Aku pelancong dan pengembara; tak bersanak , tak berkeluarga. Aku bebas terbang ke mana saja. Enam tahu lalu kutuntaskan menjelajah Eropa; dan sebelumnya menelurusi benua Amerika. Asia? Oh, itu kisah sepuluh tahun lalu. Aku kenal semua sudut-sudut negeri di Asia. Afrika? Itu dua tahun lalu, dan baru saja keselesaikan perjalanan Australia.
Seminggu mendekam di rumah tak lagi aku punya acara. Belahan dunia mana yang belum pernah kujamah?
Dan kubuka surat elektronik seorang teman. Isi surat itu, “Sobat, kau boleh saja sudah melanglang buana dan menapak setiap sudut dunia, tapi aku yakin tempat ini belum pernah kau kunjungi, aroma dan nuansanya tak akan pernah—aku yakin—sesedap atau semenyiksa yang engkau pernah rasa,”
Seharusnya tak aku hiraukan surat elektronik itu, karena kini aku sama sekali tak pegang uang dalam jumlah yang cukup untuk berkelana. Tapi surat teman itu seperti melecehkan warnaku sebagai pengelana. Mana kesejatian kelana itu kalau tempat yang sesungguhnya tak terlalu jauh itu tak pernah kusapa?
Dan akhirnya kuputuskan untuk membalas surat temanku. “Jemput aku, antarkan aku ke sana!” demikian tulisku pada surat itu.
Tak sampai tiga kali matahari tenggelam, sobat lama itu sampai di beranda rumahku. Dan kami mulai perjalanan ke negeri itu. Tak bisa kuceritakan bagaimana aku sampai di sana. Tapi hanya dalam beberapa hitungan jam, kakiku telah terjejak di gerbang utama negeri itu.
“Pengunjung dari luar hanya sekali bisa masuk ke negeri ini,” kata temanku. “Aku sudah pernah kemari sebelumnya. Jadi cukup kuantar kau sampai di sini,” kata temanku. “Percayalah, rasa, suasana, dan betah tidaknya kau berada di negeri ini sangat bergantung pada seberapa pandai kau memaknai uang,” kata teman itu, sebelum ia benar-benar menghilang dari pandanganku.
Dan kubuka surat elektronik seorang teman. Isi surat itu, “Sobat, kau boleh saja sudah melanglang buana dan menapak setiap sudut dunia, tapi aku yakin tempat ini belum pernah kau kunjungi, aroma dan nuansanya tak akan pernah—aku yakin—sesedap atau semenyiksa yang engkau pernah rasa,”
Seharusnya tak aku hiraukan surat elektronik itu, karena kini aku sama sekali tak pegang uang dalam jumlah yang cukup untuk berkelana. Tapi surat teman itu seperti melecehkan warnaku sebagai pengelana. Mana kesejatian kelana itu kalau tempat yang sesungguhnya tak terlalu jauh itu tak pernah kusapa?
Dan akhirnya kuputuskan untuk membalas surat temanku. “Jemput aku, antarkan aku ke sana!” demikian tulisku pada surat itu.
Tak sampai tiga kali matahari tenggelam, sobat lama itu sampai di beranda rumahku. Dan kami mulai perjalanan ke negeri itu. Tak bisa kuceritakan bagaimana aku sampai di sana. Tapi hanya dalam beberapa hitungan jam, kakiku telah terjejak di gerbang utama negeri itu.
“Pengunjung dari luar hanya sekali bisa masuk ke negeri ini,” kata temanku. “Aku sudah pernah kemari sebelumnya. Jadi cukup kuantar kau sampai di sini,” kata temanku. “Percayalah, rasa, suasana, dan betah tidaknya kau berada di negeri ini sangat bergantung pada seberapa pandai kau memaknai uang,” kata teman itu, sebelum ia benar-benar menghilang dari pandanganku.
“Uang?” tanyaku dalam hati. Ini mengingatkan aku betapa tak leluasa aku mengeluarkan uang dari kantongku karena terbatasnya simpanan. Apa pula maksud teman itu?
Dan aku kini benar-benar telah melangkahkan kaki masuk ke negeri ini. Sekilas kulihat rona kuyu negeri ini.
“Untuk masuk ke negeri ini, terimalah ongkos berkunjung 100.000 rapyu,” kata petugas.
“Untuk masuk ke negeri ini, terimalah ongkos berkunjung 100.000 rapyu,” kata petugas.
Aku heran penggunaan kata-kata petugas itu ‘terimalah ongkos berkunjung 100.000 rapyu’. Belum lengkap heranku, ia memberi aku dua lembar uang kertas, masing-masing bertuliskan 50.000 rapyu. Oh! ‘Rapyu’ ternyata nama uang negeri ini. Petugas minta aku menandatangani secarik kertas yang menyatakan aku telah menerima uang 100.000 rapyu. Eh, kenapa pula masuk ke negeri ini dapat uang?
Aku menimang uang di tangan? Bingung, tapi nyaman dengan makna ‘lumayan’, mengingat tak banyak lembaran uang di sakuku. Bahkan tak punya uang yang berlaku di negeri ini.
Dan kulambaikan tangan pada taksi yang lewat.
“Selamat pagi,” sapa sopir taksi ketika aku menghenyakkan pantat di jok belakang. Taksi ini lusuh, bau apek dan tidak ber-AC. Sopir menghidupkan argometer.
“Ke pusat ibukota,” kataku.
Taksi melaju, dengan mesin yang bergerak tersendat-sendat. Hanya jenis inikah taksi yang ada? Aku melayangkan pandangan sepanjang jalan. Semua taksi sama. Semua mobil serupa, tak ada yang baru; kusam dan kumal.
Begitu sampai di pusat kota, argometer menunjukkan angka 65.000 rapyu. Aku menyodorkan 100.000 rapyu yang kudapat dari petugas di perbatasan. Sopir melotot, matanya bersinar marah. Apa yang salah?
“Kenapa memberi saya uang? Anda harus terima uang dari saya,” sopir itu mengeluarkan sebuah tas besar yang disesaki uang, dan memberi aku 75.000 rapyu. “Yang 10.000 rapyu tips saya,” kata sopir.
Aku terbengong. Naik taksi malah diberi uang oleh sopir taksi. Dan aku bingung dengan istilah ‘tips’. Kok malah aku yang terima? Aku mengangkat bahu. Kini di dompetku ada 175.000 rapyu.
***
Pusat ibukota menampakkan raut kota besar seperti kota-kota di Indonesia tahun 1970-an. Kumuh, lalu lintas tidak tertib, dan banyak lelaki berpakaian lusuh dengan beban buntalan berat di punggung; entah apa pula isinya.
Perut lapar. Aku melaju ke sebuah restoran, pesan makanan khas dan sebotol minuman kemasan. Di bon makan, tertulis total harga 25.000 rapyu. Selesai bersantap, aku ke kasir dan mengeluarkan 50.000 rapyu. Seperti sopir taksi, petugas kasir melotot. “Apa maksudnya?” tanya si petugas kasir.
“Saya mau bayar makanan,” kataku.
“Bayar? Kau harus terima. Semuanya 25.000 rapyu!” ia membuka kotak uang dan memberiku 25.000 rapyu! Huedeh! Ini negeri asyik; makan malah dibayar.
Dan rasa ingin tahuku makin memuncak-muncak. Sebelum jalan-jalan cuci mata, aku putuskan check-in di sebuah hotel. Kali ini hotel terlihat lumayan bersih dan mewah. Aku lihat daftar harga sewa kamar. Kupilih yang termahal, superior room dengan harga 800.000 rapyu per malam.
“Mau terima sekarang atau besok waktu check-out?” tanya perempuan manis petugas resepsionis.
“Sekarang saja,” kataku sembari menebak-nebak arti kata ‘terima’.
Perempuan itu membuka laci dan mengangsurkan 8 lembar uang pecahan 100.000 rapyu, lengkap dengan tanda terima, setelah mengutip namaku yang ia baca dari KTP. Aku menandatangani tanda terima itu dan meraup uang 800.000 rapyu. Kini aku punya sejuta rapyu, punya tempat menginap dan sudah kenyang. Waktunya jalan-jalan.
Di pusat keramaian, kudapatkan beberapa buah barang. HP Blackberry, kamera video, celana dalam baru, dua botol air mineral. Dan tebak, semunya harus kuimbali dengan kesediaanku menerima rapyu dari masing-masing pedagang. Total yang kuterima 12.150.000 rapyu!
Dompetku. Tak cukup. Sebagian uang kuhempaskan ke dalam tas punggung.
Di sebuah persimpangan jalan, aku dihentikan oleh seorang lelaki yang tak terlalu rapi.
“Mau pelesiran keliling kota? Silakan sewa mobil saya”
Ia menunjuk sebuah mobil, setua dan sejelek taksi yang kunaiki.
“Berapa harga sewa?”
“400.000 rapyu perhari, kalau pakai sopir, tambah 200.000 rapyu”
Aku setuju. Ia memperkenalkan diri dengan nama Suga. Dan ia mulai menyopir berkeliling kota.
“Hidup makin sulit, di sini, makin susah orang terima uang,” kata Suga. “Anda orang baik, setuju dengan harga sewa yang saya sebutkan tanpa menawar,” kata Suga. Kulirik, ia punya segebok uang di jok belakang. Dan ia terus nyerocos soal hidup sulit, soal orang-orang yang maunya terima uang sesedikit mungkin. Dan saking asyiknya bicara, Suga melanggar lampu merah.
Seorang petugas polisi berseragam biru menghentikan Suga.
“Apa salah saya?” tanya Suga.
“Menerobos lampu merah, membahayakan pengendara lain,” petugas polisi memberi surat tilang setelah memeriksa surat-surat mobil dan SIM Suga. “Lusa ke pengadilan,” kata polisi.
Suga menatap surat tilang itu.
“Sialan!” ujar Suga perlahan, “Di pengadilan nanti aku pasti kena denda, harus terima 500.000 rapyu. Aku sogok saja polisi ini,” kata Suga turun dari kendaraan.
“Saya mau damai saja, pak polisi. Saya bersedia terima 50.000 rapyu dari bapak,” kata Suga kepada polisi.
“Betul?” tanya polisi. “Ini bukan saya yang minta lo,”
Dan Suga menerima 50.000 rapyu dari pak polisi, membanting uang itu di jok belakang.
“Lihat! Sial betul. Uang saya makin banyak!” mukanya bersungut.
***
Suga menghentikan kendaraan untuk istirahat makan. Ia yang pilih restoran.
“Anda yang traktir ya?” kata Suga. Aku menganggukkan kepala.
Di akhir acara makan, tahulah aku kata ‘traktir itu’. Ketika kasir restoran menyerahkan uang 60.000 rapyu sebagai ‘ongkos’ makan kepada Suga, Suga langsung menyerahkan uang itu padaku. Makin penuh tasku. Masih sulit aku mengerti.
Seusai makan malam, Suga berjanji membawaku ke sebuah kawasan wisata khusus, dengan puluhan wanita cantik menjajakan diri di jalan. Dalam soal kecantikan wanitanya, negeri ini boleh aku acungi jempol.
“Pilih saya, pak,” seorang perempuan secantik dan secemerlang bintang sinetron datang merayu di dekat mobil, “Bapak terima 2 juta rapyu dari saya, dan bapak bisa memiliki saya semalaman di hotel manapun bapak mau,” kata perempuan itu. Dan malam itu aku balik ke hotel dengan si cantik itu. Aku aku menerima 600.000 rapyu dari Suga; ‘ongkos’ sewa mobil dan sopir. Oh ya, kalau tak salah, Suga menyerahkan 100.000 rapyu kepada perempuan itu sebagai jasa Suga memberikan pelanggan kepada si perempuan.
Seusai makan malam, Suga berjanji membawaku ke sebuah kawasan wisata khusus, dengan puluhan wanita cantik menjajakan diri di jalan. Dalam soal kecantikan wanitanya, negeri ini boleh aku acungi jempol.
“Pilih saya, pak,” seorang perempuan secantik dan secemerlang bintang sinetron datang merayu di dekat mobil, “Bapak terima 2 juta rapyu dari saya, dan bapak bisa memiliki saya semalaman di hotel manapun bapak mau,” kata perempuan itu. Dan malam itu aku balik ke hotel dengan si cantik itu. Aku aku menerima 600.000 rapyu dari Suga; ‘ongkos’ sewa mobil dan sopir. Oh ya, kalau tak salah, Suga menyerahkan 100.000 rapyu kepada perempuan itu sebagai jasa Suga memberikan pelanggan kepada si perempuan.
Besok paginya, aku bangun terlambat. Si cantik sudah pergi, meninggalkan 2 juta rapyu di meja dekat ranjang. Suga menungguku di lobi hotel. Kali ini ia bilang, “Anda beli saja mobil saya bagaimana?”
“Berapa?” tanyaku.
“80.000.000 rapyu!” jawab Suga.
Aku langsung mengiyakan, terbayang menerima 80.000.000 rapyu. Suga langsung membuatkan aku tanda terima, menyerahkan STNK dan kunci mobil berikut uang 80.000.000 rapyu yang ditumpuk di jok mobilnya. Suga memintaku menghitung uang itu, tapi aku bilang aku percaya padanya. Dan ketika Suga sudah berlalu, aku coba menghitung uang itu; ternyata jumlahnya 100 juta rapyu!
Tak pernah kubayangkan aku sekaya itu. Punya mobil di negeri ini, dan punya uang!
Dan aku berkeliling sendiri setelah membeli peta dengan menerima 30.000 rapyu dari penjual peta.
Terlalu asyik menyetir, aku menyerempet seorang perempuan tua yang menyeberang mendadak. Isi buntalan di punggungnya berhamburan. Uang!
“Maaf, bu, maaf, kataku!” sembari membantu mengumpulkan serak-serak uang kertas berhamburan.
“Jangan hanya minta maaf, anak muda, antar aku ke rumah sakit untuk berobat,” ia merintih kesakitan karena lecet-lecet hasil serempetan.
Di rumah sakit, aku menerima 1.500.000 rapyu sebegai biaya pengobatan. Dan nenek itu bilang, ia sudah terlalu tua untuk bisa menerima lebih banyak uang; ia minta aku menerima 2 juta rapyu sebagai kompensasi. Uang pemberian rumah sakit dan pemberian ibu tua kutumpuk di jok belakang.
Sepulang dari rumah sakit, aku mampir untuk membeli air mineral di sebuah kedai. Ketika mobil kutinggalkan dalam keadaan terbuka, dua orang pemuda naik sepeda motor tiba-tiba saja menumpahkan sekarung uang ke dalam mobil yang terbuka. Kebetulan ada polisi lewat. Polisi itu mengejar kedua pemuda dengan sepeda motor.
“Hai, ambil kembali uang itu! Ambil kembali! Kalau tidak, kutembak kau, perampok!” seru pak Polisi.
Sampai di titik ini kepalaku mulai pening. Kenapa negeri ini berebut memberikan uang kepada orang lain? Kenapa pula orang buang uang di mobil orang lain disebut perampok?
Aku ingin tahu apa yang terjadi kalau aku meninggalkan sejumlah uang di jalan. Aku meraup beberapa ratus ribu rapyu dan meninggalkannya di pinggir jalan. Seorang lelaki muda melihat ini.
Sepulang dari rumah sakit, aku mampir untuk membeli air mineral di sebuah kedai. Ketika mobil kutinggalkan dalam keadaan terbuka, dua orang pemuda naik sepeda motor tiba-tiba saja menumpahkan sekarung uang ke dalam mobil yang terbuka. Kebetulan ada polisi lewat. Polisi itu mengejar kedua pemuda dengan sepeda motor.
“Hai, ambil kembali uang itu! Ambil kembali! Kalau tidak, kutembak kau, perampok!” seru pak Polisi.
Sampai di titik ini kepalaku mulai pening. Kenapa negeri ini berebut memberikan uang kepada orang lain? Kenapa pula orang buang uang di mobil orang lain disebut perampok?
Aku ingin tahu apa yang terjadi kalau aku meninggalkan sejumlah uang di jalan. Aku meraup beberapa ratus ribu rapyu dan meninggalkannya di pinggir jalan. Seorang lelaki muda melihat ini.
“Pencuri! Ambil kembali uang itu! Kau bisa ditangkap polisi, tahu?” hardik lelaki muda itu. Aku mengambil kembali uang itu ketakutan. Pertanyaan besar berputar di benakku.
Belum sampai terjawab semua pertanyaanku, seorang pengemis renta mendekati aku. Di punggungnya ada segebok uang, terlihat dari ujung lembaran-lembaran uang yang berjuntai dari karung.
“Nak, ambillah sedikit uangku. Kasihanilah saya,” kata pengemis itu. Ia menurunkan buntalan uang dan menunjukkan padaku. Aku menjemba beberapa lembar dari buntalan itu.
“Bermurahatilah sedikit, ambilah lebih banyak. Saya punya terlalu banyak uang di rumah,” kata pengemis itu. Dan kuputuskan untuk mengambil semua uang di buntalan itu. Pengemis itu menangis sesenggukan. Tangis ini–tak kunyana-nyana–mengundang beberapa lelaki lelaki dengan alat potret menghampiri aku.
“Dermawan asing, boleh saya wawancara Anda? Besok Anda masuk berita koran karena kedermawanan Anda,” kata dua wartawan itu dan mulai memotretku dengan berbagai foto close-up. Peningku meningkat.
“Dermawan asing, boleh saya wawancara Anda? Besok Anda masuk berita koran karena kedermawanan Anda,” kata dua wartawan itu dan mulai memotretku dengan berbagai foto close-up. Peningku meningkat.
***
Kini aku duduk termenung di tepi jalan. Jok belakang mobil sudah penuh uang. Betapa tidak, ketika di wawancara wartawan tadi, dua orang berwajah preman menumpahkan dua karung uang kerts pecahan seribu rapyu ke mobilku, dan menjauh dengan motornya.
Aku jadi ngeri. Pasti ada yang tak beres dengan negeri ini. Sebelum pening meningkat jadi sakit kepala tak, aku putuskan melaju ke perbatasan negara dan bersiap keluar dari negeri ini.
“Anda bisa keluar dari negeri ini kalau ada tak punya uang satu rapyu-pun, dan tak memiliki apapun selain baju yang menempel dan surat-surat identitas diri. Sekarang Anda punya semobil penuh uang, punya mobil, punya Blackberry, punya kamera video dan punya tas punggung dan punya air mineral sebotol. Singkirkan dulu barang-barang itu dengan resmi. Jjangan dibuang, jangan ditinggalkan sembarang, jangan berikan paksa kepada orang lain; baru boleh keluar, ” petugas berwajah angker, dengan senapan melintang di dada.
“Anda bisa keluar dari negeri ini kalau ada tak punya uang satu rapyu-pun, dan tak memiliki apapun selain baju yang menempel dan surat-surat identitas diri. Sekarang Anda punya semobil penuh uang, punya mobil, punya Blackberry, punya kamera video dan punya tas punggung dan punya air mineral sebotol. Singkirkan dulu barang-barang itu dengan resmi. Jjangan dibuang, jangan ditinggalkan sembarang, jangan berikan paksa kepada orang lain; baru boleh keluar, ” petugas berwajah angker, dengan senapan melintang di dada.
“Bagaimana saya menyingkirkannya? Kalau saya tinggal begitu saja bagaimana?” kataku.
“Itu namanya perampokan. Kau bisa masuk penjara 20 tahun,” kata petugas.
“Itu namanya perampokan. Kau bisa masuk penjara 20 tahun,” kata petugas.
“Kalau saya bakar, atau saya kubur atau saya tenggelamkan di air?”
“Kau bisa dihukum mati untuk itu!”
“Lalu harus bagaimana? Saya bisa jual mobil dan pembelinya terima uang dari saya, tapi itu cuma mengurangi uang saya sekitar 80 juta rapyu. Bagaimana cara saya menyingkirkan sisa uang saya yang lainnya?”
“Ada berapa banyak uang di mobil Anda?” tanya petugas.
“Entahlah. Semilyar rapyu, mungkin,” kataku, tak tahu pasti jumlahnya.
“Kalau begitu, kamu akan bernasib sama seperti orang-orang itu,” petugas menunjuk puluhan lelaki lusuh yang mondar-mandir dengan sekarung uang di punggung, “itulah yang terjadi pada orang-orang yang terlalu banyak menerima uang. Di rumah mereka, mereka masih punya berkarung-karung uang”
Aku termangu. Tak mampu berpikir.
Dan inilah yang saat ini aku lakukan, aku bergabung dengan orang-orang itu, mondar-mandir di jalan dengan berkarung-karung uang. Kepada setiap orang yang lewat, aku berkata lirih, “Tolong pak, ambil uang barang sedikit, bermurah hatilah pada saya, saya punya terlalu banyak uang…..”
Hatiku pedih sekali setiap kali ada orang yang bersedia mengambil beberapa ratus rypyu, tapi kemudian harus beli makanan dengan menerima beberapa ribu rapyu, yang tak akan pernah mengurangi uangku. Aku pun ketakutan untuk menginap di hotel karena bakal menerima ratusan ribu rapyu lagi yang makin sulit kusingkirkan. Sangat ketakutan pula membuang uang karena pasti ditangkap polisi dan masuk penjara.
Berapa lama lagi aku harus berada di negeri ini? Adakah sobatku pengirim surat elektronik itu tahu betapa aku gagal menilai makna uang di negeri ini? Betapa punya tak banyak uang lebih menenteramkan jiwa dan raga? Tahukah kau, kawan, tak punya uang sepeserpun adalah kemewahan dan kebebasan yang paling aku hasrati saat ini?
Penulis: Eddy Roesdiono
0 comments:
Posting Komentar