Tampilkan postingan dengan label Cerpenku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpenku. Tampilkan semua postingan

Selasa, 20 Desember 2011

“FFK” Diandra…



Kali ini aku berdiri lagi mencari sosokmu di balik jenjang malam. Mengapa begitu sulitnya melihat kesungguhan dari setiap perjumpaan itu?

Tuhan…!, aku menyukai sebaris gigi yang rapi, dan senyuman manis yang nongol di balik peta wajahnya yang teduh. Mengapa makhluk Mu yang satu ini sangat indah?

Hasrat ini memang masih tersirat lembut dalam anganku, tapi aku telah terbuai karena senyumnya. Senyum yang selalu terkulum menghias pada mungilnya kembang bibir. Pesona kemilau yang telah berhasil meluluhkan dan mampu menggetarkan semua titik nadir di sekujur tubuh. Percikkan rinai gelora, menetes hingga ke relung paling dalam di jiwaku. Sensasi seperti ini tak pernah hinggap dalam hidupku. Rasa yang meretas sejuk, berpendar ke seluruh pori-poriku. Sungguh…! Kaulah yang telah menyalurkan resah, merambat dan meninggalkan jejak-jejak asmaragung . Kau telah memberikan pijar yang memendar, hingga menyinari naluri sepanjang lorong hati.

Kini yang harus kulakukan adalah berjuang agar mendapat tempat di sekeping hatinya, dan akan kubumbui dengan sedikit perhatian. Bukan sekedar perangkap hasrat, tapi mewakili rasa terdalam yang sekarang melanda. Jiwa ini melayang, menggampai angan, pada kokohnya dinding-dinding tebing di hatinya.

Tapi aku memang bodoh, dan aku menikmati kebodohan yang acap memilukan itu. Barisan putih gigi dan senyummu itu memang melenakan. Itulah canduku. Aku ingat bagaimana aku mencuri pandang di rerimbun ilalang kesedihan yang kau tanam. Walau mataku terpejam, tapi telingaku terjaga. Sekalipun terlelap, aku mengais-ngais harap darimu. Bodoh sekali bukan?

Apa yang kurasakan itu tak pernah engkau pahami. Tafsirmu yang bias dan bermajas, justru membuatku seakan digantung tak bertali. Sakit, semoga kelak engkau tahu.

Maka, ketika kau kirimi aku setangkai mawar yang sedikit layu, tak sungguh-sungguh aku menerimanya. Meski itu pemberian pertamamu, tapi engkau terlambat.

Bukan aku tak senang dengan kiriman mawarmu, atau telah mendapat penggantimu. Ingin kutenangkan dulu walau sejenak, resah di jiwaku yang telah kau buat lelah, sebelum membaca pesan di secarik kertas merah jambu, yang kau selipkan di setangkai mawar itu. Kuhirup udara sedalam dada, agar energi di alam bebas membuyarkan capekku seminggu yang lalu.

Kutengok mawar kirimanmu, kutarik kertas yang terselip di sana. Perlahan…! kubuka pesanmu. Jantungku berdegup, tak ada tulisan, selain kata “DIANDRA”. Tulisan yang hanya terdiri dari tujuh karakter, tujuh digit, tak lebih. Itulah yang kau kirim padaku. Surat tanpa alamat pengirim. Lalu ke mana harus kubalas kiriman kembangmu?. Haruskah aku selalu menunggu di tempat pertama kali kita bertemu?.

Tujuh huruf yang kau kirim menimbulkan tanda tanya tersendiri. Aku diam tak bersuara. Diandra…,tak terhitung lagi nama itu kusebut dalam hati. Ada rasa nyaman dipeluk ketenangan, namun belum sampai pada titik kepuasan. Tapi aku mensyukurinya, karena setidaknya aku sudah mendapatkan sebuah nama. Nama yang selama ini telah mempermainkan hati. Aku suka caramu, yang membuatku makin penasaran, dan aku akan tetap penasaran sebelum kita saling bejabat, saling bertatap, dan saling sapa. Aku telah persiapkan sejumlah kata yang tersusun indah dalam satu kalimat yang pasti, “Aku Sayang Kamu”. Tak ada kata “CINTA”, karena bagiku cinta memiliki seribu definisi dan seribu makna. Aku berangan-angan dan berandai-andai dalam khayalku. Kelopak mata mulai turun mengatup, lalu aku tertidur dalam angan-anganku.

Kulihat Diandra berlari kecil menghampiri, menatapku, menggenggam tanganku, lalu memelukku. Begitu ceria dan bahagianya dia, dan akupun merasakan kebahagiaan yang sama. Lama kami berpelukan dan saling menyelami isi hati masing-masing. Di sini pertama kita bertemu, dan di tempat ini kita akan mengakhiri semua hubungan kita. Aku mengangguk menyetujui permintaannya. Berarti Diandra akan menjadi pasangan hati yang selama ini kudamba. Dia ingin memelukku lebih erat lagi, dan aku pun ingin mendekapnya.

Rasa yang selama ini terpendam, akhirnya terlampiaskan. Seketika di bening matanya ada titik-titik mutiara berjatuhan tanpa sebab. Aku bingung bercampur heran, mengapa dia menangis dalam senyum. Kulihat Diandra makin mempesona dalam tangisnya. Aku dibuatnya kagum dan ingin mendekapnya lagi. Mas Jaka…! Mas Jaka…! Sayup terdengar seseorang memanggil namaku. Aku dan Diandra masih saling menatap dan terus bertatap. Lamat-lamat pesona Diandra buyar, hilang dari pelupuk mata. Aku terkaget dengan panggilan Mas Jaka yang lebih keras lagi.

Astagfirullahaladzim…..! Aku terjaga dari lelapku. Rupanya lamunan semalam membawaku ke alam mimpi bertemu dengan Diandra. Aku menemui suara yang memanggil-manggil. Kulihat seorang Ibu, tetangga di sebelah rumahku mengantar kembang yang sama, seperti yang kuterima kemarin.

Hmm…! Aku bergumam riang dalam hati. Mungkinkah ini pertanda aku bisa menemukanmu Diandra? Lamanya waktu berlalu, tidak membuatku berhenti mencarimu. Tahukah kamu? rindu ini tak mampu kubendung lagi. Aku harus bisa menemukanmu…, “harus”. Jiwa ini serasa mati, hanya karena dimensi ruang dan waktu. Aku tidak punya cukup waktu lagi, karena kamu harus menjelaskan semuanya padaku. Sendiri tanpamu tak pernah kubayangkan sebelumnya. Kau seakan oase dalam keringnya jiwa.

Keesokan harinya,dengan langkah pasti aku mencari tumpangan menuju “Diana Florist”, toko kembang yang menyediakan bunga segar. Udara panas menyengat. Aku bermandi peluh berjalan di kota yang terkenal dengan Kota Khatulistiwa ini. Kulewati “Tugu Khatulistiwa”. Tugu yang dibangun sebagai penanda batas “0’” (nol derajat) garis lintang yang membelah bumi menjadi dua bagian. Lintang Utara dan Lintang Selatan. Indahnya “Taman Alun Kapuas”, tak luput dari pandanganku. Ke dermaga kecil itulah aku akan kembali dengan mawar di tangan. Alamat yang tak asing bagiku, seperti yang tertulis di kembang mawarmu yang kedua.

Tiga puluh menit telah berlalu, dan tak terasa aku telah berada di dermaga ini. Dermaga Kasih…! Pemandangan sungai Kapuas yang bertaburan lampu jalanan menambah indahnya malam. Kupercepat langkahku menuju lokasi, dimana aku akan menemui Diandra. Kulihat Diandra duduk sendiri, memandang lurus menyaksikan motor-motor air yang melintasi Sungai Kapuas.

Rasa senang bercampur detak jantung yang melebihi 60-100 detik/menit, pertanda genderang pertemuan pertama dimulai. Hai…! aku menyapanya. Diandra menoleh dengan santai, dengan tatapan yang penuh arti. Kembang mawar di tangan kuserahkan, sambil menunjuk ke secarik kertas kecil yang tersisip, tertulis namaku “Jaka”. Jadi aku tak perlu lagi memperkenalkan nama. Ucapan terima kasih, adalah persembahan pertamanya padaku, di riak ombak sungai kapuas yang bercampur angin sejuk. Diandra hanya bergeser tiga jengkal dari duduknya, pertanda aku dipersilakannya duduk berdempet dengannya.

Mulailah kami berbicara ngalor ngidul. Apa saja yang terlintas di kepala kami, dengan sedikit retorika, yang terkesan sebagai sebuah rayuan. Langsung akrab, seolah-olah Aku dan Diandra sudah saling mengenal sebelumnya. Tak ada rasa canggung. Semua kata-kata meluncur ringan bagai syair para pujangga dari timur tengah. Tutur lisannya santun, berirama, dan aku menangkap isyarat bahwa dia cerdas. Setiap kata dan kalimatnya, tersusun dengan gaya dan intonasi yang jelas. Hanya mereka yang menguasai diksi yang mampu mengungkapkan kata-kata dan sintaks dengan tepat.

Diandra meminta maaf atas sikapnya yang terkesan angkuh waktu itu, karena suatu alasan. Malam semakin larut. Udara dingin Sungai Kapuas menembus pori-pori kulit. Tawarannya untuk bertemu kembali minggu depan di dermaga ini, tak bisa kutolak.

Kisahnya panjang mas Jaka. Saya butuh waktu dan menghimpun kekuatan untuk menceritakan semuanya. Bertahun kisah ini terpendam di lubuk jiwa. Hanya dermaga ini yang mampu membuyarkan kesedihan. Suasana seperti inilah yang mampu mengusir apa yang berkecamuk dalam kalbu. Maafkan saya yang terkesan angkuh di mata Mas Jaka. Itu hanyalah bawaan emosi jiwa. Bukankah ekspresi adalah cermin hati?, sedangkan mata adalah jendela jiwa?. Saya selalu berusaha untuk tersenyum menikmati indahnya dunia, sebelum lenyap di muka bumi. Mungkin hanya senyum keterpaksaan itu yang masih tertinggal di raga ini. Minggu depan kita ketemu lagi di dermaga ini. Tinggalkan saya sendiri…! tidak apa-apa.

Empat puluh delapan bulan telah saya lalui di tempat ini. Dalam kesendirian yang berteman kesunyian, dengan angan berbingkai pengharapan. Waktu yang cukup lama mas..! dan pada akhirnya Mas Jaka akan mengetahui semua kisah ini. Kisah yang telah tumbuh menjadi taman kesedihan. Terrekan rapi dalam sel saraf memori. Ingin saya pendam hingga ke dasar bumi. Mungkin ujian Tuhan belum sesuai dengan takaran pada hambanya yang sedang diuji.

Sebulan yang lalu…! kita pernah bertatap di dermaga ini. Saya tak meminta sebulan lagi kita akan bertemu. Cukup seminggu. Dia meminta dalam tangis terisak. Aku bisa memahami, betapa beratnya beban yang mendera hatinya. Aku hanya mengangguk dan melepaskan tanganku, yang dari tadi menggengam erat tangannya.

Bibir ini seperti dihipnotis terkunci, meskipun itu baru pengantar kisahnya. Ingin kupeluk Diandra semampu aku memeluknya. Ingin kusalin separuh beban jiwanya agar menguap ke angkasa. Dalam hati aku berdoa penuh harap, agar Allah memberikan karuniaNya, memberikan siraman cintaNya. Mengharap agar Taman Alun Kapuas bisa dinikmatinya dengan indah dan sempurna.

Hampir lima menit kami saling menatap. Di bening matanya yang indah, tenyata menyimpan sesuatu yang terpendam. Aku kembali teringat kalimatnya “mata adalah jendela jiwa”. Aku sayang kamu Diandra. Hanya itu kalimat terakhir yang kuucapkan. Lalu aku pulang dengan langkah gontai.

Aku masih belum habis pikir mengenai pertemuan kita semalam. Sesuatu yang kuharap sekaligus aku takutkan. Perasaan ini sungguh sudah kau aduk tak karuan. Kau angkat aku dengan tangkai mawarmu, tapi durinya kau lesakkan ke rapuh hatiku. Onak yang tertinggal itu, sungguh susah untuk ku keluarkan. Sama susahnya bagi diriku untuk abaikan dirimu.

Deg, deg, deg..! detak jantung saling bertabuh di rongga dada. Menanti perjumpaan dalam minggu ini, membuat jiwaku semakin gelisah, gundah gulana menghimpit dada. Inginku semuanya cepat terselesaikan.

Masih ada asa yang membuncah pada pertemuan kami nanti. Diandra telah memastikan itu. Benarkah yang terlah terucap mewakili hati nuraninya yang paling dalam?. Batinku kembali bertanya.

Hari dimana pertemuan akan membawa hati dan perasaan ini pun tiba. Perlahan…, aku mendekati sosok ringkih yang manis bak pualam. Diandra…! Begitu indahnya dirimu diciptaNYA, hingga harapku menjadi tuntutan yang wajib terpenuhi.

Mas…! Akhirnya engkau mau memenuhi janji bertemu lagi minggu ini,”sapa Diandra memecah sunyi”.
Eh hem…! Tak sanggup jiwaku terpisah darimu Dinda!. Namun, janji bagi seorang lelaki adalah kewajiban dan tanggungjawab. Tuntaskan semua kisahmu malam ini, dinda Diandra…, agar lara segera meninggalkan kita…”

Mas Jaka…! telah empat puluh delapan bulan aku menunggu di tepian sungai Kapuas. Bukan tanpa alasan dan sebab. Dunia kurasa tak adil. Dulu, ada seseorang yang teramat sempurna menyayangiku, melimpahiku dengan harapan dan cinta kasih. Kami merangkai mimpi, tuk hidup dalam mahligai suci rumah tangga. Empat tahun yang lalu, pagi menjemput sang mentari. Sepertinya baru sehari yang lalu dia melambaikan tangan padaku. Menyapa dengan penuh cinta. Dia berjanji hanya kan pergi beberapa jam untuk bekerja, mengais rupiah untuk kehidupan kami. Namun, perahu tumpangannya terhempas. Dia lenyap tak berjejak. Entah masih hidup atau…..! Aku tak tahu mas Jaka. Hingga hari ini aku terus menanti dan akan terus menantinya kembali. Dengan kabar terburuk sekalipun aku telah siap. Mata ini, bibir ini, hati dan jiwa ini telah begitu hampa sejak saat itu. Maafkan aku mas Jaka…!

Diandra…! Aku akan menghiburmu. Dengan segala cara yang mampu kubisa, meskipun aku sendiri butuh seseorang untuk menghiburku. Akan kuelus kau dengan lembutnya kasihku, walau tak bisa mengganti lembut kasihnya.

Mas jaka…! Engkau belum bisa hentikan kodrat dan naluri seorang perempuan. Aku akan tetap setia menantinya di dermaga ini. Kita tak bisa menebak ke arah mana jalan yang harus kita jalani. Serahkan semua menurut amanah dan janjiNya. Kita harus berhenti di simpang jalan dermaga ini. Kehendakku dan kehendakmu adalah kehendakNya. Harapan masa depan masih terpampang di depan mata. Semoga Allah masih mencurahkan kasih sayangnya kepada kita. Dia akan mencari jalan kebahagiaan yang lain.

Dan entah berapa lama waktu berlalu seusai pelampiasan perasaan kita di dermaga itu. Dalam waktu itu pula kita tak pernah lagi bertemu, sekalipun hanya dalam mimpi. Waktu sedikit menggerus kenanganku atasmu, walau tak mudah. Hingga akhirnya aku menemukan jawaban atas kisah kita, setelah sekian lama. Apa yang aku alami, benar-benar sulit aku percaya. Frans. Ya, namanya hanya satu kata, Frans. Ia lah lelaki kedua itu. Ah, biar saja ia kusebut lelaki kedua walau bagimu Franslah satu-satunya pria idamanmu Dian. Ini adalah kebodohanku untuk ke sekian kalinya. Mungkin engkau tak tahu Dian, sebagaimana kau tak mau tahu, ada duri mawar yang masih kau tinggalkan di hati ini. Dan inilah kebodohanku itu.

Frans adalah seorang temanku. Memang kami tidak terlalu akrab, tapi kami sangat mengenal satu sama lain. Apalagi wanita-wanita yang kerap disebut dan diperkenalkan Frans padaku. Ia memang pandai bermanis wajah dan kata. Bukan hanya padaku, tapi lebih-lebih pada sejumlah wanita yang ia kenalkan padaku sebagai pacarnya. Entah sudah berapa banyak wanita yang dibuatnya takluk.
Tapi, dari banyak wanita yang ia sebut, tak ada namamu Diandra. Tak ada sama sekali. Dan tentu, aku tak berpikir bahwa engkau dan Frans saling mengenal. Dan ketika kabar itu menyapaku, aku sungguh-sungguh tercekat. Dalam diamku ternyata ada ratap pilu yang tak terungkap. Ada air mata yang tak tumpah. Ada luka yang dalam. Semakin sakit karena pedih itu kau tanam di jiwaku yang kerap lugu.

Inilah drama satir dalam hidupku Dian. Frans, melengkapi perih itu dan engkau telah menyuburkannya. Rangkaian kisah yang terjalin kelabu itu terjawab. Lagi-lagi oleh secarik kertas. Secarik kertas persegi bersampul itulah yang membuat aku terhenyak. Ia jawaban atas batinku, yang acap menyurutkan diriku. Cukuplah aku melihat gambar kalian dalam gaun pengantin di sampul undangan berwarna biru itu. Aku lebur tak kuat membaca nama itu, Menikah Diandra Puspa dan Frans. Lalu aku seperti tak rela bila dirimu jatuh ke lelaki seperti Frans. Aku mati bersama kesedihan itu Dian. Tamatlah riwayatku.

—-the end—-

Kolaborasi: “KWARTED SAH” (NO. 74) Halim Malik + Deddy Rachmawan + Lisa Meri T + Tonny Mondong

HALIM MALIK http://www.kompasiana.com/Unik

DEDDY RACHMAWAN http://www.kompasiana.com/rachmawan

LISA MERY T http://www.kompasiana.com/li5ha

TONNY MONDONG http://www.kompasiana.com/tonny_mondong

CATATAN TAMBAHAN sebagai berikut: UNTUK MEMBACA TULISAN PARA PESERTA FFK YANG LAIN MAKA DIPERSILAKAN MENGUNJUNGI BLOG KF sbb: KampungFiksi@Kompasiana
»»  READMORE...

Minggu, 18 Desember 2011

Sejuta Kenangan Bersama Putri


Rahasia dua hati, kini tinggal bayangan yang meninggalkan bekas gerimis senja menambah dinginya malam. Gerimis senja seperti inilah yang selalu membawa ingatanku pada seseorang, yang sekian tahun menjadi pasangan hati. Bayangan hidup dari kenyataan yang telah terlewati serasa tak pernah hilang dari ingatan. Bersamanya setiap detik kulalui dengan damai.

Putri….! Nama yang selalu terpatri di hati. Seorang dara yang nyaris sempurna, putri yang tinggal di pulau cinta. Pada umumnya pendatang ke suatu daerah, kalau dia seorang perempuan, dialah yang menjadi putri di tempat itu. Sebaliknya kalau seorang pria yang berkunjung, maka dialah yang menjadi pangeran. Untuk kali ini akulah yang terpilih jadi pangeran, dari sekian pangeran-pangeran yang datang ke pulau itu.

Kisah sekian tahun itu kembali mengusik untaian syaraf memory di kepala. Memory manis yang tak ingin kuingat lagi, kini hadir setelah sekian tahun telah berhasil kulenyapkan. Belakangan ini Putri seakan hadir pada setiap gerimis senja.

Terkenang lagi saat-saat indah dengannya, mencairkan segala kebekuan dan rahasia yang terpendam lama. Kata-katanya lembut dan sejuk menghibur, saat kurenung menatap langit biru. Impian sebuah mimpi keluar dari hati yang ikhlas, ketika dia menerima jalinan kasih. Empat tahun lima bulan, bukan waktu yang singkat untuk sebuah kisah.

Riak ombak dan kerlip lampu nelayan menemani kami setiap malam. Indahnya malam pesisir telah menjadi saksi tawa dan canda. Setiap malam bercengkrama di atas liarnya pikiran yang berakhir dengan kecupan manja. Tak pernah ada yang merasa tersakiti, karena asmara tertata begitu rapi tanpa cela. Asmara dua insan yang tak pernah menghadirkan kesedihan, namun terbingkai oleh harapan dan adab, menunggu ruang dan waktu menuju zona kenyamanan. Tak ada kehampaan, hanya kerinduan yang tanpa batas jika kami akan berpisah.

Letihku berjuang merenda mimpi agar kenyataan seindah harapan. Ternyata akal pikiran mampu mengatur hati manusia, sekuat apapun kita mempertahankannya. Putri luruh dalam bujukan orang tua yang telah menabur ranjau cinta, agar mengganti rasa di hatinya yang telah lama kami jaga. Harapanku telah menjauh dalam dekapan pangeran lain. Hanya kata “maaf” yang sempat dititipkannya padaku. Jiwa ini pun larut bersama takdir setelah Putri berlalu.

Semuanya kuasa Ilahi, dan aku berserah pada takdir. Tinggalah jiwa yang menanggung pilu, dalam kepasrahan yang merindu. Alur hidup yang tak tertebak sebelumnya sungguh tak menyenangkan. Keindahan masa lalu memang hanya untuk dikenang, bukan untuk diingat. Namun rasa kehilangan tak terhingga antara pikiran dan kenangan itu, justru membuatku merasa memilikinya. Rasa itu selalu terjaga dan hati selalu berkata “Rasa Ini Takkan Pernah Terganti”.
»»  READMORE...

“Mutiara yang Hilang”

Dahulukala di tanah Jawa, hiduplah sepasang suami istri, Rameli dan Jainab. Mereka hidup rukun, walaupun kala itu adalah masa penjajahan Belanda. Rameli dan Jainab hidup atas dasar kasih sayang, Saling menjaga perasaan satu sama lain, saling menghargai dan saling menerima segala kekurangan dan kelebihan pasangannya. Hampir tak ada percekcokan, karena kunci hidup mereka adalah “sabar” dan “syukur nikmat”.

~***~

Rameli bekerja sebagai penjaga tanaman jarak, sementara Jainab bekerja sebagai pembuat jamu gendongan. Meskipun kehidupan mereka pas-pasan, mereka tak pernah berkeluh-kesah atas nasib. Gaji Rameli hanya 200 rupiah, sedang pekerjaannya begitu berat. Mulai pagi hingga menjelang malam, tugasnya menjaga agar semua tanaman jarak tetap tumbuh hidup sesuai keinginan “penjajah Belanda”.

~

Jainab bekerja sebagai penjual jamu, membantu menopang kebutuhan keluarga untuk makan sehari-hari. Rejeki yang diperoleh seharian, hanya cukup untuk kebutuhan hari itu juga. Sebenarnya tak mencukupi, namun bagi pasangan bahagia ini, sebisa mungkin dicukup-cukupkan. Mereka telah diwarisi hidup sederhana yang menitis dari kedua orang tua masing-masing. Untunglah mereka belum dikaruniai anak, sehingga hidup dalam penderitaan masih bisa diatasi.

~***~

Seiring waktu berlau, kehid menjelang ambang kesempurnaan, karena si Jainab telah hamil. Tak menunggu lama lagi mereka akan menjadi keluarga yang bahagia dengan kehadiran seorang bayi. Semua kehidupan telah direncanakan, beserta mimpi-mimpi indah lainnya. Rameli semakin rajin mencari pekerjaan sampingan, karena si Jainab harus mengurangi kegiatannya menjelang masa kelahiran.

~***~

Dalam suasana mendekati puncak kebahagiaan, tiba-tiba ujian pun datang. Rameli terancam dipecat oleh Belanda, karena tanaman jarak yang dijaganya dirusak oleh manusia yang syirik. Makin hari pekerjaannya makin berat, karena hampir 24 jam dia menjaga tanaman jarak. Kejadian pengrusakan tanaman jarak berulang setiap saat. Penjajah Belanda menuduh bahwa Rameli dengan sengaja merusak tanaman jarak yang dijaganya. Di balik peristiwa pengrusakan tanaman jarak itu, ada yang mengincar kedudukan Rameli sebagai penjaga tanaman jarak. Karena setiap saat didapatinya tanaman jarak rusak, kesabaran Rameli pun akhirnya tak terbendung. Tanpa berpikir panjang, Rameli melampiaskan kesabarannya dengan merusak semua tanaman jarak. Bertepatan saat itu, ada Belanda yang lewat, dan Rameli diangkut untuk diadili.

~***~

Rameli disiksa dengan kejam, sampai ajal menjemputnya. Jainab tak mampu menahan rasa sedihnya. Separuh jiwanya telah pergi. Masih terkenang manisnya hidup bersama Rameli, dengan segala kebaikannya. Jainab tak ingin terpisahkan , dan serasa ingin menyusul Rameli. Setiap hari Jainab menghabiskan waktu mengunjungi makam suaminya, dan mengajak berbicara dengan pusara bernisan kayu, dan seolah-olah Rameli mendengar semua keluhannya.

~***~

Tepat pada hari ke-40 kunjungan Jainab ke makam suaminya, pun masih dengan ratap dan tangis yang sama, tiba-tiba dia dikejutkan dengan suara Rameli.

“Jainab…! Pulanglah…! Hanya takdir yang mampu memisahkan janji manusia. Jangan kau larut dalam kesedihan, karena sebentar lagi kau akan mendapat penggantiku, yang sekarang kau kandung. “Bersabarlah…! Kembalilah ke duniamu. Masih ada dunia ketiga yang akan mempertemukan kita“.

~***~

Jainab tersentak setelah mendengar suara gaib itu. Serasa tercabutlah segala lara yang memenuhi semua rongga dadanya. Jainab bergegas kembali ke rumah, sepertinya mendapat semangat yang luar biasa.

~***~

Kelahiran anaknya pun tinggal menghitung hari, dan semua keperluan persalinan telah disiapkan. Menjelang kelahiran anaknya, musibah kembali melanda. Penjajah Belanda mengadakan penggusuran di mana-mana. Tak terkecuali daerah yang ditinggali oleh Jainab. Semua warga lari menyelamatkan diri mengungsi ke desa-desa yang dianggapnya aman. Suasana mencekam terjadi di mana-mana, Jainab pun ikut mengungsi.

~***~

Sebatang kara tak punya siapa-siapa di daerah yang asing baginya. Untunglah masih ada yang berbaik hati, Mbok Surti namanya. Mbok surti adalah dukun beranak di kampung itu, berhati bintang, siapa saja ditolongnya. Beruntunglah Jainab, karena ia ditampung oleh Mbol Surti, hingga melahirkan.

~***~

Betapa bahagianya Jainab mendapat seorang bayi yang lucu. Seperti pinang dibelah dua dengan Rameli, almarhum suaminya. Jainab pun memberi nama anaknya dengan panggilan yang mirip ayahnya, yakni Ramelan. Mereka hidup bahagia dengan Mbok Surti, yang secara kebetulan pula hidup sebatang kara. Mereka hidup menjadi satu keluarga yang bahagia. Jainab terhibur dengan hadirnya Ramelan. Semua kasih sayang dicurahkan untuk anaknya.

~***~

Tak terasa tiga tahun telah berlalu, dan Ramelan tumbuh menjadi anak yang lucu, cerdas, dan senang berteman dengan anak-anak seusianya. Jainab pun selalu memberikan didikan kepada Ramelan agar menjadi anak yang berbakti kepada orang tua, dan selalu berbuat baik terhadap sesama.

~***~

Rupanya kebahagiaan Jainab kembali terenggut, lagi-lagi dengan penggusuran. Semua warga lari menyelamatkan diri masing-masing. Pada saat itu seperti biasa Ramelan sedang bermain dengan teman-temannya. Suasana menjadi panik. Mbok Surti telah menyelamatkan diri entah ke mana, Jainab sibuk mencari Ramelan. Namun, sia-sialah usaha Jainab, semua telah lari mengungsi, Mbok Surti tak tahu ke mana, Ramelan tak ketemu. Jalan satu-satunya ikut menyelamatkan diri, dan berharap menemukan Ramelan di tempat pengungsian.

~***~

Malang tak dapat ditolak. Sesampainya di pengungsian, Ramelan tak ditemukan, Mbok Surti juga tak hadir di sana. Jainab kembali hidup dalam kesedihan luar biasa. Untunglah beberapa hari kemudian dia bisa menemukan Mbok Surti kembali. Sekarang tinggal Ramelan yang dipikirannya. Setiap saat dia mencari Ramelan tak pernah ketemu, juga tak ada berita. Akhirnya Jainab pasrahkan takdir Ramelan kepada Pemilik jiwa.

~***~

Pada saat kejadian penggusuran, ternyata Remelan terjebak di bawah jembatan, menangis sendirian. Beberapa saat kemudian, ada sebuah mobil yang melintas pelan, dan mendengar suara tangis bocah. Pasangan suami istri itu menghentikan mobilnya dan menangkap sumber suara dari bawah jembatan. Setelah dibujuk oleh pasangan suami istri itu, Ramelan pun ikut dengan pasangan suami istri itu. Pasangan suami istri ini belum dikaruniai anak.

~***~

Singkat cerita, Ramelan menjadi anak pungut. Betapa bahagianya pasangan yang belum dikaruniai anak ini. Rameli anak yang cerdas, cakap dan penurut. Di kehidupan keluarga barunya, Ramelan diganti namanya menjadi Margana, artinya (didapat di bawah jembatan). Jadilah Ramelan menjadi Margana.

~***~

Selang dua tahun kemudian, akhirnya pasangan ini dikaruniai anak, dan diberi nama Marganingsih. Margana dan Marganingsih hidup saling menyayangi, hingga tumbuh menjadi dewasa.

~***~

Waktu begitu cepat berlalu. Margana telah menjadi dokter, sementara Marganingsih menjadi sarjana akuntansi. Entah dari mana datangnya benih-benih kasih, tiba-tiba saja mereka merasa saling jatuh cinta. Ada getar-getar halus yang tak bisa ditafsirkan oleh Margana dan Marganingsih, Perasaan itu mereka endapkan, hanya karena terbendung dan terhalang oleh ikatan kakak dan adik. Mereka selalu menyembuyikan perasaan itu di depan kedua orang tuanya. Tanpa disadari oleh mereka, orang tua Marganingsih mulai curiga, bahwa di antara mereka telah tumbuh bibit-bibit kasih. Oleh karena sudah dianggap seperti anak sendiri, mereka tak menginginkan Margana dan Marganingsih saling jatuh cinta. Berbagai usaha dilakukan agar hubungan asmara antara Margana dan Marganingsih tidak akan terlalu jauh.

~***~

Margana dan marganingsih memendam rasa yang sebenarnya bisa bertaut, sebab Margana bukanlah anak kandung. Margana berhasil mengusir rasa cintanya terhadap Marganingsih dengan menyibukan diri di salah satu rumah sakit. Tetapi bagi Marganingsih, rasa itu tak bisa ditepisnya. Dan perlahan, rasa itu melenyapkan semua semangatnya. Marganingsih sering merenung dan mengurung diri, hingga jatuh sakit karena cinta.

~***~

Di kehidupan lain, Ibu kandung Margana telah mendapat pasangan hidup “seorang tentara”. Mbok Surti telah hidup bersama Jainab dengan keluarga baru, karena sudah dianggap seperti ibunya. Dari hasil pernikahan Jainab dengan seorang terntara mereka dikaruniai seorang putri jelita, namanya “Laras”. Jainab menemukan kembali kebahagiannya, dan sudah mengubur impiannya pada anaknya yang hilang, Ramelan. Ramelan juga sudah tak ingat lagi bahwa dia adalah anak pungut. Semua tergilas zaman, semua kejadian lampau telah mereka lupakan. Seolah-olah zaman telah melenyapkan semua masa lalu.

~***~

Suatu ketika, ayahnya Laras jatuh sakit dan harus dirawat di rumah sakit. Rumah sakit terdekat adalah rumah sakit dimana Margana bertugas. Laraslah yang selalu menjaga ayahnya di rumah sakit. Ketika Dokter Margana menjenguk pasiennya, dia terkagum melihat Laras. Kembali rasa itu hadir, seperti rasa yang pernah hadir antara dia dan Marganingsih.

Seiring waktu berjalan, terjalinlah kisah asmara antara Dokter Margana dengan Laras. Berita itu sampai juga di telinga Marganingsih, dan membuat dia sakit tak berdaya karena cinta. Karena dia mendengar orang tuanya akan mempercepat pernikahan Margana dan Laras. Orang tua marganingsih pun tak pernah mencari tahu mengapa marganingsih selalu mengurung diri, mereka sibuk dengan urusan masing-masing. Hari pernikahan telah ditentukan, semua berjalan begitu cepat, sepertinya tanpa rencana.

~***~

Tibalah hari yang dinanti-nantikan, yaitu hari pernikahan antara Margana dan Laras. Semua undangan telah hadir. Semua prosesi pernikahan telah siap. Mempelai laki-laki “Margana” telah datang bersama pengiringnya.Tiba-tiba…. Mbok Surti terhentak dengan kehadiran mempelai laki-laki. Mbok Surti yang menolong persalinan Ramelan tempo hari mengenal tanda kelahiran di lengan kanan Margana. Jantungnya berdegup kencang hampir tak bisa ditahannya.

Mbok Surti mendatangi dan menyakinkan orang tua laras bahwa Margana adalah anaknya yang dulu hilang. Semua para undangan menjadi gempar, pernikahan pun batal. Di tengah-tengah keramaian para tamu undangan, keharuan tertumpah, bukan karena pesta pernikahan, tetapi karena telah ditemukannya mutiara yang hilang.

~***~

Margana tak jadi menikah dengan Laras, karena mereka adalah saudara seibu. Mergana memutuskan untuk kembali ke pelukan kekasihnya Marganingsih. Sayang… nasib tak dapat ditolak, Marganingsih ditemui Margana pada saat-saat nafasnya yang penghabisan. Margana dirundung kesedihan, karena cintanya telah dibawa mati oleh Marganingsih.

~***~
»»  READMORE...