Selasa, 20 Desember 2011

Cupid dan Psyche

by:Lucia Widi
.

Kan kudongengkan padamu kisah antara Cupid dan Psyche.

***

Dahulu hidup seorang raja yang memiliki tiga puteri cantik. Yang paling muda, Psyche (Jiwa), melebihi kedua kakaknya, bahkan lebih mirip dewi dibandingkan manusia. Kecantikannya terdengar di seluruh penjuru bumi; banyak lali-laki yang ingin menikahinya. Bahkan ada yang mengatakan Venus (Aphrodite)-pun tidak dapat menandingi kecantikan Psyche. Dan Venus-pun mulai diabaikan. Kuilnya mulai tidak pernah didatangi; altar-altarnya penuh dengan debu; kota kesenangannya terlantar dan kemudian hancur. Segala kehormatan yang dahulu miliknya kini menjadi milik seorang gadis yang akan mati pada suatu saat nanti.

Venus tidak bisa menerima perlakuan seperti itu. Dan seperti biasanya ia meminta bantuan anaknya, mahluk muda bersayap yang dipanggil dengan sebutan Cupid (Cinta) - tidak ada yang selamat dari panahnya, baik dewa atau manusia. “Gunakan kekuatanmu,” ucap Venus, “dan jadikan gadis yang tidak sopan itu jatuh cinta kepada laki-laki paling hina dan busuk.”

Apa yang kemudian terjadi adalah sesuatu yang ada di luar jangkauan Venus. Karena ketika Cupid melihat Psyche ia sepertinya telah menembakkan anak panahnya ke dalam hatinya sendiri. Psyche tidak jatuh cinta kepada mahluk yang mengerikan. Dan yang lebih aneh, tidak ada laki-laki jatuh cinta kepadanya. Psyche, gadis paling cantik duduk menyendiri dan bersedih.

Hal itu diresahkan orang tuanya. Ayah Psyche mendatangi peramal Apollo dan meminta saran agar Psyche mendapatkan seorang suami yang baik. Cupid juga telah memberitahu Apollo tentang Psyche dan meminta bantuannya. Apollo mengatakan kepada ayahanda bahwa Psyche harus ditinggalkan sendiri di puncak sebuah bukit berbatu, di sana ia ditakdirkan mendapat suami seeokor ular bersayap dan mengerikan, lebih kuat daripada dewa.

Hati ayahanda tentu sungguh sengsara. Psyche lalu didandani dengan pakaian seolah-olah akan mati. Lalu dibawa ke puncak bukit. Tapi Psyche berusaha tegar. “Kalian telah menangis sebelumnya,” ucap Psyche, “karena kecantikanku membuat Langit cemburu. Sekarang pergilah, karena aku menerima semua ini dengan lapang dada.”

Psyche duduk di sebuah puncak bukit. Ketika ia menangis dan gemetar, berhembus angin lembut yang menenangkan, Zephyr. Ia merasa dibawa sang angin hingga terbaring di atas padang rumput yang penuh dengan bunga-bunga. Ia bangun di sisi sungai yang jernih; di tepi sungai itu ada rumah dengan tiang penyangganya terbuat dari emas, dindingnya dari perak, dan lantainya dari batu yang indah. Tidak ada suara yang terdengar, seolah rumah itu sengaja ditelantarkan dewa untuk Psyche. Saat ia berada di ambang pintu, telinganya mendengar suara, tapi tak tampak rupanya. Suara itu bilang bahwa rumah itu diperuntukkan baginya. Kemudian ia masuk tanpa ragu, lalu mandi dan menyegarkan dirinya. Meja makan-pun dipersiapkan untuknya, “Kami adalah para pelayanmu,” ucap suara aneh itu kepadanya, “dan kami akan melayani apapun permintaanmu.”

Pasyche dimandikan secara menyenangkan. Ketika ia menyantap hidangan makan malam terdengar alunan merdu seperti paduan suara mengiringi alunan nada harpa. Psyche hanya sendirian, namun ia yakin dengan datangnya malam suaminya akan datang. Dan benar adanya. Ketika Psyche merasa di dekatnya mendengar bisikan suara lembut, rasa takutnya menghilang. Dan dari suara itu, Psyche merasa yang ditakdirkan menjadi suaminya bukanlah monster atau mahluk mengerika, namun seorang suami yang telah lama ia nantikan.

Hubungan yang demikian tak sepenuhnya membuat Psyche senang, tapi ia tetap bahagia serasa berjalannya waktu. Pada suatu malam, suami Psyche yang tak terlihat itu memperingatkan bahwa akan datang bahaya dalam wujud kedua kakaknya. “Mereka akan mendatangi bukit di mana kau menghilang untuk menangisimu,” ucap suaminya, “namun kau tidak boleh membiarkan mereka melihatmu atau kau akan membuatku menderita dan menghancurkan hidupmu sendiri.” Psyche berjanji mengikuti nasihatnya, tapi sepanjang hari berikutnya ia menangis memikirkan kedua kakaknya, bahkan pelukan suaminya tidak dapat menghilangkan kesedihannya. Akhirnya sang suami menyerah pada hasrat Psyche, “Lakukanlah apa yang menjadi hasratmu, namun kau akan menuju kehancuranmu.”

Keesokan paginya dua kakak Psyche datang dengan dikawal Zephyr menuruni gunung. Mereka takjub dengan harta benda di dalam istana. Mereka bertanya dalam hati siapa raja yang telah memberikan semuanya kepada Psyche. Karena Psyche telah berjanji untuk tidak mengatakan kepada kakaknya tentang suaminya, ia menjawab bahwa suaminya adalah seorang anak muda dan saat ini ada urusan di luar. Setelah Psyche member emas dan perhiasan, Zephyr mengantarkan kedua kakak istrinya kembali ke bukit. Kecemburuan memenuhi hati keduanya, dan berencana untuk menghancurkan Psyche.

Pada kedatangannya yang kedua, kakak Psyche terus berusaha agar Psyche mengatakan seperti apa rupa suaminya. “Saat ini suamimu bersikap baik terhadapmu,” ucap salah satu kakaknya, “namun ia tetap mahluk mengerikan yang kemungkinan akan melulkaimu suatu hari nanti.” Keguncahan Psyche-pun menggelora, “Lalu apa yang harus kulakukan?”

Nasehat yang sudah dipersiapkan lalu diberikan kepada sang adik, dimana Psyche harus menyembunyikan pisau tajam dan lampu di dekat tempat tidur. Ketika suaminya sudah tidur, ia harus meninggalkan tempat tidur, lalu menyalakan lampu dan mengambil pisau itu. Ia juga harus memberanikan diri menusuk pisau kepada mahluk mengerikan yang sedang tidur itu. Dan setelah bingung dan ragu, akhirnya Psyche mengumpulkan keberanian untuk menyalakan lampu. Tetapi saat lampu mendekat kepada mahluk yang berbaring di tempat tidur, ternyata bukan monster mengerikan namun mahluk muda yang sangat tampan dan berseri-seri. Psyche tak kuasa menjatuhkan lututnya, dan pisau yang ia pegang hampir saja menusuk dadanya sendiri. Sang suami terbangun oleh setetes minyak lampu yang terjatuh mengenai bahu, lalu segera pergi tanpa kata.

Begitu menyesalnya Psyche, dan berkata kepada dirinya sendiri, “Aku dapat menghabiskan sisa waktu hidupmu untuk mencarinya. Jika ia sudah tidak punya cinta yang tersisa untukku, paling tidak aku dapat memperlihatkan kepadanya betapa aku sangat mencintainya.” Psyche memulai perjalannya, tak tahu harus ke mana; namun ia tidak akan menyerah mencari.

Dan sementara itu sang suami menemui ibunya untuk menyembuhkan luka hatinya. Dan Venus akan memperlihatkan kepada Psyche apa yang menimpa manusia jika telah membuat tidak senang seorang dewi.

Psyche rajin berdoa kepada dewa, namun tak satupun yang mengabulkkan dan menjadi musuh Venus. Psyche-pun putus asa. Ia memutuskan untuk bertemu Venus, lalu menawarkan diri menjadi pelayan untuk meredakan amarah sang dewi. Puaslah hati Venus. Venus lalu mengambil sejumlah bibit paling kecil, gandum, bunga madat, dan padi-padian, dan seterusnya, lalu mencampurnya menjadi satu tumbukan. “Pada malam hari semua bibit ini harsu dipisahkan,” ucap Venus sambil berlalu. Psyche ditinggal sendirian, duduk meratapi bibit itu. Tak ada gunanya memulai pekerjaan yang sia-sia, pikirnya. Namun sekelompok mahluk kecil yang hidup di dalam tanah merasa kasihan. Kata salah satu dari mereka, “Mari kita bantu kesulitan gadis malang itu.” Mereka segera datang dalam jumlah banyak dan mulai memilah-milah, hingga akhirnya bibit-bibit itu terpisah sesuai dengan jenisnya. Ketika Venus kembali menemui Psyche, sangat takjuplah ia sekaligus marah. “Tugasmu belum berakhir,” ujar Venus. Kemudian Venus member Psyche kerak roti dan menyuruhnya tidur di tanah; Venus tidur di tempat yang empuk. Jika Venus tetap memberinya pekerjaan berat dan membuatnya kelaparan, maka kemungkinan Psyche akan mati.

Esok paginya Venus kembali member Psyche tugas lain, dan kali ini berbahaya. “Pergilah ke tepi sungai, dimana semak-semak tumbuh tebal dan ada seekor domba berbulu emas. Pergilah ke sana dan ambilkan untukku bulu domba emas itu.” Ketika Psyche tiba di tepi sungai ia mendengar suara dari dalam dirinya yang memintanya melompat ke sungai dan mengakhiri semua penderitaan. Namun seketika ia mendengar suara lain dari dekat kakinya, dan yang berbicara kepadanya adalah alang-alang hijau. Alang-alang itu meminta Psyche untuk tidak menenggelamkan diri ke sungai. Sementara itu, domba yang akan dihadapi Psyche adalah domba yang sengit, tapi jika Psyche ingin menunggu hingga domba itu keluar dari semak-semak pada malam hari untuk beristirahat di tepi sungai, ia bisa pergi ke dalam semak-semak dan menemukan banyak bulu domba emas yang tergantung di semak-semak.

Demikianlah saran alang-alang yang membuat Psyche berhasil menyelesaikan tugas beratnya. Venus menerima bulu domba emas itu sambil tersenyum kesal. “Sesuatu telah menolongmu. Kau tidak menyelesaikan tugas ini seorang diri. Bagaimanapun juga, aku akan memberimu satu kesempatan untuk membuktika bahwa kau memiliki hati yang kuat. Apakah kau melihat air hitam yang mengalir dari bukit itu? Air itu bersumber dari sungai mengerikan yang disebut Kebencian, yaitu Sungai Styx. Kau harus mengisi botol ini dengan air itu.” Tugas itu berat. Hanya mahluk bersayap yang bisa meraih air terjun itu, begitu licin dan terjal batu-batu yang ada di kedua sisinya, dan begitu deras aliran air yang mengalir. Dan kali ini, yang menolongnya adalah seekor elang.

Semakin geranglah Venus, dan ia terus memberi Psyche tugas berat. Ia memberi Psyche sebuah kotak dan menyuruhnya membawa kotak itu ke dunia bawah dan kemudian meminta Proserpine untuk mengisi kotak itu dengan sebagian kecantikannya. Ia harus mengatakan bahwa Venus membutuhkannya, karena kecantikannya rusak akibat menyembuhkan luka yang diderita anaknya. Psyche bertemu dengan panduan ke Hades di sebuah menara yang dilewati. Panduan itu member tahu bagaimana tiba di istana Proserpine. Pertama melewati lubang besar di bumi dan menyeberangi sungai kematian; Psyche harus membayar satu sen (penny) pada Chiron, tukang perahu yang membawanya menyeberang. Dari sana terbentang jalan lurus ke istana Proserpine yang pintu gerbangnya dijaga seekor anjing berkepala tiga, Cerberus. Tapi jika ia memberinya kue maka anjing itu akan jinak dan membiarkannya masuk.

Apa yang terjadi adalah, tentu saja Proserpine memenuhi permintaan Venus. Dan cobaan berikut datangnya dari dalam diri Psyche sendiri: kesombongan dan rasa ingin tahu. Ia merasa harus melihat dan menggunakannya sedikit apa yang ada di dalam kotak itu. Ia mengetahu sebaik Venus bahwa penampilannya tidak bertambah seiring berjalannya waktu, dan ia yakin bahwa tidak lama lagi ia akan bertemu kembali dengan Cupid. Jika saja ia dapat membuat dirinya lebih menarik lagi untuk Cupid. Namun ia sangat kecewa karena di dalamnya tak ada apa-apa. Dan ia tertidur pulas.

Tak lama kemudian datang Dewa Cinta yang sudah sembuh, dan kini ia merindukan Psyche. Bagaimanapun, memenjarakan Cinta adalah tugas sulit. Cupid kemudian terbang mencari istrinya. Cupid melihat Psyche sedang terbaring dekat rumah mereka. Cupid lalu mengusap tidur di matanya dan memindahkannya ke dalam kotakk. Kemudian ia menembakkan satu anak panahnya untuk membangunkan Psyche. Setelah bangun, ia mencela Psyche karena rasa ingin tahunya dan menyuruhnya mengambilkan kotak itu kepada Venus, dan ia berjanji bahwa setelah itu semuanya akan baik-baik saja.

Sementara bergegas mengembalikan kotak itu, Cupid pergi ke Olympus. Ia bermaksud menemui Jupiter untuk memastika agar Venus tidak mengganggu mereka. Jupiter mengabulkan permintaan Cupid. “Meski di masa lalu kau telah melakukan kesalahan dengan mengubahku menjadi seekor sapi jantan dan angsa, dan seterusnya. Bagaimanapun juga, aku tidak bisa menolak permintaanmu.”

Jupiter mengumpulkan para dewa, termasuk Venus, mengumumkan pada mereka bahwa Cupid akan menikahi Psyche, dan ia mengangkat Psyche menjadi dewi. Mercury kemudian membawa Psyche ke istana Olympus; Jupiter member Psyche ambrosia, dan setelah mencicipinya ia berubah menjadi dewi. Perubahan yang sangat drastis ini membuat Venus tidak dapat menentang apa yang menjadi kehendak Jupiter.

Akhir dari kisah ini bahagia. Cinta (Cupid) dan Jiwa (Psyche) bertemu kembali setelah sekian alam saling mencari dan melewati berbagai cobaan; dan penyatuan itu tidak dapat dihancurkan.

***

Ah, kau tertidur..

13205870121204403988

0 comments:

Posting Komentar