Tampilkan postingan dengan label Dongeng (fiksiana). Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dongeng (fiksiana). Tampilkan semua postingan

Senin, 06 Februari 2012

Semut dan Belalang

 
Dikisahkan bahwa semut-semut selama musim panas selalu bekerja membangun rumah dan mengumpulkan makanan untuk persiapan musim dingin. Di saat yang sama belalang asik bersenang-senang sepanjang musim panas. Hingga ketika musim dingin tiba, semut-semut dapat bersenang-senang menikmati makanan yang selama ini telah dikumpulkannya. Sedangkan belalang kedinginan tanpa rumah dan kelaparan tanpa ada sumber makanan.
Pesan moral dari kisah tersebut adalah: Be responsible to your self!
_________________________________________________________________________
Versi lanjutannya dengan ‘modifikasi.’
Saat ’pak belalang’ kedinginan, sakit, dan kelaparan, itu merupakan bad news. Dan bad news is good news. Kalangan pers pun berdatangan, Metro TV, TV One, SCTV, dll. tak ketinggalan netizen dari Kompasiana turut melaporkan kondisi pak belalang yang tinggal di ‘pos keamanan’ selama ini tanpa makanan. Dengan kemasan penyajian yang menarik, digambarkan pula betapa kontrasnya kondisi pak belalang dengan kehidupan semut-semut yang sedang ‘berpesta’ dalam kehangatan rumah mewahnya dengan makanan melimpah.
Indonesia terkesima, tercengang, miris hatinya, tak terasa air mata pun meleleh. Berempati terhadap tokoh yang ter-‘dzolimi.’ Bagaimana mungkin negara dengan potensi KEKAYAAN sebesar ini ternyata masih banyak pak belalang-pak belalang lain yang hidupnya menderita….
Kemudian, Kermit Kodok pun muncul di TV berkomentar panjang lebar mengenai mengenaskannya kondisi negeri ini. Lalu Kermit Kodok dan Pak Belalang diundang Kick Andy untuk menceritakan kisah hidupnya yang tragis, diakhiri dengan lagu yang dinyanyikan mereka “Orang Termiskin di Dunia.”
Sementara itu di depan rumah semut-semut, berdatangan para demonstran dengan orasi dan memampang berbagai macam spanduk, seperti “Bersenang-senang di atas penderitaan Belalang!,” atau “Senang Melihat Belalang Susah?”
Para tokoh agama saling bertemu, mendiskusikan, dan mempertanyakan ’kegagalan’ pemerintah selama ini. Tapi kali ini tidak ada istighotsah segala….
Pemerintah menyatakan tidak mudah memulihkan kondisi ekonomi masyarakat dari keterpurukan ekonomi atas kepemimpinan presiden-presiden sebelumnya (kesalahan masa lalu).
Akhirnya keluar kebijakan mengenai program-program pemberian kredit usaha mikro atau pemberdayaan ekonomi rakyat, dsb. Jumlah pinjamannya beragam mulai dari 10 juta hingga 50 juta per-belalang. Sehingga banyak belalang yang menerima kucuran kredit tersebut. Dan ini merupakan bantuan ‘pinjaman tak perlu bayar’. Sayangnya ternyata program-program seperti ini malah menimbulkan ekses masalah baru, bukan menumbuh kembangkan jiwa enterpreneur.
Ada dana yang digelapkan oleh oknum pengelola dana di Pemda, ada yang beli sepeda motor baru, HP & BB baru bahkan ada yang lantas kawin lagi.
Tak mau ketinggalan pihak perbankan pun turut mengucurkan bantuan kredit seperti di atas, dengan bunga tentunya, agar digunakan masyarakat kecil untuk berusaha dengan sungguh-sungguh. Namun karena tidak mampu melakukan pengelolaan uang dengan baik sehingga pembayaran kreditnya pun macet. Seluruh aset usaha ditarik perbankan.
Kisah ini berakhir dengan melihat pak belalang-pak belalang yang sejenak menjadi pengusaha dadakan lalu kembali menjadi pengangguran setelah menghabiskan seluruh dana bantuan sampai ke tetes terakhir. Tingkat pengangguran dan kemiskinan pun malah semakin bertambah banyak.
Kini semut-semut justru yang melakukan perbaikan kondisi perekonomian negeri dengan membuka dan menciptakan lapangan kerja-lapangan kerja baru untuk para belalang.
Pesan moral:
  1. Bantuan finansial / modal hanya bisa berhasil jika diberikan kepada orang-orang yang biasa bekerja, baik di sektor formal maupun informal. (bukan pengangguran malas tanpa memiliki harapan. Yang penting terus berusaha)
  2. Membantu orang-orang seperti pak belalang dalam bentuk ‘pelatihan keterampilan’ untuk menolong dirinya sendiri.
  3. Be careful how you vote in 2014 :)
 sumber: http://fiksi.kompasiana.com/dongeng/2011/04/07/dongeng-semut-dan-belalang/
»»  READMORE...

Pohon Beringin yang Angkuh

Oleh: Achmad Siddik Thoha

Di sebuah hutan hiduplah pohon beringin yang besar. Beringin hidup di tepi sungai dengan gagahnya. Di samping Beringin tumbuhlah alang-alang yang mengelilinginya.

Beringin berkata kepada alang-alang yang tumbuh di tepi sungai,
“Aku tidak heran melihatmu sedih dan mengerang kesakitan. Kamu memang sangat lemah. Burung pipit kecil yang hinggap di badanmu saja sudah sangat berat. Angin sepoi-sepoi tampak seperti angin badai bagimu. Sekarang lihatlah aku! Tidak ada badai yang akan mampu menundukkan kepalaku. Kamu akan jauh lebih aman tumbuh di sisiku. Aku bisa melindungimu dari angin yang sekarang bertiup dan melambai-lambaikan daunmu.“

“Jangan khawatir tentang aku,” kata si alang-alang,
“Aku punya sedikit alasan untuk takut angin daripada kamu. Aku memang merendah dan membungkuk, tapi aku tidak pernah putus asa. Siapa yang bisa tertawa terakhir, ialah yang terbaik!”

Malam itu datanglah badai yang menakutkan. Beringin berdiri tegak. Alang-alang sudah membungkukkan diri sebelum badai besar itu datang. Angin menjadi semakin marah, dan, mencabut Beringin angkuh lalu melemparkannya ke tanah.

Ketika pagi datang , berdirilah alang-alang ramping yang berkilauan dengan embun dan dengan lembut berayun-ayun tertiup angin. Alang-alang tersenyum ringan. Ia telah berhasil mempertahankan diri dari keganasan badai dengan cara membungkukkan dirinya. Kesombongan hanya akan membawa pada kehancuran. Inilah pelajaran berharga dari sang Alang-alang.
sumber: http://fiksi.kompasiana.com/dongeng/2012/02/02/pohon-beringin-yang-angkuh/
»»  READMORE...

Anggrek Bulan

Pada jaman dahulu kala, berkuasalah seorang Raja yang adil dan bijaksana. Sang Raja sangat dicintai oleh rakyatnya. Di bawah pemerintahannya negara aman dan makmur. Hanya sayangnya Raja belum beristri. Sedangkan rakyatnya menginginkan hadirnya seorang pendamping bagi Raja untuk menjadi Ratu mereka.

Keinginan rakyat ini disampaikan kepada Raja oleh penasihat-penasihat istana. Raja pun maklum. Sebagai seorang raja, beliau menyadari perlunya seorang pendamping yang sepadan untuk dirinya. Maka Raja pun memutuskan untuk pergi berkelana guna menemukan gadis yang pantas untuk menjadi seorang Ratu.

Sebelum memulai perjalanannya, Raja pergi menghadap ibunya, Ibunda Ratu, memohon doa restu. Ibunda Ratu memberikan restu lalu menghadiahkan Raja sebuah pusaka berupa tusuk konde anggrek bulan. Sang Ibunda Ratu berpesan bahwa tusuk konde ini akan membantu Raja untuk mendapatkan gadis yang diinginkannya. Setelah selesai bersiap-siap, Raja pun berangkat.

Setelah beberapa lama berkelana, tibalah Sang Raja di sebuah dusun kecil di kaki bukit. Menurut berita yang beredar di masyarakat, di sana ada seorang gadis jelita yang baik hati bernama Anggrek Bulan. Karena kecantikannya dan kebaikan hatinya, banyak orang berkata bahwa gadis itu adalah jelmaan dari bunga Anggrek Bulan yang terkenal karena keindahan dan keharumannya. Sebab penasaran dengan sosok yang memiliki nama sama dengan pusaka tusuk konde milik ibunya, maka Raja memutuskan untuk berkenalan dengannya. Maka Raja pun pergi mengunjungi gubuk kecil tempat tinggal Anggrek Bulan di dusun itu.

Ketika Raja akhirnya bertemu dengan Anggrek Bulan, Raja langsung terpesona. Tutur kata gadis itu yang sopan dan perilakunya yang lemah lembut membuat Raja jatuh hati padanya. Anggrek Bulan juga tertarik kepada Raja karena kebijaksanaannya. Tetapi sayang, Kakek Anggrek Bulan kurang setuju putrinya menjadi istri Raja. Namun Raja keras kepala dan tetap ingin menyunting Anggrek Bulan. Maka Kakek Anggrek Bulan mengajukan syarat. Sang Raja harus mampu memekarkan bunga anggrek bulan memenuhi sebuah batu tebing yang terletak di tengah-tengah hutan di kaki bukit.

Betapa sulitnya permintaan Kakek Anggrek Bulan! Tetapi Raja bukanlah seseorang yang gampang berputus asa. Dia pun bersemedi memohon petunjuk Yang Kuasa. Jika benar dia berjodoh dengan Anggrek Bulan maka dimintanya Tuhan bermurah hati menunjukan jalan untuk memenuhi permintaan Kakek Anggrek Bulan. Pada malam ketiga, tiba-tiba Raja mendapat bisikan gaib yang memintanya menggunakan pusaka pemberian Ibunda Ratu untuk membantunya memenuhi permintaan Kakek Anggrek Bulan. Raja segera mengeluarkan pusaka tusuk konde Anggrek Bulan. Mendadak tusuk konde itu melesat dari genggaman Raja dan berpijar di angkasa. Dalam hitungan menit, bukan hanya batu tebing yang terletak di tengah-tengah hutan tetapi seluruh daerah hutan di kaki bukit dipenuhi oleh bunga anggrek bulan yang mekar dan menyebarkan wangi yang semerbak.

Melihat permintaannya telah berhasil dipenuhi oleh Raja serta kegigihan dari Raja sendiri untuk tetap menyunting Anggrek Bulan, Kakek Anggrek Bulan akhirnya memberikan restunya. Anggrek Bulan menikah dengan Raja dan menjadi seorang Ratu. Keduanya memerintah dengan bijaksana dan negara mereka beserta rakyatnya semakin makmur dan sejahtera.

Jakarta, Januari-Februari 2012
sumber : http://fiksi.kompasiana.com/dongeng/2012/02/03/anggrek-bulan/
»»  READMORE...

Minggu, 15 Januari 2012

Dongeng: Aji Saka

aji-sk 
Dahulu kala, ada sebuah kerajaan bernama Medang Kamulan yang diperintah oleh raja bernama Prabu Dewata Cengkar yang buas dan suka makan manusia. Setiap hari sang raja memakan seorang manusia yang dibawa oleh Patih Jugul Muda. Sebagian kecil dari rakyat yang resah dan ketakutan mengungsi secara diam-diam ke daerah lain.
Di dusun Medang Kawit ada seorang pemuda bernama Aji Saka yang sakti, rajin dan baik hati. Suatu hari, Aji Saka berhasil menolong seorang bapak tua yang sedang dipukuli oleh dua orang penyamun. Bapak tua yang akhirnya diangkat ayah oleh Aji Saka itu ternyata pengungsi dari Medang Kamulan. Mendengar cerita tentang kebuasan Prabu Dewata Cengkar, Aji Saka berniat menolong rakyat Medang Kamulan. Dengan mengenakan serban di kepala Aji Saka berangkat ke Medang Kamulan.

Perjalanan menuju Medang Kamulan tidaklah mulus, Aji Saka sempat bertempur selama tujuh hari tujuh malam dengan setan penunggu hutan, karena Aji Saka menolak dijadikan budak oleh setan penunggu selama sepuluh tahun sebelum diperbolehkan melewati hutan itu.

Tapi berkat kesaktiannya, Aji Saka berhasil mengelak dari semburan api si setan. Sesaat setelah Aji Saka berdoa, seberkas sinar kuning menyorot dari langit menghantam setan penghuni hutan sekaligus melenyapkannya.
Aji Saka tiba di Medang Kamulan yang sepi. Di istana, Prabu Dewata Cengkar sedang murka karena Patih Jugul Muda tidak membawa korban untuk sang Prabu.

Dengan berani, Aji Saka menghadap Prabu Dewata Cengkar dan menyerahkan diri untuk disantap oleh sang Prabu dengan imbalan tanah seluas serban yang digunakannya.

Saat mereka sedang mengukur tanah sesuai permintaan Aji Saka, serban terus memanjang sehingga luasnya melebihi luas kerajaan Prabu Dewata Cengkar. Prabu marah setelah mengetahui niat Aji Saka sesungguhnya adalah untuk mengakhiri kelalimannya.

Ketika Prabu Dewata Cengkar sedang marah, serban Aji Saka melilit kuat di tubuh sang Prabu. Tubuh Prabu Dewata Cengkar dilempar Aji Saka dan jatuh ke laut selatan kemudian hilang ditelan ombak.

Aji Saka kemudian dinobatkan menjadi raja Medang Kamulan. Ia memboyong ayahnya ke istana. Berkat pemerintahan yang adil dan bijaksana, Aji Saka menghantarkan Kerajaan Medang Kamulan ke jaman keemasan, jaman dimana rakyat hidup tenang, damai, makmur dan sejahtera

sumber
»»  READMORE...

Dongeng: Telaga Bidadari

Dahulu kala, ada seorang pemuda yang tampan dan gagah. Ia bernama Awang Sukma. Awang Sukma mengembara sampai ke tengah hutan belantara. Ia tertegun melihat aneka macam kehidupan di dalam hutan. Ia membangun sebuah rumah pohon di sebuah dahan pohon yang sangat besar. Kehidupan di hutan rukun dan damai. Setelah lama tinggal di hutan, Awang Sukma diangkat menjadi penguasa daerah itu dan bergelar Datu. Sebulan sekali, Awang Sukma berkeliling daerah kekuasaannya dan sampailah ia di sebuah telaga yang jernih dan bening. Telaga tersebut terletak di bawah pohon yg rindang dengan buah-buahan yang banyak. Berbagai jenis burung dan serangga hidup dengan riangnya. “Hmm, alangkah indahnya telaga ini. Ternyata hutan ini menyimpan keindahan yang luar biasa,” gumam Datu Awang Sukma.

 Keesokan harinya, ketika Datu Awang Sukma sedang meniup serulingnya, ia mendengar suara riuh rendah di telaga. Di sela-sela tumpukan batu yang bercelah, Datu Awang Sukma mengintip ke arah telaga. Betapa terkejutnya Awang Sukma ketika melihat ada 7 orang gadis cantik sedang bermain air. “Mungkinkah mereka itu para bidadari?” pikir Awang Sukma. Tujuh gadis cantik itu tidak sadar jika mereka sedang diperhatikan dan tidak menghiraukan selendang mereka yang digunakan untuk terbang, bertebaran di sekitar telaga. Salah satu selendang tersebut terletak di dekat Awang Sukma. “Wah, ini kesempatan yang baik untuk mendapatkan selendang di pohon itu,” gumam Datu Awang Sukma. 

Mendengar suara dedaunan, para putri terkejut dan segera mengambil selendang masing-masing. Ketika ketujuh putri tersebut ingin terbang, ternyata ada salah seorang putri yang tidak menemukan pakaiannya. Ia telah ditinggal oleh keenam kakaknya. Saat itu, Datu Awang Sukma segera keluar dari persembunyiannya. “Jangan takut tuan putri, hamba akan menolong asalkan tuan putri sudi tinggal bersama hamba,” bujuk Datu Awang Sukma. Putri Bungsu masih ragu menerima uluran tangan Datu Awang Sukma. Namun karena tidak ada orang lain maka tidak ada jalan lain untuk Putri Bungsu kecuali menerima pertolongan Awang Sukma. 

Datu Awang Sukma sangat mengagumi kecantikan Putri Bungsu. Demikian juga dengan Putri Bungsu. Ia merasa bahagia berada di dekat seorang yang tampan dan gagah perkasa. Akhirnya mereka memutuskan untuk menjadi suami istri. Setahun kemudian lahirlah seorang bayi perempuan yang cantik dan diberi nama Kumalasari. Kehidupan keluarga Datu Awang Sukma sangat bahagia. 

 Namun, pada suatu hari seekor ayam hitam naik ke atas lumbung dan mengais padi di atas permukaan lumbung. Putri Bungsu berusaha mengusir ayam tersebut. Tiba-tiba matanya tertuju pada sebuah bumbung bambu yang tergeletak di bekas kaisan ayam. “Apa kira-kira isinya ya?” pikir Putri Bungsu. Ketika bumbung dibuka, Putri Bungsu terkejut dan berteriak gembira. “Ini selendangku!, seru Putri Bungsu. Selendang itu pun didekapnya erat-erat. Perasaan kesal dan jengkel tertuju pada suaminya. Tetapi ia pun sangat sayang pada suaminya. 

Akhirnya Putri Bungsu membulatkan tekadnya untuk kembali ke kahyangan.  “Kini saatnya aku harus kembali!,” katanya dalam hati. Putri Bungsu segera mengenakan selendangnya sambil menggendong bayinya. Datu Awang Sukma terpana melihat kejadian itu. Ia langsung mendekat dan minta maaf atas tindakan yang tidak terpuji yaitu menyembunyikan selendang Putri Bungsu. Datu Awang Sukma menyadari bahwa perpisahan tidak bisa dielakkan. “Kanda, dinda mohon peliharalah Kumalasari dengan baik,” kata Putri Bungsu kepada Datu Awang Sukma.” Pandangan Datu Awang Sukma menerawang kosong ke angkasa. “Jika anak kita merindukan dinda, ambillah tujuh biji kemiri, dan masukkan ke dalam bakul yang digoncang-goncangkan dan iringilah dengan lantunan seruling. Pasti dinda akan segera datang menemuinya,” ujar Putri Bungsu. 

Putri Bungsu segera mengenakan selendangnya dan seketika terbang ke kahyangan. Datu Awang Sukma menap sedih dan bersumpah untuk melarang anak keturunannya memelihara ayam hitam yang dia anggap membawa malapetaka.
Pesan moral : Jika kita menginginkan sesuatu sebaiknya dengan cara yang baik dan halal. Kita tidak boleh mencuri atau mengambil barang/harta milik orang lain karena suatu saat kita akan mendapatkan hukuman. sumber
»»  READMORE...

Dongeng: Asal Usul Danau Toba


Di sebuah desa di wilayah Sumatera, hidup seorang petani. Ia seorang petani yang rajin bekerja walaupun lahan pertaniannya tidak luas. Ia bisa mencukupi kebutuhannya dari hasil kerjanya yang tidak kenal lelah. Sebenarnya usianya sudah cukup untuk menikah, tetapi ia tetap memilih hidup sendirian. Di suatu pagi hari yang cerah, petani itu memancing ikan di sungai. “Mudah-mudahan hari ini aku mendapat ikan yang besar,” gumam petani tersebut dalam hati. Beberapa saat setelah kailnya dilemparkan, kailnya terlihat bergoyang-goyang. Ia segera menarik kailnya. Petani itu bersorak kegirangan setelah mendapat seekor ikan cukup besar.


 Ia takjub melihat warna sisik ikan yang indah. Sisik ikan itu berwarna kuning emas kemerah-merahan. Kedua matanya bulat dan menonjol memancarkan kilatan yang menakjubkan. “Tunggu, aku jangan dimakan! Aku akan bersedia menemanimu jika kau tidak jadi memakanku.” Petani tersebut terkejut mendengar suara dari ikan itu. Karena keterkejutannya, ikan yang ditangkapnya terjatuh ke tanah. Kemudian tidak berapa lama, ikan itu berubah wujud menjadi seorang gadis yang cantik jelita. “Bermimpikah aku?,” gumam petani. 

“Jangan takut pak, aku juga manusia seperti engkau. Aku sangat berhutang budi padamu karena telah menyelamatkanku dari kutukan Dewata,” kata gadis itu. “Namaku Puteri, aku tidak keberatan untuk menjadi istrimu,” kata gadis itu seolah mendesak. Petani itupun mengangguk. Maka jadilah mereka sebagai suami istri. Namun, ada satu janji yang telah disepakati, yaitu mereka tidak boleh menceritakan bahwa asal-usul Puteri dari seekor ikan. Jika janji itu dilanggar maka akan terjadi petaka dahsyat. 

 Setelah sampai di desanya, gemparlah penduduk desa melihat gadis cantik jelita bersama petani tersebut. “Dia mungkin bidadari yang turun dari langit,” gumam mereka. Petani merasa sangat bahagia dan tenteram. Sebagai suami yang baik, ia terus bekerja untuk mencari nafkah dengan mengolah sawah dan ladangnya dengan tekun dan ulet. Karena ketekunan dan keuletannya, petani itu hidup tanpa kekurangan dalam hidupnya. Banyak orang iri, dan mereka menyebarkan sangkaan buruk yang dapat menjatuhkan keberhasilan usaha petani. “Aku tahu Petani itu pasti memelihara makhluk halus! ” kata seseorang kepada temannya. Hal itu sampai ke telinga Petani dan Puteri. Namun mereka tidak merasa tersinggung, bahkan semakin rajin bekerja. 

Setahun kemudian, kebahagiaan Petan dan istri bertambah, karena istri Petani melahirkan seorang bayi laki-laki. Ia diberi nama Putera. Kebahagiaan mereka tidak membuat mereka lupa diri. Putera tumbuh menjadi seorang anak yang sehat dan kuat. Ia menjadi anak manis tetapi agak nakal. Ia mempunyai satu kebiasaan yang membuat heran kedua orang tuanya, yaitu selalu merasa lapar. Makanan yang seharusnya dimakan bertiga dapat dimakannya sendiri.
Lama kelamaan, Putera selalu membuat jengkel ayahnya. Jika disuruh membantu pekerjaan orang tua, ia selalu menolak. Istri Petani selalu mengingatkan Petani agar bersabar atas ulah anak mereka. “Ya, aku akan bersabar, walau bagaimanapun dia itu anak kita!” kata Petani kepada istrinya. “Syukurlah, kanda berpikiran seperti itu. Kanda memang seorang suami dan ayah yang baik,” puji Puteri kepada suaminya.

 Memang kata orang, kesabaran itu ada batasnya. Hal ini dialami oleh Petani itu. Pada suatu hari, Putera mendapat tugas mengantarkan makanan dan minuman ke sawah di mana ayahnya sedang bekerja. Tetapi Putera tidak memenuhi tugasnya. Petani menunggu kedatangan anaknya, sambil menahan haus dan lapar. Ia langsung pulang ke rumah. Di lihatnya Putera sedang bermain bola. Petani menjadi marah sambil menjewer kuping anaknya. “Anak tidak tau diuntung ! Tak tahu diri ! Dasar anak ikan !,” umpat si Petani tanpa sadar telah mengucapkan kata pantangan itu.
 Setelah petani mengucapkan kata-katanya, seketika itu juga anak dan istrinya hilang lenyap. Tanpa bekas dan jejak. Dari bekas injakan kakinya, tiba-tiba menyemburlah air yang sangat deras dan semakin deras. Desa Petani dan desa sekitarnya terendam semua. Air meluap sangat tinggi dan luas sehingga membentuk sebuah telaga. Dan akhirnya membentuk sebuah danau. Danau itu akhirnya dikenal dengan nama Danau Toba. Sedangkan pulau kecil di tengahnya dikenal dengan nama Pulau Samosir. 

Moral : Jadilah seorang yang sabar dan bisa mengendalikan emosi. Dan juga, jangan melanggar janji yang telah kita buat atau ucapkan

sumber
»»  READMORE...

Asal Usul Tanjung Menangis di Halmahera

tg-menangis 
Dahulu kala terdapat kerajaan besar di Pulau Halmahera. Rajanya belum lama meninggal dunia. Ia meninggalkan dua anak laki-laki dan satu anak perempuan. Mereka bernama Baginda Arif, Putra Baginda Binaut, dan Putri Baginda Nuri. Putra Baginda Binaut sangat menginginkan kedudukan sebagai raja untuk menggantikan ayahnya. Keinginan itu disampaikan kepada patih kerajaan. “Aku harus menggantikan kedudukan ayahku.” Kata Binaut kepada sang Patih dengan penuh keyakinan. 

Agar sang Patih ikut mendukung rencana tersebut, maka Binaut memberi janji bahwa jabatan sang Patih akan tetap dipertahankan, dan ia akan diberi hadiah emas berlian. Berkat bujuk rayu dan janji itulah, Sang Patih bersedia mendukung Binaut menjadi raja. Sang Patih segera mengatur para pengawal kerajaan untuk menangkap Sri Baginda Ratu, Putra Baginda Arif dan Putri Baginda Nuri. Setelah ditangkap, mereka dijebloskan di penjara bawah tanah.

“Kanda Binaut benar-benar kejam! Tamak! Tak tahu diri!” umpat Putri Baginda Nuri dengan penuh emosi. Namun, Sri Baginda Ratu meminta agar Nuri bersabar dan tawakal dalam menghadapi cobaan ini. “Yang benar akan tampak benar dan yang salah akan tampak salah. Dan yang salah itu, kelak akan mendapatkan hukuman yang setimpal,” kata Sri Baginda Ratu menghibur dengan penuh keibuan, betapapun sangat sakit hati melihat kekejaman putra kandungnya. 

Binaut merasa gembira setelah menjebloskan ibu dan saudara kandungnya ke penjara. Ia mengumumkan kepada rakyat kerajaan bahwa Sri Baginda Ratu dan putra-putrinya mengalami musibah di laut. Saat itu pula, Putra Baginda Binaut minta kepada para pembesar istana untuk segera dilantik menjadi raja. Sejak itu, Sri Baginda Binaut bersikap angkuh dan tinggi hati. Ia menganggap sebagai raja yang paling berkuasa di muka bumi ini. 

 Demi kepentingan dirinya, ia memerintahkan kepada seluruh rakyat kerajaan agar bekerja giat untuk membangun istana megah. Selain itu, diberlakukan berbagai pungutan pajak, diantaranya pajak hasil bumi, pajak hewan, pajak tanah. “Bukan main! Raja Binaut penghisap dan penindas rakyat!” kata salah seorang penduduk kepada yang lain. Mereka mengeluh dengan peraturan yang dikeluarkan Raja Binaut yang sangat merugikan rakyat. Tetapi, mereka takut membantah, apalagi berani melawan perintah raja, pasti kena hukuman berat. 

Ada seorang pelayan istana raja bernama Bijak. Ia melarikan diri dari istana dan membentuk sebuah pasukan tangguh melawan raja Binaut. Paling tidak, mereka dapat membebaskan Sri Baginda Ratu dan putra-putrinya. “Kita harus segera bertindak menyelamatkan mereka,” kata Bijak dengan penuh harap. Hal ini didukung teman-temannya. 

 Waktu itu, banyak para pegawai istana yang telah membelot bergabung dengan Bijak. Bijak pun telah mempelajari bagaimana mengadakan penyelamatan itu. Bila penyelamatan berhasil, direncanakan mengadakan penyerangan ke istana Raja Binaut. Berkat kepemimpinan Bijak, dalam sekejap mereka berhasil menyelamatkan Sri Baginda Ratu dan putra-putrinya yang dipenjara Binaut. Mereka langsung dibawa ke hutan. 

“Kuucapkan terima kasih tak terhingga,” ucap Sri Baginda Ratu dengan tersendat. Mereka tampak kurus kering karena selama dipenjara di bawah tanah jarang makan dan minum. Bijak pun menyampaikan kepada Sri Baginda Ratu akan mengadakan penyerangan ke istana. Tetapi, Sri Baginda Ratu tidak setuju, ia tidak mau berlumuran darah bangsanya sendiri. Ketamakan, kebengisan, iri dan dengki akan kalah dengan doa permohonan yang disampaikan kepada Tuhan. 

Raja Binaut berlaku semena-mena terhadap rakyatnya. Sang Patih yang selalu mendukung keputusan Raja Binaut lama-kelamaan tidak senang dengan perilaku Raja. Tetapi ia tidak berani mengeluarkan sikap yang melawan. Kalau itu dilakukan pasti ia langsung dipecat dan dijebloskan penjara. Saat itu penjara penuh dengan tahanan. “Siapa yang melawan Raja, hukuman penjaralah tempatnya.” Itulah kesombongan Raja Binaut. Karena ia merasa yang paling berkuasa dan paling tinggi. 

Namn tak disangka, sebuah bencana alam terjadi. Sebuah gunung meletus dengan sangat dahsyat. Lahar panas mengalir ke segala penjuru. Istana Raja Binaut pun menjadi sasaran lahar panas. Ternyata sebagian besar lahar panas telah meluluh lantakkan bangunan istana yang baru saja selesai dibangun dari hasil keringat rakyat. Raja Binaut kebingungan mencari perlindungan. Ia lari pontang-panting tak tahu arah tujuan. 

Anehnya, lahar seolah-olah mengejar kemanapun Raja Binaut lari. “Tolong-tolong!” teriak Binaut. Lahar panas itu sedikit demi sedikit menempel di kaki Binaut. Seketika itu juga kakinya melepuh dan kulitnya terkelupas. Ia berusaha untuk tidak berhenti berlari. Lahar panas mulai menjalar ke tubuhnya. Ia sangat tersiksa. Ketika ia mengalami siksaan lahar panas itu ia ingat ibunya. Ia mohon ampun. “Ampunilah aku, bu! Maafkanlah aku, bu! Aku sudah tidak kuat menanggung penderitaan ini! Aku tidak akan mengkhianati ibu, kakak Arif dan adik Nuri lagi. Maafkanlah aku! Ibu! Ibu!” teriak Binaut karena kesakitan. Namun teriakan itu hilang perlahan-lahan dan akhirnya ia meninggal. 

Jasad Binaut terdampar di sebuah pantai. Seketika itu juga tempat itu berubah menjadi sebuah Tanjung. Konon, tanjung itu sering terdengar orang menangis minta belas kasihan karena mengalami siksaan yang amat sangat. Kini tempat terdamparnya Binaut itu dinamakan Tanjung Menangis. 

Moral : Moral : Sifat iri, dengki dan tamak akan membawa celaka dan pembalasan setimpal. Karenanya jauhilah sifat-sifat tersebut.

sumber
»»  READMORE...

Cinderela

Di sebuah kerajaan, ada seorang anak perempuan yang cantik dan baik hati. Ia tinggal bersama ibu dan kedua kakak tirinya, karena orangtuanya sudah meninggal dunia. Di rumah tersebut ia selalu disuruh mengerjakan seluruh perkerjaan rumah. Ia selalu dibentak dan hanya diberi makan satu kali sehari oleh ibu tirinya. Kakak-kakaknya yang jahat memanggilnya “Cinderela”. Cinderela artinya gadis yang kotor dan penuh dengan debu. “Nama yang cocok buatmu !” kata mereka.

Setelah beberapa lama, pada suatu hari datang pengawal kerajaan yang menyebarkan surat undangan pesta dari Istana. “Asyik… kita akan pergi dan berdandan secantik-cantiknya. Kalau aku jadi putri raja, ibu pasti akan gembira”, kata mereka. Hari yang dinanti tiba, kedua kakak tiri Cinderela mulai berdandan dengan gembira. Cinderela sangat sedih sebab ia tidak diperbolehkan ikut oleh kedua kakaknya ke pesta di Istana. “Baju pun kau tak punya, apa mau pergi ke pesta dengan baju sepert itu?”, kata kakak Cinderela.

Setelah semua berangkat ke pesta, Cinderela kembali ke kamarnya. Ia menangis sekeras-kerasnya karena hatinya sangat kesal. “Aku tidak bisa pergi ke istana dengan baju kotor seperti ini, tapi aku ingin pergi..” Tidak berapa lama terdengar sebuah suara. “Cinderela, berhentilah menangis.” Ketika Cinderela berbalik, ia melihat seorang peri. Peri tersenyum dengan ramah. “Cinderela bawalah empat ekor tikus dan dua ekor kadal.” Setelah semuanya dikumpulkan Cinderela, peri membawa tikus dan kadal tersebut ke kebun labu di halaman belakang. “Sim salabim!” sambil menebar sihirnya, terjadilah suatu keajaiban. Tikus-tikus berubah menjadi empat ekor kuda, serta kadal-kadal berubah menjadi dua orang sais. Yang terakhir, Cinderela berubah menjadi Putri yang cantik, dengan memakai gaun yang sangat indah.

Karena gembiranya, Cinderela mulai menari berputar-putar dengan sepatu kacanya seperti kupu-kupu. Peri berkata,”Cinderela, pengaruh sihir ini akan lenyap setelah lonceng pukul dua belas malam berhenti. Karena itu, pulanglah sebelum lewat tengah malam. “Ya Nek. Terimakasih,” jawab Cinderela. Kereta kuda emas segera berangkat membawa Cinderela menuju istana. Setelah tiba di istana, ia langsung masuk ke aula istana. Begitu masuk, pandangan semua yang hadir tertuju pada Cinderela. Mereka sangat kagum dengan kecantikan Cinderela. “Cantiknya putrid itu! Putri dari negara mana ya ?” Tanya mereka. Akhirnya sang Pangeran datang menghampiri Cinderela. “Putri yang cantik, maukah Anda menari dengan saya ?” katanya. “Ya…,” kata Cinderela sambil mengulurkan tangannya sambil tersenyum. Mereka menari berdua dalam irama yang pelan. Ibu dan kedua kakak Cinderela yang berada di situ tidak menyangka kalau putrid yang cantik itu adalah Cinderela.

Pangeran terus berdansa dengan Cinderela. “Orang seperti andalah yang saya idamkan selama ini,” kata sang Pangeran. Karena bahagianya, Cinderela lupa akan waktu. Jam mulai berdentang 12 kali. “Maaf Pangeran saya harus segera pulang..,”. Cinderela menarik tangannya dari genggaman pangeran dan segera berlari ke luar Istana. Di tengah jalan, sepatunya terlepas sebelah, tapi Cinderela tidak memperdulikannya, ia terus berlari. Pangeran mengejar Cinderela, tetapi ia kehilangan jejak Cinderela. Di tengah anak tangga, ada sebuah sepatu kaca kepunyaan Cinderela. Pangeran mengambil sepatu itu. “Aku akan mencarimu,” katanya bertekad dalam hati. Meskipun Cinderela kembali menjadi gadis yang penuh debu, ia amat bahagia karena bisa pergi pesta.

Esok harinya, para pengawal yang dikirim Pangeran datang ke rumah-rumah yang ada anak gadisnya di seluruh pelosok negeri untuk mencocokkan sepatu kaca dengan kaki mereka, tetapi tidak ada yang cocok. Sampai akhirnya para pengawal tiba di rumah Cinderela. “Kami mencari gadis yang kakinya cocok dengan sepatu kaca ini,” kata para pengawal. Kedua kakak Cinderela mencoba sepatu tersebut, tapi kaki mereka terlalu besar. Mereka tetap memaksa kakinya dimasukkan ke sepatu kaca sampai lecet. Pada saat itu, pengawal melihat Cinderela. “Hai kamu, cobalah sepatu ini,” katanya. Ibu tiri Cinderela menjadi marah,” tidak akan cocok dengan anak ini!”. Kemudian Cinderela menjulurkan kakinya. Ternyata sepatu tersebut sangat cocok. “Ah! Andalah Putri itu,” seru pengawal gembira. “Cinderela, selamat..,” Cinderela menoleh ke belakang, peri sudah berdiri di belakangnya. “Mulai sekarang hiduplah berbahagia dengan Pangeran. Sim salabim!.,” katanya.

Begitu peri membaca mantranya, Cinderela berubah menjadi seorang Putri yang memakai gaun pengantin. “Pengaruh sihir ini tidak akan hilang walau jam berdentang dua belas kali”, kata sang peri. Cinderela diantar oleh tikus-tikus dan burung yang selama ini menjadi temannya. Sesampainya di Istana, Pangeran menyambutnya sambil tersenyum bahagia. Akhirnya Cinderela menikah dengan Pangeran dan hidup berbahagia.Sumber
»»  READMORE...