
Lalu… bagaimanakah nasab Yesus (Nabi Isa) yang sesungguhnya?
 
Isa putera Maryam
Di dalam Al Qur’an, Yesus (Nabi Isa) disebut sebagai ibnu Maryam (putera Maryam), sebagaimana Firman Allah di dalam QS.Maryam (19) ayat 34…
”Itulah Isa putera Maryam, (yang mengatakan) perkataan yang benar, yang mereka ragukan kebenarannya”
Baik kalangan Islam maupun Kristen, berpendapat bahwa Maria (Maryam) adalah Keturunan Nabi Harun…

Dari kalangan Islam…
 Menurut Ali bin Abi Thalhah dan As-Suddy bahwa Maryam termasuk anak keturunan Harun saudara Musa as. lalu dijadikan panggilan untuknya (يَا أُخْتَ هَارُونَ), sebagaimana orang-orang Arab sering memanggil untuk keturunan At-Tamimy: (يا أخا تميم) dan untuk orang-orang keturunan Arab (يا أخا العرب).
Sementara kalangan Kristen, didasarkan kepada keterangan Bible:
Dimana Maryam diceritakan sebagai kerabatnya Elisabet, isteri Nabi Zakaria…

Lukas 1:36 Dan sesungguhnya, Elisabet, sanakmu itu, iapun sedang mengandung seorang anak laki-laki pada hari tuanya dan inilah bulan yang keenam bagi dia, yang disebut mandul itu
dan Elisabet sendiri di informasikan sebagai keturunan Nabi Harun…
Lukas 1:5. Pada zaman Herodes, raja Yudea, adalah seorang imam yang bernama Zakharia dari rombongan Abia. Isterinya juga berasal dari keturunan Harun, namanya Elisabet.


Bersumber dari beberapa situs genealogy, di dapat silsilah Yesus (Nabi Isa) sebagai berikut…
Yesus (Nabi Isa) bin Maryam binti Imran adalah keturunan John Hyrcanus I bin Simon Maccabaeus bin Mattathias bin (son of John) bin John bin Simeon bin Hasmonaeus bin (son of Onias II) bin Onias II bin Simon ‘the Just’ bin Onias I bin Juddual bin Johanan bin Joiadah bin Eliashib bin Joachim bin Joshuah bin Josedech bin Seraiah bin Azariah bin Hilkial bin Azariah bin Zadok (II) bin Meraioth bin Ahitub (II) bin Amariah bin Azariah bin Johanon bin Azariah bin Ahimaaz bin Zadok bin Ahitub bin Amariah bin Meraioth bin Zerahiah bin Uzzi bin Bukki bin Abishuah bin Phineas bin Eleazar bin Nabi Harun bin Imran bin Quhas bin Lewi bin Nabi Yakub bin Nabi Ishaq bin Nabi Ibrahim.

Isa bin Maryam binti Imran juga merupakan keturunan dari Nabi Daud, yakni melalui ibu Azariah (isteri Ahimaaz bin Zadok bin Ahitub), yang bernama Besonea binti Nabi Sulaiman bin Nabi Daud bin Jesse bin Obed bin Boaz bin Salmon bin Nahshon bin Aminadab bin Ram bin Hezron bin Perez bin Judah bin Nabi Yakub bin Nabi Ishaq bin Nabi Ibrahim. sumber

»»  READMORE...

Wafatnya Nabi Isa, menurut Buya HAMKA

Ketika menafsirkan QS. Ali Imron (3) ayat 55, buya HAMKA didalam Tafsir Al Azhar, menulis:

إِذْ قالَ اللهُ يا عيسى‏ إِنِّي مُتَوَفِّيكَ وَ رافِعُكَ إِلَيَّ وَ مُطَهِّرُكَ مِنَ الَّذينَ كَفَرُوا

“(Ingatlah) tatkala Allah berkata: Wahai lsa,sesungguhnya Aku akan mewafatkan engkau dan mengangkat engkau kepadaKu, dan membersihkan engkau dari orang-orang yang kafir ” (pangkal ayat 55).
Artinya yang tepat dari ayat ini ialah bahwa maksud orang-orang kafir itu hendak menjadikan Isa Almasih mati dihukum bunuh, seperti yang dikenal yaitu dipalangkan dengan kayu, tidaklah akan berhasil.
Tetapi Nabi Isa Almasih akan wafat dengan sewajarnya dan sesudah beliau wafat, beliau akan diangkat Tuhan ke tempat yang mulia di sisiNya, dan bersihlah diri beliau dari gangguan orang yang kafir-kafir itu.

Kata mutawwafika telah kita artikan menurut logatnya yang terpakai arti asal itu diambillah arti mematikan, sehingga wafat berarti mati, mewafatkan ialah mematikan. Apatah lagi bertambah kuat arti wafat ialah mati, mewafatkan ialah mematikan itu karena banyaknya bertemu dalam al-Qur’an ayat-ayat, yang disana disebutkan tawaffa, tawaffahumul-malaikatu, yang semuanya itu bukan menurut arti asal yaitu mengambil sempurna ambil, melainkan berati mati. Sehingga sampai kepada pemakaian bahasa yang umum jarang sekali diartikan wafat dengan ambil, tetapi pada umumnya diartikan mati juga.

Maka dari itu arti yang lebih dahulu dapat langsung difahamkan, apabila kita membaca ayat ini ialah: “Wahai Isa, Aku akan mematikan engkau dan mengangkat engkau kepadaKu dan membersihkan engkau daripada tipudaya orang yang kafir.”


 
Pendapat Pendukung
A. Al-Alusi
Di dalam tafsirnya yang terkenal Ruhul Ma’ani, setelah memberikan keterangan beberapa pendapat tentang arti mutawwafika, akhirnya menyatakan pendapatnya sendiri bahwa artinya telah mematikan engkau, yaitu menyempurnakan ajal engkau (mustaufi ajalika) dan mematikan engkau menurut jalan biasa, tidak sampai dapat dikuasai oleh musuh yang hendak membunuh engkau.

Dan beliau menjelaskan lagi bahwa arti warafi’uka ilayya, dan mengangkat engkau kepadaKu , telah mengangkat derajat beliau , memuliakan beliau, mendudukkan beliau, di tempat yang tinggi, yaitu roh beliau sesudah mati. Bukan mengangkat badannya.

Lalu al-Alusi mengemukakan beberapa kata rafa’a yang berarti “angkat” itu terdapat pula dalam beberapa ayat dalam al-Qur’an yang tiada lain artinya daripada mengangkat kemuliaan rohani sesudah meninggal.

B. Syaikh Muhammad Abduh
Beliau menerangkan tentang tafsir ayat ini demikian:
Ulama di dalam menafsirkan ayat ini menempuh dua jalan. Yang pertama dan yang masyhur ialah bahwa dia diangkat Allah dengan tubuhnya dalam keadaan hidup, dan nanti dia akan turun kembali di akhir zaman dan menghukum di antara manusia dengan syariat kita. Dan kata beliau seterusnya: ” …….Dan jalan penafsiran yang kedua ialah memahamkan ayat menurut asli yang tertulis, mengambil arti tawaffa dengan maknanya yang nyata, yaitu mati seperti biasa, dan rafa’a (angkat), ialah rohnya diangkat sesudah beliau mati.

Dan kata beliau pula: ” Golongan yang mengambil tafsir cara yang kedua ini terhadap hadits-hadits yang menyatakan Nabi Isa telah naik ke langit dan akan turun kembali, mereka mengeluarkan dua kesimpulan (takhrij).

Kesimpulan pertama: Hadits-hadits itu ialah hadits-hadits ahad yang bersangkut-paut dengan soal i’tikad (kepercayaan) sedang soal-soal yang bersangkutan dengan kepercayaan tidaklah dapat diambil kalau tidak qath’i (tegas). Padahal dalam perkara ini tidak ada sama sekali hadits yang mutawatir.”

Kemudian beliau terangkan pula takhrij golongan kedua ini tentang nuzul Isa (akan turun Nabi Isa di akhir zaman) itu. Menurut golongan ini kata beliau turunnya Isa bukanlah turun tubuhnya, tetapi akan datang masanya pengajaran Isa yang asli , bahwa intisari pelajaran beliau yang penuh rahmat, cinta dan damai dan mengambil maksud pokok dari syariat, bukan hanya semata-mata menang kulit, yang sangat beliau cela pada perbuatan kaum Yahudi seketika beliau datang dahulu, akan bangkit kembali.” Demikianlah keterangan Syaikh Muhammad Abduh. (Tafsiral-Manar, jilid III, 317, cet. ke 3.)

C. Sayid Rasyid Ridha
Beliau pernah menjawab pertanyaan dari Tunisia. Bunyi pertanyaan: “Bagaimana keadaan Nabi Isa sekarang? Di mana tubuh dan nyawanya? Bagaimana pendapat tuan tentang ayat inni mutawwaffika wa rafi’uka ? Kalau memang dia sekarang masih hidup, seperti di dunia ini, dari mana dia mendapat makanan yang amat diperlukan bagi tubuh jasmani haiwani itu ? Sebagaimana yang telah menjadi Sunnatullah atas makhlukNya ? “
Sayid Rasyid Ridha, sesudah menguraikan pendapat- pendapat ahli tafsir tentang ayat yang ditanyakan ini, mengambil kesimpulan: “Jumlah kata, tidaklah ada nash yang sharih (tegas) di dalam al-Qur’an bahwa Nabi Isa telah diangkat dengan tubuh dan nyawa ke langit dan hidup di sana seperti di dunia ini, sehingga perlu menurut sunnatullah tentang makan dan minum, sehingga menimbulkan pertanyaan tentang makan beliau sehari-hari.

Dan tidak pula ada nash yang sharih menyatakan beliau akan turun dari langit. Itu hanyalah akidah dari kebanyakan orang Nasrani, sedang mereka itu telah berusaha sejak lahirnya Islam menyebarkan kepercayaan ini dalam kalangan kaum Muslimin.”
Lalu beliau teruskan lagi: “Masalah ini adalah masalah khilafiyah sampaipun tentang masih diangkat ke langit dengan roh dan badannya itu.”

D. Syaikh Mustafa al-Maraghi
Beliau adalah Syaikh Jami al-Azhar yang terkenal sebelum Perang Dunia ke-2, menjawab pertanyaan orang tentang ayat ini: “Tidak ada dalam al-Qur’an suatu nash yang sharih dan putus tentang Isa as. diangkat ke langit dengan tubuh dan nyawanya itu, dan bahwa dia sampai sekarang masih hidup, dengan tubuh nyawanya.
Adapun sabda Tuhan mengatakan: “Aku akan mewafatkan engkau dan mengangkat engkau kepadaKu dan membersihkan engkau daripada orang-orang yang kafir itu!” Jelaslah bahwa Allah mewafatkannya dan mematikannya dan mengangkatnya, zahirlah (nyata) dengan diangkatnya sesudah wafat itu, yaitu diangkat derajatnya di sisi Allah, sebagaimana Idris as. dikatakan Tuhan: “dan Kami angkatkan dia ke tempat yang tinggi.” Dan inipun jelas pula, yang jadi pendapat setengah ulama-ulama Muslimin, bahwa beliau diwafatkan Allah, wafat yang biasa, kemudian diangkatkan derajatnya. Maka diapun hiduplah dalam kehidupan rohani, sebagaimana hidupnya orang-orang yang mati syahid dan kehidupan Nabi-nabi yang lain juga.

Tetapi jumhur Ulama menafsirkan bahwa beliau diangkat Allah dengan tubuh dan nyawanya, sehingga dia sekarang ini hidup dengan tubuh dan nyawa, karena berpegang kepada hadits yang memperkatakan ini, lalu mereka tafsirkan al-Qur’an disejalankan dengan maksud hadits-hadits itu.

Lalu kata beliau: “Tetapi hadits-hadits ini tidaklah sampai kepada derajat hadits-hadits yang mutawatir, yang wajib diterima sebagai akidah. Sebab akidah tidaklah wajib melainkan dengan nash al-Qur’an dan hadits-hadits yang mutawatir. Oleh karena itu maka tidaklah wajib seorang Muslim beri’tikad bahwa Isa Almasih hidup sekarang dengan tubuh dan nyawanya, dan orang yang menjalani akidah itu tidaklah kafir dari Syariat Islam.”
»»  READMORE...

Kisah Mazmur, Raja Daud dan Makkah

Baka adalah salah satu nama di dalam Bible (Mazmur 84), yang paling sering jadi perdebatan. Ada yang beranggapan Baka adalah Lembah Biqa di Lebanon, namun ada juga yang percaya Baka itu adalah Bakkah (Makkah), sebagaimana terdapat di dalam QS. Ali ‘Imran (3) ayat 96.
Untuk lebih jelasnya, mari kita perhatikan, Mazmur Pasal 84, ayat 1-7, berikut:
1. Untuk pemimpin biduan. Menurut lagu: Gitit. Mazmur bani Korah.
2. Betapa disenangi tempat kediaman-Mu, ya Tuhan semesta alam!
3. Jiwaku hancur karena merindukan pelataran-pelataran Tuhan; hatiku dan dagingku bersorak-sorai kepada Allah yang hidup.
4. Bahkan burung pipit telah mendapat sebuah rumah, dan burung layang-layang sebuah sarang, tempat menaruh anak-anaknya, pada mezbah-mezbah-Mu, ya Tuhan semesta alam, ya Rajaku dan Allahku!
5. Berbahagialah orang-orang yang diam di rumah-Mu, yang terus-menerus memuji-muji Engkau. Sela
6. Berbahagialah manusia yang kekuatannya di dalam Engkau, yang berhasrat mengadakan ziarah!
7. Apabila melintasi lembah Baka, membuatnya menjadi tempat yang bermata air; bahkan hujan pada awal musim menyelubunginya dengan berkat.

Analisa Mazmur 84:

1. Yang dibicarakan didalam Mazmur 84, adalah sebuah tempat ziarah bagi umat manusia, sebagaimana tertulis:
“Berbahagialah orang-orang yang diam di rumah-Mu, yang terus-menerus memuji-muji Engkau. Sela. Berbahagialah manusia yang kekuatannya di dalam Engkau, yang berhasrat mengadakan ziarah!” (Mazmur 84:5-6)
Dengan demikian kata Baka, lebih tepat dipersamakan dengan Bakkah (Makkah) yang merupakan tempat ziarah. Sementara Lembah Biqa di Lebanon, sampai detik ini belum kita dengar pernah menjadi tempat ziarah, yang didatangi oleh umat manusia, dari segenap penjuru dunia.

2. Dalam kitab Mazmur 84:3, Raja Daud merasa jiwanya terasa jauh karena merindukan pelataran Tuhan. Berikut ini adalah kalimat puitisnya :
“My soul longeth, yea, even fainteth for the courts of the LORD: my heart and my flesh crieth out for the living God.” (Teks KJV Bible)
(Jiwaku hancur, yea, karena merindukan pelataran-pelataran Tuhan; hatiku dan dagingku bersorak-sorai kepada Allah yang hidup.)
Raja Daud mengatakan hal tersebut di Yerusalem. Nampak dalam perkataannya bahwa ia sangat merindukan untuk pergi ke bait Allah di Baka/Bakkah/Makkah, daerah yang jauh dari Yerusalem.
Jadi bukan Lembah Biqa, yang jaraknya tidak terlalu jauh dari Yerusalem.
3. The Jewish Encylopedia menyatakan bahwa Baka dalam Mazmur 84 adalah daerah tandus yang kekurangan air dibandingkan lembah-lembah yang lain.
Dalam bahasa Ibrani, Baka artinya lembah menangis (crying valley atau valley of weeping) dan pohon kertau/pohon balsam (balsam tree).
Kota suci Makkah (Mekah) pada mulanya bernama Baka atau Bakkah. Dalam bahasa Arab, kata baka mempunyai dua arti, “berderai air mata” dan “pohon balsam“.
Arti yang pertama berhubungan dengan gersangnya daerah itu sehingga seakan-akan tidak memberikan harapan, dan arti yang kedua berhubungan dengan banyaknya pohon balsam (genus commiphora) yang tumbuh di sana.
Karena kota Mekah sangat gersang, orang-orang Quraisy penghuni kota itu tidak mungkin hidup dari sektor agraris (pertanian), melainkan harus mengembangkan sektor bisnis (perdagangan).
Dibandingkan suku-suku lain di Semenanjung Arabia, suku Quraisy memiliki watak istimewa, tahan segala cuaca! Mereka memiliki tradisi (ilaf) gemar mengembara baik di musim dingin maupun di musim panas untuk berniaga.” (Sumber : answering-ff.org )
Sementara Lembah Biqa di Lebanon sendiri bisa dikatakan cukup air dan tidak segersang Arabia.
4. Dalam Bahasa Ibrani: Baka’ adalah turunan dari kata Bakah
Baka’ adalah turunan dari kata Bakah (lihat Nomor Strong 01056 dan 01058).
No. Strong: 01058
Kata : bakah, Pengucapan: baw-kaw’
Asal Kata : a primitive root <— Artinya sebuah akar kata!!
Sumber : TWOT-243, Jenis : v
Definisi Inggris:
1) to weep, bewail, cry, shed tears
1a) (Qal)
1a1) to weep (in grief, humiliation, or joy)
1a2) to weep bitterly (with cognate acc.)
1a3) to weep upon (embrace and weep)
1a4) to bewail
1b) (Piel) participle
1b1) lamenting
1b2) bewailing
Kesimpulannya:
- “Baka” adalah turunan dari akar kata “Bakah“.
- Al-Qur’an menyebut lembah Bakkah.
- Jadi Baka atau Bakah (dalam bahasa Ibrani) dibandingkan Bakkah (dalam al-Qur’an) terdapat kemiripan dari segi linguistik.
- Oleh karena huruf mim dan ba sama-sama huruf bilabial (bibir), nama Bakkah lama-kelamaan berubah menjadi Makkah.
“Sesungguhnya Bait yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah (Bait Allah) yang di Bakkah (Makkah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi seluruh alam” (QS Ali ‘Imran (3) ayat 96). sumber

»»  READMORE...

ISA lebih historis, daripada YESUS

Nama Putera Tunggal dari Bunda Maria (Maryam binti Imran), dikalangan umat Muslim dikenal sebagai Isa, sementara di kalangan umat Kristen mengenalnya dengan nama Yesus.

Dari sisi Makna
Munculnya Yesus (Nabi Isa), tidak lepas dari nubuat di dalam Bilangan 24:17, yaitu:
אֶרְאֶנּוּ וְלֹא עַתָּה אֲשׁוּרֶנּוּ וְלֹא קָרוֺב דָּרַךְ כּוֺכָב מִיַּעֲקֹב וְקָם שֵׁבֶט מִיִּשְׂרָאֵל וּמָחַץ פַּאֲתֵי מוֺאָב וְקַרְקַר כָּל-בְּנֵי-שֵׁת:
Translit Interlinear, ERWNU {aku melihat}VELO{tetapi bukan} ATA{sekarang} ASHURANU{aku memandang dia} VELO KAROV{tetapi bukan dari dekat} DARAKHH KOKHAV{bintang terbit}MIYAAKOV {dari yakub}VEKAM SHEVET{tongkat kerajaan} MIYISRAEL{dari israel}…
I shall see him, but not now: I shall behold him, but not nigh: there shall come a Star out of Jacob, and a Sceptre shall rise out of Israel…”
“Aku melihat dia, tetapi bukan sekarang; aku memandang dia, tetapi bukan dari dekat; bintang terbit dari Yakub, tongkat kerajaan timbul dari Israel”
Dan ayat ini, berhubungan dengan, ayat di dalam Matius 2:2 :
“Saying, Where is he that is born King of the Jews? for we have seen his star in the east, and are come to worship him.”
“dan bertanya-tanya: “Di manakah Dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia.”
Pasal 2 Matthew merinci tentang tiga orang Majus yang mengikuti Bintang Utara dalam pencarian Mesias Yahudi. Dan ini adalah tanda Mesias yang paling terkenal (Sumber : Star of Messiah).
Akar kata Ibrani, yang bermakna “Bintang Utara” adalah ‘Ish, yang sepadan dengan akar kata Arab, yakni ‘Assa, yang merupakan asal dari kata ‘Isa.
Dengan demikian, dari sudut makna, kata ‘Isa jauh lebih sesuai daripada kata Yesus, yang tidak memiliki makna nubuat sama sekali.
Dari sudut pelafalan
Yesus (Nabi Isa) dibesarkan pada sebuah bangsa, yang menggunakan bahasa Aram. Bahasa Aram berkembang menjadi satu varian yang disebut bahasa Syriac, yang kemuadian tersebar luas di kalangan umat kristen, yang selanjutnya disebut “Christian Aramaic“.
Di dalam bahasa Syriac, nama Yesus (Nabi Isa) disebut sebagai “Eesho M’sheekha”, bermakna ‘Isa sang Mesias. Istilah “Essho M’sheekha” adalah yang paling mendekati bahasa seharian Yesus (Nabi Isa).
“Eesho” (dibaca : ‘Isyo), oleh penduduk Yahudi Palestina Utara mengucapkannya dengan “Essaa” (dibaca : iisa), hal ini dikarenakan huruf “Shin” mereka lafalkan dengan “Sin”.
Hal ini bermakna, kata ‘Isa berasal dari kata Essho (dibaca : ‘Isyo), dalam bahasa Aram (yang merupakan bahasa keseharian Yesus / Nabi Isa), dan oleh penduduk Yahudi Palestina Utara, dilafalkan menjadi Essaa (dibaca : iisa).
Dengan demikian, nama ‘Isa (nama dalam Al Qur’an), jika didasarkan kepada faktor historis, jauh lebih tepat dipergunakan, daripada nama Yesus, yang berasal dari bahasa Ibrani “Yeshua”, yang kemudian dalam Arabic Bible menjadi “Yasua” (Sumber : Keakuratan Nama Isa dalam Qur’an).
Kata ‘Isa baik dipandang dari sudut makna (berarti bintang utara = ‘Assa (Arab) = Ish (Ibrani)), maupun dari sudut pelafalan (berasal dari lafal Essaa atau iisa), terbukti sangat akurat bagi nama, Sang Mesias, ‘Isa ibnu Maryam binti Imran (sumber)

»»  READMORE...