Tampilkan postingan dengan label TAFSIR. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TAFSIR. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 18 Februari 2012

Tafsir Ayat Kursi (Surat Al-Baqarah: 255)

اللهُ لآَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لاَ تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلاَنَوْمُُ لَّهُ مَافِي السَّمَاوَاتِ وَمَافِي اْلأَرْضِ مَن ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِندَهُ إِلاَّ بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَابَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَاخَلْفَهُمْ وَلاَ يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِهِ إِلاَّ بِمَا شَآءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضَ وَلاَ يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ {255}
“Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya). tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya. Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (Al Baqarah:255)

Keutamaan Ayat Kursi
Semua surat dalam al-Qur’an adalah surat yang agung dan mulia. Demikian juga seluruh ayat yang dikandungnya. Namun, Allah ta’ala dengan kehendak dan kebijaksanaanNya menjadikan sebagian surat dan ayat lebih agung dari sebagian yang lain. Surat yang paling agung adalah surat al-Fatihah, sedangkan ayat yang paling agung adalah ayat kursi, yaitu di surat Al-Baqarah, ayat 255 yang akan  dipelajari bersama dalam kesempatan ini.
Syaikh As Sa’di rahimahullah menjelaskan : “Ayat yang mulia ini merupakan ayat al Quran yang paling agung, paling utama, dan paling mulia. Hal ini karena ayat ini mengandung penjelasan perkara-perkara yang agung dan sifat-sifat Allah yang mulia. Oleh karena itu banyak hadist yang memotivasi manusia untuk membaca ayat ini dan menjadikannya sebagai wirid yang dibaca saat pagi dan sore, ketika hendak tidur, dan dzikir setelah sholat fardhu”

Di antara hadist yang menunjukkan keutamaan ayat kursi adalah hadist berikut :

Ubay bin Ka’ab radhiallahu ‘anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda:
“Wahai Abul Mundzir (gelar kunyah Ubay), tahukah engkau ayat mana di kitab Allah yang paling agung?”
Aku menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.”
Beliau berkata, “Wahai Abul Mundzir, Tahukah engkau ayat mana di kitab Allah yang paling agung?”
Aku pun menjawab,

اللَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ

Maka beliau memukul dadaku dan berkata, “Demi Allah, selamat atas ilmu (yang diberikan Allah kepadamu) wahai Abul Mundzir.” (HR. Muslim no. 810)

Dalam kisah Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu dengan setan yang mencuri harta zakat, disebutkan bahwa setan tersebut berkata,
“Biarkan aku mengajarimu beberapa kalimat yang Allah memberimu manfaat dengannya. Jika engkau berangkat tidur, bacalah ayat kursi. Dengan demikian, akan selalu ada penjaga dari Allah untukmu, dan setan tidak akan mendekatimu sampai pagi.”
Ketika Abu Hurairah menceritakannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam, beliau berkata,
“Sungguh ia telah jujur, padahal ia banyak berdusta.” (HR. al-Bukhari no. 2187)

Dalam kisah lain yang mirip dengan kisah di atas dan diriwayatkan Ubay bin Ka’b radhiallahu ‘anhu, disebutkan bahwa si jin mengatakan:

مَنْ قَالَهَا حِينَ يُمْسِي أُجِيرَ مِنَّا حَتَّى يُصْبِحَ ، وَمَنْ قَالَهَا حِينَ يُصْبِحُ أُجِيرَ مِنَّا حَتَّى يُمْسِيَ

“Barangsiapa membacanya ketika sore, ia akan dilindungi dari kami sampai pagi. Barangsiapa membacanya ketika pagi, ia akan dilindungi sampai sore.” (HR. ath-Thabrani no. 541, dan al-Albani mengatakan bahwa sanadnya bagus)

Dalam hadits yang lain, Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda:

مَنْ قَرَأَ آيَةَ الْكُرْسِيِّ دُبُرَ كُلِّ صَلاةٍ مَكْتُوبَةٍ لَمْ يَمْنَعْهُ مِنْ دُخُولِ الْجَنَّةِ، إِلا الْمَوْتُ

“Barangsiapa membaca ayat kursi setelah setiap shalat wajib, tidak ada yang menghalanginya dari masuk surga selain kematian.” (HR. ath-Thabrani no. 7532, dihukumi shahih oleh al-Albani)

Disunnahkan membaca ayat ini setiap (1) selesai shalat wajib, (2) pada dzikir pagi dan sore, (3) juga sebelum tidur.

Tafsir Ayat Kursi

اللَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ

“Allah, tidak ada sesembahan (yang berhak disembah) selain Dia Yang hidup kekal serta terus menerus mengurus (makhluk).”

Allah adalah nama yang paling agung milik Allah ta’ala. Allah mengawali ayat ini dengan menegaskan kalimat tauhid yang merupakan intisari ajaran Islam dan seluruh syariat sebelumnya. Maknanya, tidak ada sesembahan yang benar untuk disembah selain Allah. Konsekuensinya tidak boleh memberikan ibadah apapun kepada selain Allah.

Al-Hayyu dan al-Qayyum adalah dua di antara al-Asma’ al-Husna yang Allah miliki. Al-Hayyu artinya Yang hidup dengan sendirinya dan selamanya. Al-Qayyum berarti bahwa semua membutuhkan-Nya dan semua tidak bisa berdiri tanpa Dia. Oleh karena itu, Syaikh Abdurrahman as-Sa’di mengatakan bahwa kedua nama ini menunjukkan seluruh al-Asma’ al-Husna yang lain.

Sebagian ulama berpendapat bahwa al-Hayyul Qayyum adalah nama yang paling agung. Pendapat ini dan yang sebelumnya adalah yang terkuat dalam masalah apakah nama Allah yang paling agung, dan semua nama ini ada di ayat kursi.

لاَ تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلاَ نَوْمٌ

“Dia Tidak mengantuk dan tidak tidur.”

Maha Suci Allah dari segala kekurangan. Dia selalu menyaksikan dan mengawasi segala sesuatu. Tidak ada yang tersembunyi darinya, dan Dia tidak lalai terhadap hamba-hamba-Nya.
Allah mendahulukan penyebutan kantuk, karena biasanya kantuk terjadi sebelum tidur.
Barangkali ada yang mengatakan, “Menafikan kantuk saja sudah cukup sehingga tidak perlu menyebut tidak tidur; karena jika mengantuk saja tidak, apalagi tidur.”
Akan tetapi, Allah menyebut keduanya, karena bisa jadi (1) orang tidur tanpa mengantuk terlebih dahulu, dan (2) orang bisa menahan kantuk, tetapi tidak bisa menahan tidur. Jadi, menafikan kantuk tidak berarti otomatis menafikan tidur.

لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي اْلأَرْضِ

“Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi.”

Semesta alam ini adalah hamba dan kepunyaan Allah, serta di bawah kekuasaan-Nya. Tidak ada yang bisa menjalankan suatu kehendak kecuali dengan kehendak Allah.

مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلاَّ بِإِذْنِهِ

“Tiada yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa izin-Nya.”

Memberi syafaat maksudnya menjadi perantara bagi orang lain dalam mendatangkan manfaat atau mencegah bahaya. Inti syafaat di sisi Allah adalah doa. Orang yang mengharapkan syafaat Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam berarti mengharapkan agar Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam mendoakannya di sisi Allah. Ada syafaat yang khusus untuk Nabi Muhammad, seperti syafaat untuk dimulainya hisab di akhirat, dan syafaat bagi penghuni surga agar pintu surga dibukakan untuk mereka. Ada yang tidak khusus untuk Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam, seperti syafaat bagi orang yang berhak masuk neraka agar tidak dimasukkan ke dalamnya, dan syafaat agar terangkat ke derajat yang lebih tinggi di surga.

Jadi, seorang muslim bisa memberikan syafaat untuk orang tua, anak, saudara atau sahabatnya di akhirat. Akan tetapi, syafaat hanya diberikan kepada orang yang beriman dan meninggal dalam keadaan iman. Disyaratkan dua hal untuk mendapatkannya, yaitu:
  • Izin Allah untuk orang yang memberi syafaat.
  • Ridha Allah untuk orang yang diberi syafaat.
Oleh karena itu, seseorang tidak boleh meminta syafaat kecuali kepada Allah. Selain berdoa, hendaknya kita mewujudkan syarat mendapat syafaat; dengan meraih ridha Allah. Tentunya dengan menaatiNya menjalankan perintahNya semampu kita, dan meninggalkan semua laranganNya.

يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ

“Dia mengetahui apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka.”

Ini adalah dalil bahwa ilmu Allah meliputi seluruh makhluk, baik yang ada pada masa lampau, sekarang maupun yang akan datang. Allah mengetahui apa yang telah, sedang, dan yang akan terjadi, bahkan hal yang ditakdirkan tidak ada, bagaimana wujudnya seandainya ada. Ilmu Allah sangat sempurna.

وَلاَ يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلاَّ بِمَا شَاءَ

“Dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah kecuali dengan apa yang dikehendaki-Nya.”

Tidak ada yang mengetahui ilmu Allah, kecuali yang Allah ajarkan. Demikian pula ilmu tentang dzat dan sifat-sifat Allah. Kita tidak punya jalan untuk menetapkan suatu nama atau sifat, kecuali yang Dia kehendaki untuk ditetapkan dalam al-Quran dan al-Hadits.

وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضَ

“Kursi Allah meliputi langit dan bumi.”

Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu menafsirkan kursi dengan berkata:

الكُرْسيُّ مَوْضِعُ قَدَمَيْهِ

“Kursi adalah tempat kedua telapak kaki Allah.” (HR. al-Hakim no. 3116, di hukumi shahih oleh al-Hakim dan adz-Dzahabi)

Kursi bukanlah ‘Arsy. ‘Arsy lebih besar dari Kursi, sebagaimana dijelaskan oleh Rasulullah shalaallhu ‘alaihi wa sallam :

أن السماوات والسبع والأرضين السبع بالنسبة للكرسي كحلقة ألقيت في فلاة من الأرض، وأن فضل العرش على الكرسي كفضل الفلاة على هذه الحلقة

“Sesungguhnya langit dan bumi yang tujuh dibandingakn dengan Kursi Allah bagaikan gelang yang dilempar di tanah lapang, dan keagungan ‘Arsy disbanding Kursi bagaikan tanah lapang dbianding gelang".

Ahlussunnah menetapkan sifat-sifat seperti ini sebagaimana ditetapkan Allah dan Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam, sesuai dengan kegungan dan kemuliaan Allah tanpa menyerupakannya dengan sifat makhluk.

وَلاَ يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا

“Dan Allah tidak terberati pemeliharaan keduanya.”

Seorang ibu, tentu merasakan betapa lelahnya mengurus rumah sendirian. Demikian juga seorang kepala desa, camat, bupati, gubernur atau presiden dalam mengurus wilayah yang mereka pimpin. Namun, tidak demikian dengan Allah yang Maha Kuat. Pemeliharaan langit dan bumi beserta isinya sangat ringan bagi-Nya. Segala sesuatu menjadi kerdil dan sederhana di depan Allah.

وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ

“Dan Dia Maha Tinggi lagi Maha Besar.”

Allah memiliki kedudukan yang tinggi, dan dzat-Nya berada di ketinggian, yaitu di atas langit (di atas singgasana). Dalam sebuah hadits, Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam bertanya kepada seorang budak perempuan: “Di mana Allah?”

Ia menjawab, “Di langit.”

Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam bertanya, “Siapa saya?”

Ia menjawab, “Engkau adalah Rasulullah.”

Maka, Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam berkata kepada majikannya (majikan budak perempuan tersebut -ed), “Bebaskanlah ia, karena sungguh dia beriman!” (HR. Muslim no. 537)

Jelaslah bahwa keyakinan sebagian orang bahwa Allah ada dimana-mana bertentangan dengan al-Qur’an dan al-Hadits.

Demikian pula Allah memiliki kedudukan yang agung dan dzatnya juga agung sebagaimana ditunjukkan oleh keagungan kursiNya dalam ayat ini.

Menggantungkan ayat kursi
Di rumah kaum muslimin seringkali dipajang kaligrafi ayat kursi. Di antara tujuan mereka memasangnya ialah agar rumah tersebut tidak diganggu setan atau setan bisa menjauh dari rumah. Ada juga yang bertujuan untuk ‘ngalap berkah’ (tabarruk) dengan ayat Al Qur’an tersebut. Bagaimana ajaran Islam meninjau perbuatan ini?

Syaikhuna –guru kami- Syaikh Sholeh Fauzan bin ‘Abdillah Al Fauzan hafizhohullah
Ditanya,

Apakah boleh seorang muslim menggantungkan ayat kursi, ayat lainnya atau berbagai macam do’a di lehernya atau di rumah, mobil dan ruang kerjanya dalam rangka ‘ngalap berkah’ dan meyakini bahwa dengan menggantungnya setan pun akan lari?

Jawaban beliau hafizhohullah,

Tidak boleh seorang muslim menggantungkan ayat kursi dan ayat Qur’an lainnya atau berbagai do’a yang syar’i di lehernya dengan tujuan untuk mengusir setan atau untuk menyembuhkan diri dari penyakit. Inilah pendapat yang tepat dari pendapat para ulama yang ada. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang menggantungkan tamimah (jimat) apa pun bentuknya. Dan ayat yang digantung semacam itu termasuk tamimah.

Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah dalam Kitab At Tauhid menjelaskan bahwa tamimah adalah segala sesuatu yang digantungkan pada anak-anak dengan tujuan untuk melindungi mereka dari ‘ain (pandangan hasad). Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa beliau mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ الرُّقَى وَالتَّمَائِمَ وَالتِّوَلَةَ شِرْكٌ

“Sungguh jampi-jampi, jimat, dan pelet adalah syirik”. Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Abu Daud. Hadits ini dishahihkan oleh Al Hakim dan disepakati oleh Adz Dzahabi.

Sedangkan menggantungkan ayat Qur’an di leher atau bagian badan lainnya tidak diperbolehkan menurut pendapat yang kuat dari pendapat para ulama. Alasannya karena keumuman larangan menggantungkan tamimah. Dan ayat semacam itu termasuk bagian dari tamimah. Alasan kedua, larangan ini dimaksudkan untuk menutup pintu dari hal yang lebih parah yaitu menggantungkan jimat yang bukan dari ayat Qur’an. Alasan ketiga, menggantungkan semacam ini juga dapat melecehkan dan tidak menghormati ayat suci Al Qur’an.

Adapun menggantungkan ayat Al Qur’an pada selain anggota badan seperti pada mobil, tembok, rumah, atau kantor dengan tujuan untuk ‘ngalap berkah’ dan ada juga yang bertujuan untuk mengusir setan, maka saya tidak mengetahui kalau ada ulama yang membolehkannya. Perbuatan semacam ini termasuk menggunakan tamimah yang terlarang. Dan alasan kedua, perbuatan semacam ini termasuk pelecehan pada Al Qur’an. Juga alasan ketiga, hal semacam ini tidak ada pendahulunya (tidak ada salafnya). Para ulama di masa silam tidaklah pernah menggantungkan ayat Qur’an di dinding untuk tujuan ‘ngalap berkah’ atau menghindarkan diri dari bahaya. Yang mereka lakukan malah menghafalkan Al Qur’an di hati-hati mereka (bukan sekedar dipajang, pen). Mereka menulis ayat Qur’an di mushaf-mushaf, mereka mengamalkan dan mengajarkan pelajaran hukum dari berbagai ayat. Yang mereka lakukan adalah mentadabburi ayat Al Qur’an sebagaimana perintah Allah. (As Sihr wa Asy Syu’udzah, Syaikh Dr. Sholeh Fauzan bin ‘Abdillah Al Fauzan, terbitan Darul Qosim, 67-69[1])

Inilah penjelasan menarik dari beliau hafizhohullah. Untuk melindungi dari berbagai bahaya dan dapat berkah Al Qur’an bukanlah hanya sekedar memajang atau menggantungkan Al Qur’an di leher, di dinding atau di kendaraan sebagaimana yang sering kita saksikan di tengah kaum muslimin dalam kebiasaan mereka menggantungkan ayat kursi. Ayat Al Qur’an bisa bermanfaat ketika dibaca, dihafal di hati, dan ditadabburi. Itulah keberkahan dan manfaat yang bisa diambil dari Al Qur’an Al Karim.

Kesimpulan:
  1. Semua ayat al-Qur’an agung. Adapun ayat yang paling agung adalah ayat kursi.
  2. Disunnahkan untuk membaca ayat ini setiap selesai shalat wajib, pada dzikir pagi dan sore, dan sebelum tidur.
  3. Penegasan kalimat tauhid.
  4. Arti al-Hayyu dan al-Qayyum yang menunjukkan seluruh nama Allah yang lain.
  5. Semua bentuk kekurangan harus dinafikan dari Allah.
  6. Arti syafaat dan syarat memperolehnya.
  7. Ilmu Allah sangat sempurna.
  8. Kita hanya menetapkan untuk Allah nama dan sifat yang ditetapkan oleh Allah dan RasulNya sesuai dengan keagungan dan kemuliaanNya, tanpa menyerupakannya dengan nama dan sifat makhluk.
  9. Arti dan keagungan kursi Allah.
  10. Ketinggian dan keagungan Allah dalam dzat dan kedudukan.
  11. Kesalahan orang yang mengatakan Allah ada di mana-mana.
  12. Penetapan banyak nama dan sifat Allah yang menunjukkan kemuliaan dan kesempurnaan-Nya.

Referensi:

Al-Quran dan Terjemahnya
Tafsir Ibnu Katsir
Fathul Qadir, asy-Syaukani
Taysirul Karimir Rahman, Abdurrahman as-Sa’di
Shahih al-Bukhari
Shahih Muslim
Al-Mu’jam al-Kabir, ath-Thabrani
al-Mustadrak, al-Hakim.
Shahih Ibnu Hibban
Shahih Targhib wa Tarhib, al-Albani
Silsilah Ahadits Shahihah, al-Albani
Fathul Majid, Abdurrahman bin Hasan
Fiqhul Asma’il Husna, Abdurrazzaq al-Badr
Al-Qamus al-Muhith, al-Fairuzabadi

Ibnu Abil ‘Izz al-Hanafi berkata: “…tiada kehidupan untuk hati, tidak ada kesenangan dan ketenangan baginya, kecuali dengan mengenal Rabbnya, Sesembahan dan Penciptanya, dengan Asma’, Sifat dan Af’al (perbuatan)-Nya, dan seiring dengan itu mencintai-Nya lebih dari yang lain, dan berusaha mendekatkan diri kepada-Nya tanpa yang lain…” (Syarah al-Aqidah ath-Thahawiyyah)

Wallahu waliyyut taufiq.

[Artikel diambil dari tulisan Ustadz Anas Burhanuddin, Lc. dan Ust Muhammad Abduh Tuasikal di
http://muslim.or.id ]
»»  READMORE...

Minggu, 12 Februari 2012

Tafsir Surat Al-Fatihah

Pendahuluan 

Tafsir ringkas dengan bahasa sederhana ini merupakan kumpulan pelajaran tafsir al-Quran yang disajikan oleh Allamah Hojjatul Islam wal Muslimin Sheikh Mohsen Qaraati . Beliau termasuk di antara para pemikir dan ahli agama yang sangat terkenal di Republik Islam Iran dan aktif menulis juga berceramah di berbagai majelis pengajian ilmiah yang beliau adakan sejak masa muda hingga sekarang. Beliau memiliki ciri khas dalam ceramah-ceramahnya. Yaitu penyampaian materi-materi pembahasan yang berbobot dengan keterangan yang sangat mudah dipahami. Tidak cukup demikian, ceramahnya diselingi pula dengan cerita-cerita lucu yang membuat para pendengarnya tertawa, tetapi sama sekali jauh dari sifat-sifat rendah dan kampungan. Karena selingan-selingan tersebut justru semakin memperkuat dan menambah bobot keterangan yang beliau sampaikan.

Oleh sebab itu, pengajian-pengajian yang beliau adakan selalu ramai dihadiri oleh kaum muda dan tua, baik laki-laki maupun perempuan yang duduk rapi secara terpisah. Di pemerintah Republik Islam Iran, beliau menjabat sebagai wakil Wali Faqih di bidang pemberatasan buta huruf. Beliau juga sering diberi tugas untuk membina masyarakat Iran, terutama generasi mudanya di bidang agama, seperti memasyarakatkan shalat berjamaah, membaca dan menghapal al-Quran dan sebagainya. Beliau juga mengisi ceramah agama di televisi, diantaranya pelajaran tafsir al-Quran yang beliau sampaikan dengan cara yang khas dan sangat menarik, sehingga banyak sekali peminat baik yang hadir langsung di tempat pengajian beliau maupun televisi. Acara beliau ditayangkan ke seluruh negeri.


Suara Republik Islam Iran program siaran luar negeri meminta kepada Hojjatul Islam wal Muslimin Mohsen Qaraati agar pelajaran tafsirnya dijadikan bahan sajian mengisi acara-acara, di antaranya untuk Radio Melayu. Beliau menyanggupi permintaan itu dan sejak saat itu hingga seterusnya, insyaallah, pembahasan tafsir beliau akan dapat dinikmati dalam bahasa Indonesia melalu Radio Melayu.


Demikianlah pendahuluan sekilas tentang tafsir al-Quran. Kini kita membahas ayat pertama dari surat al-Fatihah.

 

  بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (1 )
 
Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang (1:1)

Sejak dahulu sudah menjadi kebiasaan di kalangan umat manusia bahwa pekerjaan-pekerjaan penting selalu dimulai dengan menyebut nama para pembesar mereka untuk mendapat berkah darinya. Umpamanya, para penyembah patung atau berhala, mencari berkah dengan nama atau dengan kehadiran para kepala negara. Akan tetapi, Zat yang lebih besar diantara segala sesuatu yang besar adalah Allah Swt dimana kehidupan segala sesuatu yang hidup ini bermula dari-Nya.


Bukan hanya kitab alam semesta, akan tetapi kitab syariat, yaitu al-Quran dan semua kitab samawi dimulai dengan nama-Nya. Islam mengajarkan kepada kita agar pekerjaan-pekerjaan kita, baik kecil maupun besar, makan dan minum, tidur dan bangun, bepergian dan menaiki kendaraan, berbicara dan menulis, kerja dan usaha, dan seterusnya hendaknya kita mulai dengan dengan menyebut nama Allah (Bismillah).

Jika seekor binatang disembelih tanpa menyebut nama Allah, maka kita dilarang memakan daging binatang tersebut. Kata-kata "
Bismillah" tidak terbatas pada agama Islam saja. Menurut ayat-ayat al-Quran, kapal Nabi Nuh as juga bergerak diawali dengan kalimat "Bismillah". Begitu juga surat Nabi Sulaiman as kepada Ratu Balqis. "Bismillah adalah sebuah ayat lengkap, dan bagian dari Surat al-Fatihah."
          
Oleh sebab itu, Ahlul Bait Nabi Saw tidak menyukai orang yang tidak membacanya atau membacanya dengan suara pelan di dalam salatnya. Mereka sendiri selalu membaca ayat: "Bismillahirrahmanirrahim" dengan suara keras di dalam setiap salat yang mereka lakukan.

Dari ayat tadi terdapat empat poin pelajaran yang dapat dipetik:‎

‎1.‎ Bismillah merupakan sumber berkah dan jaminan bagi setiap pekerjaan, juga ‎merupakan tanda tawakal kepada Allah dan permohonan bantuan dari-Nya.‎
‎2.‎ Kata Bismillah memberi warna ketuhanan kepada setiap pekerjaan, dan ‎menyelamatkan pekerjaan-pekerjaan manusia dari bahaya syirik dan riya. ‎
‎3.‎ Bismillah artinya, Ya Allah aku tidak melupakan-Mu, maka janganlah Engkau ‎melupakan aku.‎
‎4.‎ Orang yang mengucapkan Bismillah berarti telah menggabungkan diri ‎kepada kekuatan tak terbatas dan lautan rahmat ilahi yang tak bertepi.‎  

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ)2)
 
Segala puji hanya bagi Allah Tuhan seluruh Alam (1:2)

Setelah menyebut nama Allah, maka kalimat pertama yang kita ucapkan ialah syukur kepadanya. Allah Tuhan sumber segala kehidupan di jagad raya. Alam semeta bersumber dari-Nya, baik benda mati maupun benda hidup, baik yang ada di bumi maupun yang ada di langit. Dia-lah yang mengajarkan kepada lebah madu dari mana mencari makanan dan bagaimana cara membuat sarang. Dia juga mengajarkan kepada semut bagaimana menyimpan makanannya untuk musim dingin. Dia pulalah yang menumbuhkan batang-batang gandum yang penuh dengan biji-biji hanya dari sebutir gandum, juga menumbuhkan sebatang pohon apel dari sebutir biji apel.

Dia-lah yang menciptakan langit dengan kehebatan yang amat besar ini dan menetapkan garis peredaran setiap bintang dan setiap galaksinya. Dia-lah yang menciptakan kita dari setetes air yang memancar dan menumbuhkan kita di dalam perut ibu selama kurang lebih 6 hingga 9 bulan. Lalu setelah kita lahir ke dunia Dia pun menyediakan segala keperluan untuk perkembangan kita.  Dia membentuk badan kita sedemikian rupa sehingga mampu mempertahankan diri dari kuman-kuman penyebab penyakit dan jika salah satu tulang tubuh kita patah atau retak, maka tubuh kita memiliki kemampuan untuk mengatasinya. Kemudian jika tubuh memerlukan darah, maka secara alami ia memproduksinya untuk memenuhi keperluan tersebut.

Meski demikian, yang berada di tangan Allah bukan hanya perkembangan dan pemeliharan tubuh kita saja, karena Dia juga menciptakan akal dan perasaan untuk kita lalu mengutus para nabi dan menurunkan kitab-kitab samawi untuk membina kita.

Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:‎
‎1. Ketergantungan kita dan seluruh alam semesta ini kepada Allah. Bukan ‎hanya pada saat perciptaan, akan tetapi perkembangan dan keterpeliharaan ‎kita juga datang dari-Nya. Oleh karena itu, hubungan Allah dengan segala ‎yang maujud ini bersifat selamanya dan kekal.
2. ‎Atas dasar ini pula kita harus mensyukuri nikmat-nikmat-Nya. Bukan hanya ‎di dunia, di hari akhiratpun ucapan para penghuni surga ialah alhamdulillahi ‎rabbil alamiin.‎

الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (3)
 
Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang (1:3)

Allah yang kita imani ialah Wujud yang penuh kasih sayang, cinta, maaf dan ampunan. Contoh-contoh rahmat dan cinta-Nya terdapat di dalam kebesaran nikmat-nikmat-Nya yang tak terhingga untuk kita. Bunga-bunga yang indah berbau harum, buah-buahan yang manis dan lezat rasanya, berbagai bahan makanan yang lezat dan bergizi, bahan-bahan pakaian yang beraneka warna, dan lain sebagainya adalah anugerah yang diberikan Allah kepada kita.

Kecinta seorang ibu kepada anaknya Dia tanamkan di dalam sanubari ibu kita, sedangkan Allah sendiri memiliki cinta yang jauh lebih besar daripada kecintaan ibu kepada anaknya. Kemurkaan dan siksaannya pun datang dari tindakan Allah yang bertujuan memperingatkan dan adanya perhatian Allah terhadap kita. Bukannya karena sifat dendam atau niat menuntut  balas.

Oleh karena itu, jika kita bertaubat dan menutupi kesalahan yang kita lakukan maka Allah pasti akan mengampuni dan menghapus kesalahan.

Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:‎
1. Allah selalu mendidik dan memelihara segala yang maujud ini dengan rahmat dan cinta. Karena di samping sifat-Nya sebagai Rabbul Alamin, pemeliharaan semesta alam, Dia juga menyebut diri-Nya sebagai Arrahman dan Arrahim, Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
2. Jika para pengajar dan pendidik ingin mendapatkan sukses, maka mereka harus bekerja berdasarkan mahabbah dan kasih sayang.


مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ (4)
 
Pemilik hari pembalasan (1:4)

Kata-kata 'Din' berarti mazhab atau agama, tapi juga bisa berarti pembalasan. Adapun yang dimaksudkan dengan Yaumiddin ialah Hari Kiamat yang merupakan hari perhitungan pemberian pahala dan pembalasan.

Meskipun Allah Swt adalah pemilik dan penguasa dunia sekaligus pemilik akhirat, namun kepemilikan dan kekuasaan-Nya di Hari Kiamat memiliki bentuk yang berbeda. Di hari itu tak ada siapapun yang menguasai sesuatu. Harta kekayaan dan anak sama sekali tidak memiliki peran. Sahabat dan kerabat tak memiliki kekuasaan apapun. Bahkan seseorang tidak memiliki kekuasaan terhadap anggota tubuhnya sendiri. Lidah tak diizinkan untuk mengucapkan permohonan ampun. Tidak pula pikiran memiliki kesempatan untuk berpikir. Hanya Allah yang memiliki kekuasaan penuh di hari itu.

Dari ayat tadi terdapat tiga pelajaran yang dapat dipetik:‎
1. Di samping harapan akan rahmat Allah yang tak terbatas sebagaimana yang dipaparkan dalam ayat sebelumnya, kita juga harus merasa takut kepada perhitungan dan pembalasan Hari Kiamat.
2. Dengan beriman kepada hari kiamat kita tidak perlu cemas bahwa perbuatan-perbuatan baik kita tidak akan memperoleh balasan atau pahala.
3. Allah Swt Maha Mengetahui segala perbuatan baik dan buruk yang kita lakukan dan Dia Maha Mampu untuk memberikan balasan dan pahala.

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ (5)
 
Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada-Mu-lah kami meminta pertolongan (1:5)

Di dalam ayat-ayat yang lalu Allah telah kita kenal bahwa Dia itu Rahman dan Rahim serta Rabbul `Alamin juga Maliki Yaumiddin. Sementara oleh karena kehebatan ciptaan-Nya dan nikmat-nikmat-Nya yang tak terhitung yang Dia curahkan kepada kita, maka kita mengucapkan syukur dan pujian kepadanya dengan mengatakan Alhamdulillahi rabbil `alamin.

Sudah sepatutnyalah jika sekiranya kita menghadapkan diri kita kepada-Nya,  seraya mengakui ketidakmampuan dan kelemahan kita, maka kita juga mengatakan bahwa kita adalah hamba-hamba-Nya yang tulus. Kita ucapkan, Ya Allah, hanya dihadapan perintah-Mu-lah kami menundukkan kepala, bukan dihadapan perintah selain-Mu. Kami bukanlah hamba-hamba emas dan kekayaan duniawi juga bukan budak-budaknya kekuatan dan kekuasaan imperialis.

Oleh karena shalat yang merupakan manifestasi ibadah dan penyembahan Tuhan ditunaikan secara berjamaah maka umat Islam satu suara di dalam satu barisan secara kompak menyatakan "iyyaaka na'budu wa iyyaaka nasta'iin", yaitu bukan hanya aku melainkan kami semua adalah hamba-hamba-Mu dan kepada-Mulah kami memohon pertolongan.  Ya Allah bahkan ibadah yang kami tunaikan ini pun adalah berkat pertolongan-Mu.  Jika Engkau tidak menolong kami, niscaya kami akan menjadi hamba dan budak selain-Mu.

Dari ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik:‎
1. Meskipun undang-undang yang menguasai alam materi dan formula-formula fisika dan kimia kita yakini, namun semua itu berada di bawah kekuasaan Allah dan di bawah kehendak-Nya. Karenanya, kita harus berserah diri kepada Allah, bukan kepada alam.  Hanya kepada Allah kita memohon bantuan, termasuk dalam urusan materi.
2. Jika dalam setiap shalat dengan sepenuh hati dan khusyuk kita nyatakan bahwa kita hanya menghambakan diri kepada Allah, maka kita tidak akan menjadi orang yang congkak dan takabur.

 اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ (6)

Tunjukilah kami ke jalan yang lurus (1:6)

Dalam al-Quran ada dua bentuk hidayah; hidayah cipta (takwini) seperti hidayah ‎lebah madu untuk menghisap sari bunga dan bagaimana ia membuat sarangnya ‎atau hidayah burung-burung saat berpindah dari satu daerah ke daerah lain di ‎musim dingin. Dan yang kedua adalah hidayah tinta (tasyri'i). Hidayah tinta inilah ‎yang terwujudkan dalam pengutusan para nabi ilahi dan kitab-kitab langit untuk ‎menghidayahi manusia.‎

Kata shirat atau jalan disebutkan lebih dari 44 kali dalam al-Quran. Memilih jalan ‎dan garis pemikiran yang benar menunjukkan keistimewaan manusia. Terlebih lagi ‎manusia harus memilih jalan yang lurus dari banyak jalan yang terbentang di ‎hadapannya. Di sini, seorang mukmin akan memilih jalan Allah dan wali-wali-Nya. ‎Karena jalan ilahi pasti dan tidak akan ada perubahan dan jalan-Nya hanya satu ‎tidak lebih. Seseorang yang mengikuti jalan ilahi tidak akan pernah mengenal kata ‎kalah dan gagal.‎

Namun manusia tidak boleh lupa bahwa dalam memilih jalan lurus dan ‎melanjutkannya harus meminta bantuan Allah. Sama seperti lampu yang ‎cahayanya yang setiap saat mengambil energinya dari pembangkit listrik. Dalam ‎jalan lurus, satu-satunya keinginan setiap muslim di setiap shalat selalu diminta ‎dari Allah, bahkan Rasulullah saw dan para Imam as juga memohon kepada Allah ‎agar tetap teguh di jalan yang lurus.‎

Jalan lurus itulah jalan tengah yang menjadi pemecah sikap ekstrim, baik kanan ‎dan kiri dalam akidah maupun amal. Karena terkadang ada orang yang tergelincir ‎dalam akidah dan ada juga di tingkat perbuatan.‎

Dari ayat tadi terdapat tiga pelajaran yang dapat dipetik:‎
‎1.‎ Semua keberadaan di alam semesta bergerak dalam jalur dan kehendak ‎Allah.‎
‎2.‎ Permintaan akan hidayah meraih jalan yang lurus merupakan keinginan ‎paling penting orang-orang yang menyembah Allah yang Esa.‎
‎3.‎ Demi meraih jalan yang lurus, seseorang harus berdoa, "Tunjukilah kami ke ‎jalan yang lurus."‎


صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ (7)
 
Yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat, bukan jalan orang-orang yang Engkau murkai dan bukan pula jalan orang-orang yang sesat. (1:7)

Dalam memilih jalan kehidupan, manusia terbagi menjadi tiga golongan. Golongan pertama ialah orang-orang yang memilih jalan Allah, dan meletakkan kehidupan pribadi dan masyarakat mereka di atas dasar undang-undang dan perintah yang telah Allah jelaskan di dalam Kitab-Nya. Golongan ini selalu tercakup oleh rahmat dan nikmat ilahi yang khusus.

Golongan kedua berada di dalam keadaan yang berlawanan dengan golongan pertama. Mereka ini meskipun mengetahui adanya kebenaran, namun tetap saja menolak Allah bahkan lari menuju kepada selain-Nya. Mereka ini lebih mengutamakan hawa nafsu mereka, hasrat buruk orang-orang dekat dan keluarga serta masyarakat mereka daripada keinginan dan kehendak Allah Swt.

Kelompok ini secara perlahan memperlihatkan akibat-akibat perbuatan dan perilaku mereka di dalam keberadaan mereka. Sedikit demi sedikit mereka menjauh dari shirath al-mustaqhim dan bukan menuju ke arah rahmat Allah Swt dan rahmat-Nya. Mereka terpelosok masuk ke jurang kesengsaraan dan kesusahan serta menjadi sasaran kemurkaan dan kemarahan ilahi yang disebut oleh ayat ini sebagai orang yang `maghdhuubi 'alaihim`, orang-orang yang dimurkai.

Sementara itu, kelompok ketiga ialah orang-orang yang tidak memiliki jalan yang jelas dan tertentu. Mereka ini disebut sebagai orang-orang yang bingung dan tidak mengetahui. Di dalam ayat ini, mereka disebut sebagai `dhallin`, atau orang-orang yang sesat.
Dalam setiap salat kita mengatakan, `ihdinash shiraathal mustaqiim`, yang artinya, "Ya Allah tunjukilah kami jalan yang lurus". Jalan yang dilalui oleh para Nabi, auliya', orang-orang suci dan orang-orang yang lurus.  Mereka yang selalu berada di bawah curahan rahmat dan nikmat-nikmat khusus-Mu. Dan jauhkanlah kami dari jalan orang-orang yang telah menyimpang dari kemanusiaan dan menjadi sasaran kemurkaan-Mu, juga dari jalan orang-orang yang kebingungan dan sesat.

Siapakah orang-orang yang sesat itu? Di dalam al-Quran banyak kelompok dan kaum yang disebut dengan sebutan di atas. Di sini kita akan menyinggung salah satu contohnya yang jelas dan nyata. (IRIB Indonesia)

 


»»  READMORE...

Rabu, 25 Januari 2012

Surat AL-Baqarah: 207

Ali bin Abi Thalib (sa)
siap mengorbankan dirinya tidur di ranjang Nabi saw

Allah swt berfirman:
ومن الناس من يشري نفسه ابتغاء مرضاة الله والله رؤوف بالعباد

“Diantara manusia ada yang mengorbankan dirinya karena mencari ridha Allah ; dan Allah Maha Penyayang kepada hamba-hamba-Nya. “

Allah Azza wa Jalla membanggakan Ali bin Abi Thalib (sa) di hadapan para malaikat-Nya, karena ia siap mengorbankan hidupnya untuk Rasulullah saw. Kemudian Allah swt menurunkan ayat ini untuk memberitakan bahwa demi mencari ridha Allah, Ali (sa) siap mengorbankan hidupnya.

Dalam tafsir Al-Kabir, tentang ayat ini Fakhrur Razi mengatakan:
Ayat ini turun berkaitan dengan Ali bin Abi Thalib (sa) saat menggantikan Nabi saw di tempat tidurnya ketika beliau keluar ke guwa di malam hari. Diriwayatkan bahwa saat ia tidur di tempat tidur Nabi saw, Jibril berdiri di dekat kepalanya dan Mikail di dekat kakinya. Jibril berkata: Selamat, selamat atas orang seperti engkau wahai putera Abu Thalib, Allah membanggakanmu di depan para malaikat-Nya.” Maka turunlah ayat ini.

Dalam Usdul Ghabah 4/25:
Ast-Tsa’labi berkata, aku melihat dalam sebagian kitab bahwa Rasulullah saw, ketika hendak hijrah ia meninggalkan Ali bin Abi Thalib (sa) di Mekkah, menyerahkan tugas-tugasnya dan menitipkan apa yang beliau miliki. Ketika beliau pergi ke guwa dan rumahnya dikepung oleh orang-orang musyrik, beliau menyuruh Ali bin Abi Thalib (sa) tidur di tempat tidurnya. Beliau berkata kepadanya: berselimutlah kamu dengan selimutku yang dari Hadhra maut dan berwarna hijau, insya Allah kamu akan diselamatkan dari hal-hal yang berbahaya. Kemudian Ali (sa) melakukan hal itu, maka Allah berfirman kepada Jibril dan Mikail (sa): “Aku mempersaudarakan di antara kalian berdua dan menjadikan umur salah seorang di antara kalian lebih panjang dari yang lain, bagaimana sikap kalian tentang sikap seseorang yang mau mengorbankan hidupnya untuk saudaranya.” Kemudian menyatakan tentang Rasulullah saw dan Ali (sa): “Apakah kalian berdua (Jibril dan Mikail) tidak ingin seperti Ali bin Abi Thalib yang Aku persaudarakan dengan nabi-Ku Muhammad, ia siap tidur di ranjang saudaranya dengan mengorbankan hidupnya? Turunlah kalian berdua ke bumi dan jagalah dia dari musuh-musuhnya. Kemudian mereka turun, Jibril berada di dekat kepala Ali (sa) dan Mikail di dekat kakinya. Jibril berkata: “selamat, selamat atas orang seperti engkau wahai putera Abu Thalib, Allah membanggakanmu di depan para malaikat-Nya.” Kemudian Allah azza wa jalla menurunkan kepada Rasul-Nya – ketika beliau menuju Madinah, tentang keutamaan Ali (sa) – ayat ini: “Diantara manusia ada yang mengorbankan dirinya karena mencari ridha Allah . “

Hadis ini dan yang semakna terdapat dalam:
1. Syawahidut Tanzil, Al-Hakim Al-Haskani Al-Hanafi, jilid 1, halaman 96, hadis ke : 133,134,135,136,137,139,140,141 dan 142.
2. Tafsir Fakhrur Razi, jilid 5, halaman 223, cet. Al-Bahiyah ; jilid 2, halaman 283, cet. Dar Ath-Thaba’ah, Mesir.
3. Tafsir Ad-Durrul Mantsur, tentang surat Al-Anfal: 30.
4. Musnad Ahmad bin Hanbal, jilid 1 halaman 330.
5. Musnad Ahmad bin Hanbal, jilid 1 halaman 348, meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa ayat “Ingatlah ketika orang-orang kafir melakukan maker padamu untuk menangkap atau membunuhmu …” (Al-Anfal: 30), berkaitan dengan hal ini.
6. Mustadrak Ash-Shahihayn Al-Hakim, jilid 3 halaman 4.
7. Kifayah Ath-Thalib, Al-Kanji Asy-Syafi’i, halaman 239, cet. Al-Haidariyah; halaman 114, cet. Al-Ghira
8. Al-Fushul Muhimah, Ibnu shabagh Al-Maliki, halaman 31, cet. Al-Haidariyah; halaman 33, cet. Yang lain.
9. Tadzkirah Al-khawwash, As-Sibth bin Al-Jauzi Al-Hanafi, halaman 35 dan 200, cet. Al-Haidariyah; halaman 21 dan 115, cet, yang lain.
10. Nurul Abshar, Asy-Syablanji, halaman 78, cet. As-Sa’idiyah ; halaman 78, cet. Al-‘Utsmaniyah.
11. Yanabi’ul Mawaddah, Al-Qundusi Al-Hanafi, halaman 92, cet. Islambul ; halaman 105, cet. Al-Haidariyah.
12. Nur Al-Abshar halaman 77.
13. Kunuz Al-Haqaiq, Al-Mannawi, halaman 31, hadis ke 1578.
14. Khashaish An-Nasa’i, halaman 8.
15. Ar-Riyadh An-Nadhrah, Al-Muhibb Ath-Thabari, jilid 2 halaman 203.
16. Dzakhair Al-‘Uqba, halaman 86.
17. Kanzul Ummal, Al-Muttaqi, jilid 8 halaman 333.
18. Majma’ Al-Haitsami, jilid 9 halaman 119.
19. Tarikh Baghdad, Al-Khatib, jilid 13 halaman 191.
20. Ath-Thabaqat Al-Kubra, Ibnu Sa’d, jilid 8 halaman 35 dan 162.
21. Usdul Ghabah, Ibnu Atsir, jilid 4 halaman 18 dan 19.
22. Syarh Nahjul Balaghah, Ibnu Abil Hadid, jilid 13, halaman 262, cet. Mesir, dengan Tahqiq Muhammad Abul fadhl.
23. As-Sirah An-Nabawiyah, Zaini Dahlan (catatan pinggir) As-Sirah Al-Halabiyah, jilid 1, halaman 306. sumber
»»  READMORE...

Surat AL-Baqarah: 58

Ahlul bait Nabi saw
seperti pintu Hiththah Bani Israil

Allah swt berfirman:
وإذ قلنا ادخلوا هذه القرية فكلوا منها حيث شئتم رغداً وادخلوا الباب سجداً وقولوا حطة نغفر لكم خطاياكم

Ingatlah, ketika Kami berfirman: “Masuklah kalian ke negeri ini (Baitul Maqdis), dan makanlah dari hasil buminya, yang banyak dan enak sebagaimana yang kalian sukai, dan masuklah kalian ke pintu gerbangnya sambil bersujud, dan katakan: “Bebaskan kami dari dosa-dosa, niscaya Kami akan mengampuni kesalahan-kesalahan kalian.”

Dalam tafsir Ad-Durrul Mantsur, tentang ayat ini Jalaluddin As-Suyuthi berkata:
Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan bahwa Ali bin Abi Thalib (as) berkata: “Sesungguhnya kami (Ahlul bait) bagi ummat ini seperti bahtera Nuh dan pintu Hiththah (pengampunan dosa).”

Dalam Mustadrak Al-Hakim 2: 343 Al-Hakim mengatakan tentang ayat ini:
Hansy Al-Kinani berkata, aku pernah mendengar Abu Dzar berkata sambil berpegangan pada pintu Ka’bah: Wahai manusia, barangsiapa yang mengenalku, aku adalah orang yang kalian kenal, dan barangsiapa yang mengingkariku, maka aku adalah Abu Dzar, aku mendengar Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya perumpamaan Ahlul baitku seperti bahtera Nuh, barangsiapa yang menaikinya ia akan selamat dan barangsiapa yang tertinggal ia akan tenggelam.” Sekanjutnya Al-Hakim mengatakan: Hadis ini shahih menurut persyaratan Muslim.

Dalam Majma’ Az-Zawaid 9:168 disebutkan:
Abu Said Al-Khudri berkata, aku pernah mendengar Nabi saw bersabda: “Sesungguhnya perumpamaan Ahlul baitku bagi kalian seperti bahtera Nuh, barangsiapa yang menaikinya ia akan selamat, dan barangsiapa yang tertinggal ia akan tenggelam. Dan sesungguhnya perumpamaan Ahlul baitku bagi kalian seperti pintu Hiththah bagi Bani Israil, barangsiapa yang memasukinya ia akan diampuni dosa-dosanya.”

Tentang hadis ini secara lebih detail, Anda baca tentang hadis Safinah (bahtera nabi Nuh as). Dan dengan segala macam redaksinya hadis ini terdapat dalam kitab:

1. Kanzul Ummal, jilid 6 halaman 216.
2. Hilyah Al-Awliya’, Abu Na’im, jilid 4 halaman 306.
3. Tarikh Baghdad, Al-Khathib, jilid 12 halaman 19.
4. Dzakhair Al-‘Uqbâ, Muhibuddin Ath-Thabari, halaman 20.
5. Ash-Shawa’iq Al-Muhriqah, Ibnu Hajar, halaman 75. Hadis ini diriwayatkan oleh Ad-Daruquthni dari Ibnu Abbas.
6. Al-Faydh Al-Qadir, Al-Mannawi, jilid 4 halaman 356.
7. Kunuz Al-Haqâiq, Al-Mannawi, halaman 132, hadis ke 6943.sumber
»»  READMORE...

Surat AL-Baqarah: 37

Nabi Adam (as) bertawassul
dengan hak Rasulullah saw dan Ahlul bait (sa)

Allah swt berfirman:
فتلقى آدم من ربه كلمات فتاب عليه

“Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima taubatnya,”

Jalaluddin As-Suyuthi dalam tafsirnya Ad-Durrul Mantsur ketika menafsirkan ayat ini, mengatakan: Ibn Abbas pernah bertanya kepada Rasulullah saw tentang “Kalimat-kalimat yang diterima oleh Adam dari Tuhannya lalu Dia menerima taubatnya”.

Rasulullah saw bersabda: “Adam memohon kepada Allah dengan hak Muhammad, Ali, Fatimah, Al-Hasan dan Al-Husein (sa), kemudian Allah menerima taubatnya.” (Kanzul Ummal 1: 234).

Imam Ali bin Abi Thalib (sa) pernah bertanya kepada Rasulullah saw tentang firman Allah “Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya “(Al-Baqara: 36). Rasulullah saw bersabda:
“Sesungguhnya Allah menurunkan Adam di India, Hawa’ di Jeddah, Iblis di Misan, dan ular di Ashbahan, ular itu berkaki seperti kaki onta. Adam tinggal di India selama seratus tahun menangisi kesalahannya sehingga Allah mengutus Jibril kepadanya dan berfirman: “Wahai Adam, bukankah Aku menciptakanmu dengan tangan-Ku? Bukankah Aku meniupkan ruh-Ku ke dalam dirimu? Bukankah para malaikat-Ku telah sujud kepadamu? Bukankah Aku telah menjadikan Hawa sebagai isterimu? Adam menjawab: Semua itu benar. Kemudian Allah swt bertanya: Mengapa kamu menangis? Adam menjawab: Bagaimana aku tidak menangis sementara aku dikeluarkan dari sisi Yang Maha Pengasih. Kemudian Allah swt berfirman: “Hendaknya kamu bertaubat dengan kalimat-kalimat ini, sesungguhnya Allah akan menerima taubatmu dan mengampuni dosamu. Ucapkan olehmu:
اللّهم إني أسالك بحق محمّد وآل محمّد، سبُحانك لا إله إلاّ أنت، عملت سوءاً وظلمت نفسي، فتب عليّ إنك أنت التواب الرحيم، اللّهم إني أسألك بحق محمّد وآل محمّد، عملت سوءاً وظلمتُ نفسي فتُب عليّ إنك أنت التواب الرحيم

Ya Allah, aku memohon pada-Mu dengan hak Muhammad dan keluarga Muhammad. Maha Suci Engkau tiada Tuhan kecuali Engkau, aku telah melakukan kesalahan dan menzalimi diriku, maka terimalah taubatku, sesungguhnya Engkau Maha Penerima taubat dan Maha Menyayangi. Ya Allah, aku memohon pada-Mu dengan hak Muhammad dan keluarga Muhammad, aku telah melakukan kesalahan dan menzalimi diriku, maka terimalah taubatku, sesungguhnya Engkau Maha Menerima taubat dan Maha Menyayangi.

Kemudian Rasulullah saw bersabda: “kalimat-kalimat inilah yang diterima oleh Adam.” (Kanzul ‘Ummal 1: 234, hadis ke 4237)

Hadis tersebut dengan segala macam redaksinya juga terdapat di dalam kitab:
1. Manaqib Ali bin Abi Thalib, Al-Maghazili Asy-Syafi’i, halaman 63, hadis ke 89.
2. Yanabi’ul Mawaddah, Al-Qundusi Al-Hanafi, halaman 97 dan 239, cet. Islambul; halaman 111, 112, 283, cet. Al-haidariyah.
3. Muntakhab kanzul ‘Ummal, Al-Muntaqi Al-Hindi (catatan pinggir) Musnad Ahmad bin Hambal, jld 1, hlm 419.
4. Al-Ghadir, Al-Amini, jilid 7, halaman 300.
5. Ihqaqul Haqq, At-Tustari, jilid 3, halaman 76.sumber
»»  READMORE...

Surat Al-Fatihah: 6-7

Jalan yang Benar

Allah swt berfiman:
اهْدِنَا الصرَط الْمُستَقِيمَ صِرَط الَّذِينَ أَنْعَمْت عَلَيْهِمْ غَيرِ الْمَغْضوبِ عَلَيْهِمْ وَ لا الضالِّينَ

“Tunjukilah kami ke jalan yang lurus, jalannya orang-orang yang telah Kau beri nikmat. “Yaitu jalan orang-orang yang Kau beri nikmat, bukan jalan orang-orang yang dimurkai dan bukan jalan orang-orang yang tersesat.”

Shirathal mustaqim, jalan yang lurus dan benar, memiliki dua makna: makna lahir dan makna batin.

Dalam beberapa riwayat hadis disebutkan bahwa yang dimaksud dengan “Shirathal mustaqîm” adalah jalan Rasulullah saw dan Ahlul baitnya. Riwayat ini terdapat di dalam:

1. Syawahidut Tanzil, Al-Hakim Al-Haskani, jilid 1, halaman 57, hadis ke: 86,87,88,89,90,91,92,93,94,95,101,102,103,104 dan 105.
2. Al-Ittihaf Bihubbil Asyraf, Asy-syahrawi, halaman 76.
3. Kifayah Ath-Thalib, Al-Kanji Asy-Syafi’i, halaman 162 cet. Al-
4. Ihqaqul Haqq, At-Tustari, jilid 3, halaman 534.

Rasulullah saw bersabda tentang firman Allah “‘Tunjukilah kami ke jalan yang lurus’: Jalannya para Nabi yang telah dikaruniai nikmat oleh Allah.” (Tafsir Nur Ats-Tsaqalayn 1, hadis ke 86)

Imam Ja’far Ash-Shadiq (sa) berkata tentang firman Allah “‘Tunjukilah kami ke jalan yang lurus’: Jalan dan mengenal Imam.” (Tafsir Nur Ats-Tsaqalayn 1, hadis ke 88)

Imam Ja’far Ash-Shadiq (sa) berkata: “Demi Allah, kami adalah jalan yang lurus.” (Tafsir Nur Ats-Tsaqalayn 1, hadis ke 89)

Mufadhdhal bin Umar berkata, aku pernah bertanya kepada Imam Ja’far Ash-Shadiq (sa) tentang “Ash-Shirath”. Beliau berkata: “Ash-Shirath” adalah jalan untuk mengenal Allah Azza wa Jalla. Shirath itu ada dua: Shirath di dunia dan shirath di akhirat. Shirath di dunia adalah Imam yang wajib ditaati, orang yang mengenalnya di dunia dan memperoleh keteladanan dengan petunjuknya ia akan selamat dalam melintasi shirath di atas jurang neraka Jahamman di akhirat. Dan orang yang tidak mengenalnya di dunia ia akan tergelincir kakinya dari shirath di akhirat sehingga ia tersungkur ke dalam neraka Jahannam.” (Tafsir Nur Ats-Tsaqalayn 1, hadis ke 92)

Sa’dan bin Muslim berkata, aku pernah bertanya kepada Imam Ja’far Ash-Shadiq (sa) tentang “Shirath”. Beliau berkata: “lebih halus dari rambut dan lebih tajam dari pedang. Di antara mereka ada orang yang melintasinya seperti kilat, ada yang melintasinya seperti musuh berkuda, ada yang melintasinya dengan berjalan kaki, ada yang melintasinya dengan merangkak, dan ada yang melintasinya dengan bergelantung sehingga terjilat oleh api neraka.” (Tafsir Nur Ats-Tsaqalayn 1, hadis ke 93)

Imam Zainal Abidin (sa) berkata: “Kami adalah pintu Allah dan kami adalah jalan yang lurus.” (Tafsir Nur Ats-Tsaqalayn 1, hadis ke 97)

Imam Muhammad Al-Baqir (sa) berkata bahwa Rasulullah saw bersabda: “Wahai Ali, pada hari kiamat aku, kamu dan Jibril duduk di atas shirath, sehingga tidak ada seorang pun yang boleh melintasi kecuali orang yang tercatat kesetiaannya terhadap wilayahmu.” (Tafsir Nur Ats-Tsaqalayn 1, hadis ke 98)

Imam Muhammad Al-Baqir (sa) berkata dari ayahnya dan dari kakeknya bahwa Rasulullah saw bersabda tentang ayat ini: “Pengikut Ali (sa) yang Kau beri nikmat dengan wilayah Ali bin Abi Thalib (sa), mereka yang tidak dimurkai dan tidak tersesat.” (Tafsir Nur Ats-Tsaqalayn 1, hadis ke 104)

Imam Muhammad Al-Baqir (sa): “Kami adalah jalan yang jelas dan lurus menuju kepada Allah Azza wa Jalla, dan kami adalah nikmat untuk makhluk-Nya.” (Tafsir Nur Ats-Tsaqalayn 1, hadis ke 105)

Imam Ja’far Ash-Shadiq (sa): “Orang yang dimukai” adalah kaum nashibi, sedangkan “Orang-orang yang tersesat” adalah yahudi dan nasrani. (Tafsir Nur Ats-Tsaqalayn 1, hadis ke 106)

Imam Ja’far Ash-Shadiq (sa) berkata: “Orang-orang yang dimurkai” adalah kaum nashibi, sedangkan “Orang-orang yang tersesat” adalah orang-orang yang ragu dan tidak mengenal Imamnya. (Tafsir Nur Ats-Tsaqalayn 1, hadis ke 107) (sumber)
»»  READMORE...

Surat Al-Ahzab: 56

Perintah Bershalawat kepada Nabi saw dan Keluarganya

Allah swt berfirman:
إِنَّ اللَّهَ وَ مَلَئكتَهُ يُصلُّونَ عَلى النَّبىّ‏ِ يَأَيهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا صلُّوا عَلَيْهِ وَ سلِّمُوا تَسلِيماً

“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi; wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu kepadanya dan ucapkan salam kepadanya.” (Al-Ahzab/33: 56)

Ulama dari kalangan mazhab Ahlul bait (sa) sepakat bahwa ayat ini diturunkan untuk menegaskan hak Rasulullah saw dan Ahlul baitnya (sa), yaitu perintah bershalawat kepada mereka dan cara bershalawat. Ulama Ahlussunnah juga sepakat kecuali hanya beberapa penulis.

Cara bershalawat
Dalam shahih Bukhari, kitab doa, bab bershalawat kepada Nabi saw:

Abdurrahman bin Abi Layli berkata: Ka’b bin Ujrah menemui aku lalu berkata: Tidakkah kamu diberi hadiah? Nabi saw datang kepada kami, lalu kami berkata: Ya Rasulallah, engkau telah mengajari kami cara mengucapkan salam kepadamu, lalu bagaimana cara bershalawat kepadamu? Beliau menjawab: Kalian ucapkan:
اللهمّ صلِّ على محمّد وعلى آل محمّد، كما صلّيت على آل إبراهيم إنك حميد مجيد، اللّهمّ بارك على محمّد وعلى آل محمّد، كما باركت على إبراهيم إنك حميد مجيد

Ya Allah, sampaikan shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Kau sampaikan shalawat kepada keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji dan Maha Mulia. Ya Allah, berkahi Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau berkahi Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji dan Maha Mulia.

Dalam Shihih Bukhari, kitab tafsir, bab ayat ini:

Abu Said Al-Khudri berkata, kami berkata: Ya Rasulallah, ini adalah cara mengucapkan salam kepadamu, lalu bagaimana cara bershalawat kepadamu? Beliau menjawab: kalian ucapkan:
اللّهمّ صلّ على محمّد عبدك ورسولك كما صلّيت على آل إبراهيم، وبارك على محمّد وعلى آل محمّد كما باركت على إبراهيم

Ya Allah, sampaikan shalawat kepada Muhammad hamba-Mu dan Rasul-Mu sebagaimana Engkau sampaikan shalawat kepada keluarga Ibrahim, dan berkahi Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau berkahi Ibrahim.

Shahih Muslim, kitab shalawat kepada Nabi saw sesudah tasyahhud:

Abu Mas’ud Al-Anshari berkata: Rasulullah saw pernah mendatangi kami ketika kami berada di majlis Sa’d bin Ubadah. Kemudian Basyir bin Sa’d berkata kepadanya: Allah Azza wa Jalla memerintahkan pada kami agar bershalawat kepadamu ya Rasulallah, lalu bagaimana cara kami bershalawat kepadamu? Lalu beliau diam sepertinya beliau menghendaki kami tidak bertanya tentang hal itu. Kemudian beliau bersabda: Kalian ucapkan:
اللّهم صلّ على محمّد وعلى آل محمّد كما صليت على آل إبراهم، وبارك على محمّد وعلى آل محمّد كما باركت على آل إبراهيم في العالمين إنك حميدٌ مجيد

Ya Allah, sampaikan shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Kau sampaikan shalawat kepada keluarga Ibrahim, dan berkahi Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau berkahi keluarga Ibrahim di alam semesta, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji dan Maha Mulia.

Sunan An-Nasa’i 1/190, bab 52, hadis ke 1289:
Musa bin Thalhah dari ayahnya, ia berkata: kami berkata, ya Rasulallah, bagaimana cara bershalawat kepadamu? Beliau menjawab: Kalian ucapkan:
اللّهمّ صلِّ على محمّد وعلى آل محمّد كما صلّيت على إبراهيم وآل إبراهيم إنك حميد مجيد ، وبارك على محمّد وعلى آل محمّد كما باركت على إبراهيم وآل إبراهيم إنك حميد مجيد

Ya Allah, sampaikan shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Kau sampaikan shalawat kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji dan Maha Mulia; berkahi Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau berkahi Ibrahim dan keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji dan Maha Mulia.

Sunan An-Nasa’i 1: 190, bab 52, hadis ke 1291:

Musa bin Thalhah berkata, aku bertanya kepada Zaid bin Kharijah, ia berkata, aku pernah bertanya kepada Rasulullah saw. Kemudian beliau bersabda: Bershalawatlah kalian kepadaku dan bersungguh-sungguhlah kalian dalam berdoa, dan kalian ucapkan:
اللّهم صلِّ على محمّد وعلى آل محمّد

Ya Allah, sampaikan shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad.

Shahih Ibnu Majah 65, kitab shalat, bab shalawat kepada Nabi saw, hadis ke 906:

Abdullah bin Mas’ud berkata: Jika kalian bershalawat kepada Rasulullah saw, hendaknya kalian memperbaiki shalawat kepadanya, karena kalian tidak tahu kalau shalawat itu hukumnya wajib. Lalu dikatakan kepadanya: ajarkan kepada kami (tentang cara bershalawat). Ia berkata: kalian ucapkan:
اللهم اجعل صلاتك ورحمتك وبركاتك على سيد المرسلين. اللّهم صلّ على محمّد وعلى آل محمّد كما صلّيت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد ، اللهم بارك على محمّد وعلى آل محمّد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد

Ya Allah, curahkan shalawat-Mu, rahmat-Mu dan keberkahan-Mu kepada penghulu para Rasul. Ya Allah, sampaikan shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Kau sampaikan shalawat kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji dan Maha Mulia. Ya Allah, berkahi Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau berkahi Ibrahim dan keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji dan Maha Mulia.

Fathul Bari 13: 441, kitab doa, bab 32, hadis ke 6358:

Abu Hurairah berkata bahwa Rasulullah saw bersabda: Barangsiapa yang shalawat ini, pada hari kiamat aku akan menjadi saksi baginya dan memberi syafaat padanya:
اللهم صل على محمّد وعلى آل محمّد كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم ، وبارك على محمّد وعلى آل محمّد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم ، وترحم على محمّد وعلى آل محمّد كما ترحمت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم

Ya Allah, sampaikan shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Kau sampaikan shalawat kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim, berkahi Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau berkahi Ibrahim dan keluarga Ibrahim, sayangi Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau sayangi Ibrahim dan keluarga Ibrahim.

Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i meriwayatkan dalam Musnadnya:

Abu Hurairah bertanya kepada Rasulullah saw: Wahai Rasulullah, bagaimana cara kami bershalawat kepadamu? Nabi saw menjawab: kalian ucapkan:
اللّهم صل على محمد وآل محمد كما صليت على ابراهيم وبارك على محمد وآل محمد كما باركت على ابراهيم وآل ابراهيم، ثم تسلمون علي

Ya Allah, sampaikan shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Kau sampaikan shalawat kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim, dan berkahi Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Kau berkahi Ibrahim dan keluarga Ibrahim; kemudian ucapkan salam kepadaku. (Musnad, jilid 2, halaman 97).

Ash-Sha’iqul Muhriqah, hlm 144:

Ibnu Hajar meriwayatkan bahwa Ka’b bin Ujrah berkata: ketika ayat ini turun kami bertanya kepada Rasulullah saw: Ya Rasulallah, kami telah mengetahui cara mengucapkan salam kepadamu, tapi bagaimana cara bershalawat kepadamu. Nabi saw menjawab: kalian ucapkan:
اللّهم صل على محمد وآل محمد

Ya Allah, sampaikan shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad. Kemudian beliau bersabda: Janganlah kalian bershalawat kepadaku dengan shalawat yang batra’ (puntung). Lalu para sahabat bertanya: Apa shalawat yang batra’ itu. Beliau menjawab: Kalian hanya mengucapkan:
اللّهم صل على محمد

Ya Allah, sampaikan shalawat kepada Muhammad. Tetapi, hendaknya kalian mengucapkan:
اللّهم صل على محمد وآل محمد

Ya Allah, sampaikan shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad.

Dalam tafsirnya Al-Qurthubi menyebutkan beberapa riwayat bahwa ayat ini adalah keharusan menyertakan Ahlul bait ketika bershalawat kepada Nabi saw. (Al-Jami’ li-Ahkamil Qur’an 14: 233 dan 234).

Ibnul Arabi Al-Andalusi Al-Maliki juga menyebutkan beberapa riwayat bahwa ayat ini diturunkan untuk menegaskan hak Nabi saw dan keluarganya yang suci (sa). (Ahkamul Qur’an 2: 84).

Jabir (ra) berkata: Sekiranya kamu melakukan shalat dan tidak bershalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, maka aku tidak melihat shalatnya diterima. (Dzakhairul Uqba:19).

Al-Qadhi ‘Iyadh meriwayatkan dalam Asy-Syifa’, dari Ibnu Mas’ud bahwa Nabi saw bersabda: “Barangsiapa yang melakukan shalat dan dalam shalatnya tidak membaca shalawat kepadaku dan Ahlul baitku, maka shalatnya tidak diterima.” (Al-Ghadir 2: 303).

Ibnu Hajar mengatakatan: Ad-Daruquthni dan Al-Baihaqi meriwayatkan bahwa Nabi saw bersabda: “Barangsiapa yang melakukan shalat dan dalam shalatnya tidak membaca shalawat kepadaku dan Ahlul baitku, maka shalatnya tidak diterima.” (Ash-Shawaiqul Muhriqah: 139).

Ar-Razi mengatakan: Doa untuk keluarga Nabi saw menunjukkan keagungan kedudukan mereka, karena doa ini ditempatkan di akhir Tasyahhud dalam shalat, yaitu: Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa âli Muhammad, warham Muhammadan wa âla Muhammad (Ya Allah, sampaikan shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, dan sayangi Muhammad dan keluarga Muhammad). Pengagungan ini tidak akan didapatkan pada selain keluarga Muhammad. Hal ini menunjukkan bahwa mencintai keluarga Muhammad adalah wajib. Keagungan kedudukan Ahlul bait Nabi saw terdapat dalam lima hal: Tasyahhud dalam shalat, salam, kesucian, diharamkannya sedekah bagi mereka, dan kewajiban mencintai mereka. (Tafsir Ar-Razi 7: 391).

Hadis-hadis tersebut dan yang semakna juga terdapat dalam:
1. Shahih Bukhari, jilid 6, halaman 12.
2. Asbabun Nuzul, Al-Wahidi, halaman 271.
3. Ma’alim At-Tanzil, Al-Baghawi, catatan pinggir Tafsir Al-Khazin, jilid 5, halaman 225.
4. Mustadrak Al-Hakim, jilid 3, halaman 148.
5. Tafsir Fakhrur Razi, jilid 25, halaman 226.
6. Al-Hafizh Abu Na’im Al-Isfahani, Akhbar Isfahan, jilid 1, halaman 131.
7. Al-Hafizh Abu Bakar Al-Khathib, Tarikh Baghdad, jilid 6, halaman 216.
8. Ibnu Abd Al-Birr Al-Andalusi, Tajrid At-Tamhid, halaman 185.
9. Tafsir Ruh Al-Ma’ani, Al-Alusi, jilid 22, halaman 32.
10. Dzakhairul Uqba, Muhibuddin Ath-Thabari, halaman 19.
11. Riyadhush Shalihin, An-Nawawi, halaman 455.
12. Tafsir Ibnu Katsir, jilid 3, halaman 506.
13. Tafsir Ath-Thabari, jilid 22, halaman 27.
14. Tafsir Al-Khazin, jilid 5, halaman 226.
15. Ad-Durrul Mantsur, As-Suyuthi, jilid 5, halaman 215.
16. Fathul Qadir, Asy-Syaukani, jilid 4, halaman 293.

Shalat tidak akan diterima tanpa shalawat
Sunan Al-Baihaqi 2: 379, kitab shalat, bab 471, hadis 3968:
Abu Mas’ud berkata: Sekiranya aku melakukan shalat tanpa bershalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, niscaya aku memandang shalatku tidak sempurna.

Dalam Sunan Ad-Daruquthni 136, kitab shalat, bab kewajiban shalawat dalam tasyahhud, hadis ke 6:

Ibnu Mas’ud berkata bahwa Rasululah saw bersabda:
من صلى صلاة لم يصل فيها عليّ ولا على أهل بيتي لم تقبل منه

“Barangsiapa yang melakukan shalat, dan di dalamnya tidak bershalawat kepada ku dan Ahlul baitku, maka shalatnya tidak diterima.”

Dalam Dzakhair Al-‘Uqba 19, bab Fadhail Ahlul bait (sa):
Jabir berkata: Sekiranya aku melakukan shalat, dan di dalamnya aku tidak bershalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, niscaya aku memandang shalatku tidak diterima.

Dalam Syarah Al-Mawahib halaman 7:

Imam Syafi’i berkata:
يا آل بيت رسول الله حبكم فرض من الله في القرآن أنزله
كفا كم من عظيم القدر انكم من لم يصل عليكم لا صلاة له

Wahai Ahlul bait Rasulullah,
mencintaimu diwajibkan oleh Allah dalam Al-Qur’an yang diturunkan
Cukuplah keagungan kedudukanmu
orang yang tidak bershalawat kepadamu (dalam shalatnya)
shalatnya tidak sah.

Perkataan Imam Syafi’i tersebut juga terdapat dalam:
1. Musnad Ahmad, jilid 6 halaman 323.
2. Ash-Shawaiqul Muhriqah, Ibnu hajar, halaman 88.
3. Tafsir Nur Ats-Tsaqalayn Al-Abshar, Asy-Syablanji, halaman 104, bab 2 manaqib Al-Hasan dan Al-Husayn.

Doa tidak akan diijabah tanpa shalawat
Dalam Kanzul Ummal 1: 173, pasal 2 Adab Doa:
Tidak ada suatupun doa kecuali ada hijab (penghalang) antara doa itu dan Allah sehingga dibacakan shalawat. Ketika shalawat dibacakan, maka robeklah hijab itu dan sampailah doa itu kepada Allah swt. Dan jika tidak dibacakan shalawat, maka kembalilah doa itu.
Pernyataan ini diriwayatkan oleh Ad-daylami dari Ali bin Abi Thalib (sa).

Dalam Ash-Shawaiq Al-Muhriqah haaman 88:
Ad-Daylami meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda:
الدعاء محجوب حتى يُصلّى على محمّد وأهل بيته ، اللّهم صلِّ على محمّد وآله

“Doa itu akan terhijabi sehingga dibacakan shalawat kepada Muhammad dan Ahlul baitnya, yaitu: Sampaikan shalawat kepada Muhammad dan keluarganya.”

Dalam Faydh Al-Qadhir 5: 19, hadis ke 6303:
Ali bin Abi Thalib (sa) berkata:
كل دعاء محجوب حتى يُصلّى على محمّد وآل محمّد

“Semua doa akan terhalangi sehingga dibacakan shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad.”

Al-Haitsami mengatakan: Tokoh-tokoh hadis tersebut dapat dipercaya.
Al-Muttaqi Al-Hindi juga menyebutkan dalam kitabnya Kanzul Ummal 1/314, mengutip dari Ubaidillah bin Abi Hafsh Al-‘Aysyi. Abdul Qadir Ar-Rahawi menyebutkan dalam Al-Arbain, Ath-Thabrani dalam Al-Kabir, Al-Baihaqi dalam Syu’b Al-Iman.

Dalam Faydh Al-Qadir 3: 543:
Abu Syaikh meriwayatkan Ali bin Abi Thalib (sa):
الدعاء محجوب عن الله حتى يصلّى على محمّد وأهل بيته

“Doa itu akan terhijabi dari Allah sehingga dibacakan shalawat kepada Muhammad dan Ahlul baitnya.”

Hadis ini juga diriwayatkan Al-Baihaqi dari Asy-Sya’b, At-Tirmidzi dari Ibnu Umar.

Dalam Kanzul Ummal 1: 181:
Rasulullah saw bersabda kepada Ali bin Abi Thalib (sa): Jika disedihkan oleh suatu persoalan, maka bacalah:
اللّهم احرسني بعينك التي لا تنام، واكنفني بكنفك الذي لا يرام. أسألك أن تُصلّي على محمّد وعلى آل محمّد، وبك أدرأ في نحور الأعداء والجبابرة

“Ya Allah, jagalah daku dengan mata-Mu yang tak pernah tidur, dan jagalah daku dengan benteng-Mu yang tak pernah hancur. Aku bermohon pada-Mu sampaikan shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, dengan-Mu aku berlindung dari permusuhan musuh-musuhku dan orang-orang yang sombong.”

Ali, Fatimah, Hasan dan Husein (sa) adalah keluarga Nabi saw
Dalam Musnad Ahmad 6: 324, hadis ke 26206:
Ummu Salam berkata bahwa Rasulullah saw bersabda kepada Fatimah (sa): “Bawalah kepadaku suamimu dan kedua anakmu.” Kemudian Fatimah (sa) bersama mereka datang kepada Nabi saw. Lalu beliau memayungi mereka dengan kain kisa’ dan meletakkan tangannya pada mereka, lalu bersabda:
اللّهم إن هؤلاء آل محمّد ، فاجعل صلواتك وبركاتك على محمّد وعلى آل محمّد إنّك حميد مجيد

“Ya Allah, sesungguhnya mereka adalah keluarga Muhammad, curahkan shalawat-Mu dan keberkahan-Mu kepada Muhammad dan keluarga Muhammad sesungguhnya Engkau Maha Terpuji dan Maha Mulia.”
Ummu Salamah berkata: Kemudian aku mengangkat kain kisa’ itu untuk berkumpul bersama mereka, kemudian Nabi saw menarik kain kisa’ itu (melarang masuk ke dalam kain kisa’) dan bersabda: “Engkau adalah orang yang baik.”

Dalam Mustadrak Al-Hakim 3: 147, kitab ma’rifah Shahabah:
Abdullah bin Ja’far bin Abi Thalib berkata: Ketika Rasulullah saw melihat rahmat Allah turun, beliau bersabda: “Datangkan padaku, datangkan padaku.” Shafiyah bertanya: Siapa yang Rasulallah? Beliau menjawab: “Ahlul baitku, yaitu Ali, Fatimah, Al-Hasan dan Al-Husayn.” Lalu mereka datang kepada Nabi saw, kemudian beliau memayungi mereka dengan kain kisa’, kemudian berdoa dengan mengangkat tangannya:
اللّهمّ هؤلاء آلي ، فصلِّ على محمّد وعلى آل محمّد

“Ya Allah, mereka adalah keluargaku, curahkan shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad.” Kemudian Allah Azza wa jalla menurunkan surat Al-Ahzab: 33.
Al-Hakim mengatakan hadis ini shahih menurut persyaratan Bukhari dan Muslim.

Hadis ini dan yang semakna juga terdapat dalam:
1. Kanzul Ummal, Al-Muttaqi Al-Hindi, jilid 7 halaman 103, bab Fadhail Ahlul bait, hadis ke 37629.
2. Musykil Al-Atsar, Ath-Thahawi, jilid 1 halaman 334.
3. Tafsir Ad-Durrul Mantsur, tentang surat Al-Ahzab: 33.
4. Musnad Ahmad, jilid 6 halaman 296.
5. Majma’ Az-Zawaid, Al-Haitsami, jilid 9 halaman 167, bab keutamaan Ahlul bait (sa).

Larangan shalawat batra’ (terputus)
Shalawat ba’tra’ adalah shalawat yang tidak menyertakan keluarga Nabi saw dalam bershalawat kepadanya.

Dalam Ash-Shawaiq Al-Muhriqah 87, bab 11:
Ibnu Hajar berkata bahwa Nabi saw bersabda: “Janganlah kalian bershalawat kepadaku dengan shalawat batra’.” Kemudian sahabat bertanya: Apakah shalawat batra’ itu? Nabi saw menjawab: Kalian hanya mengucapkan:
اللّهم صلِّ على محمّد

Ya Allah, sampaikan shalawat kepada Muhammad. Tetapi hendaknya kalian mengucapkan:
اللّهم صلّ على محمّد وعلى آل محمّد

Ya Allah, sampaikan shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad.

Disini terdapat hal yang mengherankan: Mengapa umumnya ummat Islam bershalawat kepada Nabi saw dengan shalawat batra’ yaitu Shallallahu ‘alayhi wa sallam (semoga Allah mencurahkan shalawat dan salam kepada Muhammad). Padahal para ulama dan para imam ahli hadis dari Ahlussunnah telah meriwayatkan hadis-hadis bahwa doa itu tidak diijabah tanpa bershalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, shalat tidak diterima tanpa bershalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, cara bershalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, dan hadis-hadis bahwa Nabi saw melarang bershalawat dengan shalawat batra’ (yang terputus). (sumber)
»»  READMORE...

Surat Asy-Syura: 23

Ayat tentang Perintah Mencintai Ahlul Bait Nabi saw

Allah swt berfirman:
قُل لا أَسئَلُكمْ عَلَيْهِ أَجْراً إِلا الْمَوَدَّةَ فى الْقُرْبى

“Katakan hai Muhammad: ‘Aku tidak meminta upah kepada kalian dalam dakwah ini kecuali kecintaan kepada keluargaku’.” (Surat Asy-Syura: 23)

Dalam kitab Hilyatul Awliya’, jilid 3 halaman 201 disebutkan:
Jabir Al-Anshari berkata: Pada suatu hari orang badui datang kepada Nabi saw, lalu ia berkata: Wahai Muhammad, jelaskan kepadaku tentang Islam! Lalu Rasulullah saw bersabda: “Bersaksilah kamu sesungguhnya tiada Tuhan kecuali Allah Yang Maha Esa dan tiada sekutu bagi-Nya, dan sesungguhnya Muhammad adalah hamba-Nya dan utusan-Nya.” Kemudian orang badui itu bertanya: Apakah dalam hal ini (dakwah ini) kamu meminta upah padaku? Rasulullah saw menjawab: “Tidak, kecuali kecintaan kepada keluargaku.” Selanjutnya orang badui itu berkata: Sekarang aku berbaiat kepadamu, dan semoga Allah melaknat orang yang tidak mencintaimu dan keluargamu. Rasulullah saw menjawab: “Amin.”

Dalam tafsir Ad-Durrul Mantsur oleh Jalaluddin As-Suyuthi, tentang ayat ini:
As-Suyuthi mengutip hadis yang bersumber dari Ibnu Abbas, ia berkata: Ketika ayat ini (Asy-Syura: 23) turun, para sahabat bertanya: Ya Rasulallah, siapakah dari keluargamu yang wajib dicintai oleh kami? Rasulullah saw menjawab: “Ali, Fatimah, Hasan dan Husein.”

Ibnu Abbas berkata, ketika ayat ini turun Rasulullah saw bersabda: “Hendaknya kalian menjagaku dengan menjaga Ahlul baitku dan mencintai mereka.”

Hadis tersebut dan hadis-hadis yang semakna terdapat dalam:
1. Syawahidut Tanzil, oleh Al-Hakim Al-Haskani Al-Hanafi, jilid 2, halaman 130, hadis ke: 822, 823, 824, 825, 826, 827, 828, 832, 833, 834 dan 838.
2. Manaqib Ali bin Abi Thalib, oleh Ibnu Al-Maghazili Asy-Syafi’i, halaman 307, hadis ke 352.
3. Dzakhairul ‘Uqba, oleh Ath-Thabari Asy-Syafi’i, halaman 25 dan 138.
4. Ash-Shawa’iqul Muhriqah, oleh Ibnu Hajar Asy-Syafi’i, halaman 101, 135 dan 136, cet. Al-Maimaniyah, cet; halaman 168 dan 225, cet Al-Muhammadiyah, Mesir.
5. Kifayah Ath-thalib, oleh Al-Kanji Asy-Syafi’i, halaman 91, 93 dan 313, cet. Al-Haidariyah; halaman 31,32, 175,178, cet. Al-Ghira.
6. Al-Fushul Al-Muhimmah, oleh Ibnu Shabagh A-Maliki, halaman 11.
7. Maqtal Al-Husain, oleh Al-khawarizmi Al-Hanafi, jilid 1, halaman 1 dan 57.
8. Tafsir Ath-Thabari, jilid 25, halaman 25, cet. ke 2 Mushthafa Al-Halabi, Mesir; jilid 25, halaman 14 dan 15 cet. Al-Maimaniyah, Mesir.
9. Al-Mustadrak Al-Hakim, jilid 3, halaman 172.
10. Al-Ittihaf, oleh Asy-Syabrawi asy-Syafi’i, halaman 5 dan 13.
11. Ihyaul Mayt, oleh As-Suyuthi Asy-syafi’i (halaman pinggir) Al-Ittihaf, halaman 110.
12. Tafsir Al-Mushthafa Muhammad; jilid 4, halaman 220, cet. As-Sa’idiyah; halaman 106, cet. Al-’Ustmaniyah.
13. Tafsir Al-Kasysyaf, oleh Zamakhysyari, jilid 3, halaman 402, cet. Musththafa Muhammad; jilid 27, halaman 166, cet. Abdurrahman;jilid 4, halaman 405-406.
14. Tafsir Fakhrur Razi, jilid 27, halaman 166, cet. Abdurrahman Muhammad, Mesir, jilid 7, halaman 405-406.
15. Tafsir Al-Baidhawi, jilid 4, halaman 123, cet. Musththafa Muhammad, Mesir, jilid 5, halaman 53, cet. Darul Kutub; halaman 642, cet. Al-Ustmaniyah.
16. Tafsir Ibnu Katsir, jilid 4, halaman 112.
17. Majma’uz Zawaid, jilid 7, halaman 103; dan jilid 9, halaman 168.
18. Fathul Bayan fi Maqashidil Qur’an, oleh Shiddiq Hasan Khan, jilid 8, halaman 372.
19. Tafsir Al-Qurthubi, jilid 16, halaman 22.
20. Fathul Qadir, oleh Asy-Syaukani, jilid 4, halaman 537, cet ke2; jilid 4, halaman 22, cet. pertama, Mesir.
21. Ad-Durrul Manstur, oleh As-Suyuthi, jilid 6, halaman 7.
22. Yanabi’ul Mawaddah, oleh Al-Qundusi, halaman 106, 194, 261, cet. Istambul;halaman 123 229, 311, cet. Al-Haidariyah.
23. Tafsir An-Nasafi, jilid 4, halaman 105.
24. Hilyatul Awliya’, jilid 3, halaman 201.
25. Al-Ghadir, Al-Amini, jilid 2, halaman 306-311
26. Ihqaqul Haqq, oleh At-Tustari, jilid 3, halaman 2-22; jilid 9, halaman 92-101, cet. pertama, Teheran.
27. Fadhaitul Khamsah, jilid 2, halaman 259
28. Faraid As-Samthin jilid 1, halaman 20; jilid 2, halaman 13, hadis ke 359
29. Abqatul Anwar bagian hadis Ats-Tsaqalayn, jilid 1, halaman 285. (sumber)
»»  READMORE...

Surat Al-Ahzab: 33

Ayat tentang Kesucian Ahlul Bait Nabi saw

Allah swt menegaskan dalam firman-Nya yang mulia:
إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِب عَنكمُ الرِّجْس أَهْلَ الْبَيْتِ وَ يُطهِّرَكمْ تَطهِيراً

“Sungguh tiada lain Allah berkehendak menjaga kamu dari dosa-dosa hai Ahlul bait dan mensucikan kamu dengan sesuci-sucinya.” (Al-Ahzab/33: 33)

Surat Al-Ahzab: 33 merupakan ayat menegasan tentang kesucian Ahlul bait Nabi saw. Lalu siapakah Ahlul bait Nabi saw itu? Jawabannya ada tiga pendapat.

Pendapat pertama:
Ayat ini khusus untuk: Nabi saw, Ali, Fatimah, Hasan dan Husein (as).
Pendapat ini berdasarkan hadis shahih yang bersumber dari Aisyah, Ummu Salamah, Abu Said Al-Khudri, Anas bin Malik dan lainnya bahwa ayat ini turun hanya untuk lima orang: Rasulullah saw, Ali, Fatimah, Hasan dan Husein (as).

Dalam Tafsir Ad-Durrul Mantsur jilid 5 halaman 198 dan 199:
Jalaluddin As-Suyuthi berkata bahwa Ummu Salamah berkata: Ayat ini turun di rumahku, dan di rumahku ada tujuh: Jibril dan Mikail (as), Ali, Fatimah, Hasan dan Husein (ra), sementara aku ada di pintu rumahku. Kemudian aku berkata: Ya Rasulallah, bukankah aku termasuk ke dalam Ahlul baitmu? Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya kamu adalah orang yang baik, kamu termasuk ke dalam golongan isteri-isteri Nabi (bukan Ahlul bait Nabi saw).”

Abu Said Al-Khudri berkata: Ketika Ummu Salamah Ummul mukminin (ra) berada di rumahnya, turunlah malaikat Jibril kepada Rasulullah saw membawa ayat ini (ayat Tathhir). Kemudian Rasulullah saw memanggil Hasan dan Husein, Fatimah dan Ali (as) lalu beliau menghimpun mereka, menghampar kain untuk mereka, dan melarang Ummu Salamah berhimpun bersama mereka. Kemudian beliau bersabda: Ya Allah, mereka inilah Ahlul baitku, jagalah mereka dari dosa-dosa dan sucikan mereka dengan sesuci-sucinya.”
Lalu Ummu Salamah (ra) berkata: Wahai Nabi Allah, aku bersama mereka? Rasulullah saw bersabda: “Kamu berada dalam kedudukanmu dan kamu adalah orang yang baik.”

Dalam Shahih Muslim, Shahih At-Tirmidzi, Shahih An-Nasa’i, Musnad Ahmad bin Hanbal, Musnad Al-Bazzar, Musnad Abd bin Humaid, Mustadrak Al-Hakim, Talkhish Al-Mustadrak Adz-Dzahabi, Tafsir Ath-Thabari, Tafsir Ibnu Katsir, Ad-Durrul Mantsur menyebutkan bahwa:
Ibnu Abbas, Abu Said Al-Khudri, Jabir Al-Anshari, Sa’d bin Abi Waqqash, Zaid bin Arqam, Ummu Salamah, Aisyah, dan sebagian sahabat yang lain mengatakan: ketika ayat ini turun kepada Rasulullah saw, beliau mengumpulkan keluarganya yaitu Ali, Fatimah, Hasan dan Husein, dan beliau memayungi mereka dengan kain kisa’ sambil bersabda:
اَللَّهُمَّ هَؤُلاَء أَهْلُ بَيْتِي

“Ya Allah, mereka inilah Ahlul baitku.”

Dalam Shahih At-Tirmidzi 2/319, hadis ke 3871, bab 61:
Ummu Salamah berkata bahwa Nabi saw memberi kehormatan yang khusus kepada Hasan dan Husein, Ali dan Fatimah dengan kain kisa’ (mengumpulkan mereka di bawah kain kisa’). Kemudian beliau bersabda:
اَللَّهُمَّ هَؤُلاَء أَهْلُ بَيْتِي وَخَاصَّتِي، أَذْهِبْ عَنْهُمُ الرِّجْسَ وَطَهِّرْهُمْ تَطْهِيْراً

“Ya Allah, mereka inilah Ahlul baitku dan keistimewaanku, jagalah mereka dari dosa-dosa dan sucikan mereka dengan sesuci-sucinya.” Kemudian Ummu Salamah berkata:
وَأَنَا مَعَهُمْ يَا رَسُولَ الله ؟

Ya Rasulullah, aku bersama mereka? Rasulullah saw menjawab:
إِنَّكَ إِلَى خَيْرٍ

“Engkau orang yang baik.”

Dalam Shahih Muslim, kitab Fadhail Ash-Shahabah, bab Fadhail Ahlul bait (as):
Aisyah berkata: Pada pagi hari Nabi saw keluar dari rumah, membawa kain berbulu yang menyerupai rambut yang hitam. Kemudian datang Hasan bin Ali, lalu datang Husein kemudian masuk bersamanya, kemudian datang Fatimah lalu beliau mempersilahkan masuk, kemudian datang Ali lalu beliau mempersilahkan masuk. Kemudian beliau membaca ayat:
إنَّما يُريد اللهُ ليُذْهِبَ عنكم الرّجسَ أهلَ البيت ويُطهّركم تطهيراً

Hadis-hadis tersebut dan yang semakna terdapat:
1. Shahih Muslim, kitab Fadhail Ash-Shahabah, bab Fadhail Ahlul bayt Nabi, jilid 2 halaman 368; cetakan Isa Al-Halabi; jilid 15 halaman 194 dalam syarah An-Nawawi, cetakan Mesir.
2. Shahih At-Tirmidzi, jilid 5 halaman 30, hadis ke 3258; halaman 328, hadis ke 3875, cetakan Darul Fikr.
3. Musnad Ahmad bin Hanbal, jilid 5 halaman 25, cetakan Darul Ma’arif Mesir.
4. Mustadrak Al-Hakim, jilid 3 halaman 133, 146, 147.
5. Mu’jam Ash-Shaghir Ath-Thabrani, jilid 1 halaman 65 dan 135.
6. SyawahidutTanzil, oleh Al-Hakim Al-Haskani Al-Hanafi, jilid 2, halaman 11-92, hadis 637, 638,639, 640, 641, 644, 648, 649, 650, 652, 653, 656, 657, 658, 659, 660, 661, 663, 664, 665, 666, 667, 668, 671, 672, 673, 675, 678, 680, 681, 686, 690, 691, 694, 707, 710, 713, 714, 717, 718, 729, 740, 751, 754, 755, 756, 757, 758, 759, 760, 761, 762, 764, 765, 767, 768, 769, 770, 774, cet pertama, Bairut.
7. Khashaish Amirul Mu’minin, oleh An-Nasa’i Asy-Syafi’i, halaman 8, cet, Bairut; halaman 49,, cet. Al-Haidariyah.
8. Tarjamah Al-Imam Ali bin Abi Thalib, dalam Tarikh Damsyiq, oleh Ibnu Asakir Asy-Syafi’i, jilid 1, halaman 185.
9. Kifayah Ath-Thalib, oleh Al-Kanji Asy-Syafi,i, halaman 45, 373, 375
10. Musnad Ahmad, jilid 3,halaman 259 dan 285;jilid 4, halaman 107; jilid 6, halaman 6: 292, 296, 298, 304, dan 306, cet. Mesir
11. Usdul Ghabah fi Ma’rifati Ash-Shahabah, oleh Ibnu Atsir Asy-Syafi’i, jilid 2, halaman 12 dan 20; jilid 3, halaman 413; jilid 5, halaman 521 dan 589.
12. Dzakhairul ‘Uqba, oleh Ath-Thabari Asy-Syafi’i halaman 21, 23, dan 24.
13. Asbabun Nuzul, oleh Al-Wahidin, halaman 203, cet Al-Halabi, Mesir.
14. Al-Manaqib, oleh Al-Khawarizmi Al-Hanafi, halaman 23 dan 224.
15. Tafsir Ath-Thabari, jilid 22, halaman 6,7 dan 8, cet Al-Halabi, Mesir.
16. Ad-Durrul Mantsur, oleh As-Suyuthi, jilid 5, halaman 198 dan 199.
17. Ahkamul Qur’an, oleh Al-Jashshash, jilid 5, halaman 230, cet Abdurrahman Muhammad; halaman 443, cet. Cairo.
18. Manaqib Ali bin
19. Mashabih As-Sunnah, oleh Al-Baghawi Asy-Syafi’i, jilid 2, halaman 278, cet. Muhammad Ali Shabih; jilid 2, halaman 204, cet. Al-Khasyab
20. Misykat Al-Mashabih, oleh Al-’Amri, jilid 3, halaman 354.
21. Al-Kasysyaf, oleh Zamakhsyari, jilid 1, halaman 193, cet. Mushthafa Muhammad; jilid 1, halaman 369, cet. Bairut.
22. Tadzkirah Al-Khawwash, oleh As-Sibt bin Al-Jauzi Al- Hanafi, halaman 233.
23. Mathalib As-Saul, oleh IbnuThalhah Asy-Syafi’i, jilid 1, halaman 19 dan 20. Ahkamul Qur’an, oleh Ibnu ‘Arabi, jilid 2, halaman 166, cet. Mesir.
24. Tafsir Al-Qurthubi, jilid 14, halaman 182, cet. Kairo.
25. Tafsir Ibnu Katsir, jilid 3, halaman: 483, 494, dan 485, cet. Mesir.
26. Al-Fushul Al-Muhimmah, oleh Ibnu Shabagh Al-Maliki, halaman 8.
27. At-Tashil Li’ulumi AtTanzil, oleh Al-Kalbi, jilid 3, halaman 137.
28. Tafsir Al-Munir Lima’alim At-Tanzil, Al-Jawi, jilid 2, halaman 183.
29. Al-Ishabah, oleh Ibnu Hajar Asy-Syafi’i, jilid 2, halaman 502; jilid 4, halaman 367, cet. Musththafa Muhammad; jilid 2, halaman 509; jilid 4, halaman 378, cet. As-Sa’adah. Mesir.
30. Al-Itqan fi’Ulumil Qur’an, oleh As-Suyuthi, jilid 4, halaman 240, cet. Mathba’ Al-Mashad Al-Husaini, Mesir.
31. Ash-Shawa’iqul Muhriqah, oleh Ibnu Hajar, halaman 85, cet. Al-Maimaniyah; halaman 141 dan 227, cet. Al-Muhammadiyah.
32. Muntakhab Kanzul ‘Ummul Kanzul ‘Ummul (catatan pinggir) Musnad Ahmad bin Hambal, jilid 5, halaman 96.
33. As-Sirah An-Nabawiyah, oleh Zaini Dahlan (catatan pinggir) As-Sirah Al-Halabiyah, jilid 3, halaman 329 dan 330, cet. Al-Mathba’ Al-Bahiyah, Mesir; jilid 3, halaman 365, cet. Muhammad Ali Shabih, Mesir.
34. Is’afur Raghibin, oleh Ash- Shabban (catatan pinggir) Nurul Abshar, halaman: 104,105, dan 106, cet. As-Sa’idiyah; halaman 97 dan 98, cet. Al-Utsmaniyah; halaman 105, cet. Mushthafa Muhammad, Mesir.
35. Ihqaqul Haqq, oleh At-Tustari, jilid 2, halaman 547-502.
36. Fadhailul Khamsah, jilid 1, halaman 223 dan 224.
37. Al-Isti’ab, oleh Ibnu Abd Al-Birr (catatan pinggir) Al-Ishabah, jilid 3, halaman 37, cet. As-Sa’adah;jilid 3, halaman 317, cet. Mushthafa Muhammad.
38. Yanabi’ul Mawaddah, oleh Al-Qundusi, halaman: 107, 108, 228, 229, 230, 244, 260, dan 294. cet. Istambul; halaman: 124, 125, 126, 135, 196, 229, 269, 272, 352, dan 353, cet. Al-Haidariyah.

Pendapat yang kedua:
Pendapat ini mengatakan bahwa ayat ini hanya untuk isteri-isteri Nabi saw
Riwayat yang menyatakan bahwa ayat ini turun hanya untuk isteri-isteri Nabi saw adalah riwayat yang bersumber dari Ikrimah, budak Ibnu Abbas. Ikrimah mengatakan bahwa ayat ini diturunkan khusus untuk isteri-isteri Nabi saw. Ketika ayat ini Ikrimah berteriak-teriak di pasar-pasar untuk menjelaskan pendapat ini.

Ath-Thabari dalam tafsirnya menyebutkan bahwa Ikrimah berteriak-teriak di pasar-pasar (Tafsir Ath-Thabari 22/7; Ibnu Katsir 3/415).

Ibnu Katsir menyebutkan bahwa Ikrimah berkata: Barangsiapa yang menghendaki keluarga Nabi, ayat ini turun khusus untuk isteri-isterinya. (Tafsir Ibnu Katsir 3/415; Ad-Durrul mantsur 5/195).

Suyuthi menyebutkan bahwa Ikrimah berkata: Tidakkah kalian mendatangi isteri-isteri Nabi saw, ayat ini turun khusus untuk mereka. (Ad-Durrul mantsur 5/198).

Riwayat ini lemah dengan alasan minimal tiga hal:
Pertama: Riwayat ini hanya bersumber dari Ikrimah, tidak adaseorang pun sahabat Nabi saw yang terkemuka meriwayatkan seperti pendapat Ikrimah.
Kedua: Riwayat ini bertentangan dengan hadis-hadis yang shahih dan mutawatir yang disepakati oleh kaum muslimin.
Ketiga: Ikrimah adalah seorang budak yang pendusta, suka melakukan penyimpangan, dan sangat membenci Ahlul bait Nabi saw.

Pribadi Ikrimah
Ikrimah adalah seorang khawarij, bahkan ia termasuk orang yang mempropagandakan Khawarij. Kaum khawarij mengutip riwayat dari Ikrimah kemudian menisbatkan kepada sahabat Nabi saw yang terkemuka.
Adz-Dzahabi mengatakan: Banyak orang membicarakan bahwa pendapat Ikrimah ini adalah pendapat khawarij, ia suka menggunakan hawa nafsunya dalam membicarakan agama. Ia adalah orang yang tercela dalam Islam. Ia tidak shalat, dan suka melakukan dosa-dosa besar.

Para ahli sejarah Islam banyak yang mengatakan bahwa Ikrimah adalah pendusta. Ia adalah seorang budak yang suka berdusta kepada majikannya yaitu Abdullah bin Abbas. Ali bin Abdullah bin Abbas pernah mengikat Ikrimah di tiang pintunya, kemudian orang bertanya kepadanya: Mengapa kamu melakukan hal itu kepada budakmu? Ia menjawab: Budak ini suka berdusta kepada ayahku.
Said bin Musayyab berkata kepada budaknya: Wahai Barda, kamu jangan berdusta kepadaku seperti Ikrimah berdusta kepada Ibnu Abbas.
Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar salah seorang Fuqaha’ Madinah berkata: Sesungguhnya Ikrimah adalah pendusta.
Ibnu Sirin berkata: Ikrimah adalah pendusta.
Malik bin Anas berkata: Ikrimah adalah pendusta.
Yahya bin Mu’in berkata: Ikrimah adalah pendusta.
Anas bin Malik mengharamkan riwayat yang bersumber dari Ikrimah.

Pernyataan tersebut terdapat dalam:
1. Ath-Thabaqat, Ibnu Sa’d, jilid 5, halaman 287.
2. Tahdzibul kamal, Al-Hafizh Al-Muzzi, jilid 20. halaman 264.
3. Mizanul I’tidal, Adz-Dzahabi, jilid 3, halaman 93.
4. Tahdzibut tahdzib, Ibnu Hajar Al-Asqalani, jilid 7, halaman 263.
5. Al-Mughni fi Adh-Dhu’afa’, Adz-Dzahabi, jilid 2, halaman 84.

Pendapat yang ketiga:
Pendapat ini menyatakan bahwa Ayat ini turun untuk Ali, Fatimah, Hasan, Husein, dan isteri-isteri Nabi saw

Jika kita membaca kitab-kitab tafsir yang mu’tabarah, misalnya Zadul Masir fi ilmi At-Tafsir oleh Ibnu Al-Jauzi 6/383, kita akan dapati bahwa riwayat tersebut hanya bersumber dari Adh-Dhahhak, bukan dari sahabat-sahabat Nabi saw yang terkemuka.

Mungkinkah hanya perkataan seorang Adh-Dhahhak dapat menggugurkan riwayat-riwayat yang terdapat dalam kitab-kitab Shahih, Sunan, dan Musnad, yang bersumber dari sahabat Nabi saw yang terkemuka: Ibnu Abbas, Jabir Al-Anshari, Zaid bin Arqam, Said bin Abi Waqqash, Ummu Salamah dan Aisyah.

Anehnya, mereka memaksakan diri untuk memasukkan isteri-isteri Nabi saw ke dalam Ahlul bai (as), padahal Ummu Salamah dan Aisyah sendiri mengatakan Ahlul bait hanyalah: Ali, Fatimah, Hasan dan Husein (as). Ummu Salamah dan Aisyah sendiri menafikan dirinya dari bahwa ayat ini turun untuk keistimewaan isteri-isteri Nabi saw. Mengapa Adh-Dhahhak menisbatkan ayat ini untuk isteri-isteri Nabi saw?

Mungkinkah Nabi saw menjelaskan kata Ahlul bait dalam ayat ini berbeda-beda kepada sahabat yang satu dan yang lain? Tidak mungkin, karena Nabi saw tidak pernah menyalahi kehendak Allah saw untuk menyenangkan hati isterinya.

Kontek kalimat ayat Tahhir
Mereka berusaha menghubungkan kalimat ini dengan kalimat sebelumnya yang membicarakan tentang isteri-isteri Nabi saw, padahal jika dihubungkan bertentangan dengan kaidah ilmu ushul dan ilmu nahwu. Kita perhatikan perubahan dhamir kunna (kata ganti untuk perempuan), dan kata Innama, adatul qashr (kata untuk membatasi persoalan).

Jika Anda memaksakan hal itu berarti Anda telah menyalahi hadis-hadis yang shahih dan mutawatir, dan membelokkan makna yang dikehendaki oleh Allah kepada makna yang Anda kehendaki. (sumber)
»»  READMORE...