Tampilkan postingan dengan label Kisah-Kisah Teladan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah-Kisah Teladan. Tampilkan semua postingan

Senin, 20 Februari 2012

Kisah cinta Kartosoewirjo: Dewi Siti Kaltsum,Wanita tegar di balik Sang Imam


Kisah cinta Kartosoewirjo: Dewi Siti Kaltsum,Wanita tegar di balik Sang Imam
Di balik pasangan yang hebat ada cinta yang kuat. Mungkin itulah kalimat yang pas bagi pasangan Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo dan Dewi Siti Kaltsum. Dua sejoli yang mengalami pasang surut dalam penegakan Darul Islam puluhan tahun silam. Kisahnya menjadi epik bagi anak cucu Islam kelak puluhan tahun mendatang. Iya sebuah cerita cinta dari Malangbong, Garut, Jawa Barat, untuk cahaya Islam di bumi Indonesia.

Perkenalan Kartosoewirjo dengan Dewi Siti Kaltsum terjadi saat pimpinan Darul Islam tersebut tengah mampir ke Malangbong, Garut, tahun 1928. Kebetulan Ayahanda Dewi adalah Ardiwisastra, salah seorang Ulama, Ajengan, dan Tokoh Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII) ternama di Garut. Niat Kartosoewirjo menyambangi kediaman Ardiwisastra semata-mata mengumpukan dana bagi keberangkatan KH. Agoes Salim ke Belanda demi berdiplomasi memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

Dewi, kembang Malangbong yang kala itu tengah mengarungi masa dewasa, melihat sosok laki-laki yang berbeda mengetuk pintu rumahnya. “Siapa ia?” tanya Dewi dalam hatinya. Laki-laki itu bagi Dewi tidak seperti laki-laki pada umumnya. Kartosoewirjo pandai bicara, namun bukan gombal. Pengetahuannya tentang Islam pun tidak datar. Orang yang mendatangi ayahnya pasti bukan orang sembarangan.

Kala itu, Kartosoewirjo tengah menjabat Sekretaris Haji Oemar Said Tjokroaminoto. Pada Desember 1927, Kartosoewirjo terpilih sebagai Sekretaris Umum Partai Sarekat Islam Indonesia-sebelumnya masih bernama Partij Sjarikat Islam Hindia Timoer. Sejak itu, ia banyak melakukan perjalanan ke cabang-cabang Sarekat Islam di seluruh Nusantara.

Dewi pun mulai tahu aktivitas Kartosoewirjo yang penuh dengan dunia gerakan. Maklum saat itu Dewi mulai berkecimpung dalam bidang penuh resiko tersebut. Darah pergerakan turun dari sang ayah yang terkenal gigih melawan Belanda dengan semangat perlawanan Islam terhadap Imperialisme Barat.

Dewi amat terkesan dengan sikap hidup sang ayah. Pada usia delapan tahun, ibunya sudah mengajaknya berjalan kaki belasan kilometer ke Tarogong, Garut, untuk menengok ayahnya yang ditahan Belanda. Dan itu amat membekas dalam hatinya.

Ardiwisastra ditahan Belanda karena bersama sejumlah ajengan memelopori pembangkangan terhadap perintah Belanda, yang mewajibkan penjualan padi hanya kepada pemerintah Hindia Belanda. Pada 1916, Belanda menembak mati Haji Sanusi, tokoh berpengaruh di Cimareme, Garut. Terjadi pula penangkapan secara besar-besaran terhadap para ajengan, termasuk Ardiwisastra dan santri-santrinya.

Setahun setelah pertemuan itu, pada April 1929, Kartosoewirjo resmi menikahi Dewi di Malangbong. Ardiwisastra, sang mertua sendiri, sama sekali tidak melihat sang menantu dari fisik. Akhlak dan kejujuranlah yang tampaknya membuat Ardiwisastra menjodohkannya dengan sang putri yang kala itu menjadi kembang desa di Malangbong.

“Apakah calon menantunya tampan atau buruk muka tidak penting,” kata Ardiwisastra kepada Pinardi, penulis buku Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo terbitan 1964.

Rupanya Dewi pun mengakui hal serupa. Secara jujur, ia tidak menjadikan wajah sebagai prasyarat pinangan sang Imam diterima, “Kalau disebut karena cinta, Bapak itu sebetulnya orangnya (mukanya) kan jelek,” tutur Dewi lugu kepada majalah Tempo, tahun 1983.

Rupanya Dewi tidak salah pilih. Ia mengaku mendapatkan selaksa cinta yang tinggi dari suaminya. Laki-laki soleh yang menyerahkan segala hidupnya demi Islam. Laki-laki penuh sahaja yang dikenal sebagai biduk kasihnya sepanjang masa. Dengarlah tuturan Dewi berikut ini:

“Aku memang tidak salah pilih. Disinilah aku mulai mengenal dan belajar tentang sikap dan sifat suamiku. Ia ternyata seorang laki-laki yang penuh tanggung jawab pada keluarganya dan menyayangiku. Ia tak segan–segan memperkenalkanku, istrinya yang dari kampung dengan kawan-kawan seperjuangannya yang terpelajar dan terhormat.

“Bahkan dua bulan setelah kami berada di Jakarta, mungkin atas prakarsa teman-temannya, perkawinan kami dirayakan di rumah Pak Cokroaminoto. Aku ingat benar pesta yang sederhana tapi amat mengesankan itu ber-langsung pada tanggal 12 Zulhijjah. “

Sebagai seorang aktivis partai dengan jabatan Sekjen PSII waktu itu, hari-hari
Kartosoewirjo sangatlah sibuk. Namun demikian, kepentingan keluarga tak pernah diabaikannya. Ia faham posisinya sebagai kepala keluarga yang dicontohkan oleh Baginda Nabi Muhammad SAW. Oleh istrinya, Kartosoewirjo dikenal sebagai seorang lelaki yang tinggi akhlaknya, suami yang sangat santun pada sang istri dan penuh kasih sayang pada anak-anaknya. Ini pernah diutarakannya Dewi sendiri yang menuturkan kisahnya kepada Tatang Sumarsono, yang dimuat bersambung di suatu majalah Amanah.

Pada perkembangannya, kecintaan dan keikhlasan Dewi terhadap suaminya betul-betul diuji saat mengarungi perjuangan. Dewi, anak kyai itu, berkembang menjadi istri diluar pada umumnya. Jika para pribumi yang menikah dengan Meneer Belanda biasa menikmati pesta pora beserta alunan nada. Dewi harus ikut bergerilya menghindari kejaran tentara Indonesia.

Jika para kembang Desa memilih hidup berdiam diri atas kondisi yang ada, bersama suami, Dewi malah keluar-masuk hutan demi tegaknya Syariat Islam di bumi Nusantara. Dewi sudah menasbihkan diri untuk bertahan diliputi rasa takut semata-mata pengabdian besar seorang istri terhadap sang suami.

Lantas, apakah kunci yang membuat Dewi bisa mempertahankan cintanya kepada Kartosoewirjo meski hidup dan mati adalah dua kata yang dekat kepadanya? Yang mau hidup penuh kesederhanaan walau sang ayah terkenal sebagai ningrat di Jawa Barat? Adalah pendidikan agama yang menjadi kunci kekuatan Dewi untuk tidak mengeluh dan tetap sabar meski hidup penuh kesederhanaan.

“Akibatnya, kami memang tak punya rumah tetap, pindah dari rumah sewa ke rumah sewa lainnya. Tapi aku sendiri tidak mengeluh. Sebagai istri yang mendapat pendidikan agama cukup lekat dari orangtua, kuterima segalanya dengan rasa syukur. Karena itulah, boleh jadi kehidupan keluarga kami berjalan tenang, kalau tidak dikatakan bahagia.” Aku Dewi.

Bersama Kartoesowirjo, Dewi melahirkan 12 anak. Lima di antaranya meninggal. Tiga anak terakhir: Ika Kartika, Komalasari, dan Sardjono, lahir di tengah hutan. Anak-anak yang lain lahir di rumah.

Mereka: si sulung Tati yang meninggal ketika masih bayi, Tjukup yang tertembak dan meninggal pada 1951 di hutan pada usia 16 tahun, Dodo Muhammad Darda, Rochmat (meninggal pada usia 10 tahun karena sakit), Sholeh yang meninggal ketika bayi, Tahmid, Abdullah (meninggal saat bayi), Tjutju yang lumpuh, dan Danti.

Sebagai perempuan, Dewi mulanya takut hidup di hutan. Kala itu Dewi sudah menggendong Danti yang baru berusia 40 hari. Dewi sempat berpikir tentang masa depan anak-anaknya. Gurat kesedihan mulai timbul dalam sekat wajahnya meratapi impian tak sesuai kenyataan. Namun, sosok Kartosoewirjo lah yang setia berada disampingnya, untuk menghibur, meyakinkan, dan “menggenggam kuat jemari di tangannya”. Dan Dewi langsung merasa tenteram.

Sebelum menjalani eksekusi mati, Kartosoewirjo sempat berwasiat di hadapan istri dan anak-anaknya di sebuah rumah tahanan militer di Jakarta. Menurut Dewi, saat itu Kartosoewirjo antara lain berkata tidak akan ada lagi perjuangan seperti ini sampai seribu tahun mendatang. Dewi menitikkan air mata. Kartosoewirjo, yang mencoba tabah, akhirnya meleleh. Perlahan-lahan, dia mengusap kedua matanya.

Betapa besar cinta Kartosoewirjo kepada istrinya. Ia menangis di depan istrinya, bukan ia kalah terhadap rezim sekuler yang mencoba membunuhnya, bukan jua menyesal atas perjuangannya yang meski meminta taruhan nyawa, namun air mata itu adalah bukti cinta Kartosoewirjo yang besar kepada sang istri, ya kembang Malangbong yang senantiasa menemaninya meski hidup penuh onak dan duri.

Air mata Dewi semakin jatuh. Ia menangis sejadi-jadinya. Rasa bangga bercampur haru meliputi hatinya karena memiliki sosok suami seperti Kartosoewirjo yang tetap meyakinkannya tentang arti cinta sebenarnya: Cinta kepada Allahuta’ala, karena dunia hanyalah persinggahan sementara.

Cinta mereka akhirnya harus usai, cinta Dewi kepada suaminya mesti dipisahkan timah panas ketika aparat keamanan menangkap Kartosoewirjo setelah melalui perburuan panjang di wilayah Gunung Rakutak di Jawa Barat dan menghukum matinya pada September 1962.

Dewi pun menyusul cinta sejatinya itu pada tahun 1998. Lahir pada 1913, Dewi wafat dalam usia 85 tahun. Bersebelahan dengan makam Dewi adalah kuburan Raden Rubu Asiyah, ibundanya, perempuan menak asal Keraton Sumedang, Jawa Barat.

Namun pepatah “cinta sejati akan dibawa sampai mati” memang betul adanya. Di pemakaman ini Kartosoewirjo masih memendam cinta, cintanya kepada sang istri yang telah menemaninya puluhan tahun baik suka maupun duka. “Bapak ingin jenazahnya dekat dengan keluarga Malangbong,” kata Sardjono, anak bungsu Kartosoewirjo.

Inilah kisah cinta sejati yang tertutup di tengah pemberitaan miring tentang NII pasca dibonceng oleh NII KW IX.. Semoga Allah mempertemukan mereka kembali di jannah kelak. Allahuma amin. Allahua’lam. (pz)

Oleh Muhammad Pizaro Novelan Tauhidi
__________________________________________________
Referensi:
Kekasih Orang Pergerakan, dalam Majalah Tempo, Kartosoewirjo: Mimpi Negara Islam. Edisi 16-22 Agustus 2010.
Irfan S. Awwas, Trilogi Kepemimpinan NII, (Yogyakarta: Uswah, 2009)
Irfan S. Awwas, Riwayat Pendidikan Kartosoewirjo.

Source : shoutussalam.org/arrahmah.com
»»  READMORE...

Senin, 13 Februari 2012

Imam Jawad As Teladan Sempurna Bagi Setiap Intelektual Muda

Sample ImageImam Jawad As, pada tahun 203 H dan pada usia tujuh tahun setelah ayahanda tercinta berpulang ke pangkuan Ilahi, telah mengemban tugas sebagai Imam pengganti ayahnya, Imam Ridha As, dan secara praktis telah menjadi pembimbing sekaligus pengerek panji hidayah untuk umat manusia.
Ketika itu sebagian orang mempertanyakan bahwa dapatkah seorang bocah kecil mampu memimpin masyarakat sebesar ini? Apakah seorang anak kecil seperti ini memiliki kemampuan manajemen dan pandangan jauh ke depan seperti seorang laki-laki dewasa dan sempurna?

Bagi kalangan pengikut Ahlulbait As, yang meyakini bahwa Imamah adalah anugerah Ilahi, dalam menjawab pertanyaan semacam ini mengatakan: kenapa tidak, hal ini adalah sesuatu yang sangat jelas. Alasannya bahwa barangsiapa yang dianggap oleh Allah Swt layak, maka tentunya Dia akan mengangkat dan menempatkan orang tersebut sebagai pemimpin ummat dan pengganti Imam sebelumnya, meskipun orang tersebut masih sangat muda. Kendatipun umur tua dalam kacamata masyarakat menjadi barometer kesempurnaan dan kematangan seseorang, namun dalam kacamata Al-Quran mungkin saja ada seorang anak kecil yang memiliki keutamaan-keutamaan, kesempurnaan dan memiliki syarat-syarat untuk menjadi seorang pemimpin di tengah-tengah masyarakat serta mempunyai nilai-nilai khusus yang seyogyanya dimiliki seorang imam dan nabi, kemudian Allah Swt menghibahkan risalah dan imamah kepada anak kecil tersebut dan mewajibkan untuk mengikuti dan mentaatinya.

Tentunya Allah Swt dengan cara seperti ini hendak mengajak umat manusia untuk memahami bahwa maqam Imamah, yang merupakan bentuk kesinambungan dan tongkat estafet dari maqam kenabian, tidak sama seperti kedudukan atau maqam-maqam yang lain yang hanya dengan syarat-syarat mudah dapat terealisasi. Akan tetapi, imamah ini merupakan sebuah maqam spiritual yang berada di atas maqam-maqam tersebut dan memerlukan persyaratan-persyaratan khusus setelah itu kemudian dapat terealisir. 

Di era ketika Imam Kesembilan, dalam silsilah 12 Imam,  ini masih berusia belia kanak dan tampuk imamah berada di tangannya, muncullah berbagai macam pertanyaan-pertanyaan semacam diatas dan secara langsung mendapat jawaban-jawaban yang sangat memuaskan. Dengan jawaban-jawaban sebagai solusi dari pertanyaan-pertanyaan diatas yang ada pada masa Imam Jawad As, maka selanjutnya problem semacam ini bisa teratasi dan tidak terulang lagi pada ketika Imam Hadi As menjadi imam di usia delapan tahun dan juga pada masa Imam Mahdi As yang menjadi Imam di usia lima tahun. 

Disini kita akan menukilkan sebuah riwayat berkenaan dengan ihwal tersebut:
Suatu ketika ada seorang pengikut Syi’ah bertanya pada Imam Ridha As: wahai tuanku! Seandainya terjadi sesuatu pada diri Anda (meninggal), maka kepada siapa kami hendak merujuk dan bertanya? Imam Ridha As dengan penuh kejelasan dan penegasan berkata: kepada anakku Abu Ja’far (Imam Jawad As). Mendengar ucapan Imam Ridha As ini, laki-laki tersebut terkejut karena dia melihat bahwa Imam Kesembilan adalah seorang anak kecil dan muda belia. Imam Ridha As, melihat ketakjuban dan keragu-raguan laki-laki tersebut, berkata: hai kisanak! Allah SWT telah memilih dan mengangkat Isa bin Maryam sebagai nabi dan utusan-Nya serta pembawa syariat, padahal umurnya lebih belia dari anakku, Abu Ja’far.[1]
 
Untuk membuktikan ke-imamahan Imam Jawad As, terkadang Imam Ridha As menggunakan ayat-ayat Alquran dan argumen-argumen yang bersifat histori dan terkadang juga menggunakan mukjizat dan bantuan-bantuan gaib Ilahi. 

Berkenaan dengan ini, Hasan bin Jahm berkata: “suatu ketika saya duduk di depan Imam Ridha As dan beliau memanggil anaknya, Imam Jawad As. Imam Jawad As pun menjawab panggilan ayahandanya dan datang serta duduk bersama kami. Imam Ridha As membuka baju anaknya dan berkata kepadaku: perhatikanlah apa yang ada diantara kedua bahunya! Ketika saya melihatnya, nampaklah stempel imamah di atasnya. Imam Ridha As berkata: Apakah kamu telah melihat stempel Imamah tersebut? Seperti ini pulalah yang ada di antara kedua bahu ayahku.”[2]       
 
Imam Jawad As selain sebagai seorang pemimpin umat Islam, juga sebagai teladan dan uswah bagi cendekiawan dan intelektual-intelektual muda. Hal ini dikarenakan beliau memiliki kecemerlangan dalam dunia ilmu pengetahuan dan membuat berbagai kalangan, baik itu sahabatnya sendiri maupun musuh-musuhnya, terkagum-kagum dan takjub.
Dialog-dialog, debat ilmiah, tanya-jawab, ungkapan-ungkapan bijak dan khutbah-khutbah beliau cukup menjadi saksi dan bukti akan kecemerlangan dan ketinggian ilmu Imam Jawad As.
Ali bin Ibrahim meriwayatkan dari ayahnya bahwa: setelah Imam Ridha As wafat, kami sempat melaksanakan ibadah haji dan kemudian datang menemui Imam Jawad As. Puluhan kaum Syi’ah juga berkumpul di sana untuk mengunjungi Imam Jawad As. Abdullah Bin Musa (paman Imam Jawad As) seorang tua yang mulia dan dikeningnya nampak bekas sujud, datang pula kesana untuk menemui Imam Jawad As. Beliau sangat menghormati Imam Jawad As dan mencium dahinya. 

Imam Jawad As pun duduk di atas tempat duduknya. Semua orang saling memandang penuh takjub dan heran melihat Imam muda tersebut dan dan mereka saling bertanya-tanya: apakah anak kecil ini mampu dan bisa bertanggungjawab atas semua problema yang dihadapi masyarakat sehingga dia menduduki maqam Imamah?! Seorang laki-laki berdiri ditengah-tengan perkumpulan itu dan bertanya kepada Abdullah bin Musa (paman Imam Jawad As): Apa hukuman orang yang bersenggama dengan hewan? Dia menjawab: memotong tangan kanannya, kemudian merajamnya. 

Mendengar jawaban ini, Imam Jawad As sangat sedih dan berkata kepada Abdullah bin Musa: wahai pamanku, takutlah kepada Allah Swt! Adalah hal yang sangat sulit ketika paman berada di depan Allah SWT pada hari kiamat dan Allah Swt bertanya: kenapa kamu memberi fatwa kepada masyarakat tanpa didasari dengan ilmu? Pamannya berkata: tuanku! Bukankah jawaban ayahmu, Imam Ridha As, seperti ini?! 

Imam Jawad As berkata: Aku bertanya pada ayahku: seorang laki-laki telah menggali kuburan seorang wanita lantas menggaulinya, maka apa hukuman bagi laki-laki ini? Menjawab pertanyaan ini, ayahku berkata: karena dia telah menggali kuburan, maka potonglah tangan kanannya, lalu rajamlah dengan alasan berzina, karena kehormatan mayat seorang muslim sama seperti ketika hidupnya.
Abdullah bin Musa berkata: Benar apa Yang Mulia katakan! Saya beristigfar dan memohon ampunan-Nya.
Orang-orang yang hadir ketika itu terkagum-kagum mendengar dialog ilmiah tersebut dan mereka berkata: Wahai pemimpin kami! Apakah anda mengizinkan untuk menanyakan masalah-masalah kami masing-masing?
Imam Jawad As menjawab: Silahkan. Mereka menanyakan sekitar 30 ribu masalah dan Imam Jawad As menjawab semuanya secara cepat, tepat dan sempurna. Dialog ilmiah ini terjadi ketika Imam Jawad As masih berumur sekitar sembilan tahun.[3]
 
Imam Jawad As dalam usia yang sangat muda telah menjadi seorang ilmuan luar biasa dan paling luas pengetahuannya di zamannya dan orang-orang yang dekat dan yang jauh datang mengunjunginya dan menanyakan segala problematika yang dihadapinya. 

Imam Jawad As pada usia yang sangat muda telah menjadi Imam dan dengan ilmu pengetahuan beliau yang luar biasa sehingga sangat disegani oleh banyak kalangan, baik itu dari kalangan sahabat-sahabatnya sendiri maupun dari kalangan yang memusuhinya. Seyogyanyalah kalangan muda umat Islam, khususnya pengikut Ahlulbait As menggunakan semaksimal mungkin masa mudanya untuk menuntut dan mencari ilmu pengetahuan sebanyak mungkin dan menggunakan metode dan bimbingan Imam Jawad As dalam menuntut ilmu pengetahuan. Disini kita akan menyebutkan sebagian kecil dari metode dan bimbingan beliau dalam menuntut ilmu: 

Berdasarkan tabiat yang dimilikinya, kaum muda sangat senang dan tertarik untuk mengenal dan mengetahui berbagai macam bentuk dan model pemikiran. Mereka memiliki ketertarikan untuk mengetahui pemikiran-pemikiran baru dan memilih hal yang pas dan paling menguntungkan bagi dirinya di antara pemikiran-pemikiran tersebut. 

Imam Ali As berkata: “Hati kaum muda ibarat tanah kosong yang mana siap untuk ditanami dan menerima berbagai macam bentuk pemikiran.”[4]
 
Bibit pengetahuan merupakan salah satu saham terpenting yang bisa ditanam dalam dada kaum muda. Berkenaan dengan pentingnya ilmu pengetahuan, Imam Jawad As menjelaskan bahwa:”Hendaklah kalian menuntut ilmu! Karna hal itu keniscayaan bagi semuanya dan membahas serta mengkaji ilmu adalah suatu kebajikan dan disenangi. Ilmu menjadi penghubung diantara saudara seagama dan bukti kepribadian, ilmu menebarkan mewangian di dalam majlis-majlis, ilmu teman dalam perjalanan dan penggembira dalam kesunyian.”[5]
 
Dalam pandangan Imam Jawad As adalah hal yang sangat menyenangkan jika ada seorang pemuda muslim tumbuh dengan ilmu pengetahuan dan menjadikan ilmunya itu sebagai sahabat dan teman baiknya, dia memilih teman-teman dengan berdasar pada pandangan dan ilmu pengetahuannya. Dia senantiasa membawakan hadiah berupa ilmu di setiap mendatangi majlis-majlis atau menemui orang-orang. Menjadikan ilmu sebagai teman dan tempat curhatnya dalam kesendirian dan dalam perjalanan, karna ilmu pengetahuan merupakan sumber segala kesempurnaan dan kemajuan dalam segala bidang. Imam Jawad As membagi ilmu kedalam dua kelompok, beliau bersabda: ilmu dan pengetahuan itu ada dua macam; pertama: ilmu yang sumbernya ada dalam diri manusia itu sendiri dan kedua: ilmu yang diperoleh dari orang lain. Kalau saja ilmu hushuli tidak sejalan dengan ilmu fitri, maka tidak akan membawa keuntungan apapun. Barangsiapa yang mengetahui kelezatan ilmu hikmah dan merasakan manisnya, maka dia tidak akan bisa diam dan selalu berusaha mencarinya. “Keindahan hakiki ada pada ungkapan yang baik dan kebenaran yang sempurna ada pada akal” [6]
 
Imam Muhammad Taqi al-Jawad As menyatakan bahwa ilmu dan pengetahuan merupakan salah satu faktor terpenting dalam mencapai maqam kesempurnaan. Beliau As mewasiatkan kepada setiap manusia yang haus akan kesempurnaan dan kebenaran untuk supaya meniti jalan ini dalam mencapai maqam yang tinggi lagi mulia di dunia dan di akhirat. Imam Jawad As bersabda:”ada empat faktor yang mendukung manusia mencapai amal saleh dan baik: kesehatan, kemampuan (kekayaan), ilmu dan taufik.”[7]
 
ShalLalahu 'Alaika Yaa Maulana..Yaa Imam Muhamamd Taqi al-Jawad..


[1] . Kasyful Ghummah, Ali bin Isa Arbeli, jilid 2 hal 353
[2] . Al Irsyad, Syekh Mufid, hal 618.
[3] .Biharul Anwar, Allamah Muhammad Baqir Majlisi, jilid 50  hal 85.
[4] .Wasail Asy syi’ah, Muhammad bin Hasan Hurra Amili, jilid 21 hal 478.
[5] . Biharul anwar, jilid 7 hal 80.
[6] . Kasyfulgummah, jilid 3 hal 193.
[7] . Ma’danul Jawahir, Abul Fath Karajaki, hal 41

Kami ucapkan bela sungkawa sedalam-dalamnya atas syahadah agung Imam Jawad As 30 Dzulqaidah 1429 H/29 November 2008 kepada seluruh pecintanya.
Oleh Sultan Nur (sumber: telaga hikmah)
»»  READMORE...

Jumat, 03 Februari 2012

Kisah Ajaib Sembuh dari Lumpuh

Seorang bapak tua yang usianya berkisar 70 tahun berasal dari provinsi Dimyath, menemui Syaikh Muhammad Hasan, saat itu beliau tengah memberikan ceramah di sebuah mesjid di kota Makkah Bapak tua tersebut memberi isyarat agar Syaikh Muhammad Hasan berhenti sesaat dan memintanya untuk mendengarkan cerita tentangnya.

Bapak tua berkata, “Wahai Syaikh Muhammad, berkenankah engkau mendengarkan kisahku sebelum melanjutkan pembicaraanmu?”

“Silahkan, majulah ke depan, agar semua orang yang hadir juga ikut mendengarkan kisah yang ingin Anda ceritakan. Duduklah disampingku, agar semua orang bisa melihat dan mendengarkan kisah Anda.” Jawab Syaikh Muhammad.

Lalu, mulailah sang Bapak bercerita, “Wahai Syaikh, dulu saya adalah seorang laki-laki yang terkena sakit lumpuh sebelah. Saya mendoakan semoga Allah memberikan kesembuhan untuk semua mereka yang tengah sakit saat ini, amin.”

“Untuk mengobati sakit lumpuh itu saya pergi berobat ke London dan Amerika, tapi Allah belum menentukan adanya kesembuhan untuk sakit yang saya derita. Sehingga ketika tidak ada harapan untuk sembuh setelah berobat ke semua tempat, pada akhirnya saya duduk di kursi roda selama bertahun-tahun mengharap datangnya mukijat untuk sembuh.


Pada suatu hari anak saya membuka televisi, saya menyaksikan orang-orang bertakbir dan bertasbih di Masjid Haram, saya melihat orang-orang tengah bertawaf mengelilingi Ka’bah, lalu saya menangis, saya berkata pada anak saya,

“Wahai Anakku, bapak ingin mengunjungi Sang Raja ke istananya, bapak ingin meminta disana semua yang bapak inginkan, bapak sangat yakin, jika bapak datang ke rumah Raja itu, semua permintaan bapak tidak akan ia abaikan dan pasti akan Ia penuhi.”

“Siapakah Raja yang bapak Maksud?” Tanya anak saya.
“Bapak ingin melaksanakan Haji atau Umrah, bapak ingin masuk Ka’bah dan bermunajat pada Raja di rumah-Nya, hati bapak dipenuhi yakin bahwa jika bapak pergi ke rumah-Nya dan menyampaikan keinginan bapak disana, bapak tidak akan di abaikan.”
“Bagaimana bapak bisa melakukan umrah atau haji dengan kondisi sakit seperti ini”, Tanya anak saya kembali.

“Sewakan untuk Bapak pesawat agar berangkat ke sana, bapak punya banyak uang, carikan untuk bapak pesawat. Bawa bapak kesana.” Jawab saya penuh yakin pada anak saya.
Dan akhirnya saya melakukan perjalanan ke rumah Allah.

Lalu si Bapak Tua berhenti sejenak dan menoleh pada Syaikh Muhammad seraya berkata,
“Demi Allah wahai Syaikh, saya masuk ke dalam Ka’bah dengan kursi roda. Lalu meminta pada anak saya untuk menurunkan saya di sisi Ka’bah. Saya duduk dekat Ka’bah. Demi Allah wahai Syaikh Muhammad, saya berdoa pada Allah berjam-jam, saya memohon, mengiba, menangis dengan terus mengulang-ulang dua kalimat.”

“Ya Allah, hamba tidak akan pulang, hamba tidak akan meninggalkan tempat ini kecuali setelah berjalan dengan dua kaki hamba, atau biarlah hamba meninggal di tempat ini.” Saya terus berdoa, memohon, meminta pada Allah, menangis dan terus berdoa dengan keyakin yang sudah memenuhi hati saya, selama berjam-jam tidak ada yang saya katakan selain dua kalimat di atas.”

Akhirnya saya pingjsan karena letih setelah sekian lama menangis, saya tersandar di samping kursi roda, lalu saya tertidur sesaat. Saat tidur saya melihat dalam mimpi, bahwa seseorang datang dan berkata pada saya dengan suara yang lantang,

“Berdiri, dan berjalanlah. Seruan itu diulang, “berdiri dan berjalanlah engkau..” seruan itu terus di ulang-ulang.” Tiba-tiba saya terbangun, saya masih merasakan seruan itu.
“Berdirilah..” Lalu saya berdiri..

“Berjalanlah..” lalu saya berjalan, sehingga saya sampai di pintu Ka’bah, saya baru tersadar bahwa sebelumnya saya lumpuh, dan kini telah bisa berdiri dan berjalan. “Ya Malik (Wahai Raja), Ya Malik., sungguh tidak pernah Engkau menelantarkan mereka yang datang meminta padamu.” Air mata saya berderai hebat wahai Syaikh.”

Demikianlah kisah seorang bapak Tua, seorang laki-laki biasa yang bukan dari golongan seorang wali ataupun seorang alim, tapi hanya seorang laki-laki biasa, akan tetapi hatinya dipenuhi keyakinan kepada Allah, bahwa jika ia meminta pada Allah dengan penuh kejujuran (shidq) dan keyakinan (yaqin), maka Allah tidak akan pernah mengabaikan permintaan itu.

Ya Allah, kepada-Mu kami memohon, kepada-Mu kami bersandar dan meminta pertolongan. Adakah yang bisa memberi pelindungan selain-Mu, maka lindungilah ya Allah orang lemah ini yang meminta perlindungan-Mu, sesungguhnya hamba-Mu lemah, meminta tolong pada Engkau yang Mahakuat.
Ampunilah dosa dan kemaksiatan yang kami perbuat, karena tidak ada yang bisa memberi ampun selain-Mu ya Allah. Dunia telah melenakan kami, dan ampunan dari-Mu kami harapkan


NB: Karena merasakan besar sekali manfaat dari kisah ini, saya mencoba menterjemahkannya dari Ceramah Syaikh Muhammad Hasan yang saya dengarkan dalam bentuk audiovisual. Semoga kisah ini menggugah hati kita dan mampu memberi daya rubah dalam diri kita. Amin. Silahkan di share ke yang lain. Terima kasih.
Oleh M. Arif As-Salman

Cairo,
07.10 CLT 28/01/12
Dikutip dari Eramuslim.com

»»  READMORE...

Kisah Sabar yang Paling Mengagumkan

Prof. Dr. Khalid al-Jubair penasehat spesialis bedah jantung dan urat nadi di rumah sakit al-Malik Khalid di Riyadh mengisahkan sebuah kisah pada sebuah seminar dengan tajuk Asbab Mansiah (Sebab-Sebab Yang Terlupakan). Mari sejenak kita merenung bersama, karena dalam kisah tersebut ada nasihat dan pelajaran yang sangat berharga bagi kita.

Sang dokter berkata:
Pada suatu hari -hari Selasa- aku melakukan operasi pada seorang anak berusia 2,5 tahun. Pada hari Rabu, anak tersebut berada di ruang ICU dalam keadaan segar dan sehat.

Pada hari Kamis pukul 11:15 -aku tidak melupakan waktu ini karena pentingnya kejadian tersebut- tiba-tiba salah seorang perawat mengabariku bahwa jantung dan pernafasan anak tersebut berhenti bekerja. Maka akupun pergi dengan cepat kepada anak tersebut, kemudian aku lakukan proses kejut jantung yang berlangsung selama 45 menit. Selama itu jantungnya tidak berfungsi, namun setelah itu Allah Subhanaahu wa Ta`ala menentukan agar jantungnya kembali berfungsi. Kamipun memuji Allah Subhanaahu wa Ta`ala .

Kemudian aku pergi untuk mengabarkan keadaannya kepada keluarganya, sebagaimana anda ketahui betapa sulit mengabarkan keadaan kepada keluarganya jika ternyata keadaannya buruk. Ini adalah hal tersulit yang harus dihadapi oleh seorang dokter. Akan tetapi ini adalah sebuah keharusan. Akupun bertanya tentang ayah si anak, tapi aku tidak mendapatinya. Aku hanya mendapati ibunya, lalu aku katakan kepadanya: “Penyebab berhentinya jantung putramu dari fungsinya adalah akibat pendarahan yang ada pada pangkal tenggorokan dan kami tidak mengetahui penyebabnya. Aku kira otaknya telah mati.”

Coba tebak, kira-kira apa jawaban ibu tersebut?Apakah dia berteriak? Apakah dia histeris? Apakah dia berkata: “Engkaulah penyebabnya!”Dia tidak berbicara apapun dari semua itu bahkan dia berkata:“Alhamdulillah.” Kemudian dia meninggalkanku dan pergi.

Sepuluh hari berlalu, mulailah sang anak bergerak-gerak. Kamipun memuji Allah Subhanaahu wa Ta`ala serta menyampaikan kabar gembira sebuah kebaikan yaitu bahwa keadaan otaknya telah berfungsi.

Pada hari ke-12, jantungnya kembali berhenti bekerja disebabkan oleh pendarahan tersebut. Kami pun melakukan proses kejut jantung selama 45 menit, dan jantungnya tidak bergerak. Maka akupun mengatakan kepada ibunya:“Kali ini menurutku tidak ada harapan lagi.” Maka dia berkata:“Alhamdulillah, ya Allah jika dalam kesembuhannya ada kebaikan, maka sembuhkanlah dia wahai Rabbi.”
Maka dengan memuji Allah, jantungnya kembali berfungsi, akan tetapi setelah itu jantung kembali berhenti sampai 6 kali hingga dengan ketentuan Allah Subhanaahu wa Ta`ala spesialis THT berhasil menghentikan pendarahan tersebut, dan jantungnya kembali berfungsi.
Berlalulah sekarang 3,5 bulan, dan anak tersebut dalam keadaan koma, tidak bergerak. Kemudian setiap kali dia mulai bergerak dia terkena semacam pembengkakan bernanah aneh yang besar di kepalanya, yang aku belum pernah melihat semisalnya. Maka kami katakan kepada sang ibu bahwa putra anda akan meninggal. Jika dia bisa selamat dari kegagalan jantung yang berulang-ulang, maka dia tidak akan bisa selamat dengan adanya semacam pembengkakan di kepalanya. Maka sang ibu berkata:“Alhamdilillah.” Kemudian meninggalkanku dan pergi. Setelah itu, kami melakukan usaha untuk merubah keadaan segera dengan melakukan operasi otak dan urat syaraf serta berusaha untuk menyembuhkan sang anak. Tiga minggu kemudian, dengan karunia Allah Subhanaahu wa Ta`ala , dia tersembuhkan dari pembengkakan tersebut, akan tetapi dia belum bergerak.

Dua minggu kemudian, darahnya terkena racun aneh yang menjadikan suhunya 41,2oC. maka kukatakan kepada sang ibu:“Sesungguhnya otak putra ibu berada dalam bahaya besar, saya kira tidak ada harapan sembuh.” Maka dia berkata dengan penuh kesabaran dan keyakinan:“Alhamdulillah, ya Allah, jika pada kesembuhannya terdapat kebaikan, maka sembuhkanlah dia.”

Setelah aku kabarkan kepada ibu anak tersebut tentang keadaan putranya yang terbaring di atas ranjang nomor 5, aku pergi ke pasien lain yang terbaring di ranjang nomor 6 untuk menganalisanya. Tiba-tiba ibu pasien nomor 6 tersebut menagis histeris seraya berkata:“Wahai dokter, kemari, wahai dokter suhu badannya 37,6o, dia akan mati, dia akan mati.” Maka kukatakan kepadanya dengan penuh heran:“Lihatlah ibu anak yang terbaring di ranjang no 5, suhu badannya 41o lebih sementara dia bersabar dan memuji Allah.” Maka berkatalah ibu pasien no. 6 tentang ibu tersebut:“Wanita itu tidak waras dan tidak sadar.”

Maka aku mengingat sebuah hadits Rasulullah Sholallohu `alaihi wa sallam yang indah lagi agung:“Beruntunglah orang-orang yang asing.” Sebuah kalimat yang terdiri dari dua kata, akan tetapi keduanya menggoncangkan ummat. Selama 23 tahun bekerja di rumah sakit aku belum pernah melihat dalam hidupku orang sabar seperti ibu ini kecuali dua orang saja.

Selang beberapa waktu setelah itu ia mengalami gagal ginjal, maka kami katakan kepada sang ibu:“Tidak ada harapan kali ini, dia tidak akan selamat.” Maka dia menjawab dengan sabar dan bertawakkal kepada Allah:“Alhamdulillah.” Seraya meninggalkanku seperti biasa dan pergi.

Sekarang kami memasuki minggu terakhir dari bulan keempat, dan anak tersebut telah tersembuhkan dari keracunan. Kemudian saat memasuki pada bulan kelima, dia terserang penyakit aneh yang aku belum pernah melihatnya selama hidupku, radang ganas pada selaput pembungkus jantung di sekitar dada yang mencakup tulang-tulang dada dan seluruh daerah di sekitarnya. Dimana keadaan ini memaksaku untuk membuka dadanya dan terpaksa menjadikan jantungnya dalam keadaan terbuka. Sekiranya kami mengganti alat bantu, anda akan melihat jantungnya berdenyut di hadapan anda..

Saat kondisi anak tersebut sampai pada tingkatan ini aku berkata kepada sang ibu:“Sudah, yang ini tidak mungkin disembuhkan lagi, aku tidak berharap. Keadaannya semakin gawat.” Diapun berkata:“Alhamdulillah.” Sebagaimana kebiasaannya, tanpa berkata apapun selainnya.

Kemudian berlalulah 6,5 bulan, anak tersebut keluar dari ruang operasi dalam keadaan tidak berbicara, melihat, mendengar, bergerak dan tertawa. Sementara dadanya dalam keadaan terbuka yang memungkinkan bagi anda untuk melihat jantungnya berdenyut di hadapan anda, dan ibunyalah yang membantu mengganti alat-alat bantu di jantung putranya dengan penuh sabar dan berharap pahala.

Apakah anda tahu apa yang terjadi setelah itu?
Sebelum kukabarkan kepada anda, apakah yang anda kira dari keselamatan anak tersebut yang telah melalui segala macam ujian berat, hal gawat, rasa sakit dan beberapa penyakit yang aneh dan kompleks? Menurut anda kira-kira apa yang akan dilakukan oleh sang ibu yang sabar terhadap sang putra di hadapannya yang berada di ambang kubur itu? Kondisi yang dia tidak punya kuasa apa-apa kecuali hanya berdo’a, dan merendahkan diri kepada Allah Subhanaahu wa Ta`ala ?

Tahukah anda apa yang terjadi terhadap anak yang mungkin bagi anda untuk melihat jantungnya berdenyut di hadapan anda 2,5 bulan kemudian?

Anak tersebut telah sembuh sempurna dengan rahmat Allah Subhanaahu wa Ta`ala sebagai balasan bagi sang ibu yang shalihah tersebut. Sekarang anak tersebut telah berlari dan dapat menyalip ibunya dengan kedua kakinya, seakan-akan tidak ada sesuatupun yang pernah menimpanya. Dia telah kembali seperti sedia kala, dalam keadaan sembuh dan sehat.

Kisah ini tidaklah berhenti sampai di sini, apa yang membuatku menangis bukanlah ini, yang membuatku menangis adalah apa yang terjadi kemudian:

Satu setengah tahun setelah anak tersebut keluar dari rumah sakit, salah seorang kawan di bagian operasi mengabarkan kepadaku bahwa ada seorang laki-laki berserta istri bersama dua orang anak ingin melihat anda. Maka kukatakan kepadanya:“Siapakah mereka?” Dia menjawab,“Tidak mengenal mereka.”

Akupun pergi untuk melihat mereka, ternyata mereka adalah ayah dan ibu dari anak yang dulu kami operasi. Umurnya sekarang 5 tahun seperti bunga dalam keadaan sehat, seakan-akan tidak pernah terkena apapun, dan juga bersama mereka seorang bayi berumur 4 bulan.

Aku menyambut mereka, dan bertanya kepada sang ayah dengan canda tentang bayi baru yang digendong oleh ibunya, apakah dia anak yang ke-13 atau 14? Diapun melihat kepadaku dengan senyuman aneh, kemudian dia berkata:“Ini adalah anak yang kedua, sedang anak pertama adalah anak yang dulu anda operasi, dia adalah anak pertama yang datang kepada kami setelah 17 tahun mandul. Setelah kami diberi rizki dengannya, dia tertimpa penyakit seperti yang telah anda ketahui sendiri.”

Aku tidak mampu menguasai jiwaku, kedua mataku penuh dengan air mata. Tanpa sadar aku menyeret laki-laki tersebut dengan tangannya kemudian aku masukkan ke dalam ruanganku dan bertanya tentang istrinya. Kukatakan kepadanya:“Siapakah istrimu yang mampu bersabar dengan penuh kesabaran atas putranya yang baru datang setelah 17 tahun mandul? Haruslah hatinya bukan hati yang gersang, bahkan hati yang subur dengan keimanan terhadap Allah Subhanaahu wa Ta`ala.”

Tahukah anda apa yang dia katakan?
Diamlah bersamaku wahai saudara-saudariku, terutama kepada anda wahai saudari-saudari yang mulia, cukuplah anda bisa berbangga pada zaman ini ada seorang wanita muslimah yang seperti dia.

Sang suami berkata:“Aku menikahi wanita tersebut 19 tahun yang lalu, sejak masa itu dia tidak pernah meninggalkan shalat malam kecuali dengan udzur syar’i. Aku tidak pernah menyaksikannya berghibah (menggunjing), namimah (adu domba), tidak juga dusta. Jika aku keluar dari rumah atau aku pulang ke rumah, dia membukakan pintu untukku, mendo’akanku, menyambutku, serta melakukan tugas-tugasnya dengan segenap kecintaan, tanggung jawab, akhlak dan kasih sayang.”
Sang suami menyempurnakan ceritanya dengan berkata:

“Wahai dokter, dengan segenap akhlak dan kasih sayang yang dia berikan kepadaku, aku tidak mampu untuk membuka satu mataku terhadapnya karena malu.” Maka kukatakan kepadanya: “Wanita seperti dia berhak mendapatkan perlakuan darimu seperti itu.” Kisah selesai.

Kukatakan:
Saudara-saudariku, kadang anda terheran-heran dengan kisah tersebut, yaitu terheran-heran terhadap kesabaran wanita tersebut, akan tetapi ketahuilah bahwa beriman kepada Allah Subhanaahu wa Ta`ala dengan segenap keimanan dan tawakkal kepada-Nya dengan sepenuhnya, serta beramal shalih adalah perkara yang mengokohkan seorang muslim saat dalam kesusahan, dan ujian. Kesabaran yang demikian adalah sebuah taufik dan rahmat dari Allah Subhanaahu wa Ta`ala .

Allah Subhanaahu wa Ta`ala berfirman:
“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”. Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah: 155-157)
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ` bersabda:

“Tidaklah menimpa seorang muslim dari keletihan, sakit, kecemasan, kesedihan tidak juga gangguan dan kesusahan, hingga duri yang menusuknya, kecuali dengannya Allah Subhanaahu wa Ta`ala akan menghapus kesalahan-kesalahannya.” (HR. al-Bukhari (5/2137
))
Maka, wahai saudara-saudariku, mintalah pertolongan kepada Allah Subhanaahu wa Ta`ala , minta dan berdo’alah hanya kepada Allah Subhanaahu wa Ta`ala terhadap berbagai kebutuhan anda sekalian.

Bersandarlah kepada-Nya dalam keadaan senang dan susah. Sesungguhnya Dia Subhanaahu wa Ta`ala adalah sebaik-baik pelindung dan penolong.

Mudah-mudahan Allah Subhanaahu wa Ta`ala membalas anda sekalian dengan kebaikan, serta janganlah melupakan kami dari do’a-do’a kalian.

“Ya Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami dan wafatkanlah kami dalam keadaan berserah diri (kepada-Mu).” (QS. Al-A’raf: 126) .
(Sumber: Majalah Qiblati )
Dikutip dari http://www.akhwatmuslimah.com/2012/01/603/kisah-sabar-yang-paling-mengagumkan/
»»  READMORE...

Janganlah Kau Gantikan Aku


Khalifah Umar bin Khattab tertegun. Ia tidak pernah menyangka, di tengah-tengah paceklik yang menimpa, masih ada seorang perempuan tua yang luput dari perhatiannya.

Suatu massa dalam kepemimpinan Umar, terjadilah Tahun Abu. Masyarakat Arab, mengalami masa paceklik yang berat. Hujan tidak lagi turun. Pepohonan mengering, tidak terhitung hewan yang mati mengenaskan. Tanah tempat berpijak hampir menghitam seperti abu.

Putus asa mendera di mana-mana. Saat itu, Umar sang Pemimpin menampilkan kepribadian yang sebenar-benar pemimpin. Keadaan rakyat diperhatikannya saksama. Tanggung jawabnya dijalankan sepenuh hati. Setiap hari diinstruksikan menyembelih onta-onta potong dan disebarkan pengumuman kepada seluruh rakyat. Berbondong-bondong ribuan rakyat datang untuk makan. Semakin pedih hatinya. Saat itu, kecemasan menjadi kian tebal. Dengan hati gentar, lidah kelunya berujar, “Ya Allah, jangan sampai umat Muhammad menemui kehancuran di tangan ini”.

Umar menabukan memakan daging, samin dan susu untuk perutnya. Bukan apa-apa, ia khawatir makanan untuk rakyatnya berkurang. Ia, si Pemberani itu hanya menyantap minyak zaitun dengan sedikit roti. Akibatnya, perutnya terasa panas dan kepada pembantunya ia berkata “Kurangilah panas minyak itu dengan api”. Minyak pun dimasak, namun perutnya kian bertambah panas dan berbunyi nyaring. Jika sudah demikian, ditabuh perutnya dengan jemari seraya berkata, “Berkeronconglah sesukamu, dan kau akan tetap menjumpai minyak, sampai rakyatku bisa kenyang dan hidup dengan wajar”.

Hampir setiap malam Umar bin Khattab sering melakukan perjalanan diam-diam. Ditemani salah seorang sahabatnya, ia masuk keluar kampung. Ini ia lakukan untuk mengetahui kehdiupan rakyatnya. Umar khawatir apakah hak-hak mereka telah dibayarkan oleh para wakil dan kaki tangannya, ataukah belum.


Malam itu pun, bersama Aslam, Khalifah berada di suatu kampung terpencil. Kampung itu berada di tengah-tengah gurun yang sepi. Saat itu Khalifah terperanjat. Dari sebuah kemah yang sudah rombeng, terdengar seorang gadis kecil sedang menangis berkepanjangan. Umar bin khattab dan Aslam bergegas mendekati kemah itu, siapa tahu penghuninya mungkin membutuhkan pertolongan mendesak.

Setelah dekat, Umar melihat seorang perempuan tua tengah menjerangkan panci di atas tungku api. Asap mengepul-ngepul dari panci itu, sementara si Ibu terus saja mengaduk-aduk isi panci dengan sebuah sendok kayu yang panjang.

“Assalamu’alaikum,” Umar memberi salam.
Mendengar salam Umar, Ibu itu mendongakan kepala seraya menjawab salam Umar. Tapi setelah itu, ia kembali pada pekerjaannya mengaduk-aduk isi panci.
“Siapakah gerangan yang menangis di dalam itu?” tanya Umar.
Dengan sedikit tak peduli, Ibu itu menjawab, “Anakku…”
“Apakah ia sakit?”
“Tidak,” jawab si Ibu lagi. “Ia kelaparan.”
Umar dan Aslam tertegun. Mereka masih tetap duduk di depan kemah sampai lebih dari satu jam. Gadis kecil itu masih terus menangis. Sedangkan Ibunya terus mengaduk-aduk isi pancinya.
Umar tidak habis pikir, apa yang sedang dimasak oleh Ibu tua itu? Sudah begitu lama tapi belum juga matang. Karena tak tahan, akhirnya Umar berkata, “Apa yang sedang kaumasak, hai Ibu? Kenapa tidak matang-matang juga masakanmu itu?”
Ibu itu menoleh dan menjawab, “Hmmm, kaulihatlah sendiri!”
Umar dan Aslam segera menjenguk ke dalam panci tersebut. Alangkah kagetnya ketika mereka melihat apa yang ada di dalam panci tersebut. Sambil masih tebelalak tak percaya, Umar berteriak, “Apakah kau memasak batu?”

Perempuan itu menjawab dengan menganggukkan kepala.
“Buat apa?”

Dengan suara lirih, perempuan itu kembali bersuara menjawab pertanyaan Umar, “Aku memasak batu-batu ini untuk menghibur anakku. Inilah kejahatan Khalifah Umar bin Khattab. Ia tidak mau melihat ke bawah, apakah kebutuhan rakyatnya sudah terpenuhi belum. Lihatlah aku. Aku seorang janda. Sejak dari pagi tadi, aku dan anakku belum makan apa-apa. Jadi anakku pun kusuruh berpuasa, dengan harapan ketika waktu berbuka kami mendapat rejeki. Namun ternyata tidak. Sesudah magrib tiba, makanan belum ada juga. Anakku terpaksa tidur dengan perut yang kosong. Aku mengumpulkan batu-batu kecil, memasukkannya ke dalam panci dan kuisi air. Lalu batu-batu itu kumasak untuk membohongi anakku, dengan harapan ia akan tertidur lelap sampai pagi. Ternyata tidak. Mungkin karena lapar, sebentar-sebentar ia bangun dan menangis minta makan.”

Ibu itu diam sejenak. Kemudian ia melanjutkan, “Namun apa dayaku? Sungguh Umar bin Khattab tidak pantas jadi pemimpin. Ia tidak mampu menjamin kebutuhan rakyatnya.”

Mendengar penuturan si Ibu seperti itu, Aslam akan menegur perempuan itu. Namun Umar sempat mencegah. Dengan air mata berlinang ia bangkit dan mengajak Aslam cepat-cepat pulang ke Madinah. Tanpa istirahat lagi, Umar segera memikul gandum di punggungnya, untuk diberikan kepada janda tua yang sengsara itu.

Karena Umar bin Khattab terlihat keletihan, Aslam berkata, “Wahai Amirul Mukminin, biarlah aku saya yang memikul karung itu…”

Dengan wajah merah padam, Umar menjawab sebat, “Aslam, jangan jerumuskan aku ke dalam Neraka. Engkau akan menggantikan aku memikul beban ini, apakah kaukira engkau akan mau memikul beban di pundakku ini di hari pembalasan kelak?”

Aslam tertunduk. Ia masih berdiri mematung, ketika tersuruk-suruk Khalifah Umar bin Khattab berjuang memikul karung gandum itu. Angin berhembus. Musim paceklik terus saja hinggap di tanah Arab.
(Peri Hidup Nabi dan Para Sahabat; Saad Saefullah) dikutip dari Eramuslim.com

»»  READMORE...

Jasadnya Dimakamkan oleh Malaikat

Amir Bin Fuhairah adalah salah seorang budak milik Tufail Bin Harits yang masuk Islam ketika Rasulullah saw menerima wahyu yang pertama. Masuk Islamnya Amir menimbulkan kemarahan besar pada majikan dan pemimpin Quraisy yang memuja berhala. Para pemimpin kafir Quraisy merasa cemas melihat banyak budak-budak masuk Islam, seperti halnya Amir. Sebab hal itu akan menyuburkan pertumbuhan Islam di kalangan mereka. Oleh karena itu, kaum kafir Quraisy berusaha sekuat tenaga untuk menghalangi dan merintangi setiap orang yang hendak masuk Islam denga cara apaun yang mereka kehendaki.

Pada suatu hari Amir mendapat teguran dari pemimpin Quraisy setelah dilaporkan oleh majikannya Tufail. Sang pemimpin itu dengan tegas berkata, “Hai Amir,  segera tinggalkan agama baru yang engkau anut itu.”
Amirpun menjawab dengan tegas pula, “Tidak! Aku sudah mantap untuk tetap dalam Islam.”
“Jika engkau mau kembali kepada agama nenek moyang kita, engkau akan diberi hadiah dan uang yang banyak” Bujuk pemimpin Quraisy itu.
“Aku tidak mau menukar keyakiananku dengan harta benda dunia. Bagiku keyakinan lebih berharga dari segalanya.” Tegas Amir.
“Kalau begitu, engkau layak mendapat siksaan!” kata  pemimpin itu mengancam.
“Aku tidak takut ancaman itu!” kata Amir tegas.
“Keparat…!” seret budak itu dan siksa sampai ia mau tunduk kepada kita!” perintah sang pemimpin.
Kaum kafir Quraisy berdatangan mendengar gertakan pemimpinnya. Amir diseret beramai-ramai laksana benda mati saja. Mereka menyeret kedua kakinya sementara badannya tergeletak di tanah. Karuan saja punggungnya lecet-lecet dan darah bercucuran. Amir dibawa ke suatu tempat di lapangan terbuka. Di sana ia disabet dengan cemeti secara bergantian. Akibatnya tubuh Amir memar dan terluka. Namun Amir tetap dalam keteguhannya memegang keyakinan Islamnya. Ia menganggap bahwa itu adalah sebagai  cobaan.
Pada saat itu Abu Bakar lewat dan melihat  kerumunan mereka. Ia menghentikan langkahnya dan menghampiri kerumunan itu. Ternyata mereka sedang menyiksa seorang budak dan ia tahu bahwa ia adalah budak milik Tufail.

“Sungguh biadab kelakuan mereka itu.” Kata Abu Abakar dalam hati. Lalu  menghampiri Tufail dan berkata,
“Tufail, aku beli budakmu itu !”.
“Silahkan, kebetulan sekali. Aku sudah muak melihat budakku itu.”
“Berapa engkau engkau jual?” tanya Abu Abakar.
“Karena engkau  adalah suami dari anak saudaraku, maka terserah engkau saja, berapa engkau bayar. ”Kata Tufail. Abu Bakar membeli budak  dengan harga yang pantas dan membawanya pulang. Kelak ketika Rasulullah  mengadakan perjanjian persaudaaran antara kaum Muhajirin dengan kaum Anshar, beliau memersaudarakan Amin Bin Fuhairah sebagai kaum Muhajirin dengan Harits  Bin Aus sebagai kaum Anshar. Sejak dibeli oleh Abu Bakar, Amir selalu berada di belakang Rasulullah ketika shalat lima waktu.
Untuk mencukupi kebutuhan hidupnya, Amir bekerja sebagai pedagang. Tetapi baginya berdagang bukanlah untuk mengumpulkan kekayaan duniawi, melainkan yang terpenting baginya adalah dapat memenuhi kebutuhan keseharian dengan cara yang halal dan tidak mengharap-harap pemberian orang lain.

Walaupun ia rajin berdagang, tapi ia tidak pernah menyimpan uang untuk hari esok. Kekayan yang ia miliki hanyalah senjata untuk berperang dan beberapa potong pakaian untuk shalat di masjid. Karena ia tidak mempunyai apa-apa, maka ketika perang ia selalu menjadi pasukan infantri (pasukan pejalan kaki) di depan Rasulullah saw. sang  komando jihad. Pernah ketika ia mengikuti perang, ia mengalami luka-luka, ia malah berkata, “Ini adalah peringa-tan Allah di hari akhir nanti.”

Dalam suatu perjalanan pulang setelah mengantarkan surat dakwah Rasulullah kepada salah seorang penguasa di wilayah Biri Maunah, ia bersama rombongannya berkemah di untuk berisirahat. Ketika sedang beristirahat itulah, mereka dikepung oleh kepala suku bersama pasukannya di wilayah itu. Terdengar kepala suku itu berkata, “ Hai kawan-kawan, segeralah minta bantuan untuk  mengepung tenda itu!”
Lalu terdengar ada seseorang yang berkata dengan suara yang keras, “Hai para utusan Nabi kini saatnya kalian mati di tanganku.”

“Wah…. Kita telah terkepung.” Kata Amir. “Kita harus melawan  dengan sekuat tenaga.“ Kata yang lain.
Karena jumlah rombongan Amir dan kawan-kawannya yang sedang beristirahat di dalam kemah itu tidak seimbang dengan jumlah pasukan yang mengepungnya, maka mereka kalang kabut. Meskipun mengadakan perlawanan, namun karena jumlah mereka  tidak seimbang, perlawanan mereka sia-sia. Akibatnya rombongan para utusan Rasulullah itu banyak yang gugur sebagai syahid. Hanya tiga orang yang berhasil meloloskan diri dan selamat, termasuk Amir bin Fuhairah. Tetapi  mereka mengejar ketiga orang tersebut. Amir ditikam dengan tombak oleh Jabbar bin Salma. Ketika ujung tombak menembus dadanya, Amir berkata, “Demi Allah, aku beruntung!” “Bagaimana engkau beruntung, sedang engkau sebentar lagi akan mati?” kata Jabbar. Amir menjawab, “Aku beruntung karena kematianku adalah sebagai syahid.”

Setelah Amir benar-benar mati terbunuh, tiba-tiba mereka menyaksikan sesuatu yang menakjubkan, yakni tubuh Amir melayang-layang di udara dan terbang ke langit. Mereka keheranan menyaksikan peristiwa itu. Peristiwa itu menyadarkan mereka. Sehingga gara-gara peristiwa itu mereka menyatakan diri masuk Islam. Setelah mereka menjadi muslim yang taat di antara mereka ada memper-tanyakan tentang kematian Amir bin Fuhairah yang jasadnya melayang-layang di udara dan terbang ke angkasa.

Maka Rasulullah saw menjawab, “Jasad Amir bin Fuhairah dibawa oleh para malaikat dan dimakamkan di langit.” (sumber)

 


»»  READMORE...

Jumat, 27 Januari 2012

Seorang muslim yang hanif tentulah sadar bahwa penyakit hasad adalah penyakit yang harus diatasi mengingat bahaya yang ditimbulkannya teramat besar. Artikel ini secara singkat berusaha memberikan beberapa kiat untuk mengatasi penyakit hasad tersebut. Semoga bermanfaat

Obat yang paling pertama adalah mengakui bahwa hasad itu merupakan sebuah penyakit akut yang harus dihilangkan. Tanpa adanya pengakuan akan hal ini, seorang yang tertimpa penyakit hasad justru akan memelihara sifat hasad yang diidapnya. Dan pengakuan bahwa hasad adalah sebuah penyakit yang berbahaya tidak akan timbul kecuali dengan ilmu agama yang bermanfaat.

Ilmu yang bermanfaat, hal ini berarti bahwa seorang yang ingin mengobati hasad yang dideritanya harus memiliki pengetahuan atau ilmu, dan pengetahuan ini terbagi menjadi dua jenis, yaitu secara global dan secara terperinci.

Pertama, secara global, maksudnya dia mengetahui bahwa segala sesuatu telah ditentukan berdasarkan qadha dan qadar-Nya; segala sesuatu yang dikehendaki-Nya akan terjadi dan segala sesuatu yang tidak dikehendaki-Nya, tidak akan terjadi. Demikian pula, dia menanamkan dalam dirinya bahwa rezeki yang telah ditetapkan dan diberikan Allah kepada para hamba-Nya, tidak akan berubah dan tertolak karena ketamakan dan kedengkian seseorang.

Kedua, secara terperinci, yakni dia mengetahui bahwa dengan memiliki sifat hasad, pada hakekatnya dia membiarkan sebuah kotoran berada di mata air keimanan yang dimilikinya, karena hasad merupakan bentuk penentangan terhadap ketetapan dan pembagian Allah kepada para hamba-Nya. Dengan demikian, hasad merupakan tindakan pengkhianatan kepada saudara-Nya sesama muslim dan dapat mewariskan siksa, kesedihan, kegalauan yang berkepanjangan. Demikian pula, hendaklah dia menanamkan kepada dirinya bahwa hasad justru akan membawa berbagai dampak negatif bagi dirinya sendiri, baik di dunia dan di akhirat. Sebaliknya, orang yang dihasadi justru memperoleh keuntungan berupa limpahan pahala akibat hasad yang dimilikinya [Fatawa Syaikh Jibrin 11/69; Maktabah Asy Syamilah].

Jadi bagaimana bisa seorang berakal membiasakan dirinya untuk dengki (hasad) kepada orang lain?!

Muhammad ibnu Sirin rahimahullah mengatakan,

“Saya tidak pernah dengki kepada orang lain dalam perkara dunia, karena apabila dia ditetapkan sebagai ahli jannah, bagaimana bisa saya mendengkinya dalam perkara dunia, sementara dia berjalan menuju jannah. Sebaliknya, jika dia adalah ahli naar, bagaimana bisa saya dengki kepadanya dalam perkara dunia, sementara dia berjalan menuju naar” [Muktashar Minhajul Qashidin 177].

Dengan amal perbuatan yang bermanfaat, yaitu melakukan kebalikan dari perbuatan-perbuatan negatif yang muncul sebagai akibat dari sifat hasad [Fatawa Syaikh Jibrin 11/69; Maktabah Asy Syamilah]. Hal ini diisyaratkan Allah ta’ala dalam firman-Nya,

ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ (٣٤)

Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, Maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara Dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. (Fushshilat: 34).

Jika sifat hasad mendorongnya untuk mencemarkan dan memfitnah orang yang didengkinya, maka ia harus memaksakan lidahnya untuk memberikan pujian kepada orang tersebut. Jika sifat hasad mendorongya untuk bersikap sombong, maka ia harus memaksa dirinya untuk bersikap tawadhu’ (rendah hati) kepada orang yang didengkinya, memuliakan, dan berbuat baik kepadanya. Jika di kali pertama dia bisa memaksa dirinya untuk melakukan berbagai hal tersebut, maka insya Allah selanjutnya dia akan terbiasa melakukannya, dan kemudian hal itu menjadi bagian dari karakternya.

Meneliti dan menelusuri sebab-sebab yang membuat dirinya menjadi dengki kepada orang lain, kemudian mengobatinya satu-persatu. Misalnya, sifat sombong diobati dengan sifat tawadhu‘ (rendah hati), penyakit haus kedudukan dan jabatan diobati dengan sifat zuhud, sifat tamak (rakus) diobati dengan sifat qana’ah dan berinfak, dst.

Di antara obat hasad yang paling mujarab adalah sebagaimana yang telah diterangkan Allah dalam firman-Nya,

وَلا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللَّهُ بِهِ بَعْضَكُمْ عَلَى بَعْضٍ لِلرِّجَالِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبُوا وَلِلنِّسَاءِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبْنَ وَاسْأَلُوا اللَّهَ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا (٣٢)

“Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain, (karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu.” (An Nisa: 32).

Dalam ayat ini, Allah ta’ala melarang hamba-Nya iri (dengki) terhadap rezeki yang berada di tangan orang lain, dan Dia menunjukkan gantinya yang bermanfaat di dunia dan akhirat yaitu dengan memohon karunia-Nya karena hal tersebut terhitung sebagai ibadah dan merupakan perantara agar permintaannya dipenuhi apabila Allah menghendakinya [Fatawasy Syabakah Al Islamiyah 7/278; Maktabah Asy Syamilah].

Bersandar kepada Allah, bermunajat serta memohon kepada-Nya agar berkenan mengeluarkan penyakit yang kotor ini dari dalam hatinya.

Banyak mengingat mati. Abud Darda radhiallahu ‘anhu mengatakan,

من أكثر ذكر الموت قل فرحه وقل حسده

“Seorang yang memperbanyak mengingat mati, niscaya akan sedikit girangnya dan sedikit pula sifat hasadnya” [Hilyatul Auliya 1/220].

Penulis: Muhammad Nur Ichwan Muslim   (sumber)
»»  READMORE...

Kisah Cinta Sejati Yang Menyentuh Lubuk Hati Terdalam

Pagi itu, klinik sangat sibuk, sekitar pkl.09.30 seorang pria berusia 70-an datang untuk membuka jahitan pada luka di ibu jarinya. Saya menyiapkan berkasnya dan memintanya menunggu sebab semua dokter masih sibuk, mungkin dia baru bisa ditangani setidaknya 1 jam lagi.

Sewaktu menunggu pria tua itu nampak geliasah, sebentar-sebentar dia melirik ke jam tangannya, sya merasa kasihan, jadi ketika sedang luang saya sempatkan untuk memeriksa lukanya, dan nampaknya lukanya cukup baik dan kering, tinggal membuka jahitan dan memasang perban baru. Pekerjaan yang tidak terlalu sulit, sehingga atas persetujuan dokter saya putuskan untuk melakukannya sendiri.

Cinta sejati tidak melihat kesetiaan dari sisi fisik mencintai tanpa pamrih dan tulus ikhlas

Sambil menangani lukanya sayaapakah dia punya janji lain hingga tampak terburu-buru. Lelaki tua itu menjawab tidak, dia hendak ke rumah jompo untuk makan siang bersama istrinya, seperti yang dilakukannya sehari-hari. Dia menceritakan bahwa istrinya sudah dirawat disana sejak beberapa waktu dan istrinya mengidap penyakit Alzheimer’s, lalu saya bertanya apakah istrinya akan marah kalau dia terlambat, dia menjawab bahwa istrinya sudah tidak dapat mengenalinya lagi sejak 5 tahun terakhir.

Saya sangat terkejut dan berkata “Bapak masih pergi kesana tiap hari walaupun istri Bapak sudah tidak kenal Bapak lagi?” Dia tersenyum sambil menepuk tangan saya ” Tetapi saya masih menganali dia kan?”

Sungguh,, saya sangat terharu mendengar ceritanya, saya menahan air mata sampai kakek itu pergi…. CINTA KASIH seperti itulah yang saya mau dalam hidupku, diperjuangkan, memperjuangkan, penuh pengorbanan (sumber)
»»  READMORE...

Orang Tua Kaya dengan Seorang Anak yang Bijak

Tidak semua yang kita miliki hanya bisa diukur dari kasat mata dan nilai duniawinya semata, banyak hal dalam hidup ini yang lebih bermakna. Bila Anda sudah merasa memiliki harta benda banyak coba tanyakan pada nurani Anda, sudah bahagiakah Anda dengan harta tersebut?

Dalam tulisan hikmah berikut, mengajak para sahabat sekalian untuk bisa lebih dalam memaknai arti hakikat hidup yang sesungguhnya, harta bukan tujuan melainkan hanya alat dan media, mari kita simak cerita ringkas berikut:

Suatu ketika seseorang yang sangat kaya mengajak anaknya mengunjungi sebuah kampung, dengan tujuan utama memperlihatkan kepada anaknya betapa orang-orang bisa sangat miskin. Mereka menginap beberapa hari di sebuah daerah pertanian yang sangat miskin.

Pada perjalanan pulang, sang Ayah bertanya kepada anaknya.
‘ Bagaimana perjalanan kali ini?’
‘ Wah, sangat luar biasa Ayah’
‘ Kau lihatkan betapa manusia bisa sangat miskin’ kata ayahnya.
‘ Oh iya’ kata anaknya
‘ Jadi, pelajaran apa yang dapat kamu ambil?’ tanya ayahnya.

Kemudian si anak menjawab.
‘ saya saksikan bahwa kita hanya punya satu anjing, mereka punya empat.

Kita punya kolam renang yang luasnya sampai ketengah taman kita dan mereka memiliki telaga yang tidak ada batasnya.

Kita mengimpor lentera-lentera di taman kita dan mereka memiliki bintang-bintang pada malam hari.

Kita memiliki patio sampai ke! halaman depan, dan mereka memiliki cakrawala secara utuh.

Kita memiliki sebidang tanah untuk tempat tinggal dan mereka memiliki ladang yang melampaui pandangan kita.

Kita punya pelayan-pelayan untuk melayani kita, tapi mereka melayani sesamanya.

Kita membeli untuk makanan kita, mereka menumbuhkannya sendiri.

Kita mempunyai tembok untuk melindungi kekayaan kita dan mereka memiliki sahabat-sahabat untuk saling melindungi.’

Mendengar hal ini sang Ayah tak dapat berbicara.

Kemudian sang anak menambahkan ‘ Terimakasih Ayah, telah menunjukan kepada saya betapa miskinnya kita.’

Kebersamaan, persaudaraan dan tolong menulong sebuah nilai dalam masyarakat yang tidak bisa dihargai dengan uang semata 
 
Kebersamaan, persaudaraan dan tolong menulong sebuah nilai dalam masyarakat yang tidak bisa dihargai dengan uang semata 
 
Betapa seringnya kita melupakan apa yang kita miliki dan terus memikirkan apa yang tidak kita punya. Apa yang dianggap tidak berharga oleh seseorang ternyata merupakan dambaan bagi orang lain. Semua ini berdasarkan kepada cara pandang seseorang. Membuat kita bertanya apakah yang akan terjadi jika kita semua bersyukur kepada Tuhan sebagai rasa terima kasih kita atas semua yang telah disediakan untuk kita daripada kita terus menerus khawatir untuk meminta lebih…
»»  READMORE...

Riwayat Penciptaan Nabi Adam as

Nabi Adam AS merupakan manusia pertama yang diciptakan ALLAH SWT.

Dia tidak diciptakan langsung begitu saja, tetapi mengalami beberapa proses dan dikerjakan oleh malaikat atas perintah ALLAH SWT.

Dikisahkan dalam beberapa hadits, ketika ALLAH SWT mengutus malaikat Jibril kebumi untuk mengambil segenggam tanah, bumi berkata, “Aku berlindung kepada ALLAH yang telah mengutusmu untuk mengambil dariku sesuatu yang didalamnya akan ada bagiannya api.”

Kemudian Jibril kembali kepada Tuhannya tanpa membawa apa-apa. Kemudian ALLAH SWT mengutus Malaikat Maut untuk pergi ke bumi dan bumipun berkata; “Aku berlindung kepada ALLAH agar malaikat maut jangan sampai mengambil sesuatu darinya.”

Lalu malaikat maut berkata ;”Dan aku juga berlindung kepada Allah jangan sampai aku durhaka kepada-Nya.”



Akhirnya malaikat maut mengambil tanah dari empat penjuru bumi. Tanahnya terdiri dari tanah yang berkualitas unggul, tanah yang asin, tanah lumpur, tanah yang halus, tanah liat yang merah dan dari tanah yang areanya tidak rata. Dengan sebab itu maka keturunan Adam AS berbeda-beda sosok dan corak warna kulitnya.

Setelah mengambil tanah, malaikat maut kembali kelangit, lalu Allah SWT memerintahkan malaikat maut untuk melembabkan tanah tersebut dan membiarkannya agar mengalami peragian.

Malaikat maut kemudian mengadonnya dengan air yang pahit, air yang manis dan air yang asin hingga tanah itu menjadi lembab dan menjadi seperti lumpur kembali. Kemudian dibiarkan mengalami proses peragian.

Kemudian Allah SWT menyuruh Jibril untuk membawakan Malaikat Maut segenggam unsur putih yang ada dijantung bumi yang mana unsur putih ini menyilaukan mata.Unsur putih inilah yang akan menjadi Nabi-Nabi.

Dengan disertai para malaikat, maka Jibril turun kebumi dan mengambil segenggam tanah dilokasi yang sekarang menjadi makam Nabi Muhammad SAW. Pada saat itu tanahnya putih murni.Tanah putih ini diadoni dengan air mulia dan dirawat seperti mutiara yang berwarna putih. Kemudian dicelupkan kedalam semua sungai yang ada disyurga.

Adonan ini mengeluarkan 124.000 tetesan.Dan Allah menjadikan tetesan tersebut menjadi 124.000 Nabi. Dan cahaya para nabi tersebut berasal dari cahaya Muhammad. Setelah itu oleh para malaikat dibawanya keliling langit dan bumi sehingga para malaikat jadi tahu bahwa ini adalah Muhammad. Bahkan sebelum mereka mengenal Adam.

Setelah itu dibentuk dengan cetakan Adam,kemudian dibiarkan selama 40 tahun lagi hingga menjadi seperti lempung yang dibakar.Lempung yang kering akan mengeluarkan bunyi bila dipukul dengan tangan.

Abdullah bin Salam bertanya kepada Rasulullah SAW tentang bagaimana penciptaan Adam.Rasulullah berkata; “Kepala dan dahi diciptakan dari tanah Ka’bah,dada dan punggungnya dari tanah Yerussalem,pahanya dari tanah Yaman,kakinya dari tanah Mesir dan Hijaj(sekarang Arab Saudi),tangan kanannya dari timur bumi dan tangan kirinya dari barat bumi(Timur dan Barat Ka’bah).

Kemudian Allah SWT menempatkannya digerbang surga. Kapanpun sekelompok malaikat lewat,mereka terkagum dan terpesona melihat keindahan bentuk dan postur tubuhnya. Para malaikat belum pernah melihat sesuatu yang seperti itu atau sesuatu yang mendekati keindahannya.

Ketika Iblis melewatinya, iblis bertanya; “Apa tujuan kamu diciptakan?”

Kemudian Iblis memukulnya,dan Iblis menyaksikan bahwa ada bagian yang berlubang pada tubuh tersebut. Lalu Iblis lewat ke dalam tubuh tersebut lewat mulutnya, kemudian keluar dari bagian yang lain.

Lalu Iblis berkata pada para Malaikat; “Ini adalah salah satu makhluk berlubang yang tak dapat berdiri dan juga tak dapat mempertahankan keutuhannya.”

Iblis bertanya kepada para malaikat; “Misal saja sesuatu ini lebih dimuliakan ketimbang kalian, maka apa yang akan kalian lakukan?”

Para malaikat berkata, “Kami akan mentaati perintah Tuhan kami.”

Iblis berkata pada dirinya sendiri; “Demi Allah! Jika sesuatu ini lebih dimuliakan daripada aku,maka aku akan menggugatnya dan menentangnya. Namun kalau aku lebih dimuliakan daripada sesuatu itu,maka aku akan binasakan sesuatu itu.”

Demikian hadits tersebut menjelaskan. Menurut seorang ulama bernama Ibnu Ishaq, setelah Allah SWT menciptakan raga Adam, Allah meniupkan ruh kedalamnya. Menurut para ulama, ketika hendak meniupkan ruh kedalam Adam, Allah menyuruh ruh itu masuk melalui mulutnya, kemudian ruh itu mengatakan; “Ini merupakan sebuah pintu masuk yang dalam lagi gelap.”

Allah SWT kembali menyuruhnya dan jawaban ruh tetap seperti itu. Kejadian yang sama berlangsung 3 kali. Pada yang keempat kalinya, Allah SWT berfirman; “Masuklah kedalamnya meskipun kamu tidak suka dan keluarlah darinya seperti itu juga.”

Setelah itu ruh masuk kembali melalui mulut. Sekali ruh ditiupkan kedalam Adam, maka yang pertama-tama dilaluinya adalah otaknya dan menetap dalam otak selama 200 tahun menurut perhitungan dunia.

Kemudian ruh turun ke mata Adam,lalu turun kelubang hidung dan adampun bersin. Setelah bersin ruh turun kemulut dan lidah. Lalu Allah mengajarkan kepada ruh untuk mengucapkan, “Alhamdulillahi robbil ‘alamin.”

Lalu Allah SWT merespon dengan kalimat; “YarhamakuRobbuka yaa Adam li Rohmati kholaqtuka.”

Dan Allah SWT berfirman, “Wahai Adam! Kamu telah memanjatkan pujian untuk-Ku. Demi kemuliaanKu kalau saja bukan karena ke dua hambaKu yang akan Aku ciptakan pada akhir zaman, tentu sama sekali Aku tidak akan menciptakanmu.”

Adam berkata; “Wahai Tuhan, demi kedudukan mereka disisiMu,siapakah mereka itu?”

Allah SWT berfirman, “Wahai Adam! Lihatlah kearah Arsy!”

Lalu Adam melihat Arsy dan terlihat 2 garis cahaya. Garis yang satu bertuliskan; “Tiada Tuhan selain Allah, Muhammad adalah Nabi Pembawa Rahmat dan beriman kepada kepada Allah adalah kunci menuju surga.”

Sedangkan garis kedua terbaca; “Aku akan bermurah hati dan mencurahkan rahmat kepada semua yang menerima wilayahnya (mengakui kepemimpinan mereka dan mencintai Muhammad SAW ) dan akan menurunkan siksaan atas siapa saja yang menentang mereka.”

Kemudian ruh turun kedada dan tulang rusuknya. Lalu Adam mencoba untuk berdiri namun tidak dapat. Ketika ruh sampai perut Adam merasa lapar setelah itu ruh menyebar keseluruh tubuh. Lalu Allah memberinya kuku.

Nabi Adam pun kian hari kian rupawan. Allah SWT memerintahkan malaikat untukmenghiasi Adam dengan hiasan-hiasan, pakaian dan perlengkapan dari surga. Dari tulang-tulang sendi Adam memancar cahaya seperti sinar matahari.

Allah SWT memerintah malaikat agar Nabi Adam AS dibawa diatas bahu dan diperintahkan untuk dibawa keliling langit. Para malaikat membawa Adam berkeliling selama 100 tahun.

Ketika Nabi Adam AS melewati sekelompok malaikat, Adam mengucapkan, “Assalammu ‘alaikum wahai malaikat Allah!”

Para malaikat menjawab; “Wa’alaikum salam wa rahmatullahi wa barakatuh!”

Allah SWT berfirman; “Wahai Adam! Beginilah ucapan salam kamu dan ucapan salam orang yang beriman dari kalangan keturunanmu kepada satu sama yang lainnya sampai hari kiamat.”

Kemudian Allah SWT mengajarkan nama segala sesuatu. Semua para malaikat sujud/menghormati Adam kecuali Iblis.

Setelah itu Adam AS tinggal di surga. Sampai akhirnya Allah menciptakan Hawa dari tulang rusuk kiri Adam AS pada hari Jum’at.

Maka Adam dan Hawa tinggal disana sampai mereka dikeluarkan dari surga karena tidak menuruti perintah Allah (melanggar larangan Allah SWT untuk tidak memakan buah khuldi).

Mereka keluar dari surga setelah Maghrib. Pelanggaran perintah yang dilakukan Adam AS bukan suatu dosa tapi merupakan suatu ujian yang tidak lulus yang menyebabkan kedudukan derajatnya sebagai Nabi menjadi lebih rendah.

(Wallahu Alam bishawab)sumber
»»  READMORE...