Tampilkan postingan dengan label Koleksi Hikmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Koleksi Hikmah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 07 Maret 2013

Kisah pernikahan Rasulullah dan Siti Khadijah

Bermimpi Matahari Turun Ke Rumahnya

Dia adalah Khadijah r.a, seorang wanita janda,bangsawan, hartawan, cantik dan budiman. Ia disegani oleh masyarakat Quraisy khususnya, dan bangsa Arab pada umumnya. Sebagai seorang pengusaha, ia banyak memberikan bantuan dan modal kepada pedagang-pedagang atau melantik orang-orang untuk mewakili urusan-urusan perniagaannya ke luar negeri.

Banyak pemuka Quraisy yang ingin menikahinya dan sanggup membayar mas kawin berapa pun yang dikehendakinya, namun selalu ditolaknya dengan halus kerana tak ada yang berkenan di hatinya.

Pada suatu malam ia bermimpi melihat matahari turun dari langit,masuk ke dalam rumahnya serta memancarkan sinarnya ke semua tempat sehingga tiada sebuah rumah di kota Makkah yang luput dari sinarnya. Mimpi itu diceritakan kepada anak bapak saudaranya yang bernama Waraqah bin Naufal. Dia seorang lelaki yang berumur lanjut, ahli dalam mentakbirkan mimpi dan ahli tentang sejarah bangsa-bangsa purba. Waraqah juga mempunyai pengetahuan luas dalam agama yang dibawa oleh Nabi-Nabi terdahulu.

Waraqah berkata: “Takwil dari mimpimu itu ialah bahwa engkau akan menikah kelak dengan seorang Nabi akhir zaman.”

“Nabi itu berasal dari negeri mana?” tanya Khadijah bersungguh-sungguh.”Dari kota Makkah ini!” ujar Waraqah singkat.

“Dari suku mana?”
“Dari suku Quraisy juga.”

Khadijah bertanya lebih jauh: “Dari keluarga mana?”
“Dari keluarga Bani Hasyim, keluarga terhormat,” kata Waraqah dengan nada menghibur.

Khadijah terdiam sejenak, kemudian tanpa sabar meneruskan pertanyaan terakhir: “Siapakah nama bakal orang agung itu, hai anak bapa saudaraku?”
Orang tua itu mempertegas: “Namanya Muhammad SAW. Dialah bakal suamimu!”

Khadijah pulang ke rumahnya dengan perasaan yang luar biasa gembiranya. Belum pernah ia merasakan kegembiraan sedemikian hebat. Maka sejak itulah Khadijah sentiasa bersikap menunggu dari manakah gerangan kelak munculnya sang pemimpin itu.

Nabi Muhammad Berniaga

Muhammad, bakal suami wanita hartawan itu, adalah seorang yatim piatu yang miskin sejak kecilnya,dipelihara oleh bapa saudaranya, Abu Thalib, yang hidupnya pun serba kekurangan. Meskipun demikian, bapa saudaranya amat sayang kepadanya, menganggapnya seperti anak kandung sendiri, mendidik dan mengasuhnya sebaik-baiknya dengan adab, tingkah laku dan budi pekerti yang terpuji.Pada suatu ketika, Abu Thalib berbincang-bincang dengan saudara perempuannya bernama ‘Atiqah mengenai diri Muhammad.

Beliau berkata: “Muhammad sudah pemuda dua puluh empat tahun. Semestinyalah sudah kahwin.Tapi kita tak mampu mengadakan perbelanjaan, dan tidak tahu apa yang harus diperbuat.”

Setelah memikirkan segala ikhtiar, ‘Atiqah pun berkata: “Saudaraku, saya mendengar berita bahwa Khadijah akan memberangkatkan kafilah niaga ke negeri Syam dalam waktu dekat ini. Siapa yang berhubungan dengannya biasanya rezekinya bagus, diberkati Allah SWT. Bagaimana kalau kita pekerjakan Muhammad kepadanya? Saya kira inilah jalan untuk memperolehi nafkah, kemudian dicarikan isterinya.”

Abu Thalib menyetujui saranan saudara perempuannya.Dirundingkan dengan Muhammad, ia pun tidak keberatan.‘Atiqah mendatangi wanita hartawan itu, melamar pekerjaan bagi Muhammad, agar kiranya dapat diikut sertakan dalam kafilah niaga ke negeri Syam.

Khadijah, tatkala mendengar nama “Muhammad”, ia berfikir dalam hatinya: “Oh… inilah takbir mimpiku sebagaimana yang diramalkan oleh Waraqah bin Naufal, bahawa ia dari suku Quraisy dan dari keluarga Bani Hasyim, dan namanya Muhammad, orang terpuji, berbudi pekerti tinggi dan nabi akhir zaman.” Seketika itu juga timbullah hasrat di dalam hatinya untuk bersuamikan Muhammad, tetapi tidak dilahirkannya karena khuatir akan fitnah.

“Baiklah,” ujar Khadijah kepada ‘Atiqah, “saya terima Muhammad dan saya berterima kasih atas kesediaannya.Semoga Allah SWT melimpahkan berkatnya atas kitabersama.”. Wajah Khadijah cerah, tersenyum sopan,menyembunyikan apa yang tersudut di kalbunya.Kemudian ia meneruskan: “Wahai ‘Atiqah, saya tempatkan setiap orang dalam rombongan niaga dengan penghasilan tinggi, dan bagi Muhammad SAW akan diberikan lebih tinggi dari biasanya.”

Atiqah berterima kasih, ia pulang dengan perasaan gembira menemui saudaranya, menceritakan kepadanya hasil perundingannya dengan wanita hartawan dan budiman itu. Abu Thalib menyambutnya dengan gembira. Kedua bersaudara itu memanggil Muhammad SAW seraya berkata: “Pergilah anakanda kepada Khadijah r.a, ia menerima engkau sebagai pekerjanya. Kerjakanlah tugasmu sebaik-baiknya.”

Muhammad SAW menuju ke rumah wanita pengusaha itu.Sementara akan keluar dari pekarangan rumah bapa saudaranya, tiba-tibalah ia mencucurkan air mata kesedihan mengenang nasibnya. Tiada yang menyaksikannya dan menyertainya dalam kesedihan hati itu selain para malaikat langit dan bumi.

Kesaksian Seorang Rahib

Tatkala kafilah niaga itu siap akan berangkat,berkatalah Maisarah, kepala rombongan: “Hai Muhammad,pakailah baju bulu itu, dan peganglah bendera kafilah.Engkau berjalan di depan, menuju ke negeri Syam!”Muhammad SAW melaksanakan perintah. Setelah iring-iringan keluar dari halaman memasuki jalan raya,tanpa sedar Muhammad SAW menangis kembali, tiada yang melihatnya kecuali Allah dan para malaikat-Nya.

Dari mulutnya terucap suara kecil: “Aduh hai nasib! Mana gerangan ayahku Abdullah, mana gerangan ibuku Aminah.Kiranyalah mereka menyaksikan nasib anakandanya yang miskin yatim piatu ini, yang justeru lantaran ketiadaannyalah sehingga terbawa jadi buruh upahan ke negeri jauh. Aku tidak tahu apakah aku masih akan kembali lagi ke negeri ini, tanah tumpah darahku.”Jeritan batin itu membuat para malaikat langit bersedih. Mereka memintakan rahmat baginya. Maisarah memperlakukan Muhammad SAW dengan agak istimewa,sesuai dengan wasiat Khadijah. Diberinya pakaian terhormat, kenderaan unta yang tangkas dengan segala perlengkapannya.

Perjalanan mengambil waktu beberapa hari. Terik matahari begitu panas sekali. Tetapi Muhammad SAW berjalan sentiasa dipayungi awan yang menaunginya hingga mereka berhenti di sebuah peristirehatan dekat rumah seorang Rahib Nasrani. Muhammad SAW turun dari untanya, pergi berangin-angin melepaskan lelah di bawah pohon yang teduh. Rahib keluar dari tempat pertapaannya. Ia hairan melihat gumpalan awan menaungi kafilah dari Makkah, padahal tak pernah terjadi selama ini. Ia tahu apa erti tanda itu karena pernah dibacanya di
dalam Kitab Taurat. Rahib menyiapkan suatu perjamuan bagi kafilah itu dengan maksud untuk menyiasat siapa pemilik karamah dari kalangan mereka.

Semua anggota rombongan hadir dalam majlis perjamuan itu, kecuali Muhammad SAW seorang diri yang tinggal untuk menjaga barang-barang dan kenderaan. Ketika Rahib melihat awan itu tidak bergerak, tetap di atas kafilah, bertanyalah beliau:

“Apakah di antara kalian masih ada yang tidak hadir di sini?”Maisarah menjawab:
“Hanya seorang yang tinggal untuk menjaga barang-barang.”

Rahib pergi menjemput Muhammad SAW dan terus menjabat tangannya, membawanya ke majlis perjamuan. Ketika Muhammad SAW. bergerak, Rahib memperhatikan awan itu turut bergerak pula mengikuti arah ke mana Muhammad SAW berjalan. Dan di saat Muhammad SAW masuk ke ruangan perjamuan, Rahib keluar kembali menyaksikan awan itu, dan dilihatnya awan itu tetap di atas, tidak bergerak sedikit pun walaupun dihembus angin. Maka mengertilah ia siapa gerangan yang memiliki karamah dan keutamaan itu.

Rahib masuk kembali dan mendekati Muhammad SAW,bertanya: “Hai pemuda, dari negeri mana asalmu?”
“Dari Makkah”.
“Dari qabilah mana?” tanya sang Rahib.
“Dari Quraisy, tuan!”
“Dari keluarga siapa?”
“Keluarga Bani Hasyim.”
‘Siapa namamu?”
“Namaku, Muhammad.”

Serta merta ketika mendengar nama itu, Rahib berdiri dan terus memeluk Muhammad SAW serta menciumnya di antara kedua alisnya seraya mengucapkan: “Laa IlaahaIllallaah, Muhammadar Rasulullah.”

Ia menatap wajah Muhammad SAW dengan perasaan takjub,seraya bertanya: “Sudikah engkau memperlihatkan tanda di badanmu agar jiwaku tenteram dan keyakinanku lebih mantap?”
“Tanda apakah yang tuan maksudkan?” tanya Muhammad SAW.”Silakan buka bajumu supaya kulihat tanda akhir kenabian di antara kedua bahumu!”

Muhammad SAW. memperkenankannya, dimana Rahib tua itu melihat dengan jelas ciri-ciri yang dimaksudkan.”Ya….ya….tertolong, tertolong!” seru Rahib.
“Pergilah ke mana hendak pergi. Engkau terus ditolong!”

Rahib itu mengusap wajah Muhammad SAW, sambil menambahkan: “Hai hiasan di hari kemudian, hai pemberi syafa’at di akhirat, hai peribadi yang mulia, hai pembawa nikmat, hai nabi rahmat bagi seluruh alam!”

Dengan pengakuan demikian, Rahib dari Ahlil-Kitab itu telah menjadi seorang muslim sebelum Muhammad SAW. dengan rasmi menerima wahyu kerasulan dari langit.

Paderi-paderi Yahudi Gemetar Ketakutan

Pasar dibuka beberapa hari lamanya. Semua jualan laris dengan keuntungan berlipat ganda, mengatasi pengalaman yang sudah-sudah. Kebetulan pada saat itu bertepatan dengan hari Yahudi, yang dimeriahkan dengan upacara besar-besaran. Muhammad SAW, Abu Bakar dan Maisarah keluar menonton keramaian itu. Tatkala Muhammad SAW memasuki tempat upacara untuk menyaksikan cara mereka beribadat, maka tiba-tiba berjatuhanlah semua lilin-lilin menyala yang bergantungan pada tali di sekitar ruangan, yang menyebabkan paderi-paderi Yahudi gemetar ketakutan.

Seorang di antara mereka bertanya: “Alamat apakah ini?” Semuanya hairan, cemas dan ketakutan.

“Ini bererti ada orang asing yang hadir di sini,”jawab pengerusi upacara. “Kita baca dalam Taurat bahwa alamat ini akan muncul bilamana seorang lelaki bernama Muhammad SAW, Nabi akhir zaman, mendatangi hari raya agama Yahudi. Mungkinlah sekarang orang itu berada di ruangan kita ini. Carilah lelaki itu, dan kalau bertemu, segeralah tangkap!”

Abu Bakar r.a, sahabat Muhammad SAW sejak dari kecil,dan Maisarah, yang mendengar berita itu segera mendekati Muhammad SAW yang berdiri agak terpisah, dan mengajaknya keluar perlahan-lahan di tengah-tengah kesibukan orang yang berdesak-desakan keluar masuk ruangan.

Tanpa menunda waktu lagi, Maisarah segera memerintahkan kafilah berangkat pulang ke Makkah. Dengan demikian tertolonglah Muhammad SAW dari kejahatan orang-orang Yahudi.

Nabi Muhammad Pulang Ke Makkah

Biasanya dalam perjalanan pulang, kira-kira jarak tujuh hari lagi mendekati Makkah, Maisarah mengirim seorang utusan kepada Khadijah r.a, memberitahukan bakal kedatangan kafilah serta perkara-perkara lain yang menyangkut perjalanan. Maisarah menawarkan kepada Muhammad SAW: “Apakah engkau bersedia diutus membawa berita ke Makkah?” Muhammad SAW berkata: “Ya, saya bersedia apabila ditugaskan”.

Pemimpin rombongan mempersiapkan unta yang cepat untuk dinaiki oleh utusan yang akan berangkat terlebih dahulu ke kota Makkah. Ia pun menulis sepucuk surat memberikan kepada majikannya bahwa perniagaan kafilah yang disertai Muhammad SAW mendapat hasil laba yang sangat memuaskan, dan menceritakan pula tentang pengalaman-pengalaman aneh yang berkaitan dengan diri Muhammad SAW.

Tatkala Muhammad SAW menuntun untanya dan sudah hilang dari pandangan mata, maka Allah SWT menyampaikan wahyu kepada malaikat Jibril a.s .:
“Hai Jibril, singkatkanlah bumi di bawah kaki-kaki unta Muhammad SAW! Hai Israfil, jagalah ia dari sebelah kanannya! Hai Mikail, jagalah ia dari sebelah kirinya! Hai awan, teduhilah ia di atas kepalanya!”

Kemudian Allah SWT mendatangkan ngantuk kepadanya sehingga baginda SAW tertidur nyenyak dan tiba-tiba telah sampai di Makkah dalam tempo yang cukup singkat.Saat terbangun, ia heran mendapati dirinya telah berada di pintu masuk kota kelahirannya. Baginda SAW sedar bahwa ini adalah mukjizat Tuhan kepadanya, lalu bersyukur memuji Zat Yang Maha Kuasa.

Sementara baginda SAW mengarahkan untanya menuju ke tempat Khadijah r.a, secara kebetulan Khadijah r.a pada saat itu sedang duduk sambil kepalanya keluar jendela memandangi jalan ke arah Syam, tiba-tiba dilihatnya Muhammad SAW di atas untanya dari arah bertentangan di bawah naungan awan yang bergerak perlahan-lahan di atas kepalanya.
Khadijah r.a menajamkan matanya, bimbang kalau-kalau tertipu oleh penglihatannya, sebab yang dilihatnya hanyalah Muhammad SAW sendirian tanpa rombongan,padahal telah dipesannya kepada Maisarah agar menjaganya sebaik-baik. Ia bertanya kepada wanita-wanita sahayanya yang duduk di sekitarnya:

“Apakah kamu mengenali siapa pengendara yang datang itu?” sambil tangannya menunjuk ke arah jalan.Seorang di antara mereka menjawab: “Seolah-olah Muhammad Al-Amiin, ya sayyidati!”
Kegembiraan Khadijah r.a terlukis dalam ucapannya:
“Kalau benar Muhammad Al-Amiin, maka kamu akan kumerdekakan bilamana ia telah sampai!”
Tak lama kemudian muncullah Muhammad SAW di depan pintu rumah wanita hartawan itu, yang langsung menyambutnya dengan tutur sapa tulus ikhlas:

“Kuberikan anda unta pilihan, tunggangan khusus dengan apa yang ada di atasnya.”
Muhammad SAW mengucapkan terima kasih, kemudian menyerahkan surat dari ketua rombongan. Ia minta izin pulang ke rumah bapa saudaranya setelah melaporkan tentang perniagaan mereka ke luar negeri.

Khadijah Menawarkan Diri

Muhammad Al-Amiin muncul di rumah Khadijah. Wanita usahawan itu berkata: “Hai Al-Amiin, katakanlah apa keperluanmu!” Suaranya ramah, bernada dermawan.Dengan sikap merendahkan diri tapi tahu diharga dirinya, Muhammad SAW berbicara lurus, terus terang,meskipun agak malu-malu tetapi pasti. Katanya: “Kami sekeluarga memerlukan nafkah dari bahagianku dalam rombongan niaga. Keluarga kami amat memerlukannya untuk mencarikan jodoh bagi anak saudaranya yang yatim piatu”. Kepalanya tertunduk, dan wanita hartawan itu memandangnya dengan penuh ketakjuban.

“Oh, itukah….! Muhammad, upah itu sedikit, tidak menghasilkan apa-apa bagimu untuk menutupi keperluan yang engkau maksudkan,” kata Khadijah r.a. “Tetapi biarlah, nanti saya sendiri yang mencarikan calon isteri bagimu”. Ia berhenti sejenak, meneliti.Kemudian meneruskan dengan tekanan suara memikat dan mengandungi isyarat: “Aku hendak mengawinkanmu dengan seorang wanita bangsawan Arab. Orangnya baik, kaya, diingini oleh banyak raja-raja dan pembesar-pembesar Arab dan asing, tetapi ditolaknya. Kepadanyalah aku hendak membawamu”. Khadijah tertunduk lalu melanjutkan:

“Tetapi sayang, ada aibnya…! Dia dahulu sudah pernah bersuami. Kalau engkau mahu, maka dia akan menjadi pengkhidmat dan pengabdi kepadamu”.

Pemuda Al-Amiin tidak menjawab. Mereka sama-sama terdiam, sama-sama terpaku dalam pemikirannya masing-masing. Yang satu memerlukan jawapan, yang lainnya tak tahu apa mahu dijawab.Khadijah r.a tak dapat mengetahui apa yang terpendam di hati pemuda Bani Hasyim itu, pemuda yang terkenal dengan gelaran Al-Amiin (jujur). Pemuda Al-Amiin itupun mungkin belum mengetahui siapa kira-kira calon yang dimaksud oleh Khadijah r.a. Ia minta izin untuk pulang tanpa sesuatu keputusan yang ditinggalkan. Ia menceritakan kepada bapa saudaranya:

“Aku merasa amat tersinggung oleh kata-kata Khadijah r.a. Seolah-olah dia memandang enteng dengan ucapannya ini dan itu “anu dan anu….”Ia mengulangi apa yang dikatakan oleh perempuan kaya itu.

Atiqah juga marah mendengar berita itu. Dia seorang perempuan yang cepat naik darah kalau pihak yang dinilainya menyinggung kehormatan Bani Hasyim.

Katanya: “Muhammad, kalau benar demikian, aku akan mendatanginya”.
Atiqah tiba di rumah Khadijah r.a dan terus menegurnya: “Khadijah, kalau kamu mempunyai harta kekayaan dan kebangsawan, maka kamipun memiliki kemuliaan dan kebangsawanan. Kenapa kamu menghina puteraku, anak saudaraku Muhammad?”

Khadijah r.a terkejut mendengarnya. Tak disangkanya bahwa kata-katanya itu akan dianggap penghinaan. Ia berdiri menyabarkan dan mendamaikan hati ‘Atiqah:”Siapakah yang sanggup menghina keturunanmu dan sukumu? Terus terang saja kukatakan kepadamu bahwa dirikulah yang kumaksudkan kepada Muhammad SAW. Kalau ia mahu, aku bersedia menikah dengannya; kalau tidak, aku pun berjanji tak akan bersuami hingga mati”.Pernyataan jujur ikhlas dari Khadijah r.a membuat ‘Atiqah terdiam. Kedua wanita bangsawan itu sama-sama cerah. Percakapan menjadi serius.

“Tapi Khadijah, apakah suara hatimu sudah dimaklumi oleh anak bapa saudaramu Waraqah bin Naufah?” tanya ‘Atiqah sambil meneruskan: “Kalau belum cubalah meminta persetujuannya.”
“Ia belum tahu, tapi katakanlah kepada saudaramu, Abu Thalib, supaya mengadakan perjamuan sederhana. Jamuan minum, dimana sepupuku diundang, dan disitulah diadakan lamaran”, Khadijah r.a berkata seolah-olah hendak mengatur siasat. Ia yakin Waraqah takkan keberatan kerana dialah yang menafsirkan mimpinya akan bersuamikan seorang Nabi akhir zaman.

‘Atiqah pulang dengan perasaan tenang, puas. Pucuk dicinta ulam tiba. Ia segera menyampaikan berita gembira itu kepada saudara-saudaranya: Abu Thalib, Abu Lahab, Abbas dan Hamzah. Semua riang menyambut hasil pertemuan ‘Atiqah dengan Khadijah r.a.

“Itu bagus sekali”, kata Abu Thalib, “Tapi kita harus bermesyuarat dengan Muhammad SAW lebih dahulu.”

Janda Cantik Bermata Jeli

Sebelum dijemput oleh bapa saudaranya, maka terlebih dahulu ia pun telah menerima seorang perempuan bernama Nafisah, utusan Khadijah r.a yang datang untuk menjalin hubungan kekeluargaan. Utusan peribadi Khadijah itu bertanya: “Muhammad, kenapa engkau masih belum berfikir mencari isteri?”

Muhammad SAW menjawab: “Hasrat ada, tetapi kesanggupan belum ada.”

“Bagaimana kalau seandainya ada yang hendak menyediakan nafkah? Lalu engkau mendapat seorang isteri yang baik, cantik, berharta, berbangsa dan sekufu pula denganmu, apakah engkau akan menolaknya?”

“Siapakah dia?” tanya Muhammad SAW.
“Khadijah!” Nafisah berterus terang. “Asalkan engkau bersedia, sempurnalah segalanya. Urusannya serahkan kepadaku!”

Usaha Nafisah berjaya. Ia meninggalkan putera utama Bani Hasyim dan langsung menemui Khadijah r.a,menceritakan kesediaan Muhammad SAW. Setelah Muhammad SAW menerima pemberitahuan dari saudara-saudaranya tentang hasil pertemuan dengan Khadijah r.a, maka baginda tidak keberatan mendapatkan seorang janda yang usianya lima belas tahun lebih tua daripadanya.Betapa tidak setuju, apakah yang kurang pada Khadijah?Ia wanita bangsawan, cantik, hartawan, budiman. Dan utamanya pula karena hatinya telah dibukakan Tuhan untuk mencintainya, telah ditakdirkan akan dijodohkan dengannya.Kalau dikatakan janda, biarlah! Ia memang janda umur empat puluh, tapi janda yang masih segar, bertubuh ramping, berkulit putih dan bermata jeli.

Maka diadakanlah acara yang penuh keindahan itu. Hadir sama Waraqah bin Naufal dan beberapa orang-orang terkemuka Arab yang sengaja dijemput. Abu Thalib dengan rasmi meminang Khadijah r.a kepada saudara sepupunya. Orang tua bijaksana itu setuju. Tetapi dia meminta tempoh untuk berunding dengan wanita berkenaan.

Pernikahan Muhammad dengan Khadijah

Khadijah r.a diminta pendapat. Dengan jujur ia berkata kepada Waraqah: “Hai anak bapa saudaraku, betapa aku akan menolak Muhammad SAW padahal ia sangat amanah, memiliki keperibadian yang luhur, kemuliaan dan keturunan bangsawan, lagi pula pertalian kekeluargaannya luas”.

“Benar katamu, Khadijah, hanya saja ia tak berharta”,ujar Waraqah.

“Kalau ia tak berharta, maka aku cukup berharta. Aku tak memerlukan harta lelaki. Kuwakilkan kepadamu untuk menikahkan aku dengannya,” demikian Khadijah r.a menyerahkan urusannya.
Waraqah bin Naufal kembali mendatangi Abu Thalib memberitakan bahwa dari pihak keluarga perempuan sudah bulat mufakat dan merestui bakal pernikahan kedua mempelai. Lamaran diterima dengan persetujuan mas kahwin lima ratus dirham. Abu Bakar r.a, yang kelak mendapat sebutan “Ash-Shiddiq” sahabat akrab Muhammad SAW. sejak dari masa kecil, memberikan sumbangan pakaian indah buatan Mesir, yang melambangkan kebangsawaan Quraisy, sebagaimana layaknya dipakai dalam upacara adat istiadat pernikahan agung, apalagi karena yang akan dinikahi adalah seorang hartawan dan bangsawan pula.Peristiwa pernikahan Muhammad SAW dengan Khadijah r.aberlangsung pada hari Jumaat, dua bulan sesudah kembali dari perjalanan niaga ke negeri Syam.

Bertindak sebagai wali Khadijah r.a ialah bapa saudaranya bernama ‘Amir bin Asad, sedang Waraqah bin Naufal membacakan khutbah pernikahan dengan fasih,disambut oleh Abu Thalib sebagai berikut:”Alhamdu Lillaah, segala puji bagi Allah Yang menciptakan kita keturunan (Nabi) Ibrahim, benih (Nabi) Ismail, anak cucu Ma’ad, dari keturunan Mudhar.

“Begitupun kita memuji Allah SWT Yang menjadikan kita penjaga rumah-Nya, pengawal Tanah Haram-Nya yang aman sejahtera, dan menjadikan kita hakim terhadap sesama manusia.
“Sesungguhnya anak saudaraku ini, Muhammad bin Abdullah, kalau akan ditimbang dengan laki-laki manapun juga, niscayalah ia lebih berat dari mereka sekalian. Walaupun ia tidak berharta, namun harta benda itu adalah bayang-bayang yang akan hilang dan sesuatu yang akan cepat perginya. Akan tetapi Muhammad SAW, tuan-tuan sudah sama mengenalinya siapa dia. Dia telah melamar Khadijah binti Khuwailid. Dia akan memberikan mas kahwin lima ratus dirham yang akan segera dibayarnya dengan tunai dari hartaku sendiri dan saudara-saudaraku.

“Demi Allah SWT, sesungguhnya aku mempunyai firasat tentang dirinya bahwa sesudah ini, yakni di saat-saat mendatang, ia akan memperolehi berita gembira (albasyaarah) serta pengalaman-pengalaman hebat.

“Semoga Allah memberkati pernikahan ini”.

Penyambutan untuk memeriahkan majlis pernikahan itu sangat meriah di rumah mempelai perempuan. Puluhan anak-anak lelaki dan perempuan berdiri berbaris di pintu sebelah kanan di sepanjang lorong yang dilalui oleh mempelai lelaki, mengucapkan salam marhaban kepada mempelai dan menghamburkan harum-haruman kepada para tamu dan pengiring.

Selesai upacara dan tamu-tamu bubar, Khadijah r.a membuka isi hati kepada suaminya dengan ucapan: “Hai Al-Amiin, bergembiralah! Semua harta kekayaan ini baik yang bergerak mahupun yang tidak bergerak, yang terdiri dari bangunan-bangunan, rumah-rumah,barang-barang dagangan, hamba-hamba sahaya adalah menjadi milikmu. Engkau bebas membelanjakannya ke jalan mana yang engkau redhai !”

Itulah sebagaimana Firman Allah SWT yang bermaksud:”Dan Dia (Allah) mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kekayaan”.(Adh-Dhuhaa: 8) Alangkah bahagianya kedua pasangan mulia itu, hidup sebagai suami isteri yang sekufu,sehaluan, serasi dan secita-cita.

Dijamin Masuk Syurga

Khadijah r.a mendampingi Muhammad SAW. selama dua puluh enam tahun, yakni enam belas tahun sebelum dilantik menjadi Nabi, dan sepuluh tahun sesudah masa kenabian. Ia isteri tunggal, tak ada duanya, bercerai karena kematian. Tahun wafatnya disebut “Tahun Kesedihan” (‘Aamul Huzni).

Khadijah r.a adalah orang pertama sekali beriman kepada Rasulullah SAW. ketika wahyu pertama turun dari langit. Tidak ada yang mendahuluinya.

Ketika Rasulullah SAW menceritakan pengalamannya pada peristiwa turunnya wahyu pertama yang dihantar Jibril ‘alaihissalam, dimana beliau merasa ketakutan dan menggigil menyaksikan bentuk Jibril a.s dalam rupa aslinya, maka Khadijahlah yang pertama dapat mengerti makna peristiwa itu dan menghiburnya, sambil berkata:

“Bergembiralah dan tenteramkanlah hatimu. Demi Allah SWT yang menguasai diri Khadijah r.a, engkau ini benar-benar akan menjadi Nabi Pesuruh Allah bagi umat kita.

“Allah SWT tidak akan mengecewakanmu. Bukankah engkau orang yang sentiasa berusaha untuk menghubungkan tali persaudaraan? Bukankah engkau selalu berkata benar?Bukankah engkau sentiasa menyantuni anak yatim piatu,menghormati tetamu dan menghulurkan bantuan kepada setiap orang yang ditimpa kemalangan dan musibah?”

Khadijah r.a membela suaminya dengan harta dan dirinya di dalam menegakkan kalimah tauhid, serta selalu menghiburnya dalam duka derita yang dialaminya dari gangguan kaumnya yang masih ingkar terhadap kebenaran agama Islam, menangkis segala serangan caci maki yang dilancarkan oleh bangsawan-bangsawan dan hartawan Quraisy.Layaklah kalau Khadijah r.a mendapat keistimewaan khusus yang tidak dimiliki oleh wanita-wanita lain iaitu, menerima ucapan salam dari Allah SWT. yang dihantar oleh malaikat Jibril a.s kepada Rasulullah SAW. disertai salam dari Jibril a.s peribadi untuk disampaikan kepada Khadijah radiallahu ‘anha serta dihiburnya dengan syurga.

Kesetiaan Khadijah r.a diimbangi oleh kecintaan Nabi SAW kepadanya tanpa terbatas. Nabi SAW pernah berkata: “Wanita yang utama dan yang pertama akan masuk Syurga ialah Khadijah binti Khuwailid, Fatimah binti Muhammad SAW., Maryam binti ‘Imran dan Asyiah binti Muzaahim,isteri Fir’aun”.

Wanita Terbaik

Sanjungan lain yang banyak kali diucapkan Rasulullah SAW. terhadap peribadi Khadijah r.a ialah: “Dia adalah seorang wanita yang terbaik, karena dia telah percaya dan beriman kepadaku di saat orang lain masih dalam bimbang keingkaran; dia telah membenarkan aku di saat orang lain mendustakanku; dia telah mengorbankan semua harta bendanya ketika orang lain mencegah kemurahannya terhadapku; dan dia telah melahirkan bagiku beberapa putera-puteri yang tidak ku dapatkan dari isteri-isteri yang lain”.

Putera-puteri Rasulullah SAW. dari Khadijah r.a sebanyak tujuh orang: tiga lelaki (kesemuanya meninggal di waktu kecil) dan empat wanita. Salah satu dari puterinya bernama Fatimah, dinikahkan dengan Ali bin Abu Thalib, sama-sama sesuku Bani Hasyim. Keturunan dari kedua pasangan inilah yang dibangsakan sebagai keturunan langsung dari Rasulullah SAW.
»»  READMORE...

Pernikahan Imam Ali as dan Sayyidah Fatimah as

Tanggal 1 Dzulhijjah 1433H, yang jatuh pada tanggal 17 Oktober 2012, adalah hari pernikahan dua manusia suci, Imam Ali as dan Sayyidah Fathimah as pada tahun 2H. Rasulullah Saw bersabda bahwa sebelum mereka menikah di bumi, Allah telah menikahkan keduanya di langit. Untuk memperingati hari berbahagia ini, kami menurunkan kisahnya, diambil dari kitab Innahaa Fathimah Az-Zahra karya Muhammad Abduh Yamani. Buku ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul “Hanya Fatimah, Bunga Nan Jadi Bunda Ayahnya”, dan diterbitkan Pustaka Iiman, Desember 2007. Untuk tulisan ini, isi diambil dari terjemahan al-Habib Abdul Qodir Ba’abud yang dimuat di blog beliau di http://anaknyaabi.wordpress.com/ [majulah-ijabi.org] **** 

Ketika Sayyidatuna Fatimah Azzahro’ mencapai usia ke-18, sebagian sahabat datang untuk melamarnya, di antaranya datang Sayyidina Abu Bakr, dan Rasulullah hanya diam lalu berkata “Aku menunggu perintah dari Allah”.Kemudian datang Sayyidina Umar maka Rasulullah menjawab sebagaimana jawaban pada Sayyidina Abu Bakr. Maka beliau berdua mendatangi Sayyidina Ali bin Abi Thalib seraya berkata “Wahai Ali engkau termasuk salah satu orang yang pertama masuk Islam dan engkau adalah begini.. begini.. dan begini…” Sayyidina Abu Bakr dan Umar memberi semangat pada Sayyidina Ali dan berkata “Sebaiknya engkau pergi melamar Fatimah dari Rasulillah dan engkau adalah orang yang pantas dan berhak memilikinya, engkau juga adalah sepupunya.” Maka berangkatlah Sayyidina Ali dalam keadaan malu yang sangat, lalu masuklah beliau kepada Rasulullah dengan rasa malu yang sangat besar, duduk di hadapan Rasulullah dan beliau Saw. melihat dari mata Sayyidina Ali terpancar sebuah kata-kata dan rasa malu. Rasulullah berkata “Apa yang ada di benakmu wahai Ali ?” Sayyidina Ali menjawab dengan mata yang berkaca-kaca “Terlintas di benakku Fatimah duhai Rasulallah”. Maka Rasulullah menjawab “marhaban wa ahlan” Sayyidina Ali pun terdiam dan tersipu malu. Begitu juga Nabi terdiam dan malu beberapa saat yang cukup lama. Dalam benak Rasulullah ingin Sayyidina Ali untuk membuka pembicaraan, dan Sayyidina Ali dalam keadaan malu yang sangat sehingga tak mampu meneruskan kata-katanya. Maka keluarlah Sayyidina Ali, dan para sahabat telah menunggu di luar dan bertanya “Apa yang Rasulullah katakan padamu ?” Sayyiduna Ali menjawab ”Rasulullah berkata ‘marhaban wa ahlan’”. Para sahabat berkata “Wahai Ali, cukup seandainya Rasulullah berkata padamu satu saja, tapi Rasulullah telah memberimu dua jawaban yaitu ‘marhaban wa ahlan’ tidak diragukan lagi bahwa Rasulullah telah menyetujuinya.” 

Dalam riwayat yang lain: Ketika Rasulullah berada di masjid, Rasulullah berkata bahwa sesungguhnya Allah Swt telah menikahkan Fatimah dengan Ali di langit dan aku telah menikahkannya dengan Ali maka semua sahabat Ra. yang ada di masjid pun menjadi saksi. Di sebagian riwayat mengatakan: Rasulullah berkata kepada Sayyidina Ali “Hai Ali apakah kau memiliki sesuatu yang bisa kau jadikan sebagai mahar?” Maka Sayyidina Ali berkata “Wahai Rasulullah aku tak memiliki sesuatu apapun kecuali pedang dan baju perangku.” Karena Sayyidina Ali tergolong orang yang tidak mampu, yang tumbuh besar dalam didikan Rasulullah, seperti kita ketahui bahwa Beliau hidup dalam kezuhudan dan kemiskinan yang tidak memiliki apa-apa maka Ali pun menjawab seperti itu. “Duhai Ali mengenai pedangmu engkau harus tetap menggunakannya untuk berperang di jalan Allah sedang baju zirahmu juallah!” Maka Sayyidina Utsmanmembeli baju perang tersebut dengan harga 480 dirham lalu Sayyidina Ali memberikan hasil penjualan itu kepada Rasulullah. Rasulullah mengambil 1/3-nya untuk membeli minyak wangi dan sebagian digunakan untuk menghias rumah Fatimah. Disebutkan dalam sebagian riwayat Rasulullah masuk kamar Fatimah untuk bermusyawarah dengannya dan berkata “Wahai Fatimah sesungguhnya Ali ingin meminangmu dan kau telah mengenal Ali dengan baik.” Maka Sayyidatuna Fatimah diam dan tersipu malu. Rasulullah mengetahui dengan diamnya Fatimah itu berarti dia telah ridha dan menyetujuinya. Maka dimulailah persiapan untuk menggelar pernikahannya. Akan tetapi, tahukah anda perlengkapan apa yang dipersiapkan oleh Azzahra? Bagaimana dengan zaman ini, seorang anak gadis sekarang mungkin salah satu dari mereka merepotkan keluarganya dan mereka tidak rela jika pernikahan mereka dilakukan dengan sederhana. Dengan menginginkan ini dan itu, coba perhatikan ini adalah Sayyidatuna Fatimah, pemimpin para wanita di surga nanti. Apakah perlengkapan yang disiapkan Fatimah? Persiapan yang dilakukan Sayyidatuna Aisyah dan sebagian iring-iringan Ummahatul Mukminin dengan membawaperlengkapan nikah menuju rumah Fatimah, lalu Sayyidatuna Aisyah berkata “Kami gelarkan di kamar Fatimah pasir halus sebagai permadani yang menghiasi kamar Sang Bunga dan didatangkan bantal dari kulit yang didalamnya dipenuhi dengan pelepah kurma yang mana bantal ini bakal dijadikan sebagai alas tidur mereka. Dengan perabot alat penggiling gandum dan bejana tempat air (kendi) juga beberapa minyak wangi serta dipersiapkan tempat menyimpan baju (yang sekarang dikenal dengan nama lemari).” Tahukah anda bagaimana bentuk lemari tersebut? Sayidatuna Aisyah berkata “Kami tancapkan antara dua dinding sebatang kayu untuk meletakkan pakaian mereka dan tempat untuk menggantungan tempat air juga barang-barang mereka yang mana kayu ini sebagai segala tempat penyimpanan” (seperti lemari di zaman ini). Subhanallah, bagaimana dulu keadaan mereka dalam kezuhudan ini? Dalam keadaan yang sangat memprihatinkan ini?? Akan tetapi Nabi Saw telah memberi kabar bahwa dunia tidak pantas untuk Muhammad dan keluarga Muhammad. Dimana Rasulullah tidak pernah menoleh dan disibukkan oleh dunia ini. Sedangkan Sayyiduna Hamzah datang dengan membawa dua onta yang sangat istimewa sebagai jamuan makan untuk para tamu-tamu yang datang. Sayyidatuna Aisyah berkata “Maka kami memakan kurma dan kismis dan demi Allah aku tak melihat pernikahan yang lebih mulia dari pernikahan Fatimah.” Bagaimana bisa sebuah pernikahan dapat menandingi pernikahan Fatimah yang mana pernikahan Fatimah telah dirayakan di langit sebelum dirayakan di bumi dengan ‘Inayah Allah Swt. Lalu dimulailah perayaan pernikahan, Nabi pun keluar dengan membawa bighol/binatang sejenis kuda dan berkata “Naiklah wahai putriku Fatimah.” Lalu beliau menyuruh Salman “Bawa dan tuntun ia menuju rumah Sayyidina Ali” dan Rasulullah mengikuti di belakang dengan Sayyidina Hamzah beserta keluarga Bani Hasyim sebagai arak-arakan menuju rumah Sayyidina Ali. Rasulullah menyuruh sebagian perempuan untuk mengarak Sayyidatuna Fatimah dengan disertai lantunan sya’ir-sya’ir pujian dan takbir kepada Allah serta menarik Sayyidatuna Fatimah dalam arak-arakan tersebut. Sungguh pernikahan yang sangat indah dan meria…. Pernikahan yang membuat seluruh alam riang gembira…. Pernikahan sang putri yang akan menjadi pemimpin para wanita di surga nantinya…. Pernikahan yang akan menghasilkan para kesatria-kesatria yang akan menjadi pemimpin pemuda di surga…. Mudah-mudahan Allah menjadikan kita semua termasuk dalam lingkupan kebahagiaan ini…. Dan dicatat sebagai orang-orang yang singgah di telaga Rasulullah dan masuk ke surga Allah nanti.. Aamiin.. Aamiin.. Ya Rabbal ‘Alamiin. Para Ummahatul Mu’minin saling berlomba-lomba. Taukah kalian atas apa mereka saling berlomba-lomba?? Mereka berlomba-lomba untuk mendapat ridha Rasulullah Saw… Para Ummahatul Mu’minin tahu bahwa Rasulullah sangat amat mencintai putrinya ini. Tidak pernah mencintai seorang manusia pun seperti cintanya pada putrinya ini sama sekali. Mereka tahu jika mereka menggembirakan dan membantu Fatimah, mereka mendapat tempat yang sangat khusus di hati Rasulullah Saw.. Kemudian sebagaimana kalian ketahui seorang anak gadis di hari pernikahannya siapakah yang paling diharapkan?? Yang sangat diharapkan dan dibutuhkan adalah seorang ibu. Tapi kemanakah Khadijah binti Khuwailid?? Sesungguhnya Khadijah telah dikuburkan di bumi Makkah yang tandus. Di hari pernikahan Sayyidatuna Fatimah, Rasulullah teringat pada istri tercintanya yaitu Khadijah, maka Rasulullah menuntun Sayyidatuna Fatimah masuk ke dalam rumah Sayyiduna Ali. Para wanita-wanita berdatangan dan masuk ke kamar Sayyidatuna Fatimah. Kemudian Ummi Salamah melantunkan sya’ir-sya’ir pujian yang diiringi oleh para wanita-wanita yang berbunyi: Sirna bi aunillahi jaaroti wasykurna hu fikulli halati (Dengan rahmat Allah kita menjadi tetangga, rasa syukur kami atas semua nikmat ini) Wadzkurna ma an ama Rabbul ‘Ula minkasyi makruhati wa afati (Ingatlah atas kelapangan yang Allah berikan dari segala malapetaka dan musibah) Faqot hadana ba’da kufrin waqot an asyana Rabbus samawati (Juga atas pentunjuk sehinga kita terlepas dari kekufuran dan Allah memberi kita kehidupan) Sirna ma’a khoiri nisail waro tufda biammatin wakholati (Sehingga bersama sebaik-baik wanita yang kami siap menjadikan orang yang kami cintai sebagai tebusanmu) Ya bintaman fadholahu dul ula bilwahyi minhu warrisalati (Wahai putri seorang yang diagungkan dengan sebuah wahyu dan kerasulan) Saat itu para wanita-wanita melantunkan bait-bait syair yang mana mereka berusaha agar dapat menggembirakan hati Sayyidatuna Fatimah. Kemudian Nabi Saw. membawa masuk Fatimah ke rumah Sayyidina Ali dan berkata “Jangan kau sentuh istrimu sampai aku kembali.” Maka Rasulullah kembali menuju masjid untuk menunaikan shalat Isya’. Bagaimana keadaan manusia sekarang? Berapa banyak dengan sebab acara pernikahan memudahkan urusan shalat atau bahkan meninggalkannya? Tapi Rasulullah Saw. tidak ada di dalam hatinya yang lebih mulia dari shalat. Maka Rasulullah Saw. kembali ke masjid untuk melaksanakan shalat Isya’ bersama para sahabat dan para tamu, Nabi memberikan pencerahan serta memberikan nasehat-nasehat. Setelah itu Rasulullah dengan cepat berjalan menuju rumah Sayyidatuna Fatimah. Ketika Rasulullah masuk, semua para wanita keluar kecuali satu yang tidak keluar, yaitu Asma’ binti Umais, menemani Fatimah berada duduk di ujung kamar. Kemudian Nabi berkata”Siapa ini?” Asma’: “Asma’” Nabi: “Binti Umais?” Asma’: “Iya wahai Rasulullah” Nabi: “Mengapa kau tidak keluar?” Asma’ binti Umais berkata “Wahai Rasulullah, seorang wanita atau anak gadis di hari seperti ini sangat membutuhkan seorang teman wanita yang bisa diajak curhat dan diskusi.” Subhanallah, anak gadis di hari pernikahannya, di zaman yang penuh kehormatan dan adab mungkin dia tidak mengerti perkara-perkara atau tata cara serta urusannya, bahkan mungkin ia tertimpa rasa malu, mungkin terjadi atasnya perkara-perkara yang tidak ia mengerti. Asma’ bertanya “Bolehkah aku temani dia?” Maka Rasulullah Saw. teramat sangat gembira, karena Asma’ membuat putrinya terhibur dan tenang. Bagi Fatimah di hari seperti ini, ia sangat membutuhkan ibunya, Khadijah. Dan Asma’ binti Umais berusaha menggantikan sebagian peran Khadijah, oleh karena itu Rasulullah Saw. gembira. Asma’ binti Umais berkata “Maka Nabi Saw. pun mendoakanku dengan doa-doa yang sangat banyak. Demi Allah, aku sangat mengharapkan doa-doa itu. Dan inilah yang selalu ku harapkan dan ku impi-impikan.” Padahal Asma’ binti Umais termasuk dariwanita-wanita yang penuh perjuangan dan ikut hijrah serta memiliki sebuah peran yang besar bagi para muslimat. (Di sebagian riwayat bukan Asma’, akan tetapi Ummu ‘Aiman) **** [Untuk melengkapi cerita ini, ada riwayat lain yang dikutip dari sumber yang berbeda. Kami menempatkan dalam kurung kotak di tulisan ini. Diambil dari Kitab Hayaatu Zahra, 'Allamah Najafi, hal. 159 dan diterjemahkan oleh Ustadz Miftah Rakhmat. (majulah-ijabi.org) Dari Asma binti 'Umais: menjelang Sayyidah Khadijah wafat, beliau tampak menangis. Aku bertanya kepadanya, "Junjunganku, gerangan sebab apa yang membuatmu menangis? Bukankah engkau perempuan utama, istri Nabi Islam termulia, yg dengan lisannya sendiri telah mengabarkan kepadamu kabar gembira tentang surga?" Sayyidah menjawab: "Aku tidak menangis karena kematian. Aku menangis karena setiap perempuan biasanya ditemani seseorang sebelum malam pernikahannya, memberitahukannya segala sesuatu yg peru diketahuinya, berkenaan dengan hal ihwal perempuan dlm rumah tangga. Siapakah yg akan menemani putriku Fathimah di malam pernikahannya? Ia tidak punya seorang pun yg akan menolongnya..." Aku berkata: "Junjunganku, inilah janjiku kepadamu. Sekiranya usiaku dipanjangkan hingga tiba saat itu, aku akan melakukan tugas itu. Untukmu, karenamu." Hingga tibalah saat itu. Malam jelang pernikahan Sayyidah Fathimah. Rasulullah Saw tiba di kamar sederhana Fathimah dan meminta semua perempuan yg ada di tempat itu untuk keluar. Semuanya keluar, kecuali aku. Ketika Nabi hendak melangkah pergi, beliau melihat kelebat bayanganku. Nabi bertanya: "Siapakah engkau?" Aku menjawab: Asma binti 'Umais. Nabi Saw: "Bukankah aku sdh memintamu untuk meninggalkan kamar?" Aku berkata: Benar ya Rasulallah, demi ayah dan ibuku, aku tak ingin tak menjalankan perintahmu. Tapi ini adalah janjiku kepada Sayyidah Khadijah. Inilah saatnya aku tunaikan. Kemudian aku kisahkan pada Nabi Saw saat-saat terakhir Sayyidah Khadijah dan janjiku kepadanya. Mendengar itu Rasulullah Saw menangis dan berkata: "Karena itukah engkau tetap di tempatmu?" Aku menjawab: Benar ya Rasulallah, aku bersumpah demi Allah." Lalu Nabi mengangkat kedua tangannya dan mendoakanku] **** Asma’ berkata “Maka Rasulullah mendoakan aku ‘Allahummah fadzha minassyaithan wahfadzha ‘an yaminiha wa ‘an syimaliha wa min amamiha wa min khalfiha wa min fauqiha wa min tahtiha.” Asma’ berkata “Maka Rasulullah mendoakanku dengan doa yang begitu banyak. Demi Allah, doa-doa itulah yangselalu kuharap atas apa-apa yang aku miliki.” (‘Alaihim Ridwanullahi Ta’ala) Kemudian duduklah Nabi SAW. seraya mendoakan pada kedua mempelai dan mengambil sedikit air, dan menggunakannya untuk berwudhu’ dan membaca-bacakan air tersebut. Kemudian berkata pada Fatimah “Menghadaplah padaku.”, maka Nabi memercikkan air pada dadanya. Nabi berkata “Baliklah.” Nabi memercikkan air pada punggungnya serta kepalanya seraya berdoa “Allahumma inni uidzuha bika wa durriyataha minassyaithanirrajim.”. Kemudian Nabi Saw. memanggil Sayyiduna Ali dan berkata “Menghadaplah kapadaku.” Nabi pun memercikkan air pada dadanya, kemudian memercikkan air pada punggungnya serta mendoakannya dengan doa yang sangat agung. Kemudian mendoakan mereka berdua dengan doa “Allahumma barik fiihima wa barik alaihima wa barik lahuma finaslihima.” Kemudian melanjutkan doanya “Allahumma hadzihi binti wa ahabbul khalqi ilaiyya, Allahumma hadzaakhi wa ahaabul khalqi ilaiyya, Allahummajalhu laka waliyyan wa bika hafiyyan wa barik fi ahlihi (Ya Allah, ini ‘Fatimah’ adalah anakku dan dia adalah seseorang yang paling aku cintai, Ya Allah dan ini ‘Ali’ adalah saudaraku dan dia adalah seseorang yang aku cintai, Ya Allah jadikanlah Ali sebagai penolong (wali) bagi-Mu, dan jadikan hambamu yang selalu mengabdi pada-Mu) Kemudian Nabi Saw. menuju pintu keluar, ketika Nabi memegang daun pintu, Nabi memberikan nasihat-nasihat pada kedua mempelai dan berkata “Wahai Fatimah, tugasmu adalah segala urusan di dalam rumah. Dan engkau wahai Ali, tugasmu adalah semua urusanyang ada di luar rumah. Kemudian Nabi berhenti di tengah pintu dan mendoakan kedua mempelai tersebut, dan meminta kepada Allah agar menjaga keduanya serta mengeluarkan dari mereka keturunan yang shaleh. Maka kedua mempelai tersebut melalui hari dan malamnya dengan keindahan dan kebaikan. Ketika muncul mentari pagi, Rasulullah bergegas menuju rumah Fatimah. Yang mana demi Allah tidaklah ada pagi dan sore kecuali Rasulullah Saw melalui rumah Fatimah. Tahukah anda mengapa? Semua itu karena Fatimah memiliki tempat khusus di hati Rasullullah Saw. Di pagi hari itu Rasulullah pun menuju rumah Fatimah, kemudian meminta izin dan masuk seraya memberikan salam kepada mereka berdua kemudian bertanya “Bagaimana kau temukan istrimu wahai Ali?” Sayyidina Ali menjawab “Sebaik-baiknyapendamping untuk membantu dalam ke taatan.” Kemudian Nabi bertanya kepada Sayyidatuna Fatimah “Bagaimana kau temukan suamimu wahai Fatimah?” Fatimah menjawab “Wahai ayahku, dia adalah sebaik-baiknya suami”. Maka Rasulullah Saw. menganggkat tangannya dan berdoa “Allahumma ijma’syamlahuma wa allif baina qulubaihima waj’alhuma wa dzurriyyatahuma min waratsatil jannah warzuq huma dzurriyyatan thahiratan mubarakatan waj’al dzurriyyatahuma albarakah waj’alhum aimmatan yahduna biamrika íla tha’atik.” (Ya Allah, kumpulkan mereka dalam kebaikan dan satukan hati mereka berdua dan berikan pada mereka keturunan yang menjadi penduduk surga. Serta berikan atas mereka berduasebuah keturunan yang bagus, yang suci,yang penuh keberkahan. Dan jadikan setiap anak cucuk mereka keberkahan dan jadikan mereka semua para pemimpin yang memberi hidayah denganperintah-perintah-Mu kepada ketaatan) Sayyidina Anas berkata, yang mana beliau adalah periwayat semisal doa-doa ini dari Rasulullah Saw.. Beliau berkata “Demi Allah, telah Allah keluarkan dari mereka berdua (Sayyidatuna Fatimah dan Sayyidina Ali) keturunan-keturunan yang banyak dan baik. sumber: http://www.majulah-ijabi.org/9/post/2012/10/pernikahan-imam-ali-dan-sayyidah-fatimah-as.html

 
»»  READMORE...

Selasa, 29 Mei 2012

KEMULIAAN SUNNAH YANG TERLUPAKAN (AYYAMUL BIDH)


Syarat diterimanya suatu ibadah adalah, bila itu ibadah mahdhah adalah mengikuti manhaj yang benar dan juga memiliki dasar berupa contoh dari rasulullah. Begitu pun dengan amalan ibadah sunnah.  Yang akan saya bahas disini adalah tentang puasa sunnah. Saat saya lontarkan tenatng puasa sunnah, pastilah terbesit puasa senin kamis sebagai puasa sunnah rutin kita, atau puasa dawud, atau puasa syawal 6 hari. Satu hal mungkin yang belum banyak diketahui oleh setiap orang bahwa ada puasa sunnah tahunan yang  bernama ayyamul bidh yakni puasa tiga hari setiap bulan disunnahkan dan nilainya terhitung seperti puasa dahr (tahunan), karena amal shalih dalam Islam diganjar sepuluh kali lipat. Berpuasa sehari diganjar seperti puasa sepuluh hari. Maka siapa yang berpuasa tiga hari setiap bulannya, dia terhitung berpuasa setahun penuh. Seperti yang diriwayatkan oleh Imam At-thirmidzi  : Barangsiapa yang berpuasa tiga hari setiap bulan, maka seolah-olah dia seperti orang yang berpuasa selama-lamanya yang juga diriwayatkan oleh imam Al Bukhari Hadis ini juga diriwayatkan oleh Imam Bukhari, XI/ 228, no. 3166; Ibnu Majah, V/230, no. 1697.
Ayyâmulbidh adalah hari-hari pada pertengahan setiap bulan Qomariyah ayau hijriyah yaitu tanggal 13, 14 dan 15,  disebut ayyâmul bidh karena kata ayyâm yang berasal dari bahasa arab yang bermakna hari-hari ia bentuk plural dari yaum, sedangkan bidh dalam bahasa arab bermakna putih, sehingga kalau kita gabungkan ayyâmulbidh mengandung arti hari-hari putih. Adapun disebut demikian karena pada tanggal tersebut kondisi bulan sedang purnama dimana bulan memancarkan cahayanya pada Bumi dan meneranginya.
Dari Abdullah bin 'Amr, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Puasalah tiga hari dari setiap bulan. Sesungguhnya amal kebajikan itu ganjarannya sepuluh kali lipat, seolah ia seperti berpuasa sepanjang masa." (HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud, dan an Nasai)

 Dan disunnahkan melaksanakannya pada Ayyamul Bidh (hari-hari putih), yaitu tanggal 13, 14, dan 15 dari bulan Hijriyah. Berdasarkan riwayat Abi Dzarr, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: 
"Wahai Abu Dzarr, jika engkau ingin berpuasa tiga hari dari salah satu bulan, maka berpuasalah pada hari ketiga belas, empat belas, dan lima belas." (HR. At Tirmidzi)

Dari Jabir bin Abdillah, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda;
"Puasa tiga hari setiap bulan adalah puasa dahr (puasa setahun). Dan puasa ayyamul bidh (hari-hari putih) adalah hari ketiga belas, empat belas, dan lima belas." (HR. An Nasai dan dishahihkan al Albani)

Terkadang permulaan puasa ini berbeda antara satu negeri dengan negeri lainnya, sesuai dengan permulaan bulan yang ada di sana. Dan jika tidak melaksanakan shaum itu pada Ayyamul Bidl, tidak mengapa melaksanakannya pada awal bulan atau akhir bulan. Dari Mu'adzah ad 'Adwiyah, seseungguhnya ia pernah bertanya kepada 'Aisyah radliyallah 'anha: "Apakah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam biasa melaksanakan shaum selama tiga hari setiap bulannya?" Aisyah menjawab: "ya". Ia pun bertanya lagi: "Hari-hari apa saja yang biasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam melaksanakan shaum?" Aisyah pun menjawab: "Tidak pernah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memperhatikan hari keberapa dari setiap bulannya beliau melaksanakan shaum." (HR. Muslim)
Dalam Majmu' Fatawa wa Rasail, Syaikh Muhammad bin Shalih Al 'Utsaimin berkata, "Seorang boleh berpuasa pada awal bulan, pertengahannya, ataupun di akhirknya secara berurutan atau terpisah-pisah. Tetapi yang paling afdhal (utama) dilaksanakan  pada Ayyamul Bidl, yaitu tanggal tiga belas, empat belas, dan lima belas.
Hal ini berdasarkan hadits Aisyah radliyallah 'anha, "adalah Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berpuasa tiga hari setiap bulan, tidak terlalu peduli apakah berpuasa di awal atau di akhir bulan." (HR. Muslim)

Ayyamulbidh dan  pengaruh psikis terhadap  gravitasi bulan 
Selain itu ada keutamaan lain, yaitu Ayyammulbidh ternyata memiliki keterkaitan dengan psikologi manusia. Dikutip dari Nanda Hanifa, Seorang peneliti berkebangsaan Amerika pernah mengadakan penelitian mengenai kondisi kejiwaan manusia ketika terjadi bulan purnama. Penelitian itu menyimpulkan bahwa kondisi kejiwaan manusia saat bulan purnama cenderung lebih labil, emosional, dan tidak terkendali. Semua perasaan menjadi mudah membuncah dari dalam diri. Mudah marah, mudah tersinggung, mudah senang, mudah sedih, pokoknya semua sifat yang ada pada dirinya menjadi lebih mudah teraktualkan kedalam perilaku keseharian. Mungkin inilah salah satu penyebab banyak mitos dan film yang mengaitkan antara monster atau hantu dengan bulan purnama. Dengan Puasa, pada dasarnya menuntun kita agar menundukkan nafsu kita. Ketika kita berpuasa, kita dituntut untuk dapat mengendalikan emosi kita dan menjaga syahwat kita.

Ketika ilmu sains modern mengungkapkan adanya kelabilan emosi manusia saat bulan purnama, Islam telah menganjurkan untuk melaksanakan puasa tepat saat munculnya sang bulan purnama. Islam telah memberi jalan pada umatnya agar tidak terkena pengaruh kelabilan emosi yang terjadi pada tanggal tersebut. Rasulullah menganjurkan kita berpuasa, agar hati kita selalu terjaga dari amarah, nafsu, dan segala sifat buruk lain yang cendrung lebih meluap pada saat itu dibanding saat-saat lainnya.

Apalagi karena kita jarang menggunakan penanggalan qomariyah, sehingga  terkadang sunnah yang begitu mempesona ini terlewatkan. Maka saatnya kita kembali,  ihya ‘us sunnah  menghidupkan sunnah dengan mulai membiasaka  Shaum Ayyamulbidh,   agar semakin terbiasa dengan penggunaan penanggalan hijriyah dan semakin  terkendali jiwa kita. 

Referensi :
Fiqh Puasa , DR. Yusuf Qardhawi, Terbitan ERA Intermedia  (sumber)
»»  READMORE...

Jumat, 09 Maret 2012

Indahnya Cinta Illahiah

Bismillahir rahmaanir rahiim
Allahumma shalli ‘alaa Muhammadin wa ‘alaa aali Muhammadin wa sallim

Cinta kepada Allah dan para hambaNya merupakan keindahan yang sungguh luar biasa. Jika kita mengerjakan sesuatu dengan cinta, Allah akan menerima dan membuatnya terasa jauh lebih menyenangkan. Jika kita mencintai pekerjaaan kita, hal ini akan terasa lebih mudah mengerjakannya meski berat sekalipun. Namun jika sebaliknya, hal ini akan terasa membebani. Allah SWT berfirman, “Aku tidak membutuhkan ibadah kosongmu, Aku hanya mencari cinta yang kau berikan.” Untuk itu berhati-hatilah, jika shalat, lakukanlah dengan cinta bukan dengan keterpaksaan, seakan ada pengawas yang mengawasimu dengan cambuk di tangannya. Allah tidak akan menghargai ibadah seperti ini. Kini kebanyakan orang hanya melaksanakan kewajiban yang telah dianjurkan namun lupa memohon cinta Illahiah, sehingga kita bagaikan sebuah robot atau pesenam.

Allah telah meminta kita menggunakan tubuh ini untuk beribadah dan berlaku baik antar sesama, dengan jalan memberi sedekah, berbuat baik dan menjujung tinggi nilai-nilai kemanusian. Apakah yang akan menjadi buah dari ibadah ini? Jika kita lakukan tanpa cinta, buah ini akan terasa pahit dan terjadilah penolakan dalam diri. Namun jika kita melakukan ibadah karena cintaNya, maka kita senantiasa untuk terus menjaga dan melaksanakanya (istiqomah) dengan hati senang.

Cinta kepada Allah memang tidak mudah didapat karena kita tidak mampu untuk membayangkanNya. Karenanya Allah mengutus para Nabi untuk mewakili cintaNya. Kekasih Allah, Rasulullah Muhammad SAW adalah media yang murni untuk mentransmisikan cinta Ilahiah ini dan merupakan kebenaran yang Haqiqi, sehingga Rasulullah SAW bersabda “Siapa yang telah melihatku, berarti tela melihat kebenaran yang Haqiqi.”

Ketika delegasi non-muslim mengunjungi Madinah, mereka tercengang melihat cinta dan penghormatan yang diberikan para sahabat kepada Rasulullah SAW. Ketika pulang mereka lapor kepada pemimpinnya, “Kami telah banyak bertemu kaisar, raja dan kepala suku, tetapi belum pernah kami melihat seorang pemimpin yang pengikutnya begitu setia dan memperlakukannya dengan penuh cinta.” Bagaimanakah ini bisa terjadi? Mereka tidak pernah bisa memahami rahasia cinta ini, sebagaimana ego mereka menyebabkan mereka menolak kerasulan Nabi Muhammad SAW. Cinta sahabat kepada Rasulullah SAW begitu dalamnya sehingga mereka sanggup mengatakan “Kami rela berkorban untukmu Yaa Rasulullah SAW.” Kenyataannya banyak dari mereka yang menjalani penderitaan yang hampir tidak tertahankan demi iman mereka kepada misi Rasulullah SAW seperti diasingkan, tidak mendapat warisan, diboikot, disiksa bahkan mati. Kini siapakah yang akan mewakili Rasulullah SAW di dunia ini setelah beliau wafat? Mereka adalah orang-orang yang mampu menimbulkan cinta seperti itu. Rasulullah SAW sendiri memberikan gambaran bahwa siapa yang melihat mereka, akan ingat kepada Allah. Siapa yang merasa haus akan cinta Allah harus mencari orang-orang seperti itu, merekalah para wali Allah.

Allah telah memberikan suatu instrumen untuk mengukur bukan tekanan darah, tetapi “tekanan cinta” kita dan target kita adalah untuk membuatnya semakin besar. Ya carilah cara untuk meningkatkannya setiap hari. Rasulullah SAW pernah bersabda, “Siapa pun yang tidak mengalami peningkatan setiap hari, akan merugi.” Apa artinya? Hal ini bukan berarti bahwa jika hari ini kamu shalat 40 rakaat, lalu besok 41 rakaat dan lusa 42 rakaat. Tidak demikian. Apa yang diinginkan adalah kamu melakukannya dengan penuh kecintaan terhadap Allah, sehingga DIA bisa mengamati dan berkata, “hambaku telah mengirimkan cinta lebih banyak dari kemarin.” Seorang wali Allah memberikan suatu kesimpulan yang baik tentang cinta Illahiah “Sebutir atom cinta lebih berharga daripada 70 tahun beribadah tanpa cinta.”

Wa min Allah at taufiq

»»  READMORE...

Rabu, 07 Maret 2012

Zikir Cara Jitu Anti-Selingkuh

Suatu hari, seorang teman datang kepada saya. Sambil bergurau dia bertanya, “Bagaimana caranya mengawasi suaminya agar tidak selingkuh?” ''Apa perlu memasang kamera pengawas cctv agar selalu terlihat, atau memasang sistem GPS agar terdeteksi keberadaannya, atau bahkan ikut saja kemanapun dia pergi agar selalu terawasi?''

Hal seperti ini sama dengan masalah pengusaha dengan pekerjanya yang selalu curiga dan merasa waswas akan adanya kecurangan. Dalam sebuah hubungan, seperti suami-istri, pengusaha dengan pekerjanya, atau anak dengan orangtua memang sering muncul rasa khawatir yang berlebihan. Semua itu terjadi karena dasar yang melandasi komitmen kurang kuat. Apalagi jika salah satu pernah berbohong, maka akan muncul rasa ketidakpercayaan.

Jika kita mencoba menjawab pertanyaan tadi, bagaimana caranya mengawasi akanlah sulit. Karena itu kita sering kali meminta “kesadaran” kepada masing-masing atau setiap orang yang terlibat. Namun kesadaran seperti apa yang dapat diharapkan?

Jika seorang pencuri yang sedang berniat mencuri namun dia merasa ada yang mengawasinya, maka dia akan menunggu sampai tidak ada lagi yang melihat atau mengawasinya dan seketika itupun pencuri itu akan langsung beraksi. Namun jika ada satu sistem kontrol atau alat pengawas yang selalu berada di sisinya selama 24 jam, bagaimana dia bisa mencuri? Kamera pengawas cctv jika kabelnya putus atau listriknya mati tidaklah akan berfungsi, begitu juga dengan mandor yang selalu mengawasi jika dia letih maka akan tertidur.

Maka, sistem kontrol atau alat pengawas yang paling efektif adalah zikir. Hakikat zikir bukan hanya zikir lisan, namun lebih pada zikir qalbu, dzikir yang disertai muraqobah dan tafakur. Muraqobah adalah mengingat Allah di dalam hati, karena itu makna zikrullah adalah menghadirkan Allah ke dalam benak. Dan dengan selalu mengingat Allah dalam segala langkah, menghadirkan-NYA selalu dalam benak. Itulah suatu upaya untuk mencegah perbuatan dosa dan maksiat.

Perilaku qolbiah akan hadir manakala kita selalu mengingat Allah (zikrullah). “Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya” (QS. Al Ahzab, 33 : 41)

Dengan benteng zikir tidaklah perlu merasa waswas seorang istri terhadap potensi suaminya berselingkuh atau sebaliknya, dan tidaklah khawatir seorang pedagang terhadap kecurangan anak buahnya, dan hal-hal semacamnya. Dengan benteng zikir seorang koruptor akan berhenti korupsi dan seorang pembohong akan berhenti berbohong.

Oleh karena itu dalam surah Al-A’la ayat 14-15 Allah SWT berfirman, “Sungguh telah beruntung orang yang mensucikan dirinya dengan mengingat nama Rabb/Tuhannya, lalu ia shalat/berdoa”.

Dengan selalu berdikir dan shalat artinya kita berusaha mensucikan diri serta menjauhkan diri dari hal-hal yang buruk. “(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allahlah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar Ra’du, 13 : 28).

Dan bila saya, Anda, kita, dia dan mereka melakukannya, Insya Allah kita akan melihat hari esok yang lebih baik lagi.

Aamiin Ya Rabbal Al Amin. Tidaklah lebih baik dari yang berbicara ataupun yang mendengarkan, karena yang lebih baik di sisi ALLAH adalah yang mengamalkannya.
sumber: republika.co.id
»»  READMORE...

Suami-Suami Takut Allah

Sebuah serial televisi berjudul "Suami-suami Takut Istri" sempat digandrungi pemirsa televisi. Dengan kemasan yang menarik dan gayanya yang kocak, serial itu hadir menyentil bahkan terkadang mencoba mengangkat potret realitas seputar rumah tangga dan para tetangganya.

Ada sosok Tigor si preman berbadan besar yang sangat takut kepada istrinya. Serial ini juga menyajikan kebiasaan mereka (para suami) menggoda Preti gadis tetangga, tak terkecuali Sabeni sang RT yang dituakan. Dalam beberapa episode, serial itu juga mengangkat masalah kontekstual tentang “money politic” pemilihan pemimpin dan banyak hal lagi yang dicoba disentil lewat kemasan yang walaupun suami-suami ini selalu “berbohong pada istrinya”, namun tetap sebagai sebuah tayangan yang dinilai menghibur.

''Tidaklah cukup suami-suami takut istri, karena kalau mau selingkuh mah gampang. Semestinya, suami-suami takut Allah, itu baru sip,'' ujar seorang karyawan berstatus suami saat berbincang di pantry kantor PT Diplus.

''Wah, nanti malah ratingnya turun, nggak ada yang mau nonton, mas,'' seloroh Wandi yang biasa dipanggil Black Cat oleh teman-temannya.


***

Jika kita bahas lebih jauh, memang salah satu yang membentuk perilaku keseharian kita adalah motivasi. Menurut Imam Al-Ghazali, motivasi terbesar manusia adalah Khauf (takut) dan Roja (harap). Allah SWT telah mengajarkan kita tentang motivasi terbesar takut dan harap itu dalam bentuk surga dan neraka.

Dengan selalu berharap akan surga Allah dan takut terhadap azab neraka, maka konsep takwa akan dapat diimplementasikan dalam keseharian kita. Dalam surah As-Sajdah ayat 16, Allah menerangkan bahwa orang-orang yang percaya kepada ayat-ayat Allah, lambung mereka jauh dari tempat tidurnya (maksudnya adalah tidak tidur di waktu biasanya orang tidur untuk mengerjakan sholat malam) dan mereka selalu berdoa kepada Rabbnya dengan penuh rasa takut dan harap.

Memang diperlukan kesadaran untuk membentuk perilaku. Dan perilaku islami itu hanya bisa ditumbuhkan dengan kesadaran bahwa Allah yang hidup kekal lagi terus menerus (mengurus makhluknya) tidak mengantuk dan tidak pula tidur, selalu hadir, melihat dan menyaksikan semua perilaku kita. Kesadaran inilah yang membuat seseorang malu dan tak mau berbuat dosa.

Dalam sebuah hadis Rasullullah SAW bersabda, “Seseorang tidak mungkin mencuri atau melakukan kejahatan, sedangkan ia beriman kepada Allah dalam arti menyadari kehadiran dan pengawasan-Nya.'' (HR Muslim)

Dzakaro dalam arti menghadirkan dan dzikrullah dengan pemahaman selalu menghadirkan Allah akan membuat kita merasa selalu merasa tertuntun dalam setiap tingkah laku. Itulah yang selalu kita minta pula dalam surah Al-Fatihah ayat 6, ''Tunjukilah kami jalan yang lurus.”

Kata “ihdina” berasal dari kata hidayaah atau huda yang dapat diartikan dengan memberi petunjuk ke jalan yang lurus. Dan dengan meningkatkan kesadaran terhadap hadirnya Allah dalam setiap saat akan membantu kita dalam berperilaku dalam keseharian. Akhirnya membawa kita ke dalam jalan yang lurus yaitu jalan yang diridhai Allah SWT.

kesadaran tinggi terhadap pengawasan ini dinamai muraqobah. Imam Qusyairi dalam bukunya Risalah Al-Qusyairiyah menuturkan: tiga keutamaan dari kesadaran adanya pengawasan Allah itu. Pertama, muraqobah mendorong manusia melakukan evaluasi dan introspeksi diri (mahasabat Al nafs).Kedua, muraqobah meningkatkan rasa takut kepada Alloh SWT (makhafat Allah).Ketiga, muraqobah dapat meningkatkan amal kebaikan (shalih Al a’mal).

***

Dengan selalu mengedepankan motivasi harap dan takut akan membuat kita lebih waspada dalam setiap kesempatan. Lebih dari itu, Allah SWT menjanjikan keberuntungan atau kemenangan. Sebagaimana tercantum dalah QS An Nuur, 24 : 52), “Dan barang siap yang taat kepada Allah dan Rasul-NYA dan takut kepada Alloh dan bertaqwa kepada-NYA, maka mereka adalah orang-orang yang mendapat keberuntungan/kemenangan”.

Dalam tafsir Al-Misbah diterangkan, kata Al-fa’izun adalah bentuk jamak dari kata fa’iz yakni peraih keberuntungan. Kata tersebut diambil dari kata fa’uz dan dapat diterjemahkan dengan keberuntungan atau kemenangan.Oleh karena itu dengan taat kepada Allah dan Rasul-Nya dan takut (disebabkan dosa-dosa yang telah diperbuat) serta bertaqwa (dalam artian menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya), maka kita akan menjadi peraih keberuntungan atau termasuk kepada orang-orang yang meraih kemenangan. Insya Allah.

Kembali kepada konteks judul “Suami-Suami Takut Allah” adalah suatu bentuk upaya mengingatkan dan mengembalikan kesadaran kita sebagaimana mestinya secara realita, agar judul "Suami-Suami Takut Istri" itu hanyalah sebuah bentuk hiburan tayangan televisi.

Yang memang walaupun sedikit banyaknya mengangkat potret-potret realitas, tetapi tetap tidak dalam koridor yang secara tidak langsung menyatakan bahwa sebaiknya suami-suami itu tidak seperti itu.

Hendaklah suami-suami sebagai pemimpin; kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita,…(QS. An Nisaa, 4 : 34). Memelihara dirinya sendiri, keluarga dan lingkungan agar terhindar dari api neraka.

Sebagaimana ayat, "Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka….” (QS. At Tahrim 66 : 6)

Semoga kita termasuk orang-orang yang beriman, yang selalu memelihara diri, keluarga, dan lingkungan kita agar selalu jauh dari api neraka.

Aamiin, Ya Rabbul Al Amin.

Tidaklah lebih baik dari yang berbicara ataupun yang mendengarkan, karena yang lebih baik disisi ALLAH adalah yang mengamalkannya.
REPUBLIKA.CO.ID
»»  READMORE...

Inilah Kunci Agar Hidup Menjadi Indah

Saat ini secara umum umat Islam sudah sangat jauh meninggalkan Alquran. Jangankan men-tadabburi, membacanya saja terkadang sudah tidak sempat lagi, lantaran 'kesibukan' sehari-hari. Sudah barang tentu kita memiliki kesibukan masing-masing, mulai dari bekerja mencari nafkah, belajar, mengurus rumah tangga dan keluarga, serta aktivitas sosial.

Namun, betulkah di tengah atau di antara sekian banyak kesibukan tersebut kita benar-benar tidak mempunyai lagi waktu untuk (sekadar) membaca Alquran? Jika kita mengatakan ya untuk pertanyaan di atas, mungkin kita perlu berkaca kepada kehidupan Rasulullah dan para salafushshalih. Mereka senantiasa berinteraksi secara intensif dengan Kitab Suci ini di sepanjang kehidupan.

Bagi mereka, Alquran adalah wirid (bacaan) harian, ibarat 'makanan' yang wajib dikonsumsi setiap hari sehingga ada yang mengkhatamkan bacaan Alquran setiap 10 hari, seminggu sekali, atau tiga hari sekali. Imam Syafi'i bahkan menuntaskan 60 kali bacaan Alquran pada setiap bulan Ramadhan. Tingkat minimal bacaan Alquran para sahabat adalah sebanyak tiga juz sehari, yaitu ketika mereka dalam keadaan semangat beramal menurun.

Komitmen mereka terhadap Alquran terbentuk sedemikian rupa karena keyakinan yang mendalam bahwa kunci kesuksesan, rahasia kemenangan, dan kebahagiaan hidup tersimpan di dalam Kitab Suci tersebut. Untuk menyingkap kunci dan rahasia tersebut tentu saja harus diawali dengan banyak membacanya (QS 29:45; 33:34), baik pada waktu malam maupun siang (ana'allail wa athrafannahar).

Intensitas membaca yang tinggi juga akan sangat memudahkan seseorang dalam menghafal Alquran. Langkah berikutnya adalah memahami bacaan tersebut (QS 3:7) dengan membaca terjemah dan tafsirnya. Selanjutnya, mengimplementasikan ajaran Alquran dalam kehidupan nyata (QS 2:121; 3:31) dengan cara berusaha ‘berkonsultasi’ dengan kitab pedoman hidup itu dalam menghadapi dinamika dan problematika kehidupan.

Untuk membangun kedekatan dengan Alquran diperlukan perjuangan, kesabaran tingkat tinggi (tashabbur), dan istiqamah karena penghalang dan godaannya memang tidak sedikit, baik yang berasal dari faktor internal, yaitu jiwa yang lemah dan malas maupun faktor eksternal, yaitu setan yang senantiasa berusaha menjauhkan kita dari Alquran dan lingkungan yang tidak kondusif.

Namun, dengan niat ikhlas karena Allah, usaha terus-menerus, dan banyak berdoa, maka kedekatan itu akan tercipta. Kesungguhan kita mendekatkan diri pada Alquran akan mengundang datangnya ma’unah (pertolongan) dari Allah. Hingga pada satu titik tertentu, semua kesulitan dalam perjuangan membangun kebersamaan dengan Alquran itu akan berubah menjadi kenikmatan.

Bahkan, hal tersebut akan menciptakan efek 'ketagihan' yang positif di mana seorang Muslim akan merasa ada yang kurang atau hilang jika satu hari saja tidak berinteraksi dengan Alquran. Dan, dia pun akan selalu berusaha untuk menambah intensitas interaksinya dari waktu ke waktu.

Tiada hidup yang lebih indah dari senantiasa berinteraksi dengan Alquran, mendapatkan taujih rabbani, dan mereguk hikmah ilahiyah pada setiap hari yang kita lalui. Dan, untuk mencapai kenikmatan ini di tengah tumpukan kesibukan kita maka satu-satunya cara adalah dengan mengalokasikan waktu khusus dari hari kita untuk berinteraksi dengan kalam mulia ini, sebagaimana kita mengalokasikan waktu untuk berbagai kegiatan duniawi yang lain. Wallahul musta’an. 
sumber: REPUBLIKA.CO.ID, 
Oleh: Moch Arif Budiman
»»  READMORE...

ganInilah Olahraga Rasulullah SAW yang Dihidupkan Muslim Inggris di Masjid

Rasullullah SAW mengajarkan umatnya untuk hidup sehat. Nabi Muhammad SAW pun suka berolahraga. Dalam sebuah hadis Rasulullah bersabda, ''Lemparkanlah (panah) dan tunggangilah (kuda).''(HR Muslim)

Memanah dan berkuda merupakan dua jenis olahraga yang dianjurkan Nabi SAW kepada umatnya. Kaum Muslim di Surrey, sebuah county di Inggris, mencoba menghidupkan kembali olahraga Rasulullah SAW itu.

Jamaah Masjid Shah Jahan di Woking, Surrey diajarkan memanah di aula masjid itu. Selain itu, umat Islam di wilayah itu juga diajarkan menunggang kudu di sebuah kandang kuda yang ada di kota itu.

''Ternyata olahraga Rasulullah SAW ini sangat disukai anak muda Muslim,'' kata Jehad Shamis, pelatih memanah.



Ambar Rachad (16) sedang belajar memanah di aula masjid.


 
Untuk tahap awal, belajar memanah dan berkuda dilakukan secara terpisah. Namun, setelah anak-anak muda itu mahir, kedua olahraga yang disunahkan itu akan digabungkan. Ya, mereka akan diajarkan memanah sambil berkuda. Latihan memanah dan berkuda itu diajarkan seminggu sekali.

''Memanah adalah salah satu olahraga yang dianjurkan oleh Rasulullah, seperti halnya berkuda,'' tutur Shamis. Menurut dia, kedua olahraga itu cukup ampuh untuk mengatasi rasa takut.

Ambar Rachad  (16) sangat senang bisa mempelajari olahraga sunah itu. Ia belajar memanah dan berkuda. Awalnya, ia sangat gugup saat belajar memanah dan belum mengetahui keutamaan memanah dalam Islam.

''Ketika kita pertama kali belajar, kami rasanya ingin kembali ke masa sejarah memanah,'' kata Ambar.

"Pada dasarnya (olahraga) ini sunah yang dicontohkan Rasulullah SAW yang direkomendasikan. Kami juga berkompetisi dan itu sangat menyenangkan. Pada dasarnya setiap pelajaran adalah kompetisi sebab kami mencoba dan saling mengalahkan,'' tuturnya.

Cara ini cukup ampuh mendatangkan anak-anak muda untuk datang ke masjid.
sumber: Republika.co.id
»»  READMORE...

Selasa, 28 Februari 2012

dab Menasihati Orang Lain

Nasihat memiliki tempat yang penting dalam agama Islam. Memberi nasihat dapat memantapkan persaudaraan di antara umat Islam. Terlebih, bila nasihat yang disampaikan seorang Muslim semata-mata hanya karena Allah dan muncul sebagai wujud kasih sayang terhadap saudaranya.

Tak heran jika Nabi Muhammad SAW menjadikan nasihat sebagai tiang agama sekaligus barometer dalam melaksanakan agama. Tamim ad-Dari RA meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, ''Agama itu nasihat.'' (HR Bukhari dan Muslim).

Rasulullah SAW senantiasa memberikan nasihat dan wasiat kepada para sahabat dan umatnya. Syekh Mahmud al-Mishri dalam Ensiklopedi Akhlak Muhammad SAW, mengungkapkan, secara bahasa nasihat diambil dari kata an-nashihah. Ibnu Manzur menjelaskan, nashahasy-syai berarti ''sesuatu itu murni''.

An-Nashih artinya sesuatu yang murni dari amal dan lainnya. Sedangkan an-Nush artinya ikhlas dan jujur di dalam musyawarah dan amal. Menurut Ibnu Atsir, nasihat adalah kata yang dioergunakan untuk mengungkapkan keinginan yang baik bagi orang yang dinasihati.

''Nasihat adalah mengajak orang lain untuk melaksanakan sesuatu yang mengandung kemaslahatan dan melarang mengerjakan sesuatu yang mengandung kerusakan,'' papar ahli bahasa dari abad ke-11 M, Abu Bakr Abd ul Qahir ibnu Abdur-Rahman al-Jurjan. Nasihat itu tentunya mencakup Allah SWT, rasul-Nya, Kitab-Nya, para pemimpin umat dan kaum Muslimin secara umum.

Sebuah nasihat haruslah disampaikan sebagai bentuk rasa cinta yang murni kepada orang lain, tentunya lewat pesan-pesan yang mengantarkan orang lain menuju kepada kemaslahatan. Menurut Dr Muhammad al-Hasyimi, sekecil apapun nasihat yang disampikan bernilai mulia di hadapan Allah.

Dalam sebuah hadis Nabi SAW bersabda, ''Agama adalah ketulusan (nashihah).'' Kami bertanya, ''Kepada siapa?'' Beliau bersabda, ''Kepada Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin Muslim dan masyarakat umum.'' (HR Muslim). Menurut Syekh al-Mishri, memberi nasihat termasuk sifat para nabi. Sebab, para nabi tak pernah bosan untuk memberi nasihat kepada kaumnya untuk beriman.

Agar saat menyampaikan nasihat menuju kebenaran dapat tersampaikan dengan baik, seorang Muslim perlu memperhatikan etika memberi nasihat kepada orang di sekeliling kita. Lantas apa saja adab memberi nasihat itu? Syekh al-Mishri mengungkapkan ada beberapa etika dalam memberi nasihat kepada orang lain:

Pertama, niat tulus hanya karena Allah SWT. Pemberi nasihat hanya mengharapkan ridha Allah dan balasan di akhirat. Ia menyampaikan nasihat bukan karena ingin mendapatkan keuntungan duniawi, riya (ingin dipuji orang lain) dan sum'ah (menceritakan kebaikannya kepada orang lain).

Kedua, berdasarkan ilmu. Memberi nasihat dengan ilmu merupakan sebuah keharusan dalam arti menguasai materi yang akan dinasihatkan. Tanpa didasari ilmu, bisa jadi seseorang akan menasihati dengan hal-hal yang munkar dan justru melarang yang makruf (baik).

Ketiga, berhias diri dengan akhlak lemah lembut. Pemberi nasihat wajib memiliki akhlak yang lemah lembut dan santun dalam menyampaikan nasihat. Hal ini diperintahkan Allah SWT kepada Nabi Musa AS dan Harun AS saat berdakwah kepada Firaun. ''Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya (Firaun) dengan kata-kata yang lembut, mudah-mudahan dia sadar atau takut.'' (QS Thaha:44).

Keempat, memilih cara yang tepat. Cara memberi nasihat berbeda-beda sesuai dengan situasi, kondisi dan kepribadian seseorang. Dalam banyak keadaan, manusia justru membutuhkan nasihat melalui keteladanandari seorang figur. Menasihati anak-anak berbeda dengan menasihati orang dewasa.

Kelima, tidak bertujuan mencela atau menyebarkan keburukan. Keenam, nasihat meliputi urusan agama dan dunia. Ketujuh, menasihati secara rahasia. Kedelapan, si pemberi nasihat wajib bersabar bila orang itu tidak bersedia menerima nasihatnya.

Syekh al-Mishiri, mengingatkan bahwa nasihat yang paling utama adalah nasihat untuk diri sendiri. ''Dia harus menasihati diri sendiri sebelum menasihati orang lain,'' tuturnya. Mereka yang menipu dirinya sendiri, tidak bisa diharapkan dapat menasihati orang lain. Allah SWT mencela orang-orang yang memerintahkan kebaikan kepada orang lain, namun dia sendiri tidak melaksanakannya.

''Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? (Itu) sangatlah dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.'' (QS ash Shaff: 2-3).

Nasihat yang disampaikan dengan tulus, papar Syekh al-Mishri, dapat berpengaruh besar terhadap diri seseorang dan mendorongnya untuk melaksanakan nasihat yang diterimanya. Pada akhirnya, nasihat atau wasiat akan menjadi bagian takwa, mengingat kebenaran dan berpikir. 
Oleh: Yusuf Assidiq  (REPUBLIKA.CO.ID,)
»»  READMORE...

Meremehkan Dosa

Diriwayatkan dari Abdullah bin Masud, Rasulullah SAW bersabda, “Jauhilah dosa-dosa kecil karena bila berkumpul pada seseorang akan menghancurkan dirinya.” Dan, sesungguhnya Rasulullah SAW membuat perumpamaan, bagaikan suatu kaum yang turun ke suatu lembah, lalu hadir pemimpin kaum itu dan menyuruh setiap orang membawa satu potong kayu kecil dan terkumpullah setumpuk kayu yang banyak lalu dibakar sehingga bisa membakar apa saja yang dilempar ke dalamnya.(HR Ahmad).

Imam Ghazali berkata, “Dosa-dosa kecil saling menarik sahingga pada akhirnya orang mukmin bisa mengahancurkan pokok keimanannya.” ( Faidhul Qadir juz II hal 127). Para ulama terdahulu sudah mewaspadai bahaya dosa-dosa kecil dan besar sehingga mereka berusaha menjauhinya. Bahkan, mereka melihat dosa-dosa kecil sebagai dosa besar.

Al-Ghazali menambahkan, dosa kecil menjadi besar karena menganggap kecil dosa tersebut atau karena dilakukan secara terus-menerus. Bila seseorang menganggap yang kecil sebagai dosa besar maka menjadi kecil di hadapan Allah. Dan, sebaliknya bila menganggap dosa sebagai dosa kecil maka dianggap besar di hadapan Allah. Karena, orang menganggap dosa sebagai besar karena adanya penolakan hati untuk melakukannya.

Anas ra berkata, “Sesungguhnya kamu sekalian melakukan amalan yang menurut kamu lebih kecil dari rambut, padahal kami di masa Nabi menganggapnya sebagai dosa-dosa besar. Rasulullah menegaskan dalam hadisnya bahwa seorang wanita disiksa karena seekor kucing yang dikurungnya sehingga mati. Dia tidak memberi makan minum dan tidak membiarkan kucing memakan dari tumbuhan di tanah.” (HR Al Bukhari, Muslim, Ahmad, Ibnu Majah).

Karenanya, bila seorang menganggap remeh dosa-dosa kecil maka imannya sudah terkontaminasi dan hilanglah kewibawaannya karena selalu menganggap kecil segala sesuatunya. (Faidhul Qadir juz III hal 127).

Dosa kecil bisa menjadi perusak iman karena dua hal; banyaknya dosa kecil terkadang bisa menjadi malapetaka iman. Dan, menganggap remeh dosa kecil akan menjadi dosa besar di hadapan Allah.

Untuk itu, langkah pertama yang harus dilakukan adalah muhasabah. Seperti dikatakan Ibnu Masud, “Sesungguhnya seorang mukmin melihat dosa-dosanya seakan dia duduk dan di atasnya ada gunung yang khawatir akan menindihnya, tetapi orang kafir melihat dosa-dosanya seperti lalat yang hinggap di atas hidungnya.”

Ada dua hal yang menyebabkan dosa-dosa kecil menjadi berbahaya. Pertama, jumlahnya yang menumpuk hingga membawanya pada kehancuran. Kedua, menganggap remeh dosa-dosa kecil dan Allah menganggapnya sebagai dosa besar.

Sikap yang kedua, bermujahadah dan terus berusaha melawan godaan setan. Ketiga, mengetahui akibat negatif dosa yang akan menimbulkan ketidaktenteraman hati, kesengsaraan, dan siksa neraka yang pedih. Keempat, menjauhi semua penyebab dosa dengan cara menjaga pandangan mata, lisan, dan kemaluan. Wallahu a’lam.
Oleh: Prof Dr KH Achmad Satori Ismail (REPUBLIKA.CO.ID,)
»»  READMORE...

Utamakan Kelembutan

Maraknya aksi kekerasan belakangan ini mengundang keprihatinan kita bersama. Hampir tiap hari kita disuguhi berbagai kabar tindak kekerasan, baik itu berbentuk penyerangan, pengeroyokan, tawuran, maupun tindakan anarkistis lainnya.

Pelakunya pun cukup beragam dilihat dari usia dan jabatannya. Publik bertanya, ada apa dengan karakter masyarakat kita ini. Bukankah dulu kita berbangga karena dikenal bangsa lain sebagai bangsa yang santun, lembut, dan ramah? Lantas, ke mana semua sifat mulia itu sekarang ini?

Alquran sebagai pedoman hidup kita mengajarkan bagaimana menghadapi persoalan. “Maka, disebabkan rahmat dari Allahlah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu, maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya.” [QS Ali Imran: 159].

Lewat ayat ini Allah mengingatkan kita agar mengedepankan sikap lemah lembut dan menjauhi kekasaran atau kekerasan seperti tecermin dari sikap yang dimiliki Rasulullah SAW. Kita juga diajarkan untuk suka memaafkan kesalahan orang lain sekaligus memintakan ampun atas dosa dan kesalahannya.

Dan, jangan lupa untuk mengedepankan sikap musyawarah, diskusi, dan dialog dengan santun menghadapi berbagai persoalan, bukan demonstrasi anarkistis, teror, dan menebar ancaman. Selanjutnya, kita diminta bertawakal setelah membulatkan tekad karena Allah menyukai orang-orang yang bertawakal.

Kita juga perlu meneladani bagaimana Nabi kita membalas perlakuan tidak menyenangkan dari orang lain. “Dari 'Urwah bin Zubair bahwa Aisyah ra istri Nabi SAW berkata, ‘Sekelompok orang Yahudi datang menemui Rasulullah, mereka lalu berkata, ‘Assaamualaikum (semoga kecelakaan atasmu)’. Aisyah berkata, ‘Saya memahaminya, maka saya menjawab, 'Waalaikum as saam wal laknat (semoga kecelakaan dan laknat tertimpa atas kalian).’”

"Aisyah berkata, ‘Lalu Rasulullah SAW bersabda, ‘Tenanglah wahai Aisyah, sesungguhnya Allah mencintai sikap lemah lembut pada setiap perkara.’ "Saya berkata, ‘Wahai Rasulullah! Apakah engkau tidak mendengar apa yang telah mereka katakan?’” "Rasulullah SAW menjawab, ‘Saya telah menjawab, 'Waalaikum (dan semoga atas kalian juga).’" [HR Imam Bukhari]

Perhatikanlah, bagaimana Nabi kita walau didoakan dengan kejelekan dan istrinya Aisyah tidak terima perlakuan itu, beliau tetap menasihati istrinya agar tetap menjaga kelembutan hati, tidak terpancing emosi, serta menghindari kekasaran dan pembalasan yang berlebihan.

Nabi kita juga mengajarkan bagaimana menghadapi kejahilan yang dilakukan seorang Badui yang mengencingi Masjid Nabi, seperti termaktub dalam sahih Bukhari, dari Anas bin Malik bahwa seorang Arab Badui kencing di masjid, lalu orang-orang mendatanginya, maka Rasulullah bersabda, "Biarkanlah." Kemudian, beliau meminta diambilkan air, lalu beliau menyiramnya.

Mari kedepankan sikap lemah lembut, ramah, santun, dan sabar dalam menyelesaikan setiap permasalahan, bukan dengan kekerasan dan pemaksaan. 
Oleh Ali Trigiyatno (REPUBLIKA.CO.ID)
 
»»  READMORE...

Pendidikan Kejujuran

Ketidakjujuran tampaknya sudah mewabah pada hampir semua aspek kehidupan bangsa. Di mana-mana, kita menyaksikan orang berbohong di DPR, pengadilan, pasar, kantor, kampus, bahkan di tempat ibadah pun ada yang berani berdusta untuk menutupi perilaku amoralnya. Kebohongan menjadi benteng pembelaan diri. Bohong menjadi “barang dagangan yang diobral”. Padahal, tali kebohongan itu pendek. Sebuah ungkapan bijak menyatakan bahwa semua tali itu panjang, kecuali tali kebohongan. Satu kebohongan akan dibarengi dengan aneka kebohongan lainnya.

Karena itu, ketika didatangi seseorang yang meminta nasihat, Rasulullah SAW berkata singkat kepadanya, “Jangan berbohong” (HR Muslim). Kalimat singkat, tetapi bernas ini mengandung nilai edukasi yang tinggi, yaitu pendidikan kejujuran. Mendidik manusia supaya berperilaku jujur merupakan esensi pendidikan, sedangkan esensi pendidikan kejujuran adalah keteladanan yang baik dan benar.

Orang yang berbohong itu sejatinya merugi. Jika kebohongannya tidak diketahui, dia akan mendapatkan dosa. Dan, jika kebohongannya diketahui orang lain, dia tidak akan dipercaya lagi. Implikasinya, hubungan dirinya dengan sesama menjadi kurang baik karena sudah dicap sebagai pembohong atau munafik. Orang lain tidak akan bersimpati dan menjauhi, bahkan memusuhinya.

Orang yang jujur, secara psikologis hatinya akan selalu merasa tenteram, damai, dan bahagia. Sebaliknya, orang yang biasa berdusta, hidupnya menjadi tidak tenang, dikejar-kejar oleh “pemberontakan” hati kecilnya yang selalu menyuarakan kebenaran. Dia selalu merasa khawatir kebohongannya itu terbongkar.

Kebiasaan tidak jujur itu sangat berbahaya, tidak hanya bagi orang lain, tetapi juga bagi dirinya sendiri. Kepercayaan dan kewibawaannya akan hilang. “Dalam hati mereka (orang-orang munafik) itu ada penyakit, lalu ditambah oleh Allah penyakitnya, dan bagi mereka siksa yang pedih disebabkan mereka berdusta.” (QS al-Baqarah [2]:10).

Pendidikan kejujuran harus dimulai dengan jujur kepada diri sendiri dengan senantiasa meminta “fatwa kebenaran” yang bersumber dari hati nurani. “Istafti qalbaka” (minta fatwalah kepada hatimu). Setelah itu, hendaklah kamu selalu benar. Sesungguhnya kebenaran membawa kepada kebajikan dan kebajikan membawa ke surga.” (HR Bukhari).

Pendidikan kejujuran dapat terwujud manakala ia selalu belajar menjalani kehidupan ini dengan lima hal, yaitu iman, ikhlas, ihsan, ilmu, dan istiqamah. Dengan iman, ia yakin Allah pasti mengawasi dan mencatat seluruh amal perbuatannya. Dengan ikhlas, ia dididik untuk melakukan sesuatu dengan mengharapkan rida Allah. Dengan ihsan, ia akan berbuat yang terbaik untuk orang lain. Dengan ilmu, ia tahu perbuatan halal dan haram. Dan, dengan istiqamah, ia belajar mengawal kebaikan dan kebenaran yang sudah dibiasakannya menjadi lebih baik dan lebih diridai Allah SWT.

“Tiga golongan manusia yang pada hari kiamat kelak tidak akan dipandang oleh Allah dengan rahmat-Nya, bahkan mereka itu akan memperoleh siksaan yang menyakitkan, yaitu orang tua yang berbuat zina, penguasa yang berdusta, dan orang melarat yang sombong.” (HR Muslim).
Oleh Muhbih Abdul Wahab (REPUBLIKA.CO.ID,)
»»  READMORE...

Sabar dalam Kebinekaan

Beragama Islam secara utuh (kafah) itu butuh kesabaran (QS 103: 3). Termasuk sabar dalam menyikapi keberadaan orang-orang yang tidak beragama Islam. Untuk memelihara salah satu misi ajaran Islam tentang perdamaian, diperlukan kesabaran dalam menyikapi perbedaan. Perbedaan harus dihormati, terutama untuk menghindari munculnya beragam bentuk ketegangan sosial yang kerap amat memprihatinkan.

Bukankah perbedaan itu merupakan wujud kebinekaan yang sejak awal merupakan keniscayaan yang diakui Alquran, khususnya bagi bangsa Indonesia? Lalu, mengapa fakta kebinekaan masyarakat kita ini masih saja muncul dalam nuansa yang tidak bersahabat? Tidak jarang fenomena itu hadir dalam wujud kekerasan yang amat merugikan. Kebinekaan dalam berkeyakinan kerap berubah menjadi konflik yang sangat memprihatinkan. Watak ramah masyarakat pun tidak lagi menjadi pemandangan persahabatan yang menyejukkan.

Sistem nilai yang terbuat dalam kebinekaan adalah aturan Tuhan (sunatullah) yang tidak mungkin berubah, diubah, dilawan, dan diingkari. Barang siapa yang mencoba mengingkari hukum kemajemukan budaya maka akan menimbulkan fenomena pergolakan yang tiada berkesudahan. Bahkan, Alquran mengakui keberadaan agama lain yang memiliki kitab suci, kecuali agama yang berdasarkan paganisme dan syirik, dan menyerukan umat Islam untuk hidup berdampingan dengan mereka.

Sejarah kejayaan Islam yang berlangsung dalam harmoni kebinekaan memang telah berlalu, namun spirit keragaman seperti tertuang dalam Alquran tetap menyala hingga kini. Sehingga, perlu direalisasikan dalam kehidupan nyata. Ini bukan merupakan kemustahilan karena ada kesejajaran antara kebinekaan Islam dan kemajemukan modernisme. Akan tetapi, kebinekaan atau yang kini sering muncul dalam terminologi pluralitas kadang-kadang masih ditandai berbagai penyimpangan dalam praktik politiknya.

Hal ini merupakan bentuk kegagalan dakwah karena berbagai interest politik yang picik masih belum mampu diredusir, baik oleh sebagian umat Islam secara khusus maupun umat manusia pada umumnya.

Langkah bijaksana bagi setiap umat adalah bersabar dan sanggup mengendalikan diri untuk tetap menghormati perbedaan. Selain itu, diperlukan pula kesabaran dalam mewujudkan suasana sosial yang kondusif untuk menciptakan toleransi. Sebab, dalam batas-batas sosiologis, toleransi tidak bisa terwujud dengan sendirinya, tapi membutuhkan proses rekayasa kultural sehingga masyarakat dapat terkondisikan secara produktif. Toleransi bukan saja menjadi ajaran yang hanya hadir dalam wacana, tapi sejatinya menjadi perilaku yang membudaya dalam kehidupan secara lebih terbuka.

Lihatlah pemandangan sosial masyarakat yang dibangun Nabi dengan para sahabatnya. Jika dalam terminologi ajaran Islam dikenal istilah harbi dan dzimni untuk menunjuk masyarakat yang berbeda agama, hal itu menggambarkan adanya pemberian tempat khusus secara damai bagi mereka yang berbeda agama selama tidak melakukan tindakan-tindakan yang dapat melanggar kerukunan.
Oleh: Prof Dr Asep S Muhtadi (REPUBLIKA.CO.ID,)
»»  READMORE...