Kamis, 29 Desember 2011

Koleksi Puisi Ajib Rosidi

Panorama Tanah Air
Di bawah langit yang sama
manusia macam dua : Yang diperah
dan setiap saat mesti rela
mengurbankan nyawa, bagai kerbau
yang kalau sudah tak bisa dipekerjakan, dihalau
ke pembantaian, tak boleh kendati menguak
atau cemeti'kan mendera;
dibedakan dari para dewa
malaikat pencabut nyawa, yang bertuhan
pada kemewahan dan nafsu
yang bagai lautan : Tak tentu dalam dan luasnya
menderu dan bergelombang
sepanjang masa
Di atas bumi yang sama
Manusia macam dua : Yang menyediakan tenaga
tak mengenal malam dan siang,
mendaki gunung, menuruni jurang
tak boleh mengenal sakit dan lelah
bagai rerongkong-rerongkong bernyawa selalu digiring
kalau bukan di kubur tak diperkenankan sejenak pun berbaring
dipisahkan dari manusia-manusia pilihan
yang mengangkat diri-sendiri dan menobatkan
ipar, mertua, saudara, menantu dan sahabat
menjadi orang-orang terhormat dan keramat
yang ludah serta keringatnya
memberi berkat
Di atas bumi yang kaya
manusia mendambakan hidup sejahtera
Di atas bumi yang diberkahi Tuhan
Manusia memimpikan keadilan
(1962)

Lagu Tanah Air
1.
Adalah hijau pegunungan
Adalah biru lautan
Adalah hijau
Adalah biru
Langit dan hatiku
Adalah aku pucuk tatapan
Adalah pucuk
Adalah tatapan
Adalah pucuk senapan
Mengarah ke dadaku

2.
Hijau pegunungan biru lautan
Tiadalah harapan adalah ketakutan
Hijau pegunungan biru lautan
Tiadalah ketentraman adalah ancaman
Adalah karena cintaku
Adalah karena kucinta
Langit merah jalan berdebu
Rumah punah jalan terbuka

3.
Bunga tumbuh mawar biru
Kembang wera kembang jayanti
Tanah yang kujejak rindu
Kan kurangkum dalam hati

Kolam
Ikan-ikan berenangan dalam kolam yang bening-bening
Tak tepercik niat meloncat menerjang langit luas terbentang

Wayang
Bayang-bayang yang digerakkan sang dalang
datang dan hilang, hanya jejaknya tinggal terkenang

Sungai
Dari hulu hingga ke muara, berapa kali ganti nama?
Air yang mengalir sama juga, hanya saja bertukar warna

Di Depan Lukisan Sadali
Dalam keindahan kutemukan keheningan
dan dalam keheningan kudapati kesalihan

Matahari
Kutembus mega yang putih, yang kelabu, yang hitam sekali
Di baliknya kucari yang terang : Sinar si matahari!

Ingat Aku dalam Do’amu
ngat aku dalam do'amu: di depan makam Ibrahim
akan dikabulkan Yang Maha Rahim
Hidupku di dunia ini, di alam akhir nanti
lindungi dengan rahmat, limpahi dengan kurnia Gusti
Ingat aku dalam do'amu: di depan makam Ibrahim
di dalam solatmu, dalam sadarmu, dalam mimpimu
Setiap tarikan nafasku, pun waktu menghembuskannya
jadilah berkah, semata limpahan rido Illahi
Ya Robbi!
Biarkan kasih-Mu mengalir abadi
Ingat aku dalam do'a-Mu
Ingat aku dalam firman-Mu
Ingat aku dalam diam-Mu
Ingat aku
Ingat
Amin

Sembahyang Malam
Alam semesta
Hening menggenang
Air mata yang deras mengalir
bersumber pada kalbu-Mu

Jarak
Berapa jauh jarak terentang
antara engkau dengan aku
Berapa jauh jarak terentang
antara engkau dengan urat leherku?
Tak pun sepatah kata
memisahkan kita

Hidup
Jika hidup telah kautetapkan hingga yang kecil mecil
Untuk apa suara hati terombang-ambing dalam sabil?

Tandatanya
Dalam diammu
engkau sebuah tandatanya
Dalam tandatanya
engkau adalah jawabnya
Dalam heningmu
Siapa masih bertanya?
Siapa masih menyeru?
Siapa masih ragu?


Nisan
1
Dengan patuh kautempuh jentera hari
dari masyrik sampai maghribi
Tiba di jalan buntu : tak ayal lagi
Liang lahat dan nisanmu sendiri

2
Telah kauukur hidup: cuma sampai situ!
Di seberang sana bukan lagi daerahmu

Pertemuan Dua Orang Suci
Ketika keduanya berpapasan, tak sepatah pun kata teguran
Hanya dua pasang mata yang tajam bersitatapan
Suhrawardi atas kuda : "Betapa dalam kulihat
Samudra segala hakikat!"
Dan Muhyiddin di atas keledai: "Betapa fana dia
yang setia menjalani teladan Rasulnya."
Ketika keduanya bertemu, tak pun kata-kata salam
Tapi keduanya telah sefaham dalam diam.

Aku
Tinju menghantam. Belati menikam.
Seluruh dunia bareng menyerang, menerkam.
Aku bertahan. Karena diriku
Dalam badai, gunung membatu.
Lengang sebatang pinang
Di padang pusaran topan.
Segala arah menyerang. Dari luar, dalam.
Tikaman tiada henti. Siang, malam.
Aku bertahan. Karena hidup
Muatan duka nestapa
Yang kuterima ganda ketawa
1963

Mimpi Kita Siang Hari
I
Dalam terik sinar matahari
Kulihat kau melambai:
Bayang-bayangku ataukah aku sendiri
Yang kaupeluk dan kaubelai?

II
Kebun belakang rumah, kolam ikan
Anak-anak bermain, kau menyulam
Menjalin helai-helai peruntungan kita
Dengan benang cinta.

III
Dalam cahaya rembulan
Kau perlahan bersenandung
Meski terpisah gelombang lautan
Kudengar sansai suaramu murung

IV
Jalan lengang panjang,
Wahai!
Mengarah ke batik kelam,
Aduhai!
1969

Kucari Musik
Kucari musik
Yang brisik
Yang berontak
Memberangsang
Kucari musik
Yang sejuk
Yang mengalun
Tenteram
Kucari musik. Setiap saat kucari musik.
Musik yang menggairahkan
Mengendap dalam hati.
Musik menyelinap dalam celah-celah waktu
Merasuk dalam jiwa
Mengusap luka-luka hidup yang nyeri
Dan menidurkan tangan-tangan durhaka yang lelah
Dalam pangkuanMu.
Maka kasihMu
mengalir abadi.
1968

Hanya dalam Puisi
Dalam kereta api
Kubaca puisi: Willy dan Mayakowsky
Namun kata-katamu kudengar
Mengatasi derak-derik deresi.
Kulempar pandang ke luar:
Sawah-sawah dan gunung-gunung
Lalu sajak-sajak tumbuh
Dari setiap bulir peluh
Para petani yang terbungkuk sejak pagi
Melalui hari-hari keras dan sunyi.
Kutahu kau pun tahu:
Hidup terumbang-ambing antara langit dan bumi
Adam terlempar dari surga
Lalu kian kemari mencari Hawa.
Tidakkah telah menjadi takdir penyair
Mengetuk pintu demi pintu
Dan tak juga ditemuinya: Ragi hati
Yang tak mau
Menyerah pada situasi?
Dalam lembah menataplah wajahmu yang sabar.
Dari lembah mengulurlah tanganmu yang gemetar.

Dalam kereta api
Kubaca puisi: turihan-turihan hati
Yang dengan jari-jari besi sang Waktu
Menentukan langkah-langkah Takdir: Menjulur
Ke ruang mimpi yang kuatur
sia-sia.
Aku tahu.
Kau pun tahu. Dalam puisi
Semuanya jelas dan pasti.
1968

Tretes Malam hari
Di Tretes malamhari
Semuanya jadi mati:
Surabaya nun jauh di bawah
Gunung Wilis terpacak sebelah kiri
(Aku teringat akan leluri
Ten tang Buta Locaya dan Plecing Kuning)
Apakah Waktu di sini berhenti
Mengendap dalam cahaya lampu pelabuhan
di tepi kaki langit?
Angin naik dari lembah.
Bayang-bayang daun bergoyang
Rumput-rumput pun berdesir.
Ataukah
Hanya hatiku bergetar?
Kucari kau .
Kucari di remang hijau.
Yang mengambang di muka kolam
Wajahmu ataukah bayangan bulan?
Lalu kututupkan jendela.
Malam lengang.
Malamku yang lengang.
1968

Bayangan
Bayanganmu terekam pada permukaan piring, pada dinding
Pada langit, awan, ah, ke mana pun aku berpaling:
Dan di atas atap rumah angin pun bangkit berdesir
Menyampaikan bisikmu dalam dunia penuh bisik.
Masihkah dinihari Januari yang renyai
Suatu tempat bagi tanganku membelai?
Telah habis segala kata namun tak terucapkan
Rindu yang berupa suatu kebenaran.
Bayangan, ah, bayanganmu yang menagih selalu
Tidakkah segalanya sudah kusumpahkan demi Waktu?
Tahun-tahun pun akan sepi berlalu, kutahu
Karena dunia resah 'kan diam membisu.
1967

Antara Kita
Pabila jiwa bertelanjang depan jiwa
Suatu pun tiada guna: basa-basi, upacara ....
Jarak pun tiada lagi, sehingga cukuplah
Sekulum senyum, sekerling mata. Sudah!
1960

Cinta dan Kepercayaan
Dalam hidup 'kan kupertahankan
Nilai hubungan antar-manusia, didasarkan
Atas cinta dan kepercayaan.
'Kan kupertahankan kehangatan
Gamitan dua tangan, menyampaikan
Kehangatan rasa dua jiwa.
Cinta adalah bunga tumbuh
Atas kesuburan tanah kasih, berakarkan
Hati mau mengerti, saling membagi.
Dan kepercayaan, landasan
Kerelaan dan kemesraan.
Pertalian dua hati.
1960

Diriku
Diriku samudra
Dilayari kapal, perahu, bajak
Tiada jejak.
Yang sementara
Berasal dari Tiada
'Kan lenyap dalam
Tada
1961

Tentang Maut
I
Kulihat manusia lahir, hidup, lalu mati
Menerima atau menolak, tak peduli
Dengan tangan dingin namun pasti
Sang Maut datang dan tiap hidup ia akhiri.
Kuperhatikan perempuan sedang mengandung
Wajahnya riang, mimpinya menimang si jabang
Namun kulihat Sang Maut aman berlindung
Dalam rahim sang ibu ia bersarang.
Kuperhatikan bayi lahir
Dan pertama kali udara dia hirup
Dalam tangisnya kudengar Sang Maut menyindir:
"Jangan nangis, kelak pun hidupmu kututup".

II
Yang kukandung sejak hidup kumulai
Takkan kutolak, meski ia kubenci
Tapi kalau hidupku nak dikunci
Datang Tuhan menawari:
"Sukakah kau hidup semenit lagi?"
Kujawab pasti: "Suka sekali!"

III
Seperti gelap bagi kanak-kanak, pernah pada Maut aku ngeri
Karena tak berketentuan, bisa nyergap sesuka hati
Membayangi langkah, mengintip menanti saat
Dan bagi kesadaran jadi beban paling berat.
Kupertentangkan ia dengan Hidup yang seolah 'kan dia rebut
Kupilih pihak: Karena pada siksa neraka aku takut;
Namun kini tiada lagi, karena selalu kudapati
Napasnya menghembus dalam tiap hidup yang fana ini.
1960

Tamu
Kau yang menjenguk ke dalam relung hatiku
Meninggalkan jejak menjadi saksi. Sejarah, pahatan batu .
Dari dendam yang rindu. Tak nanti
Hidup hanya rangkaian mimpi-mimpi. Aku tahu!
1969

Sajak buat Tuhan II
II
Makin terasa, betapa sendiri
Hidupku bermukim di bumi. Tiada kawan
yang mau mengulurkan tangan
dan sedia bersama menempuh jalan
tatkalaa tiap langkah buntu.
Tak seorang pun, juga Kau
datang mendekat, menepuk-nepuk bahu
menganjurkan tabah dan jangan ragu.
Tiada. Hanya aku saja lagi
yang setia padaku. Hidup bersama
dalam duka dan putusasa.
Hanya aku jua, yang tetap cinta
kepada hidupku, tiada dua! Duh, tiada
lagi yang lain kujadikan gagang
tempat sirih pulang.
Rasa sendiri di dunia ramai, mengeratkan
aku padaMu, sepi-mutlak!
Rasa lengang di tengah orang, menyadarkan
antara Kau dan aku tiada jarak!
Saat seluruh bumi diam sunyi ....
16-4-1960


Sajak Buat Tuhan I
I
Kalau aku bicara padaMu, Tuhan
Bukan mau mengadukan dera dan derita
Tak kuharap Kau berdiri di depan
Ke dahiku mengeluskan tangan mesra
Kalau kutulis sajak ini, Tuhan
Bukan lantaran rindu-dendam atau demam
Tak kuharap Kau membacanya
Sambil duduk mengisap pipa kala senja
Karena Kau lebih tahu apa rasa hatiku
Dan mengerti bagaimana pikiranku
Karena Kau paling Aku dari aku
Yang terkadang kesamaran sama bayangan.
8-1-1960

Ibunda
Ia terbujur
Bumi subur
Lembah-lembah dan gunung
Telentang tenang
Tangannya mengusap sayang
Perut mengandung.
Matanya nyalang
Langit-langit pun hilang
Karena langit penuh bintang
Dan pahlawan menyandang pedang
Naik kuda hitam zanggi
Adalah masadepan si-jabang
yang dalam rahim
menggeliat geli.
la memejam
Menahan nyeri.
Lalu terbayang
Bundanya tersenyum di ambang
"Tidakkah dahulu
Kusakiti juga bundaku?"
Keringat bermanik bening
Atas jidat, kening.
Ia mengerang
Dan malam yang lengang
Mendengar lantang
Teriakan si-jabang.
1961

Kebenaran
buta oleh dusta yang membias-silau
nilai-nilai kebenaran pun disembunyikan:
namun di antara semak-rumputan hijau
ia tetap bersinar kemilau:
Tak nanti terpadamkan!

Hari Tuaku
Pabila harituaku tiba, kelak suatu masa
Kacamata tebal atas hidung, bersenandung
Menembangkan lelakon lama. La1u tersenyum
Memandang bayangan atas kaca jendela
Yang putih warnanya, sampai pun alis, bulu mata ...
Maka namamu 'kan kusebut, dengan bibir gemetar
Bagai ayat kitab suci, tak sembarang boleh terdengar
Namun kala itu yang empunya nama entah di mana
Apakah lagi menyulam, duduk bungkuk atas kursi rotan
Ataukah sedang menimang cucu, mungkin pula telah lama
Aman berbaring dalam tilam penghabisan.
Dan pabila giliranku tiba, telentang
Dengan kedua belah tangan bersilang
Sebelum Sang Maut menjemput
Sekali lagi namamu 'kan kusebut, lalu diam. Mati.
1963

Hari lebaran
Hari ini hari hati percaya
Akan arti hidup dan mati, yang cuma sempat
Direnungkan setahun sekali. Sungguh besar maknanya
Jalan panjang menuju liang-lahat.
Hari ini hari kesadaran akan tradisi
Menyempatkan umat sejenak bersama-sama
Menghirup udara lega dalam kepungan derita
Sehari-hari yang bikin orang jauh-menjauhi.
Hari ini hariku pertama 'kan menjalani
Hidup antara manusia, sedangkan diriku sendiri
Makin sepi terasing, lantaran mengerti
Kelengangan elang di langit tinggi.
Jatiwangi, H. 1381

Episode
Di luar alam gerimis
karena kau menangis
dan airmatamu
membasahi dadaku.

Padang ilalang bergelombang
dan angin semilir,
rumpun bambu berkesiur, burung terbang,
gemuruh airterjun, menghilir
Adalah mimpi yang jauh
adalah harapan yang jauh
dalam cinta yang rapuh.
Yang abadi
di dunia sebelum mati
hanya kenangan
yang muncul sesekali
1963

Jeram
Air beterjunan dalam jeram
Buihnya memercik ke tebing tempat kami berbaring
Dan ia mengelaikan kepala
Dengan mata meram terpejam
Atas tanganku yang mencari-cari
Arah manakah burung gagak hinggap
yang suaranya nyaring
Memecah ketenangan hutan
Sehabis hujan.
Air beterjunan dalam jeram
Jerom gemuruh dalam darahku
Dan dalam mimpi keabadian yang nyaman
Kubisikkan kata-kata bagaikan desir angin
Mengeringkan keringat atas kening
Sedang mataku memandang tak yakin
Air berbuih yang menghilir
Entah kapan 'kan tiba
Di muara
Air beterjunan dalam jeram
Kata-kata beterjunan dari mulutku
Sungai pun tahu arti muara
Yang tak sia-sia menunggu.
Burung gagak berteriak entah di mana
Dan ia bersenandung entah mengapa
Karena dalam kesesaatan tak terjawab tanya lama
Yang sudah lama hanya tanya: Hingga mana? Pabila?
Mau apa... ?
Dan dengan jari-jari gemetar
Kuyakinkan hatiku sendiri: Segalanya
Berlaku percuma serta sia-sia
Dan perempuan ini 'kan mati dalam kepingin
Karena angin hanya angin

Karena jeram beterjunan dalam diriku
Yang tak mengenal musim kemarau
Air beterjunan dalam jeram
Dan jeram beterjunan dalam darahku.
1962

Tiada yang Lebih Aman
Tiada yang lebih aman, pun tiada yang lebih nikmat
Membayangkan masalampau yang dalam kenangan terpahat.
Tiada yang lebih berat, pun tiada yang lebih berarti
Dan saat kini yang 'kan seg'ra lepas pula jadi mimpi.
Tiada yang lebih gamang, pun tiada yang lebih senang
Menghadapi masadatang, yang 'kan segera jadi sekarang.
Detik-detik berloncatan, tak satu pun kembali terulang
Karena antara tadi dan nanti, sekarang menghalang.
1962

Jalan Lempeng
sebuah lukisan S. Soedjojono

Burung gagak, burung gagak! Biarkan dia berjalan!
Biarkan dia berjalan, membungkuk pada keyakinannya
Bertolak dari bumi kehidupan lampau, begitu ia melangkah
Pasti dan yakin. Karena ada mimpi di balik gunung itu:
Lembah hijau hidup segar. Karena di sini batu mencair
Gurun mati. Tandus dan sepi.
Burung gagak, biarkan dia berjalan. Di ruas-ruas langkahnya
Menyala dendam pada bumi lampau. Di dadanya padat kesumat
Pada dunia kehidupan yang mati di sini.
Burung gagak, sampaikan salamku padanya. Salam bagi
Yang sudah melangkah atas keyakinan. Salam bagi
Yang sudah berani bikin perhitungan tandas sekali.
Gunung-gunung yang membatu, gersang dan kering,
kan takluk pada tapaknya.
Satu demi satu kan dilewatinya. Ia terjang dunia mati.
Burung gagak, kini ia berjalan. Melangkah dengan gagah
Ia tahu di balik gunung ada mimpi, ada lembah
Tidak cair meleleh seperti bumi yang menggolak ini.
Semua kan tunduk kepadaNya.
Semua kan menyerah pada langkahnya. Karena ia berjalan
Atas keyakinan.
Biarkan dia berjalan!
Gunung dari lembah sana, gaung dari mimpi diri.
Burung gagak, ia dengar nyanyi itu. Dan ia menuju ke situ.
Pohon-pohon mati dan sepi. Padang pun mati dan sepi.
Batu-batu mencongak ngeri, tajam dan mengancam.
Tapi ia melangkah menuju lembah-lembah mimpi.

Ia sendirian. Batu-batu dan alam geram.
Gunung mendinding di ujung. Langit pun kan menerkam.
Dan ia melangkah dengan pasti: Batu cair jadi beku.
Langit pun jadi membiru, mengucapkan selamat jalan
Menempuh kehidupan.
Burung gagak, burung gagak, biarkan dia berjalan
Sampaikan salam yang erat dan hangat. Ia yang yakin
Ada mimpi di balik gunung batu, ada lembah hijau dan lembut
Kehidupan tenang, sawah-ladang, padang rumput....
Jangan kauganggu!
1955

Penyair
1
adapun penyair lahir
membangkitkan kematian para penyihir
lalu dengan mantra kata-kata
menjelmakan kehidupan manusia
menyanyikan kelahiran cinta
atau menangisi kematian bunda
melagukan kesia-siaan rindu, kau pun tahu
segala yang beralamat duka
2
siapa menjelajahi pagi
mendapat pertama sinar mentari
lagu kunyanyikan kini
akan dimengerti nanti
lagu kusajakkan kini
suara lubuk hati
yang selalu sunyi
1954

Warna
menyala warna membakar dada ~ Ajip Rosidi
hari-hari penuh bisa
waktu dihabisi mimpi-mimpi
bocah meningkat dewasa
tiga jalan pertemuan
dalam mengerti
dalam diri
menyerah ke mata nyalang
warna nyala dalam waktu dalam ruang
selama jarak masih ada
selama ia belum mengerti
1954

Kematian
i
lelaki bernyanyi sepenuh hati
didorongnya beton ke puncak tinggi
di hari sebelum lebaran
di rumah anak menunggu baju baru
tapi tali putus beton terguling
lelaki tak lagi bernyanyi
ada isteri jadi janda
ada anak kehilangan bapak
di hari sebelum lebaran
pintu tak terbuka
ayah tak kembali
sia-sia menanti
sepanjang hari

ii
muka yang sudah remuk
anaknya menjerit yatim
ayah bisakah mati
muka yang tiada lagi bentuk
tepekur pengantar kubur
nyawa lepas tak tersangka
1954

Dukaku yang Risau
berjalan, berjalan selagi di diri duka
bernapas lega menemu perempuan
kami berpandangan: lantas tahu
segalanya tinggal masa kenangan
kami berjalan memutar danau
namun kutahu: dukaku yang risau
takkan mendapatkan pelabuhan aman
kecuali dalam pelukan penghabisan
kupandang matanya:
tak kukenal siapa pun juga
semuanya nanar
didindingi kabut samar
1954

Bunda
nyanyi menayang mimpi ke pangkuannya
damai pun terlena dalam hati
mewujudkan kasih dan cinta
yang takkan terhalang meski oleh mati
1954

Mata Derita
ada yang datang bermata derita
pagi berwarna olehnya
ada perawan bermata derita
berselendang angin remaja
ada yang memandang ke dalam hatiku
bumi pun jadi biru
ada yang memancar: kebeningan hening
dan segalanya pun tak teraba lagi - -
1954

Lagu Kerinduan
wajahmu antara batang kelapa langsing
menebar senyum dan matamu menjadikan daku burung piaraan
semua hanya bayangan kerinduan: kau yang nun entah di mana
mengikuti setiap langkahku, biarpun ke mana
kujalani kelengangan hari
sepanjang pagar bayangan: wajahmu menanti
langkah kuhentikan dan kulihat
hanya senyummu memenuhi jagat
1954

Angin Berkesiur
angin berkesiur
daun pun gugur
angin berkelana
cintaku mengembara
gadisku mawar
menanti tak sabar
gadis yang rindu
kudekap dalam pelukan bisu
1954

Malam Putih
malam jatuh di senja putih
berangkat ke pangkal pagi
dan keinginan berdekap penuh kasih
sia-sia sekali
1954

Ia pun Kini Sunyi
ia pun kini sunyi
tahu dua macam bunga:
yang putih, sendiri, sepi
tak terjangkau dari tepi ini
ia pun bernyanyi
lagu sedih ditinggal kasih
tahu segala yang sia-sia
bernama duka
ia pun sunyi
ia pun sendiri
1954

Rindu Berguling Sendiri
rindu berguling sendiri
putus mengharap
dinding putih-putih
dan di baliknya: kesepian pengap
radio di sebelah batas
suaranya samar -
kudengar diriku menghela nafas
dengan hati yang cabar
1954

Pejalan Sepi
ia tembus kesenyapan dinihari
sepatunya berat menunjam bumi
menempuh kola yang lelap terlena
dalam pelukan cahya purnama
is tembus kedinginan pagi
siulnya nyaring membelah sunyi
membangunkan insan agar bangkit
dalam pertarungan hidup yang sengit
di sebuah jembatan ia berhenti
dihirupnya udara sejuk dalam sekali:
bulan yang mengambang atas air kali
adalah gambaran hatinya sendiri!
1954

Sebelum Padi Penguning
Sebelum padi menguning mana burung datang mendekat
atau cinta bisa melekat
jika tiada banjir mendatang hama menyerang
harapan panen takkan sia-sia
lantas padi menguning cinta pun datang
tinggal aku yang selalu malang
1953

Pantun si Paku Gelang
Gelang si paku gelang
gelang si rama-rama;
Pulang aku kan pulang
mengembara cukup lama

Gelang si paku gelang
paku haji tumbuh di huma;
Pulang aku kan pulang
namun masih di bumi fana

Gelang si paku gelang
menjadi ulam penyedap rasa;
Pulang aku kan pulang
bertemu denganmu entah pabila

Pantun Air Mancur
Air mancur di jalan Thamrin
tempat mandi anak jalanan;
Takkan keliru dengan yang lain
kalau denganmu berhadapan

Air mancur memancar jernih
orang meminum air kali;
Hilang dahaga lenyaplah letih
kalau engkau muncul di hati

Air mancur di tengah kota
menyiram debu sehari-hari;
Mau menegur kehilangan kata
semua terungkap di dalam hati

Pantun Pulau Seribu
Pulau Seribu di Teluk Jakarta
laut tenang langit kelabu;
Hati rindu tak menemukan kata
hendak bersimpuh di pangkuanmu

Pulau Seribu kebun kelapa
nelayan diusir konglomerat;
Hendak mengadu hati nestapa
karena diri telah khianat

Pulau Seribu milik siapa
kalau rakyat digusur pejabat;
Diri khianat karena alpa
memohon ampun dunia akhirat

Pantun Kembang Jati
Elok rupanya kumbang jati
dibawa itik pulang petang;
Elok nian kasih di hati
engkau terima dengan sayang

Elok rupanya kumbang jati
terbang melayang di atas rumah;
Elok nian hatimu suci
menerima aku sedang gundah

Kumbang terbang di atas rumah
berkeliling mencari mangsa;
Hatiku selalu merasa gundah
karena diri berlumuran dosa

Pantun Pergi ke Laut
Kalau tuan pergi ke laut
carikan saya ketam betina
udang galah dan tenggiri
ikan kerapu di dalam bubu;
Kalau tidak karena takut
kupaksa untuk berjumpa
agar kau jadi mengerti
betapa rindu melihatmu
Kalau tuan pergi ke Tanjung
bawalah kain barang sekayu
untuk baju anak yang kecil
sudah lama tak ada ganti;
Aku merasa tidak beruntung
selalu kautolak bertemu
padahal tidaklah musykil
asal kauampuni dosaku keji

Pantun Burung Pipit
Burung pipit terbang melayang
turun minum di dalam paya
paya dinaung pohon kelapa;
Terasa sempit hidupku sekarang
engkau tinggalkan tak berdaya
meraba-raba hilang cahaya

Burung bangau pulang ke sarang
pohon asam di atas atap
ditunggu anak sudah dahaga;
Hanya engkau pemberi terang
bagi hidupku dalam gelap
agar selamat dari neraka

Batang kelapa sangat tinggi
beruk meloncat sekali jadi
buah menimpa pedagang sayur;
Aku mengharap kaukasihani
hati menangis tiada henti
sia-sia ingin kautegur

Pantun Sumur di Ladang
kalau ada sumur di ladang
boleh itik menumpang mandi;
kalau saja umurku panjang
mungkinkah kauterima aku mengabdi

Kalau itik menumpang mandi
air sumur jangan keruh;
Kalau kauterima aku mengabdi
Siang dan malam aku bersimpuh

Air sumur janganlah keruh
Untuk minum supaya sehat
Siang dan malam aku bersimpuh
mencari ridho cucuran rahmat

Pantun dari Mana
Dari mana hendak ke mana
hendak bertemu tuan kadi;
Hari mana bulan mana
kita bertemu meski sekali

Dari mana hendak kemana
hendak pulang ke kampung hulu;
Hari mana taun mana
engkau masuk dalam hatiku

Dari mana hendak ke mana
dari tepian hendak ke huma;
Entah kapan entah pabila
aku merangkak kau terima

Pantun Anak Ikan
Anak ikan dipanggang saja
hendak dipindang tidak berkunyit;
Kalu engkau dapat menjelma
akan kutempuh meski ke langit

Anak ikan tertangkap jala
hendak dipotong lepas kembali;
Kalau engkau dapat diraba
hidup hampa jadi berarti

Anak ikan kena dikail
dimasak dengan daun cendana;
Meski bertemu barang mustahil
kalau kau mau pasti laksana

Pantun ke Teluk Sudah
Ke teluk sudah ke tanjung sudah
ke Campa saja yang belum;
Bersujud sudah berkhalwat sudah
berjumpa saja yang belum
Hendak ke teluk ke tanjung belum
hendak ke Mekah tiada perahu
kembali ke pulau kejauhan;
Hendak kupeluk hendak kucium
hendak kudekap melapas rindu
engkau raib dari jangkauan

Pantun ke Pulau Pandan
Pulau Pandan jauh ke tengah
di balik pulau Angsa Dua;
Hampa badan hati pun gundah
karena engkau tidak teraba

Pulau Pandan kian merapat
gunung Kerinci menjulang tinggi;
Tiada teraba tiada terlihat
engkau di mana sukar dicari

Pulau Pandan jauh ke kanan
pulau Bintan di sebelah kiri;
Harus bagaimana aku gerangan
hendak berjumpa susah sekali

Pantun Pisang Emas
Pisang emas dibawa berlayar
pisang batu di atas peti;
Hati cemas engkau kian samar
kian menjauh dari hati

Pisang batu di atas peti
dimakan beruk pemetik kelapa;
Engkau menjauh dari hati
hidup terasa menjadi hampa

Pisang raja hanya setandan
dihaturkan pada tuan haji;
Siang malam tersedan-sedan
karena aku kautinggal pergi

Pisang raja dalam perahu
jadi simpanan jurumudi;
Aku sengsara hilang tuju
mohon ampun tak kauberi

Pisang makanan jurumudi
tidak keluar dari lemari;
Mohon ampun tak kauberi
aku tersiksa sampai mati

Pantun Bulan Purnama
Di atas Mino bulan purnama
langit bersih terang sekali;
Menyebut nama memuja nama
hanya engkau di dalam hati

Bulan purnama meskipun terang
kalah oleh cahaya lilin;
Kasihku hanya engkau seorang
tak nanti ada yang lain

Bulan Purnama di atas bukit
cahaya menerangi kebun bambu;
Tanpa engkau hidup jadi pahit
segala yang lain hanyalah batu

Bulan purnama bulan perbani
Bulan gerhana kentongan dipalu;
Baru hidupku mengandung arti
bila denganmu aku bertemu

Pantun Kebun Bambu
Kebun bambu hijau terbentang
Sepanjang bukit di sekelilingku;
Nasibku selalu terasa malang
karena terlempar dari sisimu

Kebun bambu ditebang orang
jadi lahan perumahan baru;
Hati rindu bukan sembarang
namun engkau tak mau tahu

Rebung tumbuh di musim semi
pengganti batang yang sudah tua;
Kalau engkau memenuhi janji
aku menunggu tidak mengapa

Pantun Tanjung Katung
Tanjung Katung airnya biru
kalau boleh menumpang mandi;
Hidup selalu memendam rindu
bertemu denganmu meski sekali

Tanjung Katung airnya biru
tempat gadis berenang-renang;
Hidup selalu menanggung rindu
hanya padamu aku terkenang

Tanjung Katung airnya biru
berkecimpung simbur-simburan;
Hati selalu ingat yang satu
kian dekat dengan kuburan

Tanjung Katung airnya biru
lautnya dalam langitnya jernih;
Hati selalu ingat padamu
semakin kuat terpaut kasih

Pantun Hujan Gerimis
Hujan gerimis sepanjang hari
angin bertiup dari Tenggara;
Hati menangis tersedan tak henti
karena hidup sebatang kara

Angin bertiup kencang sekali
kilat menyambar guruh bergegar;
Tersedan sunyi di bumi sepi
seorang diri hidup terlantar

Kilat menyambar guruh bergegar
tak ada tempat sembunyi
Seruanku pilu tak kaudengar
terlempar aku ke jurang sunyi

Pantun Hari Lebaran
Pada hari Lebaran ramai takbiran
sepanjang malam tiada henti;
Hidup fana berakhir di kuburan
merindukan engkau sebelum mati

Hari Lebaran bermaaf-maafan
menghapus dosa lahir dan batin
Kalau dengan engkau berhadapan
tidak kuharap lagi yang lain

Hari Lebaran hari yang suci
saat manusia menjadi fitri;
Harap engkau menerimaku kembali
setelah sesat lepas kendali

Saat manusia menjadi fitri
segala dosanya Kauampuni
Setelah sesat di bumi keji
mencari ridhoMu di langit hati.

Pantun dari Kyoto
Kyoto kota seribu jinja
tujuan orang berwisata
menonton matsuri sepanjang hari;
Hidup sejahtera di dunia
tanpa engkau tidak bermakna
seperti terbuang ke lorong sunyi

Dalam istana peninggalan Shogun
taman luas pohon pun rindang
benteng dan parit di sekelilingnya;
Mencari engkau bertahun-tahun
tiada henti malam dan siang
namun engkau tetap rahasia

Benteng dan parit mengelilingi
menjaga dari serangan musuh
meski jumlahnya beratus ribu;
Hidup terasa tak punya arti
karena engkau terlalu jauh
entah dimana aku tak tahu

Jinja : Bangunan suci penganut Sinto, seperti gerej abagi orang kristen
Matsuri : Festival
Shogun : Panglima militer penguasa sebenarnya di Jepang ketika Kaisar (Tenno) hanya sebagai lambang

Pantun Hari Jumat
Pergi ke kobe setiap jum'at
dengan kereta dari Umeda;
Mencari engkau setiap salat
sampai atahiat tidak berjumpa

Naik kereta dari Umeda
lalu turun di Sannomiya;
Meski berjumpa kita tiada
namun engkau kucari juga

Waktu pulang dari Sannomiya
aku turun di Kitasenri
Meski di mana engkau berada
namun tetap akan kucari

Waktu turun di Kitasenri
aku berjalan seorang diri;
Engkau kan tetap kucari
meski harus melintasi mati

Pantun Musim Panas
Matahari terik membakar jangat
tiada tempat kan berteduh;
Meski engkau selalu kuingat
namun rasanya terlalu jauh

Tiada tempat kan berteduh
tiada tempat kan berlindung;
Engkau terasa terlalu jauh
di atas awan kau terapung

Tiada tempat kan berlindung
pohon pinang tegak berdiri;
Di atas awan kau mengapung
membiarkan aku kecil sendiri

Pantun Musim Bunga
Bunga sakura mekar
hawa dingin menjadi hangat
Dalam hidup segala yang sukar
menjadi kayu pembakar semangat

Musim dingin pemandangan berubah
segala menjadi segar dan hijau;
Kalau hidup menemu susah
hanya padamu aku mengimbau

Sakura mekar hanya sebentar
cepat gugur karena hujan
kalau engkau tidak mendengar
hati pilu berkepanjangan

Pantun Musim Dingin
Di musim dingin salju pun turun
hanya hamparan putih terlihat;
Usia bertambah dari tahun ke tahun
kian dekat ke liang lahat

Di musim dingin salju semata
bumi beku pohon-pohon gundul;
Kalau waktunya kelak tiba
apakah denganmu kan berkumpul

Di musim dingin segalanya sepi
burung terbang menembus mega;
Tak penasaran aku kan mati
asal denganmu dapat berjumpa

Pantun Musim Rontok
Di musim rontok daun berubah warna
menjadi kuning, merah, lalu berguguran;
Dalam hidup tak terasa usia menjadi tua
sedang denganmu tak sempat berteguran

Angin dingin mulai keras meniup
suhu menurun dari hari ke hari;
jalan berliku sepanjang hidup
ketentuanmu penuh misteri

Di musim rontok di musim momiji *)
udara dingin daunpun gugur;
Kurenungi nasib penuh misteri
kasihmu tak henti mengucur

Pantun Burung Merpati
Merpati si burung merpati
hinggap di dahan pohon beringin
Meski seribu tahun aku menanti
memandang wajahmu tetap kepingin

Merpati putih terbang tinggi
mencari air pengobat dahaga
Menanti kasih turun ke hati
dari sumbermu tak berhingga

Jinak-jinak burung merpati
mendekat mau tertangkap tidak;
Dekat, dekat engkau di hati
dengan mata tertampak tidak

Pantun Angin Barat
Angin Barat angin Timur
bertiup kencang sepanjang hari;
Hendak mencari sepanjang umur
sampai ketemu di dalam hati

Angin Barat angin Timur
bolak-balik di lima benua;
Meski harus masuk ke kubur
namun engkau kucari jua

Angin Barat angin Timur
menghembus lautan dan daratan;
Meski dalam lahat aku terbujur
kau selalu dalam ingatan

Pantun Osaka Nara
Dari Osaka hendak ke Nara
berhenti sebentar di Ikoma;
Rindu hati tidak kentara
tapi zikir tetap bergema

Dari Osaka hendak ke Nara
kalau pulang membawa moci*
Meski sama sekali tak bersuara
dalam hati tak kunjung henti

Taman Nara berhektar-hektar
banyak rusa sedang merumput;
Tak pernah lupa meski sebentar
walau engkau tidak menyahut


*) moci : Makanan Jepang terbuat dari beras pulut yang ditumbuk sampai halus.
Uli (Melayu), ulen (Sunda), jadah (Jawa)

Pantun Terang Bulan
Terang bulan terang di kali
buaya timbul disangka mati;
Hidup di dunia hanya sekali
maka janjimu tetap kunanti

Terang bulan terang di kali
buaya timbul disangka mati;
Selama di dunia ingin sekali
engkau beraja di dalam hati

Buaya timbul disangka mati
hanyut ke hilir sampai muara;
Engkau beraja di dalam hati
imanku kukuh waswas pun musna

Hanyut ke hilir sampai muara
buaya memakan segala bangkai;
kalau iman kukuh sentausa
ku tak takut diterjang badai

Pantun Ombak
Ombak selalu memburu pantai
Siang malam tak kunjung henti;
Tiap malam engkau kuintai
barangkali sembunyi di dalam hati

Ombak menerjang mencium pantai
namun tertahan rumpun bakau;
Dalam sujud airmata berderai
namun engkau tak terjangkau

Ombak bergulung di samudera
selalu bergelora haram diam;
Hati merenung terus bertanya
selalu diamuk rindu dan dendam

Hamlet
Yang was-was selalu, itulah aku
Yang gamang selalu, akulah itu
Ya Hamlet kusuka : Dialah gambaran jiwaku
Yang selalu was-was dalam ragu. Membiarkan kau
Mengembara dalam mimpi yang risau
Kutemukan pada Oliver, kegamangan falsafi
Dunia yang muram dan masa depan yang suram
Tapi kulihat kecerahan intelegensi
Seorang muda yang terlalu dekat kepada alam
Hamlet. Hamletku, ia datang kepadamu
Menatap fana atas segala yang kujamah: Tahu
Bahwa hidup melangkah atas ketidak pastian
Yang terkadang menentukan Kepastian
Aku pasrah

Perumpamaan
Di antara belalang
Kaulah burung brenjang
Yang mengisi tembolok
Tak kunjung kenyang
Di antara ayam
Kaulah musang kelaparan
Dengan rahang tajam
Menerkam dan menerkam
Kalau di sungai
Kaulah buaya
Tak pernah menolak bangkai
Kalau di darat
Kaulah srigala
Mengancam segala hayat

Kepada Kawan 12
Apa sih yang mau kau capai
Maka kau terjang segala penghalang
Dan kau abaikan segala nilai
Asal kau sendiri menang?
Apa sih yang mau kau dapat
Maka kau tinggalkan semua sahabat
Dan di sekelilingmu
Kau anyam rapat pagar curiga
Kau kira di mana kau akan tiba
Kalau hari sudah senja?
Ternyata tidak ada tarian gemulai
Atau suara gamelan mengalun permai
Kemenangan-kemenanganmu selama ini
Melontarkanmu ke langit hampa

Soneta dari Manhattan
Di bawah bayang-bayang Manhattan yang gelap
Kulihat kau menyelinap, mengendap-ngendap
Mengais-ngais mencari dalam dirimu:
Sesuatu telah terjadi dan itu engkau tak tahu
Begitu banyak peristiwa dan begitu banyak rahasia
Yang dalam hidupmu hanya nampak satu segi saja
Tidaklah hidup ini bagimu akan tetap gulita
Bagaikan teka-teki yang hilang soalnya
Adakah dengan dinding-dinding kukuh perkasa
Bersarang perasaan aman dalam sanubari manusia?
Yang kutemui hanya kewas-wasan, sumber kegelisahan
Adakah dengan perkembangan teknologi
Manusia telah menemukan dirinya sendiri?
Kau hanya tahu: komputer ternyata menghasilkan banyak persoalan

Di Engkelili, Suatu Pagi
Empat lelaki menyusur pinggir kali
Nasibnya mengalir bersama air menghilir
Di mana mereka bertemu ?
Ke mana mereka kan pergi ?
Dalam hati yang mengerti
Menuju ufuk kelabu
Di kuala terbuka
Pabila mereka berangkat
Dan kapan akan kembali?
Telah tetap setiap saat
Menempuh arus waktu
Tidak terhingga
Empat lelaki berdiri di pinggir kali
Nasib bagaikan air: Selalu luput dari genggaman

Terkenang Topeng Cirebon
Di atas gunung batu manusia membangun tugu
Kota yang gelisah mencari, Seoul yang baru, perkasa
Dengan etalase kaca, lampu-lampu berwarna, jiwanya ragu
Tak acuh tahu, menggapai-gapai dalam udara hampa
Kulihat bangsa yang terombang-ambing antara dua dunia
Bagaikan tercermin diriku sendiri di sana!
Mengejar-ngejar gairah bayangan hari esok
Memimpikan masa-silam yang terasa kian lama kian elok!
Waktu menonton tari topeng di Istana Musim Panas
Aku terkenang betapa indah topeng Cirebon dari Kalianyar!
Dan waktu kusimakkan musik Tang-ak, tubuhku tersandar lemas
Betapa indah gamelan Bali dan Degung Sunda. Bagaikan terdengar!
Kian jauh aku pergi, kian banyak kulihat
Kian tinggi kuhargai milik sendiri yang tersia-sia tak dirawat

0 comments:

Poskan Komentar