Tampilkan postingan dengan label Sosial. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sosial. Tampilkan semua postingan

Rabu, 07 Maret 2012

MEMUTAR JARUM JAM TRADISI BOHONG

Tulisan ini dibuat oleh Prof. Hamdan Juhannis, MA., Ph.D., Guru Besar Ilmu Sosiologi UIN Alaudin Makassar, Anggota Dewan Indonesian Public Integrity Education Network, Guru Besar Termuda sepanjang sejarah UIN Alauddin Makassar di usia 38 Tahun saat dikukuhkan pada Desember 2009
---
Pada waktu ujian semester Mata Kuliah Sosiologi di sebuah kelas S1 UIN Alaudin beberapa hari lalu, saya datang memberi ujian sendiri. Ketua kelas meminta para mahasiswa mengatur kursinya secara berjarak. Namun saya memotongnya bahwa mereka tidak perlu melakukan itu. Saya mengatakan, “Kalian duduk seperti biasanya.” Saya bercanda: “Kalau mau lebih mepet lagi, silakan Anda lakukan,” yang disambut tawa oleh para mahasiswa.

Sebelum saya membagikan soal ujian, saya memberi sebuah pengantar yang bunyinya seperti ini: “Hari ini, saya ingin sejarah di ruangan ini tercipta, yaitu ujian tanpa ada perilaku menyontek. Menyontek adalah perilaku dalam dunia pendidikan yang berkontribusi terhadap munculnya orang terdidik yang tidak memiliki integritas. Orang yang tidak punya integritas itulah yang menggerogoti sendi kehidupan, khususnya perilaku korupsi dan kebohongan publik yang akarnya dari kebiasaan menyontek. Apakah Anda sadar bahwa lembaga pendidikan tinggi yang menjadi muara pendidikan, melahirkan penyelenggara negara yang korup. Buktinya, mereka yang menjadi koruptor semua mempunyai gelar akademik.”

Lalu saya melanjutkan : “Apakah Anda ingin sejarah tercipta bahwa hari ini menjadi upaya awal Anda membangun tradisi hidup bersih yang dimulai di ruangan ini dengan mengikuti ujian tanpa perilaku menyontek? Olehnya saya membiarkan Anda duduk berdempetan, karena saya ingin melihat bahwa cerita tentang anak didik di negara-negara dengan pemerintahan bersih yang memang tidak mempunyai tradisi meyontek dalam ujian, juga sebenarnya bisa dipraktikkan dalam hidup kita. Peluang bahwa sejarah akan Anda lahirkan sendiri, sama persis peluangnya Anda akan menguburnya begitu dalam dan saat ini momentum untuk membuktikannya.”

“Saya hanya akan mengamati Anda sejak menancapkan pulpen untuk mejawab pertanyaan sampai Anda kumpulkan kertas jawaban Anda. Karena nilai kesejarahannya jauh lebih bermakna daripada menegur Anda menyontek atau membuka buku, lalu memberi angka rata-rata maksimal karena pekerjaan Anda baik. Saya lebih tertarik untuk menulisnya di buku harian saya atau di tulisan-tulisan saya, atau membicarakan di ceramah saya bahwa ada bukti generasi kita punya potensi untuk mengurus negara ini tanpa perilaku kebohongan. : Saya menutupnya dengan menyatakan: “Semua terserah Anda dan selamat menjawab soal ujian.”

Lalu kertas ujian dibagi oleh ketua kelas, dan ujian berlangsung selama dua jam. Setelah ujian selesai dan mereka mengumpulkannya, saya memberi komentar lagi: “Terima kasih Anda melakukan ujian yang sangat luar biasa. Kalau saya ingin memberi persentase, tentu tidak sampai 100 persen bersih karena tadi satu kali saya melihat seorang mahasiswa melihat pekerjaan temannya. Tapi sejujurnya, inilah ujian terbersih yang pernah saya lihat di negeri ini di mana para mahasiswanya duduk berdempetan, nyaris tanpa perilaku menyontek sama sekali.” Lalu saya bertanya kepada mereka: “Pernahkan Anda melakukan ujian duduk secara berdempetan? Mereka menjawab : “Pernah.” Saya bertanya apa yang terjadi dan mereka menjawab hampir semua menyontek. Lalu saya meminta mengangkat tangan bagi siapa di ruangan ini yang tidak pernah menyontek dan tidak ada sautupun yang mengangkat tangannya.

Saya lalu menyatakan bahwa saya yakin tidak akan ada yang berani mengangkat tangannya, termasuk saya sendiri karena pada dasarnya kita dibesarkan dengan tradisi kebohongan yang salah satu variannya adalah menyontek. Dunia pendidikan kita mengambil bagian kebohongan itu dengan memelihara tradisi menyontek. Luaran lembaga pendidikan dengan tradisi menyontek itulah yang mempraktikkan varian kebohongan lain yang disebut korupsi ketika mereka menjadi penyelenggara negara.

Saya menambahkan : “Anda tahu dunia pendidikan kita menolerir praktik-praktik kebohongan dengan berbagai modus untuk mengangkat citra pendidikan dengan angka atau catatan hitam di atas putih. Lalu pendidikan kita mengabaikan sisi fundamental dari makna pendidikan itu sendiri yang lebih dari angka yaitu mengasah nilai kemanusiaan, yaitu integritas publik. Apa artinya tingkat kelulusan tinggi bila itu ternyata menyuburkan bibit kebohongan.

Makna semua ini bahwa dunia pendidikan kita bertanggung jawab terhadap persoalan kebangsaan kita dengan menjamurnya praktik korupsi atau dengan bahasa yang lebih lugas dunia pendidikan kita menjadi supplier koruptor.”

Saya menutup pertemuan ujian semester itu dengan menyatakan : “Apa yang baru saja Anda lakukan adalah contoh upaya kita untuk memutar balik jarum jam tradisi kebohongan yang sudah mengkristal dalam tradisi hidup kita yang dilakukan di sebuah ruangan perguruan tinggi. Saya tentu tidak menjamin bahwa apakah Anda melakukan ujian secara bersih karena semata termakan secara sementara oleh doktrin saya, tapi mudah-mudahan Anda melakukannya karena diawali oleh rasa prihatin betapa komentar-komentar saya mengena pada dunia pendidikan kita termasuk pada diri Anda semua.

Bila itu terjadi, Anda sebenarnya melakukan upaya kerja laksana Anda memutar balik jarum jam kebohongan yang begitu kencangnya berputar di sekitar Anda.”

“Inilah esensi pelajaran Sosiologi yang Anda pelajari satu semester, sebuah ilmu kemasyarakatan mencermati problema sosial termasuk perilaku kebohongan publik, Anda perlu dibekali ilmu itu bukan hanya sebatas memiliki wawasan, tetapi bagaimana wawasan sosiologis itu berproses menjadi bagian tak terpisahkan dari nurani Anda ketika berbuat, terkhusus ketika Anda suatu saat menjadi penyelenggara negara. Ini harus selalu diasah dan yang baru saja Anda lakukan dengan ujian tanpa menyontek adalah sebuah momentum asahan.”

Saya menyatakan kalimat kunci : “Sebagai mahasiswa Anda berkontribusi saja terhadap upaya menghilangkan tradisi menyontek di kampus, saya anggap sudah lebih dari cukup dan itu patut diapresiasi.” Seorang mahasiswa bertanya: “Apa bonusnya pak” dan semua mahasiswa tertawa keras. “Saya tidak akan memberi Anda bonus atas perilaku kebersihan ujian Anda dengan memberi angka bagus, karena itu pemberian terima kasih yang bisa saja tidak layak. Itu bentuk lain dari kebohongan yang disebut dengan gratifikasi.” Jawab saya yang disambut tawa lebih keras lagi oleh mahasiswa sambil mengangguk-angguk.

Saya menyatakan bahwa bonus mereka adalah kepuasan batin-spiritualistik yang tak ternilai, melebihi kepuasan angka-angka yang berbau lahir-materialistik semata, yang menjadi ciri kepuasan bagi para koruptor dan pembohong.
sumber:www.fajar.co.id
»»  READMORE...

Rabu, 01 Februari 2012

Pranata pada Masyarakat Tradisional

Setiap kepentingan satu anggota keluarga akan menyangkut juga kepentingan anggota keluarga yang lainnya. System norma yang semula terbentuk dalam kehidupan keluarga inti (batih), lama kelamaan digunakan dalam hubungan yang lebih luas baik dalam lingkungan kerabat maupun di luar kerabat. Akhirnya norma-norma persatuan tersebut menjadi pranata yang mengatur hubungan kekerabatan atau kekeluargaan.

Pranata yang berhuhubungan dengan kekerabatan umumnya sangat kuat. Anggota kerabat saling mengenal satu sama lain. Hal ini didukung oleh tempat pemukiman yang saling berdekatan dalam suatu lingkungan kampong juga aktivitas social yang saling terlibat dalam kelompok.

Fungsi pranata keluarga atau kerabat bagi masyarakat tradisional selain bersifat ekonomi juga bersifat social antara lain membantu anggota keluarga dalam menghadapi musibah, menyelenggarakan upacara adat atau keagamaan, mengontrol hubungan perkawinan, dan melindungi anggota keluarga dari kemungkinan konflik dengan warga masyarakat lain.

Sumber: http://id.shvoong.com/
»»  READMORE...

Kamis, 19 Januari 2012

Pengertian Etnografi

Etnografi berasal dari kata ethos, yaitu bangsa atau suku bangsa dan graphein yaitu tulisan atau uraian.

Etnografi adalah kajian tentang kehidupan dan kebudayaan suatu masyarakat atau etnik, misalnya tentang adat-istiadat, kebiasaan, hukum, seni, religi, bahasa. Bidang kajian vang sangat berdekatan dengan etnografi adalah etnologi, yaitu kajian perbandingan tentang kebudayaan dari berbagai masyarakat atau kelompok (Richards dkk.,1985).

Istilah etnografi sebenarnya merupakan istilah antropologi, etnografi merupakan embrio dari antropologi, lahir pada tahap pertama dari perkembangannya sebelum tahun 1800 an. Etnogarafi juga merupakan hasil catatan penjelajah eropa tatkala mencari rempah-rempah ke Indonesia. Koentjaraningrat, 1989:1 : “Mereka mencatat semua fenomena menarik yang dijumpai selama perjalanannya, antara lain berisi entang adapt istiastiadat,susunan masyarakat,bahasa dan cirri-ciri fisik dari suku-suku bangsa tersebut”.

Etnografi yang akarnya antropologi pada dasarnya merupakan kegiatan peneliti untuk memahami cara orang-orang berinteraksi dan bekerjasama melalui fenomena teramati kehidupan sehari-hari. Etnogarafi adalah pelukisan yang sistematis dan analisis suatu kebudayaan kelompok, masyarakat atau suku bangsa yang dihimpun dari lapangan dalam kurun waktu yang sama.

Sebelum istilah etnografi komunikasi semakin populer dipakai, istilah etnografi berbicara (ethnography of speaking) lebih awal diacu sebagai pemerian pemakaian bahasa lisan. Etnografi komunikasi menjadi lebih luas karena tidak hanya melingkupi modus komunikasi lisan (speaking), tetapi juga melibatkan komunikasi tulis (writing) serta komunikasi isyarat (gesture), gerakan tubuh (kinesics), atau tanda (signing). Pemakaian tuturan Apa khabar?, Comment alle vous? (bahasa Perancis), Hoe gaat het? (bahasa Belanda) dengan arti yang sama tentu saja berbeda modus kemunculannya dengan tuturan Dengan hormat, Dear Sir, Beste Meneer, Hormat kami, sincerely yours.

Kelompok tuturan pertama terjadi dalam modus lisan, sebaliknya kelompok tuturan kedua hanya muncul dalam modus tulis. Kedua modus ini juga sangat berbeda dengan modus komunikasi isyarat, bahasa tubuh atau tanda yang menggunakan anggota badan atau alat. Orang Indonesia akan menganggukkan kepalanya untuk menyatakan makna setuju, tetapi orang India justru mengayunkan kepala dengan membentuk gerakan angka 8 untuk makna yang sama. Orang Tibet menggesek-gesekkan hidungnya dengan hidung teman untuk menyatakan selamat datang, sedangkan orang Indonesia melakukan hal yang sama dengan saling berjabat tangan. Menariknya lagi, Orang Tibet akan menjulurkan lidahnya sebagai sapaan untuk menyambut tamu, yang bagi orang Indonesia tindakan demikian diartikan mengejek. Sebaliknya sapaan untuk menyambut tamu orang Indonesia menyatakan selamat datang sambil mempersilahkan masuk dan seterusnya. Kalau orang Indonesia menjulurkan tangannya ke bawah sambil berjalan membungkukkan badan pertanda ia meminta permisi untuk minta lewat di hadapan orang lain, tetapi bagi orang Arab, mereka justru memegang kepala orang yang dilewatinya. Orang Jepang menggenggam keempat jemarinya kecuali kelingking untuk menyatakan makna perempuan, sebaliknya orang Indonesia mengartikan tindakan demikian sebagai pernyataan anggap remeh atau enteng terhadap seseorang atau sesuatu hal.

Istilah etnography of speaking awalnya diperkenalkan oleh seorang pakar antropologi dan sekaligus pakar linguistik Amerika, Dell Hymes (dalam Gladwin, T. dan Sturtevant, W.,1982; juga dalam Fishman, J., 1968). Istilah itu kemudian diubah oleh penulisnya menjadi etnography o fcommunication, karena istilah ini dianggap lebih tepat.

Michael H.Agar (1986:12-24)meberikan tawaran baru tentang penelitian etnografi dengan dilandasi oleh pemikiran fenomenologi, mengutip pendapat Giddens (1976), adalah inti dari proses mediasi kerangka pemikiran . “hakikat dari suatu mediasi tertentu akan bergantung dari hakikat tradisi dimana terjadi kontak penelitian lapangan”.

Charles winnick (1915:193) mendefinisikan etnogarafi etnogarafi sebagai the study of individual cultures, it is primarily adescriptvie and non interpretative study. Adam E. Hoebal (1966:8) etnografi adalah to erite about peoples as we use the term if refers to descriptive study of human society,, menulis tentang masyarakat. Penulisannya mengac pada penulisan deskriptif. Roger M.Keesing (1989:250) mendefinisikan etnogarafi sebagai pembuatan dokumentasi dan analaisis budaya tertentu dengan mengadakan penelitian lapangan. Artinya dalam nmendefinisikan suatu kebudayaan seorang etnografer (peneliti etnografi) juga menganalisis.

Menurut Hymes(1974), istilah etnografi komunikasi sendiri menunjukkan cakupan kajian berlandaskan etnografi dan komunikasi.. Cakupan kajian tidak dapat dipisah-pisahkan, misalnya hanya mengambil hasil-hasil kajian dari linguistik, psikologi, sosiologi, etnologi, lalu menghubung-hubungkannya. Fokus kajiannya hendaknya meneliti secara langsung terhadap penggunaan bahasa dalam konteks situasi tertentu, sehingga dapat mengamati dengan jelas pola-pola aktivitas tutur, dan kajiannya diupayakan tidak terlepas (secara terpisah-pisah), misalnya tentang gramatika (seperti dilakukan oleh linguis), tentang kepribadian (seperti psikologi), tentang struktur sosial (seperti sosiologi), tentang religi (seperti etnologi), dan sebagainya. Dalam kaitan dengan landasan itu, seorang peneliti tidak dapat membentuk bahasa, atau bahkan tutur, sebagai kerangka acuan yang sempit. Peneliti harus mengambil konteks suatu komunitas (community), atau jaringan orang-orang, lalu meneliti kegiatan komunikasinya secara menyeluruh, sehingga tiap penggunaan saluran atau kode komunikasi selalu merupakan bagian dari khasanah komunitas yang diambil oleh para penutur ketika dibutuhkan.



KESIMPULAN

Etnografi berasal dari kata ethos, yaitu bangsa atau suku bangsa dan graphein yaitu tulisan atau uraian. Istilah etnografi sebenarnya merupakan istilah antropologi, lahir pada tahap pertama dari perkembangannya sebelum tahun 1800 an. Etnogarafi merupakan hasil catatan penjelajah eropa Mereka mencatat semua fenomena menarik yang dijumpai selama perjalanannya, antara lain berisi entang adat istitiadat,susunan masyarakat,bahasa dan cirri-ciri fisik dari suku-suku bangsa tersebut. Jadi layaknya seperti penelitian yang lain, variabel dari penelitian ini lebih kepada kehidupan dan kebudayaan suatu masyarakat.

Penelitian etnografi juga merupakan kegiatan pengumpulan bahan kete¬rangan atau data yang dilakukan secara sistematik mengenai cara hidup serta berbagai aktivitas sosial dan berbagai benda kebudayaan dari suatu masyarakat. Berbagai peristiwa dan kejadian unik dari komunitas budaya akan menarik perhatian peneliti etnografi. Peneliti justru lebih banyak belajar dari pemilik kebudayaan, dan sangat respek pada cara mereka belajar tentang budaya. Itulah sebabnya pengamatan terlibat menjadi penting dalam aktivitas penelitian.

Daftar Pustaka

ETNOGRAFI KOMUNIKASI DAN REGISTER Oleh: Dwi Purnanto:
http://dwipur_sastra.staff.uns.ac.id/2009/06/03/etnografi-komunikasi-dan-register/

ANALISIS DATA PENELITIAN KOMUNIKASI, Oleh: Burhan Bungin. Raja Grafindo Persada, Jakarta. 2007

METODOLOGI PENELITIAN KULITATIF, Oleh: DR.Deddy Mulyana, M.A. Pt.Remaja Rosdakarya, Bandung 2001

Sosiolinguistik II Oleh: Sailal Arimi, S.S., M.Hum
http://www.google.co.id/search?q=istilah+etnografi&ie=utf-8&oe=utf-8&aq=t&rls=org.mozilla:en-US:official&client=firefox-a

http://teguhimanprasetya.wordpress.com/2008/09/25/etnografi-dan-folklore-antro/
»»  READMORE...

Perubahan Sosial Masyarakat

Perubahan sosial merupakan perubahan-perubahan yang terjadi pada lembaga-lembaga kemasyarakatan dalam suatu masyarakat yang mempengaruhi sistem sosialnya, termasuk nilai, sikap-sikap sosial, dan pola perilaku diantara kelompok-kelompok dalam masyarakat. Definisi perubahan sosial menurut beberapa para ahli diantaranya sebagai berikut :

Kingsley Davis perubahan sosial merupakan perubahan-perubahan yang terjadi dalam struktur dan fungsi masyarakat.
William F.Ogburn perubahan sosial adalah perubahan yang mencakup unsur-unsur kebudayaan baik material maupun immaterial yang menekankan adanya pengaruh besar dari unsur-unsur kebudayaan material terhadap unsur-unsur immaterial.
Mac Iver perubahan sosial adalah perubahan-perubahan yang terjadi dalam hubungan sosial (social relation) atau perubahan terhadap keseibangan (equilibrium) hubungan sosial.

Perubahan sosial merupakan gejala yang melekat disetiap masyarakat. Perubahan-perubahan yang terjadi di dalam masyarakat akan menimbulkan ketidaksesuaian antara unsur-unsur sosial yang ada didalam masyarakat, sehingga menghasilkan suatu pola kehidupan yang tidak sesuai fungsinya bagi masyarakat yang bersangkutan.

Suatu masyarakat yang telah mencapai peradaban tertentu, berarti telah mengalami evolusi kebudayaan yang lama dan bermakna sampai tahap tertentu yang diakui tingkat IPTEK dan unsur budaya lainnya. Dengan demikian, masyarakat tadi telah mengalami proses perubahan sosial yang berarti, sehingga taraf kehidupannya makin kompleks. Proses tersebut tidak terlepas dari berbagai perkembangan, perubahan, dan pertumbuhan yang meliputi aspek-aspek demografi, ekonomi, organsisasi, politik, IPTEK dan lainnya. Menurut Nursid Sutmaatmadja “ perubahan segala aspek kehidupan, tidak hanya dialami, dihayati dan dirasakan oleh anggota masyarakat. Melainkan telah diakui serta didukungnya. Jika proses tersebut telah terjadi demikian maka dapat dikatakan bahwa masyarakat tersebut telah mengalami “perubahan sosial” pada masyarakat tersebut, struktur, organisasi, dan hubungan sosial telah mengalami perubahan.

Secara umum perubahan sosial masyarakat dapat dilihat dari cepat dan lambatnya perubahan itu terjadi, dalam sosiologi dikenal dengan perubahan secara evolusi dan revolusi.

1) Perubahan secara Evolusi

Perubahan evolusi adalah perubahan-perubahan sosial yang terjadi dalam proses lambat, dalam waktu yang cukup lama dan tanpa ada kehendak tertentu dari masyarakat yang bersangkutan[5]. Pada evolusi, perubahan terjadi dengan sendirinya tanpa rencana atau kehendak tertentu. Masyarakat hanya berusaha menyesuaikan dengan keperluan, keadaan, dan kondisi baru yang timbul sejalan dengan pertumbuhan masyarakat. Contoh, perubahan sosial dari masyarakat berburu menuju ke masyarakat meramu.

2) Perubahan secara revolusi

Perubahan revolusi merupakan perubahan yang berlangsung secara cepat dan tidak ada kehendak atau perencanaan sebelumnya[6]. Secara sosiologis perubahan revolusi diartikan sebagai perubahan-perubahan sosial mengenai unsur-unsur kehidupan atau lembaga- lembaga kemasyarakatan yang berlangsung relatif cepat. Dalam revolusi, perubahan dapat terjadi dengan direncanakan atau tidak direncanakan, dimana sering kali diawali dengan ketegangan atau konflik dalam tubuh masyarakat yang bersangkutan. Perubahan ini bisa juga terjadi dengan didahului dengan pemberontakan.

Secara sosiologis, persyaratan berikut ini harus dipenuhi agar suatu revolusi dapat tercapai.

Harus ada keinginan dari masyarakat banyak untuk mengadakan perubahan. Di dalam masyarakat harus ada perasaan tidak puas terhadap keadaan dan harus ada keinginan untuk mencapai keadaan yang lebih baik.
Ada seorang pemimpin atau sekelompok orang yang mampu memimpin masyarakat untuk mengadakan perubahan.
Pemimpin harus dapat menampung keinginan atau aspirasi dari rakyat untuk kemudian merumuskan aspirasi tersebut menjadi suatu program kerja.
Ada tujuan konkret yang dapat dicapai. Artinya, tujuan itu dapat dilihat oleh masyarakat dan dilengkapi oleh suatu ideologi tertentu.
Harus ada momentum yang tepat untuk mengadakan revolusi, yaitu saat di mana keadaan sudah tepat dan baik untuk mengadakan suatu gerakan.

Selain dari cepat dan lambatnya, perubahan sosial dalam masyarakat ada juga perubahan yang direncanakan dan yang tidak direncakan.

Bentuk perubahan tersebut adalah :

Perubahan yang direncanakan

Perubahan yang direncanakan adalah perubahan-perubahan yang diperkirakan atau yang telah direncanakan terlebih dahulu oleh pihak-pihak yang hendak mengadakan perubahan di dalam masyarakat[7]. Pihakpihak ini dinamakan agent of change, yaitu seseorang atau sekelompok orang yang mendapat kepercayaan masyarakat sebagai pemimpin dalam perubahan pada lembaga-lembaga kemasyarakatan. Cara-cara untuk memengaruhi masyarakat adalah dengan rekayasa sosial ( social engineering ), yaitu dengan sistem yang teratur dan direncanakan terlebih dahulu. Cara ini sering pula dinamakan perencanaan sosial ( social planning ). Contohnya, lahirnya undang-undang pemilu yang merubah tata cara pemilihan presiden dan wakil presiden di Indonesia. Saat ini rakyat memilihnya secara langsung.

Perubahan yang tidak direncanakan

Perubahan yang tidak direncanakan biasanya berupa perubahan yang tidak dikehendaki oleh masyarakat. Karena terjadi di luar perkiraan dan jangkauan, perubahan ini sering membawa masalah-masalah yang memicu kekacauan atau kendala-kendala dalam masyarakat. Oleh karenanya, perubahan yang tidak dikehendaki sangat sulit ditebak kapan akan terjadi. Perubahan seperti ini biasanya perubahan yang di akibatkan oleh bencana alam, dampak yang di akibatkan bencana tersebut lumpuhnya aktivitas sosial masyarakat.

»»  READMORE...

Neo-Humanisme

Neo-Humanisme diturunkan dari pengertian atas sifat dasariah (Dharma) manusia. Kehidupan manusia mempunyai tiga segi: fisik, mental, dan spiritual. Dari segi fisik, pengetahuan biologi telah banyak sekali membahas seluk beluk kerja tubuh manusia. Namun kebutuhan psiko-spiritual manusia sampai kini belumlah dipahami betul meskipun cukup besar pula usaha para ahli psikologi dan pencari spiritual.

Kemungkinan keadaan yang paling tinggi yang dapat dicapai menurut sifat dasariah manusia adalah bahwa pikiran terbebaskan untuk meluas dan mengalir menuju Kesadaran Agung (Tuhan). Tatkala ini terjadi, seseorang akan mengembangkan cintanya (bakti) kepada Kesadaran Agung dan mencintai semua keberadaan yang lain. Cinta pada Kesadaran Maha Agung ini harus menjadi harta mulia bagi umat manusia. Tanpa itu, hidup menjadi kering tak berarti.

Namun kini umat manusia tidak memiliki filsafat kehidupan yang patut sehingga masyarakat yang kita bentuk tak selaras dengan kerinduan batin umat manusia itu. Materialisme menguasai seluruh bagian hidup kini dan matarialisme menghancurkan rasa bakti dalam diri manusia. Sebagai akibat dari ketidakseimbangan antara kebutuhan batin dan kenyataan luar dirinya maka kita menjumpai demikian banyak kesengsaraan, depressi dan sakit jiwa dalam masyarakat kini.

Penyelesaian untuk membetulkan ketidakseimbangan itu adalah filsafat yang menyelaraskan antara kebutuhan batin manusia dengan kebutuhan luarnya dalam dunia material. Untuk menerapkan cara hidup yang demikian kita harus tahu berbagai cara bagaimana harta spiritual (bakti) manusia dapat dirusak. Ada tiga rasa sentimen dalam diri manusia yang dapat menghalangi pikiran menuju universalisme.
Bila seseorang menjadi demikian terikat dengan bumi tempatnya tinggal, maka itu disebut geo-sentiment, rasa keterikatan dengan bumi. Sejak jaman dulu, bahkan kini, banyak orang yang berkepentingan hanya dengan tanah airnya saja atau negerinya saja. Berasal dari cinta pada tanah air, mereka mengembangkan beberapa rasa sentimen turunan lagi seperti patirotisme tanah air, geo-politik, geo-religion, dan geo-ekonomi. Dengan memanfaatkan rasa geo-patriotisme untuk membangkitkan massa, para politisi telah menggiring mereka ke kancah peperangan berdarah. Kolonialisme masa lalu dan neo-kolonialisme masa sekarang tidak lain adalah bentuk lain dari geo-ekonomi. ("Marilah kita bangun negeri kita biarpun itu akan menciptakan kesengsaraan dan kemiskinan negeri satelit/tetangga" adalah slogan dibalik geo-ekonomi).

»»  READMORE...

Pengertian Interaksi sosial

Interaksi sosial adalah hubungan timbal balik antara dua orang atau lebih, dan masing-masing orang yang terlibat didalamnya memainkan peran secara aktif. Menurut Lev Vygotsky interaksi sosial memegang peranan penting dalam perkembangan kognitif anak. Anak belajar melalui dua tahap. Pertama, melalui interaksi dengan orang lain, baik keluarga, teman sebaya, maupun gurunya. Kedua secara individual ia mengintegrasikan apa yang dipelajari dari orang lain kedalam struktur mentalnya.

Ada tiga hal penting yang digunakan Vygotsky untuk menjelaskan teorinya, yaitu: tools of the mind, zone of proximal development dan scaffolding.

Tools adalah alat yang memudahkan kerja manusia, seperti palu, gergaji, pisau dan lain sebagainya adalah alat yang memudahkan kerja manusia. Menurutnya kerja mental juga akan lebih mudah jika ada alat yang mendukungnya yang disebut tools of the mind yang berfungsi untuk mempermudah anak untuk memahami suatu fenomena, memecahkan masalah, mengingat dan berfikir.

Zone of proximal devlopment adalah suatu konsep tentang daerah yang akan segera mengalami perkembangan. Istilah zone menggambarkan bahwa perkembangan bukanlah suatu titik, tetapi
suatu daerah. Artinya bahwa aspek yang berkembang itu merupakan suatu kisaran. Luas kisaran tersebut sangat ditentukan oleh bantuan orang yang lebih ahli yang disebut dengan scaffolding.
Scaffolding adalah bantuan dari orang yang lebih mampu, lebih mengetahui dan lebih terampil dalam kisaran Zone of proximal development dengan tujuan membantu anak mengoptimalkan hasil belajar. Dengan scaffolding tingkat kesulitan masalah yang dihadapi anak sebenarnya tidak berubah menjadi lebih mudah, tetapi akan menjadi tools of the mind.



Untuk mempermudah memahami suatu obyek (dengan tools of the mind) maka anak bisa diberikan bantuan yang beragam macamnya, misalnya dengan menunjukkan cara menggunakan sesuatu atau menggunakan alat bantu. Bantuan tersebut pada tahap awal member petunjuk bagaimana cara melakukan sesuatu. Secara berangsur-angsur bantuan tersebut berkurang karena anak menjadi bisa melakukan sesuatu secara mandiri. Seperti contoh anak diberi lima kelereng, kemudian kemudian guru memberi contoh cara menghitungnya. Guru memegang tangan anak untuk menghitung dengan suara yang keras, “satu, dua, …....” dan seterusnya sampai lima. Mula-mula peran guru dominan dan anak hanya mengikuti gurunya. Lalu anak disuruh untuk mengulangi kembali. Secara perlahan bantuan tersebut dikurangi untuk memberikan peluang kepada anak berlatih sendiri. Setelah anak mahir menghitung sampai lima guru menambah jumlah kelereng menjadi tujuh atau sepuluh. Lalu anak mencoba menghitung kembali, mungkin saja ia dapat menghitung sampai sepuluh. Hal itu menandakan dengan bantuan guru anak tidak hanya bisa menghitung sampai lima tetapi mampu menghitung sampai sepuluh.
Menurut Jean Piaget anak secara aktif memahami pengetahuan dengan cara berinteraksi dengan lingkungannya.

Berdasarkan interaksinya anak mengembangkan scheme (skema). Skema merupakan memori atau gambaran anak tentang sesuatu. Misalnya anak setelah bermain sepeda dan diberi penjelasan bahwa itu adalah sepeda, maka anak mempunyai skema tentang sepeda di dalam otaknya. Menurutnya, ada dua tipe skema, yaitu skema figuratif dan skema operatif. Skema figuratif adalah skema tentang ciri benda yang secara langsung dapat dilihat atau diindra. Skema operatif adalah skema tentang hal-hal yang tidak dapat dilihat langsung dari bendanya, tetapi harus melalui proses berfikir. Misalnya pengertian nama, jumlah benda, besar dan kecil dan lain sebagainya. Skema operatif merupakan sistem simbol yang kelak berguna untuk berfikir abstrak.

Dengan demikian interaksi sosial sangat penting peranannya dalan upaya untuk mengoptimalkan perkembangan kemampuan berfikir anak, karena dengan adanya interaksi sosial anak akan menjumpai hal-hal yang belum dia kenal, sehingga anak akan bertanya dan berfikir tentang hal tersebut, dan ingin mengetahuinya. sumber


»»  READMORE...

Rabu, 04 Januari 2012

Sex and Gender

Hal mendasar yang perlu diketahui dalam pembahasan jender adalah pembedaaan dalam menentukan konsep jenis kelamin dan konsep jender. Hal ini disebabkan ada pengaburan pemahaman antara sex (jenis kelamin) dan gender. Tidak jarang orang memahami antara sex dengan jender itu merupakan satu bagian dalam bahasanya sederhanya hal itu sama saja. Padahal sebenarnya dua istilah itu berbeda, diantara keduanya memiliki konsep dan batasan yang jelas. Pembedaan ini sangat diperlukan karena berkaitan dengan ketimpangan gender yang terjadi di masyarakat, serta untuk menganalisa ketidakadilan akibat perbedaan gender.

Istilah sex dalam kamus bahasa Indonesia berarti “jenis kelamin”. Perbedaan sex (jenis kelamin merupakan identifikasi laki-laki dan perempuan dari segi anatomi biologi yang diperoleh manusia sejak dia lahir. Pengertian jenis kelamin (sex) adalah suatu pensifatan atau pembagian dua jenis kelamin manusia yang ditentukan secara biologis yang melekat pada jenis kelamin tertentu. ( DR. Mansour Fakih : 8).[1]
Dengan menggunakan identifikasi secara biologi akan dapat mempermudah melakuakan pembacaan terhadap seseorang untuk mengetahui jenis kelamain seseorang. Karena hal itu dapat dilihat secara empirik. Dan tidak ada perdebatan dalam pengelompokan untuk jenis kelamin tertentu. Berbeda dengan jender.
Lantas apa kemudian yang dimaksud dengan gender ? Penggunaan istilah gender berawal dari tahun1977 ketika sekelompok feminis di London tidak lagi menggunakan isu-isu lama seperti patrialkhal atau sexist, tetapi menggunakan istilah gender (gender discours). Sebelumnya istilah ini (sex dan gender) digunakan secara rancu. Karena kebanyakan orang menganggap perbedaan gender (gender deferences) sebagai akibat dari perbedaan sex (sex defferences).
Secara terminology kata “gender” berasal dari bahasa inggris yang berarti “jenis kelamin”.[2] Dalam Webster’s New World Dictionary, jender diartikan sebagai “perbedaan yang tampak antara laki-laki dan perempuan dilihat dari segi nilai dan tingkah laku”.[3] Kalau perbedaan sex (jenis kelamin) lebih berkonsentrasi pada aspek biologi, meliputi anatomi fisik, alat reproduksi baik primer maupun sekunder, komposisi kimia , hormon, serta karakteristik biologis lainya, gender deferences lebih pada konstruksi budaya, aspek sosial, psikologis dan aspek-aspek non biologis lainya.
Dalam Women’s Studies Encyclopedy gender diartikan sebagai upaya melakukan pembedaan (distinction) dalam hal peran, mentalitas, karakteristik emosional antara laki-laki dan perempuan.
Hillary Lips dalam bukunya Sex dan Gender: an Introduction mengartikan gender sebagai harapan-harapan budaya terhadap laki-laki dan perempuan (Cultural Expectation for Women and Man). Sedangkan H.T Wilson dalam bukunya Sex dan gender mengartikan gender sebagai suatu dasar untuk menentukan sumbangan laki-laki dan perempuan dalam kebudayaan dan kehidupan kolektif yang imbasnya pada penentuan mereka menjadi laki-laki atau perempuan.
Meskipun kajian gender sudah ada sejak abad ke 17, namun kata gender belum ada dalam perbendaharaan kamus besar bahasa Indonesia, meskipun istilah tersebut sudah lazim digunakan, khususnya di kantor Menteri Negara Urusan Peranan Wanita dengan istilah “jender” . Jender diartikan sebagai interpretasi mental dan kultural terhadap perbedaan kelamin yakni laki-laki dan perempuan. Jender biasanya dipergunakan untuk menunjukkan pembagian kerja yang pantas dan cocok antara laki-laki dan perempuan.
Dari berbagai definisi diatas dapat disimpulkan bahwa Gender adalah suatu dasar untuk menentukan pengaruh faktor budaya dan kehidupan kolektif dalam membedakan laki-laki dan perempuan. Sebab demikian gender lebih dari sekedar pembedaan laki-laki dan perempuan dilihat dari konstruksi sosial budaya, tetapi menekankan gender sebagai konsep analisa, yang mampu membantu membedah persoalan pengaruh faktor budaya dan kehidupan kolektif dalam membedakan laki-laki dan perempuan secara diskriminatif.Untuk itu sangat jelas sekali pembahasan gender harus ada pembedaan yang jelas antara sex dan gender.
[1] DR. Mansour Fakih, Analisis Gender dan Transformasi sosial, cet VI, (Yogyakarta : Pustaka pelajar, , 2001), 8 [2]John M. Echole dan Hasan Shadily, Kamus Inggris Indonesia, cet XII,(Jakarta : Gramedia, 1983), 265
[3] Nasaruddin Umar, MA, Argumetasi Kesetaraan Gender Perspektif Alquran, cet. II, (Jakarta : Paramadina, 2001), 33
»»  READMORE...

Jumat, 23 Desember 2011

Proses Sosial dan Interaksi Sosial

A.    Pendahuluan
Proses sosial adalah cara-cara berhubungan yang dilihat apabila orang-perorangan dan kelompok-kelompok sosial saling bertemu dan menentukan sistem serta bentu-bentuk hubungan tersebut atau apa yang akan terjadi apabila ada perubahan-perubahan yang menyebabkan goyahnya pola-pola kehidupan yang terlah ada. Proses sosial dapat diartikan sebagai pengaruh timbale-balik antara pelbagai segi kehidupan bersama, misalnya pengaruh-mempengaruhi antara sosial dengan politik, politik dengan ekonomi, ekonomi dengan hukum, dst.
Interaksi sosial merupakan kunci dari semua kehidupan sosial, karena tanpa interkasi sosial tak akan mungkin ada kehidupan bersama.
B.     Interaksi Sosial sebagai Faktor Utama dalam Kehidupan Sosial
Bentuk umum proses sosial adalah interaksi sosial(yang juga dapat dinamakan sebagai proses sosial) karena interasi sosial merupakan syarat utama terjadinya aktivitas-aktivitas sosial. Interaksi sosial merupakan hubungan-hubungan sosial yang dinamis yang menyangkut hubungan antara orang-orang perorangan, antara kelompok-kelompok manusia, maupun antara orang perorangan dengan kelompok manusia. Interaksi sosial antara kelompok-kelompok manusia terjadi anatara kelompo tersebut sebagai suatu kesatuan dan biasanya tidak menyangkut pribadi anggota-anggotanya.
Interaksi sosial antara kelompok-kelompok manusia terjadi pula di dalam masyarakat. Interaksi tersebut lebih mencolok ketika terjadi benturan antara kepentingan perorangan dengan kepentingan kelompok. Interaksi sosial hanya berlangsung antara pihak-pihak apabila terjadi reaksi terhadap dua belah pihak. Interaksi sosial tak akan mungkin teradi apabila manusia mengadakan hubungan yang langsung dengan sesuatu yang sama sekali tidak berpengaruh terhadap sistem syarafnya, sebagai akibat hubungan termaksud.
Berlangsungnya suatu proses interaksi didasarkan pada pelbagai faktor :
1.      Imitasi
Salah satu segi positifnya adalah bahwa imitasi dapat mendorong seseorang untuk mematuhi kaidah-kaidah dan nilai-nilai yang berlaku
2.      Sugesti
Faktor sugesti berlangsung apabila seseorang memberi suatu pandangan atau suatu sikap yang berasal dari dirinya yang kemudian diterima oleh pihak lain.
3.      Identifikasi
Identifikasi sebenarnya merupakan kecenderungan atau keinginan dalam diri seseorang untuk menjadi sama dengan pihak lain. Identifikasi sifatnya lebih mendalam daripada imitasi, karena kepribadian seseorang dapat terbentuk atas dasar proses ini.
4.      Proses simpati
Sebenarnya merupakan suatu proses dimana seseorang merasa tertarik pada pihak lain. Di dalam proses ini perasaan memegang peranan yang sangat penting, walaupun dorongan utama pada simpati adalah keinginan untuk memahami pihak lain dan untuk bekerja sama dengannya.
C.     Syarat-syarat Terjadinya Interaksi Sosial
Interaksi sosial merupakan hubungan sosial yang dinamis, menyangkut hubungan antara individu, antara kelompok maupun antara individu dengan kelompok.
Dua Syarat terjadinya interaksi sosial :
  1. Adanya kontak sosial (social contact), yang dapat berlangsung dalam tiga bentuk.Yaitu antarindividu, antarindividu dengan kelompok, antarelompok. Selain itu, suatu kontak dapat pula bersifat langsung maupun tidak langsung.
  2. Adanya Komunikasi, yaitu seseorang memberi arti pada perilaku orang lain, perasaan-perassaan apa yang ingin disampaikan orang tersebut. Orang yang bersangkutan kemudian memberi reaksi terhadap perasaan yang ingin disampaikan oleh orang tersebut.
Kata kontak berasal dari bahasa Latin con atau cum (artinya bersama-sama) dan tango (yang artinya menyentuh). Arti secara hanafiah adalah bersama-sama menyentuh. Secara fisik, kontak baru terjadi apabila terjadinya hubungan badaniah. Sebagai gejala seosial itu tidak perlu berarti suatu hubungan badaniah, karena dewasa ini dengan adanya perkembangan teknologi, orang dapat menyentuh berbagai pihak tanpa menyentuhnya. Dapat dikatakan bahwa hubungan badaniah bukanlah syarat untuk terjadinya suatu kontak.
Kontak sosial dapat terjadi dalam 3 bentuk :
1.      Adanya orang perorangan
Kontak sosial ini adalah apabila anak kecil mempelajari kebuasaan dalam keluarganya. Proses demikian terjadi melalui sosialisasi, yaitu suatu proses dimana anggota masyarakat yang baru mempelajari norma-norma dan nilai-nilai masyarakat dimana dia menjadi anggota.
2.      ada orang perorangan dengan suatu kelompok manusia atau sebaliknya
kontak sosial ini misalnya adalah seseorang merasakan bahwa tindakan-tindakannya berlawanan dengan norma-norma masyarakat atau apabila suatu partai politik memkasa anggota-anggotanya menyesuaikan diri dengan ideologi dan programnya.
3.      Antara suatu kelompok manusia dengan kelompok manusia lainnya.
Umpamanya adalah dua partai politik mengadakan kerja sama untuk mengalahkan parpol yang ketiga di pemilihan umumu.
Terjadinya suatu kontak tidaklah semata-mata tergantung dari tindakan, tetapi juga tanggapan terhadap tindakan tersebut. Kontak sosial yang bersifat positif mengarah pada suatu kerja sama, sengangkan yang bersifat negatif mengarah pada suatu pertentangan atau bahkan sama seali tidak menghasilkan suatu interaksi sosial.
Suatu kontak dapat bersifat primer atau sekunder. Kontak perimer terjadi apabila yang mengadakan hubungan langsung bertemu dan berhadapan muka. Kontak sekunder memerlukan suatu perantara. Sekunder dapat dilakukan secara langsung. Hubungan-hubungan yang sekunder tersebut dapat dilakukan melalui alat-alat telepon, telegraf, radio, dst.
Arti terpenting komunikasi adalah bahwa seseorang memberikan tafsiran pada perilaku orang lain (yang berwujud pembicaraan, gera-gerak badaniah atau sikap), perasaan-perasaan apa yang ingin disampaikan oleh orang tersebut. Orang yang bersangkutan kemudian memberikan reaksi terhadap perasaan yang ingin disampaikan oleh orang lain tersebut.
Dengan adanya komunikasi tersebut, sikap-sikap dan perasaan suatu kelompok manusia atau perseorangan dapat diketahui oleh kelompok lain atau orang lainnya. Hal itu kemudian merupakan bahan untuk menentukan reaksi apa yang dilakukannya.
D.    Kehidupan yang Terasing
Pentingnya kontak dan komunikasi bagi terwujudnya interaksi sosial dapat diuji terhadap suatu kehidupan yang terasing (isolation). Kehiduapan terasing yang sempurna ditandai dengan ketidakmampuan untuk mengadakan interaksi sosial dengan pihak-pihak lain. Kehidupan terasing dapat disebaban karena secara badaniah seseorang sama sekali diasingkan dari hubungan dengan orang-orang lainnua. Padahal perkembangan jiwa seseorag banyak ditentuan oleh pergaulannya dengan orang lain.
Terasingnya seseorang dapat pula disebabkan oleh karena cacat pada salat satu indrany. Dari beberapa hasil penelitian, ternyata bahwa kepribadian orang-orang mengalami banyak penderitaan akibat kehidupan yang terasing karena cacat indra itu. Orang-orang cacat tersebut akan mengalami perasaan rendah diri, karena kemungkinan-kemungkinan untuk mengembangkan kepribadiannya seolah-olah terhalang dan bahkan sering kali tertutup sama sekali.
Pada masyarakat berkasta, dimana gerak sosial vertikal hampir tak terjadi, terasingnya seseorang dari kasta tertentu (biasanya warga kasta rendahan), apabila berada di kalangan kasta lainnya (kasta yang tertinggi), dapat pula terjadi.
E.     Bentuk-bentu Interaksi Sosial
Bentuk-bentuk interaksi sosial dapat berupa kerja sama (cooperation), persaingan (competition), dan bahkan dapat juga berbentuk pertentangan atau pertikaian (conflict). Pertikaian mungkin akan mendapatkan suatu penyelesaian, namun penyelesaian tersebut hanya akan dapat diterima untuk sementara waktu, yang dinamakan akomodasi. Ini berarti kedua belah pihak belum tentu puas sepenunya. Suatu keadaan dapat dianggap sebagai bentuk keempat dari interaksi sosial. Keempat bentuk poko dari interaksi sosial tersebut tidak perlu merupakan suatu kontinuitas, di dalam arti bahwa interaksi itu dimulai dengan kerja sama yang kemudian menjadi persaingan serta memuncak menjadi pertikaian untuk akhirnya sampai pada akomodasi.
Gillin dan Gillin mengadakan penggolongan yang lebih luas lagi. Menurut mereka, ada dua macam proses sosial yang timbul sebagai akibat adanya interaksi sosial :
1.      Proses-proses yang Asosiatif
a.       Kerja Sama (Cooperation)
Suatu usaha bersama antara orang perorangan atau kelompok manusia untuk mencapai suatu atau beberapa tujuan bersama. Bentuk kerja sama tersebut berkembang apabila orang dapat digerakan untuk mencapai suatu tujuan bersama dan harus ada kesadaran bahwa tujuan tersebut di kemudian hari mempunyai manfaat bagi semua. Juga harus ada iklim yang menyenangkan dalam pembagian kerja serta balas jasa yang akan diterima. Dalam perkembangan selanjutnya, keahlian-keahlian tertentu diperlukan bagi mereka yang bekerja sama supaya rencana kerja samanya dapat terlaksana dengan baik.
Kerja sama timbul karena orientasi orang-perorangan terhadap kelompoknya (yaitu in-group-nya) dan kelompok lainya (yang merupakan out-group-nya). Kerja sama akan bertambah kuat jika ada hal-hal yang menyinggung anggota/perorangan lainnya.
Fungsi Kerjasama digambarkan oleh Charles H.Cooley ”kerjasama timbul apabila orang menyadari bahwa mereka mempunyai kepentingan-kepentingan yang sama dan pada saat yang bersamaan mempunyai cukup pengetahuan dan pengendalian terhadap diri sendiri untuk memenuhi kepentingan-kepentingan tersebut; kesadaran akan adanya kepentingan-kepentingan yang sama dan adanya organisasi merupakan fakta-fakta penting dalam kerjasama yang berguna”
Dalam teori-teori sosiologi dapat dijumpai beberapa bentuk kerjasama yang biasa diberi nama kerja sama (cooperation). Kerjasama tersebut lebih lanjut dibedakan lagi dengan :
  1. Kerjasama Spontan (Spontaneous Cooperation) : Kerjasama yang sertamerta
  2. Kerjasama Langsung (Directed Cooperation) : Kerjasama yang merupakan hasil perintah atasan atau penguasa
  3. Kerjasama Kontrak (Contractual Cooperation) : Kerjasama atas dasar tertentu
  4. Kerjasama Tradisional (Traditional Cooperation) : Kerjasama sebagai bagian atau unsur dari sistem sosial.
Ada 5 bentuk kerjasama :
  1. Kerukunan yang mencakup gotong-royong dan tolong menolong
  2. Bargaining, Yaitu pelaksana perjanjian mengenai pertukaran barang-barang dan jasa-jasa antara 2 organisasi atau lebih
  3. Kooptasi (cooptation), yakni suatu proses penerimaan unsur-unsur baru dalam kepemimpinan atau pelaksanaan politik dalam suatu organisasi sebagai salah satu cara untuk menghindari terjadinya kegoncangan dalam stabilitas organisasi yang bersangkutan
  4. Koalisi (coalition), yakni kombinasi antara dua organisasi atau lebih yang mempunyai tujuan-tujuan yang sama. Koalisi dapat menghasilkan keadaan yang tidak stabil untuk sementara waktu karena dua organisasi atau lebih tersebut kemungkinan mempunyai struktut yang tidak sama antara satu dengan lainnya. Akan tetapi, karenamaksud utama adalah untuk mencapat satu atau beberapa tujuan bersama, maka sifatnnya adalah kooperatif.
  5. Joint venture, yaitu erjasama dalam pengusahaan proyek-proyek tertentu, misalnya pengeboran minyak, pertambangan batubara, perfilman, perhotelan, dst.

b.      Akomodasi (Accomodation)
Pengertian
Istilah Akomodasi dipergunakan dalam dua arti : menujukk pada suatu keadaan dan yntuk menujuk pada suatu proses. Akomodasi menunjuk pada keadaan, adanya suatu keseimbangan dalam interaksi antara orang-perorangan atau kelompok-kelompok manusia dalam kaitannya dengan norma-norma sosial dan nilai-nilai sosial yang berlaku dalam masyarakat. Sebagai suatu proses akomodasi menunjuk pada usaha-usaha manusia untuk meredakan suatu pertentangan yaitu usaha-usaha manusia untuk mencapai kestabilan.
Menurut Gillin dan Gillin, akomodasi adalah suatu perngertian yang digunakan oleh para sosiolog untuk menggambarkan suatu proses dalam hubungan-hubungan sosial yang sama artinya dengan adaptasi dalam biologi. Maksudnya, sebagai suatu proses dimana orang atau kelompok manusia yang mulanya saling bertentangan, mengadakan penyesuaian diri untuk mengatasi ketegangan-ketegangan. Akomodasi merupakan suatu cara untuk menyelesaikan pertentangan tanpa menghancurkan pihak lawan sehingga lawan tidak kehilangan kepribadiannya.
Tujuan Akomodasi dapat berbeda-beda sesuai dengan situasi yang dihadapinya, yaitu :
  1. Untuk mengurangi pertentangan antara orang atau kelompok manusia sebagai akibat perbedaan paham
  2. Mencegah meledaknya suatu pertentangan untuk sementara waktu atau secara temporer
  3. Memungkinkan terjadinya kerjasama antara kelompok sosial yang hidupnya terpisah akibat faktor-faktor sosial psikologis dan kebudayaan, seperti yang dijumpai pada masyarakat yang mengenal sistem berkasta.
  4. mengusahakan peleburan antara kelompok sosial yang terpisah.
Bentuk-bentuk Akomodasi
  1. Corecion, suatu bentuk akomodasi yang prosesnya dilaksanakan karena adanya paksaan
  2. Compromise, bentuk akomodasi dimana pihak-pihak yang terlibat saling mengurangi tuntutannya agar tercapai suatu penyelesaian terhadap perselisihan yang ada.
  3. Arbitration, Suatu cara untuk mencapai compromise apabila pihak-pihak yang berhadapan tidak sanggup mencapainya sendiri
  4. Conciliation, suatu usaha untuk mempertemukan keinginan-keinginan dari pihak-pihak yang berselisih demi tercapainya suatu persetujuan bersama.
  5. Toleration, merupakan bentuk akomodasi tanpa persetujuan yang formal bentuknya.
  6. Stalemate, suatu akomodasi dimana pihak-pihak yang bertentangan karena mempunyai kekuatan yang seimbang berhenti pada satu titik tertentu dalam melakukan pertentangannya.
  7. Adjudication, Penyelesaian perkara atau sengketa di pengadilan
Hasil-hasil Akomodasi
  1. Akomodasi dan Intergrasi Masyarakat
Akomodasi dan intergrasi masyarakat telah berbuat banyak untuk menghindarkan masyarakat dari benih-benih pertentangan laten yang akan melahirkan pertentangan baru.
  1. Menekankan Oposisi
Sering kali suatu persaingan dilaksanakan demi keuntungan suatu kelompok tertentu dan kerugian bagi pihak lain
  1. Koordinasi berbagai kepribadian yang berbeda
  2. Perubahan lembaga kemasyarakatan agar sesuai dengan keadaan baru atau keadaan yang berubah
  3. Perubahan-perubahan dalam kedudukan
  4. Akomodasi membuka jalan ke arah asimilasi
Dengan adanya proses asimilasi, para pihak lebih saling mengenal dan dengan timbulnya benih-benih toleransi mereka lebih mudah untuk saling mendekati.
Asimilasi (Assimilation)
Asimilasi merupakan proses sosial dalam taraf lanjut. Ia ditandai dengan adanya usaha-usaha mengurangi perbedaan-perbedaan yang terdapat antara orang-perorangan atau kelompok-kelompok manusia dan juga meliputi usaha-usaha untuk mempertinggi kesatuan tindak, sikap, dan proses-proses mental dengan memerhatikan kepentingan dan tujuan bersama.
Proses Asimilasi timbul bila ada :
  1. Kelompok-kelompok manusia yang berbeda kebudayaannya
  2. orang-perorangan sebagai warga kelompok tadi saling bergaul secara langsung dan intensif untuk waktu yang lama sehingga
  3. kebudayaan-kebudayaan dari kelompok-kelompok manusia tersebut masing-masing berubah dan saling menyesuaikan diri
Beberapa bentuk interaksi sosial yang memberi arah ke suatu proses asimilasi (interaksi yang asimilatif) bila memilii syarat-syarat berikut ini
  1. Interaksi sosial tersebut bersifat suatu pendekatan terhadap pihak lain, dimana pihak yang lain tadi juga berlaku sama
  2. interaksi sosial tersebut tidak mengalami halangan-halangan atau pembatasan-pembatasan
  3. Interaksi sosial tersebut bersifat langsung dan primer
  4. Frekuaensi interaksi sosial tinggi dan tetap, serta ada keseimbangan antara pola-pola tersebut. Artinya, stimulan dan tanggapan-tanggapan dari pihak-pihak yang mengadakan asimilasi harus sering dilakukan dan suatu keseimbangan tertentu harus dicapai dan dikembangankan.
Faktor-faktor yang dapat mempermudah terjadinya suatu asimilasi adalah :
  1. Toleransi
  2. kesempatan-kesempatan yang seimbang di bidang ekonomi
  3. sikap menghargai orang asing dan kebudayaannya
  4. sikap tebuka dari golongan yang berkuasa dalam masyarakat
  5. persamaan dalam unsur-unsur kebudayaan
  6. perkawinan campuran (amaigamation)
  7. adanya musuh bersama dari luar
Faktor umum penghalangan terjadinya asimilasi
  1. Terisolasinya kehidupan suatu golongan tertentu dalam masyarakat
  2. kurangnya pengetahuan mengenai kebudayaan yang dihadapi dan sehubungan dengan itu seringkali menimbulkan faktor ketiga
  3. perasaan takut terhadap kekuatan suatu kebudayaan yang dihadapi
  4. perasaan bahwa suatu kebudayaan golongan atau kelompok tertentu lebih tinggi daripada kebudayaan golongan atau kelompok lainnya.
  5. Dalam batas-batas tertentu, perbedaan warna kulit atau perbedaan ciri-ciri badaniah dapat pula menjadi salah satu penghalang terjadinya asimilasi
  6. In-Group-Feeling yang kuat menjadi penghalang berlangsungnya asimilasi. In Group Feeling berarti adanya suatu perasaan yang kuat sekali bahwa individu terikat pada kelompok dan kebudayaan kelompok yang bersangkutan.
  7. Gangguan dari golongan yang berkuasa terhadap minoritas lain apabila golongan minoritas lain mengalami gangguan-gangguan dari golongan yang berkuasa
  8. faktor perbedaan kepentingan yang kemudian ditambah dengan pertentangan-pertentangan pribadi.
Asimilasi menyebabkan perubahan-perubahan dalam hubungan sosial dan dalam pola adat istiadat serta interaksi sosial. Proses yang disebut terakhir biasa dinamakan akulturasi. Perubahan-perubahan dalam pola adat istiadat dan interaksi sosial kadangkala tidak terlalu penting dan menonjol.
F.      Proses Disosiatif
Proses disosiatif sering disebut sebagai oppositional proccesses, yang persis halnya dengan kerjasama, dapat ditemukan pada setiap masyarakat, walaupun bentuk dan arahnya ditentukan oleh kebudayaan dan sistem sosial masyarakat bersangkutan. Oposisi dapat diartikan sebagai cara berjuang melawan seseorang atau sekelompok manusia untuk mencapai tujuan tertentu. Pola-pola oposisi tersebut dinamakan juga sebagai perjuangan untuk tetap hidup (struggle for existence). Untuk kepentingan analisis ilmu pengetahan, oposisi proses-proses yang disosiatif dibedkan dalam tiga bentuk, yaitu :
Persaingan (Competition)
Persaingan atau competition dapat diartikan sebagai suatu proses sosial dimana individu atau kelompok manusia yang bersaing mencari keuntungan melalui bidang-bidang kehidupan yang pada suatu masa tertentu menjadi pusat perhatian umum (baik perseorangan maupun kelompok manusia) dengan cara menarik perhatian publik atau dengan mempertajam prasangka yang telah ada tanpa mempergunakan ancaman atau kekerasan. Persaingan mempunya dua tipe umum :
  1. Bersifat Pribadi : Individu, perorangan, bersaing dalam memperoleh kedudukan. Tipe ini dinamakan rivalry.
  2. Bersifat Tidak Pribadi : Misalnya terjadi antara dua perusahaan besar yang bersaing untuk mendapatkan monopoli di suatu wilayah tertentu.
Bentuk-bentuk persaingan :
  1. Persaingan ekonomi : timbul karena terbatasnya persediaan dibandingkan dengan jumlah konsumen
  2. Persaingan kebudayaan : dapat menyangkut persaingan bidang keagamaan, pendidikan, dst.
  3. Persaingan kedudukan dan peranan : di dalam diri seseorang maupun di dalam kelompok terdapat keinginan untuk diakui sebagai orang atau kelompok yang mempunyai kedudukan serta peranan terpandang.
  4. Persaingan ras : merupakan persaingan di bidang kebudayaan. Hal ini disebabkan krn ciri-ciri badaniyah terlihat dibanding unsur-unsur kebudayaan lainnya.
Persaingan dalam batas-batas tertentu dapat mempunyai beberapa fungsi :
  1. Menyalrkan keinginan individu atau kelompok yang bersifat kompetitif
  2. Sebagai jalan dimana keinginan, kepentingan serta nilai-nilai yang pada suatu masa medapat pusat perhatian, tersalurkan dengan baik oleh mereka yang bersaing.
  3. Sebagai alat untuk mengadakan seleksi atas dasar seks dan sosial. Persaingan berfungsi untuk mendudukan individu pada kedudukan serta peranan yang sesuai dengan kemampuannya.
  4. Sebagai alat menyaring para warga golongan karya (”fungsional”)
Hasil suatu persaingan terkait erat dengan pelbagai faktor berikut ini ”
  1. Kerpibadian seseorang
  2. Kemajuan : Persaingan akan mendorong seseorang untuk bekerja keras dan memberikan sahamnya untuk pembangunan masyarakat.
  3. Solidaritas kelompok : Persaingan yang jujur akan menyebabkan para individu akan saling menyesuaikan diri dalam hubungan-hubungan sosialnya hingga tercapai keserasian.
  4. Disorganisasi : Perubahan yang terjadi terlalu cepat dalam masyarakat akan mengakibatkan disorganisasi pada struktur sosial.
Kontraversi (Contravetion)
Kontravensi pada hakikatnya merupakan suatu bentuk proses sosial yang berada antara persaingan dan pertentangan atau pertikaian. Bentuk kontraversi menurut Leo von Wiese dan Howard Becker ada 5 :
  1. yang umum meliputi perbuatan seperti penolakan, keenganan, perlawanan, perbuatan menghalang-halangi, protes, gangguang-gangguan, kekerasan, pengacauan rencana
  2. yang sederhana seperti menyangkal pernyataan orang lain di muka umum, memaki-maki melalui surat selebaran, mencerca, memfitnah, melemparkan beban pembuktian pada pihak lain, dst.
  3. yang intensif, penghasutan, menyebarkan desas desus yang mengecewakan pihak lain
  4. yang rahasia, mengumumkan rahasian orang, berkhianat.
  5. yang taktis, mengejutkan lawan, mengganggu dan membingungkan pihak lain.
Contoh lain adalah memaksa pihak lain menyesuaikan diri dengan kekerasan, provokasi, intimidasi, dst.
Menurut Leo von Wiese dan Howard Becker ada 3 tipe umum kontravensi :
  1. Kontraversi generasi masyarakat : lazim terjadi terutama pada zaman yang sudah mengalami perubahan yang sangat cepat
  2. Kontraversi seks : menyangkut hubungan suami dengan istri dalam keluarga.
  3. Kontraversi Parlementer : hubungan antara golongan mayoritas dengan golongan minoritas dalam masyarakat.baik yang menyangkut hubungan mereka di dalam lembaga legislatif, keagamaan, pendidikan, dst.
Tipe Kontravensi :
  1. Kontravensi antarmasyarakat setempat, mempunyai dua bentuk :
    1. Kontavensi antarmasyarakat setempat yang berlainan (intracommunity struggle)
    2. Kontravensi antar golongan-golongan dalam satu masyarakat setempat (intercommunity struggle)
  1. Antagonisme keagamaan
  2. Kontravensi Intelektual : sikap meninggikan diri dari mereka yang mempunyai latar belakang pendidikan yang tinggi atau sebaliknya
  3. Oposisi moral : erat hubungannya dengan kebudayaan.
Pertentangan (Pertikaian atau conflict)
Pribadi maupun kelompok menydari adanya perbedaan-perbedaan misalnya dalam ciri-ciri badaniyah, emosi, unsur-unsur kebudayaan, pola-pola perilaku, dan seterusnya dengan pihak lain. Ciri tersebut dapat mempertajam perbedaan yang ada hingga menjadi suatu pertentangan atau pertikaian.
Sebab musabab pertentangan adalah :
  1. Perbedaan antara individu
  2. Perbedaan kebudayaan
  3. perbedaan kepentingan
  4. perubahan sosial.
Pertentangan dapat pula menjadi sarana untuk mencapai keseimbangan antara kekuatan-kekuatan dalam masyarakat. Timbulnya pertentangan merupakan pertanda bahwa akomodasi yang sebelumnya telah tercapai.
Pertentangan mempunyai beberapa bentuk khusus:
  1. Pertentangan pribadi
  2. Pertentangan Rasial : dalam hal ini para pihak akan menyadari betapa adanya perbedaan antara mereka yang menimbulkan pertentangan
  3. Pertentangan antara kelas-kelas sosial : disebabkan karena adanya perbedaan kepentingan
  4. Pertentangan politik : menyangkut baik antara golongan-golongan dalam satu masyarakat, maupun antara negara-negara yang berdaulat
  5. Pertentangan yang bersifat internasional : disebabkan perbedaan-perbedaan kepentingan yang kemudian merembes ke kedaulatan negara
Akibat-akibat bentuk pertentangan
  1. Tambahnya solidaritas in-group
  2. Apabila pertentangan antara golongan-golongan terjadi dalam satu kelompok tertentu, akibatnya adalah sebaliknya, yaitu goyah dan retaknya persatuan kelompok tersebut.
  3. Perubahan kepribadian para individu
  4. Hancurnya harta benda dan jatuhnya korban manusia
  5. Akomodasi, dominasi, dan takluknya salah satu pihak
Baik persaingan maupun pertentangan merupakan bentuk-bentuk proses sosial disosiatif yang terdapat pada setiap masyarakat.

»»  READMORE...