Kamis, 07 Maret 2013

Sebab Semua Putra Nabi Diwafatkan Masih Kecil


Sebelumnya marilah kita mengenal terlebih dahulu semua anak-anak Nabi Muhammad saw. yang berjumlah tujuh orang. Sebagaimana yang disebutkan dalam kitab Tarikh al-Hawadits wa-l-Ahwal an-Nabawiyyah karya as-Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki al-Hasani, putra-putri Rasulullah saw. adalah sebagai berikut.

Putra-Putri Nabi Muhammad saw.
  • Al-Qasim, seorang laki-laki, anak pertama Rasulullah saw. yang dilahirkan dan meninggal sebelum masuk masa kenabian (masa mulai turunnya wahyu kepada Nabi Muhammad saw.), ketika meninggal ia masih berusia dua tahun.
  • Abdullah, putra Nabi saw. yang disebut juga at-Thayyib dan at-Thahir, ada pula yang berpendapat bahwa nama lainnya adalah at-Thayyib bukan at-Thahir. Mengenai kelahirannya ada yang berpendapat bahwa ia lahir ketika telah masuk masa kenabian, tetapi ada pula yang mengatakan kalau ia tak pernah menemui masa kenabian.
  • Zainab, anak perempuan Rasulullah saw. yang tertua. Melahirkan anak yang bernama ‘Aliy dan Yahya yang keduanya meninggal waktu masih kecil.
  • Ruqayyah, putri Rasulullah saw. yang diperistri oleh Utsman bin Affan. Beliau melahirkan seorang anak yang bernama Abdullah. Putri Rasulullah saw. ini wafat pada hari ketika Zaid bin Haritsah menyampaikan berita gembira tentang kemenangan kaum muslimin dalam pertempuran Badar.
  • Ummu Kultsum, putri Nabi saw. yang dinikahi Utsman bin Affan setelah saudarinya (Ruqayyah) wafat. Ummu Kultsum wafat pada bulan Sya’ban tahun 9 Hijriyah tanpa memiliki anak.
  • Fathimah (Fatimah), putri Nabi saw. yang diperistri oleh ‘Ali bin Abi Thalib. Beliau melahirkan anak yang bernama Hasan, Husain, Muhsin, Ruqayyah, Zainab dan Ummu Kultsum. Adapun Muhsin dan Ummu Kultsum meninggal waktu masih kecil.
  • Ibrahim, putra Rasulullah yang meninggal saat berumur tujuh puluh malam, ada pula yang mengatakan saat berusia tujuh bulan dan yang lain berpendapat berumur delapan bulan.
Putra-putri Nabi Muhammad saw. yang bernama al-Qasim, Abdullah, Zainab, Ruqayyah, Ummu Kultsum dan Fatimah dilahirkan di Makkah oleh istri Nabi saw. yang pertama, yaitu Khadijah r.a. Semua putri Rasulullah saw. pernah mengalami masa kenabian, masuk Islam dan turut berhijrah ke Madinah.

Adapun Ibrahim dilahirkan di Madinah oleh istri Nabi saw. yang bernama Maria al-Qibthiyyah (orang Mesir).

Semua anak-anak Nabi saw. meninggal saat beliau masih hidup, kecuali Fathimah yang wafat paling akhir, yakni tujuh bulan setelah wafatnya Rasulullah saw.

Mengapa Semua Putra Nabi Diwafatkan Masih Kecil?

Sebagaimana yang telah diterangkan di atas, putra-putra Rasulullah saw. (al-Qasim, Abdullah dan Ibrahim) semuanya meninggal ketika masih kecil, sehingga keturunan Rasulullah saw. diteruskan lewat anak perempuan beliau. Mengapa bukan dari anak laki-lakinya dan mengapa pula mereka diwafatkan sewaktu masih kecil?

Ini karena Nabi Muhammad saw. telah ditetapkan sebagai nabi terakhir sebagaimana yang dinyatakan oleh Allah SWT. dalam al-Qur’an Surah al-Ahzab ayat 40 yang artinya:

“…tetapi dia adalah Rasul Allah dan penutup para Nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”

oleh karena itu seandainya putra-putra beliau tumbuh dewasa, maka mereka hanya akan menjadi orang biasa dan tidak akan mungkin menjadi nabi, padahal nabi-nabi yang lain mempunyai putra-putra yang juga menjadi nabi (seperti Nabi Ibrahim yang punya anak Nabi Ismail dan Nabi Ishaq; Nabi Ya’qub punya anak Nabi Yusuf; Nabi Daud punya anak Nabi Sulaiman), untuk itulah Allah mewafatkan putra-putra Rasulullah saw. agar kehormatan dan keutamaan beliau sebagai Pemimpin/Penghulu Para Nabi dan Rasul (Sayyidul Anbiya’ wal Mursalin) tetap terjaga. Walhasil, keturunan Rasulullah saw. diteruskan oleh anak perempuan beliau, karena orang perempuan tidak pernah menjadi nabi. (sumber)

»»  READMORE...

Kisah pernikahan Rasulullah dan Siti Khadijah

Bermimpi Matahari Turun Ke Rumahnya

Dia adalah Khadijah r.a, seorang wanita janda,bangsawan, hartawan, cantik dan budiman. Ia disegani oleh masyarakat Quraisy khususnya, dan bangsa Arab pada umumnya. Sebagai seorang pengusaha, ia banyak memberikan bantuan dan modal kepada pedagang-pedagang atau melantik orang-orang untuk mewakili urusan-urusan perniagaannya ke luar negeri.

Banyak pemuka Quraisy yang ingin menikahinya dan sanggup membayar mas kawin berapa pun yang dikehendakinya, namun selalu ditolaknya dengan halus kerana tak ada yang berkenan di hatinya.

Pada suatu malam ia bermimpi melihat matahari turun dari langit,masuk ke dalam rumahnya serta memancarkan sinarnya ke semua tempat sehingga tiada sebuah rumah di kota Makkah yang luput dari sinarnya. Mimpi itu diceritakan kepada anak bapak saudaranya yang bernama Waraqah bin Naufal. Dia seorang lelaki yang berumur lanjut, ahli dalam mentakbirkan mimpi dan ahli tentang sejarah bangsa-bangsa purba. Waraqah juga mempunyai pengetahuan luas dalam agama yang dibawa oleh Nabi-Nabi terdahulu.

Waraqah berkata: “Takwil dari mimpimu itu ialah bahwa engkau akan menikah kelak dengan seorang Nabi akhir zaman.”

“Nabi itu berasal dari negeri mana?” tanya Khadijah bersungguh-sungguh.”Dari kota Makkah ini!” ujar Waraqah singkat.

“Dari suku mana?”
“Dari suku Quraisy juga.”

Khadijah bertanya lebih jauh: “Dari keluarga mana?”
“Dari keluarga Bani Hasyim, keluarga terhormat,” kata Waraqah dengan nada menghibur.

Khadijah terdiam sejenak, kemudian tanpa sabar meneruskan pertanyaan terakhir: “Siapakah nama bakal orang agung itu, hai anak bapa saudaraku?”
Orang tua itu mempertegas: “Namanya Muhammad SAW. Dialah bakal suamimu!”

Khadijah pulang ke rumahnya dengan perasaan yang luar biasa gembiranya. Belum pernah ia merasakan kegembiraan sedemikian hebat. Maka sejak itulah Khadijah sentiasa bersikap menunggu dari manakah gerangan kelak munculnya sang pemimpin itu.

Nabi Muhammad Berniaga

Muhammad, bakal suami wanita hartawan itu, adalah seorang yatim piatu yang miskin sejak kecilnya,dipelihara oleh bapa saudaranya, Abu Thalib, yang hidupnya pun serba kekurangan. Meskipun demikian, bapa saudaranya amat sayang kepadanya, menganggapnya seperti anak kandung sendiri, mendidik dan mengasuhnya sebaik-baiknya dengan adab, tingkah laku dan budi pekerti yang terpuji.Pada suatu ketika, Abu Thalib berbincang-bincang dengan saudara perempuannya bernama ‘Atiqah mengenai diri Muhammad.

Beliau berkata: “Muhammad sudah pemuda dua puluh empat tahun. Semestinyalah sudah kahwin.Tapi kita tak mampu mengadakan perbelanjaan, dan tidak tahu apa yang harus diperbuat.”

Setelah memikirkan segala ikhtiar, ‘Atiqah pun berkata: “Saudaraku, saya mendengar berita bahwa Khadijah akan memberangkatkan kafilah niaga ke negeri Syam dalam waktu dekat ini. Siapa yang berhubungan dengannya biasanya rezekinya bagus, diberkati Allah SWT. Bagaimana kalau kita pekerjakan Muhammad kepadanya? Saya kira inilah jalan untuk memperolehi nafkah, kemudian dicarikan isterinya.”

Abu Thalib menyetujui saranan saudara perempuannya.Dirundingkan dengan Muhammad, ia pun tidak keberatan.‘Atiqah mendatangi wanita hartawan itu, melamar pekerjaan bagi Muhammad, agar kiranya dapat diikut sertakan dalam kafilah niaga ke negeri Syam.

Khadijah, tatkala mendengar nama “Muhammad”, ia berfikir dalam hatinya: “Oh… inilah takbir mimpiku sebagaimana yang diramalkan oleh Waraqah bin Naufal, bahawa ia dari suku Quraisy dan dari keluarga Bani Hasyim, dan namanya Muhammad, orang terpuji, berbudi pekerti tinggi dan nabi akhir zaman.” Seketika itu juga timbullah hasrat di dalam hatinya untuk bersuamikan Muhammad, tetapi tidak dilahirkannya karena khuatir akan fitnah.

“Baiklah,” ujar Khadijah kepada ‘Atiqah, “saya terima Muhammad dan saya berterima kasih atas kesediaannya.Semoga Allah SWT melimpahkan berkatnya atas kitabersama.”. Wajah Khadijah cerah, tersenyum sopan,menyembunyikan apa yang tersudut di kalbunya.Kemudian ia meneruskan: “Wahai ‘Atiqah, saya tempatkan setiap orang dalam rombongan niaga dengan penghasilan tinggi, dan bagi Muhammad SAW akan diberikan lebih tinggi dari biasanya.”

Atiqah berterima kasih, ia pulang dengan perasaan gembira menemui saudaranya, menceritakan kepadanya hasil perundingannya dengan wanita hartawan dan budiman itu. Abu Thalib menyambutnya dengan gembira. Kedua bersaudara itu memanggil Muhammad SAW seraya berkata: “Pergilah anakanda kepada Khadijah r.a, ia menerima engkau sebagai pekerjanya. Kerjakanlah tugasmu sebaik-baiknya.”

Muhammad SAW menuju ke rumah wanita pengusaha itu.Sementara akan keluar dari pekarangan rumah bapa saudaranya, tiba-tibalah ia mencucurkan air mata kesedihan mengenang nasibnya. Tiada yang menyaksikannya dan menyertainya dalam kesedihan hati itu selain para malaikat langit dan bumi.

Kesaksian Seorang Rahib

Tatkala kafilah niaga itu siap akan berangkat,berkatalah Maisarah, kepala rombongan: “Hai Muhammad,pakailah baju bulu itu, dan peganglah bendera kafilah.Engkau berjalan di depan, menuju ke negeri Syam!”Muhammad SAW melaksanakan perintah. Setelah iring-iringan keluar dari halaman memasuki jalan raya,tanpa sedar Muhammad SAW menangis kembali, tiada yang melihatnya kecuali Allah dan para malaikat-Nya.

Dari mulutnya terucap suara kecil: “Aduh hai nasib! Mana gerangan ayahku Abdullah, mana gerangan ibuku Aminah.Kiranyalah mereka menyaksikan nasib anakandanya yang miskin yatim piatu ini, yang justeru lantaran ketiadaannyalah sehingga terbawa jadi buruh upahan ke negeri jauh. Aku tidak tahu apakah aku masih akan kembali lagi ke negeri ini, tanah tumpah darahku.”Jeritan batin itu membuat para malaikat langit bersedih. Mereka memintakan rahmat baginya. Maisarah memperlakukan Muhammad SAW dengan agak istimewa,sesuai dengan wasiat Khadijah. Diberinya pakaian terhormat, kenderaan unta yang tangkas dengan segala perlengkapannya.

Perjalanan mengambil waktu beberapa hari. Terik matahari begitu panas sekali. Tetapi Muhammad SAW berjalan sentiasa dipayungi awan yang menaunginya hingga mereka berhenti di sebuah peristirehatan dekat rumah seorang Rahib Nasrani. Muhammad SAW turun dari untanya, pergi berangin-angin melepaskan lelah di bawah pohon yang teduh. Rahib keluar dari tempat pertapaannya. Ia hairan melihat gumpalan awan menaungi kafilah dari Makkah, padahal tak pernah terjadi selama ini. Ia tahu apa erti tanda itu karena pernah dibacanya di
dalam Kitab Taurat. Rahib menyiapkan suatu perjamuan bagi kafilah itu dengan maksud untuk menyiasat siapa pemilik karamah dari kalangan mereka.

Semua anggota rombongan hadir dalam majlis perjamuan itu, kecuali Muhammad SAW seorang diri yang tinggal untuk menjaga barang-barang dan kenderaan. Ketika Rahib melihat awan itu tidak bergerak, tetap di atas kafilah, bertanyalah beliau:

“Apakah di antara kalian masih ada yang tidak hadir di sini?”Maisarah menjawab:
“Hanya seorang yang tinggal untuk menjaga barang-barang.”

Rahib pergi menjemput Muhammad SAW dan terus menjabat tangannya, membawanya ke majlis perjamuan. Ketika Muhammad SAW. bergerak, Rahib memperhatikan awan itu turut bergerak pula mengikuti arah ke mana Muhammad SAW berjalan. Dan di saat Muhammad SAW masuk ke ruangan perjamuan, Rahib keluar kembali menyaksikan awan itu, dan dilihatnya awan itu tetap di atas, tidak bergerak sedikit pun walaupun dihembus angin. Maka mengertilah ia siapa gerangan yang memiliki karamah dan keutamaan itu.

Rahib masuk kembali dan mendekati Muhammad SAW,bertanya: “Hai pemuda, dari negeri mana asalmu?”
“Dari Makkah”.
“Dari qabilah mana?” tanya sang Rahib.
“Dari Quraisy, tuan!”
“Dari keluarga siapa?”
“Keluarga Bani Hasyim.”
‘Siapa namamu?”
“Namaku, Muhammad.”

Serta merta ketika mendengar nama itu, Rahib berdiri dan terus memeluk Muhammad SAW serta menciumnya di antara kedua alisnya seraya mengucapkan: “Laa IlaahaIllallaah, Muhammadar Rasulullah.”

Ia menatap wajah Muhammad SAW dengan perasaan takjub,seraya bertanya: “Sudikah engkau memperlihatkan tanda di badanmu agar jiwaku tenteram dan keyakinanku lebih mantap?”
“Tanda apakah yang tuan maksudkan?” tanya Muhammad SAW.”Silakan buka bajumu supaya kulihat tanda akhir kenabian di antara kedua bahumu!”

Muhammad SAW. memperkenankannya, dimana Rahib tua itu melihat dengan jelas ciri-ciri yang dimaksudkan.”Ya….ya….tertolong, tertolong!” seru Rahib.
“Pergilah ke mana hendak pergi. Engkau terus ditolong!”

Rahib itu mengusap wajah Muhammad SAW, sambil menambahkan: “Hai hiasan di hari kemudian, hai pemberi syafa’at di akhirat, hai peribadi yang mulia, hai pembawa nikmat, hai nabi rahmat bagi seluruh alam!”

Dengan pengakuan demikian, Rahib dari Ahlil-Kitab itu telah menjadi seorang muslim sebelum Muhammad SAW. dengan rasmi menerima wahyu kerasulan dari langit.

Paderi-paderi Yahudi Gemetar Ketakutan

Pasar dibuka beberapa hari lamanya. Semua jualan laris dengan keuntungan berlipat ganda, mengatasi pengalaman yang sudah-sudah. Kebetulan pada saat itu bertepatan dengan hari Yahudi, yang dimeriahkan dengan upacara besar-besaran. Muhammad SAW, Abu Bakar dan Maisarah keluar menonton keramaian itu. Tatkala Muhammad SAW memasuki tempat upacara untuk menyaksikan cara mereka beribadat, maka tiba-tiba berjatuhanlah semua lilin-lilin menyala yang bergantungan pada tali di sekitar ruangan, yang menyebabkan paderi-paderi Yahudi gemetar ketakutan.

Seorang di antara mereka bertanya: “Alamat apakah ini?” Semuanya hairan, cemas dan ketakutan.

“Ini bererti ada orang asing yang hadir di sini,”jawab pengerusi upacara. “Kita baca dalam Taurat bahwa alamat ini akan muncul bilamana seorang lelaki bernama Muhammad SAW, Nabi akhir zaman, mendatangi hari raya agama Yahudi. Mungkinlah sekarang orang itu berada di ruangan kita ini. Carilah lelaki itu, dan kalau bertemu, segeralah tangkap!”

Abu Bakar r.a, sahabat Muhammad SAW sejak dari kecil,dan Maisarah, yang mendengar berita itu segera mendekati Muhammad SAW yang berdiri agak terpisah, dan mengajaknya keluar perlahan-lahan di tengah-tengah kesibukan orang yang berdesak-desakan keluar masuk ruangan.

Tanpa menunda waktu lagi, Maisarah segera memerintahkan kafilah berangkat pulang ke Makkah. Dengan demikian tertolonglah Muhammad SAW dari kejahatan orang-orang Yahudi.

Nabi Muhammad Pulang Ke Makkah

Biasanya dalam perjalanan pulang, kira-kira jarak tujuh hari lagi mendekati Makkah, Maisarah mengirim seorang utusan kepada Khadijah r.a, memberitahukan bakal kedatangan kafilah serta perkara-perkara lain yang menyangkut perjalanan. Maisarah menawarkan kepada Muhammad SAW: “Apakah engkau bersedia diutus membawa berita ke Makkah?” Muhammad SAW berkata: “Ya, saya bersedia apabila ditugaskan”.

Pemimpin rombongan mempersiapkan unta yang cepat untuk dinaiki oleh utusan yang akan berangkat terlebih dahulu ke kota Makkah. Ia pun menulis sepucuk surat memberikan kepada majikannya bahwa perniagaan kafilah yang disertai Muhammad SAW mendapat hasil laba yang sangat memuaskan, dan menceritakan pula tentang pengalaman-pengalaman aneh yang berkaitan dengan diri Muhammad SAW.

Tatkala Muhammad SAW menuntun untanya dan sudah hilang dari pandangan mata, maka Allah SWT menyampaikan wahyu kepada malaikat Jibril a.s .:
“Hai Jibril, singkatkanlah bumi di bawah kaki-kaki unta Muhammad SAW! Hai Israfil, jagalah ia dari sebelah kanannya! Hai Mikail, jagalah ia dari sebelah kirinya! Hai awan, teduhilah ia di atas kepalanya!”

Kemudian Allah SWT mendatangkan ngantuk kepadanya sehingga baginda SAW tertidur nyenyak dan tiba-tiba telah sampai di Makkah dalam tempo yang cukup singkat.Saat terbangun, ia heran mendapati dirinya telah berada di pintu masuk kota kelahirannya. Baginda SAW sedar bahwa ini adalah mukjizat Tuhan kepadanya, lalu bersyukur memuji Zat Yang Maha Kuasa.

Sementara baginda SAW mengarahkan untanya menuju ke tempat Khadijah r.a, secara kebetulan Khadijah r.a pada saat itu sedang duduk sambil kepalanya keluar jendela memandangi jalan ke arah Syam, tiba-tiba dilihatnya Muhammad SAW di atas untanya dari arah bertentangan di bawah naungan awan yang bergerak perlahan-lahan di atas kepalanya.
Khadijah r.a menajamkan matanya, bimbang kalau-kalau tertipu oleh penglihatannya, sebab yang dilihatnya hanyalah Muhammad SAW sendirian tanpa rombongan,padahal telah dipesannya kepada Maisarah agar menjaganya sebaik-baik. Ia bertanya kepada wanita-wanita sahayanya yang duduk di sekitarnya:

“Apakah kamu mengenali siapa pengendara yang datang itu?” sambil tangannya menunjuk ke arah jalan.Seorang di antara mereka menjawab: “Seolah-olah Muhammad Al-Amiin, ya sayyidati!”
Kegembiraan Khadijah r.a terlukis dalam ucapannya:
“Kalau benar Muhammad Al-Amiin, maka kamu akan kumerdekakan bilamana ia telah sampai!”
Tak lama kemudian muncullah Muhammad SAW di depan pintu rumah wanita hartawan itu, yang langsung menyambutnya dengan tutur sapa tulus ikhlas:

“Kuberikan anda unta pilihan, tunggangan khusus dengan apa yang ada di atasnya.”
Muhammad SAW mengucapkan terima kasih, kemudian menyerahkan surat dari ketua rombongan. Ia minta izin pulang ke rumah bapa saudaranya setelah melaporkan tentang perniagaan mereka ke luar negeri.

Khadijah Menawarkan Diri

Muhammad Al-Amiin muncul di rumah Khadijah. Wanita usahawan itu berkata: “Hai Al-Amiin, katakanlah apa keperluanmu!” Suaranya ramah, bernada dermawan.Dengan sikap merendahkan diri tapi tahu diharga dirinya, Muhammad SAW berbicara lurus, terus terang,meskipun agak malu-malu tetapi pasti. Katanya: “Kami sekeluarga memerlukan nafkah dari bahagianku dalam rombongan niaga. Keluarga kami amat memerlukannya untuk mencarikan jodoh bagi anak saudaranya yang yatim piatu”. Kepalanya tertunduk, dan wanita hartawan itu memandangnya dengan penuh ketakjuban.

“Oh, itukah….! Muhammad, upah itu sedikit, tidak menghasilkan apa-apa bagimu untuk menutupi keperluan yang engkau maksudkan,” kata Khadijah r.a. “Tetapi biarlah, nanti saya sendiri yang mencarikan calon isteri bagimu”. Ia berhenti sejenak, meneliti.Kemudian meneruskan dengan tekanan suara memikat dan mengandungi isyarat: “Aku hendak mengawinkanmu dengan seorang wanita bangsawan Arab. Orangnya baik, kaya, diingini oleh banyak raja-raja dan pembesar-pembesar Arab dan asing, tetapi ditolaknya. Kepadanyalah aku hendak membawamu”. Khadijah tertunduk lalu melanjutkan:

“Tetapi sayang, ada aibnya…! Dia dahulu sudah pernah bersuami. Kalau engkau mahu, maka dia akan menjadi pengkhidmat dan pengabdi kepadamu”.

Pemuda Al-Amiin tidak menjawab. Mereka sama-sama terdiam, sama-sama terpaku dalam pemikirannya masing-masing. Yang satu memerlukan jawapan, yang lainnya tak tahu apa mahu dijawab.Khadijah r.a tak dapat mengetahui apa yang terpendam di hati pemuda Bani Hasyim itu, pemuda yang terkenal dengan gelaran Al-Amiin (jujur). Pemuda Al-Amiin itupun mungkin belum mengetahui siapa kira-kira calon yang dimaksud oleh Khadijah r.a. Ia minta izin untuk pulang tanpa sesuatu keputusan yang ditinggalkan. Ia menceritakan kepada bapa saudaranya:

“Aku merasa amat tersinggung oleh kata-kata Khadijah r.a. Seolah-olah dia memandang enteng dengan ucapannya ini dan itu “anu dan anu….”Ia mengulangi apa yang dikatakan oleh perempuan kaya itu.

Atiqah juga marah mendengar berita itu. Dia seorang perempuan yang cepat naik darah kalau pihak yang dinilainya menyinggung kehormatan Bani Hasyim.

Katanya: “Muhammad, kalau benar demikian, aku akan mendatanginya”.
Atiqah tiba di rumah Khadijah r.a dan terus menegurnya: “Khadijah, kalau kamu mempunyai harta kekayaan dan kebangsawan, maka kamipun memiliki kemuliaan dan kebangsawanan. Kenapa kamu menghina puteraku, anak saudaraku Muhammad?”

Khadijah r.a terkejut mendengarnya. Tak disangkanya bahwa kata-katanya itu akan dianggap penghinaan. Ia berdiri menyabarkan dan mendamaikan hati ‘Atiqah:”Siapakah yang sanggup menghina keturunanmu dan sukumu? Terus terang saja kukatakan kepadamu bahwa dirikulah yang kumaksudkan kepada Muhammad SAW. Kalau ia mahu, aku bersedia menikah dengannya; kalau tidak, aku pun berjanji tak akan bersuami hingga mati”.Pernyataan jujur ikhlas dari Khadijah r.a membuat ‘Atiqah terdiam. Kedua wanita bangsawan itu sama-sama cerah. Percakapan menjadi serius.

“Tapi Khadijah, apakah suara hatimu sudah dimaklumi oleh anak bapa saudaramu Waraqah bin Naufah?” tanya ‘Atiqah sambil meneruskan: “Kalau belum cubalah meminta persetujuannya.”
“Ia belum tahu, tapi katakanlah kepada saudaramu, Abu Thalib, supaya mengadakan perjamuan sederhana. Jamuan minum, dimana sepupuku diundang, dan disitulah diadakan lamaran”, Khadijah r.a berkata seolah-olah hendak mengatur siasat. Ia yakin Waraqah takkan keberatan kerana dialah yang menafsirkan mimpinya akan bersuamikan seorang Nabi akhir zaman.

‘Atiqah pulang dengan perasaan tenang, puas. Pucuk dicinta ulam tiba. Ia segera menyampaikan berita gembira itu kepada saudara-saudaranya: Abu Thalib, Abu Lahab, Abbas dan Hamzah. Semua riang menyambut hasil pertemuan ‘Atiqah dengan Khadijah r.a.

“Itu bagus sekali”, kata Abu Thalib, “Tapi kita harus bermesyuarat dengan Muhammad SAW lebih dahulu.”

Janda Cantik Bermata Jeli

Sebelum dijemput oleh bapa saudaranya, maka terlebih dahulu ia pun telah menerima seorang perempuan bernama Nafisah, utusan Khadijah r.a yang datang untuk menjalin hubungan kekeluargaan. Utusan peribadi Khadijah itu bertanya: “Muhammad, kenapa engkau masih belum berfikir mencari isteri?”

Muhammad SAW menjawab: “Hasrat ada, tetapi kesanggupan belum ada.”

“Bagaimana kalau seandainya ada yang hendak menyediakan nafkah? Lalu engkau mendapat seorang isteri yang baik, cantik, berharta, berbangsa dan sekufu pula denganmu, apakah engkau akan menolaknya?”

“Siapakah dia?” tanya Muhammad SAW.
“Khadijah!” Nafisah berterus terang. “Asalkan engkau bersedia, sempurnalah segalanya. Urusannya serahkan kepadaku!”

Usaha Nafisah berjaya. Ia meninggalkan putera utama Bani Hasyim dan langsung menemui Khadijah r.a,menceritakan kesediaan Muhammad SAW. Setelah Muhammad SAW menerima pemberitahuan dari saudara-saudaranya tentang hasil pertemuan dengan Khadijah r.a, maka baginda tidak keberatan mendapatkan seorang janda yang usianya lima belas tahun lebih tua daripadanya.Betapa tidak setuju, apakah yang kurang pada Khadijah?Ia wanita bangsawan, cantik, hartawan, budiman. Dan utamanya pula karena hatinya telah dibukakan Tuhan untuk mencintainya, telah ditakdirkan akan dijodohkan dengannya.Kalau dikatakan janda, biarlah! Ia memang janda umur empat puluh, tapi janda yang masih segar, bertubuh ramping, berkulit putih dan bermata jeli.

Maka diadakanlah acara yang penuh keindahan itu. Hadir sama Waraqah bin Naufal dan beberapa orang-orang terkemuka Arab yang sengaja dijemput. Abu Thalib dengan rasmi meminang Khadijah r.a kepada saudara sepupunya. Orang tua bijaksana itu setuju. Tetapi dia meminta tempoh untuk berunding dengan wanita berkenaan.

Pernikahan Muhammad dengan Khadijah

Khadijah r.a diminta pendapat. Dengan jujur ia berkata kepada Waraqah: “Hai anak bapa saudaraku, betapa aku akan menolak Muhammad SAW padahal ia sangat amanah, memiliki keperibadian yang luhur, kemuliaan dan keturunan bangsawan, lagi pula pertalian kekeluargaannya luas”.

“Benar katamu, Khadijah, hanya saja ia tak berharta”,ujar Waraqah.

“Kalau ia tak berharta, maka aku cukup berharta. Aku tak memerlukan harta lelaki. Kuwakilkan kepadamu untuk menikahkan aku dengannya,” demikian Khadijah r.a menyerahkan urusannya.
Waraqah bin Naufal kembali mendatangi Abu Thalib memberitakan bahwa dari pihak keluarga perempuan sudah bulat mufakat dan merestui bakal pernikahan kedua mempelai. Lamaran diterima dengan persetujuan mas kahwin lima ratus dirham. Abu Bakar r.a, yang kelak mendapat sebutan “Ash-Shiddiq” sahabat akrab Muhammad SAW. sejak dari masa kecil, memberikan sumbangan pakaian indah buatan Mesir, yang melambangkan kebangsawaan Quraisy, sebagaimana layaknya dipakai dalam upacara adat istiadat pernikahan agung, apalagi karena yang akan dinikahi adalah seorang hartawan dan bangsawan pula.Peristiwa pernikahan Muhammad SAW dengan Khadijah r.aberlangsung pada hari Jumaat, dua bulan sesudah kembali dari perjalanan niaga ke negeri Syam.

Bertindak sebagai wali Khadijah r.a ialah bapa saudaranya bernama ‘Amir bin Asad, sedang Waraqah bin Naufal membacakan khutbah pernikahan dengan fasih,disambut oleh Abu Thalib sebagai berikut:”Alhamdu Lillaah, segala puji bagi Allah Yang menciptakan kita keturunan (Nabi) Ibrahim, benih (Nabi) Ismail, anak cucu Ma’ad, dari keturunan Mudhar.

“Begitupun kita memuji Allah SWT Yang menjadikan kita penjaga rumah-Nya, pengawal Tanah Haram-Nya yang aman sejahtera, dan menjadikan kita hakim terhadap sesama manusia.
“Sesungguhnya anak saudaraku ini, Muhammad bin Abdullah, kalau akan ditimbang dengan laki-laki manapun juga, niscayalah ia lebih berat dari mereka sekalian. Walaupun ia tidak berharta, namun harta benda itu adalah bayang-bayang yang akan hilang dan sesuatu yang akan cepat perginya. Akan tetapi Muhammad SAW, tuan-tuan sudah sama mengenalinya siapa dia. Dia telah melamar Khadijah binti Khuwailid. Dia akan memberikan mas kahwin lima ratus dirham yang akan segera dibayarnya dengan tunai dari hartaku sendiri dan saudara-saudaraku.

“Demi Allah SWT, sesungguhnya aku mempunyai firasat tentang dirinya bahwa sesudah ini, yakni di saat-saat mendatang, ia akan memperolehi berita gembira (albasyaarah) serta pengalaman-pengalaman hebat.

“Semoga Allah memberkati pernikahan ini”.

Penyambutan untuk memeriahkan majlis pernikahan itu sangat meriah di rumah mempelai perempuan. Puluhan anak-anak lelaki dan perempuan berdiri berbaris di pintu sebelah kanan di sepanjang lorong yang dilalui oleh mempelai lelaki, mengucapkan salam marhaban kepada mempelai dan menghamburkan harum-haruman kepada para tamu dan pengiring.

Selesai upacara dan tamu-tamu bubar, Khadijah r.a membuka isi hati kepada suaminya dengan ucapan: “Hai Al-Amiin, bergembiralah! Semua harta kekayaan ini baik yang bergerak mahupun yang tidak bergerak, yang terdiri dari bangunan-bangunan, rumah-rumah,barang-barang dagangan, hamba-hamba sahaya adalah menjadi milikmu. Engkau bebas membelanjakannya ke jalan mana yang engkau redhai !”

Itulah sebagaimana Firman Allah SWT yang bermaksud:”Dan Dia (Allah) mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kekayaan”.(Adh-Dhuhaa: 8) Alangkah bahagianya kedua pasangan mulia itu, hidup sebagai suami isteri yang sekufu,sehaluan, serasi dan secita-cita.

Dijamin Masuk Syurga

Khadijah r.a mendampingi Muhammad SAW. selama dua puluh enam tahun, yakni enam belas tahun sebelum dilantik menjadi Nabi, dan sepuluh tahun sesudah masa kenabian. Ia isteri tunggal, tak ada duanya, bercerai karena kematian. Tahun wafatnya disebut “Tahun Kesedihan” (‘Aamul Huzni).

Khadijah r.a adalah orang pertama sekali beriman kepada Rasulullah SAW. ketika wahyu pertama turun dari langit. Tidak ada yang mendahuluinya.

Ketika Rasulullah SAW menceritakan pengalamannya pada peristiwa turunnya wahyu pertama yang dihantar Jibril ‘alaihissalam, dimana beliau merasa ketakutan dan menggigil menyaksikan bentuk Jibril a.s dalam rupa aslinya, maka Khadijahlah yang pertama dapat mengerti makna peristiwa itu dan menghiburnya, sambil berkata:

“Bergembiralah dan tenteramkanlah hatimu. Demi Allah SWT yang menguasai diri Khadijah r.a, engkau ini benar-benar akan menjadi Nabi Pesuruh Allah bagi umat kita.

“Allah SWT tidak akan mengecewakanmu. Bukankah engkau orang yang sentiasa berusaha untuk menghubungkan tali persaudaraan? Bukankah engkau selalu berkata benar?Bukankah engkau sentiasa menyantuni anak yatim piatu,menghormati tetamu dan menghulurkan bantuan kepada setiap orang yang ditimpa kemalangan dan musibah?”

Khadijah r.a membela suaminya dengan harta dan dirinya di dalam menegakkan kalimah tauhid, serta selalu menghiburnya dalam duka derita yang dialaminya dari gangguan kaumnya yang masih ingkar terhadap kebenaran agama Islam, menangkis segala serangan caci maki yang dilancarkan oleh bangsawan-bangsawan dan hartawan Quraisy.Layaklah kalau Khadijah r.a mendapat keistimewaan khusus yang tidak dimiliki oleh wanita-wanita lain iaitu, menerima ucapan salam dari Allah SWT. yang dihantar oleh malaikat Jibril a.s kepada Rasulullah SAW. disertai salam dari Jibril a.s peribadi untuk disampaikan kepada Khadijah radiallahu ‘anha serta dihiburnya dengan syurga.

Kesetiaan Khadijah r.a diimbangi oleh kecintaan Nabi SAW kepadanya tanpa terbatas. Nabi SAW pernah berkata: “Wanita yang utama dan yang pertama akan masuk Syurga ialah Khadijah binti Khuwailid, Fatimah binti Muhammad SAW., Maryam binti ‘Imran dan Asyiah binti Muzaahim,isteri Fir’aun”.

Wanita Terbaik

Sanjungan lain yang banyak kali diucapkan Rasulullah SAW. terhadap peribadi Khadijah r.a ialah: “Dia adalah seorang wanita yang terbaik, karena dia telah percaya dan beriman kepadaku di saat orang lain masih dalam bimbang keingkaran; dia telah membenarkan aku di saat orang lain mendustakanku; dia telah mengorbankan semua harta bendanya ketika orang lain mencegah kemurahannya terhadapku; dan dia telah melahirkan bagiku beberapa putera-puteri yang tidak ku dapatkan dari isteri-isteri yang lain”.

Putera-puteri Rasulullah SAW. dari Khadijah r.a sebanyak tujuh orang: tiga lelaki (kesemuanya meninggal di waktu kecil) dan empat wanita. Salah satu dari puterinya bernama Fatimah, dinikahkan dengan Ali bin Abu Thalib, sama-sama sesuku Bani Hasyim. Keturunan dari kedua pasangan inilah yang dibangsakan sebagai keturunan langsung dari Rasulullah SAW.
»»  READMORE...

Umur Manusia

KH. Jalaluddin Rakhmat “Alangkah cepatnya jam demi jam dalam satu hari; alangkah cepatnya hari demi hari dalam satu bulan; alangkah cepatnya bulan demi bulan dalam satu tahun; alangkah cepatnya tahun demi tahun dalam umur manusia,” ujar Ali bin Abi Thalib kw. Umur adalah jumlah pergantian tahun yang kita alami. Kita menghitung umur dari jumlah pergantian tahun yang kita lewati. Karena itu, pergantian tahun sepatutnya menjadi tonggak-tonggak utama buat merenungkan umur. Kualitas Umur. Nabi Muhammad SAW mengambarkan kualitas umur dengan sangat indah: “Pada hari kiamat dibukakan kepada manusia pada setiap hari dari umurnya dua puluh empat lemari (khazanah) –sebanyak bilangan jam sehari semalam. Ada khazanah yang dipenuhi dengan cahaya dan kebahagiaan sehingga ketika menyaksikannya orang merasa senang dan bahagia. Sekiranya khazanah itu diperlihatkan kepada ahli neraka, mereka tidak akan merasakan pedihnya siksa neraka. Itulah saat-saat ketika ia menaati perintah Tuhannya. Kemudian dibukakan baginya khazanah yang lain. Ia melihat khazanah itu gelap gulita, baunya menyengat dan mengerikan. Orang yang menyaksikannya merasa ngeri dan takut. Sekiranya khazanah itu dibagikan kepada ahli surga, hilanglah segala kenikmatan surga itu. Itulah saat-saat ketika orang membangkang kepada perintah Tuhannya. Kemudian dibukakan kepadanya khazanah yang lain. Ia melihatnya kosong. Tidak ada yang membuatnya gembira dan tidak ada yang mebuatnya berduka cita. Itulah saat-saat ketika ia tidur dan sibuk dengan urusan dunia yang mubah. Ketika ia melihatnya, hatinya dipenuhi kekesalan dan kekecewaan. Ia telah kehilangan waktunya yang dapat diisi dengan kebajikan yang tidak terperikan. Inilah yang disebut dalam Al-Qur’an: Itulah hari penyesalan. (Mizan al-Hikmah, 6:540). Jadi, jam demi jam yang kita lewati adalah lemari-lemari yang lewat di depan kita. Terserah kepada kita untuk mengisi lemari itu dengan amal saleh atau kemaksiatan, atau kita membiarkannya lewat begitu saja. Dengan begitu, umur adalah “assets” sekaligus “liabilities”. Anda bisa beruntung dan celaka dengan umur panjang Anda; bergantung kepada kualitasnya. Umur –seperti artikel dalam majalah- ditentukan oleh mutunya, bukan panjangnya. Nabi SAW menyimpulkannya dalam dua kalimat yang indah, “Manusia yang paling baik ialah yang panjang umurnya dan baik amalnya. Manusia yang paling buruk ialah yang panjang umurnya dan buruk amalnya.” Umur akan dihisab. Tuhan bukan saja akan memperlihakan kualitas umur. Dia juga akan memeriksa dengan teliti penggunaan umur itu. Nabi Muhammad SAW bersabda: “Tidak akan bergeser telapak kaki manusia pada hari kiamat sebelum ia ditanya tentang empat hal: dari umur, pada apa ia menghabiskannya; dari kemudaannya, untuk apa ia mempergunakannya; dari hartanya, dari mana ia memperolehnya dan kemana ia membelanjakannya; dari ilmunya, untuk apa ia memanfaatkannya.” Pada riwayat yang lain, Nabi Muhammad SAW memanggil manusia sebagai anak-anak umurnya. Putera empat puluh abna al-arbai’in, menunjukkan manusia yang berumur empat puluh tahun. Rasulullah SAW bersabda: “Putera-puteri empat puluh tahun adalah tanaman yang sudah siap dituai; putera-puteri lima puluh, apa yang sudah kalian hasilkan dahulu atau belakangan; putera-puteri enam puluh, marilah menghadapi hisab, tidak ada lagi helah bagi kamu; putera-puteri tujuh puluh, persiapkan dirimu menghadapi kematian.” (Mizan al-Hikmah, 6:545). Walhasil, sebelum hari kiamat, Nabi Muhammad SAW menganjurkan umatnya untuk memeriksa umurnya setiap kali menyadari umurnya bertambah, setiap pergantian tahun. Ada tonggak-tonggak umur yang sangat penting. Tonggak pertama adalah umur empat puluh tahun. Al-Qur’an menggambarkan perilaku orang mulia ketika sampai pada usia empat puluh tahun: “…sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan memberikan kebaikan kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri (QS. Al-Ahqaaf, 46:15). Mereka itulah orang-orang yang Kami terima dari mereka amal yang baik yang mereka kerjakan dan kami ampuni kesalahan-kesalahan mereka, bersama penghuni-penghuni surga, sebagai janji yang benar yang telah dijanjikan kepada mereka.” (QS. Al-Ahqaaf, 46:16). Berkenaan dengan orang-orang yang berumur empat puluh tahun, Nabi SAW bersabda: “Bila seseorang telah mencapai umur empat puluh tahun, lalu kebaikannya tidak mengatasi kejelekannya, setan mencium di antara kedua matanya dan berkata: ‘Inilah manusia yang tidak beruntung.’” Dalam riwayat lain, Nabi SAW bersabda: “Barangsiapa yang umurnya sudah melebihi empat puluh tahun, sedangkan kebaikannya tidak lebih banyak dari kejelekannya, hendaklah ia mempersiapkan keberangkatannya ke neraka.” (Mizan al-Hikmah, 6:544). Umur bisa Ditambah. Menurut beberapa hadis, umur bisa ditambah dan juga bisa dikurangi. Ada beberapa kebajikan yang dapat memperpanjang umur, seperti juga ada beberapa kemaksiatan yang memperpendek umur. Di antara perbuatan yang memperpanjang umur adalah silaturrahmi, menyambungkan kekeluargaan: “Barangsiapa yang ingin diluaskan rezekinya dan dipanjangkan usianya, hendaknya ia menyambungkan kekeluargaan” (Hadis Muttafaqun ‘Alaih). Yang termasuk menyambungkan kekeluargaan ialah menjaga persaudaraan, berbuat baik kepada sahabat dan karib kerabat, memaafkan orang yang menyakiti hati kita, menjenguk dan saling mengunjungi untuk mempererat kasih sayang, bahkan bergaul dengan baik untuk memelihara kasih sayang di antara anggota-anggota keluarga. Berikut ini adalah hadis-hadis yang berkenaan dengan hal itu: “Jika engkau ingin Allah menambahkan umurmu, berbuat baiklah pada kedua orangtuamu. Orang yang berbuat baik pada istri dan anak-anaknya akan dipanjangkan usianya.” (Mizan al-Hikmah, 6:546). Berdasarkan kaidah mafhum mukhalafah, implikasi sebaliknya, kita dapat menyimpulkan bahwa memutuskan silaturrahmi memperpendek usia. Termasuk memutuskan silaturrahmi adalah menelantarkan keluarga, bertengkar dengan orang lain, lebih-lebih dengan sesama Muslim, menyimpan kebencian dan dendam, dan berlaku kasar kepada sesama manusia. Tanpa tunjangan hadis sekalipun, kita mengetahui bahwa penyebab stress yang paling besar pada masyarakat modern ialah hilangnya keakraban di antara sesama manusia, atau kegagalan menciptakan hubungan personal yang hangat. Dari stress bersumber berbagai penyakit. Stress berlarut-larut mengantarkan orang lebih cepat kepada kematian. Sebaliknya, terbukti juga bahwa orang yang akrab dengan keluarganya, keluarga yang bahagia, mereka lebih sehat dan lebih tahan terhadap penyakit. Berbagai penelitian membuktikan bahwa ada hubungan yang sangat erat antara “marifal success” (keberhasilan perkawinan) dengan kesehatan fisik dan psikologis. Hadis mendahului penelitian ini dengan menyebutkan: Man hasuna birruhu bi ahli baitih, zida fi umrihi (Siapa yang baik kebajikannya pada keluarganya, akan ditambah umurnya). Bila kehangatan kekeluarga ini diperluas pada lingkup yang lebih besar, terjadilah lingkungan masyarakat yang sehat. Maka akan berkuranglah biaya yang dikeluarkan masyarakat untuk kesehatan, dan akan menurun tingkat perceraian, kenakalan remaja, konflik SARA dan kejahatan-kejahatan lainnya. Silaturrahmi bukan saja memperpanjang umur individu, ia juga melestarikan “umur” masyarakat. Betulkah umur bisa ditambah? Allah berfirman: “…Dia menambah dalam penciptaan apa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah berkuasa untuk melakukan sesuatu” (QS. Faathir, 35:1). Adakah ketentuan yang mengatur pertambahan umur? Al-Qur’an menyatakan: Tidaklah seorang perempuan hamil dan tidaklah dia melahirkan kecuali dengan pengetahuan Dia. Tidaklah dipanjangkan umur dan tidaklah umur dikurangi, kecuali semuanya ada dalam kitab. Sesungguhnya yang demikian itu mudah sekali bagi Allah. (QS. Faathir, 35:11). [JR] Tulisan ini dimuat di Majalah UMMAT dalam Rubrik SUNNAH oleh Musthafa Syauqi dengan judul “Umur” (http://www.majulah-ijabi.org/14/post/2013/01/umur-manusia.html)
»»  READMORE...

Pernikahan Imam Ali as dan Sayyidah Fatimah as

Tanggal 1 Dzulhijjah 1433H, yang jatuh pada tanggal 17 Oktober 2012, adalah hari pernikahan dua manusia suci, Imam Ali as dan Sayyidah Fathimah as pada tahun 2H. Rasulullah Saw bersabda bahwa sebelum mereka menikah di bumi, Allah telah menikahkan keduanya di langit. Untuk memperingati hari berbahagia ini, kami menurunkan kisahnya, diambil dari kitab Innahaa Fathimah Az-Zahra karya Muhammad Abduh Yamani. Buku ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul “Hanya Fatimah, Bunga Nan Jadi Bunda Ayahnya”, dan diterbitkan Pustaka Iiman, Desember 2007. Untuk tulisan ini, isi diambil dari terjemahan al-Habib Abdul Qodir Ba’abud yang dimuat di blog beliau di http://anaknyaabi.wordpress.com/ [majulah-ijabi.org] **** 

Ketika Sayyidatuna Fatimah Azzahro’ mencapai usia ke-18, sebagian sahabat datang untuk melamarnya, di antaranya datang Sayyidina Abu Bakr, dan Rasulullah hanya diam lalu berkata “Aku menunggu perintah dari Allah”.Kemudian datang Sayyidina Umar maka Rasulullah menjawab sebagaimana jawaban pada Sayyidina Abu Bakr. Maka beliau berdua mendatangi Sayyidina Ali bin Abi Thalib seraya berkata “Wahai Ali engkau termasuk salah satu orang yang pertama masuk Islam dan engkau adalah begini.. begini.. dan begini…” Sayyidina Abu Bakr dan Umar memberi semangat pada Sayyidina Ali dan berkata “Sebaiknya engkau pergi melamar Fatimah dari Rasulillah dan engkau adalah orang yang pantas dan berhak memilikinya, engkau juga adalah sepupunya.” Maka berangkatlah Sayyidina Ali dalam keadaan malu yang sangat, lalu masuklah beliau kepada Rasulullah dengan rasa malu yang sangat besar, duduk di hadapan Rasulullah dan beliau Saw. melihat dari mata Sayyidina Ali terpancar sebuah kata-kata dan rasa malu. Rasulullah berkata “Apa yang ada di benakmu wahai Ali ?” Sayyidina Ali menjawab dengan mata yang berkaca-kaca “Terlintas di benakku Fatimah duhai Rasulallah”. Maka Rasulullah menjawab “marhaban wa ahlan” Sayyidina Ali pun terdiam dan tersipu malu. Begitu juga Nabi terdiam dan malu beberapa saat yang cukup lama. Dalam benak Rasulullah ingin Sayyidina Ali untuk membuka pembicaraan, dan Sayyidina Ali dalam keadaan malu yang sangat sehingga tak mampu meneruskan kata-katanya. Maka keluarlah Sayyidina Ali, dan para sahabat telah menunggu di luar dan bertanya “Apa yang Rasulullah katakan padamu ?” Sayyiduna Ali menjawab ”Rasulullah berkata ‘marhaban wa ahlan’”. Para sahabat berkata “Wahai Ali, cukup seandainya Rasulullah berkata padamu satu saja, tapi Rasulullah telah memberimu dua jawaban yaitu ‘marhaban wa ahlan’ tidak diragukan lagi bahwa Rasulullah telah menyetujuinya.” 

Dalam riwayat yang lain: Ketika Rasulullah berada di masjid, Rasulullah berkata bahwa sesungguhnya Allah Swt telah menikahkan Fatimah dengan Ali di langit dan aku telah menikahkannya dengan Ali maka semua sahabat Ra. yang ada di masjid pun menjadi saksi. Di sebagian riwayat mengatakan: Rasulullah berkata kepada Sayyidina Ali “Hai Ali apakah kau memiliki sesuatu yang bisa kau jadikan sebagai mahar?” Maka Sayyidina Ali berkata “Wahai Rasulullah aku tak memiliki sesuatu apapun kecuali pedang dan baju perangku.” Karena Sayyidina Ali tergolong orang yang tidak mampu, yang tumbuh besar dalam didikan Rasulullah, seperti kita ketahui bahwa Beliau hidup dalam kezuhudan dan kemiskinan yang tidak memiliki apa-apa maka Ali pun menjawab seperti itu. “Duhai Ali mengenai pedangmu engkau harus tetap menggunakannya untuk berperang di jalan Allah sedang baju zirahmu juallah!” Maka Sayyidina Utsmanmembeli baju perang tersebut dengan harga 480 dirham lalu Sayyidina Ali memberikan hasil penjualan itu kepada Rasulullah. Rasulullah mengambil 1/3-nya untuk membeli minyak wangi dan sebagian digunakan untuk menghias rumah Fatimah. Disebutkan dalam sebagian riwayat Rasulullah masuk kamar Fatimah untuk bermusyawarah dengannya dan berkata “Wahai Fatimah sesungguhnya Ali ingin meminangmu dan kau telah mengenal Ali dengan baik.” Maka Sayyidatuna Fatimah diam dan tersipu malu. Rasulullah mengetahui dengan diamnya Fatimah itu berarti dia telah ridha dan menyetujuinya. Maka dimulailah persiapan untuk menggelar pernikahannya. Akan tetapi, tahukah anda perlengkapan apa yang dipersiapkan oleh Azzahra? Bagaimana dengan zaman ini, seorang anak gadis sekarang mungkin salah satu dari mereka merepotkan keluarganya dan mereka tidak rela jika pernikahan mereka dilakukan dengan sederhana. Dengan menginginkan ini dan itu, coba perhatikan ini adalah Sayyidatuna Fatimah, pemimpin para wanita di surga nanti. Apakah perlengkapan yang disiapkan Fatimah? Persiapan yang dilakukan Sayyidatuna Aisyah dan sebagian iring-iringan Ummahatul Mukminin dengan membawaperlengkapan nikah menuju rumah Fatimah, lalu Sayyidatuna Aisyah berkata “Kami gelarkan di kamar Fatimah pasir halus sebagai permadani yang menghiasi kamar Sang Bunga dan didatangkan bantal dari kulit yang didalamnya dipenuhi dengan pelepah kurma yang mana bantal ini bakal dijadikan sebagai alas tidur mereka. Dengan perabot alat penggiling gandum dan bejana tempat air (kendi) juga beberapa minyak wangi serta dipersiapkan tempat menyimpan baju (yang sekarang dikenal dengan nama lemari).” Tahukah anda bagaimana bentuk lemari tersebut? Sayidatuna Aisyah berkata “Kami tancapkan antara dua dinding sebatang kayu untuk meletakkan pakaian mereka dan tempat untuk menggantungan tempat air juga barang-barang mereka yang mana kayu ini sebagai segala tempat penyimpanan” (seperti lemari di zaman ini). Subhanallah, bagaimana dulu keadaan mereka dalam kezuhudan ini? Dalam keadaan yang sangat memprihatinkan ini?? Akan tetapi Nabi Saw telah memberi kabar bahwa dunia tidak pantas untuk Muhammad dan keluarga Muhammad. Dimana Rasulullah tidak pernah menoleh dan disibukkan oleh dunia ini. Sedangkan Sayyiduna Hamzah datang dengan membawa dua onta yang sangat istimewa sebagai jamuan makan untuk para tamu-tamu yang datang. Sayyidatuna Aisyah berkata “Maka kami memakan kurma dan kismis dan demi Allah aku tak melihat pernikahan yang lebih mulia dari pernikahan Fatimah.” Bagaimana bisa sebuah pernikahan dapat menandingi pernikahan Fatimah yang mana pernikahan Fatimah telah dirayakan di langit sebelum dirayakan di bumi dengan ‘Inayah Allah Swt. Lalu dimulailah perayaan pernikahan, Nabi pun keluar dengan membawa bighol/binatang sejenis kuda dan berkata “Naiklah wahai putriku Fatimah.” Lalu beliau menyuruh Salman “Bawa dan tuntun ia menuju rumah Sayyidina Ali” dan Rasulullah mengikuti di belakang dengan Sayyidina Hamzah beserta keluarga Bani Hasyim sebagai arak-arakan menuju rumah Sayyidina Ali. Rasulullah menyuruh sebagian perempuan untuk mengarak Sayyidatuna Fatimah dengan disertai lantunan sya’ir-sya’ir pujian dan takbir kepada Allah serta menarik Sayyidatuna Fatimah dalam arak-arakan tersebut. Sungguh pernikahan yang sangat indah dan meria…. Pernikahan yang membuat seluruh alam riang gembira…. Pernikahan sang putri yang akan menjadi pemimpin para wanita di surga nantinya…. Pernikahan yang akan menghasilkan para kesatria-kesatria yang akan menjadi pemimpin pemuda di surga…. Mudah-mudahan Allah menjadikan kita semua termasuk dalam lingkupan kebahagiaan ini…. Dan dicatat sebagai orang-orang yang singgah di telaga Rasulullah dan masuk ke surga Allah nanti.. Aamiin.. Aamiin.. Ya Rabbal ‘Alamiin. Para Ummahatul Mu’minin saling berlomba-lomba. Taukah kalian atas apa mereka saling berlomba-lomba?? Mereka berlomba-lomba untuk mendapat ridha Rasulullah Saw… Para Ummahatul Mu’minin tahu bahwa Rasulullah sangat amat mencintai putrinya ini. Tidak pernah mencintai seorang manusia pun seperti cintanya pada putrinya ini sama sekali. Mereka tahu jika mereka menggembirakan dan membantu Fatimah, mereka mendapat tempat yang sangat khusus di hati Rasulullah Saw.. Kemudian sebagaimana kalian ketahui seorang anak gadis di hari pernikahannya siapakah yang paling diharapkan?? Yang sangat diharapkan dan dibutuhkan adalah seorang ibu. Tapi kemanakah Khadijah binti Khuwailid?? Sesungguhnya Khadijah telah dikuburkan di bumi Makkah yang tandus. Di hari pernikahan Sayyidatuna Fatimah, Rasulullah teringat pada istri tercintanya yaitu Khadijah, maka Rasulullah menuntun Sayyidatuna Fatimah masuk ke dalam rumah Sayyiduna Ali. Para wanita-wanita berdatangan dan masuk ke kamar Sayyidatuna Fatimah. Kemudian Ummi Salamah melantunkan sya’ir-sya’ir pujian yang diiringi oleh para wanita-wanita yang berbunyi: Sirna bi aunillahi jaaroti wasykurna hu fikulli halati (Dengan rahmat Allah kita menjadi tetangga, rasa syukur kami atas semua nikmat ini) Wadzkurna ma an ama Rabbul ‘Ula minkasyi makruhati wa afati (Ingatlah atas kelapangan yang Allah berikan dari segala malapetaka dan musibah) Faqot hadana ba’da kufrin waqot an asyana Rabbus samawati (Juga atas pentunjuk sehinga kita terlepas dari kekufuran dan Allah memberi kita kehidupan) Sirna ma’a khoiri nisail waro tufda biammatin wakholati (Sehingga bersama sebaik-baik wanita yang kami siap menjadikan orang yang kami cintai sebagai tebusanmu) Ya bintaman fadholahu dul ula bilwahyi minhu warrisalati (Wahai putri seorang yang diagungkan dengan sebuah wahyu dan kerasulan) Saat itu para wanita-wanita melantunkan bait-bait syair yang mana mereka berusaha agar dapat menggembirakan hati Sayyidatuna Fatimah. Kemudian Nabi Saw. membawa masuk Fatimah ke rumah Sayyidina Ali dan berkata “Jangan kau sentuh istrimu sampai aku kembali.” Maka Rasulullah kembali menuju masjid untuk menunaikan shalat Isya’. Bagaimana keadaan manusia sekarang? Berapa banyak dengan sebab acara pernikahan memudahkan urusan shalat atau bahkan meninggalkannya? Tapi Rasulullah Saw. tidak ada di dalam hatinya yang lebih mulia dari shalat. Maka Rasulullah Saw. kembali ke masjid untuk melaksanakan shalat Isya’ bersama para sahabat dan para tamu, Nabi memberikan pencerahan serta memberikan nasehat-nasehat. Setelah itu Rasulullah dengan cepat berjalan menuju rumah Sayyidatuna Fatimah. Ketika Rasulullah masuk, semua para wanita keluar kecuali satu yang tidak keluar, yaitu Asma’ binti Umais, menemani Fatimah berada duduk di ujung kamar. Kemudian Nabi berkata”Siapa ini?” Asma’: “Asma’” Nabi: “Binti Umais?” Asma’: “Iya wahai Rasulullah” Nabi: “Mengapa kau tidak keluar?” Asma’ binti Umais berkata “Wahai Rasulullah, seorang wanita atau anak gadis di hari seperti ini sangat membutuhkan seorang teman wanita yang bisa diajak curhat dan diskusi.” Subhanallah, anak gadis di hari pernikahannya, di zaman yang penuh kehormatan dan adab mungkin dia tidak mengerti perkara-perkara atau tata cara serta urusannya, bahkan mungkin ia tertimpa rasa malu, mungkin terjadi atasnya perkara-perkara yang tidak ia mengerti. Asma’ bertanya “Bolehkah aku temani dia?” Maka Rasulullah Saw. teramat sangat gembira, karena Asma’ membuat putrinya terhibur dan tenang. Bagi Fatimah di hari seperti ini, ia sangat membutuhkan ibunya, Khadijah. Dan Asma’ binti Umais berusaha menggantikan sebagian peran Khadijah, oleh karena itu Rasulullah Saw. gembira. Asma’ binti Umais berkata “Maka Nabi Saw. pun mendoakanku dengan doa-doa yang sangat banyak. Demi Allah, aku sangat mengharapkan doa-doa itu. Dan inilah yang selalu ku harapkan dan ku impi-impikan.” Padahal Asma’ binti Umais termasuk dariwanita-wanita yang penuh perjuangan dan ikut hijrah serta memiliki sebuah peran yang besar bagi para muslimat. (Di sebagian riwayat bukan Asma’, akan tetapi Ummu ‘Aiman) **** [Untuk melengkapi cerita ini, ada riwayat lain yang dikutip dari sumber yang berbeda. Kami menempatkan dalam kurung kotak di tulisan ini. Diambil dari Kitab Hayaatu Zahra, 'Allamah Najafi, hal. 159 dan diterjemahkan oleh Ustadz Miftah Rakhmat. (majulah-ijabi.org) Dari Asma binti 'Umais: menjelang Sayyidah Khadijah wafat, beliau tampak menangis. Aku bertanya kepadanya, "Junjunganku, gerangan sebab apa yang membuatmu menangis? Bukankah engkau perempuan utama, istri Nabi Islam termulia, yg dengan lisannya sendiri telah mengabarkan kepadamu kabar gembira tentang surga?" Sayyidah menjawab: "Aku tidak menangis karena kematian. Aku menangis karena setiap perempuan biasanya ditemani seseorang sebelum malam pernikahannya, memberitahukannya segala sesuatu yg peru diketahuinya, berkenaan dengan hal ihwal perempuan dlm rumah tangga. Siapakah yg akan menemani putriku Fathimah di malam pernikahannya? Ia tidak punya seorang pun yg akan menolongnya..." Aku berkata: "Junjunganku, inilah janjiku kepadamu. Sekiranya usiaku dipanjangkan hingga tiba saat itu, aku akan melakukan tugas itu. Untukmu, karenamu." Hingga tibalah saat itu. Malam jelang pernikahan Sayyidah Fathimah. Rasulullah Saw tiba di kamar sederhana Fathimah dan meminta semua perempuan yg ada di tempat itu untuk keluar. Semuanya keluar, kecuali aku. Ketika Nabi hendak melangkah pergi, beliau melihat kelebat bayanganku. Nabi bertanya: "Siapakah engkau?" Aku menjawab: Asma binti 'Umais. Nabi Saw: "Bukankah aku sdh memintamu untuk meninggalkan kamar?" Aku berkata: Benar ya Rasulallah, demi ayah dan ibuku, aku tak ingin tak menjalankan perintahmu. Tapi ini adalah janjiku kepada Sayyidah Khadijah. Inilah saatnya aku tunaikan. Kemudian aku kisahkan pada Nabi Saw saat-saat terakhir Sayyidah Khadijah dan janjiku kepadanya. Mendengar itu Rasulullah Saw menangis dan berkata: "Karena itukah engkau tetap di tempatmu?" Aku menjawab: Benar ya Rasulallah, aku bersumpah demi Allah." Lalu Nabi mengangkat kedua tangannya dan mendoakanku] **** Asma’ berkata “Maka Rasulullah mendoakan aku ‘Allahummah fadzha minassyaithan wahfadzha ‘an yaminiha wa ‘an syimaliha wa min amamiha wa min khalfiha wa min fauqiha wa min tahtiha.” Asma’ berkata “Maka Rasulullah mendoakanku dengan doa yang begitu banyak. Demi Allah, doa-doa itulah yangselalu kuharap atas apa-apa yang aku miliki.” (‘Alaihim Ridwanullahi Ta’ala) Kemudian duduklah Nabi SAW. seraya mendoakan pada kedua mempelai dan mengambil sedikit air, dan menggunakannya untuk berwudhu’ dan membaca-bacakan air tersebut. Kemudian berkata pada Fatimah “Menghadaplah padaku.”, maka Nabi memercikkan air pada dadanya. Nabi berkata “Baliklah.” Nabi memercikkan air pada punggungnya serta kepalanya seraya berdoa “Allahumma inni uidzuha bika wa durriyataha minassyaithanirrajim.”. Kemudian Nabi Saw. memanggil Sayyiduna Ali dan berkata “Menghadaplah kapadaku.” Nabi pun memercikkan air pada dadanya, kemudian memercikkan air pada punggungnya serta mendoakannya dengan doa yang sangat agung. Kemudian mendoakan mereka berdua dengan doa “Allahumma barik fiihima wa barik alaihima wa barik lahuma finaslihima.” Kemudian melanjutkan doanya “Allahumma hadzihi binti wa ahabbul khalqi ilaiyya, Allahumma hadzaakhi wa ahaabul khalqi ilaiyya, Allahummajalhu laka waliyyan wa bika hafiyyan wa barik fi ahlihi (Ya Allah, ini ‘Fatimah’ adalah anakku dan dia adalah seseorang yang paling aku cintai, Ya Allah dan ini ‘Ali’ adalah saudaraku dan dia adalah seseorang yang aku cintai, Ya Allah jadikanlah Ali sebagai penolong (wali) bagi-Mu, dan jadikan hambamu yang selalu mengabdi pada-Mu) Kemudian Nabi Saw. menuju pintu keluar, ketika Nabi memegang daun pintu, Nabi memberikan nasihat-nasihat pada kedua mempelai dan berkata “Wahai Fatimah, tugasmu adalah segala urusan di dalam rumah. Dan engkau wahai Ali, tugasmu adalah semua urusanyang ada di luar rumah. Kemudian Nabi berhenti di tengah pintu dan mendoakan kedua mempelai tersebut, dan meminta kepada Allah agar menjaga keduanya serta mengeluarkan dari mereka keturunan yang shaleh. Maka kedua mempelai tersebut melalui hari dan malamnya dengan keindahan dan kebaikan. Ketika muncul mentari pagi, Rasulullah bergegas menuju rumah Fatimah. Yang mana demi Allah tidaklah ada pagi dan sore kecuali Rasulullah Saw melalui rumah Fatimah. Tahukah anda mengapa? Semua itu karena Fatimah memiliki tempat khusus di hati Rasullullah Saw. Di pagi hari itu Rasulullah pun menuju rumah Fatimah, kemudian meminta izin dan masuk seraya memberikan salam kepada mereka berdua kemudian bertanya “Bagaimana kau temukan istrimu wahai Ali?” Sayyidina Ali menjawab “Sebaik-baiknyapendamping untuk membantu dalam ke taatan.” Kemudian Nabi bertanya kepada Sayyidatuna Fatimah “Bagaimana kau temukan suamimu wahai Fatimah?” Fatimah menjawab “Wahai ayahku, dia adalah sebaik-baiknya suami”. Maka Rasulullah Saw. menganggkat tangannya dan berdoa “Allahumma ijma’syamlahuma wa allif baina qulubaihima waj’alhuma wa dzurriyyatahuma min waratsatil jannah warzuq huma dzurriyyatan thahiratan mubarakatan waj’al dzurriyyatahuma albarakah waj’alhum aimmatan yahduna biamrika íla tha’atik.” (Ya Allah, kumpulkan mereka dalam kebaikan dan satukan hati mereka berdua dan berikan pada mereka keturunan yang menjadi penduduk surga. Serta berikan atas mereka berduasebuah keturunan yang bagus, yang suci,yang penuh keberkahan. Dan jadikan setiap anak cucuk mereka keberkahan dan jadikan mereka semua para pemimpin yang memberi hidayah denganperintah-perintah-Mu kepada ketaatan) Sayyidina Anas berkata, yang mana beliau adalah periwayat semisal doa-doa ini dari Rasulullah Saw.. Beliau berkata “Demi Allah, telah Allah keluarkan dari mereka berdua (Sayyidatuna Fatimah dan Sayyidina Ali) keturunan-keturunan yang banyak dan baik. sumber: http://www.majulah-ijabi.org/9/post/2012/10/pernikahan-imam-ali-dan-sayyidah-fatimah-as.html

 
»»  READMORE...

Selasa, 29 Mei 2012

Lokalisasi Sarkem (Sisi Lain Keistimewaan Jogya)

Pertama kali menginjakkan kaki di Yogyakarta yang terkenal dengan Kota Gudeg, seorang teman yang lebih dulu datang ke Yogyakarta sempat mengatakan bahwa “tidak afdol (tidak sah) datang ke Jogja kalau tak sempat menginjakkan kaki di SARKEM”. Hatipun bertanya-tanya ada apa gerangan dengan SARKEM, dan SARKEM itu apa? Setelah cerita panjang lebar barulah diketahui bahwa SARKEM adalah sebuah akronim dari “Pasar Kembang”. Karena sering dipaksa dan penasaran dengan SARKEM, yang tidak dijelaskan sebelumnya, akhirnya kaki ini melangkah juga ke SARKEM.

Astagfirullahaladzim….

Ternyata SARKEM bukan pasar kembang seperti yang dikhayalkan. Memang banyak kembang, tapi bukan kembang seperti yang tumbuh di taman-taman atau di pot-pot. Kembang di sini unik, kembang yang berasal dari berbagai pelosok desa dan kota dengan dandanan yang memancing nafsu birahi. Kembangnya sangat beragam mulai dari yang belasan tahun sampai yang sudah uzur, sama seperti pelangannya yang juga bervariasi. Namun sempat juga keliling SARKEM dengan hati terpaksa. Anggaplah kunjungan itu sebagai survey daerah rawan virus HIV.

Yang lebih unik dan mengherankan adalah ternyata LOKALISASI SARKEM berada di jantung kota Yogyakarta dan menjadi bagian wisata. Sarkem telah menjadi bagian MALIOBORO, dekat dengan POS POLISI, dekat dengan Stasiun Kereta Api TUGU, dekat dengan Kantor Gubernur, dekat dengan Keraton.

Langsung teringat kata “ISTIMEWA” dari DIY. Mungkin ini termasuk (bagian lain) dari keistimewaan Jogyakarta???
»»  READMORE...

Leonardo Da Vinci

 
Leonardo da Vinci lahir pada tahun 1452 di Kota Vinci, dekat Empoli, Italia sebagai anak tidak sah dari Ser Piero da Vinci dan Caterina. Piero adalah seorang notaris dan tuan tanah terkemuka di Kota Florence. Sedangkan, Caterina hanyalah seorang gadis petani biasa.
Tapi, meskipun demikian sejak kecil Leonardo tetap diperlakukan seperti anak Piero yang sah. Ia tinggal di rumah Piero dan dididik sesuai dengan minat dan bakatnya. Ia belajar membaca, menulis, dan berhitung. Lalu, pada usia 15 tahun ia diajari melukis dan memahat oleh seorang pelukis terkenal di Kota Florence bernama Verrochio.
Setelah itu, ia menjadi guru dan membuat studio sendiri. Saat berusia 30 tahun ia bekerja pada seorang kepala daerah Milan bernama Sforza selama 17 tahun sebagai pelukis, insinyur, dan penasihat militer. Lalu, ia bekerja pada Raja Prancis Louis XII pada usia 54 tahun dan melukis Mona Lisa. Lukisan Monalisa tersebut begitu terkenal hingga saat ini karena mengandung misteri. Siapa wanita dalam lukisan itu hingga kini masih menjadi misteri. Leonardo meninggal pada tahun 1519. Lukisan hasil karyanya yang juga terkenal adalah Makan Malam Terakhir.
Selain lukisan tersebut, Leonardo juga telah menghasilkan banyak desain dari hasil pemikirannya. Desain tersebut bermacam-macam, antara lain: rancangan sepatu air, pelampung, kincir air, gambar-gambar rantai, mesin pintal, mesin giling gandum, mesin cetak, kapal selam, senapan mesin, bom, parasut, tank, mobil, helikopter, dan pesawat terbang. Padahal, pada saat itu teknologi belum begitu berkembang. Hasil pemikiran Leonardo memang terlalu jauh mendahului zamannya dan mengapa terjadi hal ini hingga sekarang tetap menjadi misteri.
Ia adalah manusia serba bisa. Ia menguasai bidang anatomi, botani, zoologi, kartografi, aeronautika, mekanika, geologi, astronomi, optika, matematika, suara, senjata, hidrolika, tata kota, dan jembatan. Ia juga seorang tokoh Renaissance, penyair, musikus, arsitek, pemahat, pengarang, insinyur, filsuf, dan ilmuwan. Catatan yang dihasilkannya sangat ilmiah dan berjumlah 7000 halaman. Selain itu, ia juga merupakan orang pertama di dunia yang mampu dengan tepat menggambarkan struktur tubuh manusia, posisi bayi dalam kandungan, dan jantung manusia. Untuk mampu melakukan semua itu ia melakukan pembedahan terhadap 30 buah mayat manusia.
Sumber : http://id.shvoong.com/medicine-and-health/medicine-history/1728749-leonardo-da-vinci-manusia-penuh/
»»  READMORE...