Tampilkan postingan dengan label Prosa Pribadi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Prosa Pribadi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 20 Desember 2011

(Paradoks) “Haji Kucing yang Kab(mabrr)ur”


Hidup rukun dan damai adalah dambaan semua makhluk di dunia. Bukan cuma manusia, semua ragam satwa menginginkan hidup rukun dan makmur. Di alam satwa, hewan-hewan di hutan bisa berbicara seperti manusia. Mereka bersenda gurau, bekerja bergotong royong, saling menghibur, sehingga kehidupan dunia binatang rukun dan damai. Mereka hidup mengelompok dengan sukunya, dan juga berteman dengan suku binatang lain, tidak saling menggangggu satu sama lain. Di antara hewan yang bersahabat adalah tikus dan katak.
Tikus menjalin persahabatan dengan Katak, mereka berkomunikasi (berbicara) dengan bahasa hewan. Tikus menganggap katak seperti saudaranya, bermain bersama setiap hari di kehidupan rimba. Tak ada yang merasa terganggu, tak ada perselisihan dan perkelahian antara mereka, karena mereka merasa saling membutuhkan, dan saling mengingatkan kalau ada bahaya mengintai.
.
Tikus adalah hewan pengerat terpintar di dunia. Kemampuan nalar serta analisa ruangnya luar biasa. Dalam kondisi gelap, tikus mampu bertahan hidup dan tidak mengalami kesulitan dalam menemukan jalan keluar untuk menyelamatkan diri.

Sedangkan katak adalah hewan yang rajin melompat, menghuni pohon-pohon rendah, semak belukar, terutama di dekat saluran air. Mereka hidup hanya beralas rumput dan beratap langit, tapi mereka menikmati dunianya.
.
Jika malam tiba, tikus dihibur oleh group musik katak yang saling bersahutan merdu terdengar. Suara musik itu dihasilkan dari kantung suara yang terletak di lehernya, yang akan menggembung dan mengembang pada saat mereka bersahut-sahutan.
.
Mimpi mereka satu-satunya adalah agar hutan rimba tetap terjaga, dimanfaatkan sesuai keperluan agar tak menjadi gundul. Hutan yang gundul hanya akan mengakibatkan banjir, dan mereka akan tersapu tak tersisa. Pada kenyatannya mereka hidup rukun dan damai, namun tak berlangsung lama, karena terusik oleh kehadiran seekor kucing.
.
Hidup tak nyaman
Setelah melalui zaman yang penuh damai, tiba-tiba mereka terusik dengan hadirnya seekor kucing pemangsa yang buas. Kehidupan mereka tak tentram lagi, karena semua keturunannya dimakan oleh kucing. Mereka selalu khawatir akan punah gara-gara kucing rakus ini. Setiap saat kucing memburu katak dan tikus, untuk dijadikan santapan siang dan malamnya. Seolah-olah kucing tak pernah merasa kenyang, kalau tak dapat tikus, maka katak yang menjadi sasarannya.

Mereka mersaa tak nyaman, bahaya selalu mengintai. Tikus masih lebih beruntung dari katak, karena tikus bisa memanjat ke ranting-ranting kecil dengan cepat. Tapi katak dengan lompatan terjauh hanya ± 30 cm, sulit menghindar dari terkaman kucing. Jalan satu-satunya hanyalah menceburkan diri ke sungai agar kucing tak memangsanya. Untunglah kucing sangat alergi air, kalau tidak, maka tak tersisa keturunan katak. Tikus dan katak sering mengadakan rapat di pinggir rawa atau di semak-semak yang tak terlihat oleh kucing, memikirkan masyarakatnya yang setiap saat terancam.
.
Musim Haji
Suatu ketika pada bulan Zulhijah (bulan musim haji) mereka dihebohkan dengan berita keberangkatan “kucing pemangsa” ke tanah suci “mekah”. Tikus dan katak menyambut gembira berita ini, karena kucing juga telah berjanji akan berdamai dan tak akan memangsa mereka. Terlintas di pikiran mereka bahwa di dunia manusia, setelah pulang haji, manusia-manusia tamak, rakus, pendosa dsb akan berubah dan tak mengulangi perbuatan yang melanggar hukum.
.
Kucing pun beberapa saat tak muncul, karena sedang latihan haji “manasik haji” hingga keberangkatannya ke mekah.

Selama musim haji, masyarakat tikus dan katak merasa nyaman, tak ada gangguan, keturunan mereka bertambah. Mereka sering membicarakan kucing, bahwa sepulang dari tanah suci kucing menjadi teman baik mereka dan tak akan memangsa mereka lagi.
.
Haji Kucing

Beberapa hari setelah pulang dari mekah, kucing berdiam diri, mungkin dia sudah sadar dengan perbuatannya. Dan inilah yang menjadi perbincangan antara tikus dan katak.
.
Tikus : “Tak…, sepertinya Bang Haji Kucing sudah sadar, dan tak akan memangsa kita lagi”
.
Katak: “Yah…, semoga saja Kus, tapi apakah semua yang naik haji itu sepulang dari mekah sudah benar-benar sadar?
.
Tikus: “Kan sudah haji Tak, masa pulang haji mau bikin dosa lagi? sepertinya Haji Kucing sudah sadar, karena sudah beberapa hari ini dia tak kelihatan, kita harus bersilaturrahim dengan beliau”.
.
Katak: “Tapi Kus…, apakah kau yakin kita tak akan dimakannya”?
.
Tikus: “ Percayalah Tak, kita harus memperlihatkan pada Bang haji Kucing, bahwa kita ingin berdamai, agar tak diganggu lagi”. “Kita juga ingin tahu bagaimana pengalamannya selama di tanah suci, siapa tahu do’a kita terkabul, kalau biaya sudah cukup”. “Sekarang ONH terlalu mahal, gak masuk akal”
.
Katak: “Okelah kalau gitu Kus…, tapi aku gak berani di depan, kau tau kan aku gak bisa manjat seperti kamu.
.
Sesampainya di depan rumah “Haji Kucing” Tikus mengetuk pintu dan mengucapkan salam.
Tikus: “Assalamualaikum Bang Haji Kucing….!”
.
Haji Kucing: “Waalaikumsalam…., mari masuk…., silahkan duduk.
.
Tikus dan Katak saling berbisik: “Tuh kan..! Bang Haji sudah berubah”, kata Tikus. “Tapi tetap
waspada, aku mau duduk dekat jendela agar gampang melompat, kata Katak”.
.
Karena dirasa tak berbahaya lagi, maka tikus melanjutkan perbincangan.
.
Tikus: “Begini Bang Haji Kucing, kedatangan kami ke sini untuk bersilaturrahim, sekaligus menanyakan hikmah yang didapat dari tanah suci”.
.
Kucing: “Alhamdulillah Kus, Tak, banyak hikmahnya, salah satu contohnya adalah seperti sekarang ini. (tikus dan katak saling berpandangan bingung, mendengar perkataan Haji Kucing)
.
Katak: “Maksudnya Bang Haji?”
.
Kucing: “Yah…., salah satunya kemudahan rejeki”. “Dulu aku susah mencari rejeki, semua hutan belantara ini aku jelajahi, dan harus mengeluarkan tenaga berlari secepat mungkin mencari makananku”. “Sekarang makanan datang sendiri ke rumahku, tak perlu lagi ngejar-ngejar kalian”.
.
Tikus dan katak hampir serentak berteriak: “Lariiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii……!”
Katak yang sebelumnya telah waspada, langsung melompat ke luar, sementara tikus secepat kilat memanjat ke loteng, lalu mencari celah untuk menyelamatkan diri dan kembali ke hutan untuk bertemu dengan sahabatnya katak.
.

_______The End______

Pesan Moral:
- Hidup saling tolong-menolong (gotong royong),
- Lestarikan lingkungan tempat tinggal, jangan dirusak,
- Selalu berikhtiar dan waspada,
- Jangan menyerah pada nasib
- Jangan mudah percaya, dunia bahkan yang bergelar “HAJI” pun, susah dipegang kata-katanya (maaf…, jangan tersinggung yang sudah haji, buktikan haji anda bukan “HAJI KUCING”)
- Bahan renungan bagi orang yang naik haji, tapi tak menjadikan dirinya dan tingkahnya lebih baik, Untuk apa naik haji jika tak ada perubahan.

Peserta Paradoks no. 20 (Halim Malik)
NB : UNTUK MEMBACA TULISAN PARA PESERTA PARADOKS YANG LAIN MAKA DIPERSILAKAN MENGUNJUNGI AKUN Dongeng Anak Nusantara di Kompasiana sbb : Dongeng Anak Nusantara

»»  READMORE...

(Paradoks) “Piring Ajaib”

Alkisah, pada zaman dahulu kala, ada sebuah kerajaan yang kaya raya. Rajanya sangat bijak, negerinya makmur berlimpah sumber penghidupan. Tak ada sesuatupun yang kurang. Semua tersedia. Setelah berpuluh tahun mempimpin kerajaan, raja mulai gelisah memikirkan negerinya, siapa yang akan menggantikannya kelak di antara 7 (tujuh) putranya tersebut. Raja ingin mewariskan kerajaannya di tangan yang tepat, agar negerinya lestari sepanjang zaman.

.

Tiba-tiba raja mendapat ide menguji ketujuh putranya, siapa yang paling pantas memimpin negeri. Raja teringat suatu kerajaan di tengah samudera, yang menyimpan piring ajaib. Raja di kerajaan samudra tersebut adalah sahabat dekatnya. Sudah bulat tekadnya, sekaranglah waktunya menguji anak-anaknya, siapa yang pantas mengganti kedudukannya, yang mewarisi sifat arif dan bijaksana serta amanah.

.

Di suatu pagi yang cerah, dipanggilah ketujuh putranya menghadap. “Wahai putra-putra kerajaan, maukah kalian mengemban suatu tugas dari ayahanda?. Dengan santun, semua putranya menjawab sanggup atas permintaan ayahnya.

Raja berkata: “Kurasa aku tak kuat lagi memimpin negeri ini, telah sampai waktunya di antara kalian yang akan menggantikan aku menjadi pemimpin. Namun kalian harus menemukan dulu piring ajaib. Barang siapa yang menemukan piring ajaib itu, dialah yang akan duduk di tahta kerajaan ini. Pergilah kalian mengarungi lautan, jangan pernah kembali jika belum mendapatkan piring ajaib tersebut. Piring ajaib itu hanya ada di tengah samudra”. Piring itu bila ditepuk akan mengeluarkan cahaya petir yang mampu menerangi bumi. Lalu bergegaslah anak-anak raja tersebut mempersiapkan segala sesuatu, sebagai bekal di perjalanan.

.

Setelah seminggu berlayar mengarungi lautan lepas, tiba-tiba terjadilah badai samudera yang hebat, kapal mulai terseret arus, semua menjadi panik. Jalan satu-satunya adalah melempar jangkar, agar kapal tak diombang-ambingkan oleh gelombang dahsyat. Maka dilemparlah jangkar kapal tersebut.

.

Setelah badai reda, mereka akan meneruskan perjalanan. Mereka pun tak diberitahu Ayahanda arah letak kerajaan tersebut. Pada saat jangkar akan diangkat naik, terasa sangat berat, sepertinya jangkar telah tersangkut di batu karang. Untuk menlepaskan jangkar tersebut harus diselam. Putra tersulung raja mengambil inisiatif menyelam. Setelah beberapa saat, dia muncul dengan sia-sia. Dia hampir kehabisan nafas sebelum menjangkau jangkar. Mulailah mereka satu-persatu menyelam jangkar secara bergantian. Hingga sampai pada anak keenam, tak satupun yang berhasil. Si bungsu mereka anggap tak akan sanggup. Dan yang paling menganggap remeh adalah kakak tertua. Memang kakak tertua memiliki sifat dengki, tamak, dan rakus. Putra terbungsu pun menawarkan diri untuk mencoba menyelam jangkar tersebut. “Jika dalam jangka tiga hari aku belum muncul, maka putuskan saja tali jangkar, dan kalian lanjutkan perjalanan, kata si bungsu”.

.

Terjunlah si bungsu menyelam jangkar. Anehnya dia mampu bertahan lebih lama di dalam air, dibandingkan saudara-saudaranya yang lain. Sampailah si bungsu ke ujung tali jangkar. Namun dia terpesona dengan kehidupan bawah laut. Dia tak menyadari bahwa sebenarnya jangkar telah tersangkut di atap kerajaan samudera. Dia berusaha mengeluarkan jangkar di batu karang yang indah, tanpa memperhatikan sekelilingnya.

.

Putri raja di kerajaan samudera tersebut mendengar ada bunyi yang tak biasanya dari atap istananya. Keluarlah putri raja tersebut menengok ke atas. Putri raja terkejut ada seorang pemuda tampan. Dia memberitahukan ke Ayahanda, bahwa ada manusia di atap istana mereka. “Panggilah masuk, dia pasti manusia baik-baik kata Ayahanda”.

.

“Wahai anak muda, turunlah…! Ayahku ingin bertemu denganmu, kata putri raja samudera tersebut. Pemuda tersebut pun terkaget, dia baru sadar ternyata jangkar kapal tersangkut di atas istana. Raja samudera pun menanyakan maksud dan tujuan perjalanan mereka. Pemuda itu menceritakan maksud dan tujuan mereka adalah mengemban amanah ayahanda yang juga seorang raja, untuk mencari piring ajaib yang hanya berada di tengah samudera. Raja samudera tersenyum dan memberitahuan, bahwa piring ajaib itu hanya ada dikerajaannya. Dan ternyata piring ajaib yang mereka cari ada di rumah tersebut. Jumlahnya sangat banyak, berjejar penuh di dalam lemari kaca. Pemuda itu pun berhak memperoleh piring ajaib itu, dengan syarat tinggal beberapa hari saja di kerajaan samudera. Pemuda itu menyanggupi. Setelah hari ketiga, dia duduk termenung, dan sudah mulai gelisah teringat pesannya: “jika dalam jangka 3 hari belum muncul, maka dia akan ditinggalkan oleh saudaranya”.

.

Putri menanyakan mengapa dia gelisah. Dia pun menjelaskan akan ditinggal oleh saudaranya jika melewati hari ketiga ini. Segera putri melapor ayahanda. Raja mengijinkan pemuda itu pergi dengan hadiah piring ajaib, sembari berpesan: “Jangan ceritakan pada siapapun, berikan piring ini pada ayahmu, jika tiba di daratan. Maka pulanglah pemuda tersebut, setelah melepaskan jangkar yang tersangkut di atap istana kerajaan samudera.

.

Sesampainya di atas kapal, semua takjub dengan keberhasilannya melepas jangkar tersebut. Dia bersikap normal, agar tak menimbulkan kecurigaan. Namun kakak tertuanya telah curiga, dan mengetahui bahwa piring ajaib yang mereka cari ada sama si bungsu. Kakak tertua yang paling ditakuti berembuk dengan saudara lainnya. Dia ingin memiliki piring ajaib tersebut, dengan catatan kelima adiknya yang lain akan diberikan jabatan penting saat dia menjadi raja. Mereka memutuskan akan melempar si bungsu ke laut lepas, dan akan menyiapkan alasan licik ke ayahanda. Dibuanglah si bungsu ke lautan bebas saat sedang tidur nyenyak, setelah sebelumnya mencuri piring ajaib yang disembunyikan di bawah bantal. Lalu mereka pulang ke daratan dengan sejuta impian.

.

Singkat cerita si bungsu selamat dan terdampar di suatu pulau yang tak berpenghuni, dalam keadaan sangat lapar. Untunglah dia melihat pohon jambu air yang berbuah lebat, semua buahnya sudah masak. Dia memanjat jambu air tersebut. Setelah memakan beberapa biji, dia merasa segar kembali. Pada saat hendak turun, dia dikagetkan dengan benda menggulung dengan cepat di atas permukaan laut menuju ke arahnya. Dalam sekejab, jelaslah baginya, bahwa yang disangkanya benda tersebut adalah seekor kerbau. Sesampainya di tepian pantai, kerbau tersebut hanya memuntahkan sesuatu, lalu kembali pergi meninggalkan pulau tersebut.

.

Didekatinya dan diperhatikannya apa yang dimuntahkan oleh kerbau tadi. Ternyata kerbau hanya datang memuntahkan 2 utas kalung. Kalung tersebut mirip dengan yang dipakai kerbau di kakinya saat meluncur cepat di atas permukaan laut. Kalung tersebut dicobanya dipasangkan di kakinya, lalu melangkah di atas air.

.

Dengan perasaan heran bin ajaib, meluncurlah pemuda tadi dengan ringan di atas air. Selang beberapa saat, dia melihat sebuah kerajaan. Raja di kerajaan tersebut mengundangnya singgah. Dia diberikan pakaian layaknya pakaian seorang raja, dijamu layaknya seorang raja, lalu dipersilakan melanjutkan perjalanannya. Tiga kerajaan yang dilewatinya memperlakukan dengan hal yang sama. Mengundangnya singgah, memberikan pakaian kerajaan, dan menjamunya layaknya seorang raja. Di kerjaan terakhir yang disinggahinya, dia dihadiahi 3 sapu tangan berwarna putih, kuning dan hijau. “ini akan bermanfaat sesampainya di kampung halamanmu” kata raja di kerajaan ketiga (terakhir) yang mengundangnya untuk singgah. Raja juga meminta agar mengganti pakaian pemberiannya yang berwarna hijau keemasan.

.

Tak berapa lama, sampailah si bungsu di kampung halamannya. Bertepatan dengan itu, adalah hari dimana penobatan raja baru. Semua orang hanyut dengan acara penobatan, tak ada satupun yang menaruh perhatian padanya. Dia teringat akan sapu tangan yang diberikan raja di kerajaan ketiga akan dicobanya. Dikibaskanlah sapu tangan yang berwarna kuning. Seketika seluruh penduduk negeri tersungkur tak sadarkan diri. Yang tertinggal hanya Ayahandanya. Ayahanda memberikan tanda jempol kepadanya, melempar senyum kebahagiaan. Ayahanda telah mengetahui bahwa dialah yang menemukan piring ajaib, dan yang akan menggantikan kedudukannya.

.

Dikibaskannya kembali saputangan warna hijau, dan seketika seluruh penduduk negeri terbangun linglung, sambil bertanya-tanya, apa gerangan yang telah terjadi. Ayahanda memberikan isyaarat agar si bungsu mengibaskan saputangan terakhir yang berwarna putih, pertanda penobatan akan dimulai. Setelah dikibaskan saputangan berwarna putih, terbukalah mulut Ayahanda, yang sedari tadi tak bisa bicara memulai kata-kata untuk melakukan penobatan pada putra sulungnya. Hari mulai menjelang malam, dan Ayahanda pun mulai berbicara:

.

“Barang siapa yang menyentuh piring ajaib ini, lalu menghasilkan cahaya kemilau yang mampu menerangi kegelapan malam ini, maka dialah yang akan memegang tampuk kerajaan ini. Piring ajaib ini hanya akan berkilau mengeluarkan cahaya di tangan penemu sesungguhnya. Piring ini bukan sekedar piring. Piring ajaib ini hanya akan bercahaya di tangan orang-orang yang hatinya bersih, jujur dan amanah. Dan piring ini akan membuktikan siapa penemu sesungguhnya. Keenam saudaranya saling berpandangan dengan hati berdebar, dan berharap piring ajaib itu akan mengeluarkan cahaya bila disentuhnya.

.

Satu persatu putra raja diminta untuk menyentuh piring ajaib tersebut. Mulai dari anak tertua, berturut-turut hingga anak keenam, sekuat tenaga menepuk-nepuk piring tersebut, tak satupun di antara mereka yang berhasil. Malam telah menyambut dengan pekatnya, belum ada satu anakpun yang bisa menghasilkan cahaya dari piring ajaib. Kini tiba giliran anak terakhir si bungsu untuk memegang piring ajaib tersebut. Aneh bin ajaib, hanya dengan sekali sentuh, keluarlah cahaya seterang bulan purnama, mampu menerangi seluruh negeri.

.

Langit bersih tak berawan. Semua masyarakat merasakan kedamaian, hanya dengan cahaya yang dihasilkan oleh piring ajaib. Kakak-kakaknya yang berambisi ingin menjadi raja, tertunduk malu, dan seketika bersujud sambil memohon maaf kepada Ayahanda, mengakui perbuatannya, dan akan menjalankan perintah raja baru di negeri yang makmur tersebut. Sibungsu pun tak pernah dendam kepada kakak-kakanya, dan telah memaafkan perbuatan mereka,. Akhirnya kerajaan itu dipimpin oleh orang yang tepat, arif dan bijaksana, berhati bersih, dan yang paling terpenting amanah. Kerajaan itu menjadi miliknya dan dijalankan seperti contoh yang diperoleh dari ayahnya.

.

.

====The End====

Pesan moral:

- Bersihkan hati dan pikiran

- Jujur dan amanah

- Jangan takabur dan memandang remeh segala sesuatu

- Sabar dan selalu memaafkan kesalahan orang lain .

.

Peserta Paradoks no. 20 (Halim Malik) . NB : Untuk membaca semua dongeng dalam Paradoks, silakan kunjungi Dongeng Anak Nusantara
»»  READMORE...

Resah-Rasa-Asa (buat sahabat)

Allah menciptakan cinta di antara manusia. Hanya Dia yang mampu menilai dan turut merasakan kehadiran, dan pemaknaan cinta pada setiap makhluk ciptaan-Nya. Namun, terkadang “kau” merasa paling mencintai, merasa paling dicintai, bahkan merasa memiliki segalanya hanya dengan “cinta”

.

Cinta adalah sebuah kata “misteri” yang sering membuat orang tergugu dibuatnya. Segala teori, hipotesis dan argumentasi akan luluh seketika, di saat “kau” mengalami betapa hebat buaiannya. Benci tapi rindu, duka jadi suka, gelap jadi terang. Bukan cuma “kau” bahkan raja pun menjadi budak karena cinta. Ini sulit dipahami oleh mereka yang tak memiliki “rasa”, bagaimana cinta itu menjelma menjadi kepingan-kepingan mutiara dan bongkahan kristal yang tak rela dipecahkan.

.

Ketika “kau” terlena oleh kenikmatan semunya, tak pernah terpikir olehmu, bahwa kelak cinta akan berlalu dan tak kembali untuk selamanya. Inilah “cinta” yang “kau” rasakan. Hanya mekar semusim, lalu luruh wanginya, pupus… lenyap tak berbekas.

.

Andai… semua benua pun “kau” lintasi dan semua jagad raya “kau” jelajahi, tak akan pernah “kau” temukan “true love” atau cinta abdi. Dan… ketika keabadian cinta tak jua “kau” temukan, maka kembalilah kepada ke-fitrah-an cinta itu sendiri. Ada perwujudan cinta yang tak pernah kuncup, mekar selamnya, ibarat hangatnya mentari yang setiap pagi bisa “kau” rasakan. Setiap denyut nadimu merasakan siraman mawadah dan warahma-Nya, “cinta hakiki” dan “rindu abadi”.

.

Cinta hanya akan datang kepada orang-orang yang masih terus berharap dan memohon pertolongan-Nya, walaupun “kau” telah dikecewakan. Cinta bukanlah sebuah kata lumrah dan murah dituturkan dari mulut ke mulut, tetapi cinta adalah anugerah yang suci, jika “kau” mampu menilai kesuciannya.

.

Sebelum tiba di penghujung waktu, dan sebelum abad Masehi dan tahun Hijriah akan ditutup, nikmatilah cinta itu jika “kau” tak ingin kehilangan hikmah dan keindahannya saat segalanya telah tiada.


»»  READMORE...

Kupu-Kupu yang Menangis



Dunia semakin gersang. Tak ada lagi tempatku bertengger di atas dedaunan dan kelopak-kelopak bunga. Semua tanaman di sini pun mungkin merasa sedih seperti aku ,karena hujan tak jua turun. Lalu dimanakah aku akan semaikan telur-telurku yang menjadi cikal bakal kepompong yang menambah indahnya sebuah taman?

Di sini aku tinggal menghitung waktu. Usiaku hanya dipatok tiga hari. Aku hanya berharap pada angin yang akan menerbangkan aku ke taman yang lain. Aku lelah dan tak cukup energi untuk terbang lagi. Tak setitik pun sari yang dapat ku teguk di taman ini. Angin pun enggan singgah kerena tak ada pucuk-pucuk tanaman yang akan dibelainya. Semua mati karena keserakahan.

Dasar kalian manusia yang rakus tanpa batas. Kalian telah merusak alam yang membuat musim tak menentu. Harusnya sekarang musim hujan dan bunga-bunga ini merekah dengan senyum warna-warni kembangnya. Bahkan kalian tak menyisakan apa-apa untuk makhluk lain. Kini kalian tak akan pernah melihat lagi indahnya taman berhias kupu-kupu yang menari dengan beraneka warna sayapnya.

Aku memang hanyalah seekor kupu-kupu. Tapi ketahuilah…, di sepasang sayapku terselip rahasia keindahan. Keindahan yang dikirim dari surga. Semua keindahan yang kalian lihat sekarang adalah keindahan semu, terselip di balik keserakahan. Hanya mata batin yang bersih yang mampu menangkap keindahan itu.

Aku menangis karena telah gagal mengemban tugas untuk melengkapi keindahan taman di bumi. Tapi mengapa kalian tak menangis setelah kehilangan semua keindahan, yang akan dituntut oleh generasi yang akan datang?

*

»»  READMORE...