Tampilkan postingan dengan label Kesehatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kesehatan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 17 Februari 2012

Transplantasi Ginjal Setelah 10 Tahun

Transplantasi ginjal seharusnya menjadi solusi yang paling baik untuk penderita gagal ginjal ketimbang melakukan cuci darah.

"Seharusnya transplantasi ginjal ini menjadi solusi yang paling baik. Sebab cuci darah membutuhkan dana yang sangat besar karena dilakukan seumur hidup. Namun, ketersediaan donor ginjal di Indonesia masih sangat minim," kata Direktur MEdis RSUP dr Kariadi, Bambang Sudarmanto.

Selama ini, banyak orang beranggapan transpalantasi membutuhkan biaya yang besar. Jika dibandingkan pengeluaran yang dilakukan setiap cuci darah untuk seumur hidup, biayanya jauh lebih murah.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam RSUP dr Kariadi, Shofa Khasani, menyebutkan, seiring kemajuan teknologi, transplantasi ginjal dan persyaratan donornya semakin mudah.

Jika dulu pertimbangan utamanya adalah kecocokan antara ginjal yang didonorkan ke tubuh resipien, saat ini hal itu sudah dapat diatasi dengan berbagai jenis obat-obatan.

"Selama golongan darahnya sama, dan ginjalnya dalam kondisi yang bagus, bisa dilakukan, baik donor hidup maupun donor mati. Siapa saja bisa, keluarga atau teman, tua atau muda, bisa menjadi donor. Pendonor pun bisa hidup normal walaupun dengan satu ginjal," kata Shofa.

Sejauh ini, kata Shofa, tingkat keberhasilan transplantasi ginjal di atas 90 persen, dalam pemantauan satu tahun pertama.

"Biasanya mereka yang hidup dengan satu ginjal akan lebih berhati-hati dan sangat menjaga pola hidupnya. Karena itu, tidak heran jika kualitas hidup mereka justru lebih baik dibandingkan orang dengan dua ginjal," tuturnya.
sumber: http://health.kompas.co
»»  READMORE...

Dengkuran Ternyata Memperburuk Kanker

Obstructive Sleep Apnea (OSA) atau henti nafas saat tidur merupakan penyebab dari berbagai penyakit serius seperti hipertensi, diabetes, gangguan jantung, hingga stroke. Namun sebuah penelitian dalam jurnal kedokteran American Journal of Respiratory and Critical Care Medicine menemukan suatu hal yang mengejutkan, yakni hubungan sleep apnea dan kanker!

OSA ditandai oleh dua gejala utama yaitu mendengkur atau ngorok dan rasa kantuk yang berlebihan. Kedua tanda yang sering kita temui sehari-hari, namun sayangnya juga paling sering kita abaikan. Tetapi jangan salah mengerti. Yang penting dibicarakan di sini adalah proses henti nafas yang terjadi, bukan suara dengkuran.

Saat tidur, dan otot-otot kita melemas, saluran nafas jadi menyempit. Akibatnya, aliran udara akan terhenti. Setelah beberapa waktu, penderita akan terbangun disertai sensasi tersedak untuk menarik udara kembali. Otak terbangun sesaat dan langsung kembali tertidur, akibatnya penderita tak sadar ia terbangun-bangun selama tidur. Kadar oksigen pun jadi menurun. Kondisi ini akan terjadi berulangkali selama tidur. Tak jarang hingga lebih dari 30 kali tiap jamnya.

Penurunan kadar oksigen (hipoksia) dan episode bangun singkat berulang-ulang inilah yang memicu reaksi berantai yang berbuntut pada peningkatan tekanan darah, kadar gula dan masalah-masalah kardio vaskular lainnya.

Penelitian Pada Tikus

Sekelompok peneliti Spanyol menemukan bahwa henti nafas yang terjadi berulang seperti yang terjadi pada penderita sleep apnea, akan mendorong proliferasi sel-sel kanker melanoma dan meningkatkan pertumbuhan tumor pada tikus.

Penelitian ini juga menemukan bahwa sel-sel tumor dari model tikus dengan OSA ini mengandung banyak sel-sel nekrosis. Artinya, mengandung tipe kanker yang lebih agresif.

Pada penelitian ini, beberapa tikus disuntikkan sel-sel tumor melanoma, lalu dibagi dalam dua kelompok. Kelompok pertama, dikurangi oksigennya selama 20 detik sebanyak 60 kali per jamnya, selama 6 jam per hari. Kelompok kedua, diberikan oksigen dalam kadar normal. Kemudian tumor diukur besarnya selama penelitian dan setelah penelitian berakhir. Setelah 14 hari, tumor dari tikus-tikus tersebut diangkat dan ditimbang serta diukur jumlah sel-sel nekrosisnya untuk menentukan seberapa agresifnya tumor-tumor tersebut.

Walau semua sel tumor bertambah besar, namun kelompok tikus yang dikurangi suplai oksigennya secara berulang ternyata lebih besar pertambahan volumenya. Berat tumor dan jumlah sel nekrosis didapati 2 kali lebih besar dibanding kelompok tikus dengan kadar oksigen normal.

Profesor Ramon Farre dari the University of Barcelona School of Medicine Biophysics and Bioengineering Lab, mengatakan, efek hipoksia terhadap pertumbuhan sel kanker telah lama diketahui. Tetapi efek hipoksia berulang-ulang seperti yang dialami penderita OSA dalam tidur belum pernah diteliti. Maka penelitian ini dianggap memberi terobosan baru di dunia kedokteran.

Namun ia juga menekankan bahwa penelitian ini masih amat awal. Diharapkan penelitian ini akan memicu penelitian-penelitian lain yang lebih mendalam. Dengan ditemukannya efek hipoksia intermiten terhadap pertumbuhan sel kanker, pengetahuan kita akan kesehatan tidur dan OSA jadi lebih luas. Jika selama ini kita hanya tahu efek OSA terhadap gangguan jantung dan metabolisme, kini kita juga tahu efeknya terhadap penyakit yang telah lama menghantui, kanker.

* Praktisi Kesehatan Tidur, Sleep Disorder Clinic RS Mitra Kemayoran, pendiri @IDTidurSehat , penulis buku Ayo Bangun! anggota American Academy of Sleep Medicine.

sumber:http://health.kompas.com
»»  READMORE...

"Silent Stroke", Mendengkur dan "Sleep Apnea"

Sleep apnea atau henti nafas saat tidur yang ditandai dengan dengkuran, telah lama dikenali sebagai salah satu faktor risiko terhadap stroke. Sebuah penelitian kecil yang dipresentasikan pada the American Stroke Association's International Stroke Conference 2012 memberikan pencerahan baru terhadap hubungan stroke dan mendengkur ini.

Penelitian yang dilakukan di University of Dresden, Jerman tersebut menyatakan bahwa penderita sleep apnea berat berisiko lebih tinggi untuk terkena silent stroke atau lesi kecil di otak. Penelitian terkini menunjukkan bahwa 1 dari 10 pasien stroke juga mendengkur dan menderita sleep apnea. Lebih jauh lagi, sleep apnea ditemukan juga pada lebih dari setengah pasien dengan stroke ringan yang secara klinis tidak menunjukkan gejala apa-apa (silent stroke).

Mengutip dr. Jessica Kepplinger, pemimpin penelitian ini; "Kita tahu bahwa sleep apnea merupakan salah satu faktor risiko dari stroke, tapi kami menemukan hasil yang amat mengejutkan. Sebanyak 91% pasien stroke akut ternyata mendengkur dan terdiagnosa dengan sleep apnea!"

Penelitian

Penelitian di University of Dresden menyertakan 56 pasien stroke iskemik akut (stoke yang disebabkan penyumbatan pembuluh darah). Para pasien dilakukan pemeriksaan tidur di laboratorium tidur. Penderita dengan indeks henti nafas (AHI) lebih dari 5 kali per jam dinyatakan positif menderita sleep apnea.

Para peneliti juga menggunakan MRI dan CT scan untuk melihat sumbatan pada pembuluh darah penderita. Beberapa pasien yang mengalami sumbatan-sumbatan pada otaknya namun tidak mengeluhkan gejala apa pun digolongkan sebagai penderita silent stroke.

Hasilnya, 51 (91%) pasien ternyata menderita sleep apnea. 29% terdiagnosa dengan sleep apnea berat, sementara 30% lagi termasuk sedang. Sementara 58% pasien silent stroke menderita sleep apnea berat. Disimpulkan juga oleh para peneliti bahwa semakin parah sleep apnea yang diderita akan semakin besar juga kemungkinan menderita silent stroke.

Semakin parah derajat sleep apnea juga meningkatkan risiko tingkat keparahan cacat pasca stroke.

Kesimpulan

Hasil penelitian ini seharusnya mengetuk kesadaran kita akan pentingnya kesehatan tidur khususnya masalah mendengkur. Di kalangan medis sendiri kepekaan akan sleep apnea sudah harus ditingkatkan hingga pemeriksaan penyaring dilakukan pada pasien stroke. Sementara kenyataan saat ini, tak banyak pasien stroke yang diperiksakan tidurnya.

Padahal pemeriksaan mendasar sleep apnea amatlah mudah, tanyakan pada keluarga tentang kebiasaan mendengkur pasien. Para peneliti juga menyarankan pada kalangan medis agar memeriksakan dan merawat sleep apnea sama seperti faktor risiko stroke lainnya, misal tekanan darah tinggi.

dr Andreas Prasadja, RPSGT

Praktisi Kesehatan Tidur, Sleep Disorder Clinic RS Mitra Kemayoran, pendiri @IDTidurSehat , penulis buku Ayo Bangun! anggota American Academy of Sleep Medicine.
sumber: http://health.kompas.com
»»  READMORE...

Senin, 13 Februari 2012

Madu: Ampuh Obati Luka Kronis

Sudah banyak penelitian yang mengungkap khasiat tersembunyi dari madu sebagai ramuan alami untuk menunjang kesehatan. Ada beragam jenis madu yang tersedia di alam ini, dan salah satu yang terkenal adalah madu manuka.

Madu manuka adalah jenis madu yang sebelumnya diklaim para ahli mampu melawan bakter super. Penelitian terbaru para ilmuwan dari Cardiff Metropolitan University Wales menunjukkan bahwa madu manuka mampu mengatasi infeksi pada luka kronis, sekaligus "menjegal' pergerakan bakteri di dalam luka.

Seperti yang dipublikasikan jurnal Microbiologi, peneliti mengklaim bahwa madu manuka tidak hanya mampu menghancurkan sepenuhnya bakteri Streptococcus pyogenes, tetapi juga menghambat gerak bakteri tersebut untuk dapat menempel pada komponen jaringan luka.

Streptococcus pyogenes adalah jenis bakteri pada kulit normal yang sering dikaitkan dengan luka kronis (sulit disembuhkan). Bakteri yang yang menginfeksi luka ini biasanya akan melebur dan membentuk 'biofilm' atau sebuah penghalang yang membuat obat-obatan tidak bisa menembus luka.

Madu Manuka dipanen dari nektar yang dihasilkan lebah hutan phon manuka yang tubuh di Selandia Baru dan beberapa wilayah Australia. Madu ini juga kerap dijadikan salah satu bahan dalam produk perawatan luka di beberapa negara.  Berdasarkan laporan riset, Madu manuka dipercaya mampu menghambat lebih dari 80 jenis bakteri. Namun sifat antimikroba dari madu belum sepenuhnya dimanfaatkan oleh kedokteran modern, karena mekanisme kerjanya yang belum sepenuhnya dipahami.

Luka yang terinfeksi dengan bakteri S. pyogenes seringkali sulit sembuh karena terbentuknya biofilm sehingga mempersulit kerja antibiotika dalam melakukan penetrasi.  Problem ini juga menjadi pemicu  terjadinya resistensi antibiotika. Penelitian para ahli di Cardiff Metropolitan University Wales menunjukkan  bahwa madu Manuka dalam konsentrasi rendah dapat mencegah awal terbentuknya biofilm. Madu tersebut juga mampu membunuh hingga 85% bakteri dalam kurun waktu dua jam.

Peneliti mengungkapkan bahwa madu dapat mengganggu interaksi antara bakteri S. pyogenes dan fibronektin protein pada manusia. "Kami menemukan bahwa madu dapat mengurangi ekspresi protein permukaan bakteri, mengikat fibronektin untuk menghambat luka, sehingga mencegah kemungkinan bakteri membentuk biofilm," kata Dr. Sarah Maddocks, salah seorang peneliti.

"Ini adalah sebuah mekanisme yang hanya dapat dilakukan oleh madu manuka dengan cara meminimalkan inisiasi infeksi luka akut dan meminimalkan pembentukan infeksi kronis, "tambahnya. sumber
»»  READMORE...

5 Tanda Jantung Anda Bermasalah

 
Di antara Anda, pasti ada yang pernah membaca tanda-tanda atau gejala serangan jantung dari berbagai literatur. Di antaranya sekian banyak gejala, nyeri dada dan rasa sesak merupakan tanda yang paling populer dari serangan jantung. Tetapi, bagaimana dengan tanda-tanda lain yang penting untuk ketahui guna mengantisipasi gangguan jantung?

Para pakar jantung menyebutkan, gejala-gejala sakit jantung sebenarnya bisa tampak dari keluhan di banyak bagian tubuh. "Jantung, bersama dengan pembuluh arteri yang menyokongnya adalah salah satu otot yang besar. Ketika jantung mengalami kegagalan, gejala-gejalanya bisa terlihat di banyak bagian tubuh," kata Jonathan Goldstein, kardiolog dari St. Michael's Medical Center di Newark, New Jersey.

Berikut ini adalah lima petunjuk tersembunyi yang bisa menjadi penanda munculnya gangguan pada jantung. Apabila Anda mengalami dua atau lebih gejala seperti dibawah ini secara bersamaan, Goldstein menganjurkan untuk segera pergi ke dokter untuk mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut :

1. Nyeri leher

Apakah Anda pernah merasa nyeri otot yang berkepanjangan pada bagian leher? Waspadai bila nyeri in tak kunjung hilang. Pascaserangan jantung, beberapa pasien mengingat kalau mereka sebelumnya merasakan nyeri dan tegang pada leher. Mereka seringkali tak memperhatikan gejala ini karena mereka hanya fokus pada gejala-gejala yang lebih dramatis seperti nyeri akut di sekitar dada, bahu, dan lengan.

"Perempuan khususnya lebih kecil kemungkinannya mengalami gejala seperti ini, dan lebih mungkin untuk merasa nyeri mendadak disertai rasa sesak di bagian bahu dan bagian bawah leher," kata Margie Latrella, seorang perawat dan juga penulis dari Women Cardiology Center, New Jersey. Rasa sakit juga dapat merambat ke sisi kiri bagian tubuh, bahu kiri dan lengan.

Apa yang terjadi? Saraf dari jaringan jantung yang rusak mengirimkan sinyal rasa sakit yang naik turun pada ruas tulang belakang yang dalam waktu bersamaan merambat ke saraf-saraf di sekitar leher dan bahu.

2. Problem seksual

Pria dengan gangguan ereksi biasanya mempunyai masalah dengan penyakit pembuluh darah koroner. Survei terhadap pria di Eropa menunjukkan, mereka yang dirawat karena penyakit jantung dua dari tiga di antaranya menderita disfungsi ereksi selama berbulan-bulan, sebelum akhirnya didiagnosis memiliki masalah dengan jantung. Menurut Goldstein, beberapa penelitian terbaru yang menguji hubungan antara disfungsi ereksi dan penyakit kardiovaskuler juga semakin meyakinkan. Tak heran bila kini para dokter mempertimbangkan untuk juga mengatasi masalah kardiovaskuler ketika pria mengeluhkan disfungsi ereksi.

"Dalam beberapa tahun terakhir, telah ada bukti yang cukup jelas bahwa ada risiko substansial peningkatan serangan jantung dan kematian pada pasien dengan disfungsi ereksi," kata Goldstein.

Apa yang terjadi ? Seperti halnya pembuluh darah di sekitar jantung yang dapat menyempit dan mengeras, hal sama juga dapat terjadi pada pembuluh yang meyuplai darah ke bagian penis. Karena pembuluh darah di sekitar penis lebih kecil, pembuluh-pembuluh ini bisa mengalami kerusakan yang lebih cepat -- bahkan tiga atau empat tahun lebih cepat sebelum penyakit jantung terdeteksi.

3. Pusing, pingsan, atau sesak napas

Sebuah studi yang dipublikasikan Circulation: Journal of the American Heart Association, menyebutkan lebih dari 40 persen perempuan melaporkan bahwa mereka cenderung mengalami sesak napas di saat sebelum terjadinya serangan jantung. Anda mungkin akan merasakan tak bisa bernafas, lemas atau pusing serasa berada di ketinggian. Bila Anda tergopoh-gopoh ketika naik tangga, menyapu halaman, berjalan santai, atau aktivitas lain yang sebelumnya tak membuat Anda kesulitan, gejala ini perlu diwaspadai sebagai peringatan penting.

Apa yang terjadi ? Ini akibat tidak cukupnya darah mengalir pada pembuluh yang mengangkut oksigen ke jantung. Nyeri pada otot jantung atau angina juga bisa membuat seseorang merasakan sulit menarik nafas dalam. Penyakit pembuluh darah koroner, di mana pembuluh darah jantung tersumbat akibat penumpukan plak, menyebabkan organ jantung tidak mendapatkan suplai oksigen yang cukup. Sensasi mendadak tak bisa bernafas dalam seringkali menjadi pertanda angina, salah satu jenis nyeri pada otot jantung.

4. Gangguan pencernaan, mual, atau heartburn

Walaupun kebanyakan dari kita berpikir kondisi yang berhubungan dengan jantung identik dengan nyeri pada dada, tetapi sebenarnya hal ini dapat terjadi juga di bagian perut. Pada beberapa orang khususnya wanita, gejala seperti heartburn atau perasaan terbakar pada bagian dada, sesnsasi perut kekenyangan atau tersedak perlu diwaspadai. Gangguan pencernaan yang parah dan mual juga dapat menjadi tanda awal serangan jantung, atau biasa disebut infark miokard, khususnya pada wanita. Sebuah penelitian menunjukkan, perempuan dua kali lebih mungkin mengalami muntah, mual, dan gangguan pencernaan selama beberapa bulan menjelang serangan jantung.

Apa yang terjadi ? Timbunan lemak di pembuluh darah dapat mengurangi atau menurunkan suplai darah ke jantung sehingga menimbulkan perasaan seperti sesak, tertindih atau nyeri - yang kebanyakan terjadi di daerah dada tetapi terkadang juga di bagian perut. Tergantung dari bagian jantung mana yang terkena, hal itu akan memberikan sinyal ke seluruh tubuh. Mual dan pusing-pusing juga dapat menjadi pertanda bahwa serangan jantung sedang terjadi. Oleh sebab itu, segera panggil dokter Anda bila keluhan tersebut terus dialami.

5. Sakit pada rahang dan telinga

Sakit pada rahang adalah sesuatu yang terkadang misterius dan sangat mengganggu. Kondisi ini dapat disebabkan oleh banyak faktor, tetapi terkadang bisa menjadi petunjuk adanya penyakit pembuluh darah koroner (CAD) dan awal serangan jantung. Beberapa ahli kini sedang fokus meneliti hubungan sakit pada rahang dengan risiko serangan jantung. Hasil survei menunjukkan, banyak pasien pasca serangan jantung melaporkan sakit pada rahang mereka menjelang terjadinya serangan jantung.

Apa yang terjadi ? Kerusakan pada jaringan organ jantung dapat memicu pengiriman sinyal naik turun pada bagian tulang belakang yang kemudian meluas pada sarar-saraf yang tersebar dari mulai tulang leher, rahang hingga ke bagian telinga. sumber
»»  READMORE...