Tampilkan postingan dengan label Psikologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Psikologi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 04 Februari 2012

Human Being Types

Setiap individu dari kita semua tentunya mempunyai jejak hidup yang senantiasa berbeda satu dengan yang lainnya.

Secara kodrat hal ini memang telah digariskan oleh Tuhan penguasa alam semesta ini. Tatkala kita ada atau sudah tiada akan diingat oleh orang-orang yang mengenali disekitar kita.

Seiring berjalannya kehidupan, bertumbuhnya diri kita dan semakin bertambahnya ilmu yang kita miliki, kini setidaknya kita tahu diri kita yang sebenarnya, walaupun belum sepenuhnya atau seluruhnya kita mengetahuinya. Sudahkah kita mengetahui diri kita yang sesungguhnya?

Ada dua jenis manusia. Pertama, yang membuat kisah pribadinya, dan kedua, yang membuat sejarah.

Tujuan mereka yang membuat kisah pribadi adalah untuk kepuasan dirinya sendiri, sedangkan manusia yang membuat sejarah berusaha untuk melayani seluruh manusia. Perhatian seorang yang membuat kisah pribadi berputar pada diri sendiri. Dia melayang-layang di sekitar wilayah di mana kepentingan dirinya dapat tercukupi. Hatinya penuh dengan kebahagiaan jika dia berhasil meraih sesuatu bagi dirinya, tetapi bila tidak ada sesuatu yang dapat diraihnya, maka tak ada kebahagiaan dalam dirinya.

Sedangkan orang yang membuat sejarah adalah sosok yang berbeda. la keluar dari kerangka dirinya. Hidup bukan untuk diri sendiri tapi untuk satu tujuan yang lebih tinggi. Yang menjadi perhatian adalah masalah prinsip, bukan keuntungan. la tidak peduli apakah dirinya akan meraih kemenangan atau menderita kerugian, yang penting adalah idealismenya harus tersalurkan. Seolah-olah ia telah melepaskan diri dari pribadinya sendiri dan menancapkan benderanya pada berbagai kepentingan kemanusiaan.

Lalu bagaimana agar dapat menjadi orang yang membuat sejarah? Ada satu hal yang harus dilakukan. Pertama, berhenti menjadi sosokyang membuat kisah pribadi. Begitu seorang menghapuskan kepentingan pribadinya, maka dia akan mampu membangun masa depan kemanusiaan. Sosok seperti ini meletakkan keluhan-keluhannya hanya ke satu sisi. Figur seperti ini yang akan diperhitungkan dalam sejarah manusia. Mereka adalah orang-orang yang, atas keinginannya sendiri, konsen terhadap kepentingan kemanusiaan, mereka tidak mengambil hak untuk mendapatkan perlindungan, mereka hanya memiliki tanggung jawab, yang mereka lakukan dengan resiko apa pun bagi dirinya.

Now, which one are you going to be? sumber
»»  READMORE...

Berpikir Positif

Seseorang yang suka berpikiran positif akan memandang segala sesuatu dari sudut yang baik. Ia tidak melihat suatu keadaan dari segi buruk, melainkan justru dari segi baik. Ia tidak pernah berpikir buruk tentang orang lain; sebaliknya, ia mencoba membayangkan hal-hal baik dibalik perbuatan buruk orang lain. Jika kita mengambarkan dampak pola berpikir yang positif tentang suatu keadaan atau seseorang, seringkali hasilnya mungkin betul-betul menjadi positif.
Misalnya :
  • Jika kita bersikap ramah terhadap seseorang, maka orang itupun akan menjadi ramah terhadap kita.
  • Jika kita memperlakukan anak kita sebagai anak yang cerdas, akhirnya dia betul-betul menjadi cerdas.
  • Jika kita yakin bahwa upaya kita akan berhasil, besar sekali kemungkinan upaya dapat merupakan separuh keberhasilan.

Dampak pola berpikir positif itu disebut dampak Pygmalion.
Pikiran kita memang seringkali mempunyai dampak fulfilling prophecy atau ramalan tergenapi, baik positif maupun negatif.
  • Kalau kita menganggap tetangga kita judes sehingga kita tidak mau bergaul dengan dia, maka akhirnya dia betul-betul menjadi judes.
  • Kalau kita mencurigai dan menganggap anak kita tidak jujur,akhirnya ia betul-betul menjadi tidak jujur.
  • Kalau kita sudah putus asa dan merasa tidak sanggup pada awal suatu usaha, besar sekali kemungkinannya kita betul-betul akan gagal.
Pola pikir Pygmalion adalah berpikir, menduga dan berharap hanya yang baik tentang suatu keadaan atau seseorang. Bayangkan, bagaimana besar dampaknya bila kita berpola pikir positif seperti itu. Kita tidak akan berprasangka buruk tentang orang lain. Kita tidak menggunjingkan desas-desus yang jelek tentang orang lain. Kita tidak menduga-duga yang jahat tentang orang lain.
Kalau kita berpikir buruk tentang orang lain, selalu ada saja bahan untuk menduga hal-hal yang buruk. Jika ada seorang kawan memberi hadiah kepada kita, jelas itu adalah perbuatan baik. Tetapi jika kita berpikir buruk,kita akan menjadi curiga, “Barangkali ia sedang mencoba membujuk,” atau kita mengomel, “Ah, hadiahnya cuma barang murah.” Yang rugi dari pola piker seperti itu adalah diri kita sendiri.Kita menjadi mudah curiga. Kita menjadi tidak bahagia. Sebaliknya, kalau kita berpikir positif, kita akan menikmati hadiah itu dengan rasa gembira dan yukur, “Ia begitu murah hati. Walaupun ia sibuk, ia ingat untuk memberi kepada kita.”
Warna hidup memang tergantung dari warna kaca mata yang kita pakai. Kalau kita memakai kaca mata kelabu, segala sesuatu akan tampak kelabu. Hidup menjadi kelabu dan suram. Tetapi kalau kita memakai kaca mata yang terang, segala sesuatu akan tampak cerah. Kaca mata yang berprasangka atau benci akan menjadikan hidup kita penuh rasa curiga dan dendam.Tetapi kaca mata yang damai akan menjadikan hidup kita damai.
Hidup akan menjadi baik kalau kita memandangnya dari segi yang baik. Berpikir baik tentang diri sendiri. Berpikir baik tentang orang lain. Berpikir baik tentang keadaan. Berpikir baik tentang Tuhan. Dampak berpikir baik seperti itu akan kita rasakan. Keluarga menjadi hangat. Kawan menjadi bisa dipercaya. Tetangga menjadi akrab. Pekerjaan menjadi menyenangkan. Dunia menjadi ramah. Hidup menjadi indah. Seperti Pygmalion, begitulah. Wallahualam. sumber

»»  READMORE...

Kamis, 02 Februari 2012

Masa Puber dan Ciri-Cirinya

Seorang remaja gadis mulai mengeluhkan akan pinggulnya yang mulai melebar ke samping. Sedangkan teman cowoknya mengaku suaranya terasa lebih nge-bass ketimbang adiknya. Keanehan yang wajar ini bisa disebut masa puber, masa normal dimana semua remaja pasti akan mengalaminya. Apa yang dimaksud dengan masa puber? Kapan masa puber itu kita alami? Dan, bagaimana ciri-ciri dari seseorang yang mengalami masa puber?

Puber itu apa sih?

Masa puber adalah merupakan suatu peralihan antara masa anak dan masa dewasa yang berjalan antara umur 8 tahun sampai 21 tahun. Pada anak perempuan, biasanya akan mengalami pubertas yang lebih dahulu dibandingkan dengan anak laki-laki, yakni pada saat anak berusia 8 sampai 18 tahun.

Proses pubertas pada anak gadis ini timbul karena keluarnya hormon estrogen yang diproduksi tubuh yang akan mengubah bentuk luar dari tubuh anak perempuan dan membuat organ-organ genitalnya berkembang.

Ciri-ciri masa puber

Pada masa puber, anak gadis akan mengalami perubahan yang merupakan ciri-ciri normal saat pubertas terjadi. Antara lain pinggul yang mulai melebar ke samping, mulai mengalami menstruasi pada usia 12 atau 13 tahun setiap bulan, tumbuhnya rambut di daerah ketiak dan area genital. Dada yang semakin membesar serta perasaan tertarik terhadap lawan jenis.

Pada anak laki-laki masa puber akan ditandai dengan suara yang semakin nge-bass (membesar), tumbuhnya rambut di daerah ketiak dan kelamin, munculnya kumis dan janggut, munculnya jakun pada tenggorokan dan timbulnya perasaan tertarik pada lawan jenis. Mimpi basah yang merupakan ciri-ciri dari masa puber juga akan dialami pada anak laki-laki.

Banyak remaja baik laki-laki maupun perempuan yang akan memiliki masalah dengan jerawat saat masa puber terjadi. Namun tidak ada yang perlu dikhawatirkan dengan tumbuhnya jerawat tersebut. Banyak perawatan yang bisa dilakukan untuk menghilangkannya dan merupakan hal yang lumrah bagi remaja untuk tumbuh jerawat. Semua ini adalah perubahan yang terjadi di luar tubuh.

Meski masa puber identik dengan perubahan dari bentuk tubuh luar, namun masa puber sebenarnya juga terjadi pada psikologis anak. Seperti perasaan tertarik terhadap lawan jenis yang bisa berakhir pada cinta monyet seusia remaja, perubahan perilaku yang mencolok dari terbuka menjadi sangat tertutup, mulai timbul rasa tanggung jawab, ego akan mulai terlihat, perilaku yang sudah bisa dimodifikasi (beradaptasi dengan lingkungan) yang mengakibatkan anak sudah tidak “sepolos” pada masa kecil.

Apa yang dibutuhkan seorang anak pada saat ia mengalami masa puber?

Anak cenderung akan merasa ingin dihargai, diperhatikan, membutuhkan tempat untuk berkeluh kesah, butuh perasaan diterima baik di sekolah, masyarakat maupun keluarga, butuh dukungan dan butuh pengarahan akan masa puber yang dialaminya dan perkembangan organ seks nya.

Banyak orangtua yang enggan memberitahukan masa puber pada anaknya yang berakibat si anak akan mencari informasi pubertas sendiri di internet dan media lain yang bisa jadi berakibat kurang baik. Karena pada saat pubertas dialami, pendidikan akan seks sudah harus mulai diberikan.


Yang harus dilakukan orangtua terhadap anaknya yang Puber

Ketika anak-anaknya mencapai masa pubertas, maka mereka menjadi bertanggungjawab atas segala tindakan mereka di hadapan Allah SWT. Maka, para orangtua memiliki tanggung jawab untuk menyampaikan pesan tersebut kepada mereka.

Orangtua harus menginformasikan anak laki-laki yang menginjak remaja bahwa ketika pertama kali mereka melakukan ejakulasi (dengan bermimpi ‘basah’), maka mereka menjadi bertanggungjawab atas segala tindakan mereka di hadapan Allah. Dan mereka pun dibebani sejumlah ritual ibadah yang dilakukan para muslim dewasa lainnya.

Pun demikian, ketika anak-anak gadis melihat darah menstruasi, mereka mesti diberitahu bahwa mereka bertanggungjawab atas segenap tindakan mereka di hadapan Allah. Konsekuensinya, segala ritual ibadah yang diwajibkan kepada para muslimah lainnya pun menjadi wajib atas mereka.

Ketika anak-anak mencapai masa pubertas, ada sejumlah aturan yang harus dijelaskan orangtua kepada mereka, di antaranya:

1. Apabila anak-anak bermimpi berhubungan intim, dia tidak perlu untuk mandi (al-ghusl), kecuali kalau dia melihat dan merasakan basah di celana atau seprai dikarenakan ejakulasi sperma, untuk laki-laki. Atau sesuatu yang keluar dari vagina, untuk perempuan.

2. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan Khaulah binti Hakim, bahwa dia bertanya kepada Nabi tentang wanita yang bermimpi (basah) sebagaimana yang dimimpikan pria, maka Nabi bersabda, “Dia tidak wajib mandi sampai keluar air (maninya) sebagaimana laki-laki tidak wajib mandi sampai keluar air (maninya).” (HR. Ahmad no. 26049, An-Nasa’i no. 198, dan Ibnu Majah no. 594)

3. Ketika anak terbangun, lantas dia melihat atau merasakan basah dikarenakan bermimpi, maka dia (baik laki-laki maupun perempuan) harus melakukan mandi janabat, meskipun dia tidak ingat telah bermimpi apa.

4. Ketika anak laki-laki orgasme disebabkan hasrat seksual, baik karena sengaja ataupun tidak sengaja, maka dia harus mandi. Aturan yang sama juga diaplikasikan untuk anak perempuan, apabila dia merasakan orgasme atau keluar cairan basah secara seksual.

5. Begitu pula dengan para pemuda dan pemudi yang hendak menikah. Mereka harus mengetahui hal-hal tadi apabila kelak mereka berhubungan intim. Setiap kali terjadi penetrasi seksual, maka mereka diwajibkan mandi setelahnya, apakah mereka mengalami orgasme atau tidak.

Tentang hal ini Rasulullah bersabda, “Apabila seorang pria telah duduk di antara empat bagian tubuh perempuan (yakni berhubungan seks) kemudian dia bersungguh-sungguh padanya (terjadi penetrasi), maka sungguh dia telah wajib mandi karenanya”. (HR. Al-Bukhari dalam Shahih-nya)

6. Ketika perempuan tidak melihat darah lagi di akhir masa menstruasinya, maka dia harus mandi. Wanita yang telah menikah pun harus mengetahui bahwa setelah proses persalinan, maka dia mesti mandi apabila pendarahan telah terhenti.

Langkah selanjutnya adalah tentunya mengajari anak-anak bagaimana mandi janabat yang sesuai syariat. Anak-anak laki-laki dan perempuan harus mengetahui tindakan-tindakan yang tidak boleh dilakukan keduanya ketika dalam keadaan ‘tidak suci’. Di antaranya:

1. Selama menstruasi, atau setelah persalinan, perempuan dilarang untuk shalat, berpuasa, memasuki masjid, melakukan thawaf, dan lainnya.

Allah berfirman, “Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah: “Haid itu adalah suatu kotoran.” Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haid; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.” (Al-Baqarah: 222)

2. Pria dan wanita yang dalam keadaan tidak suci (junub) dilarang membaca Al-Qur’an atau menyentuhnya, sebelum mandi. Karena Rasulullah biasa membaca Al-Qur’an di segala kondisi, kecuali ketika beliau dalam keadaan junub karena telah melakukan hubungan intim. Mereka pun dilarang melakukan shalat, memasuki masjid, atau melakukan thawaf.

3. Anak-anak juga harus belajar untuk memperhatikan pakaian mereka dan menjaganya tetap bersih dari sperma atau cairan-cairan yang keluar dari vagina, atau cairan-cairan yang keluar dari organ kelamin. [ganna pryadha/voa-islam.com]
»»  READMORE...

Rabu, 01 Februari 2012

Dua Dunia yang Berbeda

Menurut Michael G.Conner, psikolog dari University of Oregon, Amerika Serikat, perbedaan psikologis antara pria dan wanita adalah:

  1. Pria melihat situasi secara keseluruhan dan berfikir secara global, sementara wanita berdaya pikir lokal dan menyandarkan pemikirannya dari detail.
  2. Pria adalah pencipta dan pembangun. Mereka mengambil resiko dan bereksperimen, sementara wanita memilih pengetahuan yang paling berharga dan mewariskannya ke generasi selanjutnya.
  3. Pria lebih independen dalam berfikir dan melakukan aksi, sementara wanita lebih senang mengikuti suara terbanyak.
  4. Penilaian wanita tentang dirinya umumnya lebih rendah daripada pria. Wanita senang mengkritik diri sendiri sementara pria gampang puas pada performa mereka.
  5. Pria dua kali lebih gampang jatuh sakit daripada wanita, walaupun wanita memang lebih peduli pada kesehatan mereka. sumber
»»  READMORE...

Senin, 30 Januari 2012

Kecemasan Pengaruhi Hubungan Seksual

Kecemasan panik yang biasanya melibatkan keluhan-keluhan jantung berdebar seringkali membuat pasien selalu was-was akan kondisi jantungnya jika bekerja agak berlebihan. Itulah mengapa banyak pasien yang mengalami hal ini takut untuk berolahraga dan juga beraktifitas seksual.

Hal ini dikarenakan kondisi olahraga dan aktivitas seksual bisa membuat jantung berdetak lebih kencang dan tekanan darah sedikit meningkat. Inilah yang disensasikan oleh pasien sebagai suatu kondisi yang bisa mengancam kesehatan jantungnya. Padahal, kenyataannya tidak demikian.

Olahraga dan aktivitas seksual adalah salah satu cara melawan stres karena saat beraktitas tersebut otak akan mengeluarkan hormon endorfin, suatu hormon anti-stres yang sangat baik melawan kondisi stres di dalam otak kita.

Cara paling baik adalah menyadari kondisi gangguan cemasnya, saudara bisa melakukan relaksasi untuk melatih agar kondisi cemasnya tidak datang berulang. Jika membutuhkan bantuan profesional maka bisa berobat ke psikiater untuk menghilangkan cemasnya tersebut.
Intinya adalah mengobati kondisi cemasnya dan selanjutnya kondisi yang berhubungan dengan kecemasan termasuk aktifitas seksual juga akan membaik.

http://health.kompas.com
»»  READMORE...

Cemas dan Depresi

Cemas tentu berbeda dengan depresi, walau pada dasarnya gangguan yang terjadi di sistem otaknya sama yaitu di sistem monoamine (terkait dengan serotonin, dopamin dan norepinefrin). Gangguan cemas sering dikeluhkan pasien sebagai rasa takut, was-was, khawatir sedangkan depresi lebih sering dikeluhkan sebagai keluhan malas, tidak ada semangat, rasa hampa dan perasaan tidak berarti.

Kondisi gangguan psikis seperti pada banyak tulisan yang pernah saya buat sangat berhubungan dengan kondisi fisik dan begitupun sebaliknya. Dalam praktek, kita kenal sebagai keluhan psikosomatik. Gejala-gejala gangguan fisik yang berasal dari kondisi psikis yang paling sering dikeluhkan adalah jantung berdebar, sesak napas, sakit atau tidak nyaman di perut, perasaan melayang, sendawa berlebihan, pegal-pegal, kesemutan, gemetaran, keluar keringat dingin, sulit tidur, sulit konsentrasi, kehilangan gairah seksual, kehilangan nafsu makan, malas atau rasa lelah berlebihan.

Tentunya hal tersebut harus dikonfirmasi dulu dengan pemeriksaan fisik dan penunjang sebelum didiagnosis sebagai gangguan kejiwaan seperti gangguan psikosomatik. Banyak pasien yang akhirnya menghabiskan biaya besar untuk berbagai pemeriksaan sebelum menyadari bahwa gangguannya termasuk gangguan psikosomatik.

Saya dalam praktik sangat sering mendapatkan pasien-pasien yang telah berkeliling dokter spesialis sebelum akhirnya memutuskan ke psikiater. itu pun kadang masih diliputi rasa segan. Saran saya, jika mengalami hal-hal tersebut segera berkonsultasi ke dokter jiwa atau psikiater. Semoga membantu. (sumber)
»»  READMORE...

Cara hidup Lebih Bahagia

Satu tahun berlalu, ragam pencapaian boleh jadi sudah Anda raih. Namun, apakah berbagai keberhasilan juga diikuti dengan perasaan bahagia yang menenteramkan? Jika kebahagiaan menjadi satu hal yang masih Anda coba wujudkan, mengawali tahun baru, siapkan diri Anda dengan sejumlah cara untuk meraih kebahagiaan seutuhnya.

Michele Woodward, ahli perencanaan karier sekaligus penulis buku I Am Not Superwoman: Further Essays on Happier Living, mengatakan, "Anda bisa merasa bahagia dengan memiliki waktu untuk berteman, dan berhubungan dengan orang di sekitar Anda, yang bisa memperkaya, memberi arti dan pengalaman berharga lainnya."

Berikut lima cara yang disarankan Woordward untuk Anda jalankan dalam meraih kebahagiaan mulai tahun baru nanti:

1. Beri penghargaan atas prestasi Anda selama tahun 2011. Duduklah, dan ambil pena serta kertas, kemudian buatlah daftar 25 prestasi teratas Anda yang berhasil Anda capai selama tahun 2011. "Mungkin ini akan mengejutkan diri Anda sendiri karena, tanpa disadari, Anda telah berhasil meraih banyak pencapaian selama setahun ini," ungkap Woodward.

Cara ini penting dilakukan sebagai bentuk penghargaan pada diri sendiri dan meningkatkan rasa percaya diri. Dengan lebih menghargai diri, Anda terbantu untuk memiliki pola pikir bahwa Anda mampu mengerjakan berbagai hal besar lainnya, tahun depan.

2. Tentukan tujuan yang realistis. Anda akan merasakan kebahagiaan ketika berhasil memenuhi target dari tujuan yang telah disusun sebelumnya. Ahli ekonomi Angus Deaton, PhD, dan psikolog Daniel Kahneman, PhD, mengungkapkan bahwa orang yang paling berbahagia adalah mereka yang menetapkan berbagai tujuan realistis bagi diri mereka sendiri. Tujuan yang lebih mungkin untuk dicapai.

Senada dengan hal ini, Woodward mengatakan bahwa menetapkan tujuan yang realistis ini bukanlah berarti Anda menyerah pada impian besar Anda. Namun, mencari tahu apa yang Anda inginkan dan ingin dicapai, kemudian fokus menemukan cara untuk meraihnya.

3. Cari kegiatan yang menyenangkan di luar pekerjaan. "Lakukan berbagai kegiatan yang bermakna dan bermanfaat sekaligus menyenangkan untuk Anda," ungkap Woodward. Berbagai kegiatan ini misalnya kegiatan sukarela, memulai proyek kreatif pribadi, atau mengembangkan hubungan sosial Anda di berbagai komunitas.

4. Bertanggung jawab atas kondisi hidup Anda. Woordward mengatakan saat bekerja, tujuan untuk meraih kenyamanan finansial tetap dibutuhkan. Namun, tanggung jawab atas diri bukan sekadar diukur dari jumlah uang yang dapat Anda dapatkan. Bentuk tanggung jawab atas diri sendiri juga berarti Anda mampu mengubah berbagai hal yang tidak Anda sukai, demi menjalani hidup yang lebih lebih menyenangkan.

"Jika Anda memiliki perjalanan hidup yang mengerikan dan berat, maka pertimbangkanlah untuk mengubahnya menjadi perjalanan yang lebih nyaman untuk memberi makna dalam hidup Anda. Salah satu caranya, mencari pekerjaan baru atau pindah ke tempat baru yang lebih baik," tambah Woodward.

5. Dikelilingi orang-orang yang Anda sayangi. Ketika dikelilingi dengan orang-orang terdekat Anda, seperti keluarga, teman, pasangan atau kekasih biasanya Anda akan merasakan kegembiraan. Ini karena ternyata, berada di sekeliling orang-orang yang Anda sayangi membawa energi positif untuk diri sendiri. sumber
»»  READMORE...

3 Hal yang Memengaruhi Kebahagiaan

Setiap orang pasti ingin mendapatkan suatu kebahagiaan dalam hidup. Tetapi sayangnya tidak semua orang bisa merasakannya karena berbagai hambatan. Padahal, kebahagiaan tidak hanya membuat pikiran menjadi rileks, tapi juga sangat besar pengaruhnya terhadap kesehatan.

Dr. Taufiq Pasiak, Kepala Devisi Neurosains/ Neuroanatomi Departemen Anatomi-Histologi, Fakultas UNiversitas Sam Ratulangi Manado, mengatakan bahwa terdapat hubungan sangat erat antara kebahagiaan, spiritualitas dan otak.

"Kebahagiaan bisa membuat orang hidup lebih lama, survival (mampu bertahan), dan mengurangi angka kesakitan," katanya, saat acara seminar Healthy Brain for Healthy Life, di MRCCC Siloam Semanggi, Sabtu, (14/1/2012).

Taufiq menerangkan bahwa ada tiga faktor yang bisa mempengaruhi kebahagiaan seseorang seperti dijelaskan dibawah ini:

1. Intentional activity

Aktivitas keseharian menyumbang 50 persen kebahagiaan. Artinya, setiap orang harus bisa hidup berdampingan dengan orang lain dalam suatu hubungan yang bernilai. Bergaul, berteman, mengunjungi keluarga, silaturahmi, merupakan salah salah satu bentuk kegiatan yang dapat menaikkan tingkat kebahagiaan seseorang. "Bangsa kita ini sebenarnya bangsa gotong royong. Nilai positif untuk menaikkan level kebahagiaan sudah ada, tapi kurang di eksplorrer dengan baik", katanya.

2. Faktor genetik

Mungkin banyak yang tidak menyadari bahwa kebahagiaan itu sebenaranya dapat diturunkan alias genetik. Menurut taufiq, seseorang yang memiliki keluarga bahagia, maka dia mempunyai peluang lebih besar untuk bahagia ketimbang orang dengan keluarga yang tidak bahagia. "Bukan kebahagiaannya yang diturunkan, tetapi peluang menjadi bahagia. Jadi ciptakan keluarga yang bahagia, karena itu peluang untuk menciptakan anak yang bahagia," katanya.

3. Bersyukur

Status sosial atau kedudukan seseorang di masyarakat rupanya bukanlah faktor terbesar yang berkontribusi terhadap kebahagiaan, karena pengaruhnya hanya 10 persen. Bahkan lanjut Taufiq, kekayaan hanya memiliki korelasi rendah dengan tingkat kebahagiaan. "Yang paling penting seseorang harus banyak bersyukur terhadap apa yang dia miliki," katanya.
»»  READMORE...

Selasa, 17 Januari 2012

Inteligensi dan IQ

Menurut David Wechsler, inteligensi adalah kemampuan untuk bertindak secara terarah, berpikir secara rasional, dan menghadapi lingkungannya secara efektif. secara garis besar dapat disimpulkan bahwa inteligensi adalah suatu kemampuan mental yang melibatkan proses berpikir secara rasional. Oleh karena itu, inteligensi tidak dapat diamati secara langsung, melainkan harus disimpulkan dari berbagai tindakan nyata yang merupakan manifestasi dari proses berpikir rasional itu.

Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi inteligensi adalah :
Faktor bawaan atau keturunan

Penelitian membuktikan bahwa korelasi nilai tes IQ dari satu keluarga sekitar 0,50. Sedangkan di antara 2 anak kembar, korelasi nilai tes IQnya sangat tinggi, sekitar 0,90. Bukti lainnya adalah pada anak yang diadopsi. IQ mereka berkorelasi sekitar 0,40 - 0,50 dengan ayah dan ibu yang sebenarnya, dan hanya 0,10 - 0,20 dengan ayah dan ibu angkatnya. Selanjutnya bukti pada anak kembar yang dibesarkan secara terpisah, IQ mereka tetap berkorelasi sangat tinggi, walaupun mungkin mereka tidak pernah saling kenal.
Faktor lingkungan

Walaupun ada ciri-ciri yang pada dasarnya sudah dibawa sejak lahir, ternyata lingkungan sanggup menimbulkan perubahan-perubahan yang berarti. Inteligensi tentunya tidak bisa terlepas dari otak. Perkembangan otak sangat dipengaruhi oleh gizi yang dikonsumsi. Selain gizi, rangsangan-rangsangan yang bersifat kognitif emosional dari lingkungan juga memegang peranan yang amat penting.
Inteligensi dan IQ

Orang seringkali menyamakan arti inteligensi dengan IQ, padahal kedua istilah ini mempunyai perbedaan arti yang sangat mendasar. Arti inteligensi sudah dijelaskan di depan, sedangkan IQ atau tingkatan dari Intelligence Quotient, adalah skor yang diperoleh dari sebuah alat tes kecerdasan. Dengan demikian, IQ hanya memberikan sedikit indikasi mengenai taraf kecerdasan seseorang dan tidak menggambarkan kecerdasan seseorang secara keseluruhan.

Skor IQ mula-mula diperhitungkan dengan membandingkan umur mental (Mental Age) dengan umur kronologik (Chronological Age). Bila kemampuan individu dalam memecahkan persoalan-persoalan yang disajikan dalam tes kecerdasan (umur mental) tersebut sama dengan kemampuan yang seharusnya ada pada individu seumur dia pada saat itu (umur kronologis), maka akan diperoleh skor 1. Skor ini kemudian dikalikan 100 dan dipakai sebagai dasar perhitungan IQ. Tetapi kemudian timbul masalah karena setelah otak mencapai kemasakan, tidak terjadi perkembangan lagi, bahkan pada titik tertentu akan terjadi penurunan kemampuan.
Pengukuran Inteligensi

Pada tahun 1904, Alfred Binet dan Theodor Simon, 2 orang psikolog asal Perancis merancang suatu alat evaluasi yang dapat dipakai untuk mengidentifikasi siswa-siswa yang memerlukan kelas-kelas khusus (anak-anak yang kurang pandai). Alat tes itu dinamakan Tes Binet-Simon. Tes ini kemudian direvisi pada tahun 1911.

Tahun 1916, Lewis Terman, seorang psikolog dari Amerika mengadakan banyak perbaikan dari tes Binet-Simon. Sumbangan utamanya adalah menetapkan indeks numerik yang menyatakan kecerdasan sebagai rasio (perbandingan) antara mental age dan chronological age. Hasil perbaikan ini disebut Tes Stanford_Binet. Indeks seperti ini sebetulnya telah diperkenalkan oleh seorang psikolog Jerman yang bernama William Stern, yang kemudian dikenal dengan Intelligence Quotient atau IQ. Tes Stanford-Binet ini banyak digunakan untuk mengukur kecerdasan anak-anak sampai usia 13 tahun.

Salah satu reaksi atas tes Binet-Simon atau tes Stanford-Binet adalah bahwa tes itu terlalu umum. Seorang tokoh dalam bidang ini, Charles Sperrman mengemukakan bahwa inteligensi tidak hanya terdiri dari satu faktor yang umum saja (general factor), tetapi juga terdiri dari faktor-faktor yang lebih spesifik. Teori ini disebut Teori Faktor (Factor Theory of Intelligence). Alat tes yang dikembangkan menurut teori faktor ini adalah WAIS (Wechsler Adult Intelligence Scale) untuk orang dewasa, dan WISC (Wechsler Intelligence Scale for Children) untuk anak-anak.

Di samping alat-alat tes di atas, banyak dikembangkan alat tes dengan tujuan yang lebih spesifik, sesuai dengan tujuan dan kultur di mana alat tes tersebut dibuat.
Inteligensi dan Bakat

Inteligensi merupakan suatu konsep mengenai kemampuan umum individu dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Dalam kemampuan yang umum ini, terdapat kemampuan-kemampuan yang amat spesifik. Kemampuan-kemampuan yang spesifik ini memberikan pada individu suatu kondisi yang memungkinkan tercapainya pengetahuan, kecakapan, atau ketrampilan tertentu setelah melalui suatu latihan. Inilah yang disebut Bakat atau Aptitude. Karena suatu tes inteligensi tidak dirancang untuk menyingkap kemampuan-kemampuan khusus ini, maka bakat tidak dapat segera diketahui lewat tes inteligensi.

Alat yang digunakan untuk menyingkap kemampuan khusus ini disebut tes bakat atau aptitude test. Tes bakat yang dirancang untuk mengungkap prestasi belajar pada bidang tertentu dinamakan Scholastic Aptitude Test dan yang dipakai di bidang pekerjaan adalah Vocational Aptitude Test dan Interest Inventory. Contoh dari Scholastic Aptitude Test adalah tes Potensi Akademik (TPA) dan Graduate Record Examination (GRE). Sedangkan contoh dari Vocational Aptitude Test atau Interest Inventory adalah Differential Aptitude Test (DAT) dan Kuder Occupational Interest Survey.
Inteligensi dan Kreativitas

Kreativitas merupakan salah satu ciri dari perilaku yang inteligen karena kreativitas juga merupakan manifestasi dari suatu proses kognitif. Meskipun demikian, hubungan antara kreativitas dan inteligensi tidak selalu menunjukkan bukti-bukti yang memuaskan. Walau ada anggapan bahwa kreativitas mempunyai hubungan yang bersifat kurva linear dengan inteligensi, tapi bukti-bukti yang diperoleh dari berbagai penelitian tidak mendukung hal itu. Skor IQ yang rendah memang diikuti oleh tingkat kreativitas yang rendah pula. Namun semakin tinggi skor IQ, tidak selalu diikuti tingkat kreativitas yang tinggi pula. Sampai pada skor IQ tertentu, masih terdapat korelasi yang cukup berarti. Tetapi lebih tinggi lagi, ternyata tidak ditemukan adanya hubungan antara IQ dengan tingkat kreativitas.

Para ahli telah berusaha mencari tahu mengapa ini terjadi. J. P. Guilford menjelaskan bahwa kreativitas adalah suatu proses berpikir yang bersifat divergen, yaitu kemampuan untuk memberikan berbagai alternatif jawaban berdasarkan informasi yang diberikan. Sebaliknya, tes inteligensi hanya dirancang untuk mengukur proses berpikir yang bersifat konvergen, yaitu kemampuan untuk memberikan satu jawaban atau kesimpulan yang logis berdasarkan informasi yang diberikan. Ini merupakan akibat dari pola pendidikan tradisional yang memang kurang memperhatikan pengembangan proses berpikir divergen walau kemampuan ini terbukti sangat berperan dalam berbagai kemajuan yang dicapai oleh ilmu pengetahuan.
--------------
Pendidikan adalah hal yang sangat penting untuk diperoleh anak-anak ataupun orang dewasa. Pendidikan menjadi salah satu modal bagi seseorang agar dapat berhasil dan mampu meraih kesuksesan dalam kehidupannya. Mengingat akan pentingnya pendidikan, maka pemerintah pun mencanangkan program wajib belajar 9 tahun, melakukan perubahan kurikulum untuk mencoba mengakomodasi kebutuhan siswa. Kesadaran akan pentingnya pendidikan bukan hanya dirasakan oleh pemerintah, tetapi juga kalangan swasta yang mulai melirik dunia pendidikan dalam mengembangkan usahanya. Sarana untuk memperoleh pendidikan yang disediakan oleh pemerintah masih dirasakan sangat kurang dalam upaya memenuhi kebutuhan masyarakat akan pendidikan.

Hal ini terlihat dengan semakin menjamurnya sekolah-sekolah swasta yang dimulai dari Taman Kanak-Kanak sampai perguruan tinggi. Kendala bagi dunia pendidikan untuk menghasilkan lulusan yang berkualitas adalah masih banyaknya sekolah yang mempunyai pola pikir tradisional di dalam menjalankan proses belajarnya yaitu sekolah hanya menekankan pada kemampuan logika (matematika) dan bahasa. Kenyataan ini senada dengan yang diungkapkan oleh Seto Mulyadi (2003), seorang praktisi pendidikan anak, bahwa suatu kekeliruan yang besar jika setiap kenaikan kelas, prestasi anak didik hanya diukur dari kemampuan matematika dan bahasa. Dengan demikian sistem pendidikan nasional yang mengukur tingkat kecerdasan anak didik yang semata-mata hanya menekankan kemampuan logika dan bahasa perlu direvisi.

Kecerdasan intelektual tidak hanya mencakup dua parameter tersebut, di atas tetapi juga harus dilihat dari aspek kinetis, musical, visual-spatial, interpersonal, intrapersonal, dan naturalis (Kompas, 6 Agustus 2003). Jenisjenis kecerdasan intelektual tersebut dikenal dengan sebutan kecerdasan jamak (Multiple Intelligences) yang diperkenalkan oleh Howard Gardner padan tahun 1983. Gardner mengatakan bahwa kita cenderung hanya menghargai orangorang yang memang ahli di dalam kemampuan logika (matematika) dan bahasa. Kita harus memberikan perhatian yang seimbang terhadap orangorang yang memiliki talenta (gift) di dalam kecerdasan yang lainnya seperti artis, arsitek, musikus, ahli alam, designer, penari, terapis, entrepreneurs, dan lain-lain.

Sangat disayangkan bahwa saat ini banyak anak-anak yang memiliki talenta (gift), tidak mendapatkan reinforcement di sekolahnya. Banyak sekali anak yang pada kenyataannya dianggap sebagai anak yang “Learning Disabled” atau ADD (Attention Deficit Disorder), atau Underachiever, pada saat pola pemikiran mereka yang unik tidak dapat diakomodasi oleh sekolah. Pihak sekolah hanya menekankan pada kemampuan logika (matematika) dan bahasa.

Teori Multiple Intelligences yang menyatakan bahwa kecerdasan meliputi delapan kemampuan intelektual. Teori tersebut didasarkan pada pemikiran bahwa kemampuan intelektual yang diukur melalui tes IQ sangatlah terbatas karena tes IQ hanya menekan pada kemampuan logika (matematika) dan bahasa (Gardner, 2003). Padahal setiap orang mempunyai cara yang unik untuk menyelesaikan persoalan yang dihadapinya. Kecerdasan bukan hanya dilihat dari nilai yang diperoleh seseorang. Kecerdasan merupakan kemampuan yang dimiliki oleh seseorang untuk melihat suatu masalah, lalu menyelesaikan masalah tersebut atau membuat sesuatu yang dapat berguna bagi orang lain.

Pola pemikiran tradisional yang menekankan pada kemampuan logika (matematika) dan bahasa memang sudah mengakar dengan kuat pada diri setiap guru di dalam menjalankan proses belajar. Bahkan, dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Yayasan Insan Kancil (Kompas, 13 Oktober 2003), pendidikan Taman Kanak-Kanak saat ini cenderung mengambil porsi Sekolah Dasar. Sekitar 99 persen, Taman Kanak-Kanak mengajarkan membaca, menulis, dan berhitung. Artinya, pendidikan Taman Kanak-Kanak telah menekankan pada kecerdasan akademik, tanpa menyeimbanginya dengan kecerdasan lain. Hal ini berarti pula bahwa sistem pendidikan yang dilaksanakan oleh guru-guru masih tetap mementingkan akan kemampuan logika (matematika) dan bahasa.

Menurut Moleong, dalam melaksanakan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), guru dan orang tua hendaknya bersinergi dalam mengembangkan berbagai jenis kecerdasan, terutama terhadap anak usia dini. Hal ini dimaksudkan agar siswa tidak gagap dalam melaksanakan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). Anak-anak usia 0 – 8 tahun harus diperkenalkan dengan kecerdasan jamak (Multiple Intelligences). Guru hendaknya tidak terjebak pada kecerdasan logika semata.

Multiple Intelligences yang mencakup delapan kecerdasan itu pada dasarnya merupakan pengembangan dari kecerdasan otak (IQ), kecerdasan emosional (EQ), kecerdasan spiritual (SQ). Semua jenis kecerdasan perlu dirangsang pada diri anak sejak usia dini, mulai dari saat lahir hingga awal memasuki sekolah (7 – 8 tahun). (Kompas, 13 Oktober 2003). Yang menjadi pertanyaan terbesar, mampukah dan bersediakah setiap insan yang berkecimpung dalam dunia pendidikan mencoba untuk mengubah pola pengajaran tradisional yang hanya menekankan kemampuan logika (matematika) dan bahasa? Bersediakah segenap tenaga kependidikan bekerjasama dengan orang tua bersinergi untuk mengembangkan berbagai jenis kecerdasan pada anak didik di dalam proses belajar yang dilaksanakan di lingkungan lembaga pendidikan?

Kecerdasan (Inteligensi) secara umum dipahami pada dua tingkat yakni : Kecerdasan sebagai suatu kemampuan untuk memahami informasi yang membentuk pengetahuan dan kesadaran. Kecerdasan sebagai kemampuan untuk memproses informasi sehingga masalah-masalah yang kita hadapi dapat dipecahkan (problem solved) dan dengan demikian pengetahuan pun bertambah. Jadi mudah dipahami bahwa kecerdasan adalah pemandu bagi kita untuk mencapai sasaran-sasaran kita secara efektif dan efisien. Dengan kata lain, orang yang lebih cerdas, akan mampu memilih strategi pencapaian sasaran yang lebih baik dari orang yang kurang cerdas. Artinya orang yang cerdas mestinya lebih sukses dari orang yang kurang cerdas. Yang sering membingungkan ialah kenyataan adanya orang yang kelihatan tidak cerdas (sedikitnya di sekolah) kemudian tampil sukses, bahkan lebih sukses dari dari rekan-rekannya yang lebih cerdas, dan sebaliknya.

Prestasi seseorang ditentukan juga oleh tingkat kecerdasannya (Inteligensi). Walaupun mereka memiliki dorongan yang kuat untuk berprestasi dan orang tuanya memberi kesempatan seluas-luasnya untuk meningkatkan prestasinya, tetapi kecerdasan mereka yang terbatas tidak memungkinkannya untuk mencapai keunggulan. Tingkat Kecerdasan Tingkat kecerdasan (Intelegensi) bawaan ditentukan baik oleh bakat bawaan (berdasarkan gen yang diturunkan dari orang tuanya) maupun oleh faktor lingkungan (termasuk semua pengalaman dan pendidikan yang pernah diperoleh seseorang; terutama tahun-tahun pertama dari kehidupan mempunyai dampak kuat terhadap kecersan seseorang). Secara umum intelegensi dapat dirumuskan sebagai berikut :
1. Kemampuan untuk berpikir abstrak.
2. Untuk menangkap hubungan-hubungan dan untuk belajar.
3. Kemampuan untuk menyesuaikan diri terhadap situasi-situasi baru.

Perumusan pertama melihat inteligensi sebagai kemampuan berpikir. Perumusan kedua sebagai kemampuan untuk belajar dan perumusan ketiga sebagai kemampuan untuk menyesuaikan diri. Ketiga-tiganaya menunjukkan aspek yang berbeda dari intelegensi, namun ketiga aspek tersebut saling berkhaitan. Keberhasilan dalam menyesuaikan diri seseorang tergantung dari kemampuannya untuk berpikir dan belajar. Sejauhmana seseorang dapat belajar dari pengalaman-pengalamannya akan menentukan penyesuaian dirinya. Ungkapan-ungkapan pikiran, cara berbicara, dan cara mengajukan pertanyaan, kemampuan memecahkan masalah, dan sebagainya mencerminkan kecerdasan. Akan tetapi, diperlukan waktu lama untuk dapat menyimpulkan kecerdasan seseorang berdasarkan pengamatan perilakunya, dan cara demikian belum tentu tepat pula. Oleh karena itu, para ahli telah menyusun bermacam-macam tes inteligensi yang memungkinkan kita dalam waktu yang relatif cepat mengetahui tingkat kecerdasan seseorang. Inteligensi seseorang biasanya dinyatakan dalam suatu kosien inteligensi Intelligence Quotient(IQ).

Apakah hanya kecerdasan (yang diukur dengan tes intelegensi dan menghasilkan IQ) yang menentukan keberbakatan seseorang ? barangkali untuk bakat intelegtual masih tepat jika IQ menjadi kriteria (patokan) utama, tetapi belum tentu untuk bakat seni, bakat kreatif-produktif, dan bakat kepemimpinan. Memang dulu para ahli cenderung untuk mengidentifikasi bakat intelektual berdasarkan tes intelegensi semata-mata, dalam penelitian jangka panjangnya mengenai keberbakatan menetapkan IQ 140 untuk membedakan antara yang berbakat dan tidak. Akan tetapi, akhir-akhir ini para ahli makin menyadari bahwa keberbakatan adalah sesuatu yang majemuk, artinya meliputi macam-macam ranah atau aspek, tidutak hanya kecerdasan.

Keberbakatan dan Anak Berbakat Renzulli, dkk.(1981) dari hasil-hasil penelitiannya menarik kesimpulan bahwa yang menentukan keberbakatan seseorang adalah pada hakekatnya tiga kelompok (cluster) ciri-ciri, yaitu : kemampuan di atas rata-rata, kreativitas, pengikatan diri (tangung jawab terhadap tugas). Seseorang yang berbakat adalah seseorang yang memiliki ketiga ciri tersebut. Masing-masing ciri mempunyai peran yang sama-sama menentukan. Seseorang dapat dikatakan mempunyai bakat intelegtual, apabila ia mempunyai intelegensi tinggi atau kemampuan di atas rata-rata dalam bidang intelektual yang antara lain mempunyai daya abstraksi, kemampuan penalaran, dan kemampuan memecahkan masalah). Akan tetapi, kecerdasan yang cukup tinggi belum menjamin keberbakatan seseorang. Kreatifitas sebagai kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru, sebagai kemampuan untuk memberikan gagasan-gagasan baru yang dapat diterapkan dalam pemecahan masalah atau sebagai kemampuan untuk melihat hubungan-hubungan baru antara unsur-unsur yang sudah ada sebelumnya, adalah sama pentingnya. Demikian juga berlaku bagi pengikatan diri terhadap tugas yang mendorong seseorang untuk tekun dan ulet meskipun mengalami macam-macam rintangan dan hambatan, melakukan dan menyelesaikan tugas yang telah menjadi tanggung jawabnya, karena ia telah mengikatnya diri terhadap tugas tersebut atas kehendaknya sendiri.

Adapun yang dimaksud dengan anak berbakat adalah mereka yang karena memiliki kemampuan-kemampuan yang unggul dan mampu memberikan prestasi yang tinggi. Anak-anak ini membutuhkan program pendidikan yang berdeferensiasi atau pelayanan yang di luar jangkauan program sekolah biasa, agar dapat mewujudkan bakat-bakat mereka secara optimal, baik bagi pengembangan diri maupun untuk dapat memberikan sumbangan yang bermakna bagi kemajuan masyarakat dan negara. Bakat-bakat tersebut baik sebagai potensi maupun yang sudah terwujud meliputi :kemampuan intelektual umum, kemampuan berpikir kreatif-produktif, kemampuan dalam salah satu bidang seni, kemampuan psikomotor, kemampuan psikososial seperti bakat kepemimpinan. Keberbakatan itu meliputi bermacam-macam bidang, namun biasanya seseorang mempunyai bakat istimewa dalam salah satu bidang saja. Dan tidak pada semua bidang. Misalnya : Si A menonjol dalam matematika, tetapi tidak dalam bidang seni. Si B menunjukkan kemapuan memimpin, tetapi prestasi akademiknya tidak terlalu menonjol. Hal ini kadang-kadang dilupakan oleh pendidik. Mereka menganggap bahwa seseorang telah diidentifikasi sebagai berbakat harus menonjol dalam semua bidang. Selanjutnya perumusan tersebut menekankan bahwa anak berbakat mampu memberikan prestasi yang tinggi. Mampu belum tentu terwujud. Contoh Ada anak-anak yang sudah dapat mewujudkan bakat mereka yang unggul, tetapi ada pula yang belum. Bakat memerlukan pendidikan dalam latihan agar dapat terampil dalam prestasi yang unggul

Yogyakarta, Kompas -Praktisi pendidikan anak Dr Seto Mulyadi menilai, sistem pendidikan nasional yang mengukur tingkat kecerdasan anak didik semata-mata pada kemampuan logika (matematis) dan bahasa perlu direvisi. Kecerdasan intelektual tidak hanya mencakup dua parameter itu, tetapi juga bisa dilihat dari aspek kinetis, musikal, visual spasial, interpersona, intrapersona, serta naturalis.

Seto Mulyadi mengutarakan itu saat berbincang-bincang dengan pers di Yogyakarta, pekan lalu. Mantan pembawa cara anak-anak di TVRI-lalu ia pun lebih akrab disapa Kak Seto-itu berada di Yogyakarta dalam rangka merintis pembukaan cabang Kelompok Bermain "Si Komo", taman bermain yang dikelolanya di Jakarta selama ini.

"Begitu banyak orang-orang unggul tidak terpantau kecerdasannya-bahkan dianggap bodoh-hanya karena tidak mahir pelajaran matematika yang mengandalkan logika atau bahasa yang mengandalkan kemampuan berbicara. Selama sistem pendidikan nasional kita masih mengukur kecerdasan anak dengan dua parameter itu, selama itu pula kita memasung kreativitas anak," katanya.

Ditegaskan, ada banyak parameter lain yang hendaknya juga menjadi acuan dalam mengukur kecerdasan intelektual anak. Kecerdasan kinetis, misalnya, bisa dilihat dari kemampuan anak melakukan gerakan-gerakan olahraga yang memungkinkan anak bersangkutan berprestasi di bidang olahraga. Ada juga kecerdasan musikal, yang ditandai dengan kemampuannya memainkan alat musik dan menyanyi. Selanjutnya, kecerdasan visual spasial, ditandai dengan kemampuan mendesain ruangan, busana, rambut dan sebagainya.

Ada pula kecerdasan interpersona. Ini ditandai dengan kemampuan seorang anak mempengaruhi orang lain, seperti ahli organisasi, ahli memimpin, politikus, pedagang, dan semacamnya. Sebaliknya, ada juga kecerdasan intrapersona, yang diukur dari kemampuan seorang anak mengendalikan emosi jiwanya, serta memotivasi dirinya sendiri untuk berbuat lebih baik.

"Ada juga kecerdasan yang sifatnya diukur dari kemampuan bergaul dan memahami alam. Namanya kecerdasan naturalis, seperti Ully Sigar yang mampu menangkap gejala alam untuk dijadikan lagu," papar Seto Mulyadi.

Kekeliruan besar

Jadi, tambahnya, keliru besar jika setiap masa kenaikan kelas prestasi anak didik hanya diukur dari kemampuan matematis dan bahasa. Begitu banyak aspek yang mestinya jadi penentu. "Kalau kita terus menganut paradigma yang sempit, ibaratnya kita mengukur jarak Yogya-Solo dengan satuan kilogram. Menggunakan pengukuran yang salah, berarti kita bergelimang dengan kerancuan," paparnya.

Menurut Seto, akibat kerancuan yang dianut selama ini, anak didik cenderung berpikir seperti robot, apalagi jika kondisi sekolahnya tidak menyenangkan bagi anak untuk bermain. Anak cenderung menjadi pemikir pasif, yakni berpikir dengan pola menghafal. Pola berpikir ini tingkatannya tergolong paling rendah karena tidak kritis.

"Dari dulu mereka cuma bisa menghafal masa Perang Diponegoro tahun 1825-1830, tanpa berupaya membandingkannya dengan Perang Imam Bonjol. Mereka cuma diminta menghafal bahwa kambing kakinya empat, tanpa diarahkan mencari persamaan dan perbedaannya dengan ayam," kata Seto seraya menambahkan bahwa di negara-negara maju, seperti Skandinavia, parameter kecerdasan anak diukur dengan parameter majemuk tanpa terbatas logika dan bahasa.

Tidak ada anak yang bodoh, hal ini perlu dipahami oleh semua orang. Saat ini, masih banyak orang yang berpendapat ada anak bodoh dan anak pintar, padahal setiap anak pasti mempunyai satu kemampuan. Dengan begitu, yang terpenting bagaimana mengembangkan kemampuan yang dimiliki anak tersebut.

"Dalam ilmu pengetahuan modern, tidak ada istilah anak bodoh. Yang ada, anak yang belum dijuruskan kepada kreativitas yang dimilikinya. Hal ini perlu dipahami, karena masih banyak orang yang berpendapat ada anak bodoh dan anak pintar," ungkap Direktur Perguruan Darul Hikam, Drs.H. Djadja Djahari, M.Pd.

Ia mengatakan hal tersebut kepada "PR", seusai memberikan sambutan pada Lomba Kreativitas Anak Indonesia, belum lama ini, di halaman barat Gedung Sate Bandung.

Kreativitas tersebut, lanjut Djadja, oleh Thomas Amstrong disebut sebagai delapan kecerdasan anak. Kecerdasan itu meliputi kecerdasan matematika - logika, kecerdasan bahasa (linguistik), kecerdasan musikal, kecerdasan visual spasial, kecerdasan kinestik, kecerdasan interpersonal, kecerdasan intrapersonal, dan kecerdasan naturalis

"Setiap anak pasti memiliki satu dari delapan kecerdasan itu. Namun, tidak tertutup kemungkinan, seorang anak bisa saja memiliki lebih dari satu kecerdasan. Misalnya seorang wartawan, karena memiliki kemampuan linguistiknya, maka bisa dikatakan mempunyai kecerdasan linguistik.

Sebab, tidak semua orang bisa menjadi seorang wartawan. Namun, wartawan sendiri belum tentu ia bisa menari, atau membuat desain. Jadi bisa dikatakan, seseorang hanya memiliki satu kemampuan," jelasnya.

Berkaitan dengan hal itu, tinggal orang tua pandai-pandai melihat kecerdasan apa yang dimiliki anaknya. Bila orangtua telah mengetahui kecerdasan yang dimiliki anaknya, ia kemudian mengarahkan anaknya sesuai dengan kecerdasannya tersebut.

"Untuk mengetahui mengenai kecerdasan dan keterampilan yang dimiliki oleh seorang anak, maka para orangtua perlu bekerja sama dengan berbagai pihak, seperti dengan guru dan psikologi. Namun, yang pertama bisa dilakukan adalah melalui pengamatan diri sendiri," katanya.

Pada bagian lain, Djadja juga mengingatkan agar para orang tua umumnya jangan mengharapkan atau menuntut anak-anaknya untuk bisa melakukan atau menguasai segala macam keterampilan. Namun, yang perlu diperhatikan, adalah melihat kemampuan apa yang dimiliki anaknya tersebut, untuk selanjutnya dikembangkan dan diarahkan.

memberi nasehat anak ada waktunya :
1. pada anak saat mau pergi
2. pada saat anak makan
3. pada saat anak sakit

itulah waktu yang sangat efektif dan efisien anak mau mendengarkan nasehat dari orang tua (sumber)

»»  READMORE...

Selasa, 03 Januari 2012

Psikologi Kognitif

Psikologi kognitif adalah salah satu cabang dari psikologi dengan pendekatan kognitif untuk memahami perilaku manusia. Psikologi kognitif mempelajari tentang cara manusia menerima, mempersepsi, mempelajari, menalar, mengingat dan berpikir tentang suatu informasi.

Yunani kuno sd. abad 18

Sejarah dari psikologi kognitif berawal pada saat Plato (428-348SM) dan muridnya Aristotle (384-322SM) memperdebatkan mengenai cara manusia memahami pengetahuan maupun dunia serta alamnya. Plato berpendapat bahwa manusia memperoleh pengetahuan dengan cara menalar secara logis, aliran ini disebut sebagai rasionalis. Lain halnya dengan Aristotle yang menganut paham empiris dan mempercayai bahwa manusia memperoleh pengetahuannya melalui bukti-bukti empiris.
Perdebatan ini masih berlangsung seperti pertentangan Rasionalis dari Perancis, Rene Descartes (1596-1650), dan Empiris dari Inggris, John Locke (1632-1704), dengan tabularasa-nya. Seorang fisuf Jerman, Immanuel Kant, pada abad 18 berargumentasi bahwa baik rasionalisme maupun empirisme harus bersinergi dalam membuktikan pengetahuan. Perdebatan ini meletakkan landasan dan memengaruhi cara berpikir di bidang ilmu psikologi maupun cabang ilmu lainnya. Saat ini ilmu pengetahun mendasarkan paham empiris untuk pencarian data dan pengolahan dan analisis data menggunakan kerangka pikir rasionalis.

[sunting] Abad 19 dan 20

Wilhelm Wundt (1832-1920)seorang psikolog dari Jerman mengajukan ide untuk mempelajari pengalaman sensori melalui introspeksi. Dalam mempelajari proses perpindahan informasi atau berpikir, maka informasi tersebut harus dibagi dalam struktur berpikir yang lebih kecil. Aliran strukturisme Wundt berfokus pada proses berpikir, namun aliran fungsionalisme berpendapat bahwa bahwa penting bagi manusia untuk tahu apa dan mengapa mereka melakukan sesuatu. William James (1842-1910)seorang pragmatisme-fungsionalisme melontarkan gagasan mengenai atensi, kesadaran serta persepsi.

Setelah itu munculah aliran assosiasi (Edward Lee Thorndike, 1874-1949) yang mulai menggunakan stimulus dan diikuti dengan aliran behaviorisme yang memasangkan antara stimulus dan respon dalam proses belajar. Pendekatan behaviorisme radikal yang dibawakan oleh B.F. Skinner (1904-1990) menyatakan bahwa semua tingkah laku manusia untuk belajar, perolehan bahasa bahkan penyelesaian masalah dapat dijelaskan dengan penguatan antara stimulus dan respon melalui hadiah dan hukuman.
Namun pendekatan behaviorisme belum dapat menjawab alasan perilaku manusia yang berbeda misalnya melakukan perencanaan, pilihan dan sebagainya. Edward Tolman (1886-1959) percaya bahwa semua tingkah laku ditujukan pada suatu tujuan. Menggunakan eksperimen dengan tikus yang mencari makanan dalam maze, percobaan ini membuktikan bahwa terdapat skema atau peta dalam kognisi tikus. Hal ini membuktikan bahwa tingkah laku melibatkan proses kognisi. Oleh karena itu beberapa pihak mengakui Tolman sebagai Bapak Psikologi Kognitif Modern.
Selain Tolman, Albert Bandura (1925- ) juga mengkritik behaviorisme dengan menyatakan bahwa belajar pun dapat diperoleh melalui lingkungan sosial dari individu. Dalam perolehan bahasa, Noam Chomsky (1928- ) -seorang linguis- juga mengkritik behaviorisme dengan menyatakan bahwa otak manusia dibekali dengan kemampuan untuk mengenali dan memproduksi bahasa.

Metode penelitian [2][3]

Penelitian psikobiologis

Menggunakan keterkaitan antara aktivitas otak dengan perilaku yang dilakukan atau diamati. Penelitian ini dapat difasilitasi dengan alat-alat yang memberikan bayangan otak (Brain imaging) dengan menggunakan fMRI, EEG, MRI, PET, NIRS dan lain-lain.
peminatan lain menyangkut penelitian di bidang spiritualitas. Spiritualitas dapat dianggap sebagai salah satu fenomena mental manusia yang kini dapat dilihat intrumen pemindai otak

Self report

Peserta penelitian memberikan laporan mengenai hal yang mereka alami, rasakan atau ingat berkaitan dengan suatu rangsang tertentu.

Eksperimen laboratorium terkontrol

Penelitian dilakukan pada tempat dan waktu tertentu dan biasanya telah diatur lingkungan sekitar agar tidak menjadi variabel pengganggu dari proses kognisi yang akan diukur pada eksperimen.

Waktu reaksi

Menggunakan kecepatan seseorang untuk bereaksi terhadap stimulus tertentu. Hal ini berkaitan dengan waktu pemrosesan dalam berpikir dapat menggambarkan pengaruh stimulus terhadap proses kognisi yang terjadi.

Topik [4]

Persepsi dan action

Pada topik ini dipelajari bagaimana seseorang mengartikan informasi dari inderanya untuk membuat dunianya berarti. Perolehan informasi didapatkan karena seseorang beraksi dan tentunya aksinya tersebut akan memengaruhi bagaimana seseorang mempersepsikan dunianya.

Belajar dan ingatan

Bagi psikologi belajar tidak terbatas pada ruang kelas, namun berkaitan dengan perolehan pengetahuan baru, mengembangkan perilaku baru maupun beradaptasi terhadap tantangan yang dihadapinya. Belajar berkaitan erat dengan ingatan atau memori karena hasil belajar harus disimpan dalam ingatan atau dalam proses belajar menggunakan ingatan hasil belajar sebelumnya.

Berpikir dan penalaran

Berpikir melibatkan manipulasi mental terhadap informasi dengan tujuan menalar, memecahkan masalah, membuat keputusan dan penilaian atau hanya membayangkan. Disini dilibatkan proses penalaran deduktif maupun induktif. Manusia membuat suatu dugaan (hipotesa) berdasarkan kemampuan berpikirnya.

[sunting] Bahasa

Bahasa yang dimaksudkan disini adalah bahasa yang memiliki kelengkapan fonem, fonetik, sintaks dan semantik. Merupakan kemampuan yang rumit dan hanya dimiliki oleh manusia, sehingga interaksi yang dilakukan oleh manusia mencirikan bahwa manusia adalah mahluk sosial. Melalui bahasa manusia memiliki konsep-konsep yang abstrak seperti moral, agama, peradaban, keindahan, penghianatan dan sebagainya. Oleh karena itu perolehan bahasa maupun proses berbahasa dianggap dapat memberikan pemahaman pada proses kognisi manusia.

Catatan kaki

  1. ^ Sternberg, R.J.(2006) Cognitive Psychology(4th Ed). Belmont, CA : Thomson Wadsworth
  2. ^ Sternberg, R.J.(2006) Cognitive Psychology(4th Ed). Belmont, CA : Thomson Wadsworth
  3. ^ Breakwell, G M, S.Hammond, C. Fife-schaw(200). Research methods in psychology. Sage : London
  4. ^ Encarta Reference Library Version 14.0.0.0603 (1993-2004). Redmon, WA : Microsoft Encarta Program
sumber
»»  READMORE...

Rabu, 28 Desember 2011

Resiliensi

Ada individu yang mampu bertahan dan pulih dari situasi negatif secara efektif sedangkan individu lain gagal karena mereka tidak berhasil keluar dari situasi yang tidak menguntungkan. Kemampuan untuk melanjutkan hidup setelah ditimpa kemalangan atau setelah mengalami tekanan yang berat bukanlah sebuah keberuntungan, tetapi hal tersebut menggambarkan adanya kemampuan tertentu pada individu yang dikenal dengan istilah resiliensi (Tugade & Fredrikson, 2004).

Pengertian
Istilah resiliensi diformulasikan pertama kali oleh Block (dalam Klohnen, 1996) dengan nama ego-resilience, yang diartikan sebagai kemampuan umum yang melibatkan kemampuan penyesuaian diri yang tinggi dan luwes saat dihadapkan pada tekanan internal maupun eksternal. Secara spesifik, ego-resilience adalah:
“… a personality resource that allows individual to modify their characteristic level and habitual mode of expression of ego-control as the most adaptively encounter, function in and shape their immediate and long term environmental context. (Block, dalam Klohnen, 1996, hal.45).
Dari definisi yang dikemukakan di atas, nampak bahwa ego resiliensi merupakan satu sumber kepribadian yang berfungsi membentuk konteks lingkungan jangka pendek maupun jangka panjang, di mana sumber daya tersebut memungkinkan individu untuk memodifikasi tingkat karakter dan cara mengekspresikan pengendalian ego yang biasa mereka lakukan.

Dalam perjalanannya, terminologi resiliensi mengalami perluasan dalam hal pemaknaan. Diawali dengan penelitian Rutter & Garmezy (dalam Klohnen, 1996), tentang anak-anak yang mampu bertahan dalam situasi penuh tekanan. Dua peneliti di atas menggunakan istilah resiliensi sebagai descriptive labels yang mereka gunakan untuk menggambarkan anak-anak yang mampu berfungsi secara baik walaupun mereka hidup dalam lingkungan buruk dan penuh tekanan.

Wolff (dalam Banaag, 2002), memandang resiliensi sebagai trait. Menurutnya, trait ini merupakan kapasitas tersembunyi yang muncul untuk melawan kehancuran individu dan melindungi individu dari segala rintangan kehidupan. Individu yang mempunyai intelegensi yang baik, mudah beradaptasi, social temperament, dan berkepribadian yang menarik pada akhirnya memberikan kontribusi secara konsisten pada penghargaan diri sendiri, kompetensi, dan perasaan bahwa ia beruntung. Individu tersebut adalah individu yang resilien.

Grotberg (1995), di sisi lain menjelaskan bahwa resiliensi merupakan kapasitas yang bersifat universal dan dengan kapasitas tersebut, individu, kelompok ataupun komunitas mampu mencegah, meminimalisir ataupun melawan pengaruh yang bisa merusak saat mereka mengalami musibah atau kemalangan.
Resiliensi disebut juga oleh Wolin & Wolin (dalam Bautista, Roldan & Bascal, 2001), sebagai keterampilan coping saat dihadapkan pada tantangan hidup atau kapasitas individu untuk tetap “sehat” (wellness) dan terus memperbaiki diri (self repair).

Lazarus (dalam Tugade & Fredrikson, 2004), menganalogikan resiliensi dengan kelenturan pada logam. Misalnya, besi cetak yang banyak mengandung karbon sangat keras tetapi getas atau mudah patah (tidak resilien) sedangkan besi tempa mengandung sedikit karbon sehingga lunak dan mudah dibentuk sesuai dengan kebutuhan (resilien). Perumpaan tersebut bisa diterapkan untuk membedakan individu yang memiliki daya tahan dan yang tidak saat dihadapkan pada tekanan psikologis yang dikaitkan dengan pengalaman negatif.

Banaag (2002), menyatakan bahwa resiliensi adalah suatu proses interaksi antara faktor individual dengan faktor lingkungan. Faktor individual ini berfungsi menahan perusakan diri sendiri dan melakukan kontruksi diri secara positif, sedangkan faktor lingkungan berfungsi untuk melindungi individu dan “melunakkan” kesulitan hidup individu.

Liquanti (1992), menyebutkan secara khusus bahwa resiliensi pada remaja merupakan kemampuan yang dimiliki remaja di mana mereka tidak mengalah saat menghadapi tekanan dan perbedaan dalam lingkungan. Mereka mampu terhindar dari penggunaan obat terlarang, kenakalan remaja, kegagalan di sekolah, dan dari gangguan mental.

Masten & Coatswerth (dalam Davis, 1999), mengatakan bahwa untuk mengidentifikasikan resiliensi diperlukan dua syarat, yaitu yang pertama adanya ancaman yang signifikan pada individu (ancaman berupa status high risk atau ditimpa kemalangan dan trauma yang kronis) dan yang kedua adalah kualitas adaptasi atau perkembangan individu tergolong baik (individu berperilaku dalam compotent manner).

Faktor-faktor Resiliensi
Banyak penelitian yang berusaha untuk mengidentifikasikan faktor yang berpengaruh terhadap resiliensi seseorang. Faktor tersebut meliputi dukungan eksternal dan sumber-sumbernya yang ada pada diri seseorang (misalnya keluarga, lembaga-lembaga pemerhati dalam hal ini yang melindungi perempuan), kekuatan personal yang berkembang dalam diri seseorang (seperti self-esteem, a capacity for self monitoring, spritualitas dan altruism), dan kemampuan sosial (seperti mengatasi konflik, kemampuan-kemampuan berkomunikasi).

Grotberg (1995), mengemukakan faktor-faktor resiliensi yang diidentifikasikan berdasarkan sumber-sumber yang berbeda. Untuk kekuatan individu, dalam diri pribadi digunakan istilah ‘I Am’, untuk dukungan eksternal dan sumber-sumbernya, digunakan istilah ‘I Have’, sedangkan untuk kemampuan interpersonal digunakan istilah’I Can’.

Berikut ini akan dijelaskan mengenai faktor-faktor resiliensi yang dapat menggambarkan resiliensi pada individu. I Am, I Have, I Can merupakan karakteristik untuk meningkatkan resiliensi dari the principal investigator of the Internasional Resilieance Project (Grotberg, 1995).
------
I am
Faktor I Am merupakan kekuatan yang berasal dari dalam diri, seperti perasaan, tingkah laku dan kepercayaan yang terdapat dalam diri seseorang. Faktor I Am terdiri dari beberapa bagian antara lain; bangga pada diri sendiri, perasaan dicintai dan sikap yang menarik, individu dipenuhi harapan, iman, dan kepercayaan, mencintai, empati dan altruistic, yang terakhir adalah mandiri dan bertanggung jawab.
Berikut ini, akan dijelaskan satu persatu mengenai bagian-bagian dari faktor I Am.
Bangga pada diri sendiri; individu tahu bahwa mereka adalah seorang yang penting dan merasa bangga akan siapakah mereka itu dan apapun yang mereka lakukan atau akan dicapai. Individu itu tidak akan membiarkan orang lain meremehkan atau merendahkan mereka. Ketika individu mempunyai masalah dalam hidup, kepercayaan diri dan self esteem membantu mereka untuk dapat bertahan dan mengatasi masalah tersebut.

Perasaan dicintai dan sikap yang menarik; Individu pasti mempunyai orang yang menyukai dan mencintainya. Individu akan bersikap baik terhadap orang-orang yang menyukai dan mencintainya. Seseorang dapat mengatur sikap dan perilakunya jika menghadapi respon-respon yang berbeda ketika berbicara dengan orang lain. Bagian yang lain adalah dipenuhi harapan, iman, dan kepercayaan. Individu percaya ada harapan bagi mereka, serta orang lain dan institusi yang dapat dipercaya. Individu merasakan mana yang benar maupun salah, dan ingin ikut serta di dalamnya. Individu mempunyai kepercayaan diri dan iman dalam moral dan kebaikan, serta dapat mengekspresikannya sebagai kepercayaan terhadap Tuhan dan manusia yang mempunyai spiritual yang lebih tinggi.

Mencintai, empati, altruistic; yaitu ketika seseorang mencintai orang lain dan mengekspresikan cinta itu dengan berbagai macam cara. Individu peduli terhadap apa yang terjadi pada orang lain dan mengekspresikan melalui berbagai perilaku atau kata-kata. Individu merasakan ketidaknyamanan dan penderitaan orang lain dan ingin melakukan sesuatu untuk menghentikan atau berbagi penderitaan atau memberikan kenyamanan.

Bagian yang terakhir adalah mandiri dan bertanggung jawab. Individu dapat melakukan berbagai macam hal menurut keinginan mereka dan menerima berbagai konsekuensi dan perilakunya. Individu merasakan bahwa ia bisa mandiri dan bertanggung jawab atas hal tersebut. Individu mengerti batasan kontrol mereka terhadap berbagai kegiatan dan mengetahui saat orang lain bertanggung jawab.

I Have
Aspek ini merupakan bantuan dan sumber dari luar yang meningkatkan resiliensi.
Sumber-sumbernya adalah memberi semangat agar mandiri, dimana individu baik yang independen maupun masih tergantung dengan keluarga, secara konsisten bisa mendapatkan pelayanan seperti rumah sakit, dokter, atau pelayanan lain yang sejenis.

Struktur dan aturan rumah, setiap keluarga mempunyai aturan-aturan yang harus diikuti, jika ada anggota keluarga yang tidak mematuhi aturan tersebut maka akan diberikan penjelasan atau hukuman. Sebaliknya jika anggota keluarga mematuhi aturan tersebut maka akan diberikan pujian.
Role Models juga merupakan sumber dari faktor I Have yaitu orang-orang yang dapat menunjukkan apa yang individu harus lakukan seperti informasi terhadap sesuatu dan memberi semangat agar individu mengikutinya.

Sumber yang terakhir adalah mempunyai hubungan. Orang-orang terdekat dari individu seperti suami, anak, orang tua merupakan orang yang mencintai dan menerima individu tersebut. Tetapi individu juga membutuhkan cinta dan dukungan dari orang lain yang kadangkala dapat memenuhi kebutuhan kasih sayang yang kurang dari orang terdekat mereka.

I Can
Faktor I Can adalah kompetensi sosial dan interpersonal seseorang. Bagian-bagian dari faktor ini adalah mengatur berbagai perasaan dan rangsangan dimana individu dapat mengenali perasaan mereka, mengenali berbagai jenis emosi, dan mengekspresikannya dalam kata-kata dan tingkah laku namun tidak menggunakan kekerasan terhadap perasaan dan hak orang lain maupun diri sendiri. Individu juga dapat mengatur rangsangan untuk memukul, ‘kabur’, merusak barang, atau melakukan berbagai tindakan yang tidak menyenangkan.

Mencari hubungan yang dapat dipercaya dimana individu dapat menemukan seseorang misalnya orang tua, saudara, teman sebaya untuk meminta pertolongan, berbagi perasaan dan perhatian, guna mencari cara terbaik untuk mendiskusikan dan menyelesaikan masalah personal dan interpersonal.
Sumber yang lain adalah keterampilan berkomunikasi dimana individu mampu mengekspresikan berbagai macam pikiran dan perasaan kepada orang lain dan dapat mendengar apa yang orang lain katakan serta merasakan perasaan orang lain.

Mengukur temperamen diri sendiri dan orang lain dimana individu memahami temperamen mereka sendiri (bagaimana bertingkah, merangsang, dan mengambil resiko atau diam, reflek dan berhati-hati) dan juga terhadap temperamen orang lain. Hal ini menolong individu untuk mengetahui berapa lama waktu yang diperlukan untuk berkomunikasi, membantu individu untuk mengetahui kecepatan untuk bereaksi, dan berapa banyak individu mampu sukses dalam berbagai situasi.

Bagian yang terakhir adalah kemampuan memecahkan masalah. Individu dapat menilai suatu masalah secara alami serta mengetahui apa yang mereka butuhkan agar dapat memecahkan masalah dan bantuan apa yang mereka butuhkan dari orang lain. Individu dapat membicarakan berbagai masalah dengan orang lain dan menemukan penyelesaian masalah yang paling tepat dan menyenangkan. Individu terus-menerus bertahan dengan suatu masalah sampai masalah tersebut terpecahkan.
Setiap faktor dari I Am, I Have, I Can memberikan konstribusi pada berbagai macam tindakan yang dapat meningkatkan potensi resiliensi. Individu yang resilien tidak membutuhkan semua sumber-sumber dari setiap faktor, tetapi apabila individu hanya memiliki satu faktor individu tersebut tidak dapat dikatakan sebagai individu yang beresiliensi, misalnya individu yang mampu berkomunikasi dengan baik (I Can) tetapi ia tidak mempunyai hubungan yang dekat dengan orang lain (I Have) dan tidak dapat mencintai orang lain (I Am), ia tidak termasuk orang yang beresiliensi.
Sumber bacaan:
Banaag, C. G. (2002). Reiliency, street Children, and substance abuse prevention. Prevention Preventif, Nov. 2002, Vol 3.
Bernard, B. (1995). Fostering Resilience in Children. University of Illinois at Urbana Champaign, Children Research Center.
Davis, N.J. (1999). Resilience & School Violence Prevention: Research-based program. National Mental Health Information Center.
Grotberg, E. (1995). A Guide to Promoting Resilience in Children: Strengthening The Human Spirit. Benard Van Leer Fondation.
Hiew, C. C., Mori, T., Shimizu, Masuharu., & Tominaga, Mihoko. (2000). Measurement Of Resilience Development: Preliminary Result with a State Trait Resilience Inventory. Journal of Learning & Faculty of Education, Volume I. Hirosima University.
Klohnen, E.C. (1996). Conseptual Analysis and Measurement of The Construct of Ego Resilience. Journal of Personality and Social Psychology, Volume. 70 No 5, p 1067-1079.
Liquanti, R. (1992). Using Community-wide Collaboration to Foster Resiliency in Kids: A Conceptual Framework Western Regional Center For Drugs-Free School and Communities, Far West Laboratory fo Educational Research and Development. San Fransisco. Diambil dari http://www.ncrel.org/sdrs/cityschool/citu11bhtm (24/10/04).
Richmond, J. B. & Beardslee, W. R. (1988). (Resiliency : Research and pracital applications for pediatricians. Journal of Developmental and Behavioral Pediatrics, 9 (3), June, 157-163.
Tugade M.M & B.L. Fredrickson. (2004). Resilient Individual Use Positive Emotions To Bounce Back From Negative Emotional Experiences. Journal of Personality and Social Psychology, Volume 24, no 2. 320-333. Sumber

»»  READMORE...

Selasa, 27 Desember 2011

Vicarious Trauma

Pengertian Vicarious Trauma
Istilah ‘vicarious trauma’ pertama kali dikemukakan oleh McCann dan Pearlman (1990) untuk mendeskripsikan dampak pekerjaan yang berhubungan dengan penanganan trauma bagi seorang terapis. Konsep ini juga digunakan untuk menggambarkan efek trauma klien pada kehidupan terapis. Vicarious trauma (selanjutnya disebut dengan VT) didasari oleh Constructivist Self Development Theory (CSDT). Hipotesis teori ini adalah bahwa manusia memiliki kemampuan yang disebut dengan sumber daya ego, untuk mendukung dan memperkuat stabilitas, persepsi diri dan pandangan mengenai dunia dan dirinya sendiri. Apabila individu menghadapi  kejadian traumatis maka pandangannya mengenai dunia akan berubah (Janoff-Bulman dalam Pickett, 1998). Penjelasan tersebut berkaitan dengan kondisi yang dialami oleh para penyedia jasa kemanusiaan atau pekerja kesehatan mental yang seringkali menangani  para korban trauma. Kejadian-kejadian traumatis yang dialami korban membuat si terapis menjadi tersadarkan akan kengerian yang terjadi di dunia, dan hal ini membuatnya semakin menyadari kelemahan dan kerentanan hidup mereka sendiri (McCann dan Pearlman;  Pearlman dan Saakvitne, dalam Pickett, 1998).
Berdasarkan  perspektif teori ini, maka McCann dan Pearlman (dalam Stamm,1999) mendefinisikan VT sebagai :
“the transformation in the inner experience of the therapist that comes about as a result of emphatic engagement with client’s trauma material (hal.31).
Berdasarkan definisi di atas, maka VT merupakan hasil transformasi suatu pengalaman dalam diri individu yang disebabkan oleh keterlibatan empatik seorang terapis dengan materi trauma klien. Pearlman dan Saakvitne (dalam Lonergan, 1999) lebih jauh mengungkapkan bahwa VT merupakan suatu proses dan hasil dari dampak kumulatif terapi trauma dengan beberapa klien. Dengan demikian VT  bukanlah akibat dari sebuah kejadian statis atau hasil menangani satu orang klien saja. Premis dasar dari VT adalah bahwa terdapat perubahan besar yang mengambil bagian dalam aspek-aspek psikologis terapis. Perubahan ini meliputi perubahan identitas dan sudut pandang, seperti halnya kemampuan mereka untuk memelihara perasaan yang positif terhadap diri dan orang lain dan untuk mengontrol perasaan bermakna. Skema kognitifpun relatif terganggu, yang meliputi keyakinan tentang rasa aman, harga diri, kepercayaan, ketergantungan, kontrol, dan intimacy.

Ada dua faktor utama yang memberikan kontribusi terjadinya VT, yaitu (a) aspek khusus dan kontekstual terapi itu sendiri, seperti jenis klien, lingkungan sosial dan iklim pekerjaan, dan (b) karakteristik dan daya tahan yang dimiliki terapis, serta cara terapis bekerja. Faktor eksternal dari materi trauma berperan juga dalam perkembangan VT (Pearlman dan Saakvitne, dalam Steed dan Downing, 1998). Ketidakmampuan klien untuk berfungsi sosial, termasuk di dalamnya sifat terlalu menuntut, menentang, curiga, atau memusuhi terapis, dapat menambah sebuah dimensi dari hubungan interpersonal yang dapat mengurangi kepercayaan diri terapis atau kemampuan empati dirinya dengan klien. Selain aspek sosial, faktor pekerjaan dan organisasi berpotensi untuk meningkatkan kecenderungan seseorang mengalami VT. Tuntutan pekerjaan yang memakan waktu, kasus-kasus yang terlalu banyak, tekanan untuk mengambil tanggung jawab lebih, rencana bisnis dan kurangnya pendanaan sehingga mempengaruhi pelayanan merupakan faktor-faktor yang dapat meningkatkan resiko VT (Pearlman dan Maclan dalam Picket, 1998). Selain faktor-faktor tersebut, terapis yang menganggap pekerjaan sebagai faktor penting dalam identifikasi diri mereka akan lebih mungkin terkena VT dibandingkan dengan terapis yang memandang pekerjaan dengan kaca mata yang lebih realistis.

Constructivist Self Developmental Theory : Penjelasan mengenai terjadinya Vicarious Trauma
CSDT menyatakan bahwa individu membangun suatu realitas personal dan membentuk harga diri mereka melalui skema atau sudut pandang kognitif dan keyakinan tentang dunianya (Pickett, 1998). Dinamika VT lebih dilihat sebagai suatu model perkembangan dan konstruktivis, dimana makna dan hubungan merupakan bagian integral dari pengalaman manusia. Oleh sebab itu, dibutuhkan usaha-usaha lanjut untuk memahami pengalaman para terapis atau cara mereka mengambil makna melalui pengalaman-pengalamannya. Dengan demikian, akan memudahkan kita untuk memahami perkembangan terjadinya VT, faktor-faktor resiko yang terkait serta bentuk intervensi yang tepat, dengan cara melakukan pemahaman terhadap pengalaman terapis atau cara mereka memaknakan pengalamannya (Mc.Cann  Pearlmann, dalam Lonergan, 1999).

Individu mengkonstruksi realitas personal yang berkembang melalui struktur kognitif yang kompleks, yang disebut dengan “skema”. Skema ini meliputi sejumlah keyakinan (beliefs), asumsi, dan harapan tentang diri dan dunia serta membantu individu untuk memaknai keduanya. McCann dan Pearlman (dalam Hesse, 2002) membuat hipotesis bahwa pengalaman traumatik dapat menyebabkan gangguan yang serius pada beberapa aspek dalam skema seseorang, dan bahwa bekerja dengan klien yang mengalami trauma juga dapat memberikan efek yang sama pada terapis. Skema belief, asumsi, dan harapan yang terganggu atau mengalami perubahan pada terapis akan berbeda satu sama lain, dan hal itu tergantung pada dua faktor, yaitu: aspek kerja (lingkungan) dan aspek intrinsik pada individu. Aspek kerja meliputi jenis klien, faktor organisasi, dan isu sosial budaya. Aspek intrinsik, meliputi kepribadian, pengalaman masa lalu, lingkungan individu saat ini, dan tingkat profesional.
Ada lima skema utama yang diidentifikasikan mengalami gangguan atau perubahan apabila terapis terlibat dalam materi trauma dan trauma dari klien (Pearlman dan Saakvitne, dalam Pickett, 1998). Kelima skema ini adalah: rasa aman, percaya, harga diri, keintiman dan kontrol.
Rasa aman (safety)
Rasa aman ternyata merupakan kebutuhan psikologis yang paling rentan terhadap materi trauma. Ketika kebutuhan ini dipengaruhi oleh informasi mengenai kejadian traumatis, terapis mulai waswas akan keselamatan dirinya dan orang-orang yang dicintainya. Keselamatan diri dan orang-orang yang dicintainya menjadi prioritas utama dari seseorang yang telah terganggu rasa amannya. Tingkah laku yang sering dijumpai pada keadaan ini adalah kecemasan dan pemeriksaan keamanan yang berlebihan, menghindari kerumunan, dan meningkatnya kritik terhadap diri sendiri.

Rasa percaya (trust)
Pendamping yang bekerja dengan klien yang mengalami trauma juga belajar tentang kejahatan, pengkhianatan, kekerasan atau kekejaman yang dilakukan seseorang atau masyarakat terhadap kliennya. Hal ini dapat mempengaruhi rasa percaya pada seorang pendamping sehingga pada akhirnya membuat mereka sinis, curiga terhadap orang lain dan sulit untuk mempercayai orang lain. Hal ini dapat mempengaruhi kehidupan personal terapis karena sangat mungkin bila mereka memandang orang lain seperti teman, pasangan, dan keluarga dengan rasa tidak percaya. VT mengganggu kemampuan terapis untuk merasa aman dan terlindungi dalam berhubungan dengan orang lain.
Kontrol (control)
Skema ini diperkirakan mulai terganggu ketika terapis teridentifikasikan dengan hilangnya kontrol si klien pada saat kejadian traumatis terjadi. Gangguan skema kontrol seringkali dikaitkan dengan perasaan kurang mampu mengendalikan perilaku dirinya sendiri, merasa dipengaruhi oleh orang lain, dan mempertanyakan kemampuan membawa perubahan bagi kehidupannya sendiri. Gangguan dalam skema kontrol memperjelas rapuhnya keyakinan akan dunia yang adil dan kemampuan mengontrol dunia, menunjukkan betapa tidak teraturnya berbagai aspek dalam kehidupan. Sejalan dengan rasa takut yang dialami, pada akhirnya muncul perasaan tidak berdaya ketika membantu kliennya dan merasa bahwa seharusnya ia memiliki kontrol terhadap kesembuhan klien. Ketika ia menyadari bahwa ia tidak punya kekuatan dan kontrol akan hal itu, maka dapat menyebabkan frustrasi dan perasaan semakin tidak berdaya.
Harga diri (esteem)
Ketika terapis mengalami gangguan dalam skema harga dirinya, mereka mengembangkan pandangan yang negatif mengenai diri mereka sebagai profesional, dengan mulai mempertanyakan kemampuan dirinya sebagai seorang teman, pasangan, atau manusia. Penilaian dan penghargaan terhadap orang lain juga dapat terganggu, sehingga terapis yang mengalami VT cenderung untuk memandang orang lain (termasuk kliennya) secara negatif. Generalisasi yang negatif ini dapat berakibat kurang baiknya hubungan antara dirinya dengan orang lain, sehingga semakin mengganggu identitas diri dan profesionalnya.
Keintiman (intimacy)
Dalam menjalani pekerjaannya dengan klien yang mengalami trauma, kemajuan yang terjadi pada klien seringkali berjalan sangat lambat dan terapis dapat merasa bahwa ia lebih banyak melakukan hal yang buruk dan berbahaya. Usaha pendamping untuk menjaga diri mereka dari efek trauma yang dialami klien, memungkinkan mereka untuk menarik diri dari klien yang dipersepsikan sebagai sumber kekecewaan dan sakit. Penarikan diri tersebut dapat menurunkan empati dalam relasi terapeutik. Upaya untuk menghambat penderitaan yang terkait dengan materi trauma juga dapat mengurangi kemampuan si terapis untuk mengalami emosi positif seperti cinta, keceriaan, dan menikmati aktifitas yang kreatif dan menyenangkan. Penarikan diri si terapis juga akan membawa dampak pada kehidupan pribadinya karena ia mulai memandang keluarga dan teman-temannya sebagai hal yang kurang penting. Ia mungkin menghindari keluarga, pasangan, maupun teman-temannya, sehingga akan semakin mengurangi tingkat dukungan bagi dirinya. Selain itu, hilangnya keyakinan pada rasa kemanusiaan akan menyebabkan terapis menjadi sinis terhadap orang lain dan mempengaruhi relasi mereka dengan keluarga, teman, atau orang-orang terdekat.
VT akan membawa dampak yang sangat besar bagi para profesional yang mengalaminya. Misalnya, kurangnya kemampuan untuk memulihkan kliennya (Pearlman dan Saakvitne dalam Stamm, 1999). Pada saat mereka merasa gagal untuk membantu kliennya, maka secara tidak langsung dapat berpotensi untuk menurunkan keyakinan akan kemampuan mereka sebagai profesional dan mengganggu identitas profesionalnya.

Sumber bacaan:
Hesse, A.R. (2002). Secondary Trauma : How Working with Trauma Survivors Affects Therapists. Clinical Social Work Journal, vol 30, 293 – 310.
Lonergan, B.A. (1999). The Development of Trauma Therapist : A Qualitative Studi of the Therapist’s Perspectives and Experiences. Colorado : Counselling Psychology.
Mc.Cann, I.L & Saakvitne, K.W. (1995). Treating Therapists with Vicarious Traumatization and Secondary Traumatic Stress Disorder. Dalam C.R. Fifley (Ed), Compassion Fatique : Secondary Traumatic Stress Disorder from Treating the Traumatized. New York : Brunner/ Mazel, Publishers.
Pickett,G.Y. (1998). Therapist in Distress : An Integrative Look at Burnout, Secondary Traumatic Stress and Vicarious Traumatization. Dissertation. University of Missouri-St. Louis.
Stamm, B.H. (1999). Secondary Traumatic Stress. Self Care Issues for Clinicians, Researchers & Educators. MD : Sidran Press.
Steed, L.G. & Downing, R. (1998). A Phenomenological Studi of VT Amongst Psychologist and Professional Counsellor Working in The Field of Sexual Abuse/ Assault. The Australian Journal of Disaster & Trauma Studies. (sumber)
»»  READMORE...