Selama ini, aku selalu nyaman menyukaimu dalam diam. Selalu bisa larut dalam kekagumanku padamu. Bagaimana tidak? Kamu pintar dan memesona. Tampan sih tidak. Kaya juga tidak. Wajahmu biasa saja. Pakaianmu juga, sederhana saja. Otakmu itu yang sungguh luar biasa.
Aku tak mengerti kenapa kamu harus tau perasaanku dengan cara menjijikan seperti ini. Aku tak habis pikir, betapa kejamnya teman yang ku percaya dengan santainya menyampaikan rasaku padamu. Aku tau sekarang, kenapa sikapmu padaku berbeda. Kamu tidak bercanda padaku seperti kamu bercanda pada teman-temanku. Kamu tidak menatapku seperti kamu menatap teman-temanku. Aku tau, aku sadar, aku tidak linglung, ada yang beda dari sikapmu terhadapku. Belakangan aku tau, ternyata setan itu yang membuatmu canggung di depanku.
Flashback kejadian hari itu terlihat seperti sedang menonton film di bioskop. Hari itu, sekolahku sedang karya wisata ke suatu tempat di Jawa Tengah. Sebuah pesan dari temanku tentang dia membuatku bad mood sepanjang perjalanan. Aku tau alasannya, kenapa dia bersikap beda padaku. Seorang teman –sebut saja Devil– menyampaikan perasaanku padanya tanpa seizinku. Menurutku ini gila! Aku mau dia tau. Tapi tidak sekarang. Aku masih merasa nyaman mengaguminya diam-diam. Aku masih mau menjadi secret admirernya.
Devil jahat sekali. Dia hancurkan semua harapan yang aku kumpulkan sedikit-sedikit. Harapan itu kini tak tersisa sedikitpun. Bahkan serpihannya pun sudah menghilang. Tersapu debur angin yang mematikan. Aku sangat kecewa padanya. Bisa-bisanya dia dengan santainya memamerkan perasaanku? Aku tak habis pikir. Masih berani saja dia menampakkan muka di hadapanku, dengan senyumannya yang sangat menyebalkan. Beraninya dia menyapaku!
Ah! Ini emosi tak terkendali. Seandainya laki-laki itu bersikap biasa saja padaku, aku tak akan seperti ini. Seandainya aku tidak terlalu jelas mengekspresikan perasaanku. Seandainya..
Tidak! Masalah seperti ini tidak boleh menghancurkanku. Biar saja dia hidup di jalannya. Aku tak seharusnya memikirkan dia lagi. Toh aku sudah tau jawaban hatinya tanpa perlu bertanya. Dia akan hidup di jalannya, begitu juga aku.
Tuhan, satu pintaku. Jika perasaanku memang tak pantas dibalas olehnya, tolong jangan lakukan hal yang terjadi padaku sekarang di kehidupannya mendatang. Biarkan dia bahagia bersama orang yang ia sayangi. Karena, meskipun kini aku membencinya. Meskipun perasaanku padanya telah terkikis habis, tetap saja dulu ia pernah menjadi sesuatu dalam perjalanan cintaku. Bagaimanapun juga, dia pernah mengukir hatiku dalam.
Tuhan tolong jaga dia baik-baik, demi aku.
-nia putri-
0 comments:
Posting Komentar