Tampilkan postingan dengan label luar negeri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label luar negeri. Tampilkan semua postingan

Selasa, 29 Mei 2012

Dunia Imajinasi di Nantes


KOMPAS.com - Pernahkah anda bayangkan berada dalam suatu tempat dimana hanya mesin raksasa berada di sekeliling kita? Dunia imajinasi seperti itu bisa kita temukan di Nantes, Perancis. Tepatnya di Les Machines de l'ile, kepulauan kota Nantes.

Les Machines de l'ile Nantes, sudah menjadi impian anak kami untuk mengunjunginya sejak dirinya mendengar cerita dari kerabat kami yang datang berlibur ke kota kami di Montpellier. Mereka bermukim di Nantes. Dan bercerita bagaikan dunia imajinasi di Machines de l'ile Nantes, bisa membuat kita seakan berada di dunia khayalan.

Saat akhirnya kami sekeluarga bisa mendatangi tempat tersebut, tentu saja Adam langsung jingkrak kegirangan.

Saya coba hubungi pengurus di sana, untuk mendapatkan informasi selengkapnya. Karena perjalanan ke Nantes dari Montpellier lumayan jauh, 826 km. Jarak tempuh sekitar 7 hingga 8 jam perjalanan dari kota kami dengan mobil. Dengan kereta lebih repot lagi! Tak ada kereta yang langsung menuju ke Nantes, harus lewat Paris atau kota lainnya. Jadilah kami memilih menggunakan mobil. Dan tentunya harus menginap. Beruntung untuk penginapan kami bisa bermalam di rumah teman.

Nantes kota yang indah, hampir mirip dengan Montepellier. Berada 10km dari laut atlantik. Uniknya kota Nantes terpisah oleh sungai La Loire hingga ada istilah kepulauan Nantes dalam kota itu sendiri.

Tapi kali ini saya tak ingin bercerita panjang soal kota Nantes yang indah, namun hanya mengenai Machines di kepulauan Nantes. Mengapa? Karena di sinilah dunia imajinasi lahir berbentuk nyata dapat disentuh, dinaiki dan dinikmati oleh pengunjungnya.

Selama ini bila kita melihat film dunia hayalan, misalnya, film dengan hewan raksasa dimasa lalu, seperti Jurassic Park dengan dinosaurus atau ular laut raksasa dalam film petualangan...nah! di Machines Nantes inilah yang tadinya hanya bisa dilihat secara fiksi bisa jadi nyata.

Les Machines di Kepulauan Nantes adalah sebuah proyek artistik yang luar biasa yang belum pernah kita lihat sebelumnya. Lahir dari imajinasi Pierre François dan Delarozière Orefice, keduanya merupakan seniman dengan kekayaan imajinasi dan teknik karya seni luar biasa.

Dunia khayalan Jules Verne yaitu penulis Perancis yang terkenal dengan kisah petulangannya dipadukan dengan imajinasi dari Leonardo da Vinci, oleh kedua seniman Pierre Francçois dan Delarozière Orefice menjadi benda nyata berupa mesin raksasa. Ide gemilang ini dilaksanakan dalam sebuah tempat di kepulauan Nantes yang tadinya merupakan bekas galangan kapal.

Petualangan di luar waktu

Bagaimana menuju ke sana? Tujuan kota yang diambil sudah pasti Nantes. Bisa dengan kereta, paling mudah memang dari Paris, dengan pesawat karena memiliki airport, bus umum dan mobil tentunya. Saran saya setelah berada di sana, sewalah sepeda karena menikmati Kota Nantes dengan sepeda, memungkinkan kita untuk berpindah tempat secara cepat namun jangan lupa peta Kota Nantes selalu harus dibawa. Cara lain yaitu dengan tranportasi umum seperti tram, sangat praktis. Apalagi ada tram yang langsung menuju l'ile de Nantes dengan pemberhentian tak jauh dari Les Machines (mesin). Karena kami datang dengan mobil, untuk cari parkir saja sulitnya bukan main.

Jadwal buka untuk 'les machines de l'ile' yaitu bagi publik dari selasa hingga sabtu dan mulai pukul 14.00 hingga 17.00. Kecuali selama musim panas (Juli-Agustus), Senin pun buka dan jamnya pun dimulai dari pukul 10.00-18.00. Harga tiket masuk dari mulai 5,50 euros hingga 7 euros.

Kami beruntung saat datang ke sana, salah satu seniman yang turut adil dalam perakitan mesin ini adalah kawan dari teman kami. Hingga saya bisa langsung berbicara banyak untuk mendapatkan info mengenai tempat ini.

Menurut mereka, apa yang sekarang dipertunjukan bagi umum, baru sebagian kecil dari proyek yang mereka realisasikan. Karena masih banyak lagi, mesin raksasa yang akan mereka wujudkan. Namun semua itu tergantung kepada kebijaksanaan kota Nantes dalam mengalirkan dana.

Menurutnya lagi, imajinasi manusia itu sifatnya tak berakhir, tak ada batasan. Para perancang mesin, membiarkan imajinasi mereka berkeliaran. Mesin pertama yang berhasil dirakit yaitu Gajah raksasa di tahun 2007. Dimana gajah berukuran lebar 8 meter dan ketinggian 12 meter serta berat 50 ton ini, bisa bergerak di jalanan kota, mengangkut sekitar 40 hingga 50 orang dengan kecepatan ¼ km per jam. Gajah yang terbuat dari kayu dan motor mesin penggerak, layaknya seekor gajah, belalainya bisa menyemprotkan air, dan saat si gajah mesin menyemburkan air... jangan ditanya orang yang terkena siramannya, dijamin basah total.

David alias Kang Dadang serta anak bungsu kami, terkena semprot si gajah, karena saya ngotot pengen foto mereka berdua depan gajah kayu raksasa yang sedang berjalan. Saya sampai cekikikan melihat rambut mereka basah, tapi tidak bagi mereka apalagi Bazile yang langsung ngambek, melihat ibunya menertawakannya.

Selain melihat gajah dan menaikinya, kita bisa melihat galerinya. Di dalam galeri, berbagai hasil rakitan mesin berupa binatang di pertunjukan bagi pengunjung. Yang asiknya yaitu, pengunjung bisa mencobanya, menaiki hingga menjalaninya! Tapi kita tak dibiarkan bebas begitu saja, selalu ada orang yang menjaga mesin tersebut untuk menenerangkan terlebih dahulu mengenai sejarah hingga proses pembuatan mesin itu baru kemudian menawarkan kepada pengunjung untuk mencobanya.

Adam si sulung, mencoba sebuah mesin ular laut, untuk menggerakan mesin ini dibutuhkan 6 orang, dan mereka mengaku terpesona dengan teknik moderen yang berhasil digarap oleh para perancang mesin.

Rupanya mesin-mesin seperti ini terkadang digunakan dalam teknik film petualangan. Waktu saya tanya untuk membangun sebuah mesin itu dibutuhkan berapa lama? "Satu mesin kecil, bisa dihitung sekitar 2 tahun," jawab salah satu pengurus. Dan mesin kecil itu berupa kura-kura sebesar manusia. Jadi bisa dibayangkan mesin raksasa lainnya membutuhkan waktu hingga bertahun-tahun.

Kita juga bisa melihat atelier pembuatan mesin. Hanya terkadang atelier atau bahasa indonesianya yaitu bengkel kerja, sebagian ditutup bagi publik. Saya diperbolehkan masuk karena orang yang bekerja mengenal kami dan kedua saya katakan jika maksud saya adalah membuat berita soal tempat ini. Hanya sayang, saat itu hari libur hingga tak ada mesin yang sedang dikerjakan. Dan proyek yang sedang mereka garap saat itu adalah komedi putar raksasa.

Menurut mereka, hewan-hewan yang berada dalam galeri tadi nantinya akan menjadi bagian dari komedi putar. Saat komedi putar berjalan, maka para pengunjung bisa sekaligus menggerakan binatang-binatang mesin tersebut. Kepala saya sedikit pusing memikirkan ide luar biasa yang diungkapannya. Karena saat mereka menerangkan ide-ide garapa mereka, rasanya saya benar-benar sedang berada dalam dunia khayal.

Teman kami menerangkan, "Kamu lihat kan komedi putar depan les machines.. Nah bayangkan saja nantinya akan terdapat jauh lebih besar dan lebih spektakuler dari contoh yang ada di sana". Dia berkata sambil menunjukkan mesin berputar yang sudah jadi, dimana anak-anak bisa menaikinya. Saat itu sulit bagi saya mencernanya. Membayangkan berbagai mesin raksasa berputar bagaikan sebuah mainan.

Tapi tambahnya, ada satu proyek yang boleh dibilang akan menjadi maha karya hasil dari para perancang di sini, yaitu pohon raksasa. Para perancang baru dapat merealisasikan sebagian kecil dari cabang pohon. Karena rancangan yang akan mereka jadikan nyata yaitu sebuah pohon raksasa setinggi 28 meter dengan diameter 45 meter. Karya yang masih dalam garapan ini bernama l'Arbre aux Hérons (pohon bangau).

Tentu saja nama ini juga merupakan nama imajinasi. Karena pohon raksasa ini nantinya di puncak dahannya akan terdapat dua bangau raksasa dengan sayap yang bisa mengangkut para pengunjung. Pengunjung akan dibawa kedalam dunia imajinasi serasa terbang dibawah kepakan sayap bangau! Di dalam galeri, sebenarnya ada satu dahan dari pohon bangau ini yang sudah jadi, di mata saya ukurannya sudah raksasa. Jadi membayangkan bila nantinya pohon bangau ini terwujudkan, tentunya akan menjadi maha karya luar di dunia mainan bagi saya!

Kesimpulan yang saya bisa ambil selama berada di tempat ini adalah, seperti pintu ke dunia impian dengan perjalanan ajaib, dalam suatu pulau misterius seolah-olah kita kembali ke waktu ketika kapal berlayar untuk melakukan perjalanan khayal ke seluruh dunia.
»»  READMORE...

Rabu, 07 Maret 2012

Mayat Osama Dikremasi, Tidak Dibuang ke Laut

LONDON, KOMPAS.com — Nasib mayat Osama bin Laden dipertanyakan setelah sejumlah e-mail sebuah perusahaan analisis intelijen bocor. Sejumlah e-mail itu menyatakan, mayat pemimpin teroris itu sebenarnya dikirim ke AS untuk dikremasi.

Mail Online yang mengutip sejumlah e-mail yang bocor itu, Selasa (6/3/2012), melaporkan, mayat bos Al Qaeda yang tewas ditembak dalam serangan Navy SEAL Team Six yang terkenal di kompleks di Abbottabad, Pakistan, diangkut ke AS dan dikremasi. Sejumlah e-mail itu diduga telah diperoleh kelompok peretas Anonymous dari Stratfor, sebuah organisasi yang berurusan dengan analisis intelijen dan analisis geopolitik. Lembaga itu juga dikenal sebagai "CIA Bayangan".

Pekan lalu, Anonymous mengumumkan, mereka telah mendapatkan akses ke 2,7 juta korespondensi rahasia Stratfor. Kelompok peretas itu mengatakan, mereka bisa memberikan "bukti tak terbantahkan untuk sejumlah kejahatan".

Setelah Osama tewas dalam serangan yang terkenal di Pakistan pada 2 Mei 2011, pemerintahan Obama mengatakan, mayatnya ditenggelamkan di laut lepas dari kapal induk USS Carl Vinson.

Namun, dalam serangkaian e-mail yang bocor itu, yang kemudian diberikan kepada Wikileaks, terungkap bahwa wakil presiden perusahaan itu untuk urusan intelijen, Fred Burton, mengatakan, ia meragukan versi resmi Gedung Putih tentang apa yang terjadi pada mayat Osama. Burton mengatakan, mayat Osama "menuju Dover (Delaware) dalam (sebuah) pesawat CIA" dan "seterusnya ke Institut Patologi Angkatan Bersenjata di Bethesda (Maryland)".

Dalam sebuah e-mail lain, Burton mengatakan, "Jika mayat itu dibuang ke laut, suatu hal yang saya ragu, perlakuan itu sangat mirip dengan Adolph Eichman. Orang melakukan hal yang sama terhadap abu anggota Nazi itu. Eichmann terlihat masih hidup selama berbulan-bulan ketika diadili sebelum dijatuhi hukuman mati dan dieksekusi. Tidak ada orang yang menginginkan tugu peringatan baginya sehingga mereka mengkremasi dia."

Dalam sebuah pernyataan pada 27 Februari, Stratfor mengatakan, "Pada Desember, para pencuri memasuki sistem data Stratfor dan mencuri sejumlah besar e-mail perusahaan, serta informasi pribadi lainnya tentang pembaca, para pelanggan, dan karyawan Stratfor. E-mail-e-mail yang tercuri itu tampaknya akan diterbitkan oleh Wikileaks. Ini tercela, disayangkan, dan ilegal—sebuah pelanggaran privasi.

"Sejumlah e-mail dapat dipalsukan atau diubah sehingga mengandung ketidakakuratan, beberapa mungkin otentik. Kami tidak akan memvalidasi apa pun. Kami juga tidak akan menjelaskan pemikiran yang ada di dalamnya. Setelah properti kami tercuri, kita tidak akan menjadi korban untuk dua kali dengan mengirimkan pertanyaan tentang e-mail-e-mail itu."

Stratfor, yang tidak berafiliasi dengan Pemerintah AS, tidak mau berkomentar lebih lanjut.

E-mail-e-mail itu terungkap saat muncul laporan bahwa sejumlah anggota LulzSec, sebuah cabang Anonymous, ditangkap FBI. Seorang pejabat FBI mengatakan kepada Fox News bahwa penangkapan itu memberi pukulan "menghancurkan" terhadap kelompok peretas itu. "Kami memenggal kepala LulzSec," kata pejabat itu.

Tokoh Adolph Eichman yang disebut Burton adalah seorang letnan Nazi dan arsitek utama Holocaust. Setelah Perang Dunia II berakhir tahun 1945, ia tertangkap pasukan AS. Namun, ia lolos dari pasukan Amerika ketika ia memberi mereka nama palsu. Pelariannya berakhir di Buenos Aires, Argentina. Ia tinggal selama beberapa tahun di sana sampai akhirnya ditangkap agen mata-mata Israel, Mossad, tahun 1960.

Ia dituntut dan dinyatakan bersalah atas kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan dalam pengadilan Israel tahun 1962. Eichman kemudian digantung, dikremasi, dan abunya disebar ke Laut Mediterania.
»»  READMORE...

Selasa, 28 Februari 2012

Renovasi Masjid Quba akan Telan Dana Rp 240 Miliar

Kementerian Urusan Islam, Wakaf, Dakwah dan Bimbingan Arab Saudi berencana untuk melakukan renovasi terhadap Masjid Quba senilai 100 juta Riyal atau sekitar Rp 241 miliar.

Masjid Quba yang terletak di Quba, Madinah, adalah masjid pertama yang didirikan oleh Nabi Muhammad sesampainya di Madinah ketika melakukan hijrah dari Mekah. Masjid itu selesai dibangun pada 622 Hijriah.

Direktur Kementerian di Madinah, Muhammad Al Ameen Bin Khateri mengatakan Komisi Perkotaan dan Pembangunan Madinah sedang mengerjakan rincian akhir proyek tersebut. "Proyek itu sudah disetujui kementerian di Riyadh dan penelitian akan selesai dalam waktu dekat," tambah dia.

Sementara itu, Wakil Urusan Masjid Kementerian Tawfiq Al Sudairi, mengatakan proyek masjid Quba adalah tanggung jawab cabang kementerian yang ada di Madina.

Pemimpin atau Emir wilayah Madinah yang juga Ketua Komisi Pengembangan Madinah, Pangeran Abdul Aziz Bin Majed Bin Abdul Aziz, mengatakan komisi pada bulan lalu menyetujui untuk mengembangkan wilayah Quba dan Miqat, dan juga King Abdul Aziz Center yang berada tak jauh dari kawasan itu.

Proyek itu, kata Pangeran Abdul Aziz, akan dilakukan berdasarkan hasil penelitian komisi. Tujuannya untuk menonjolkan identitas perkotaan Madinah.

Fokus penelitian itu pada perluasan Masjid Quba dengan membangun halaman dan menambah lahan parkir yang ditutupi kanopi. Sebanyak 30 juta Riyal akan digunakan untuk membangun gerbang masuk yang nantinya disesuaikan dengan nilai tradisi dan budaya. 

http://www.republika.co.id
»»  READMORE...

Minggu, 26 Februari 2012

Firenze, Kota Tercantik di Italia

KOMPAS.com - Maqnifique..! Beautiful..! Indah...! Ibu kota bagi pecinta karya seni! Salah satu kota tercantik di dunia! Ucapan itu terlontar dari beberapa teman saya yang pernah mengunjungi Firenze dalam bahasa Italia dan Florence dalam bahasa Perancis.

Liburan ke Firenze, ibu kota Toscana yang kabarnya merupakan kota bersejarah dengan maha karya arsitektur bangunan, lukisan, pahatan dan keindahan alam yang disajikan kota di Italia ini, boleh dibilang terbersit secara dadakan di kepala saya dan suami, akibat batalnya perjalanan kami ke Spanyol karena suatu alasan.

Liburan ke Italia dengan keluarga, melihat bangunan bersejarah, apakah merupakan ide baik untuk anak-anak kami? Mengunjungi museum, menyelusuri jalanan berbatu dan menyibak lukisan-lukisan karya pelukis terkemuka, sempat membuat kami ragu untuk bisa dinikmati bersama anak-anak, apalagi si kecil baru akan berusia tiga tahun.

Eh oui! très bonne idée!! begitu orang Perancis menyebutnya. Yang berarti, ide baik. Mengapa? karena kecantikan bangunan dan monumen bersejarah begitu indah hingga anak-anakpun terbuka matanya dan turut menikmatinya. Warna-warni kota yang begitu semarak, jembatan batu, sungai besar Arno yang melintasi kota, menara tinggi menjulang yang dinaiki oleh kami sebanyak 500 tangga, merupakan pengalaman mengasikan bagi mereka.

Kesimpulannya, keraguan kami langsung sirna! Bazile yang baru akan berusia tiga tahun saja, selama liburan kami tak berhenti menunjukkan sesuatu. Entah itu bangunan yang dianggapnya aneh, besar bagaikan rumah raksasa (menurutnya) hingga dekorasi dari suatu bangunan yang penuh dengan lukisan, pahatan, mozaik hingga emas membuat mulutnya tak berhenti mengoceh.

Memang keuntungan dari berlibur di Firenze ini adalah, dalam kota dipenuhi oleh tempat-tempat bersejarah. Di setiap sudut kota, rasanya pemandangan cantik akan selalu memikat mata. Dan yang terpenting, kita bagaikan dikelilingi oleh sejarah... kemanapun kaki melangkah, akan berhadapan dengan karya seni. Berwisata di Firenze berarti berputar dalam kota itu sendiri tanpa harus meninggalkannya.

Namun jangan salah perkiraan, tidak berarti peninggalan sejarah terdapat di dalam kota maka cukup satu hari saja untuk menyibaknya. Dibutuhkan hingga tiga dan empat malam paling tidak untuk dapat menguak setengah dari isi kota. Itupun tak cukup sebenarnya namun paling tidak beberapa tempat penting bisa terkunjungi.

Memang di Firenze ini, terlalu banyak bangunan bersejarah yang patut dikunjungi. Dan yang jadi masalah, untuk mengunjungi suatu tempat paling tidak harus memakan waktu dari satu hingga tiga jam. Itupun kalau sedang beruntung dalam arti, antrian turis untuk masuk dalam suatu tempat masih dalam kadar wajar. Firenze kota yang padat turis!

Kami berlibur ke sana, sengaja memilih di bulan Maret, berharap wisatawan yang datang belum terlalu ramai dibandingkan liburan di musim semi apalagi panas. Wahhh, salah perkiraan, karena ternyata di musim dingin yang membeku pun antrean turis dimana-mana. Sepanjang jalan kota, boleh dibilang bahasa yang terdengar dari segala penjuru dunia. Apalagi kebanyakan turis yang datang berupa rombongan, ya sudahlah....kota Firenze mungkin tepatnya bagaikan Disneyland orang dewasa...

Tips kunjungan ke Firenze

Sebelum saya bercerita soal Firenze secara sejarahnya, sedikit tips yang saya bisa berikan kepada pembaca Kompas.com. Usahakan membeli tiket kunjungan ke suatu museum melalui internet. Khususnya museum Uffizi yang sangat terkenal di dunia ini, mengapa? Karena antrean bisa memakan waktu satu hingga dua jam setiap kalinya, bahkan tante Kang Dadang alias David, sempat mengantre selama hampir empat jam untuk masuk ke dalam Museum Uffizi! Di site internet turis Firenze, kita dapat membeli beberapa tiket kunjungan ke tempat wisata sesuai dengan hari dan jam yang kita kehendaki. Sehingga tak perlu terlalu menunggu hingga berjam-jam.

Tips yang kedua yaitu, carilah tempat penginapan di dalam kota. Karena di Firenze begitu banyak tempat wisata yang harus dikunjungi, dengan bermalam di dalam kota, menghemat waktu dalam perjalanan. Penginapan di Firenze tidak terlalu mahal, saran saya pilihlah apartemen khususnya bagi yang berkeluarga. Kami menyewa apartemen untuk empat malam dan untuk empat orang, sebuah apartemen seluas 100 meter dengan taman kecil.

Harganya sangat menarik, saat itu kami membayar satu apartemen lebih murah dibandingkan harus menyewa dua kamar di hotel. Karena sebagian hotel tak mau menerima dua anak dalam satu kamar. Dan kami tak mau membiarkan kedua anak kami berpisah kamar, karena mereka masih dibawah umur.

Beruntung sekali, kami tak salah memilih karena apartemen yang kami sewa itu, dekorasi yang ditawarkan membuat kami serasa keturunan aristrokrat...! Jangan membayangkan apartemen bagaikan di Jakarta yang hanya dinding dan kaca, namun apartemen yang ditawarkan di Eropa rata-rata memiliki keistimewaan tersendiri, misalnya bangunan kuno dari abad ke 18 dan 19.

Keuntungan lainnya memilih apartemen bagi keluarga adalah malam hari tentu saja anak-anak sudah letih berjalan seharian. Dan bagi mereka tentunya makan secara santai merupakan hal yang baik. Di apartemen, dapur selalu disediakan lengkap dengan peralatannya. Kita hanya tinggal butuh membeli keperluan makanan saja untuk dimasak. Dan sarapan pagi secara rileks dimana anak-anak masih berpiyama juga membuat mereka merasa nyaman. Karena kami pun yang dewasa merasakan nyaman apalagi anak-anak, yang tak perlu dikejar-kejar waktu agar cepat berpakaian untuk turun ke restoran hotel untuk sarapan.

Dan tentunya kenyamanan yang tak bisa didapatkan di hotel dalam apartemen yaitu, kami selama berlibur bagaikan di rumah sendiri saat bangun tidur dan pulang dari perjalanan. Anak-anak bisa berlari-lari dan saya bisa menyajikan masakan bagi kami sekeluarga sesuai lidah kami yang campur aduk antara Asia dan Eropa.

Bagi yang berlibur dengan kendaraan, mengendarai mobil dalam kota diluar penduduk Firenze dilarang. Namun jangan cemas, tempat parkir publik di pintu masuk kota banyak ditawarkan, sayangnya harganya relatif mahal, kami membayar 55 euros untuk empat malam. Bagi yang datang dengan pesawat, taksi pun tergolong tak murah dari bandara hingga kota Firenze.

Tips yang terakhir yaitu, hati-hati dalam memilih restoran dan kafe. Firenze adalah kota turis, maka tak heran bila banyak rumah makan hingga tempat minuman yang tak memasang harga, namun saat kita membayar bisa dibikin kesal! Karena sistim restoran di Italia yaitu kebanyakan servis belum termasuk dalam harga makanan, dan ada istilah penyewaan peralatan makan!

Heran? Ya begitulah. Ada biaya tambahan, berupa penyewaan garpu, pisau, piring, gelas, sendok dalam nota pembayaran. Untungnya ada beberapa restoran yang dengan jelas menuliskan di papan luar rumah makannya, jika servis dan penyewaan sudah masuk dalam harga makanan. Karena ada yang tak menuliskannya lalu tiba-tiba.... uang yang dikeluarkan jadi sangat mahal! Istilahnya, karena merupakan kota wisata terkenal maka banyak komersial yang mengambil kesempatan.

Dan itulah yang terjadi pada kami di hari pertama liburan kami. Bukan masalah penyewaan karena kami sudah tahu tapi servis yang diminta hampir setengah dari harga makanan yang kami pesan. Saat itu memang kami tak terlalu perhatian, karena anak-anak sudah ribut kelaparan dan kami belum mengenal seluk beluk kota.

Dan saat kami beristirahat disebuah kafe, harga minuman kental dan pahit yang masuk kerongkorang saya itu empat kali lipat dari harga kopi di kota saya Montpellier, di Perancis. Bahkan di Paris pun, harga kafe yang saya bayar tak semahal itu. Untungnya, saya yang maniak kafe ini masih bisa tersenyum, karena minuman di kafe italia bagi saya adalah minuman terenak yang pernah saya minum! Kental, pahit dan nikmat......

Buminya Médicis

Mengapa saya menuliskan jika Firenze merupakan tanahnya Médicis? Karena sejak tahun 1434 hingga 1737 kota Firenze dipimpin oleh keturunan Médicis. Keluarga Médicis rupanya pecinta karya seni, mereka hidup dalam keindahan dan kekagumannya akan seni. Sejumlah karya seni terkemuka, dibeli oleh Médicis secara turun menurun, dan seniman dari berbagai penjuru dunia didatangi untuk membuat pahatan, menggoreskan kanvasnya, mendirikan bangunan dengan keindahan arsitektur memukau.

Kenyataan jika keluarga Médicis merupakan bankir, dimasa kepimpinannya, membuat Firenze terkenal sebagai pusat perdagangan dan finansial Eropa pada jaman pertengahan. Firenze dianggap juga sebagai tempat lahir Renaisans Italia. Keturunan Médicis yang memiliki kekayaan akan karya seni inilah yang membawa kota Firenze begitu tersohor memiliki koleksi seni dari para seniman terkemuka di dunia. Bangunan megah, gereja indah dan juga menara tinggi yang membawa kita untuk dapat menikmati panorama seluruh kota Firenze, juga berkat keturunan Médicis yang selalu menjaganya.

Tujuan utama turis di Italia

Hari pertama kami berada di kota ini, rencana kami adalah berjalan santai. Melihat-lihat isi kota, bangunan tua, mengunjungi Gereja Santa Maria del Fiore dan tentunya menaiki menara Campanile Giotto, yang kabarnya memiliki 502 tangga.

Pukul 10 pagi kami sudah berada di alun-alun kota yang bernama piazza del Duomo. Dan alun-alun besar tersebut sudah padat oleh para turis! Sebagain besar turis yang kami lihat adalah dari Jepang dan mereka rata-rata masih muda. Salut juga saya melihatnya. Karena memang di mata bangsa Eropa saat ini, masyarakat Jepang memiliki ekonomi sangat baik dan mata uang mereka yang tinggi, membuat warganya dapat menikmati liburan ke luar negeri.

Tapi yang saya kagumi, justru kebanyakan dari masih muda, remaja Jepang ini mereka memilih berlibur ke negara-negara Eropa, yang dianggap kaya dengan sejarahnya. Dan saya melihat sendiri bagaimana mereka begitu menyimak dan mencatat pembicaraan dari guide mereka saat menerangkan sesuatu.

Bazile nyeletuk setiap kali matanya bertemu rombongan turis Jepang katanya, "Di sini banyak teman mamah..!" Sementara anak sulung kami, Adam, dengan polosnya dirinya berkata, "Orang Italia bahasanya macam-macam ya.." Karena memang kebanyakan orang asing yang kami temui di tempat wisata bukannya warga setempat tapi turis melulu.

Memasuki Gereja Santa Maria del Fiore, kami dikenakan biaya. Kaget juga saya, karena di Perancis, gereja tak mengenal pungutan biaya. Dan biasanya jurnalis tak dikenakan bayaran, namun di tempat ini tak ada potongan harga atau kebijakan apa pun. Kami malas berdebat, bila memang begitu peraturannya ya sudahlah kata kami dalam hati. Mungkin karena memang gereja yang kami masuki ini merupakan peninggalan bersejarah penting, dan memang merupakan tempat wisata. Hanya untuk seterusnya memang sedikit menjengkelkan, karena hampir semua gereja memungut biaya masuk! Hanya gereja kecil saja gratis.

Gereja Santa Maria del Fiore, merupakan gereja keempat terbesar di Eropa. Dibangun secara bertahap, konstruksi awal dimulai pada tahun 1296 dan berakhir di tahun 1412. Bangunan tempat beribadah yang boleh dibilang lebih kearah bangunan wisata ini, memiliki lantai dan atap dengan mozaik dan lukisan cantik dan mempesona. Semua turis sibuk dengan alat foto dan kamera mereka. Mengabadikan setiap keindahan yang disajikan dalam bangunan tua itu.

Keluar dari gereja kami langsung menuju menara Campanile Giotto. Lagi-lagi kami dikenakan biaya, tak ada potongan harga atau kebijakan apa pun. Benar, menara yang dari atas dapat melihat keseluruhan kota Firenze memiliki tangga sekitar 500. Tangga dari batu, berputar dan sempit tak mudah untuk dinaiki. Apalagi saat kami naik, biasanya pengunjung yang turun membuat salah satu dari kami harus berhenti dan merapat ke tembok.

Si kecil Bazile digendong oleh ayahnya, tentu saja mana sanggup kedua kakinya menaiki 500 tangga! Saya, terengah-engah bagaikan kehabisan napas! Apalagi tas camera foto saya cukup berat, bikin saya tambah sulit menanjak. Kang Dadang, setiap kali kami berhenti untuk menarik napas, wajahnya terlihat merah, mungkin saking capeknya menggendok anak bungsunya. Dan setiap kali kami berhenti, Bazile langsung berkata, "Wuihhh cape deh aku naik tangga... banyak benar! Kapan habisnya sih pa?" Ayahnya yang bercucuran keringat cuma bisa mesem-mesem melihatnya.

Ratusan tangga yang membawa kami dan membuat kaki kami mengepul, terbayar begitu melihat panorama yang terhampar bagaikan sebuah karpet dengan lukisan sebuah kota. Kubah gereja yang terlihat begitu jauh dari mata saat kami berada di alun-alun, menjadi begitu dekat. Bangunan besar kecil, tinggi pendek tergelar dalam pandangan seperti miniatur.

Seperti biasa, Adam langsung bertanya, dimana apartemen kami menginap? Dan ayahnya yang jago soal peta dan tata kota langsung berpikir sejenak, dan jarinya menunjukkan dimana tepatnya. Saat itulah saya sadar, jika Kota Firenze terlihat begitu besar bagi saya, karena dari atas menara inilah, suami saya menunjukkan begitu banyak bangunan bersejarah yang layak dikunjungi. Dan hari itu saja kami baru bisa mendatangi dua tempat yang tertulis dalam buku wisata.

Olala....pantas saja, jika orang berkata, Firenze adalah jantung sejarah seni....semoga empat malam kami ini setidaknya bisa menyibak keindahannya.
»»  READMORE...