Perahu kecil dengan mesin tempel itu bak oase digurun tandus. Dia membangkitkan asa yang nyaris luruh, oleh ombak tinggi dan badai yang silih berganti menghantam laut Mentawai. Saat tanggap darurat pasca tsunami Oktober 2010 lalu, relawan kemanusiaan dipaksa tunduk, oleh cuaca dan jalur transportasi penuh resiko. Bantuan kemanusiaan pun menumpuk di Pasapuat.
Dua pekan berlalu, biaya transportasi laut melonjak. Sewa satu perahu kecil mencapai Rp – 2 juta perhari. Ini dana yang tidak sedikit. Saat usaha mencapai titik maksimal, seorang nelayan datang menyapa.
“Ada bapak dari Al-Azhar ?” tanya nelayan pada Rahmatullah Sidik, relawan Al-Azhar Peduli Umat.
“Saya sendiri pak. Ada yang bisa saya bantu ?”
“Bapak sudah tolong kami, kasih saya kesempatan bantu bapak juga”, terang lelaku paruh baya yang memperkenalkan namanya, Edi.
Nelayan itu, menenteng Rahmat ke dermaga yang koyak oleh tsunami. Di ujung pelabuhan Pasapuat, tampah perahu kecil diikat di tepi pantai. Edi lantas menyerahkan perahu dengan mesin tempel itu ke Rahmat.
“Saya tahu bapak kesulitan disini. Pakailah perahu ini selama sebulan sebagai sedekah saya”, kata Edi sembari menepuk pundak Rahmat.
Rahmat kelu, matanya berkaca-kaca. Dia sudah sepekan di Mentawai, nyaris tak berdaya untuk mendistribusikan bantuan karena mahalnya sewa perahu dan cuaca yang tak menentu. Mendadak, ada orang yang memberikan perahu cuma-cuma, untuk jangka satu bulan.
Rahmat mengingat, apa yang telah dilakukann hingga pertolongan itu datang tida-tiba. Edi, nelayan bersahaja itu menerangkan. Dua hari sebelumnya, perahunya disewa relawan untuk ke lokasi tsunami dekat Pasapuat. Perahu itu, karena ombak tinggi, menabrak karang dan retak. Edi minta penggantian tapi tidak diberi. Rahmat yang saat itu melihat dari jauh, lantas membantu Edi untuk memperbaiki perahu.
Bagi Rahmat, hal ini biasa saja. Bahkan sudah lupa, meski baru dua hari. Tapi, di benak Edi, empati rahmat menancap kuat. Saat kejadian itu, batin Edi amat pedih karena perahu itu satu-satunya alat mata pencaharian. Dia, hanya ingin penyewa sedikit berempati. Sikap Rahmat yang sederhana telah menyemangati Edi, bahwa ia tak sendiri. Sementara, bagi Rahmat, dapat karunia lebih yang tak ia duga.
Perahu itu pun, tak hanya digunakan Al-Azhar. Rahmat juga mempersilahkan lembaga lain turut mempergunakan. Sedekah perahu Edi di Mentawai memberikan pemahaman, empati pada orang yang lemah dan menderita akan mempercepat pertolongan dan karunia Alloh.
Dalam sebuah hadits qudsi diriwayatkan, bahwa Allah hanya menerima sholat dari orang-orang yang menyayangi orang muskin, ibnu sabil, wanita yang ditinggalkan suaminya, dan yang menyayangi orang yang ditimpa musibah.
Ketika Nabi Musa a.s. bertanya kepada Allah SWT, “Tuhanku, dimana aku harus mencari-Mu”. Lalu Allah menjawab, “Carilah Aku di tengah-tengah mereka yang hancur hatinya”. Wallahu a'lam…
sumberDua pekan berlalu, biaya transportasi laut melonjak. Sewa satu perahu kecil mencapai Rp – 2 juta perhari. Ini dana yang tidak sedikit. Saat usaha mencapai titik maksimal, seorang nelayan datang menyapa.
“Ada bapak dari Al-Azhar ?” tanya nelayan pada Rahmatullah Sidik, relawan Al-Azhar Peduli Umat.
“Saya sendiri pak. Ada yang bisa saya bantu ?”
“Bapak sudah tolong kami, kasih saya kesempatan bantu bapak juga”, terang lelaku paruh baya yang memperkenalkan namanya, Edi.
Nelayan itu, menenteng Rahmat ke dermaga yang koyak oleh tsunami. Di ujung pelabuhan Pasapuat, tampah perahu kecil diikat di tepi pantai. Edi lantas menyerahkan perahu dengan mesin tempel itu ke Rahmat.
“Saya tahu bapak kesulitan disini. Pakailah perahu ini selama sebulan sebagai sedekah saya”, kata Edi sembari menepuk pundak Rahmat.
Rahmat kelu, matanya berkaca-kaca. Dia sudah sepekan di Mentawai, nyaris tak berdaya untuk mendistribusikan bantuan karena mahalnya sewa perahu dan cuaca yang tak menentu. Mendadak, ada orang yang memberikan perahu cuma-cuma, untuk jangka satu bulan.
Rahmat mengingat, apa yang telah dilakukann hingga pertolongan itu datang tida-tiba. Edi, nelayan bersahaja itu menerangkan. Dua hari sebelumnya, perahunya disewa relawan untuk ke lokasi tsunami dekat Pasapuat. Perahu itu, karena ombak tinggi, menabrak karang dan retak. Edi minta penggantian tapi tidak diberi. Rahmat yang saat itu melihat dari jauh, lantas membantu Edi untuk memperbaiki perahu.
Bagi Rahmat, hal ini biasa saja. Bahkan sudah lupa, meski baru dua hari. Tapi, di benak Edi, empati rahmat menancap kuat. Saat kejadian itu, batin Edi amat pedih karena perahu itu satu-satunya alat mata pencaharian. Dia, hanya ingin penyewa sedikit berempati. Sikap Rahmat yang sederhana telah menyemangati Edi, bahwa ia tak sendiri. Sementara, bagi Rahmat, dapat karunia lebih yang tak ia duga.
Perahu itu pun, tak hanya digunakan Al-Azhar. Rahmat juga mempersilahkan lembaga lain turut mempergunakan. Sedekah perahu Edi di Mentawai memberikan pemahaman, empati pada orang yang lemah dan menderita akan mempercepat pertolongan dan karunia Alloh.
Dalam sebuah hadits qudsi diriwayatkan, bahwa Allah hanya menerima sholat dari orang-orang yang menyayangi orang muskin, ibnu sabil, wanita yang ditinggalkan suaminya, dan yang menyayangi orang yang ditimpa musibah.
Ketika Nabi Musa a.s. bertanya kepada Allah SWT, “Tuhanku, dimana aku harus mencari-Mu”. Lalu Allah menjawab, “Carilah Aku di tengah-tengah mereka yang hancur hatinya”. Wallahu a'lam…

0 comments:
Posting Komentar