Minggu, 18 Desember 2011

Kritik Terhadap Ilmu yang Bebas Nilai

Tulisan ini lahir setelah “merenungi” betapa Ilmu Pengetahun yang dibanggakan oleh Peneliti/Penemu/para ahli “tak melibatkan unsur moral” terhadap Ilmu Pengetahuan yang dikembangkan.

Ilmu pengetahun dan teknologi berkembangan seiring dengan perkembangan manusia. Etika adalah ilmu yang mempelajari “kebaikan dan keburukan” merupakan cabang dari teori nilai. Teori nilai atau yang dikenal dengan AKSIOLOGI dalam Filsafat Ilmu diorientasikan pada nilai kehidupan itu sendiri. Sementara nilai kehidupan itu sendiri menyangkut bagaimana manusia bertindak dalam kehidupannya, melahirkan etika dan estetika.

Proses pemorolehan ilmu pengetahuan dari dahulu sampai sekarang tanpa nilai etika. Meskipun para ahli sendiri pro dan kontra mengenai “Ilmu yang Bebas Nilai dan Ilmu yang Terikat Nilai”.

Masalah etika yang dilanggar para Ilmuwan banyak mengorbankan nyawa makhluk hidup lain, bahkan nyawa manusia, semata-mata untuk mendapatkan NILAI KEBENARAN.

Sebagai contoh: Untuk masalah medis, (kelinci, katak, monyet, hamster, dsb) adalah yang paling banyak dikorbankan. Untuk masalah teknologi manusialah yang menanggung akibatnya, misalnya uji senjata nuklir dan sebagainya. Tetapi yang paling menggelitik adalah nyawa makhluk lain selain manusia, yang tak berdaya mempertahankan hidupnya, oleh berbagai percobaan ilmu pengetahun.

Pertanyaannya: Apakah hanya karena suatu ilmu pengetahuan harus mengorbankan nyawa makhluk lain yang seolah-olah tak berguna untuk kehidupan manusia? Atau tak begitu berartikah nyawa makhluk lain selain manusia?

Pertanyaan ini pernah saya ajukan ke dosen filsafat Ilmu di salah salah satu perguruan tinggi, dan saya hanya mendapat jawaban kurang memuaskan . Jawabannya adalah sudah sesuai konvensi/kesepakatan para ahli.

0 comments:

Posting Komentar