Minggu, 18 Desember 2011

Wahai Hujan… Siapakah yang Akan Memeluk Hatiku, Ketika Ia Terjatuh

Sebuah cerpen

Pagi ini hujan turun, pukul 6 pagi, mendung mengayuti langit kota Jakarta. Hanya gumpalan awan abu – abu yang ku lihat. Di teras rumah aku menatap hujan yang turun secara perpelan, seperti salju ketika rintik hujan itu terkena lampu – lampu jalan. Mana Matahari ku? Apakah hari ini ia mengalah kepada hujan, apakah ia sembunyi di antara awan? Apakah ia yang menangis pagi ini? Atau langit yang bersedih? Entah mengapa hujan hari ini membuatku terdiam dan terhanyut merasakan begitu dinginnya angin dan air yang menerpa rambut dan keningku.

Aku suka dengan hujan, ia membuat semuanya berhenti. Tentang apa yang ada di pikiranku, hatiku, perasaanku, mimpi - mimpi dan harapanku, semuanya berhenti ketika hujan telah turun. Dan itu membuatku jiwa dan tubuhku ringan untuk beberapa saat dan melepaskan semua beban - beban yang ada, dan aku melepaskannya seperti awan yang melepaskan rintik – rintik hujan.

Terkadang hujan membuatku menangis, bukan karena aku bersedih, bukan juga karena kemalangan hidup, atau kesepian, atau … apalah. Aku pun tidak mengerti, ketika hujan turun aku seperti merasakan perasaan yang terdalam, seperti kerinduan … ya, seperti kerinduan dan aku begitu takut untuk mengakuinya tentang rindu itu.

Ketika hujan turun pernah beberapa kali aku berjalan tanpa pelindung di tubuhku, membiarkan air hujan membasahi sekujur tubuhku, aku seperti terhanyut dan terbawa “senandung” terdalam yang di bawakan hujan yang membasahi jiwaku, dan aku seperti orang “gila” yang berjalan terus walau hujan semakin deras, dan … aku menikmatinya.

Sudah beberapa hari ini hujan menahan langkahku, ia seolah datang ketika aku terlupa oleh apa yang ada di hati, jiwaku dan tujuan dalam hidupku. Ia datang dan mengatakan lagi kepadaku … apakah kau masih ingat denganku … sahabatmu … yang menemani dan mendengar setiap keluh kesah hatimu … aku hujan, sahabatmu.

Ya dia hujan, sahabatku, tempatku menulis di atas “hujan” yang mengalir deras, takut ketika ada yang membaca semua curahan hatiku … takut kalau ada yang mengetahui hatiku … takut kalau ia menjadi kelemahanku … takut kalau ada yang menyakitiku … takut kalau hujan …

Apakah selama ini ia (sahabatku hujan) nyata bagiku … apakah hujan itu adalah pikiran dan hatiku sebenarnya, atau hanya hayalan tingkat tinggiku … atau hujan adalah hujan yang membasahi tubuhku … hujan? … apakah kau nyata sahabatku? yang akan menjagaku? dan mendengarkan semua keluh kesahku? ku tatap langit pagi ini yang begitu kelabu, suara mengelegar terdengar mengejutkan hatiku. Sinarnya terang menyinari langit, aku terdiam melihat cahaya itu menari – nari di mataku.
Sebuah jas hujan ku kenakan, motor telah kunyalakan, kali ini aku paham apa kata hujan padaku. Menyusuri jalan pagi yang basah oleh hujan membuat hatiku begitu “dingin”, terngiang lagi kata – kata hujan padaku.

Ternyata ia tidak meninggalkanku dan terus menjagaku, kesibukan melalaikanku dan membuat aku yang “jauh” darinya. Tanpa ku sadari pipiku basah oleh air yang turun dari kelopak mataku, cepat – cepat ku usap dengan tanganku, takut hujan melihat kecengenganku, kelemahanku, kesedihanku dan kebimbangan dalam hidupku. Wahai (sahabat) hujan … siapakah yang akan memegang hatiku, ketika ia terjatuh.

Rintik – rintik hujan mulai berhenti, sinar matahari yang hangat dan terang terlihat jelas dari spion motorku dan mulai menghangati punggungku, harapan akan datang bersama sang fajar, dan Matahariku akan membawa sejuta harapan. Sekarang matahariku yang akan mengantikanmu, menjaga semangatku, selalu mengingatkanku, agar optimis menghadapi dunia di depanku.

Di kejauhan aku mendengar hujan berbisik pada mentari, wahai sahabat mentari, jaga ia selalu … terkadang ia begitu percaya diri, tapi juga begitu mudah patah hati. Mentari hanya tersenyum dan menatap ku.

…

Wahai (sahabat) hujan … siapakah yang akan memegang hatiku, ketika ia terjatuh …

Penulis: Arif "godate" Rahman Nasution

0 comments:

Posting Komentar